I Will Always Love You.
Disclaimer J.K. Rowling
Author Kazamuchi
Blacy, julukan gadis serba hitam itu ikut menoleh kekanan, "Namaku…." Ia mengulurkan tangannya.
Gadis perak di sebelahnya tersenyum lalu membalas uluran tangan Blacky dan juga menyebutkan namanya.
Dua orang gadis paling berbahaya di London kini telah menjadi sekutu, atau lebih tepatnya Teman?...
.
.
I WILL ALWAYS LOVE YOU.
Chapter 2
Dua gadis yang telah mengikat tali pertemanan itu tertidur di tempat yang sama. Sebuah kamar yang di hiasi oleh nuasa perak dan emas yang membuatnya terlihat mewah sekaligus indah di waktu bersamaan. Siapapun yang mempunyai kamar ini, pastilah ia sangat kaya. Ruangan ini memiliki luas yang sama dengan 3 kali besar ruang tamu. Ditambah lagi dengan beragam perabotan mewah yang terdapat di kamar itu. Kamar ini benar-benar wow.
.
cinta itu adalah sesuatu yang sangat sulit dipahami.
Ia tidak punya rumus yang harus dimengerti,
Ia hanya perlu dirasakan
.
Matahari pagi atau lebih tepatnya siang, Karena sekarang sudah jam 11.00 sudah naik tinggi dilangit London. dan di kamar itu sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda kehidupan. Dua orang yang bergelung di dalam selimut masing-masing itu sama sekali tidak terbangun, meskipun sinar matahari sudah menyeruak masuk melewati kaca jendela yang tirainya sudah di buka sejak jam 9 tadi.
15 menit kemudian, salah satu selimut bergerak dan terjatuh, di buang oleh yang orang yang tadinya menggunakannya.
Gadis itu menguap,lalu beranjak turun dari tempat tidur dan menuju toilet. 20 menit kemudian, ia keluar dengan menggunakan baju mandi. kemudian kembali ke tempat tidur dan menarik selimut itu dengan kekuatan penuh. Orang yang sedang bergelung di dalamnya terjatuh ke bawah ranjang.
Geraman terdengar dari balik selimut tebal itu, "Argh.. Bisakah kau membangunkan ku dengan cara yang lebih manusiawi uban?." Omel Blacy.
Orang yang di panggil uban oleh Blacy itu hanya memutar matanya dan menatap Blacy dengan pandangan jengkel. "Ya ya. Kurasa inilah cara yang lebih manusiawi untuk membangunkan mu. Tidak ada cara yang lebih baik dari ini. Dan bisakah kau berhenti untuk memanggil ku Uban?. Gerutu gadis perak itu dengan menyilangkan tangannya di depan dada.
Blacy bangun dan duduk di kasur empuk itu, "Nae, itu terdengar sangat cocok dengan mu. Wanita ubanan."
Gadis perak itu mungkin sekarang sedang menahan amarah, terbukti dengan kupingnya yang memerah.
Melihat hasil yang di buatnya, Blacy tersenyum dengan senang, tetapi si perak menutupinya dengan tangan. Tapi itu terlalu kentara untuk tidak diketahui oleh gadis itu. ia kembali menyunggingkan senyum menyebalkan itu.
"Sebaiknya, kau segera mandi sekarang. Sebelum aku melancarkan murka ku melalui tongkat ku ini," ucapnya sambil mengelus lembut tongkat albino miliknya yang tampak garang karena di iringi dengan derakan sihir pemiliknya.
Sekarang Blacy sama sekali tidak senang akibat perbuatannya. Ini sama sekali tidak baik. Bukan berarti ia takut, dan telah kehilangan keberaniannya yang kemarin. Tapi, sekarang keadaanya sudah berbeda dengan kemarin. Kerena, sekarang mereka adalah teman. Ini akan terasa berbeda. Jadi, sebelum ia terkena sihirnya, ia berlari ke kamar mandi dan menutup pintu dengan buru-buru dan menghasilkan suara bedebum yang keras.
Silverie, begitulah julukan gadis berambut perak itu, teman baru Blacy. Ia hanya dapat menghela nafas melihat teman barunya itu, tak ingin membuat kepalanya tambah pusing, ia masuk keruangan yang di penuhi bermacam-macam jenis pakaian. Ruangan itu tidak hanya di penuhi oleh pakaian saja, tetapi di dalamnya juga dipenuhi oleh sepatu dan tas. Ia memilih satu set baju, lalu mengambil sepatu yang serasi dengan bajunya hari ini.
