I Will Always Love You.
Disclaimer J.K. Rowling
Author Icce99
"Kau tau, aku adalah seseorang yang sangat setia."
"Yaa, aku tidak meragukannya"
Hermione memandang Ginny "Berjanjilah kau akan menjadi sahabat ku Weasley."
Ginny balas memandangnya "Ya. Tentu. Dan berjanjilah kau tak akan mengkhianati ku."
"Granger tak mungkin melakukan hal serendah itu." Ujar Hermione mantap
.
.
I WILL ALWAYS LOVE YOU
Chapter 3
Cinta itu sulit.
Akhirnya, liburan musim panas telah berakhir. Semua siswa Hogwarts telah kembali memenuhi King Cross untuk kembali ke Kastil rumah kedua mereka. Ginny merupakan salah satunya. Ia dan Ron ikut berdesakan bersama yang lain. Mereka seperti biasa diantar oleh mom dan dad serta Fred dan George yang sekalian berangkat kerja.
"Ron!" teriak Harry yang di antar oleh Lily dan James serta Sirius.
Ron tersenyum sumringah melihat sahabatnya telah datang. Berbeda dengan Ginny, ia merengut masam melihat lelaki berambut hitam berantakan itu.
Beberapa saat kemudian, Hermione datang menghampiri Ginny dengan senyum ejekan terpatri di wajah cantik gadis itu karena ada Harry di sana. "Hai Ginny."
"Oh, hai." Jawab Ginny malas. Ia kemudian juga menyapa kedua orang tua Hermione, "Selamat Pagi Mr, Mrs. Granger" ujarnya ramah.
"Pagi Ginny, jangan terlalu formal begitu. Kami terlihat sangat tua jika kau memanggil begitu." Balas Ibu Hermione
Hermione memandang Ginny lalu memandang orang tua Ginny, kemudian kembali menatap Ginny. 'Yang artinya, kau tidak mau mengenalkan kami?'
"Mom, dad, ini adalah Hermione Granger" Hermione menyalami keduanya. "Ini adalah Mr. Dave Warren Granger ayah Hermione dan Mrs. Sabrina Victorie Granger ibunya Hermione." Kedua orang itu kemudian saling menyebutkan nama masing-masing di sertai senyum ramah.
Tak lama, kereta tua itu telah berbunyi tanda sebentar lagi ia akan berangkat.
Keduanya berjalan menyusuri kereta untuk mencari kompartemen kosong. Tak lama, ia menemukan kompartemen yang isinya adalah Fred dan George. Keduanya tampak sibuk dengan berbagai penemuan baru yang menurut Ginny sangat tidak berguna itu.
Ginny mendorong pintu kompartemen itu dan masuk kedalamnya. Ia duduk di sebelah Fred sedangkan Hermione dengan George.
"Kurasa, aku belum pernah melihat mu nona."
"Ya. sepertinya kau orang baru" Sambung George
Hermione tersenyum, "Perkenalkan, aku Hermione Granger. kalian bisa memanggil ku Hermione." Ucapnya tulus.
"Apa kau pewaris Granger yang terkenal itu?." Ujar Fred
"Apa kau akan sekolah di Hogwarts?" Tambah George
"Yes I am. Ya."
"Kudengar kau sekolah di Paris."Fred
"Mengapa kau pindah ke Inggris." George
"Apa Paris menyenangkan?" Fred
Di saat kau ingin melupakannya,
Hermione kembali mengembangkan senyum manis,"Kalian sangat lucu. Ya, aku sekolah di Paris kemarin. Aku pindah Ke Inggris karena ayah ku harus mengurus cabang perusahaannya dan ingin mengembangkannya lagi. Paris sangat menyenangkan." Jawab Hermione.
George kembali bertanya "Perusahaan apa yang di kembangkan ayahmu disini."
Hermione menunjuk benda yang tengah di mainkan oleh Ginny.
Fred berbinar dengan jawaban Hermione. "Kalian membuat Handphone?. Apa Ayahmu ingin membuat versi baru dari o-phone?"
"Bisakah kami mendapatkannya?" tambah George dengan girang.
"Secara Gratis tentu saja. Karena kau adalah teman adik kami." Ujar duo kembar itu bersamaan.
"Sejak kapan kalian jadi tukang minta-minta seperti ini?" Ginny yang semula diam akhirnya bersuara.
"Baiklah. Jika versi barunya nanti sudah keluar, aku akan memberikannya pada kalian." Putus Hermione.
Kedua pria kembar itu tersenyum senang.
"Jangan terlalu baik pada mereka Granger." Ujar Ginny kesal.
