Chapter 3 ~It's Happening~
Disclaimer : ©Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)
Genre : Romance, Drama, Tragedy, Fantasy, Friendship, Yaoi, Shounen Ai
Warning : Canon, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, yaoi, dan hal absurd lainnya.
Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!
.
.
.
.
.
Naruto kecil mengedipkan matanya beberapa kali dan mengedarkan pandangannya kesegala arah. Masih di kantor Hokage ternyata, ia pikir itu semua hanyalah mimpi. Apalagi ia baru saja menerima kenyataan pahit, jika istrinya di masa depan adalah rivalnya sendiri. Ia masih sangat tidak percaya dengan apa yang ia lihat, tetapi melihat Naruto besar memeluk pinggang Sasuke besar seperti itu, apalagi Sasuke besar tidak memberontak sama sekali, ia benar - benar sulit mempercayai itu.
Harusnya, Sasuke yang ia kenal, bukan seperti itu tingkahnya. Mungkinkah ia dan Sasuke benar - benar menikah di masa depan? Naruto mendesah pasrah. Terserah lah! Itu urusannya di masa depan. Ia serahkan semuanya pada dirinya yang ada di masa depan.
Berusaha bangkit dari terduduknya di lantai. Ternyata ia yang terakhir bangun. Yang lainnya terlihat sedang duduk - duduk dilantai, atau sekedar memandang pemandangan luar dari jendela di belakang kursi Hokage.
"Kau sudah bangun? Minumlah ini!" Ucap Naruto yang masih terduduk di kursi kerjanya. Naruto kecil berjalan menghampiri meja Hokage dan mengambil gelas yang masih terisi, karena gelas yang lain terlihat sudah tak berisi.
"Ah.. Iya. Konohamaru sedang keluar bersama Boruto dan temannya. Kau tidak perlu khawatir." Ucap Naruto ketika melihat Naruto kecil mengedarkan pandangan kesegala arah seperti mencari sesuatu atau seseorang. Naruto kecil mengangguk dan menghampiri Nanadaime dan melihat apa yang tengah dikerjakan di depan layar komputer.
"Kau bilang ada waktu sampai malam? Kenapa masih kerja?" Tanya Naruto kecil.
"Ah.. Iya. Hanya mengisi beberapa hal yang perlu diurus nantinya. Hanya sebentar." Naruto kecil mengangguk dan melihat Sasuke besar tengah duduk di sebelah Naruto besar, menggenggam buku tipis dan sepertinya ia tengah membacanya.
"Sebenarnya aku masih bingung." Ucap Naruto kecil tiba - tiba. Bergelayut di belakang kursi kerja Naruto, membuat kursi itu sedikit berputar kekanan dan kekiri.
"Aku mengerti. Pasti aneh ya melihat dirimu di masa depan." Ucap Naruto yang telah selesai dari pekerjaannya dan mematikan komputernya, setelah itu menekan tombol power agar komputernya benar - benar mati.
"Bukan. Aku bingung, memangnya bisa laki - laki dan laki - laki saling mencintai?" Tanya Naruto kecil. Sasuke yang mendengar itu hanya diam saja dan fokus pada kertas yang ada di hadapannya.
"Mencintai itu bisa untuk siapa saja. Cinta itu banyak bentuknya. Bukan hanya untuk perempuan, laki - laki juga bisa. Misalnya cinta untuk teman, keluarga, peliharaan, alam, dan masih banyak lagi." Naruto mengangguk kecil, tapi kemudian menggeleng.
"Sudah kuduga. Aku tidak mengerti." Ucap Naruto kecil yang masih bergelayut di belakang kursi kerja Naruto membuatnya berputar penuh tapi pelan.
"Kau akan mengerti ketika dewasa." Ucap Naruto merebahkan tubuhnya ke kursi tingginya. Ino dan Sakura yang menempel di kaca belakang mendengar percakapan dua Naruto di belakang mereka. Ino membalikan tubuhnya menghadap Sang Hokage yang tengah diputar - putar oleh Naruto kecil.
"Kalau kalian, bentuk cinta yang seperti apa?" Tanya Ino. Naruto yang mendengar itu hanya tersenyum kecil.
"Menurutmu?" Tanya balik Naruto. Ino mendengus dan kembali memandang di luar jendela.
