Chapter 2 ~What Happened?~
Disclaimer : ©Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)
Genre : Romance, Drama, Tragedy, Fantasy, Friendship, Yaoi, Shounen Ai
Warning : Canon, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, yaoi, dan hal absurd lainnya.
Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!
.
.
.
.
.
Sasuke dan yang lainnya mulai berjalan melewati kota menuju kantor Hokage. Naruto kecil dan kawan - kawan memandangi sekelilingnya, melihat betapa berbedanya tempat di Konoha telah berubah. Masa depan yang menyeramkan.
"Ayah, lihat! Itu Ichiraku Ramen." Ketika sedang berjalan, Boruto melihat Ichiraku Ramen yang selalu Ayahnya ceritakan bahwa sewaktu kecil Ayahnya selalu makan disana. Naruto menengok dan menyerit melihat tempat yang Boruto tunjuk, itu adalah Ichiraku Ramen.
"Itu Ichiraku Ramen? Sangat berbeda sekali." Ucap Naruto kecil.
"Itu sudah jelas kan? Zaman Ayah dan Zamanku berbeda." Kata Boruto. Naruto yang mendengar Boruto terus memanggilnya Ayah agaknya risih juga. Lagipula, mana ada anak 12 tahun yang tiba - tiba memilik anak yang umurnya sama denganmu? Bukankah itu aneh?
"Eerr.. Bisakah kau berhenti memanggilku Ayah? Aku masih 12 tahun, kau tahu? Agak aneh jika kau memanggilku Ayah begitu." Ucap Naruto. Boruto melihat Naruto dengan tatapan bingung.
"Lalu aku harus memanggilmu apa? Namamu? Bisa - bisa aku dibunuh oleh Ayahku yang asli." Ucap Boruto.
"Memangnya Naruto yang sekarang galak ya?" Sakura yang berjalan di samping Boruto mulai ikut perbincangan Ayah dan Anak ini.
"Tidak juga. Hanya saja dia sangat keras jika soal 'panggilan'. Maka dari itu, biarkan aku tetap memanggilmu Ayah, Ayah." Boruto tersenyum dan melanjutkan kembali acara jalannya. Melihat itu Naruto jadi salting sendiri.
"Hee.. Melihat Naruto sudah tua dan punya anak. Hebat juga." Ucap Sasuke kecil yang berjalan beriringan di depan bersama Sasuke besar. Naruto yang mendengar itu jadi sewot.
"Apa maksudmu? Kau cari gara - gara ya?" Ucap Naruto yang masih berjalan di belakang beriringan bersama Boruto.
"Aku tidak tahu, kalau Ayah dan Paman Sasuke dekatnya seperti ini, aku pikir seperti sahabat yang biasanya ada—"
"Hah? Sahabat? Yang benar saja!" Potong Sasuke ketika mendengar Boruto mengatakan kata Sahabat ketika bercerita mengenai dirinya dan Si Kuning Idiot itu.
"Hei! Kau tidak ikhlas sekali, sih!" Ucap Naruto tidak terima. Boruto tertawa.
"Hei, Paman Sasuke. Persahabatan kalian ternyata unik, ya?" Ucap Boruto. Mitsuki mengangguk setuju akan pendapat dari Boruto.
"Kau benar, Boruto! Jarang ada persahabatan yang sepertinya ini dan bertahan lama. Apa lagi kalian bersahabat sampai punya anak. Hebat!" Ucap Mitsuki.
Obrolan Boruto dan Mitsuki agaknya membuat Naruto dan Sasuke membuat keributan kecil. Saling menghina dan merasa tidak setuju akan pendapat yang Boruto keluarkan.
"Hei, Boruto. Kau itu Anakku. Jangan buat Ayahmu ini marah." Ucap Naruto kecil. Boruto yang bingung mulai bertanya pada Sasuke.
"Paman Sasuke. Kau bohong tentang kau dan Ayah adalah sahabat?" Tanya Boruto. Sasuke menggeleng.
"Sebenarnya hubunganku dan Naruto tidak begitu baik saat kecil dan remaja, ketika kami mulai menginjak kedewasaan, kami semakin dekat." Jelas Sasuke. Sasuke kecil memandang Sasuke tidak percaya.
