A story of Jimin x Yoongi
.
: ?
.
.
"Ahh, ternyata kau orangnya?" mata Yoongi menelisik Jungkook, membuat gadis manis itu sedikit risih karena ditatap intens oleh Yoongi.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Yongguk?" Jungkook terlihat tidak sabaran, sedangkan Yoongi terlihat senang karena berhasil memancing penasaran gadis manis disampingnya.
"Tidak ada, hanya kebetulan aku diberi kesempatan oleh Tuhan berada dalam beberapa masalah dengannya. Apa itu menjawab pertanyaanmu?"
"Tidak, sama sekali tidak, bagaimana kau tau tentang orangtuaku?"
"Yongguk yang menceritakannya."
.
Jimin sedang menyesap cold brew coffee yang dia pesan di salah satu cafe langganannya. Pagi ini dia harus menyelesaikan laporan neuropsikiatri dan rehabilitasi dan menyerahkan kepada Han-ssaem sebelum kelas sesi-3 berakhir, dan itu artinya dia hanya punya waktu kurang dari 3 jam. Demi apapun, Jimin hampir membanting ponselnya karena jengah oleh panggilan masuk dari teman aliennya.
"Wae?!" Jimin meninggikan suaranya, tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang refleks menoleh padanya.
"Jiminaaaaaaaaaaaaaa, kau dimana? Aku sungguh membutuhkan bantuanmu saat ini Jim." dan Jimin hanya bisa menghela napas kasar, terlalu hafal dengan watak temannya.
"Aku sedang sibuk Taehyung-ah, aku harus mengumpulkan laporan ke Han-ssaem kurang dari 3 jam lagi." Jimin mencoba sabar menanggapi Taehyung.
"Aish jinjja! Yak Park Jimin, aku sungguh butuh bantuanmu saat ini, ada 2 yang disini, aku harus bagaimana? Cepat selesaikan laporanmu dan kemari, akan kukirim alamatnya setelah ini." dan sebelum Jimin menjawab sambungan telepon itu sudah diputus sepihak oleh Taehyung.
"I saekkia." Jimin mengumpat, mengambil cold brew coffee nya dan menegaknya habis, mengabaikan sensasi dingin yang mendecit ngilu pada giginya, dan beralih menyelesaikan laporannya.
288-94 Imun-dong, Dongdaemun-gu, The Coffee Bean & Tea Leaf
Jimin memasuki cafe dengan konsep desain interior malibu canyon itu dengan malas. Persetan dengan Kim-sialan-Taehyung yang sukses membuatnya hampir menabrak seorang pengendara sepeda motor selama perjalanan tadi. Harusnya dia sudah berada di apartemennya, bersantai menikmati jatah tidurnya yang tertunda selama hampir 48 jam. Terimakasih kepada Han-ssaem yang dengan bermurah hati memberikan mahasiswanya tugas neurologi dengan total 32 literatur yang harus ia baca. Taehyung harus membayar mahal karena merepotkan Jimin lagi kali ini.
Jimin melangkah menuju Taehyung yang saat ini tengah mencoba menghindari tatapan membunuh dari dua orang gadis yang Jimin ketahui sebagai dua dari sekian banyak gadis di lingkaran hidup 'main-main' Taehyung.
Jimin mendudukkan diri di sebelah Taehyung, menatap kearah dua gadis cantik di depannya.
"Eoh, ternyata kau sudah memanggil Jimin kesini? Kalau begitu aku tidak ingin terlalu lama disini, berikan kunci mobilmu sekarang juga." Jimin merogoh kantung kantung kemejanya, menyerahkan mobil porsche boxster putih yang saat ini terparkir di depan. Gadis itu menyambar kunci mobil yang diserahkan Jimin kemudian melenggang pergi. Jimin beralih menatap gadis satunya, dia terlihat berbeda dengan gadis yang selama ini berada dalam genggaman Kim Taehyung.
"Nah nona, aku menunggu apa yang kau minta." Jimin memberikan tatapan yang biasa ia layangkan kepada gadis-gadisnya. Katakanlah mereka berdua tidak ada bedanya, bermain-main dengan banyak gadis diluar sana.
Gadis itu menatap Jimin, sedikit tergoda untuk membalas senyum Jimin, tetapi akal sehatnya mengingatkan bahwa dua makhluk Tuhan yang sayang sekali brengsek meski tidak dapat dihiraukan tingkat ketampanan mereka. Jimin masih menunggu apa yang dikatakan oleh gadis di depannya saat tiba-tiba gadis itu berdiri dan mendekat menuju Taehyung.
BUGH!
