"Dimana bocah itu?"
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal buatan Kiton sebuah industri pakaian pria yang sudah berdiri sejak 1968, pria itu melepas topi yang melekat dikepalanya dan melangkah dengan gaya angkuh di lorong sebuah perusahaan.
"Tuan muda sedang berada di kampus tuan, apakah saya perlu menghubunginya dan meminta tuan muda menemui anda?"
"Suruh dia pulang ke rumah nanti malam, ada yang ingin kubicarakan dengannya."
"Baik tuan akan segera saya hubungi tuan muda."
Jimin sedang berkutat dengan tugas dari Ahn Saem ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Melirik sekilas nama yang tertera di layar ponselnya. Tidak biasanya sekretaris Ayahnya menghubungi Jimin seperti ini.
"Yeoboseyo Kim Ahjusshi? Ada apa? Kenapa meneleponku?"
"Selamat siang tuan muda, Tuan Park menyuruh anda untuk pulang ke rumah nanti malam, beliau ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan anda."
"Pak tua itu sudah kembali? Kenapa cepat sekali?"
"Nyonya Park sedang tidak enak badan dan beliau meminta Tuan Park untuk pulang, juga sepertinya ada yang ingin dibahas dengan anda Tuan muda."
"Kurasa aku tidak bisa pulang Kim Ahjusshi, ada banyak laporan yang harus kukerjakan, tolong sampaikan saja itu kepada pak tua itu."
"Tapi tuan, Tuan Park ingin menyampaikan sesuatu kepada anda."
"Sudah ya Kim Ahjusshi, kututup teleponnya." dan sebelum Jimin menutup teleponnya, sayup-sayup ia mendengar suara Kim Ahjusshi memanggilnya.
"Jimin-ah, waeyo? Ayahmu ingin bertemu dengan anaknya, apa salahnya pulang nanti malam Jim?"
Jimin kembali menempelkan ponselnya ke telinga, menghela napas sejenak yang dapat didengar oleh sekretaris ayahnya diseberang panggilan sana.
"Samchon, kau yang paling tahu apa alasanku enggan kembali menginjakkan kaki di rumah. Tolong sekali lagi samchon, aku tak ingin bertemu dengan mereka."
"Baiklah, akan kusampaikan pada ayahmu, tapi jika ia tak mau mendengar apapun alasan yang kubuat maka kau harus benar-benar pulang malam ini."
"Samchon memang yang terbaik." Jimin terkekeh pelan dan dibalas dengusan malas oleh Kim Ahjusshi, namun sejurus kemudian ikut tertawa mendengar kekehan Jimin.
"Ya sudah, kututup teleponnya, istirahatlah, akan kukabari lagi nanti."
"Ne, gomawo samchon."
Kim Ahjusshi sudah bekerja sebagai sekretaris dari ayah Jimin sejak 25 tahun yang lalu. Itu berarti Kim Ahjusshi sudah mengenal ayahnya jauh sebelum ada Jimin. Selama hidupnya Kim Ahjusshi lah yang banyak meluangkan waktu untuknya, dan hal itu membuat ia lebih dekat dengan sekretaris ayahnya itu dari pada ayah kandungnya sendiri.
at Yoongi apartement
Jungkook menggeliat pelan ketika ia mencium bau masakan yang mengusik lubang hidungnya. Setelah seharian kemarin ia habiskan dengan membereskan barang-barangnya di apartement Yoongi dan malamnya ia tak kuasa menahan kantuk dan juga lelah karena kegiatan beres-beres yang sungguh Jungkook baru pertama ini melaksanakannya seorang diri tanpa bantuan maid.
Jungkook membiasakan netranya dengan suasana temaram dalam kamar barunya. Yoongi tipe yang tidak terlalu suka dengan sinar matahari, dan dari kemarin Jungkook datang di apartemen Yoongi, hampir semua di dominasi oleh lampu temaram dan tirai-tirai yang tertutup. Setelah ini mungkin ia harus membujuk seniornya itu untuk berjemur di bawah sinar matahari. Tidak ada salahnya untuk mengeksotiskan kulit kan? Siapa tahu kau bisa mendapat lelaki hot yang menyukai kulit eksotis.
"Wuaaahhh, unni kau memasak?"
"Aish jangan mengagetkanku! Jam berapa ini dan kau baru bangun? Mandi dan segera bantu aku di dapur."