Silverie keluar dari set room. Ia tampak cantik dengan pakaian kasualnya di tambah lagi dengan riasan sederhananya yang membuatnya wajahnya terlihat segar.
Bersamaan dengan itu, Blacy juga keluar dari kamar mandi. "Cepat sekali kau mandi?. Apakah kau benar-benar mandi?" Silverie menyipitkan matanya dan memandangi Blacy dengan tatapan menyelidik.
"Ck, aku benar-benar mandi. Aku bukan kau, yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk mandi."Dengus Blacy. Ia berjalan melewati Silverie dan masuk ke Set Room.
.
.
Mereka sekarang sedang menikmati sarapan atau makan siangnya dengan khidmat.
Dua orang memasuki ruangan itu dan tersenyum melihat mereka. Silverie membalas senyum mereka dan tampak senang melihatnya. Sedangkan Blacy hanya tersenyum seadanya saja.
"Sudah bangun hm, little girl?" Goda pria paruh baya yang terlihat masih mempesona walau usianya tak muda lagi. Wanita yang berada di sebelahnya hanya tersenyum melihat interaksi dua orang paling penting di hidupnya itu. Ia kemudian duduk di sebelah Silverie dan menaruh tas mahalnya di atas meja.
Wanita itu lalu mengalihkan pandangannya pada Blacy yang terhenti memasukan makanan keperut kosongnya. "Apakah kau tidak ingin mengenalkan gadis manis ini pada kami Varie?" Tegurnya.
Silverie tersadar bahwa di ruangan itu tidak hanya mereka bertiga, tapi ada orang lain yang di bawanya tadi malam. "Ah, Yah aku lupa. Perkenalkan ini Ginevra Molly Weasley. Dan Ginny, Ini Sabrina Victorie Granger dan Dave Warren Granger, Ibu dan Ayahku."
Ginny memandangi mereka, "Kau tidak bilang kalau kau adalah Granger. Kau hanya menyebutkan nama mu, tidak dengan nama belakang mu." Protesnya.
"Aa, aku lupa soal itu."Silverie mengedipkan matanya pada Ginny. "Baiklah,karena aku belum memperkenalkan diri secara formal, aku akan mengenalkan diriku. Hermione Salvarie Granger." Hermione mengembangkan senyum manisnya pada Ginny. "Sudah puas Ms. Weasley?" Godanya.
"Kau akan membayar keterlambatan mu ini, uban." Tunjuk Ginny dengan garpu teracung pada Hermione.
Pandangan Dave yang semula membaca Koran, kini teraih sepenuhnya pada Ginny . dan wajahnya tampak sedang menahan tawa dengan dahi yang berkerut. "Uban?" tampak tak percaya dengan apa yang didengar telinganya.
"Ya. Oh, itu. Aku memanggilnya uban karena rambutnya mirip dengan uban. Dan menyakiti pandangan ku." Jelas Ginny.
Mendegar penjelasan dari gadis yang duduk di depannya itu membuat Dave tidak dapat lagi menahan tawa yang ditahannya sejak tadi. "Ini pertama kalinya ada orang yang mengatainya seperti itu. Terlebih lagi di rumahnya sendiri." Tawanya seakan tak mau berhenti ditambah lagi kerutan kesal diwajah oorang yang tengah ditertawaannya.
Sedangkan Vicky panggilan hanya tertawa kecil.
"Daddy, Itu sama sekali tidak lucu, anakmu sedang di ejek dan kau malah tertawa. Sungguh Ayah yang baik."Keluh Hermione "Kau akan mendapatkan balasan ku nanti Black Fool." Tambahnya lagi
"Jangan panggil aku begitu. Aku tidak bodoh, dasar uban gila."
Sarapan mereka diisi dengan berbagai perdebatan yang membuat riuh meja makan siang itu.
.
I WILL ALWAYS LOVE YOU.
.
Sebuah mobil mewah nan mahal sewarna dengan perak meluncur dengan mulus di jalanan London siang itu. Penumpangnya terlihat menikmati perjalanannya. Kereta kuda versi modern itu menuju ke rumah milik gadis Weasley yang tengah mengemudikan mobil. walaupun mereka adalah keluarga penyihir berdarah murni, tapi mereka memiliki ketertarikan yang kuat dengan manusia biasa yang disebut Muggle oleh para penyihir.
