Game (c) darkjune a.k.a Junee_Park
Romance-hurt/comfort
Teenager-Rated
Main cast: Kim Jonghyun x Im Nayoung
Other cast: Kim Sejeong, Kim Chungha
Jonghyun, Nayoung, dan karakter lainnya milik Tuhan, keluarga, agensi, fans, dan dirinya sendiri. Da aku mah apa atuh, cuma punya alur cerita hehehe
...
- stage 9-
...
Hari-hari berlalu dan Nayoung belum juga bisa menemukan cara yang tepat untuk menunjukkan perasaannya pada Jonghyun. Gadis itu terus mengumpati dirinya dan kelemahannya itu. Jonghyun sendiri masih terus mengantar jemput Nayoung. Masih rutin mengirimi pesan. Masih bersikap manis pada gadis itu. Membuat Nayoung hampir gila karena perasaannya sendiri.
"Lo yang ada masalah, gue yang pusing Young." Chungha mengeluh sambil menatap Nayoung. Tangan lentiknya mendarat di dahi, memijitnya pelan pertanda pusing melanda.
"Ya abis gue harus gimana? Gue gak ada temen yang bisa gue aja rundingan selain kalian." Nayoung berhenti sebentar untuk mengambil nafas sebelum melanjutkan ucapannya. "Atau kalian udah bosen temenan sama gue."
"Enggak. Gak gitu Young." Sejeong segera menyela. Gadis itu tahu Nayoung selalu pesimis, khususnya dalam hal pergaulan. Gadis itu susah untuk mencari teman, karenanya dia berusaha untuk tetap berada dalam lingkungan Chungha dan Sejeong. Tapi bila dua gadis ini tak bisa lagi bersamanya, Nayoung tak tahu lagi harus kemana.
Sebenarnya ada satu lagi yang bisa jadi tempat bersandarnya, tapi Nayoung segera menepis nama yang membuatnya uring-uringan belakangan ini. Kim Jonghyun.
"Terus lo mau gimana? Udah gue bilang langsung aja." Nayoung menunduk, sejujurnya Nayoung tahu bahwa ide Chungha ada benarnya. Tapi dia sendiri bingung bagaimana mengatakan pada Jonghyun. "Apa gue nih yang bilangin?." Chungha segera mengeluarkan ponselnya, tapi Nayoung segera mencegah.
"Gue... belom siap." "Terus kapan? Keburu Jonghyun direbut orang. Gitu gitu dia terkenal lho." Nayoung menggigit bibir, perkataan Chungha adalah fakta yang tidak bisa ditepisnya begitu saja. Jonghyun itu tampan, baik, dan supel. Sudah pasti banyak gadis mengincarnya. Namun, Jonghyun masih juga sibuk berkutat dengan Nayoung.
"Haaah." Chungha menghela nafas lelah lalu memasukkan ponselnya. "Gini deh, gue kasih ide satu lagi. Kalo lo nolak ini gue udah angkat tangan."
...
Pagi itu, pukul sembilan kurang Nayoung sudah sibuk di dapur kecil yang ada di apartemennya. Gadis itu sedang membuat makan siang sederhana; gimbap berisi potongan ayam, telur, dan sayuran. Senyumnya mengembang saat melihat hasil karyanya yang cukup cantik. Begitu pula saat gadis itu mencicipi satu potong gimbap buatannya.
"Lumayan."
Ponsel Nayoung berdering tepat saat gadis itu menutup kotak bekalnya. Saat melihat nama Jonghyun tertera di layar ponselnya, Nayoung segera melebarkan senyumnya. Tanpa perlu berpikir lagi, Nayoung segera menerima panggilan itu.
"Ya?."
"Lo gak ketiduran lagi kan?."
"Enggak lah." Nayoung terkekeh di sela ucapannya, membuat Jinghyun di sebrang sana mengernyit heran.
"Lo gak mabok kan?."
"Ih, apaan sih Jong. Lo udah di depan?."
"Iya nih. Cepet dong, panas."
"Yaudah. Gue turun, bentar."
Nayoung segera mematikan panggilan itu setelah mendengar balasan singkat dari Jonghyun yang sepertinya sudah lelah menunggunya di bawah. Kotak bekalnya sudah terbungkus rapi. Tas berisi bukunya sudah tersampir. Tapi saat Nayoung hendak turun, gadis itu menoleh sejenak ke arah cermin di lemari kamarnya, merapikan pakaiaan dan rambutnya yang sejujurnya sudah rapi sejak tadi.
"Jong, maaf ya bikin nunggu." Nayoung menepuk pundak Jonghyun sambil memberikan senyum manis. Jonghyun tertegun sebentar, Nayoung dan senyum manis adalah perpaduan yang indah. Sekaligus langka.
Dan hari ini, kejadian langka itu hadir di hadapan Jonghyun.
"Halo? Earth to Jonghyun." Nayoung melambaikan tangannya di depan wajah Jonghyun. "Ayo, hari ini jadwalnya Prof. Han." Ujar Nayoung seraya mengenakan helmnya dan naik ke atas motor Jonghyun.
"Young."
"Hm?."
"Lo cantik kalo senyum." Jonghyun menoleh. "Sering sering ya." Lalu tersenyum.