"Yang benar saja? Aku dan dia tidak akan pernah jadi sahabat. Kau bercanda kan?" Tanya Sasuke kecil pada Sasuke.
"Aku pikir kau lebih mengenal dirimu sendiri. Sejak kapan kita suka bercanda?" Sasuke memandang dengan datar Sasuke kecil dan mulai menatap lurus kedepan masih tetap berjalan. Sasuke yang terkena skak matt hanya bisa terdiam.
"Paman Sasuke tidak membenci Ayah, kan?" Boruto bertanya pada Sasuke. Sasuke diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Boruto.
"Sejujurnya, aku dulu sangat membencinya. Kami selalu bertengkar. Aku mencoba menjauhinya, tetapi—tidak. Aku tidak tahu apa yang aku katakan. Lupakan saja." Semua memandang Sasuke dengan tatapan bingung, karena penjelasan Sasuke kurang lengkap.
"Aku hanya—tidak bisa menyukainya." Lanjut Sasuke.
"Maksudnya?" Tanya Boruto.
"Aku membencinya karena dia—terlalu istimewa." Semua berhenti ketika melihat Sasuke kecil menendang tulang kering Sasuke dengan keras. Sasuke mengaduh dan mengelus kakinya yang menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Sasuke memandang Sasuke kecil dengan semburat merah yang memenuhi pipinya. Menatapnya dengan amarah.
"Apa yang kau katakan, bodoh?!" Desis Sasuke kecil. Sasuke hanya memandang dirinya yang kecil dengan tatapan datarnya dan kembali berjalan. Tidak mempedulikan makian yang dikeluarkan oleh Sasuke kecil. Naruto kecil agaknya kaget dengan apa yang barusan ia dengar.
Sasuke menganggapnya Istimewa? Wah.. Hebat!
"Hei, maksudnya istimewa itu apa?" Tanya Tenten.
"Hei, katakan padaku, Sasuke. Kenapa Naruto istimewa?" Tanya Sakura.
"Cih, istimewa dari mananya?" Ucap Kiba.
"Kau juga merasakannya kan, Kiba?" Ucap Sasuke yang hanya mendapatkan delikan galak dari Kiba.
"Kalian akan tahu maksudku sebentar lagi."
Sasuke dan yang lainnya mulai memasuki gedung kerja Hokage. Tak jauh berbeda dengan gedung Hokage di masa lalu, hanya beberapa dekorasi yang berganti atau berpindah. Dan orang - orang yang berbeda tentunya.
Melihat beberapa orang yang melihat Sasuke, sedikit membungkukan badannya dan memberikan salam pada Sasuke. Apalagi mereka memanggil Sasuke diikuti kata 'sama'. Bisa terlihat disini jika Sasuke termasuk orang penting yang bekerja dibawah perintah langsung Hokage.
"Sasuke-kun terkenal ya?" Kata Sakura yang melihat beberapa orang yang masih saja memberikan salam pada Sasuke. Sasuke diam tidak menanggapi kata - kata Sakura.
"Paman Sasuke sangat keren. Wajar dia populer." Kata Boruto. Sakura mengangguk.
Ketika sudah sampai di depan kantor Hokage, Sasuke mengetuk pintu beberapa kali sampai akhirnya pintu dibuka oleh Shikamaru. Shikamaru yang awalnya melihat Sasuke dan Sasuke kecil berjejeran melototkan matanya. Mengucek - ucek matanya dan kembali melihat Sasuke.
"Hee.. Kau bawa anak siapa, Sasuke? Dia mirip denganmu ketika kecil. Kau punya anak dari siapa Sasuke?!" Tanya Shikamaru meremas kedua pundak Sasuke. Sasuke melepas cengkraman itu dengan kasar.
"Dia bukan anakku. Dia memang aku." Shikamaru makin memandang Sasuke kecil dengan heran.
"Kau memakai jurus—"
"Tidak! Tidak ada jurus disini. Lihatlah!" Sasuke menggeser badannya dan memperlihatkan beberapa anak yang sangat familiar dimata Shikamaru.
"Gawat ya?" Shikamaru terkekeh sambil menatap Sasuke. Shikamaru membuka pintu yang lebar mempersilahkan mereka masuk. Naruto kecil dan kawan - kawan melihat jika ruang Hogake berubah dan melihat kursi tinggi disana sedang berbalik.
