Chapter 4 ~Another World~

Disclaimer : ©Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)

Genre : Romance, Drama, Tragedy, Fantasy, Friendship, Yaoi, Shounen Ai

Warning : Canon, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, yaoi, dan hal absurd lainnya.

Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!

.

.

Untuk Chapter ini sudah masuk tema.. Naruto dan Sasuke akan memulai kehidupan di dunia lain. Maaf kalo jadi ngebosenin 😭 Tapi aku tetep berharap kalian sukak.

.

.

.

.

.
Naruto berlari di tengah kebingungan. Berlari dan terus berlari menggapai hal yang tak sanggup ia gapai. Tangannya ia rentangkan kedepan saat ia merasa bisa menjangkaunya.

"Ayah!" Ucapnya. Terus berlari dan saat sudah dekat, ia telah menjangkaunya. Mendapatkan apa yang ingin ia dapatkan, siapa yang ia rindukan. Orang itu tersenyum dan melepas pelukannya. Ia menggeleng dan jatuh kedasar jurang. Jurang yang membuat dirinya tidak bisa memeliki orang yang ingin di milikinya itu.

"AYAH!" Naruto berteriak dan membuka matanya tiba - tiba. Tangannya menggapai keatas udara dan air matanya meleleh keluar. Naruto mencoba mengerjapkan matanya dan mulai menurunkan tangan yang terbentang keatas.

Naruto bangun dari terlentangnya di atas rumput dan melihat orang yang sangat ia kenal tengah berbaring disebelahnya. Naruto mengusap pipinya yang terasa basah. Ia mengingat apa yang terjadi sebelumnya.

Naruto melihat Ayahnya yang tidak mungkin ada disana. Tetapi Naruto sangat ingin memeluk orang itu. Tanpa sadar ia mengikuti cahaya yang terlihat silau itu. Setelah itu ia tidak mengingat apa - apa lagi.

Sepertinya ia terjebak oleh jebakan Shinori. Tidak salah lagi. Yang membuat air mata keluar ternyata keinginan dan kerinduan yang sangat kuat untuk bertemu orang yang ingin ditemui. Naruto bahkan tidak terpikirkan bahwa Ayahnya sudah mati saat ia lahir.

"Itachi!" Naruto yang mendengar lirihan Sasuke mulai mengalihkan pandangannya pada Sasuke. Mulai menghampiri Sasuke dan menepuk pipinya perlahan. Tangan Naruto terangkat dan mengusap pipi Sasuke ketika merasakan cairan bening yang ada di pipi Sasuke. Itu adalah air matanya.

Kalau tidak salah, Sasuke menyebut nama Itachi. Mungkin Itachi yang dia lihat ketika terjebak oleh jebakannya Shinori. Maka dari itu, Sasuke juga ikut terjebak sama sepertinya. Mungkin saja korban lain juga mengalami hal yang sama.

Kalau begitu, itu berarti para warganya masih hidup? Di tempat ini?

Naruto mengedarkan pandangannya melihat padang rumput hijau yang terbentang sangat luas. Sejauh mata memandang, Naruto hanya melihat lapangan luar, berbukit hijau, tidak ada pohonnya. Benar - benar lapang.

Naruto kembali berfokus pada Sasuke berusaha bangun dari mimpi tidurnya. Naruto menepuk pipi Sasuke dan memanggil namanya berkali - kali tetapi Sasuke tidak bangun - bangun. Kali ini tepukannya lebih keras. Ekspresi Sasuke terlihat seperti ketakutan, Naruto mulai menggoyang - goyangkan tubuh Sasuke masih sambil memanggil namanya.

"ITACHI!" Sasuke berteriak dan membuka matanya. Tangannya terulur keatas seperti ingin menggapai sesuatu. Sasuke melihat Naruto ada di depannya dengan wajah yang khawatir lalu meremas kerah baju Naruto dan berkata lirih.

"Aku melihat Itachi." Katanya. Naruto mengangguk paham. Naruto menggenggam tangan Sasuke yang ada di kerah bajunya dan membantu Sasuke untuk bangun di perbaringannya. Sasuke mengedarkan pandangannya kesegala arah. Merasa heran karena dia sebelumnya bukan berada di tempat ini.

"Ini dimana?" Tanya Sasuke. Naruto hanya menggeleng. Mereka berdua berdiri, melihat sekeliling sejenak dan mulai berjalan. Tanah lapang ini begitu luas. Hanya ada rumput disini—

"Mungkinkah ini lapangan golf?" Tanya Naruto. Sasuke mengedarkan pandangannya sekali lagi.

"Aku tidak tahu."

Naruto dan Sasuke terus berjalan kedepan dalam keheningan. Tanpa ada yang membuka suara, Sasuke melirik Naruto yang masih melihat sekelilingnya dengan tatapan bingung. Sasuke kembali menatap kearah depan.