"Tidak ada ucapan selamat pagi untukku? Jahat sekali, padahal ini masih pagi dan kupingku harus mendengar ocehanmu un."
"Bilang sekali lagi kukemasi barang-barangmu Kook." Yoongi menatap tajam gadis yang kini menampilkan gigi kelincinya, tersenyum kearah Yoongi sambil membuat tanda peace.
"Iya iya aku mandi."
Jungkook sudah menyelesaikan acara mandinya tepat saat Yoongi selesai menata meja makan. Satu set bibimbam dan berberapa sayur sudah tertata rapi di meja makan. Jungkook melebarkan matanya, mulutnya menganga melihat sajian dihadapannya.
"Ige mwoyaaa?"
"Apa kau buta? Itu makanan bodoh."
"Aniyaa, maksudku, woah daebak. Untuk ukuran sarapan ini sangat luar biasa, eeiii jangan bilang kalau unni membuat semua ini dalam rangka menyambutku? eoh eoh?" Ucap Jungkook sambil menaik turunkan alisnya.
"Anggap saja begitu."
"Jinjjaaaa?!"
"Ck, diam, duduk, dan segera habiskan makananmu."
Jungkook menghiraukan ucapan Yoongi, alih-alih duduk ia justru berlari menghambur Yoongi. Jungkook memeluk Yoongi, senior yang baru dikenalnya beberapa minggu ini.
"Aku senang sekali unni, ada yang memperhatikanku. Terimakasih Yoongi unni, terimakasih."
"Sudah sana makan. Setelah itu kau ikut denganku."
Jungkook melepas pelukannya kemudian menatap Yoongi yang sudah memposisikan duduk di meja makan.
"Kemana?"
"Ke agency."
"Aku? Ke agency? Untuk apa? Jangan bilang unni mau menjualku disana untuk dijadikan trainee? Ahh aku tidak mau!"
"Siapa bilang kau akan menjadi trainee disana bocah. Diam dan cepat habiskan makananmu."
"Ck, kasar sekali."
"Aku mendengarmu Jeon."
"Neee..." Jungkook memilih untuk melanjutkan acara makannya, daripada pagi ini ia habiskan untuk mendengam ceramah Yoongi, lebih baik ia habiskan saja makanan yang sudah Yoongi siapkan ini.
At agency
Yoongi sedang menuju ruang kerjanya ditemani oleh Jungkook yang masih setia mengekor kemanapun Yoongi pergi.
Seseorang menepuk punggung Yoongi ketika dua gadis itu memasuki lift.
"Eoh? Hoseok? Tumben kau sudah datang?"
"Aku tidak ingin menyiksa telingaku dengan omelanmu pagi ini Yoon." Yoongi terkekeh mendengar jawaban Hoseok, atau yang lebih dikenal dengan J-Hope. Hoseok melirik gadis disebelah Yoongi, alisnya bertauatan, tanda ia sedang berkutat dengan sekelumit pikirannya tentang apakah dia pernah bertemu dengan gadis yang tengah bersama Yoongi itu?
"Nugu?" Hoseok bertanya pada Jungkook, dan hanya dihadiahi oleh tatapan bingung Jungkook dengan tangan yang menunjuk dirinya sendiri.
"Namanya Jungkook, dia adik tingkatmu sejurusan Hoseok-ah."
"Ah, pantas saja wajamu familiar Jungkook-ah. Salam kenal, namaku Jung Hoseok." Hoseok mengulurkan tangannya, berharap sang lawan bicara mau sekedar untuk membalas uluran tangannya.
"Jeon Jungkook imnida, senang bisa berkenalan langsung denganmu J-Hope sunbae." Hoseok terkejut, bagaimana bisa gadis di depannya ini mengetahui nama kerennya.
"Siapa yang tidak mengenal J-Hope sang dewa menari dari Gwanju?" Hoseok terkekeh mendengar penuturan Jungkook, terkesan berlebihan, tetapi memang harus diakui bahwa kemampuan menarinya tidak main-main.
"Apakah aku harus mentraktirmu segelas Americano setelah ini karena sudah memujiku?" Hoseok tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapi, sedangkan Yoongi memutar bola matanya malas mendengar penuturan sahabatnya. Flirting everywhere.
"Kalau tidak keberatan aku lebih ,memilih latte J-hope sunbae." Oke Yoongi sudah malas melihat drama picisan di pagi buta ini.
"Kutinggal kalau kalian masih ingin melanjutkan acara menggoda satu sama lain."