Hermione menatap Ginny "Aku menyukai mereka. Kau tau, dari dulu, aku ingin sekali memiliki saudara kembar." Ujarnya dengan semangat.
Ginny hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia kembali memfokuskan atensi coklatnya pada benda di tangannya.
Sepanjang perjalanan, kompartemen itu hanya diisi dengan candaan Fred dan George serta Hermione.
I WILL ALWAYS LOVE YOU
Ia kembali datang menghampiri mu.
I WILL ALWAYS LOVE YOU
Kereta tiba di stasiun Hogsmade pada sore hari, hampir malam. Fred dan George keluar dari kereta di belakangnya terlihat Ginny dan Hermione.
Mereka menaiki Thestral yang kasat mata. Saat Thestral itu akan pergi, dua orang mencegaatnya lalu ikut naik.
Ginny memandang tajam pada pria berambut hitam acak-acakan itu. sedangkan pria itu hanya menyeringai pada Ginny yang menambah rasa kesal di hati gadis merah itu.
"Kau bersekolah disini?." Tanya Ron pada Hermione
"Ya. aku pindahan dari Paris."
"Apakah gadis di sana sama dengan disini" Ujar pria berkacamata yang membuat dahi Ginny berkerut.
"Jika 'gadis disini' yang kau maksud itu adalah jalang-jalang mu itu, tentu jauh berbeda Potter. Bahkan anak anjing pun jauh lebih bermartabat ketimbang budak-budak mu itu." Jawab Ginny pedas.
Harry menatap gadis itu tajam, "Kau selalu terlihat tidak senang dengan ku Weasley, apa yang menyebabkan mu begitu membenci ku seperti itu?" Ujar Harry dengan wajah tanpa dosanya.
Ginny mendengus "Siapa pun akan benci melihat mu Potter. Kau sangat menyakiti mata. Terlebih dengan kacamata jelek mu itu. mungkin jika ada yang menatap mu lebih dari 20 menit, ia akan terkena kanker otak esoknya."
Lalu, kau akan kembali melayang di buai olehnya.
Alih-alih marah dengan hinaan adik sahabatnya itu, Harry malah memamerkan senyum manis yang akan membuat gula malu, "Kau sudah banyak berubah little Weasley. Dulu, sewaktu kecil kau sangat imut dan menyenangkan. Aku sangat kecewa dengan kau yang sekarang, suka menghina dan mengumpat." Ujarnya dengan tampang sedih.
Ginny mendecih, "Tidak usah menampilkan wajah menjijikkkan itu di depan ku Potty-Head. Aku tidak mau mati hanya karena melihat wajah paling buruk di dunia-milik mu itu."
Kali ini Harry tidak tersenyum seperti sebelumnya. Ucapan gadis ini sudah kelewatan pikirnya. "Jaga mulut mu Weasley." Geramnya kesal
Ron sudah bersiap untuk menghentikan mereka, tapi tiba-tiba Hermione menghentikannya. "Biarkan mereka. Ini sangat menarik untuk di tonton."
Ron menggeram melihat gadis di depannya itu. "Kau pikir ini opera?"
"Tenanglah Weasley, mereka tidak akan saling mengutuk. Mereka tidak akan berani."
Guratan kesal bertamabah di dahi pria itu "Tidak berani katamu?. Mereka sama tidak warasnya dan kau bilang mereka tidak akan menarik tongkatnya?. Kau sudah gila?"
"Percaya padaku Weasley. Mereka tidak akan melakukan hal yang kau takutkan itu."
Sedangkan kedua orang 'tidak waras' kata Ron itu masih melancarkan deathglare terbaik masing-masing.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu Potty?. Kau marah karena aku mengejek mu?. Mengapa harus marah? Ayolah aku hanya bercanda jadi jangan terlalu sensitive seperti itu Potty. Jangan seperti nenek tua"
"Sudah kukatakan pada mu untuk menjaga mulut jalang mu itu. tidakkah kau punya telinga?. Ah, aku tau, telinga mu tentu sudah terkena salah satu kanker seperti yang sering kau sebut itu."
Di saat kau tersenyum bahagia,
Tepat sebelum Ginny akan membalas perkataanya, Kereta itu sudah sampai di tempat pemberhentian. Harry melompat turun lalu berjalan perlahan meninggalkan gadis itu dengan gondok luar biasa.
Melihat kawannya telah turun lebih dulu, Ron turun mengejarnya.