"Siapa yang kau lihat?" Tanya Sasuke tiba - tiba. Naruto menatap Sasuke dengan dalam. Setelah itu dia tersenyum dan merentangkan tangannya keatas. Menghirup udara yang sangat menyegarkan walau ia tidak tahu ia berada dimana.

"Ayahku." Singkat Naruto. Sasuke mengangguk. Mereka kembali berjalan kedepan walau tidak terlihat tanda - tanda jalan raya atau rumah penduduk. Tangan Sasuke terangkat dan menggenggam tangan kiri Naruto. Naruto yang tersentak karena perbuatan Sasuke, tersenyum tipis membalas genggaman tangan Sasuke.

"Aku jadi penasaran, bagaimana keadaan Konoha sekarang. Aku jadi merasa bersalah sudah terkena jebakan Shinori." Ucap Naruto.

"Shinori tidak menculik orang yang hanya berdua. Dia hanya memancing dua orang untuk membuat dua orang itu masuk dalam jebakannya. Artinya, mau berapapun kita bersama, Shinori tetap sudah memutuskan siapa korban yang ingin Shinori culik. Tetapi apa yang dilakukannya? Kenapa kita di bawa ke padang rumput seperti ini?" Ucapan Sasuke ada benarnya juga. Sebenarnya apa yang direncanakan oleh Shinori, Naruto tidak bisa memikirkannya.

Setelah berjalan kurang lebih selama satu jam dan mengisinya dengan oborlan tidak penting, Naruto dan Sasuke melihat orang - orang ramai di arah sana dan rumah - rumah yang sepertinya itu tempat warga tinggal. Naruto dan Sasuke berlari kecil menuruni bukit yang sebelumnya mereka pijak, melangkahi pagar kecil pembatas antar lapangan hijau itu dengan penduduk desa.

Naruto dan Sasuke mendengar suara ramai di balik tembok pembatas. Naruto dan Sasuke melompati tembok pembatas yang tinggi itu lalu mereka berada di tempat seperti gang kecil yang sempit. Setelah keluar dari gang sempit itu, mereka melihat orang - orang yang berjalan mondar mandir di sini.

Terlihat sangat sibuk di tempat ini. Sepertinya ini pasar. Naruto dan Sasuke belum pernah melihat wilayah ini. Mereka berdua ikut membaur dalam lautan manusia yang sangat padat. Pasar ini sepertinya sangat besar, karena terlihat semua orang pergi kepasar ini.

"Sasuke, kita kesana." Tunjuk Naruto yang seperti tempat makan, tetapi meja dan kursinya ada di luar ruangan. Naruto dan Sasuke menuju tempat itu dan duduk di meja bernomor 13. Setelah itu pelayan wanita datang dengan buku menu di tangannya.

"Tidak perlu. Aku pesan kopi saja." Naruto mengembalikan buku menu itu. Si pelayan wanita itu mengangguk dan tersenyum.

"Aku juga sama." Ucap Sasuke.

"Dua kopi ya? Kalau begitu mohon menunggu." Si pelayang wanita itu mengangguk dan berlalu. Naruto dan Sasuke mengedarkan penglihatan mereka dan mulai merekam pada otak mereka. Tempat ini tak buruk juga, walaupun mereka tidak tahu tempat apa ini.

Si pelayan wanita kembali dengan nampan di kedua tangannya. Menaruh kopi di atas meja dan mulai berbalik.

"Tunggu! Aku bayar sekarang. Berapa semua?" Tanya Naruto mulai merogoh kantongnya.

"Â¥500 saja." Ucap si pelayan. Naruto mengeluarkan uang 500 yen dari kantongnya dan menyerahkan pada pelayan. Pelayan yang bingung mendapatkan uang yang asing dilihatnya, mulai mengembalikan uangnya menaruh diatas meja.

"Maaf. Uang ini tidak laku." Naruto berkedip beberapa saat.

"Tidak laku bagaimana?" Tanya Naruto.

"Itu bukan uang Jepang. Kami tidak menerima uang mata asing." Naruto menyeritkan keningnya. Jepang katanya?

"Ini dimana?" Tanya Naruto lagi. Si pelayan yang awalnya bingung menjelaskan juga.

"Ini adalah kota kecil bernama Shinori yang berada di pinggiran kota besar dan berada di ujung Negara Jepang." Jelas Si pelayan. Naruto dan Sasuke melebarkan matanya mendengar kata Shinori keluar dari mulut si pelayan.

"Shinori kau bilang?" Tanya Sasuke. Si pelayang mengangguk.

"Sudah berapa lama desa ini ada?" Tanya Naruto.