"Wah wah wah, tipikal Yoongi sekali. Apa salahnya memberikan sedikit jamuan gratis kepada hobae sendiri? Kau cemburu dengannya eoh? Katakan, katakan, aku akan membelikanmu espresso juga." Yoongi memukul belakang kepala Hoseok, menyebabkan erangan kesakitan dari pemilik kepala.
"Kasar sekali, pantas kau single." Yoongi melotot, sungguh ia ingin menenggelamkan Hoseok ke lautan terdalam.
At Park Mansion
Jimin masih enggan untuk keluar dari Audi R8 yang baru dibelinya setelah sebelumnya menyerahkan Porsche boxster putihnya kepada mantan Taehyung.
Jimin memandang pintu rumahnya yang berukuran 3 meter, besar, kuat, kokoh sangat menggambarkan betapa kaya dan berkuasanya keluarga Park.
Tok tok tok
Jimin tersadar dari lamunannya ketika sekretaris ayahnya mengetuk pelan. Jimin mendecih pelan, kemudian melepas seatbelt dan keluar dari Audinya.
"Tuan sudah menunggu anda di ruang makan tuan muda." Kim Ahjussi membungkuk kepada Jimin.
"Samchon menyebalkan." Ucap Jimin sambil mengerucutkan bibirnya. Kim Ahjussi yang melihat itu hanya menghela napas malas, terlalu hapal dengan tindak tanduk Park Junior di depannya.
"Kalau tidak ingat kau adalah anak dari bossku sudah ku pukul bokongmu anak nakal." Jimin memutar bola matanya malas mendengar penuturan dari sekretaris ayahnya yang sudah ia anggap pamannya sendiri. Jimin menutup pintu mobilnya dan melangkah menuju pintu masuk mansion Park. Sebelum tangan Jimin menyentuh gagang pintu, Kim Ahjussi memanggil namanya, membuat Jimin menoleh menghadap sekretaris ayahnya.
"Jimin-ah, malam ini jadilah anak yang penurut." Dan Jimin menyunggingkan smirknya.
"Aku tidak pernah berjanji untuk satu hal itu samchon, aku mengingatkan kalau samchon lupa."
Jimin memasuki mansion yang sudah lebih dari 5 tahun tidak ia tempati. Masih sama seperti dulu saat ia memutuskan untuk pergi meninggalkan mansion ini dan memilih tinggal di sebuah apartemen. Tidak banyak yang berubah, hanya beberapa sudut ruangan kini banyak terdapat lilin aromaterapi dan bunga mawar merah, dan Jimin bisa pastikan itu adalah keinginan istri ayahnya.
Jimin melangkah menuju ruang makan keluarga Park dan disambut oleh deratan maid yang membungkuk hormat dengan kedatangan Tuan Muda mereka. Jimin memutar bola matanya jengah ketika mendapati ayahnya tengah bercengkerama dengan istri ayahnya.
"Ah, Jiminie sudah datang, kenapa terlambat sayang?" Ucap seorang wanita setengah baya, dan hanya dibalas oleh lirikan malas dari Jimin. Jimin membungkukkan badannya sekilas kepada ayahnya dan segera menempati kursi makannya.
"Park Jimin! Dimana sopan santunmu?! Kau tidak mendengar ibumu bertanya oeh? Jawablah ketika orangtuamu bertanya!" Jimin mengepalkan tangannya menahan amarah, memejamkan matanya sejenak kemudian berkata dengan intonasi dalam tanpa menatap ayahnya.
"Dia mungkin memang istrimu, tetapi dia bukan ibuku." Ucap Jimin telak yang membuat wanita dihadapannya mengepalkan tangannya, sedangkan ayahnya sudah siap berdiri dan memukul Jimin, namun wanita yang berstatus istri dari ayah Jimin itu menghentikan tindakan Park senior.
"Yeobo sudahlah, mungkin Jiminie lelah makanya dia tidak mendengar ucapanku." Tuan Park kembali duduk setelah sang istri menahan pergelangan tangannya, kemudian dilanjutkan dengan acara makan yang banyak didominasi keheningan, hanya sesekali interaksi dari pasangan suami istri itu, lalu Jimin? Dia hanya mengaduk-aduk supnya tanpa ada minat untuk menyuapkan kedalam mulut.
Tak
Suara sendok yang diletakkan paksa memecah antensi dua orang paruh baya di ruangan itu, Jimin menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menatap ayahnya.