Berbeda dengan Granger's Family yang memang telah membaur sepenuhnya dengan para muggle. Bahkan mereka mempunyai banyak perusahaan yang tersebar di berbagai belahan dunia muggle. Tetapi, perusahaan mereka tidak hanya ada di dunia muggle saja. Granger's Familiy merupakan salah satu keluarga kaya raya di Dunia Sihir.
Semua orang menghormati mereka karena orang-orang takut dengan kekuasaan yang dimiliki oleh keluarga ini. Dan sekarang, kedua anak dari keluarga itu telah menjalin hubungan yang berarti sekutu.
Tak lama, mereka tiba di sebuah rumah sederhana, namun terlihat elegan dan mewah walau rumah itu tak seberapa besarnya dibandingkan dengan rumah Hermione. Keduanya masuk kedalam rumah dan mengganti sepatu dengan sandal rumah yang tampak imut.
"Kukira kau hanya tahu cara bertarung. Ternyata kau juga tau apa itu yang di sebut dengan 'imut' Black Fool"
Ginny menoleh kebelakang dengan mata melotot dan wajah yang bisa membuat anak kecil menangis. "Bisakah kau tutup mulut mu sekejap sebelum aku yang menyumpal nya dengan bekicot"
"Uuu," Bukannya takut dengan gertakan Ginny ia malah membuat gadis merah itu semakin merah dengan balasan dari perkataanya tadi. "Okay. Aku tak akan mengomentari tentang barang-barang mu lagi."
Mereka kembali melanjutkan jalannya yang tertunda tadi.
"Santailah sedikit Ginny, kau tau aku sedang bercanda." Guraunya dengan menepuk pundak Ginny yang berada di depannya.
"Candaan mu sama sekali tidak lucu uban" balasnya dengan seringai yang bisa menawan hati para pria yang memandang.
Hermione tampak terkejut dengan kata yang keluar dari mulut gadis merah itu "O-h, uban? Jangan seperti kanak-kanak Blacky"
"Kau yang mulai bodoh!."
"Kau.." Tunjuk Hermione teracung lurus di depan hidung Ginny "Mengataiku bodoh?. Yang benar saja?." Ia mengibaskan tangannya seolah sedang kepanasan
"Ya. Lalu kau mau apa?. Beradu mantra lagi hah?" tantangnya
"Aku akan mengajarimu berkelahi dengan cara Muggle" selesai berkata seperti itu, Hermione menghampiri Ginny dan meletakkan tangannya di rambut hitam gadis itu,lalu menariknya dengan keras hingga Ginny tertunduk.
"Dasar jalang sialan." Ginny balas menarik rambut Hermione yang menjuntai di punggung gadis itu.
Keduanya sama sekali tidak mau mengalah dan menghentikan tarik menarik yang terlihat sangat berbar itu. Teriakan yang memekakkan telinga menghiasi ruangan itu hingga terdengar di salah satu kamar rumah itu.
"Demi merlin!" umpat orang itu yang segera bangun dan membuang selimutnya ke samping tempat tidur. Ia terlihat sangat marah.
"Bloody Hell Ginevra Weasley KAU MENGGANGGU TIDURKU." Pria itu berteriak mengalahkan teriakan dua orang gadis yang saling menjabak itu.
Dalam sekejap, keduanya terdiam dan serempak menolehkan kepalanya ke sumber teriakan tadi.
"What The Hell Ginny, kenapa kau jadi bar-bar seperti ini?. Apa kau telah kehilangan kewarasan mu?." Ia tampak terkejut dengan kelakuan adiknya yang benar-benar tidak seperti biasa.
Kompak,keduanya berpandangan lalu melepaskan cengkraman masing-masing lalu berdiri tegak dengan dagu terangkat.
Ron masih menatapi kedua gadis itu bergantian. Mereka terlihat sangat aneh di matanya.
Ginny tertawa karena dipandangi oleh kakaknya dengan tampang yang sangat bodoh. Hermione menoleh kesamping kanannya dan ikut tertawa. Ia mentertawakan penampilan Ginny yang tampak amburadul dengan pakaian yang robek.
Ginny ikut menoleh kesamping dan kembali tergelak melihat Hermione yang tak jauh berbeda keadaanya dengan dirinya.
Ron menjadi semakin cengo dengan aksi keduanya yang menurutnya terlihat sangat aneh tersebut. bahkan hampir menyerupai orang gila.
Terlebih lagi, gadis 'uban' itu siapa pikirnya.
.
I WILL ALWAYS LOVE YOU.
Saat kau merasakan cinta,
Kau akan merasakan beratnya rindu,
Terbayang wajahnya,
Bahkan kau mendengar suaranya saat kau tidak berada didekatnya.