Ginny masih kesal dengan pria kacamata itu. terlebih jika di Hogwarats seperti ini, ia akan bertingkah seperti anak baik yang manis yang di sayang oleh para Professor yang tidak mengetahui sifat setannya. Ia terkejut ketika mendapat tepukan ringan di bahu kanannya, "Sudah cukup memikirkannya Gin. Sekarang kau temani aku ke ruang 'pak tua' itu." ujar Hermione dengan senyum geli.
Ginny menuruti permintaan Hermione dan membawanya ke ruang kepala sekolah. Mereka tiba di ruangan besar yang di penuhi dengan rak yang berisi berbagai buku dan benda sihir lainnya. Di tengah ruangan itu terdapat seekor burung Phoenix yang tampak cantik dengan ekor panjangnya.
"Selamat datang kembali ke Hogwarts, Miss Weasley. Ada keperluan apa hingga kau datang ke ruangan ku?" Ujar pria tua dengan kacamata bulannya.
Ginny tersenyum ramah, "Aku kemari karena mengantarkan Miss Granger Prof." ujarnya lembut.
Kepala yang di tumbuhi dengan rambut panjang yang telah memutih itu menoleh ke arah lain dan melihat gadis cantik dengan surai coklat dan netra coklat madu.
"Saya kemari untuk di seleksi Sir."
"Ah. Aku lupa. Kau adalah Hermione Granger yang mendaftar saat musim panas kemarin Right?" ia tersenyum lalu memanggil topi lusuh.
"Duduklah disini Miss Granger" seraya meletakkan topi lusuh itu di atas kepala Hermione.
Ia kembali pergi meniggalkan kenyataan pahit yang mengahantam mu.
Satu menit topi itu berada di sana. ia belum meneriakkan nama asrama yang akan di tempati gadis itu. tapi tak lama ia berteriak dengan kencangnya "Griyffindor!. Kurasa itu adalah pilihan terbaik untukmu saat ini."
Pak tua itu kembali mengambil topi itu dan kembali menaruhnya ketempat asal. Ia tersenyum senang melihat dua orang gadis di depannya. "Nah, kurasa urusan kalian sudah selesai. Tidakkah kalian ingin makan malam?. Kudengar, para peri rumah memasak makanan enak malam ini"
Keduanya tersenyum "Terima kasih professor." Ujarnya bersamaan.
Sebelum keduanya keluar, professor itu kembali menghentikan langkah mereka. "Ah, jangan lupa sesudah makan malam, temuilah professor ."
Setelah itu, mereka langsung keluar meninggalkan ruangan kepala sekolah dan menuju Great Hall untuk makan malam.
I WILL ALWAYS LOVE YOU
Seperti yang sudah di perintahkan oleh kepala sekolah tadi, keduanya langsung menemui Professor seusai makan malam. Kini mereka tengah berada di asrama Gryffindor atau lebih tepatnya kamar perempuan.
"Miss Weasley, bukankah seharusnya kamar ini di isi oleh dua orang?." Ujarnya dengan mata tajam yang telah di makan usia itu.
Ginny tersenyum polos, "Entahlah Prof. aku tidak tahu mengapa orang-orang tidak betah tidur disini. Setiap kali kau menyuruh anak perempuan untuk mengisi tempat ini, keesokan harinya pasti ia langsung pindah. Aku tidak mengerti sama sekali mengapa mereka berlaku seperti itu." Ujarnya di sertai dengan wajah yang akan membuat malaikat malu.
Seperti itulah Cinta mempermainkan mu.
Masih tidak percaya dengan alasan konyol muridnya, ia kembali bertanya. "Apakah kau tidak menakuti mereka Miss Weasley?."
"Tentu tidak Professor. Aku tidak mungkin sejahat itu." Ujarnya manis dengan mata anak anjingnya.
Wanita tua itu akhirnya mengalah dan menghembuskan napas beratnya. "Baiklah, karena hanya kau yang menempati kamar ini, maka Miss Granger akan tinggal disini. Dan jangan melakukan hal aneh padanya Miss Weasley. Aku akan selalu mengawasi mu."
Ginny mengangguk patuh pada kepala asramanya itu sebelum ia beranjak keluar meninggalkan kedua gadis yang menhan tawanya sejak tadi.
Tawa membahana di kamar itu tepat ketika professor menghilang di balik pintu.
"Wajah mu tadi bodoh sekali Gin."Masih dengan tawa Hermione menunjuk temannya.
"Aku sangat terkejut dengan kemampuan ku tadi. Aku bingung apa aku yang terlalu hebat atau wanita tua itu yang terlalu bodoh hingga ia tertipu dengan wajah suci ku tadi"
Hermione kembali tergelak dengan ucapan Ginny. Satu menit tertawa membuatnya lelah. Kini ia mulai merasa haus. "Hei Red Head apa kau punya minuman?. Akan lebih baik lagi jika dengan es."