"Aku tidak bisa lama-lama disini, katakan apa hal penting yang ingin kau sampaikan?"
"Habiskan dulu makananmu." Tuan Park berbicara tanpa melihat kearah putranya.
"Aku tidak bisa, aku harus segera menyelesaikan laporanku dan kuserahkan langsung ke Rumah Sakit." Tuan Park sudah akan angkat bicara namun ditahan oleh istrinya.
"Habiskan dulu makananmu Jiminie, setelah itu mari kita bicara sebentar."
"Aku sungguh akan pergi sekarang juga bila tidak ada hal yang menurut kalian penting untuk dibicarakan denganku."
"Kurang ajar!" trak, Amarah Tuan Park sudah meluap, dan istrinya yang mencoba utntuk mengambil alih pembicaraan.
"Jiminie, apakah akhir pekan ini kau tidak ada kegiatan? Ayahmu dan aku berencana untuk mengadakan makan malam dengan salah satu rekan kerja ayahmu, ikutlah nak, kudengar mereka punya anak gadis yang cantik dan berpendidikan."
Jimin mendengus kesal, menyunggingkan senyum remeh kearah wanita di depannya.
"Apa aku yang akan menjadi korban selanjutnya? Katakan rencana akhir pekan itu pada anakmu Jung Hae Ra-ssi, karena pemuda di depanmu ini sama sekali tidak tertarik dengan acara makan malam penuh bualan itu." Jung Hae Ra mengepalkan tangannya, tersinggung dengan ucapan Jimin dan kentara sekali dia tengah menahan gugup.
"Jaga ucapanmu di depan ibumu JIMIN!" Tuan Park berdiri dari duduknya, menatap ke arah putranya yang justru terlihat santai setelah berucap demikian.
"Waktuku habis, aku harus segera kembali ke tempatku." Tanpa mempedulikan teriakan ayahnya, Jimin berjalan meninggalkan ruang makan dan menuju mobilnya. Di pikirannya saat ini hanya secepat mungkin pergi dari tempat ini.
Sebelum memasuki mobil, Jimin melihat sekilas Kim Ahjussi yang melihat kearahnya dan menggelengkan kepala, terlalu maklum dengan sikap Jimin. Sebuah seringai jahil dihadiahi Jimin untuk pria paruh baya yang sudah ia anggap seperti pamannya sendiri.
At agency
Jungkook meregangkan ototnya, merasa lelah bukan main setelah selama 6 jam penuh menatap layar komputer di depannya. Jungkook salah besar ketika mengira ia akan dijadikan trainee di agency ini, yang ada adalah dia dijadikan buruh disisni. Keuntungannya adalah ia mempunyai pekerjaan sekarang, meskipun hasilnya belum terlalu banyak, setidaknya ia akan mempunyai penghasilannya sendiri. Terimkasih kepada Yoongi yang menjadikannya asisten dalam menggarap beberapa musiknya. Ia diharuskan untuk mengedit demo yang diberikan oleh Yoongi.
Klek
Jungkook buru-bur membenahi duduknya ketika tiba-tiba Yoongi masuk ke dalam studio.
"Kau sudah menyelesaikan tugasmu?"
"Tentu saja belum, apa yang kau harapkan dari bocah amatiran yang baru saja menerima training kurang dari 2 jam yang lalu?" Jungkook mendengus ketia Yoongi tidak menanggapi omongannya dan berjalan ke depan komputer sembari melihat hasil kerja Jungkook.
"Yang kuharapkan tugasmu selesai dan aku dapat segera merasakan kasurku." Jungkook mendengus kesal mendengar jawaban Yoongi. Dia sudah terbiasa saat ini dengan kata-kata sarkastik dari seniornya itu.
"Lanjutkan tugasmu, sementara itu aku akan keluar sebentar. Pastikan ketika aku kembali tugasmu sudah selesai."
Jimin dalam perjalanan pulang ketika perutnya tiba-tiba berbunyi. Teringat bahwa tidak ada sesendok pun makanan yang masuk kedalam mulutnya ketika ia pulang ke mansion tadi. Jimin melajukan pelan mobilnya dan memutuskan untuk berhenti di salah satu kedai cepat saji.
