Me and You, Being Us.

.

LynAkmn's present (Madaoo)

.

Dipersembahkan untuk event "Fujodanshi YaYu Group"

.

Genre :

Romance, 'lil bit Comedy.

.

Rating :

T

.

Fandom :

Animanga.

.

.

.

Mobil Mercedes Benz metalik miliku tengah membelah jalanan ramai Shibuya. Aku mengalihkan tatapan keluar, memandang setiap insan yang berlalu lalang dengan santai. Aku mengrenyit tatkala menemukan sosok aneh. Dari segi penampilan hingga tingkahnya. Aku mulai penasaran pada negara ini, perubahan apa saja yang terjadi saat dirinya pergi menimba ilmu di negeri orang.

"Tanaka-san, hentikan mobilnya disini. Aku ingin melihat-lihat sebentar,"

"Tapi tuan muda Seijuro, tuan besar Masaomi ingin anda datang tepat waktu,"

Aku memutar otak, melirik jam tangan mahal bermerek Gucci yang nangkring dipergelangan tanganku. Lalu menyeringai.

"Tanaka-san! Maaf saja, tapi masih ada waktu tigapuluh menit lagi tersisa, aku akan kembali duapuluh menit lagi, sisanya aku serahkan pada kemampuan mengemudimu," Ujarku seraya beranjak dari dalam kursi belakang.

"Ja~ aku pergi dulu,"

.

.

.

Aku mengedarkan pandangan. Tadi, aku melihat pemuda aneh disekitaran sini, dia bersurai biru dengan fashion nyentiknya. Hell, aku penasaran setenga mati, selama aku dikurung dipejara bernama sekolah, aku benar-benar akan buta dunia. Namun, aku hanya mengilai satu merek fashion ternama, itu pun karena keluargaku menggunakan merek itu semua.

Ah~ ketemu juga. Dia duduk di kursi taman, dibawah pohon mapel yang berguguran. Aku mendekatinya, lalu mendudukan diri disampingnya.

"Hay~"

Aku memulai pembicaraan. Lalu dia melirik sejenak.

"Oh, hay~"

Setelah kutilik lebih dalam, wajahnya manis untuk seukuran pria, dan entah kenapa hatiku berdebar manja dibuatnya.

"Boleh duduk disini? Ah-"

"Tetsuya. Kuroko Tetsuya,"

"Ah Iya. Boleh aku duduk disini, Tetsuya?"

Tetsuya melirik, menatap menyelidik lalu mengendikan bahu.

"Tentu, siapa yang melarang, ini milik umum, lagipula...kau sudah sedari tadi duduk disitu, tuan-"

"Seijuro, Akashi Seijuro,"

"Oh, tuan Akashi,"

"Ngomong-ngomong Tetsuya, berapa usiamu?"

"Sembilan belas,"

Akashi meringis, sosok manis disebelahnya ini mulutnya irit sekali-

"Mau apa nanya-nanya?! Apa tujuanmu, tuan konglomerat?"

Juga sadis.

"Ah, maaf tidak sopan. Aku hanya tertarik akan fashionmu, nyentrik sekali, berbeda dengan yang lain,"

Tetsuya mendengus. Sudah ia duga, bahwa Akashi Seijuro itu benar-benar tuan muda yang kolot akan fashion zamam sekarang. Kemana saja ia selama ini.

"Ano ne, bisa ku pangil Akashi-kun?" Aku menganguk. "Ya, tentu, kita semumuran,"

"Nah, Akashi-kun? Kemana saja engkau, huh? Ah, mungkin kau sibuk berkutat dengan buku-buku butut tak menarik minat sama sekali. Horaaa~~ style mu kelihatan seperti orang tua saja, terlalu formal. Huh, padahal kita seumuran,"

Aku terdiam. Jujur saja aku merasa tertohok tepat dihati. Aish, Tetsuya sarkastik sekali. Mulutnya pedas juga.

"A-ah, ya begitulah,"

Tetsuya mendengus, ia melirikku.

"Kau pasti tuan muda yang manja. Barang-barangmu highclass semua, tapi style mu kurang cocok menurutku,"

Aku menghela nafas. Dari aku kecil hingga tumbuh sebesar ini, aku bahkan dituntut berpakaian formal, entah itu di mansion, terlebih lagi saat keluar. Jadi aku sudah terbiasa seperti ini. Ini seleraku, tapi tidak dengan selera Tetsuya yang cukup nyentrik itu. Aku jadi tertarik saat melihatnya.

"Nee~ Tetsuya, maukah mengajariku tentang style nyentrikmu itu? Jujur aku bosan seperti in terus,"

Dia mendengus.

