I Will Always Love You.

Disclaimer J.K. Rowling

Icce99

"Siapa?"

"Michelle. Kita akan ke London Muggle nanti malam. Kau persiapkan segala sesuatunya. Kita akan bersenang-senang nanti malam."

Tak butuh penjelasan lebih, Hermione sudah memahami ucapan Ginny. Tampaknya, nanti malam mereka akan menggila lagi setelah sekian lama.

.

.

I WILL ALWAYS LOVE YOU

Chapter 4

Deru mesin mobil memenuhi lahan parkir gedung tua tak terpakai itu. Bermacam jenis mesin terpasang pada mobil yang telah tertata rapi membentuk seperti sayap. Mobil itu juga di modifikasi dengan berbagai macam seperti selera pemiliknya. Dari yang paling imut sampai yang paling mengerikan.

Dibagian depan, berderet enam mobil dengan warna berbeda. Tapi symbol yang terpasang pada depan kap mobil itu membuat orang tahu, bahwa mereka sama. Mobil-mobil itu adalah milik anggota S7Angels.

Seperti namanya, pemilik mobil-mobil itu layaknya malaikat tak bersayap. Mereka mempunyai paras yang cantik, tubuh yang elok, derajat yang tinggi, dan juga kharisma yang akan membuat lawan gentar.

S7Angels terdiri dari tujuh orang gadis yang menawan yaitu, Michelle Weiss, Ginny Weasley, Alicia Thompson, Ivy Wood, Park Hye Ji, Fumiko Kazane, dan anggota terbaru mereka, Hermione Granger. Sebelum Hermione Granger bergabung, S7Angels hanya punya enam anggota karena Robin yang merupakan anggota pertama dan juga menjabat sebagai ketua memutuskan untuk keluar. Tapi, karena sekarang ada anggota baru Hermione, kelompok itu jadi lengkap kembali.

"Kau lihat pria disana?, yang memakai ford hitam dia adalah penantang mu malam ini. Dari penyelidikan ku dan Ivy, ia adalah seorang penyihir kalangan bangsawan. Jadi kusarankan kau berhati-hati. Dan sebaiknya kau tidak usah bertatap muka dengannya. Itu bisa mengungkap identitas mu." Bisik Michelle

"Yo! Ladies. Sepertinya ada orang gila yang kehilangan otaknya dan datang menantang kalian." Pria dengan rambut perak datang menghampiri mereka.

"Shut up Malfoy."

"Sst. Jaga bicara mu Fool. Kau pikir kita berada dimana sekarang."

Ginny mendengus. "Siapa yang kau sebut fool musang?"

Draco memutar matanya. "Tentu saja kau bodoh." Tunjuknya

"Jangan sembarangan musang."

Hermione yang sedang di dalam mobil memutar matanya mendengar sahabatnya itu kembali bertengkar. "Ck. Urat kesabarannya itu setipis serat ayam. Selalu bertengkar di setiap kesempatan." Gerutunya. Ia keluar dari mobil dengan wajah masam.

"Black Fool. Apakah kau selalu seperti ini?. Adu mulut dengan setiap manusia yang berada di depan hidung mu?. Kenapa tidak sekalian adu jotos saja" Omelnya

Ginny memutar matanya bosan. "Ya ya ya. Uban aku akan mencoba bersabar malam ini. Jadi jangan menggerutu seperti nenek tua. Dan kau albino, ada perlu apa kemari? Mengucap salam padaku?."

"Ck. Ku ingatkan padamu. Aku juga anggota disini. Jadi tidak ada yang melarang jika aku datang kemari. Dan kau bilang apa tadi?, mengucap salam padamu?. Seperti aku tidak punya kegiatan yang lebih bermanfaat saja."

Ginny mengacuhkan ocehan Malfoy muda itu. Ia lebih memilih mengecek mobilnya.

Netra kelabu itu bergulir ke arah lain untuk mencari fokus yang lebih menarik. Matanya menangkap wajah baru di sana. "Draco." Pria Malfoy itu mengulurkan tangannya kepada Hermione dengan seringaian menghias wajah tampannya.

Hermione menatap pria di hadapannya itu. Ia menyambut uluran tangan itu "Hermione. Ah, atau kau bisa memanggilku Silverie bila disini."

"Begitu?. Cocok sekali dengan rambut mu. Berkilau seperti perak" Senyuman maut itu menambah pesonanya.

Hermione tersenyum "Kau itu tipe bermulut madu ya?. Ucapan mu manis sekali"

Tawa pun memecah di belakang mereka. "Shut up Girls."

"Malfoy kehilangan wajahnya. Hahaha"

"Lihatlah. Wajahnya bersemu."