Jimin menganga, sedangkan Taehyung menahan erangannya. Gadis itu terlihat cukup puas setelah melayangkan satu pukulan telak di pipi kiri Taehyung, dan segera menyambar kunci mobil Taehyung yang berada di meja. Taehyung hendak mengeluarkan erangannya, namun tertahan ketika ia melihat gadis itu berbalik kembali melangkah menujunya.
Byur!
Jimin menganga untuk kesekian kalinya, gadis itu menyiram caramel macchiato tepat ke wajah Taehyung. Demi Tuhan itu caramel macchiato yang pasti akan meninggalkan rasa lengket di wajah Taehyung.
"Itu untuk mendinginkan kepalamu, dan terimakasih mobilnya." Gadis itu tersenyum remeh dan kali ini benar-benar pergi dari tempat itu.
Jimin tertawa remeh melihat keadaan Taehyung sekarang. Baru kali ini korban Taehyung yang seberani gadis tadi. Kim Taehyung memang bajingan yang sayangnya berwajah tampan, dia punya kebiasaan berganti pasangan. Taehyung senang bermain-main dengan banyak gadis, semua gadis juga tahu dengan kelakuannya tapi siapa yang dapat menolak pesona Taehyung? Karena ketika kalian menjadi kekasih Taehyung itu artinya kalian akan mendapatkan harta dan kepopuleran. Satu hal yang membuat gadis-gadis di luar sana masih rela memberikan dirinya kepada bangsataehyung adalah mobil. Sebenarnya tidak hanya mobil, setiap putus dengan Taehyung si gadis bebas meminta apa saja yang ia inginkan sebagai gantinya.
"Baru dua bulan aku beli mobil itu dan aku harus menyerahkan lagi ke gadis buanganmu." Jimin mendengus mengingan mobil porsche boxster yang ia serahkan pada gadis tadi baru ia nikmati dua bulan ini dan harus berpindah tangan.
"Aku ingin pulang Jim, akh sial kuat juga Naeun memukul tadi, gila aku tidak ingin berurusan dengan gadis itu lagi."
"Makanya hentikan mengencani banyak gadis sekaligus Tae." Jimin membalas perkataan Taehyung seraya menghubungi salah satu sopirnya.
"Heol, seperti kau tidak mengencani banyak gadis saja."
"Setidaknya aku tidak mengencani delapan gadis sekaligus, dan perlu kau ingat Tae, mereka yang datang padaku bukan aku yang datang ke mereka. Itu poin penting yang membedakan kasusmu dengan kasusku." Taehyun mendengus sebal.
Jimin ibaratnya adalah Taehyung versi yang lebih baik. Dia juga kerap berganti pasangan, namun bedanya gadis itu yang menyatakan sukanya pada Jimin. Dan Jimin terkenal dengan 'si pria baik hati' yang tidak pernah menolak ajakan kencan gadis-gadis yang mendekatinya. Jika dalam kasus Taehyung para gadis lah yang memutuskannya karena mengetahui bahwa tidak hanya dia yang menjadi kekasih Taehyung, lain dengan Jimin, karena Jimin lah yang akan memutuskan gadis itu.
.
Yoongi sedang mengeringkan rambutnya ketika bel apartemennya berbunyi. Siapa di jam 5 pagi dengan lancangnya membunyikan bel apartemennya? Untuk ukuran seseorang bertamu jelas ini masih terlalu pagi. Seingatnya juga ia tidak ada janji dengan siapa pun pagi ini, lantas siapa yang berada di luar?
Yoongi mendengus kecil setelah memastikan siapa yang berada di depan pintu apartemennya pagi-pagi buta.
pip pip
Pintu terbuka dan menampakkan sosok gadis manis yang tersenyum menampakkan gigi kelincinya. Yoongi mendengus tertawa, melihat Jungkook berdiri didepannya dengan beberapa koper disampingnya.
"Apa tawaran unni tempo hari masih berlaku?" dan Yoongi menggeser tubuhnya, membiarkan Jungkook membawa masuk dirinya beserta beberapa koper yang dibawanya.
"Wuaaahh, aku tidak menyangka apartemen unni sangat bersih, beda sekali dengan kamarku."
"Letakkan barangmu di kamar itu." Yoongi menunjuk kamar tamu di sebelah kamarnya, dan Jungkook menyeret kopernya masuk ke dalam kamar yang sekarang ia claim sebagai kamarnya.
flashback
Masih ingat dengan kejadian saat Yoongi memergoki Yongguk dan Jungkoo di taman belakang? Jungkook yang awalnya tidak tertarik dengan Yoongi justru semakin menempel sekarang. Setelah Yoongi menjelaskan kenapa ia mengetahui tentang Yongguk yang akan dijodohkan dengan Jungkook, gadis bergigi kelinci itu merasa bahwa ia menemukan seseorang yang senasib dengannya.