"Mungkinkah seperti Ayah dan Ibu, begitu?" Tanya Sakura tanpa membalikan badannya. Naruto besar menghentikan perbuatan Naruto kecil yang memutar - mutar kursi kerjanya. Setelah berhenti, Naruto kecil mulai duduk dipangkuan Naruto besar.
"Yah, kira - kira Seperti itu." Jawab Naruto besar memeluk Naruto kecil yang ada di pangkuannya. Sasuke yang ada di sampingnya hanya bisa menulikan pendengarannya, kalau tidak bisa - bisa ia mati kepanasan karena mendengar pernyataan dari Naruto.
Sasuke kecil yang sedari tadi tengah duduk di bangku panjang yang sedang membaca buku di samping meja kerja Hokage, melemparkan buku yang ada di tangannya dan mendarat mulus di pelipis Naruto besar. Semua terkejut akan tindakan Sasuke yang tiba - tiba itu.
"Berhenti mengatakan hal seperti itu, dasar Dobe! Kau akan membuat si dobe ini tambah jadi dobe, dasar Dobe!" Dada Sasuke kecil naik turun setelah sedikit membentak tadi, sekalian meredamkan dada yang sedari tadi bergemuruh ketika Naruto mengatakan bahwa ia adalah istri Naruto di masa depan.
Apa - apaan itu? Konyol sekali!
"Sakit, Teme!" Naruto balik membentak Sasuke kecil dan mengusap pelipisnya yang sepertinya benjol terkena serangan ala Sasuke. Sasuke hanya memutar kedua matanya melihat tingkah dirinya kecil dengan Naruto.
Naruto kecil tak ambil pusing dan mulai melihat hal lain yang ada di ruangan Hokage.
"He.. Kakashi Sensei juga jadi Hokage." Ucap Naruto kecil menunjuk foto berbingkai di deretan foto - foto Hokage. Naruto mengangguk sambil tersenyum. "Hebat kan?" Katanya.
Shikamaru terlihat membuka pintu dan masuk dengan beberapa berkas yang ada di tangan. Naruto mengangguk ketika Shikamaru menaruh kertas - kertas itu di meja.
"Kenapa kau mau jadi tangan kanannya Naruto?" Tanya Shikamaru saat melihat dirinya yang besar masuk kedalam kantor Hokage. Shikamaru menengok kearah sumber suara, ternyata yang menanyakan pertanyaan 'konyol' itu adalah ia sendiri.
"Kau akan tahu alasannya ketika sudah dewasa." Ucap Shikamaru menjawab pertanyaan dari Shikamaru kecil. Shikamaru kecil mengerutkan keningnya mendapati pertanyaannya tidak di jawab dengan jawaban yang ia inginkan. Lalu kata - kata 'Mendokusai' keluar dari mulut kecilnya. Shikamaru hanya mendengus menggeleng kecil.
"Chibi Naruto! Sangat tidak sopan jika kau duduk dipangkuan Hokage, kau tahu itu kan?" Ucap Shikamaru. Naruto kecil hanya memanyunkan bibirnya sebal.
"Hee.. Emangnya kenapa? Lagipula dia adalah aku. Jadi tidak apa - apa." Ucap Naruto kecil yang mendapat helaan nafas pasrah dari Shikamaru. Naruto hanya terkekeh mendengar dirinya yang kecil menjawab dengan entengnya.
"Aku sudah menyewa tempat penginapan satu malam di dekat gedung Hokage untuk mereka semua." Ucap Shikamaru. Naruto mengangguk mengerti.
"Kalian semua! Ayo ikut aku!" Panggil Naruto sambil menurunkan Naruto kecil dari pangkuannya. Setelah itu berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Semuanya mengikuti Naruto keluar, termasuk Shikamaru dan Sasuke yang mengikuti Naruto dari belakang.
Beberapa orang yang lewat terlihat sekedar memberi salam pada Naruto. Mendengar panggilan 'Hokage-sama' atau 'Nanadaime-sama' membuat Naruto kecil dan kawan - kawan sedikit takjub. Jika teman mereka yang awalnya tidak bisa diandalkan itu ternyata bisa memimpin Negara di masa depan. Hal yang sangat tak terduga.