"Satu porsi paket D dengan ekstra bawang bombai dan jangan lupa minumannya di upsize." Jimin menunggu pesanannya sembari mengirim pesan pada Taehyung untuk menemui dirinya esok di kampus, terlalu banyak cerita yang ingin ia ungkapkan pada sahabat brengseknya satu itu.
"Semuanya 8,000 won tuan." Ucap namja didepan Jimin yang merupakan pegawai kedai cepat saji ini.
"Sial." Dan terkutuklah Jimin dengan segala kesialannya hari ini. setelah ia tidak dapat mangkir dari panggilan ayahnya, kini dia harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia tidak membawa dompetnya.
"Tunggu sebentar." Ucap Jimin ketika menyadari bahwa dompetnya tertinggal, berharap terselip beberapa lembar won di dalam saku pakaiannya. Sedangkan si pelayan atau pegawai tadi terlihat sebal dan mulai mengalihkan attensinya dari Jimin, beralih pada pelanggan selanjutnya yang astaga sudah banyak antrian di belakang Jimin.
"Oh Suga, pesan seperti biasanya?" Pegawai itu tampak sangat akrab dengan pelanggan yang tersenyum mendapat pertanyaan darinya.
"Yap, dan kali ini aku ingin 2 porsi untukku dan mungkin kedepannya aku juga akan memesan 2 porsi."
"Ow, apa kau sedang dikunjungi oleh kekasihmu?"
"Bukan kekasih, itu untuk adikku."
"Hahaha, baiklah, baiklah, tunggu sebentar ya Suga. Oh iya tuan, silahkan segera bayar pesanan anda, antrian sudah banyak tuan." Ucap pegawai itu sambil melirik ke arah Jimin.
"Ah, tu.. tunggu sebentar lagi." Jimin masih berusaha akan menemukan keajaiban tiba-tiba di kantungnya akan terdapat beberapa lembar won.
"Aish sial, kenapa bisa tertinggal." Terdengar seperti gumaman namun tertangkap jelas oleh pelanggan yang berada di sebelahnya.
"Ah, Suga ini pesanannmu, semuanya 25,000 won." Ucap pegawai itu dan menyerahkan bungkusan pesanannya.
"Sekalian saja dengan tuan ini, simpan saja kembaliannya untukku minggu depan." Jimin terkejut dengan ucapan pelanggan di sampingnya, namun terlambat dia sudah berjalan ke arah pintu keluar.
"Tunggu!" Jimin mengejar pelanggan itu, dan menahan lengannya, membuat ia kini bertatapan dengan Jimin.
"Kalau kau ingin berkata terimakasih maka aku tidak membutuhkan itu, itu kulakukan karena aku tidak ingin menunggu giliran membayar terlalu lama karena aku sudah lapar." Belum sempat Jimin berbicara tetapi pelanggan itu sudah lebih dulu menyelanya.
"Tapi aku tidak suka berhutang, aku sedang sial hari ini karena lupa tidak membawa dompetku, dan aku akan mengganti uangmu, jadi beri tahu aku alamatmu cantik." Jimin mengeluarkan senyuman mematikannya, yang biasa ia gunakan untuk meluluhkan targetnya. Namun yang didapati oleh Jimin bukanlah pandangan memuja yang biasa gadis-gadis perlihatkan setelah menatap senyum Jimin, justru wajah datar dengan satu alis menukik tanda gadis pelanggan itu tidak suka dengan ucapan Jimin.
"Kalau niatmu hanya untuk mengembalikan lembaran won itu kau bisa titipkan pada pegawai tadi, aku akan mengambilnya sendiri, dan kalau tidak ada urusan lagi tolong lepaskan tanganmu karena aku harus menyelesaikan urusan laparku." Jimin menurunkan tangannya kaku, setelah itu gadis itu pergi melewatinya dan keluar meninggalkan Jimin yang terpaku di tempat.
"Sarkastik dan arogan, menarik sekali." Jimin tersenyum mengingat ucapan gadis tadi, sejurus kemudian ia teringat sesuatu.
"Ah! Pesananku!" Ternyata perut laparnya sanggup untuk merubah genre romantic itu menjadi little bit comedy.
SELAMAT TAHUN BARUUUUU 2018!
adakah yang masih menantikan ff ini?
semoga yang pengen ketemu sama biasnya, tahun ini bisa kesampean ketemu bias amiiinnnnn :D
habede buat sahabat se-per-playboy-an Jimin,
KIM TAEHYUNG a.k.a V
Jangan lupa reviewnyaaaaaa :*