"Besok adalah perayaan hari kelahiran desa ini yang ke 467 tahun." Naruto menatap Sasuke dengan tampang tidak percaya.

"Maaf. Kami tidak punya uang Jepang yang kamu maksud. Apa yang harus kami lakukan?" Ucap Naruto. Si pelayan menyerit bingung.

"Anda dari mana dan apa tujuan kesini?"

"Kami dari Konohagakure. Kami tersesat dan tiba - tiba kami berada disini. Kami dibawa oleh cahaya terang—tidak! Kami seperti dikirim kesini oleh sesuatu." Jelas Naruto. Si pelayan kemudian mengangguk.

"Kopi ini akan saya berikan pada kalian. Kalau kalian menginginkan sesuatu, mungkin kalian bisa bertanya pada Tuan Jiraiya. Karena dia mengerti hal - hal yang mistis seperti ini. Kau bisa menemukan beliau mengikuti jalan ini, nanti kalian bisa melihat palang dengan nama beliau. Saya permisi dulu." Pamit si pelayan dan pergi meninggalkan Sasuke dan Naruto yang tengah kebingungan. Setelah Naruto mengucapkan terimakasih banyak, Naruto mulai menyesap kopinya.

"Walaupun aku tidak tahu ini termasuk hal mistis atau tidak, sih." Naruto menghela nafasnya lelah.

"Sasuke, haruskah kita ketempat Jiraiya itu?" Tanya Naruto.

"Mungkin itu bukan ide yang buruk. Kita harus mencoba segala cara agar bisa kembali ke Konoha." Naruto mengangguk dan mulai menghabiskan kopinya yang mulai mendingin itu. Setelah itu Naruto dan Sasuke berdiri melanjutkan perjalanan.

.

.

.

.

.

Dentingan bel diatas pintu berbunyi kala tamu membuka pintunya. Naruto dan Sasuke mulai memasuki ruangan gelap yang sepertinya tidak terurus. Naruto dan Sasuke duduk di tempat duduk yang tersedia. Dibalik jubah hitamnya, orang itu mulai melepas jubahnya dan memperlihatkan wajahnya.

Naruto melotot dan menggebrak meja yang ada di depan. Membuat barang - barang yang ada di atas meja bergetar.

"Ero sanin?!" Teriak Naruto. "Aku pikir cuma namanya saja yang sama, tapi ternyata wajahnya juga, ada apa ini?" Ucap Naruto kembali duduk dan menatap Sasuke setelah ia menggebrak meja di depannya. Sasuke agaknya kaget juga ketika melihat Jiraiya di depan matanya.

"Hei! Dasar anak muda zaman sekarang. Tidak punya sopan santun! Mau apa kalian kemari?" Kata Jiraiya seraya membereskan barang - barang yang sempat berantakan karena gebrakan yang diciptakan oleh Naruto.

"Ah.. Maaf paman.. Aku ingin—"

"Diam!" Naruto dan Sasuke tersentak ketika mendengar bentakan tiba - tiba dari Jiraiya. Setelah itu ia menggerakan tangannya kesegala arah membuat Sasuke menyerit bingung.

"Apa kita tidak datang ke orang yang salah?" Tanya Sasuke.

"Sepertinya kau benar." Naruto mengangguk. Setelah itu tangan Jiraiya terhenti diudara, dan menurunkan tangannya. Menatap Naruto dan Sasuke bergantian.

"Kalian dari mana? Dari dunia mana? Kalian bukan dari dunia ini. Apa yang kalian inginkan?" Tanya Jiraiya mulai serius. Naruto dan Sasuke mulai berpandangan kemudian memandang Jiraiya dengan tatapan serius.

"Aku tidak tahu bagaimana kami sampai disini, tiba - tiba kami sudah terbaring di padang rumput yang ada di sana." Ucap Naruto sambil menunjuk Ke arah pintu bermaksud menunjukan padang rumput. Jiraiya mengangguk paham.

"Sepertinya ada yang sedang main - main dengan kalian. Kalau begini kasusnya, kalian tidak akan bisa kembali kedunia kalian."

"Apa?!" Teriak Naruto. "Apa yang harus kita lakukan?"

Jiraiya menggeleng. "Tidak ada. Kalian harus membiasakan tinggal disini." Naruto merasa tulangnya lumpuh saat mendengar kenyataan jika mereka tidak bisa pulang.

Naruto dan Sasuke mengangguk mengerti dan mulai bangkit menuju pintu keluar.

"Heiii..! Tunggu dulu, Anak muda! Kau belum membayar." Cegah Jiraiya saat Naruto hampir membuka pintu.

"Tapi kami tidak punya uang Jepang." Ucap Naruto. Jiraiya menghela nafas.