Naruto yang masih melihat pemandangan luar, mulai memutar kursi kerjanya untuk melihat siapa tamunya hari ini. Naruto bangun dengan tiba - tiba tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya. Betapa terkejutnya Naruto melihat dirinya sendiri ketika kecil dan teman - temannya yang juga kecil. Yang membuat Naruto lebih kaget adalah, Hyuga Neji ada di sana.
Naruto melihat Sasuke ada di antara anak - anak itu.
"Sa—sa—Sasuke." Ucap Naruto terbata memandangi Sasuke.
"Aku tahu. Maka dari itu aku bawa mereka kesini. Mungkin saja ini ada hubungannya dengan Shinori." Ucap Sasuke. Mulut Naruto masih terbuka. Seketika Naruto terkesiap.
"Shinori?" Sasuke mengangguk.
Sakura kecil yang menatap orang itu dengan tajam, melebarkan matanya. Seperti baru sadar apa yang sedang ia lihat. "Naruto?!" Teriak Sakura kecil. Semua yang menoleh pada Sakura kecil mulai mengikuti Sakura memperhatikan orang dewasa yang memiliki rambut cepak di depan.
"Ah.. Aku lupa. Dia Ayahku." Ucap Boruto memperkenalkan. Semua melotot mendengar kata - kata yang keluar dari mulut Boruto. Tak terkecuali Naruto. Bahkan mulut Naruto terbuka lebih lebar, sanking lebarnya burung - burung kecil hinggap di giginya dan memakan sisa - sisa makana—eh! dia bukan buaya.
"EEEEEHHHHHHH?!" Semua berteriak serempak terlihat kaget melihat jika Naruto bisa duduk dibalik meja itu.
"Tidak mungkin!"
"Hebat! Naruto Oni-Chan jadi Hokage!"
"Ini mimpi kan?"
"Kau bohong kan?"
"Naruto jadi Hokage?"
"Kalian bercanda kan?"
"Mungkin saja Naruto cuma numpang duduk."
"Tidak mungkin ini terjadi."
"Kau bohong!"
"Hei! Kenapa kalian terlihat tidak ikhlas begitu?" Naruto kecil memprotes melihat tanggapan yang diberikan oleh teman - temannya. Naruto jatuh terduduk dikursinya dan memijat pangkal hidungnya. Belum selesai masalah yang satu, datang lagi masalah yang lain.
Sasuke menghampiri Naruto yang sedang memijat pangkal hidungnya. Mengubris suara ribut yang dihasilkan oleh anak - anak itu. Sasuke mengerti apa yang dirasakan Naruto, jika membawa anak - anak ini Naruto akan semakin terbebani. Tetapi hal seperti ini harus Sasuke beritahukan pada Hokage.
Sebagai Hokage, Naruto tahu ia tidak boleh seperti ini, tetapi masalah yang menimpa Desanya juga terlalu besar. Apalagi masalah dia dan teman - temannya datang dari masa lalu ke masa depan. Itu tidak masuk akal.
"Maaf, Naruto. Tapi sepertinya, mereka disini ada hubungannya dengan Shinori." Sasuke berucap. Naruto mengangkat wajahnya dan menangguk.
"Aku mengerti." Naruto mengambil beberapa lembar kertas dan memberikan kepada Sasuke. "Baca ini."
Sasuke menerima kertas itu dan mulai membacanya. Ternyata itu adalah perkembangan penelitian tentang Shinori. Sasuke berdiri dan membacanya di sebelah Naruto.
"Aku akan urus yang tadi kita bahas. Kau jangan khawatir. Istirahatlah sampai malam tiba." Shikamaru dan Kakashi pamit meninggalkan kantor Hokage mengurus keperluan yang sebenarnya harus Hokage yang mengurus. Tetapi Shikamaru dan Kakashi memutuskan untuk mewakili Sang Nanadaime untuk pekerjaan sampai malam hari.
"Baiklah!" Naruto berteriak membuat keributan yang mereka buat terhenti langsung. Naruto menghela nafas dan menaruh kedua tangannya di atas meja.