"Ah. Tuan muda? Kau tidak takut dimarahi papa dan mama tercintamu karena bergaul dengan orang aneh sepertiku?"

"Seriusan, nih. Aku benar-benar ingin merasakan hidup layaknya pemuda masa kini,"

Tetsuya tampaknya sedang berpikir matang-matang. Sedetik kemudia ia menatapku sembari tersenyum. Ah~ Kami-sama senyumnya manis sekali.

"Baiklah, aku akan mengajarimu. Pangil aku Tetsuya-sensei, Akashi-kun,"

.

.

Hari itu adalah hari dimana semuanya berubah dihidupku. Hidupku yang monokrom seolah dipulas oleh ribuan warna karya dari Tetsuya. Serius, aku menikmati kebersamaanku dengan Tetsuya selama ini, hingga benih-benih cinta tumbuh diantara kami.

Dan tepat pada tanggal 15 Mei, aku dan Tetsuya berjanji untuk bertemu di kursi taman pertama kita bertemu.

Aku duduk termenung disana, memikirkan apa kata yang tepat untuk mengungkapkan cinta pada makhuk manis tapi nyentiknya level kami-sama itu. Selama dua bulan ini, kami sering bertemu. Bercakap tentang style aneh Tetsuya. Kenapa bisa Tetsuya jetuh hati pada style itu, dan lain sebagainya. Dan kurasa, dua bulan itu cukup untuk masa pendekatan, buktinya aku sudah mengenal Tetsuya, dan hobi-hobi nyentriknya.

"Ah. Akashi-kun? Sudah lama?"

Aku menggeleng.

"Duduklah,"

Aku mengenakan setelan casual, tak terlalu mencolok, simpel saja. Beda halnya dengan Tetsuya, dia begitu mencolok dengan gayanya.

"Ada apa? Tumben tidak mengajak ke cafe biasanya?"

"Aku hanya ingin mengingat pertemuan pertama kita,"

"Oh, iya, ditempat ini bukan? Ah, aku hampir melupkannya,"

"Heee~~ jahatnya Tetsuya,"

Dia hanya tersenyum tipis. Maklum saja, kami berdua itu minim ekspresi. Tiba-tiba, hening melanda kami. Aku yang tengah berpikir keras, dan Tetsuya hanya memandang langit malam penuh bintang, dan mengabaikan eksistensi yang menatapnya berbagai ekspresi.

"Ano, Tetsuya..."

Akhirnya. Aku memecah keheningan ini.

"Hmm..."

Dan dia hanya menggumam.

"Ne, Tetsuya. Mau tidak menjadi kekasihku?"

Dia terlonjak, aku melihatnya dari ekor mataku. Tapi sedetik kemudian mengubah ekspresinya menjadi setenang air.

"Hee... apa Akashi-kun tak malu punya kekasih aneh sepertiku? Huh, kukira tuan muda ini hanya akan mempermainkanku, ternyata serius juga,"

Aku mendengus. Tajam seperti biasanya, langsung kena dihati.

"Memangnya ada yang mau dengan sosok aneh tapi manis seperti dirimu selain aku? Sudahlah Tetsuya, dari pada menunggu hal yang tak pasti, terima saja sosok tampan disampingmu ini,"

"Emm...bagaimana ya?"

"Hee~ jadi kau mau jadi perjaka lapuk? Ehhh ya sudahlah. Tapi, ku sarankan saja, daripada menunggu bengong seseorang menyatakan cintanya padamu selain pria tampan sepertiku, mending kau menerima cintaku,"

Tetsuya tersipu, namun tetap saja wajahnya sedatar papan pengilasan. Dan aku makin cinta padanya.

"Yakin mau sama orang aneh seperti ku? Akashi-kun?" Ujarnya.

"Apa raut mukaku terlihat tak meyakinkan, Tetsuya? Kalau kau mau, belah saja dadaku, lihat satu nama yang tertulis di hatiku,"

Dia mendengus, lalu menatapku.

"Jangan menyesal karena sudah memilihku. Aku juga tak mau jadi perjaka lapuk, lebih baik aku denganmu saja Akashi-kun,"

Aku tersenyum, menatapnya dalam.

"Baiklah. Kau miliku sekarang."

Kami tersenyum, lalu menautkan jemari, memandang bintang yang berkelip indah disana yang menjadi saksi cinta kami. Dulu, kami bagai Walmart vs Gucci, tapi sekarang kami satu. Satu karena cinta.

.

.

.

End

.

.

.

Note : Serius. Saya tau ini ga nyambung samsek. Maaf bikin sakit mata bacanya.