Cinta itu menyakitkan.
I WILL ALWAYS LOVE YOU.
.
Usai menertawakan diri sendiri, keduanya menghentikan tawanya dan bersikap seolah tak terjadi suatu apa beberapa menit lalu.
Mereka merapikan penampilannya dengan sedikit lambaian dengan tongkat masing-masing.
"Kenapa kau ada disini Ron?. Bukannya kau di Burrow?" Ginny mengalihkan atensinya pada kakak merahnya itu.
Ron mendapatkan kesadarannya kembali dari aksi cengonya tadi. "Tadi malam aku kemari bersama Harry. Kami bosan berada di Burrow. Terlebih, disana tidak ada orang, jadi rumah terasa lengang dan itu sangat membosankan. Kurasa Harry masih tidur karena ia sangat mabuk tadi malam." Jelas Ron panjang lebar.
Ginny mendelik pada Ron "Kalian mabuk-mabukan tadi malam?. Apa kau juga membawa jalang kemari?" Geramnya.
Ron menyadari nada marah di suara Ginny dan ia menyadari letak kesalahannya yang dengan enteng menyebutkan bahwa mereka bersenang-senang tadi malam "Aah, Aku hanya minum satu botol saja. Jangan kau adukan pada Mom." Bujuk pria itu berusaha menenangkan Ginny.
Gadis itu tersenyum senang dengan pendapatan barunya. "Tentu aku tidak akan mengadu pada mom" Ron tersenyum senang "Tapi aku akan melaporkannya pada Dad dan Mom." Lanjut Ginny dengan wajah iblisnya.
Sedangkan Ron, wajahnya tampak sangat menyedihkan sekarang. Ia memasang wajah memelas terbaiknya. Tapi yang di lihat kedua gadis di ruangan tu, bukan tanmpang memelas, melainkan seperti orang yang tengah menahan mulas.
"Ck, maaf, menyela pembicaraan adik kakak kalian. Tapi aku kemari bukan untuk mendengarkan ocehan tak penting ini." Celetuk Hermione dengan tingkah bossy nya yang membuat Ron geram dengan laku gadis itu.
"Ok. Aku akan bersiap dulu. Kau mau disini atau ikut bersamaku." Kata Ginny.
Hermione melangkah mendekati Ginny yang berarti ia akan ikut gadis itu kekamarnya.
Ron mendecih sebal ketika Hermione lewat di mukannya. Gadis itu menggap tingkah Ron sebagai deklarasi perang terhadapnya. Ia mengucapkan mantra non-verbal dan seketika rambut Ron berubah menjadi gosong tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Ginny mengganti baju yang dikenakannya tadi malam dengan pakaian santainya. Sementara Hermione hanya memperhatikan gadis itu merapikan penampilannya.
"Apa kau ingin keluar dengan pakain seperti itu. Benar-benar seperti bangsawan Hermione."Ujarnya santai.
Hermione melihat dirinya yang tampak hancur dengan beberapa bagain bajunya yang sobek. Ia kembali melafalkan mantra dan membuat penampilannya kembali sempurna seperti sedia kala. Tak lupa ia juga menambahkan jubah bepergian di sampingnya yang tampak mahal.
"Kita akan kemana setelah ini?"
"Temani aku mendaftar sekolah."
"Kau belum sekolah?"
"Bodoh. Tentu saja aku sudah sekolah. Maksud ku temani aku mendaftar sekolah baru." Jelas Hermione dengan geram.
Ginny memasang wajah tanpa dosanya dan menghampiri gadis itu, "Okay. Kita berangkat sekarang." Ia memasangkan jubah bepergiannya.
Mereka keluar kamar dan menuju pintu rumah itu. Di ruang tamu, seorang pria tengah bermesaraan dengan wanita di pelukannya.
Ginny menggeram marah melihat pemandangan itu. ia bergerak mendekat pada kedua orang yang tidak menyadari kehadirannya disana. "Bagus sekali prilaku mu Potter. Bercumbu di rumah orang. Tidakkah kau punya rumah sendiri."
Dua orang itu menghentikan aktifitasnya. Harry memberikan deathglare nya pada gadis Wesaley itu. "Mengajari ku Weasley?. Tidakkah kau harus memperbaiki sikap mu dulu sebelum mengurusi prilaku orang lain."
"Setidaknya aku mempunyai sedikit sopan santun untuk tidak membawa seorang jalang kerumah orang." Senyum puas yang tampak merendahkan terpasang di bibir gadis itu.