Ginny bergerak ke sudut ruangan lalu membuka kulkas yang tersembunyi di samping lemari. Ia mengambil dua kaleng minuman dari lemari pendingin itu. lalu melemparkannya pada Hermione.
Hermione dengan sigap menangkap kaleng itu "Bagaimana kau bisa punya kulkas di sini?. Bagaimana cara mu mendapatkannya?" tanyanya heran
"Mudah saja, aku tinggal datang ke kamar kebutuhan, memikirkan tempat yang kuinginkan, lalu aku mendapat kulkas itu. itu berbeda dari kulkas muggle. Ia tak perlu listrik untuk tetap hidup, tapi dengan sihir."
Jadi jika nanti kau jatuh cinta,
Hermione hanya mengangguk mengerti. Tapi sekejap kemudian keningnya berkerut "Apa itu kamar kebutuhan?"
Ginny tampak membuka mulutnya lalu kembali menutupnya. "Besok aku tunjukan."
"Ah, lalu bagaimana cara mu untuk mengusir anak-anak yang tidur disini sebelum aku?"
"Itu mudah, aku tinggal mengacam dan menakut-nakuti mereka dengan berbagai suara dan penampakan yang akan membuat mereka tidak dapat tidur semalaman. Lalu keesokan harinya, saat aku kembali dari kelas, kamar ini sudah kosong."
"Wajar saja jika mereka ketakutan. Wajah mu sudah sangat seram. Di tambah lagi dengan suara yang kau buat itu, mereka pasti merasa tercekik saat itu"
Ginny melempar kaleng kosong kearah Hermione yang dengan mudah di hindarinya. Berpuluh kaleng minuman dan bungkus cemilan berserakan di sekitar mereka.
Keduanya terus melanjutkan obrolan mereka hingga menjelang tengah malam. Saat mata sudah terasa sangat berat barulah mereka beranjak ketempat tidur masing-masing.
I WILL ALWAYS LOVE YOU
Sudah beberapa hari Hermione tinggal di Hogwarts sekolah barunya. Selama ini semua berjalan lancar tidak ada sesuatu hal yang menggangu. Ia menjalani kelas yang padat bersama Ginny.
Keadaan Ginny juga tak jauh berbeda dari Hermione. Ia masih berseteru jika bertemu Harry. Entah mengapa, di matanya seorang Harry Potter sangat menyebalkan. Terlebih jika pemuda itu sedang bersama 'jalang' nya yang selalu mengintili Harry kemanapun.
Jangan tertipu dengan indahnya yang semu.
Jika di dunia muggle Harry Potter tampak seperti brengsek yang mengencani sembarang wanita asalkan wanita itu cantik,sexy dan muda, lain halnya dengan di dunia sihir. Ia terlihat seperti bajingan yang sedikit bermatabat. Karena ia tidak mengencani sembarang wanita. Ia hanya berkencan dengan wanita bangsawan yang menurut Ginny tidak punya otak sama sekali.
Kali ini, ia tengah bersama dengan Cho Chang. Gadis keturunan negeri bambu itu tampak lengket sekali dengan Harry. Seperti sudah di berikan perekat super.
"Mereka benar-benar menjijikkan."
Hermione yang tengah membaca buku kesayangannya menolehkan kepalanya pada sahabatnya itu, "Siapa?" kerutan tampak menghiasi kening mulusnya. Ginny sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Ia masih menatap tajam kearah dua orang yang membuat matanya sakit itu.
Karena tidak di hiraukan, Hermione mengikuti arah pandangan Ginny yang menatap setajam pisau kepada pria bersurai hitam dengan kacamata menghiasi wajahnya. Ia menganggukkan kepalanya paham dengan situasi yang sedang terjadi. "Kau cemburu Weasley? Jika kau marah dengan kedekatan mereka, datang dan hampiri mereka lalu kau cium saja Harry." Ujarnya geli.
Ginny menolehkan kepalanya secepat kilat pada gadis di sebelahnya. "Cemburu?. Kau sudah gila?. Dan aku tidak marah. aku hanya terganggu dengan kelakuan mereka yang sudah seperti ayam dan induknya."
Hermione menghela napas keras. Sudah berapa kali dalam sebulan ini ia di katai gila dan itu sangat mengganggunya. "Aa,jadi kau hanya terganggu?. Baiklah aku paham dan Aku tidak gila Weasley. Aku masih waras. Yang gila itu kau." tunjuknya pada Ginny.