"Pertama - tama, Aku minta maaf kalau aku yang jadi Hokage." Semuanya mulai memperhatikan Naruto yang sepertinya mulai serius.
"Lalu membuat kalian bingung, yang itu aku juga minta maaf. Aku juga agak sibuk, jadi mungkin aku akan sering mengacuhkan kalian, aku minta maaf." Semua melihat Naruto didepan terlihat sangat berwibawa dan punya aura yang kuat. Sangat dewasa sekali.
"Tapi sampai nanti malam, aku ada waktu." Naruto tersenyum pada Naruto kecil dan kawan - kawan. 'Sangat tampan' muncul di kepala keempat wanita—Sakura, Hinata, Ino, dan Tenten—ini.
"Apa ini yang kau bilang istimewa?" Tanya Sasuke kecil kepada Sasuke besar yang ada di samping Naruto sedang membaca berkas yang ia bawa.
"Tentu saja. Apalagi? Dia jadi Hokage, tentu saja dia istimewa. Kalau tidak istimewa dia tidak akan dipilih menjadi Hokage." Ucap Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya pada kertas yang ia baca.
"Hee.. Kau menganggapku istimewa? Senangnya.." Naruto merebahkan badannya kebelakang kursi dan menghela nafas. Lepas dari pekerjaan sejenak membuat pikiranmu sedikit ringan. Apalagi ada Sasu—tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tentu tidak!
Jangan berpikiran seperti itu Naruto. Ingatlah! Kau laki - laki. Kau Hokage. Dan kau punya Istri. Sepertinya Naruto terlalu banyak berfikir sampai otaknya konslet. Tapi dekat dengan Sasuke jarang - jarang begini. Membuatnya ingin memeluk Sasuke sekali lagi.
Oh iya? Kapan ya terakhir kali ia memeluk Sasuke?
"Naruto! Jadi Hokage itu enak tidak?" Lee bertanya pada Naruto sampai menggebrak meja kerja Naruto. Naruto bangkit dari senderan kursinya dan menopang dagu, melihat langit - langit seakan - akan berfikir.
"Menurutmu?" Ucapan Naruto membuat beberapa dari mereka mendesah kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang mereka inginkan.
"Kalau begitu, beritahu kami siapa istrimu." Ucap Kiba. Mendengar Kiba mengatakan hal itu membuat semuanya termasuk Naruto kecil dan Hinata kecil juga penasaran.
"Yang pasti kalian kenal siapa orang itu." Kata Naruto memberi clue.
"Boruto! Siapa Ibumu?" Lee dengan semangat dengan mata yang berbinar menatap Boruto dengan menggenggam tangannya.
"Hee? Siapa ya?" Ucap Boruto ikut pura - pura tidak kenal. Mitsuki yang melihat keributan yang mereka ciptakan membuatnya tertawa kecil.
Naruto bangkit dari topang dagunya dan mulai kembali bersender pada kursi. Mengelus - elus dagunya tandanya berdikir keras lalu tersenyum misterius kearah Naruto kecil dan kawan - kawan.
"Istriku, adalah—" Naruto menggantungkan kalimatnya, membuat semua orang yang ada di dalam menahan nafasnya. Jantungnya berdetak cepat padahal mereka hanya akan mendengar siapa istri Naruto dan itu juga tidak terlalu penting. Tetapi rasa penasaran mereka mengalahkan segalanya.
"Istriku, itu—" Naruto mulai menegakan badannya masih dengan senyum misterius. Semua memasang kuping baik - baik dan—
"—Sasuke!" Naruto memeluk pinggang Sasuke yang ada di sebelahnya. Seketika dunia runtuh, bulan terbelah jadi dua, terdengar suara 'kretek' di hati Hinata dan Sakura. Bahkan Boruto dan Mitsuki juga kaget. Lalu setelah itu memasang ekspresi menahan tawa.
"Bohong! Tidak mungkin laki - laki dengan laki - laki saling mencintai." Tunjuk Naruto kecil kearah Naruto Hokage.
"Hee.. tidak ada yang tidak mungkin kalau ini masalah cinta." Naruto berusaha mengelak.
"Mana mungkin! Buktinya kau punya anak!" Ucap Sakura menunjuk Boruto sebagai anak dari Naruto.