Naruto berjalan menuju ruang rapat yang lumayan lebar. Mereka masuk dan melihat meja berbentuk lonjong yang lumayan panjang. Naruto mempersilahkan Naruto kecil dan kawan - kawan duduk di tempat yang diinginkan. Naruto duduk di paling ujung meja, Shikamaru dan Sasuke berdiri disamping kanan dan kiri Naruto.
"Baiklah. Kita akan bahas apa yang akan kita lakukan besok." Ucap Naruto membuka suara.
"Ini adalah misi untuk diriku sendiri. Misi kali ini adalah membawa kalian pulang ke masa lalu. Lalu aku memikirkan sesuatu, jika portal putih yang kalian lihat itu bisa ditemukan." Jelas Naruto. Semuanya pun mendengar dengan saksama.
"Kami menyebutnya Shinori. Di Konoha Shinori telah ada 9 hari yang lalu. Setiap hari, Shinori menculik 2 warga Konoha. Untuk saat ini, korban mencapai 18 orang. Mungkin saja Shinori yang kalian lihat berbeda dengan Shinori yang ada di tempat yang kalian tinggali sekarang ini, tetapi aku akan tetap mencari tahu. Lalu—"
"Maaf." Neji mengacungkan tangannya memotong penjelasan dari Naruto.
"Ada apa, Neji?"
"Kalau Shinori yang kau maksud itu memang berbeda, apa kita akan pergi kedua tempat? Kau bermaksud untuk membawa kami kesuatu tempat kan?" Tanya Neji. Shikamaru tersenyum di samping Naruto.
"Seperti biasa, kau cepat berpikir, ya, Neji." Ucap Shikamaru. "Kami menemukan beberapa hal yang berhubungan dengan Shinori di suatu tempat. Kami akan membawa kalian kesana, mungkin saja itu jalan menuju dunia kalian, lalu kami bisa memulangkan korban yang telah di culik oleh Shinori." Lanjut Shikamaru.
"Kedengarannya sangat mengerikan. Apa kau yakin ini akan baik - baik saja?" Tanya Sakura kecil.
"Kami masih tidak tahu ini aman atau tidak. Maka dari itu, aku akan ikut dengan kalian. Aku punya ide cara mengecek jika itu Shinori yang kalian maksud atau bukan. Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak, tapi kalau tidak dicoba tidak akan tahu kan?" Naruto tersenyum memberikan semangat pada semuanya.
"Aku hanya minta jangan terlalu khawatir." Lanjut Naruto.
"Kapan kami akan berangkat?" Tanya Sasuke kecil.
"Besok! Lebih cepat lebih baik." Ucap Naruto. Lalu mereka mulai membahas hal - hal yang harus dilakukan dan tak boleh dilakukan. Tempatnya tidak terlalu jauh jika mereka menggunakan pesawat udara dari Hokage, maka akan sampai lebih cepat.
Mereka juga membahas Shinori dan ciri - ciri orang yang telah tertangkap Shinori. Terdengar agak mengerikan, tapi begitulah yang terjadi.
Tetapi, perkiraan dari Hokage tidak selalu berjalan mulus.
.
.
.
.
.
Pagi - pagi sekali, Naruto membuat Naruto kecil dan kawan - kawan bangun saat masih mengantuk. Menyuruhnya untuk bersiap - siap karena perjalanan akan segara dimulai. Semuanya mulai bangun dengan semangat saat tahu mereka akan pulang ke masa lalu hari ini.
Pesawat udara telah siap. Naruto mengajak Sasuke untuk melakukan misi kali ini. Ini adalah misi besar, karena Hokage yang ikut turun tangan dan karena kasus ini menyangkut warga negaranya.
Setelah semua sudah naik kedalam pesawat, perjalanan misi pun dimulai.
Pesawat udara itu berbentuk lonjong berwarna putih tetapi lebih kecil. Hanya bisa dinaiki kurang lebih 20 orang. Karena didalam pesawat ada 20 orang, Naruto, Sasuke, Anak - anak lain yang berjumlah 13, lalu dua orang pilot dan 2 orang mekanik—dibutuhkan jika sewaktu - waktu pesawat dalam kondisi yang bermasalah—dan satu pramugara.