"Yongguk yang menceritakannya."
"Mwo? Yongguk yang menceritakannya? Bagaimana bisa?"
"Sudah kubilang aku hanya kebetulan berada dalam beberapa masalah dengannya. Dan tak kusangka aku bertemu dengan seseorang yang sayangnya harus dijodohkan dengan bajingan itu."
"Kau menyesal karena mengetahui aku akan dijodohkan dengannya?"
"Aniya, kau yang menyesal karena dilahirkan di keluargamu dan harus menerima perjodohan dengan Yongguk." dan Jungkook hanya mendengus kesal karena demi Tuhan apa yang dikatakan senior di depannya 100% fakta.
"Ayahku akan mencabut semua fasilitasku apabila tidak menuruti kemauannya. Persetan dengan fasilitas itu, rasanya aku ingin kabur dari rumah saja. Toh apa gunanya punya fasilitas jika ayahmu hanya memberimu uang bukan kasih sayang? Persetan dengan kekayaan itu."
Yoongi mengangguk membenarkan perkataan Jungkook, dan dia menyadari bahwa gadis ini dari kalangan berada dilihat dari sneakers yang ia kenakan. Heol siapa yang tidak tau adidas NMD "Friends & Family", saat ini Jungkook mengenakan salah satunya.
"Ya sudah kabur saja." Jungkook menoleh.
"Kau ingin kabur kan? Ya sudah kabur saja. Kemasi barang-barangmu lalu pergi dari rumah."
"Seandainya aku tau harus kemana aku pergi sudah kulakukan dari dulu."
"Kau bisa datang ketempatku, itu pun kalau kau mau." Sungguh ini bukan Yoongi, sejak kapan Yoongi peduli dengan orang lain? Dan saat itu Jungkook hanya menganggap ucapan Yoongi sebagai angin lalu, berpikir bahwa setelah ini mereka tidak akan bertemu lagi.
4 hari setelah kejadian di belakang taman
Jungkook sedang duduk bersama Yoongi di ruang latihan dance jurusan Jungkook. Yoongi menunggu Hoseok yang sedang berlatih koreografi baru. Siapa yang tau kalau ternyata Yoongi dan Jungkook akan bertemu lagi disini?
"Bagaimana kabarmu?" Yoongi membuka percakapan. Oke ini bukan Yoongi, dia bukan tipikal seseorang yang senang membuka percakapan.
"Tidak berbeda dengan terakhir kali kita bertemu. Apa yang unni lakukan disini?"
"Menunggu Hoseok, aku akan ke agency setelah ini dengannya." Jungkook mengernyit bingung, agency? Apakah dua seniornya ini seorang trainer?
"Aku bekerja disana, sebagai produser lepas dan Hoseok dia dancer disana, saat ini dia sedang merekam demo untuk para trainee berlatih." Seakan membaca pikiran Jungkook, Yoongi menjelaskan pekerjaannya dan Hoseok.
"Woah, aku tidak menyangka kalian bekerja di tengah kesibukan kuliah kalian."
"Tentu, aku harus menghidupi diriku selama disini."
"Bagaimana dengan orangtua unni?"
"Aku tidak punya orangtua." Jungkook terdiam, disaat dia mendapat fasilitas mewah dari ayahnya, disini seniornya harus bekerja untuk membiayai kuliah dan kehidupan sehari-harinya.
"Jangan terlarut dengan pikiranmu, tidak semua yang ada dipikiranmu itu benar adanya." Sekali lagi Jungkook merasa seniornya ini dapat membaca pikirannya.
"Aku tidak bisa membaca pikiranmu. Hentikan membuat kesimpulan sendiri, setelah ini apa yang akan kau lakukan?"
"Ti..tidak ada. Aku malas pulang ke rumah."
"Hoseok sudah selesai, setelah ini aku akan berangkat ke agency, kau mau tinggal disini atau ikut dengan kami?"
"Memangnya boleh?"
"Ya sudah kalau kau ingin tinggal disini." Yoongi hendak beranjak namun lengannya dicekal oleh Jungkook.
"Akukan bertanya, siapa bilang tidak mau ikut." Jungkook memberengut, dan ikut beranjak bersama Yoongi menghampiri Hoseok.
flashback end
.
.
.
Annyeong!
Adakah yang menantikan kelanjutan ff ini?
Ada yang penasarankah sama cast-cast yang selanjutnya bakal muncul? Atau ada yang mau request couple?
Apa pun itu jangan lupa like, follow sama komennya yaaaaaaa~
.
-dee,2017-