"Sembarangan! Ini adalah masa depan. Yang tidak mungkin akan jadi mungkin. Karena teknologi sekarang semakin maju." Ucap Naruto kembali mengelak.
"Tapi—tapi—Boruto memanggil Sasuke 'Paman' bukankah itu aneh?" Pertanyaan yang masuk akal Ino.
"Sebenarnya, aku menganggap Ayahku hanya satu yaitu Naruto, aku tidak nyaman memanggil Paman Sasuke dengan panggilan Papa jadi aku memutuskan untuk memanggilnya Paman." Jelas Boruto.
"Itu tidak masuk akal." Akhinya Hinata bersuara.
"Hinata benar! Kami mau bukti." Ucap Sasuke.
"Begini saja." Naruto merentangkan tangannya menyuruh mereka untuk diam sejenak. "Kalian pasti sangat mengenal Sasuke, kan?" Naruto kembali menarik pinggang Sasuke kedalam pelukannya.
"Kalian akan tahu jika menatap matanya." Ujar Naruto. Semuanya menatap mata Sasuke dengan serius. Sasuke yang merasa risih ditatap seperti itu mengalihkan pandangannya kearah lain. Biasanya orang yang tidak mau menjawab pertanyaan seperti ini, akan diam saja. Tapi kalau biasanya ditanya pertanyaan seperti ini diam saja, itu artinya—
Jawabannya, Iya?
Naruto, Sasuke, Sakura, Hinata, dan Ino pinsan di tempat mengetahui fakta yang membuat mereka jadi serangan jantung mendadak. Naruto yang melihat kelima orang itu pingsan tertawa kecil.
"Kenapa pingsan? Padahal aku belum memberikan bukti." Ucap Naruto menempelkan jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan pada bibirnya. Shikamaru dan kawan - kawan—Kecuali Konohamaru—yang mengerti ucapan Naruto ikut pingsan berfikir jika bukti yang dibicarakan Naruto sangat tidak layak untuk dilihat anak - anak.
Naruto terkekeh dan melepaskan pelukannya.
"Mereka pingsan sejenak. Kita bisa mendiskusikan tentang Shinori sebentar." Ucap Naruto kembali serius.
"Hee.. Jadi Nanadaime sengaja membuat mereka pingsan? Boleh juga." Mitsuki berkomentar. Naruto terkekeh.
"Bisakah kalian keluar sebentar? Ini juga bukan urusan kalian. Bawa Konohamaru juga keluar. Bermain saja. Ingat, harus selalu bertiga. Mitsuki, kau bisa diandalkan kan? Tolong genggam terus tangan mereka berdua, karena hobi mereka kelayapan." Mitsuki menangguk mengerti dan membawa Boruto dan Konohamaru keluar.
"Ayah, sembarangan! Aku bukan anak kecil." Boruto mengelak perkataan Ayahnya seakan Boruto tidak bisa di andalkan dan menyusahkan. Mituski langsung menarik tangan Boruto keluar ruangan sebelum terjadinya keributan antara anak dan Ayah ini.
Akhirnya Naruto dan Sasuke berdua saja. Sasuke menarik kursi yang ada di dekatnya mendekat kearah kertas yang sudah ada di atas meja. Mulai mendiskusikan kasus Shinori yang sepertinya berhubungan dengan munculnya Naruto dan kawan - kawan dari masa lalu ke masanya.
"Kau bilang ini ada hubungannya dengan mereka? Bisa kau jelaskan?" Ucap Naruto mulai serius. Sasuke mengangguk dan mulai menjelaskan apa yang ia tahu.
"Sebenarnya, ketika kami sedang latihan, kami melihat dua orang Chunin di culik oleh Shinori." jelas Sasuke. Naruto membulatkan matanya.
"Tenyata hari ini sudah ada ya?" Sasuke mengangguk. "Apa yang kau lihat?"
"Seperti gosip - gosip yang beredar. Ketika aku hampiri mereka mengeluarkan air mata. Ketika aku mencoba menarik mereka menjauh, mereka seperti punya kekuatan yang lebih, aku tidak bisa menarik mereka mundur, itu sangat berat. Lalu aku mencoba masuk ke cahaya itu, tapi badanku menembusnya. Setelah itu aku kehilangan mereka." Jelas Sasuke.