"Hey, kau ganti style rambut tomat ya?. Rambut mu jadi merah."

"Haha. Kau pikir dia Bunglon?"

"Ck, menyebalkan sekali." Pria itu menggerutu pelan

Hermione tertwa pelan melihat tingkah Malfoy muda itu.

Malfoy muda itu kembali menatap gadis di depannya. "Dan kau, pastilah tipe wanita yang mengeluarkan bisa untuk mengusir pria yang ada di dekat mu." Draco membalas ucapan yang membuatnya jatuh telak tadi

Gadis perak itu mengedikkan bahunya. "Entahlah, tapi hanya dengan pria yang tak ku inginkan saja." Balasnya dengan mengulas senyum manis.

"Cih, jadi secara tidak langsung kau mengatakan bahwa kau tidak ingin aku didekat mu?. Begitu?."

"Tidak juga. Kau berpikir begitu?"

"Kau terlalu berbelit, uban."

"Kau menyebut ku uban sedangkan warna mu tidak lebih baik dari milik ku."

"Ini adalah warna terbaik sepanjang musim ini. Ya sudah kalau begitu. Karena kau tidak ingin aku disini, aku pergi saja" Draco berbalik meninggalkan gadis yang masih menatapnya intens.

"Hey, Jangan menatapnya terlalu lama" Terikan Miko itu membuat lamunan Hermione terhenti

"Hati-hati terhadapnya Mione. Bisa-bisa nanti kau terjerat pesonanya." Ivy menyenggol bahu gadis perak itu.

"Dia memang menawan." Senyuman terulas di wajah cantik itu

"Jika saja dia bukan teman kami sedari kecil, mungkin aku sudah jatuh cinta padanya." Gadis Wood itu menerawang ke masa lalu.

"Lalu kenapa kau tidak pacaran saja dengannya."

"Aku benci dengan mulut manis nya. Dia selalu memuji setiap wanita yang berada di depannya. Tidak peduli apakah itu anak-anak atau nenek tua sekalipun. Sekali waktu aku pernah bertanya, mengapa kau selalu mengumbar-umbar senyuman dan pujian kepada setiap wanita?. Kau tau apa jawabnya?."

"Apa?"

"Karena mereka memang pantas diperlakukan begitu. Setiap wanita itu harus di puji. Terlebih lagi jika ia punya wajah yang menawan. Tak perduli itu anak-anak atau pun nenek-nenek." Gadis Weasley itu menyambung ucapan Ivy.

"Apa-apan itu. Dasar Gila" Ketujuh gadis itu tergelak.

"Tak ada gunanya membicarakan begundal satu itu. Lebih baik kau bersiap Fool" Cetus si Park muda

"Sudah sedari tadi."

"Masuklah kedalam mobil. Balapan akan segera di mulai." Miko membuka pintu depan mobil Ginny

Gadis dengan pakaian serba hitam itu masuk kedalam Mercedesnya. Ia perlahan memacu sedan yang juga hitam itu menuju garis start. Lawannya sudah menunggu.

Gadis (…) berdiri diantara dua mobil itu dengan kedua tangan teracung. Bibirnya yang berpoles lipstick semerah darah tersenyum lebar

"Diluar sana kita terbiasa mendapat apa yang kita mau. Tapi disini berbeda, Because this is London Baby" semua orang bersorak. "But Remember, it is s Race. So, (jangan pelankan mobil mu jika tak ingin menjadi pecundang.)"

"Are you ready?" jarinya menunjuk mobil ford hitam itu. Si pengemudi menginjak gas

"I know you ready." Jarinya berpindah pada Ginny, ia menginjak pedal gasnya.

"And, Go!"

Kedua mobil itu meninggalkan kerumunan itu dengan asap tipis di knalpotnya. Ginny mengganti gigi dan menginjak pedal rem lalu berkelit menghidari mobil di jalanan London yang ramai. Di belakangnya mobil ford hitam itu terus mengejar. Beberapa kali mencoba menyalip Ginny.

Saat keduanya berbelok di jalan (…) Ginny membuat kesalahan dengan berbelok terlalu lebar sehingga ford hitam itu berhasil menyalip. Pengemudi ford itu memandang Ginny dengan senyum kemenangan. Ia menyeringai dengan lebar.

"Brengsek sialan!." Ginny memacu Mercedesnya dengan sekuat tenaga. Ia harus membuat si bedebah itu menerima kekalahan yang akan diingatnya seumur hidup.

"Jangan senang dulu brengsek." Gadis itu kembali mengganti gigi dan menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil mereka kini bersisian. Pria itu menggeram, ia membanting stirnya kearah Ginny. Mobil Ginny terlempar ke sisi jalan.

