Game (c) darkjune a.k.a Junee_Park

Romance-hurt/comfort

Teenager-Rated

Main cast: Kim Jonghyun x Im Nayoung

Other cast: Kim Sejeong, Ong Seongwoo, Choi Minki, Kang Dongho, Hwang Minhyun

Jonghyun, Nayoung, dan karakter lainnya milik Tuhan, keluarga, agensi, fans, dan dirinya sendiri. Da aku mah apa atuh, cuma punya alur cerita hehehe

...

- stage 5-

...

Sejeong terus melirik gadis yang duduk di sampingnya. Nayoung tampak gelisah, sekalipun ekspresinya tetap sama. Gadis itu tak bisa diam, dia terus melirik jam di tangannya. Belum lagi kuku jari yang menjadi sasaran unuk digigiti, dan kaki yang terus bergerak tak tentu arah.

"Lo kenapa sih?." Sejeong berbicara sepelan mungkin, tapi Nayoung tetap saja terkejut.

Gadis itu menoleh, membuka tutup mulutnya. Setelah terdiam sejenak, Nayoung menggeleng dan kembali mencoba fokus pada penjelasan Miss Jeon di depan kelas. Sejeong memilih untuk mengangkat bahunya acuh, lalu ikut memperhatikan kelasnya. Miss Jeon terkenal garang saat mengajar.

"Ok class. Thank you for today, good afternoon."

Setelah mendengar kalimat penutup dari Miss Jeon, Nayoung segera melesat keluar dari ruang kelasnya. Gadis itu tak peduli fakta bahwa Miss Jeon masih membereskan bukunya ataupun suara Sejeong yang erus memanggilnya. Nayoung bahkan menabrak Seongwoo yang hendak memasuki kelasnya.

"Woy woy, kalem. Lo kenapa sih?." Nayoung membereskan barang-barangnya yang berjatuhan tanpa niat menjawab pertanyaan Seongwoo.

"Oh ya, Jonghyun kemana? Kok gue gak liat dia seharian?." "Di rumah." Seongwoo mengerutkan keningnya. "Doi bolos? Tumben."

Nayoung yang sudah selesai membereskan isi tasnya pun berdiri dan menatap Seongwoo. Datar, seperti biasa.

"Iya, Jonghyun bolos. Kemaren abis berantem sama preman. Udah ya, gue buru-buru."

"Hah!? E-eh Young, tunggu dulu. Aisssh, gue ditinggal lagi." Seongwoo mengacak rambutnya frustasi, niatnya untuk mengajak Jonghyun keluar gagal total.

Saat tengah asik mengumpati Nayoung dalam hati, seseorang menepuk pundak Seongwoo. "Lo ngapain di depan kelas gue?." Itu Sejeong.

"Mau ketemu lo." Jawaban Seongwoo yang disertai kedipan genit hanya dibalas ekspresi sebal oleh Sejeong.

"Jadi, lo mau dibanting sama Daniel apa dihajar sama Chungha nih?." Sejeong mulai berjalan sambil mengeluarkan ponselnya.

Gadis iu memberikan senyum mengejek saat melihat wajah panik Seongwoo. "Gue becanda elah. Jangan bilang ke Chungha, doi kalo marah serem." Dan Sejeong hanya tertawa menanggapi wajah memelas Seongwoo.

...

Minki, Dongho, dan Minhyun terus menatap Jonghyun begitu ketiganya sampai di rumah pemuda itu. Mereka hanya menatap Jonghyun tanpa suara, lalu saling pandang, kemudian menatap Jonghyun kembali. Begitu seterusnya hingga waktu sudah berlalu hampir dua puluh menit. Lama kelamaan Jonghyun risih juga diberi tatapan seperti itu.

"Lo pada kenapa sih?."

"Jong, seinget gue lo gak pernah tawuran deh pas SMA." Dongho yang mulai menggapi Jonghyun. "Ya emang, gak kayak lo yang kerjaannya masuk ruang konseling mulu gegara masalah sama sekolah sebrang."

Dongho tersenyum kecut mengingat masa lalunya. "Terus lo kenapa bisa babak belur gini?." Kali ini Minhyun yang bertanya, sementara Minki masih mengamati tubuh sahabatnya itu. Ada lebam di pipinya, bibirnya juga sobek. Belum lagi memar di lengan dan kakinya, juga beberapa goresan di kaki pemuda itu.

"Gue abis berantem sama preman." Sahutnya santai, tidak peduli dengan perubahan mimik wajah ketiga sahabatnya.

"Lo tuh ya, udah tua, dikasih kebebasan tinggal sendiri juga bukannya makin baik malah berantem sama preman." Minhyun geleng-geleng kepala mendengar jawaban Jonghyun. Pemuda itu segera tahu bahwa Minhyun akan memulai ceramahnya, jadi dia berinisiatif untuk menjelaskan.