Ron yang berada tak jauh dari situ segera menghampiri bersiap untuk melerai jika sekiranya terjadi adu mantra.
"Jaga mulut mu Weasley. Bukankah kau mempunyai 'sedikit rasa sopan' untuk tak menyebut orang lain Jalang." Harry memberi penekanan terhadap ucapannya tadi.
Ia memandang wanita yang berada di pelukan Harry dengan tatapan nista. "Ya. Tapi, 'sedikit rasa sopan' ku tidak berlaku untuk mu dan jalang-jalang mu yang kau bawa hampir tiap hari kesini Potter-head." Gadis Weasley itu semakin menyulut emosi Harry.
"Bukan kah tadi kau ingin keluar dengan teman mu Ginny" Ron akhirnya bersuara karena suasana di sana sudah panas. jika ia tak melerai sekarang, mungkin kejadian selanjutnya hanya Tuhan lah yang tahu akan jadi apa rumah itu jika ia tidak segera melerai keduanya.
Ginny mendengus dan mengibaskan jubahnya berbalik kembali menuju pintu. Di ikuti oleh Hermione di belakangnya.
Sepeniggal dua orang gadis itu, Harry menolehkan wajahnya pada sahabat karib sejak kecilnya dan kemudian tertawa karena melihat rambut Ron yang mecuat dan tampak gosong.
Ron yang merasa di tertawakan, menatap Harry dengan garang. "Apa yang lucu Potter."
"Rambut mu Ron. Kenapa seperti itu?." ujarnya masih dengan tawa gelinya.
Ron memegangi rambutnya dan merasakan ada yang aneh. Ia berlari ke cermin terdekat dan seketika berteriak. "Dasar gadis uban sialaan."
Kedua gadis berbeda warna rambut itu telah sampai di luar rumah.
"Siapa?" Hermione memecah keheningan
Bukannya menjawab, Ginny menarik tangan Hermione dan membawanya ber-apparate dari depan rumah mugglenya itu.
Di depan mereka berdiri kokoh bangunan besar. Ginny berjalan mendahului Hermione memasuki halaman bangunan itu.
Gadis perak itu mengarahkan tongkat albino ke kepalanya, dalam sekejap, surainya yang semula berwarna perak itu kini berubah menjadi yang seharusnya. Coklat emas dan bergelombang. Ia kemudian menyelaraskan langkah kakinya dengan Ginny yang tak jauh berada di depannya.
"Rambut mu merah?." Tanya Hermione dengan senyum mengejek yang menyertai.
"Ya. Semua Weasley berambut merah." Jawabnya tampak tak berminat.
Suasana kembali hening. Tak ada yang berbicara. Keduanya tiba di depan sebuah gargoyle. Ginny mengucapkan kata sandi, lalu gargoyle itu bergerak dan timbulah tangga memutar yang akan mengantar keduanya ke ruangan kepala sekolah.
.
I WILL ALWAYS LOVE YOU
.
Selesai mendaftar, mereka tak langsung pulang. Ginny membawa langkah keduanya menuju ruangan tertinggi di bangunan itu. Kelas Astronomi.
"Indah bukan" Ujarnya.
Hermione menoleh dan mendapati Ginny yang tengah menerawang dengan pandangan lurus ke depan yang menyajikan hamparan rumput hijau pendek yang tertata rapi. "Ya. Mungkin aku akan betah sekolah disini." Senyumnya mengembang membuat wajah cantiknya menjadi semakin cantik.
"Apa aku terlihat menyedihkan?" gumaman keluar dari mulut Ginny
Ia sempat terheran dengan pertanyaan gadis di sebelahnya, kemudian kembali menatap lurus kedepan setelah tahu kearah mana obrolan ini. "Ya. Kau tampak sangat menyedihkan sekarang. Tidak seperti malam kemarin."
"Aku juga wanita" ujarnya lagi.
"Benarkah kau wanita?" Sambung Hermione
Ginny menoleh dan menyeringai. "Jangan mulai Granger." ia mengerut aneh "Sejak kapan rambut mu jadi coklat begitu" sambungnya lagi.
Hermione memandangnya dengan kesal "Sepertinya kau benar-benar patah hati karena pria itu hingga kau tak menyadari rambut ku?" ia menaruh kedua tangan di pinggang rampingnya "Woah, sakit mu benar-benar parah Weasley" ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ginny hanya tersenyum mendengar ocehan gadis itu. "Adakah obatnya?" tanyanya putus asa.