"I don't see you Baby" ia kembali berusaha menghantamkan mobilnya ke Mercedes Ginny. Sedikit lagi ford itu akan meremukkan Ginny, ketika ia dengan cepat menginjak rem. Akibatnya, ford hitam itu menghantam bahu jalan dengan mulus.

Ginny menoleh ke arah sampingnya dengan senyum mengejek.

Pria keturunan asia itu tak terima. Ia kembali menginjak gas dan mengeluarkan NOS miliknya. Mobil Ginny kini tertinggal jauh di belakang

"Haha!. How in my ass Bitch!."

Gadis itu tersenyum. "Terlalu dini, Dasar amatir." Ia menginjak gasnya dan berusaha mengejar. Kemenangan sudah di depan matanya. Ia seharusnya tak perlu khawatir tadi. Orang ini bukanlah apa-apa.

Setelah melaju bagai kesetanan, ford itu mulai kehilangan tenaga. Dengan cepat Mercedes Ginny mengejar. Gadis itu bahkan memutar mobilnya dan menggunakan gigi mundur untuk menambah kesal pria asia itu.

Mobil mereka saling berhadapan. Mata bertemu mata, Seringai terkembang di wajah Ginny. Tangan kanannya memegang stir sedangkan tangan kirinya mengacungkan jari tengah pada lawannya. Ia kembali memutar mobilnya seperti layaknya mobil normal. Dan mengeluarkan NOS.

Ford itu mulai hilang dari jarak pandang. "Beginilah caranya bodoh."

Ginny tiba di garis Finish. Semua orang bersorak menyambut kedatangannya. Dalam sekejap, mobilnya telah hilang di telan massa. Ginny membuka pintu mobilnya dan berniat menghampiri anggota S7Angels. Baru saja kakinya memijak tanah, sirine polisi sudah mengacaukan suasana di tempat itu. Tanpa membuang waktu lagi, Ginny segera masuk kembali dalam mobil. Ia membuka penutup NOS miliknya yang kedua. Bersiap untuk kabur dari kejaran polisi.

Sesuai dengan yang dikatakan oleh gadis (yang memulai aaksi balapan) tadi, bahwa ini London. Jadi polisi disini juga berbeda dari tempat biasanya. Jika di tempat lain, polisi tak akan mengejar mobil mu lagi jika kecepatannya melebihi (batas normal). Tapi di sini, jangan berharap seperti itu. Kau akan di kejar sampai ke neraka sekalipun.

Mobil-mobil yang tersusun rapi itu kini telah berhamburan ke segala arah. Beberapa dari mereka terlihat sedang mempermainkan polisi yaitu dengan sengaja membiarkannya mengikuti tapi tidak membiarkan dirinya tertangkap. Ginny tersenyum melihat itu. Ia juga harus segera meninggalkan tempat ini jika tidak ingin menginap di kotak besi malam ini.

Dewi fortuna tidak lagi berpihak pada bungsu Weasley itu. Karena dari spionnya terlihat cahaya merah biru yang terus mengikuti. Ia berbelok kejalan raya dan menggiring polisi itu ketempat ramai. Mungkin dengan begitu polisi sialan itu akan meyerah.

Ginny memutar strinya berkelit dari mobil yang lalu lalang. Meski begitu kecepatannya tidak berkurang sama sekali. Ia memencet tombol untuk memacu NOS yang kedua ketika ban kanannya meledak akibat timah panas yang di luncurkan dari belakangnya.

Seakan tak perduli Ginny terus menyeret mobilnya walau dengan terseok-seok. Beberapa saat kemudian, mobil itu sudah kembali normal. Ban yang meledak tadi sudah kembali normal karena beberapa waktu yang lalu, ban itu sudah di mantrai oleh teknisi spesial S7Angels, Alicia Thompson.

Ginny membelokkan mobilnya ke gang remang yang sudah sangat sepi ketika polisi sialan itu tidak lagi mengikuti nya. Ia berhenti di depan sebuah toko tua yang sudah tutup. Tangannya memencet remote control untuk pintu itu. Ia memasukkan mobilnya kedalam toko itu dan pergi dengan berganti pakaian terlebih dahulu.

Saat ia tidak lagi di kejar seperti ini, barulah ia ingat bahwa tadi dirinya tidak datang seorang diri. Dengan cepat ia mengambil ponsel lalu segera menghubungi Hermione. Pada nada dering yang pertama, telpon itu langsung terhubung.

"DASAR KAU JALANG IDIOT!. DIMANA KAU LETAKKAN OTAK MU YANG SECUIL ITU HINGGA BERANINYA KAU MENINGGALKAN AKU DI TENGAH-TENGAH POLISI. KAU MAU AKU MASUK SEL HAH?!. KAU TAHU AKU TIDAK MEMBAWA MOBIL DAN KAU, MENINGGALKAN AKU BEGITU SAJA!. DASAR KAU BRENGSEK SIALAN!"