Naruto kecil, Konohamaru kecil, dan yang lainnya menempel pada jendela transparan di dinding pesawat, melihat pemandangan dari atas, membuat yang dibawah terlihat sangat kecil. Ini adalah pengalaman pertama mereka. Terbang di atas awan.
Di tengah - tengah pesawat, Naruto duduk di sofa yang disediakan sambil membalik - balikan lembaran kertas yang ada di tangannya. Setelah membacanya dengan teliti, Naruto membubuhkan goresan tinta diatas kertas putih itu.
Naruto melirik kearah kanannya, melihat seseorang yang duduk dengan tenang sambil meminum teh hangatnya yang seharusnya tidak berada bersama Naruto. Naruto mengerlingkan matanya, anak ini..
"Shikamaru! Kenapa kau malah disini? Kau tidak ikut mereka dan melihat pemandangan luar dari atas sini?" Tanya Naruto. Shikamaru melirik dua orang bodoh—Naruto dan Sasuke kecil— yang terlihat menempel pada kaca lalu bertengkar kecil berebut tempat untuk melihat pemandangan bawah di ekor pesawat. Mendengus lalu mengatakan 'Mendokusai' dari Shikamaru. Naruto tidak peduli lagi dan kembali fokus pada kertas yang ada di tangannya.
Pelayan itu datang membawa 15 potong kue untuk semuanya. Seketika mereka berhambur pada meja dan mengambil potong kue masing - masing. Karena terlalu banyak orang dan terlalu berisik, Naruto dan Sasuke memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya dan menyimpanya untuk nanti.
Naruto dan Sasuke meraih kopi didepannya dan mulai menyesapnya sedikit - demi sedikit. Naruto ikut mengambil bagian kue potong di depannya. Naruto yang melihat Sasuke yang sepertinya tidak tertarik pada kue yang manis itu mulai mengangkat kue potong bagian Sasuke.
"Lakukan Janken, kalian akan dapatkan potongan kue terakhir." Ucap Naruto. Semua yang disana—kecuali Shikamaru— bersorak senang dan mulai mempersiapkan tangannya keatas. Beberapa kali mencoba, akhirnya Chouji yang mendapatkannya. Chouji bersorak riang dan mengambil kue potong yang ada di tangan Naruto. Naruto menyerahkannya.
"Ah.. Sial! Aku mau kue itu lagi." Kata Konohamaru. Naruto memberikan stroberi diatas kuenya kepada Konohamaru dan tersenyum. Konohamaru dengan mata berbinar mengucapkan terimakasih. Yang membuat Naruto tertawa adalah, saat Konohamaru memanggilnya dengan sebutan Hokage-sama.
"Emm.. Ano.." Ucapan dari Ino membuat mereka berhenti mempeributkan masalah kue yang gagal mereka dapat. Justru kue itu datang pada tangan Chouji.
"Aku dari tadi menahan ini, tapi aku sekarang super penasaran. Sasuke, aku tidak melihat tangan kirimu. Kenapa?" Tanya Ino yang membuat semua orang menatap Sasuke. Sasuke menaruh gelas kopinya keatas meja dan meraih koran yang ada di sampingnya.
"Perang." Ucap Sasuke singkat. Semua menyerit bingung.
"Maksudnya, itu karena perang. Perang dunia Shinobi ke empat." Jelas Naruto. Semua tersentak ketika mendengar perang dunia Shinobi ke empat terjadi. Padahal perang dunia Shinobi ketiga telah berakhir beberapa tahun yang lalu, tetapi akan terjadi lagi perang dunia Shinobi ke empat. Membuat semua yang ada di sana khawatir dan takut.
"Kapan terjadinya?" Tanya Neji. Sasuke terlihat berpikir lalu kembali memandang korannya.
"Kalau tidak salah ketika umurku 17 tahun." Jawab Sasuke. Membuat semuanya menelan ludahnya.
"Jangan khawatir. Kalian semua baik - baik saja. Asal kalian bekerja sama, kalian semua selamat. Buktinya adalah masa depan yang kalian pijaki sekarang." Ucap Naruto menenangkan. Semua kembali tersenyum dan mengangguk melanjutkan acara memakan kue yang ada di depannya. Termasuk Naruto yang mulai menghabiskan kuenya.