"Kurasa tak ada. Sakit mu sudah terlalu kronis." Jeda "Sejak kapan" sambungnya
"Pertama kali kami bertemu di peron 9 ¾ saat aku akan masuk Hogwarts. Sekitar lima tahun yang lalu."
"Kalau begitu, kalian satu angkatan?"
"Ya." jawab Ginny lemah. "Tiap minggu aku melihatnya dengan para gadis menyebalkan yang selalu menggodanya. Dan ia meladeni jalang-jalang itu tanpa keberatan."
Hermione mendengarkan keluhan gadis merah itu tanpa suara.
Ginny kembali melanjutkan ceritanya. "Dan yang paling menyakitkan yaitu, teman ku yang ku anggap sahabat bahkan saudara ku sendiri juga ikut menggodanya. Dan bercumbu di hadapan muka ku."
Hermione yang mendengar cerita menyedihkan itu tersenyum meringis sebagai responnya. "Lalu gadis itu kau apakan?"
"Aku ingin sekali membunuhnya. Tapi aku tak mau merusak nama baik keluarga ku. Jadi aku melancarkan terror yang menyeramkan untuknya. Dan itu berhasil membuat ia menjauhi Harry."
"Dari cerita mu, sepertinya si Harry ini benar-benar pria brengsek. Kenapa kau menyukai lelaki sialan seperti itu." Ujar Hermione kesal.
"Mana aku tahu aku akan jatuh cinta padanya. Kau tau rasa itu mucul sendirinya tanpa bisa ku cegah" Ginny mengatakannya dengan nada lemas dan rasa sakit yang bergetar di suaranya.
Tidak puas dengan jawaban Ginny, Hermione kembali bertanya "Lalu, kenapa kau tak mencoba melupakannya?. Dunia ini tidak hanya punya satu Pria Gin, kenapa kau tak mencari yang lain?"
Ginny memandang Hermione dengan tatapan terluka "Banyak pria di luar sana, tapi tak ada yang mampu menggetarkan hati ku."
"Kau hanya tidak berusaha Weasley."
"Aku berusaha Granger. tapi rasa terkutuk ini masih ada di hati ku, walaupun ia menjadi brengsek seperti itu." nada putus asa menghiasi suara Ginny
Hermione kembali menolehkan atensi nya menatap Ginny "Tapi aku salaut pada mu. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, tapi kau masih bertahan menyukainya. Kau benar-benar sesuatu." Senyuman mengembang di wajah cantik itu.
"Kau tau, aku adalah seseorang yang sangat setia."
"Yaa, aku tidak meragukannya"
Hermione memandang Ginny "Berjanjilah kau akan menjadi sahabat ku Weasley."
Ginny balas memandangnya "Ya. Tentu. Dan berjanjilah kau tak akan mengkhianati ku."
"Granger tak mungkin melakukan hal serendah itu." Ujar Hermione mantap
I WILL ALWAYS LOVE YOU
Ada yang bilang, saat kau beranjak dewasa, kau akan merasakan indahnya jatuh cinta.
Benarkah?
Saat itu aku sangat berharap agar aku segera dewasa dan mersakan seperti apa jatuh cinta itu..
Apakah ia seperti embun yang menyejukan,
Atau layaknya mentari yang menghangatkan.
Nyatanya, jatuh cinta tak seindah khayalan kecil ku dulu.
Rasanya tak semanis madu.
Rupanya tak seindah pelangi.
Cinta itu sakit.
Ia bagaikan duri yang menusuk sembilu.
Bagai penyakit yang tak dapat sembuh dan tak ada obatnya.
Ia bagaikan jurang tanpa dasar yang menyeret mu dalam gelapnya malam.
To be Continue
Minggu, 1 Januari 2017
16.00 WIB
Kazamuchi
makasih buat nina sama nuruko, bener gak sih tulisannya?, yang udah ngereviuw fict gak penting yang di buat author amatir ini.
makasih juga buat temen-temen ane yang selalu gangguin. dan terima kasih buat bf ane, nina09 yang selalu nagih supaya fict yang author buat segera di update lagi. kalo gak ane bakalan di lempar sama sandal katanya.
dan mohon doa semuanya, mama ane lagi sakit, jadi mohon doanya supaya mama ane cepet sembuh lagi.
dan satu lagi, ane sekarang lagi prakerin, yang anak smk tau dong.
udah ah gitu aja. ntar yang baca puyeng. hehe
bye.