Ginny menjauhkan benda persegi itu dari telinganya. Meski di teriaki seperti itu, ia sama sekali tidak marah. bibirnya tersenyum mengetahui temannya itu baik-baik saja.

"Maaf, aku lupa pada mu dan pergi begitu saja. Maaf Karen aku lupa bahwa kau tidak bawa mobil."

"LUPA?!. LUPA KAU BILANG?! MUDAH SEKALI"

"Maaf Oke. Keadaan ku juga tidak begitu baik tadi. Aku dikejar oleh polisi dan mereka menembaki ban ku."

Suara di seberang sana langsung berubah cemas. "Ditembak?. Apa kau baik-baik saja?. Kau terluka?. Mobil mu bagaimana?" nada cemas sangat kentara menghiasi rentetan pertanyaan itu.

"Asal kau tahu, aku baik-baik saja dan anggota tubuhku masih menempel di tempat seharusnya. Jadi, tenang saja. Tidak usah paranoid begitu. Seperti bukan kau saja."

Helaan nafas terdengar lega. "Syukurlah jika begitu. Kau dimana sekarang?"

Netra coklat itu memutar berkeliling. "Aku di (jalanan London). Kau dimana?. Aku akan kesana sekarang"

"Tak perlu repot-repot Weasley!. Aku akan mengantarnya pulang dengan selamat. Kau pulang saja. Jika kau telat pulang WeaselBoy akan mencari mu nanti." Sebuah suara menyahut di seberang sana.

Gadis itu tersenyum miring. "Malfoy, Hermione?. For Goddness Sake's. oke-oke, aku akan pulang sendiri saja. Bersenang-senanglah Granger, Malfoy. kuharap akan ada Malfoy Jr dalam waktu dekat ini." Kekehnya senang.

"Sepertinya kepala bodoh mu itu terbentur cukup parah. Otak mu yang sudah sekecil kacang itu sekarang benar-benar tidak dapat di gunakan lagi." Sarkasme menguar dalam suara lembut itu.

"Haha. Baiklah. Sampai jumpa di Hogwarts. Bye."

"Bye!"

Senyuman miring masih senantiasa menghias wajah yang mulai pucat karena kedinginan itu. Ia menghentikan sebuah taksi untuk mengantarnya ke (Perbatasan muggle dan sihir).

Mobil kuning itu melaju dijalanan yang lengang karena ini sudah lewat tengah malam dan berada di pinggiran kota. Hanya selang belasan menit kemudian mereka tiba di tujuan.

Pintu belakang mobil itu membuka. Ginny segera melangkah memasuki gang yang menghubungkannya dengan Diagon Alley. Iakemudian berbelok ke gang yang lebih sempit dan ujung gang itu merupakan jalan buntu. Tangannya mengeluarkan tongkat (Ginny) dan berniat mengetuk dinding bata itu ketika sebuah suara menginterupsi.

"Weasley?. Bloody Hell!. Apa yang kau lakukan disini?"

I WILL ALWAYS LOVE YOU

Se u.

Yo! Minna

Setelah beberapa dekade akhirnya kita bersua di pertemuan yang tak disengaja. Hati ini berdebar dan bertanya, akankah ada …..

Sandal yang melayang?!

Hehehe. Sebagai author yang nulis tergantung mood saya ucapkan terima kasih karena ada yang berkenan membaca cerita gaje ini. (Aku sadar kok).

Dengan setulus hati aku minta maaf karena menggantung cerita ini. Hilang tanpa berita. (gak ada yang nungguin lo. Jangan kegeeran oy.)

Dan berjuta terima kasih aku ucapin buat yang udah ngereviuw dan ngasih saran. Beneran deh, reviuw kalian itu yang buat aku mencoba mencari inspirasi lagi untuk lanjutin cerita ini. Dan hasilnya beneran gak banget. Maaf yaaa.

Dan di chapter ini aku ngerasa gagal banget buat bikin adegan actionnya. Mau buat kejar-kejaran ala fast furios malah jadinya gini. Huwaaa. Gomennasai…

Mmmmm, kalo kalian pernah nonton fast furios 6 pasti sadar aku ngambil satu adegan yang aku sukaa banget. Hehe.

Ya udah deh, itu aja curcol gak gunanya. Maaf yaa kalian harus baca tulisan gak senonoh ini.

Eh iya, mau nanya dong. Menurut kalian, cerita ini bahasanya udah baku gak sih?.

See u.

ICCE99