Beberapa jam kemudian, pesawat terbang merendah dan mengambangkan diri di atas pohon yang besar dihutan lebat yang hanya ada pohon di sana. Naruto sendiri tidak yakin jika tempat ini masih Konoha, karena memang dari awal peta yang ia dapat dari seseorang yang ia utus untuk meneliti Shinori sudah mencurigakan.
Pesawatnya dibiarkan mengambang di atas pohon. Naruto meminta untuk dibukakan pintu pesawat. Sebelum mereka pergi, Naruto meminta pada para awak pesawat untuk menunggu di pesawat sampai mereka kembali.
Setelah mereka turun dari atas pesawat, melompati dahan demi dahan untuk sampai kebawah, yang mereka lihat hanyalah pohon dan pohon. Pohon yang besar dan menjulang keatas. Mungkin saja ada banyak makhluk buas di hutan ini.
Naruto yang sebelumnya menggendong Konohamaru kecil, mulai berjalan menuju tempat yang mereka tuju. Masih dengan menggendong Konohamaru, Naruto dan Sasuke mendengar suara yang aneh tapi indah. Mereka belum pernah mendengar suara ini sebelumnya. Naruto dan Sasuke saling menatap dan mengangguk.
Perlahan Naruto menurunkan gendongannya pada Konohamaru. "Aku dan Sasuke ingin memeriksa sesuatu. Kalian tunggu disini sebentar." Yang lain mengangguk dan menatap Naruto dan Sasuke yang perlahan menjauh. Setelah hilang dari pandangan mereka, Sakura mulai membuka suara.
"Apa kalian tidak berfikir kalau kami dibuang?" Tanya Sakura.
"Dibuang?" Tanya Shino.
"Kau benar. Mungkin saja kita dibuang." Lanjut Shikamaru.
"Eh? Benarkah?" Kata Konohamaru.
"Kalau begitu tunggu apalagi? Kita ikuti mereka." Ucap Naruto kecil berlari mengikuti Naruto dan Sasuke yang telah hilang jejak.
.
.
.
.
.
Naruto dan Sasuke terus berjalan mengikuti lagu yang menurutnya aneh tapi indah. Aneh saat mendengarnya tetapi indah saat dirasakan. Naruto dan Sasuke berhenti tiba - tiba saat melihat seseorang dari kejauhan yang sangat mereka kenal yang sangat mustahil berada disini. Tubunya bersinari cahaya yang menyilaukan mata, tetapi Naruto dan Sasuke ingin lebih dekat melihat sosok itu.
"Kau menemukan tempat ini!" Lirih seseorang di depan. Suara yang sangat dirindukan. Tanpa disadari air mata keluar dari mata keduanya. Naruto dan Sasuke terus berjalan menuju sosok itu. Mereka tidak mempedulikan disekitar, layaknya dihipnotis, Naruto dan Sasuke terus mengalirkan air mata dan terus melangkah kedepan menuju sosok itu.
Dibelakang, Naruto kecil telah sampai duluan—Karena ia berlari lebih dulu—dan menemukan Naruto dan Sasuke yang tengah berjalan kearah—Cahaya terang? Seperti yang pernah ia lihat. Tetapi yang ia lihat sekarang lebih lebar.
Naruto kecil menyambut semua temannya yang baru sampai. Memandang teman - temannya dengan ekspresi bingung, menunjuk pada Naruto dan Sasuke yang berjalan menuju portal putih.
"Itu kan—apa yang mereka lakukan?" Tanya Naruto. Neji membulatkan matanya dan langsung berlari menuju Naruto dan Sasuke. Semuanya berlari mengikuti Neji dan berhenti di depan Naruto dan Sasuke. Neji melihat air mata yang mengalir di kedua mata Naruto dan Sasuke. Jubah mereka telah terlepas.
"Ini pasti Shinori. Kita harus menghentikan mereka." Neji mulai mendorong Naruto dan diikuti oleh semua orang. Mencoba menarik Naruto dan Sasuke kebelakang tapi tidak berhasil. Terlalu berat, seakan - akan mereka memiliki kekuatan yang tidak bisa di lawan. Naruto dan Sasuke terus melangkah maju menuju Shinori.
"Formasi!" Teriak Shikamaru. Chouji dan Ino yang mendengar langsung melepas pelukannya pada Naruto mulai memasang kuda - kuda.