"Gue berantem bukan tanpa alasan. Yakali gue iseng-iseng gebukin preman. Gue tuh, mau no-."

"Jong lo baik-baik aja kan di rumah?."

"-longin seseorang." Ketiganya terkejut dengan seseorang yang masuk ke rumah Jonghyun dengan begitu tergesa-gesa. Empat orang pemuda di dalam rumah dan seorang gadis yang masih memegangi knop pintu sama-sama sang pandang, bahkan saling memberikan berkedip-kedip lucu.

"Ah maaf bikin kalian kaget."

Nayoung menutup pintu rumah Jonghyun dengan lebih pelan lalu menghampiri sang pemilik rumah yang sejak tadi masih fokus dengan pspnya. Gadis itu menyodorkan sebuah kantong plastik berwarna putih ke hadapan Jonghyun. Pemuda itu mendongak, lalu meletakkan pspnya begitu saja. Minki segera berdecak.

"Yaelah, kalo Nayoung aja langsung noleh. Kita kita dari tadi dianggurin." Minhyun dan Dongho mengangguk setuju.

"Nayoung kan naruhnya di depan muka gue, ya mana gue bisa liat layar psp gue kalo gitu." Minki mencebikkan bibirnya mendengar alasan Jonghyun.

"Jadi gimana cerita kepahlawanan lo Jong?." Dongho segera mengembalikan ke topik awal begitu melihat Minki akan kembali mengomel.

"Gara-gara nih anak." Jonghyun menunjuk Nayoung yang hanya memandangnya sekilas lalu kembali sibuk dengan plastik berisi perlengkapan p3k itu. "Udah dibilangin jangan keluyuran juga tetep ngeyel."

"Gue belajar Jong, bukan keluyuran." Nayoung yang sudah selesai menata perlengkapan untuk mengobati Jonghyun pun menjawab. "Iya, belajar sampe lupa waktu. Sampe lupa jam terakhir bis lewat. Sampe akhirnya lewat jalan yang banyak premannya. Terus bikin gu-"

"Iya iya, maaf. Gak lagi-lagi deh gue." Nayoung menyela lalu memindahkan kaki kanan Jonghyun yang terdapat luka gores. "Sekarang lo diem ya, kalo ini gak diobatin bisa infeksi ntar."

Jonghyun menurut, pemuda itu memilih mengambil kembali psp yang tadi tergeletak. Hening yang menerpa membuat tiga pemuda yang terasing di rumah itu saling menoleh. Ketiganya bingung akan apa yang harus mereka lakukan.

"Ah sia-sia gue ijin dari asrama buat jengukin lo Jong." Dongho yang memulai, pemuda itu berdiri. "Yaudah, gue balik ke akademi duluan ya, keburu waktu ijin gue abis."

Minhyun dan Minki turut berdiri. "Gue juga mau balik aja lah Jong. Cari pacar, biar ada yang perhatian. Males gue lo cuekin begini." Setelahnya Minhyun mengikuti Dongho keluar dari rumah Jonghyun.

Minki linglung sejenak. Setelah kembali ke dunia nyata, pemuda itu segera berlari keluar dari rumah Jonghyun tanpa pamit. Toh sepertinya juga tak perlu. Dua orang yang kini tertinggal di ruang tamu itu juga sibuk dengan diri mereka masing-masing.

"Eh Hyun, tungguin!. Gue mau ikutan cari pacar juga. Atau lo pacaran sama gue aja." Nayoung terkekeh pelan mendengar teriakan Minki, ditambah balasan dari Minhyun yang tak kalah keras. "Dih, najis lo ki!."

"Temen-temen lo lucu ya. Gak berubah dari dulu." "Lucu apaan ngeselin gitu." Jonghyun kembali meletakkan pspnya, Nayoung memintanya untuk mendekat. Gadis itu akan mengobati luka di bibir Jonghyun.

"Ya setidaknya lo punya temen yang bisa lo ajak kelahi. Lha gue?." Sekalipun nada yang disampaikan Nayoung terdengar datar, Jonghyun bisa merasakan nada sedih yang terselip.

"Lo punya gue, Young." Nayoung mendongak, menghentikan kegiatan nenempel plester di bibir Jonghyun. "Lo juga punya Chungha, ada Ong juga. Kalo lo mau tengkar sama mereka bertiga juga gak apa-apa." Jonghyun tersenyum.

"Lo gak sendirian lagi Young." Dan unuk pertama kalinya jantung Nayoung berdetak lebih cepat. Gadis itu tak mengerti alasannya. Entah karena ucapan Jonghyun, wajah pemuda itu yang begitu dekat, atau senyum Jonghyun yang terlihat begitu manis dan tulus.

- TBC -

A/n: diantara ketidakjelasan kuliah pagi ini, saya lebih memilih up story wkwk. Tidak bisa banyak bicara karena masih ada tumpukan tugas. Byebyeee