Ginny sama sekali tidak terima dikatai gila seperti ini. "Kau bilang apa? Aku gila? Yang benar saja. Aku masih waras Granger."
"Kau gila Weasley." Balas Hermione malas.
Dengan hangatnya
"Gila?, yang benar saja."
"Kau jelas-jelas sudah gila." Ginny membuka mulutnya hendak membalas ucapan itu, tapi segera di potong oleh Hermione. "Kau ter-GILA-GILA pada si POTTER."
Gadis merah itu langsung terdiam setelahnya. Ia tidak lagi membalas ucapan Hermione.
Sedangkan Hermione, ia memandang puas pada sahabatnya yang kini terdiam itu. "Aku benarkan. Kau sudah terlalu mencintai Potter itu, hingga kau tidak sadar bahwa kau sedang cemburu."
"Aku..cemburu?" Ujar Ginny tak percaya
"Ya." balas Hermione
"Dengan pria brengsek itu?" sambungnya lagi.
"Dengan pria brengsek itu Weasley." Kembali Hermione menegaskan.
Sedetik kemudian, Ginny tertawa terbahak hingga semua mata kini memandangnya. Hermione merasa risih tapi tak berusaha menghentikannya. "Kau bilang aku tergila-gila pada pria itu, sampai kau menyebutku tidak waras?" seru Ginny dengan nyaringnya. Sekarang, netra berwarna biru terang juga ikut memandang kearah mereka. Ia menatap tajam pada Ginny yang masih tertawa. Hermione menepuk lengan gadis itu dengan sedikit keras. Sontak, Ginny langsung menghentikan tawanya, walau dengan susah payah. "Kenapa?."
Hermione mengedikkan dagunya kearah Harry Potter yang masih betah menatap Ginny. Gadis Weasley itu mengarahkan pandangannya pada orang yang berada di pojok ruangan itu, ia kembali menatap Hermione. "Dia kenapa?" ujarnya bingung.
"Aku tidak tahu. Ia sudah begitu sejak kau berteriak tadi."
"Mungkin otaknya hilang." Jawab Ginny acuh
"Bodoh. Mana mungkin seperti itu."
Bahkan dengan semilirnnya
"Mungkin saja Mione. Lagi pula, ia memang tidak waras sedari dulu. Jadi tidak usah di ambil pusing. Mau dia melotot sampai bola matanya keluar juga bukan urusan ku."
Hermione mendengus, 'sok sekali dia bilang begitu. Padahal dia selalu memikirkannya. Dasar gila.'
Ginny mengambil Handphone nya yang bergetar di saku roknya. Ada notif pesan singkat rupanya.
From: Michelle
Ada orang tidak waras yang menantang mu malam ini jam 11.
Datang ketempat biasa. Taruhannya sangat menggiurkan. Kau lihat sendiri saja nanti.
Ia menyeringai senang. Rupanya ada orang bodoh yang kehilangan akal yang dengan berani menantangnya. Ini bagus sekali pikirnya.
"Siapa?"
"Michelle. Kita akan ke London Muggle nanti malam. Kau persiapkan segala sesuatunya. Kita akan bersenang-senang nanti malam."
Tak butuh penjelasan lebih, Hermione sudah memahami ucapan Ginny. Tampaknya, nanti malam mereka akan menggila lagi setelah sekian lama.
Ginny menolehkan keplanya kebelakang dan mendapati Harry sudah tidak ada di tempatnya. Sepertinya ia sudah pergi. "apa peduliku." Pikirnya acuh.
Ingatlah bahwa itu hanya sesat dan menipu..
To Be Continued.
22.22 WIB
Minggu, 15 Januari 2017
Akhirnya chapter ini selesaaaaaiiiii. Author seneng banget deh. Rasanya kayak beban 10 kilo terangkat dari pundak author. *readers: author lebay, ditimpukin sandal.
Bener loh, author gak bohong. Soalnya sekarang author lagi sibuk .
Jadi, di tengah kesibukan ini author menyempatkan diri untuk buka laptop dan nulis lagi. Soalnya takut di timpuk sandal beneran sama temen author karena gak lanjutin fict ini. Hehehe. Kalo ada yang nanya temen author itu siapa, itu loh yang nama akunnya nina09. Hahaha. Gomen ne, nina-chan. Haha
maaf ya baru di update, padahal fict nya udah lama selesai. soalnya ane gomen ne :*
mmm, makasih ya yang udah reviuw,fav,follow. makasiiiihhhhh banget.
aa, satu lagi. jangan jadi silent reader ya. reviuw kalian itu sanngat berarti walau hanya 1 kata.
Fict ini di buat untuk M.D.S yang nyebelin.