"Ino-Shika-Chou." Teriak mereka bertiga.
"Kage Kubi Shibari no Jutsu." Bayangan Shikamaru memanjang kearah Naruto, mulai merangkak naik dari kaki lalu ke badan dan akhirnya ke leher. Berusaha mengikat pergerakan Naruto dengan sekuat tenaga. Tapi ini tidak biasa.
Kekuatan macam apa ini? Shikamaru tidak bisa menahan pergerakan Naruto. Shikamaru mencoba mengikat Naruto lebih keras lagi, Naruto mulai tidak bisa bergerak. Ino yang melihat kesempatan itu mulai memasang kuncian tangan.
"Shintenshin no Jutsu." Setelah merapalkan jurusnya, Ino malah terlempar kebelakang. Shikamaru yang tidak kuat menahan Naruto lebih lama lagi akhirnya tumbang. Jatuh sambil terengah - engah. Chouji yang melihat dua temannya gagal itu langsung melancarkan aksinya.
"Baika no Jutsu." Kedua tangan Chouji seketika membesar. Mulai mendorong Naruto dan Sasuke dari depan. Naruto dan Sasuke masih terus berjalan kedepan, alhasil Chouji yang tidak bisa mendorong kedepan, hanya bisa terseret kebelakang karena menahan beratnya Naruto dan Sasuke.
"Tidak mungkin." Ucap Shikamaru. Seketika otak jeniusnya tidak bisa memikirkan apa - apa. Mereka makin dekat pada Shinori. Tetapi mereka tidak bisa diam saja. Neji dan Hinata mengangguk dan mulai memasang kuda - kuda. Tangan kanan Neji serta kaki kanan Neji dan tangan kiri Hinata serta kaki kiri Hinata kedepan, sedangkan tangan kiri Neji dan tangan kiri Hinata kebelakang. Saling berhadapan dan mulai melancarkan jurusnya.
"Hakke Hasangeki no Jutsu." Ucap Hinata dan Neji bersamaan dan mulai melancarkan pukulan yang pertama. Tetapi baru pukulan yang pertama, cahaya putih itu menyeruak keseluruh hutan, Hinata dan Neji terpelanting kebelakang menghantam kerasnya tanah. Mereka yang ada di sana otomatis menutup matanya.
Setelah beberapa saat, mereka semua membuka matanya dan tidak melihat Naruto atau Sasuke ada di sini. Mereka berdua hilang bersamaan dengan Shinori.
"Hinata-sama!" Neji memanggil Hinata yang masih merenggangkan badannya karena terbentur tanah terlalu keras.
"Neji Ni-san, aku tidak apa - apa." Ucap Hinata mencoba bangkit berdiri.
"Apa?" Tanya Naruto bingung pada dirinya sendiri. Ia tidak melihat Shinori yang seperti ini. Shinori ini lebih terang, lebih lebar, dan lebih kuat.
"Itu pasti Shinori yang Hokage bilang. Shinori yang telah menculik 18 warga Konoha selama ini. Ciri - ciri mereka diculik persis apa yang dibilang Hokage. Itu berarti, Hokage dan Sasuke adalah korban ke 19 dan 20." Jelas Neji yang telah bangkit dari jatuhnya.
Mereka saling tatap, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hokage dan orang kepercayaannya telah hilang. Semuanya melihat Shikamaru yang meninju tanahnya meluapkan kekesalan gagal menghentikan Naruto dan Sasuke yang telah diculik oleh Shinori.
Konohamaru yang tidak mengerti apa - apa hanya bisa meremas tangan Naruto, Naruto balik menggenggam erat tangan kecil Konohamaru, menghantarkan rasa khawatir yang berlebihan.
"Shikamaru? Kita harus bagaimana?" Ucap Ino.
"Sial!" Desis Shikamaru karena pikirannya buntu saat ini.
Mereka semua terdiam, tidak tau apa yang harus dilakukan.
.
.
.
.
.
Tsuzuku
.
.
Ohya, maapkeun kalo ada salah - salah di jurus gitu yak. Soalnya aku gak terlalu hapal sama jurus - jurus yang ada di naruto.
Yeyy.. Chapter depan mulai masuk temanya ya..
Berharap masih ada yang baca.. Ehehehe