Dan setelah Jonghyun kembali menatap jalanan di hadapannya, Nayoung segera menunduk sambil mencengkeram kotak bekal di tangannya. Wajahnya panas. Dia malu.
Tapi senyum manis tetap terkembang di bibirnya.
...
Kelas Prof. Han baru saja selesai, Jonghyun dan Seongwoo segera menghampiri Nayoung yang duduk dua deret di depannya. Gadis itu masih membereskan bukunya saat Jonghyun menepuk pundaknya. Saat menemukan wajah Jonghyun, Nayoung segera memamerkan senyum manisnya.
"Tuh kan." Jonghyun menunjuk Nayoung sambil menoleh pada Seongwoo yang kini membolakan matanya.
Nayoung mengernyit, heran dengan tingkah dua pemuda itu. "Kenapa sih?."
"Enggak. Gue cuma bilang ke dia kalo lo hari ini banyak senyum. Dia gak percaya, yaudah gue seret ke sini."
"Tapi bener deh. Liat langsung aja gue masih gak percaya." Seongwoo memajukan tubuhnya untuk menatap Nayoung lebih dekat. "Lo gak kerasukan kan?."
"Apa-apaan sih lo." Kerah kemeja Seongwoo ditarik oleh Jonghyun, membuat pemuda itu sedikit terhuyung. Saat hendak protes, Seongwoo justru menemukan wajah kesal Jonghyun yang membuatnya terkekeh.
Mencoba mengacuhkan Seongwoo dan kekehan anehnya. Jonghyun kembali menatap Nayoung, wajah kesalnya sudah hilang berganti dengan senyuman. Tiba-tiba matanya menatap sesuatu yang berada di tangan Nayoung. Kotak bekal.
"Lo bawa bekal Young?. Tumben." Bukannya menjawab, Nayoung justru menyodorkan bekal itu kepada Jonghyun, membuat pemuda itu keheranan. "Buat lo."
"Lo bilang kangen masakan rumah. Bosen sama makanan di kantin kampus sama kafe." Jelas Nayoung saat masihbmenangkap raut heran di wajah Jonghyun. Sedetik kemudian Jonghyun tersenyum sambil menerima bekal buatan Nayoung. "Tapi maaf, cuma gimbap doang."
"Gapapa." Balas Jonghyun singkat.
"Aduh, kayaknya gue pergi aja deh. Daripada jadi laler." Nayoung dan Jonghyun menoleh ke arah Seongwoo yang sudah berniat untuk pergi.
"Eh, makan bareng sini. Gue bikinnya banyak kok." Seongwoo tegelak melihat wajah bersalah Nayoung.
"Enggak, gak usah. Gue juga emang mau cabut kok. Duluan ya." Seongwoo melenggang pergi. Namun sebelum benar-benar meninggalkan keduanya, Seongwoo kembali menoleh.
"Oh ya, lo bener Jong. Nayoung cantik kalo senyum."
Gadis yang dibicarakan hanya bisa teridam dengan pipi menghangat. Jonghyun menyebutnya cantik. Lagi.
...
"Lo coba lakuin hal-hal sederhana buat Jonghyun. Apapun. Asal bisa bikin Jonghyuj terharu. Dan gue pengen lo lebih ekspresif, percuma apapun yang lo lakuin kalo muka lo masih datar-datar aja. Jonghyun gak bakal ngerti."
Semua ini adalah hasil dari ide Chungha. Meskipun gadis itu tidak menjelaskan secara rinci mengenai apa yang harus Nayoung lakukan karena dia juga tidak terlalu mengenal Jonghyun. Tapi Nyaoung sudah bisa mengerti apa-apa saja yang bisa dia lakukan.
Berhari-hari Nayoung melatih ekspresinya di depan cermin. Terlebih senyumnya. Dia ingin menunjukkan sosoknya yang manis dan penuh senyum kepada Jonghyun.
Dan setelah menimbang-nimbang apa yang bisa dia lakukan untuk Jonghyun, Gadis itu memilih untuk menyiapkan makanan rumah buatannya khusus untuk Jonghyun. Sudah cukup lama Jonghyun tinghal jauh dari keluarganya. Pemuda itu juga tidak terlalu pandai memasak, sehingga dia lebih memilih untuk membeli makanan jadi di luar sana. Nayoung ingin menunjukkan bahwa dia peduli pada Jonghyun.
"Enak banget sumpah." Jonghyun menepuk-nepuk perutnya, kekenyangan. Nayoung di hadapannya hanya terkekeh pelan melihat betapa lahapnya Jonghyun makan sepuluh menit yang lalu. Bahkan pemuda itu menghabiskan satu kotak penuh, yang seharusnya bisa dimakan olah dua orang. Sekalipun Nayoung juga mencicipi gimbapnya tiga potong, tetap saja Jonghyun yang menandaskan sisanya.
"Kalo lo mau, tiap hari juga gak apa-apa." "Waduh, jangan ngerepotin ntar." Nayoung menggeleng lalu tersenyum simpul.
"Gue bakal lakuin ini tiap hari kok."
- TBC -
A/n: last for today. See you, gak tau kapan *gak tau juga ngomong ke siapa hehehe*