Naruto mengedipkan mata beberapa kali dan mendesah. "Aku pikir jika kita bisa masuk kecahaya itu, kita bisa mengetahui sesuatu."
"Aku juga berpikir begitu. Tetapi ketika aku bertemu mereka semua—" Sasuke menunjuk anak - anak yang tengah pingsan berjejer di depan. "—mereka juga bilang bahwa mereka melihat Shinori dan malah bisa memasukinya." Naruto membulatkan matanya.
"Disana ada Shinori? Aku tidak pernah ingat pernah melihat Cahaya melingkar seperti itu dulu." Naruto memegang keningnya.
"Yah.. Tetapi Shinori ini sedikit berbeda. Shinori itu terbang kesegala arah. Maka dari itu, ketika mereka menemukan Shinori, mereka mengejarnya dan berusaha memasuki portal itu. Setelah itu mereka terlempar kesini." Naruto dengan seksama mendengar Sasuke berbicara. Lalu pikiran itu terlintas dikepalanya.
"Apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan?" Tanya Naruto.
"Aku juga berfikir jika para korban di kirim kedunia lain. Mungkin saja mereka masih hidup." Naruto mengangguk.
"Tapi, apakah kau tidak kepikiran? Mungkin saja para korban ada di dunia masa lalu? Karena mereka semua—Naruto kecil dan kawan - kawan—ada di masa ini." Sasuke menatap Naruto sejenak dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak yakin."
"Kau benar." Sasuke mengangguk.
Naruto mulai menatap wajah Sasuke dalam. Sasuke yang merasa ditatap sampai seperti itu balas menatap dalam wajah Naruto. Wajah dengan garis rahang yang tegas, kulit tannya yang terlihat eksotis, mata birunya yang tajam, membuat Sasuke hanyut sekali lagi kedalam mata biru Naruto. Warna biru akan menjadi warna kesukaannya.
Naruto mengulurkan tangan kanannya mengusap pipi pucat Sasuke. Naik keatas menyampirkan poni panjang Sasuke kebelakang telinganya. Melihat mata Rinengan Sasuke yang saat ini menjadi kesukannya.
Naruto perlahan menarik kepalanya mendekat, semakin dekat sampai mereka merasakan nafas hangat keduanya. Setelah itu bibir itu bertemu untuk mencurahkan rasa rindu yang mendalam. Melumat dengan penuh kelembutan, menghantarkan panas di seluruh tubuh mereka.
Tangan kanan Naruto mendorong tengkuk Sasuke agar ciuman mereka lebih mendalam, sedangkan tangan kirinya menarik mengusap leher jenjangnya. Tangan kanan Sasuke meremas jubah Hokagenya di dada Naruto.
Sudah berapa lama ya, mereka tidak dekat seperti ini?
Mereka berdua saling mencium bibir mereka, tanpa saliva, tanpa decakan, tanpa pertarungan lidah, yang ada hanya rasa hangat dan rasa rindu yang tak bisa mereka bendung lagi. Rindu yang sangat amat menyeruak kedalam hati mereka, tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Hanya pelukan dan ciuman dari pemuda yang mereka cintai.
Sangat mereka cintai. Saling mencintai.
Bibir itu terlepas, hanya ada deru nafas di kedua belah pihak.
"Aku merindukanmu." Bisik Naruto di depan bibir Sang Raven.
"Aku juga." Balas Sasuke. Tangan Sasuke berpindah melingkari leher Naruto.
"Aku sangat merindukanmu." Tangan Naruto mulai melingkari pinggang Sasuke, menariknya dalam pangkuan. Naruto mendongak keatas ketika Sasuke telah ada di pangkuannya.
"Aku lebih merindukanmu." Ucap Sasuke.
Setelah itu mereka melakukan ciuman yang memabukan. Ciuman yang haus akan kasih sayang antara kedua belah pihak, ciuman penghilang stres Naruto akhir - akhir ini. Dan ciuman penghilang haus akan cinta dari Si Pirang pada Si Raven.
Entah bagaimana ceritanya, cinta mereka tak akan pernah bisa menyatu.
.
.
.
.
.
Tsuzuku