"Bagaimana kalau kalian ke apartemen ku? Kalian tidak punya tempat tinggal kan? Kalau kalian mau aku ada tempat tinggal dan pekerjaan untuk kalian berdua. Bagaimana?" Tawar Jiraiya. Saat mendengar mereka tidak bisa pulang ke Konoha, yahh.. Ini tawaran yang sangat bagus.

"Kami terima."

.

.

.

.

.
"Ini tempat tinggal kalian sekarang. Tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk kalian berdua." Naruto dan Sasuke memasuki apartemen kecil itu yang hanya sepetak. Hanya ada 1 ruang dan dapur yang menyatu, lemari geser dan kamar mandi.

"Ada biaya sewanya. Tetapi jika kalian bekerja berdua, bisa membayar biaya sewa kalian bulan ini dan bulan depan. Biaya sewanya tidak mahal, hanya 20.000 yen perbulan. Tetapi tetap, listrik dan air kalian yang tanggung. Bagaimana? Murah kan?" Naruto dan Sasuke mengangguk mendengar penjelasan dari Jiraiya.

"Kalau begitu kalian berdua ikut aku. Aku punya beberapa kenalan untuk mempekerjakan kalian." Naruto dan Sasuke mengikuti Jiraiya dari belakang. Rambut putih yang gondrong sampai kebawah pinggang itu melambai - lambai mengikuti arah angin.

Jiraiya mengingatkan Naruto pada si Ero Sanin. Guru kesayangannya yang harus mati pada perlawanan pain, yang sempat membuat Naruto depresi mendengar berita kematian Guru yang sangat dihormatinya. Itu adalah pertama kalinya Naruto merasakan kehilangan seseorang yang sangat berarti.

"Ano.. Jiraiya-san, aku ingin tahu alasannya, kenapa kau baik sekali pada kami?" Tanya Naruto. Jiraiya masih saja berjalan di depan tanpa menoleh kebelakang.

"Kau ingin tahu alasannya?" Tanya Jiraiya.

"Itu karena—" Jiraiya membalikan tubuhnya menghadap Naruto dan Sasuke yang otomatis berhenti.

"—Kalian dari dunia lain. Tentu saja kan? Diriku kedatangan alien yang mengharapkan belas kasihanku untuk mendapatkan tempat tinggal dan pekerjaan di bumi tercintaku ini!" Lanjutnya sambil bergaya bak artis teater yang berlebihan. Kedua tangannya melambai lalu memeluk tubuhnya.

"Hee.. Kan kau sendiri yang menawarkan—"

"Lalu setelah itu, aku akan menjadi manusia nomor satu di Jepang—tidak! Di dunia yang menyewa apartemen ku pada alien. Bukankah itu keren?" Ujar Jiraiya berapi - api. Naruto dan Sasuke hanya berkedip mendengar kata - kata aneh yang keluar dari mulut Jiraiya.

"Tapi tenang saja—" Jiraiya melanjutkan jalannya kedepan. "Aku tidak akan bilang pada siapapun tentang identitas kalian." Lanjutnya.

"Ahaha.. Terimakasih. Tapi kami bukan alien." Ucap Naruto. Jiraiya berbelok arah memasuki halaman restoran cepat saji. Berjalan melewati gedung samping dan mulai membuka pintu belakang.

Naruto dan Sasuke mengikuti Jiraiya dan masuk lewat pintu belakang ke restoran cepat saji itu. Laki - laki yang membawa tempat sampah berhenti sejenak dan menyapa Jiraiya.

"Ah, Jiraiya-san. Selamat sore, kalian bawa siapa?" Ucap seorang laki - laki yang sepertinya masih SMA itu. Memiliki rambut bob yang licin mengingatkan Naruto pada—

"Lee?" Ucap Naruto. Orang yang dipanggil Lee melihat Naruto tersenyum lalu membungkuk dengan hormat.

"Kau tau namaku? Ah iya, pasti dari Name Tag di dadaku. Perkenalkan, namaku Rock Lee. Salam kenal." Naruto mengangguk dan ikut membungkukan badan. Naruto menyenggol Sasuke dengan sikutnya menyuruhnya ikut membungkuk.

"Ah iya.. Aku ingin bertemu dengan Manager. Dimana dia?" Tanya Jiraiya.

"Dia ada di ruangannya. Kalau begitu aku mau buang sampah dulu. Permisi." Ucap Lee dan membungkuk memberi salam sekali lagi pada Jiraiya, Naruto, dan Sasuke. Jiraiya mengajak Naruto dan Sasuke masuk lebih dalam.

"Dunia ini gila!" Bisik Naruto.

"Aku pikir aku yang gila." Balas Sasuke.

Jiraiya membuka pintu yang bertuliskan 'Manager' tanpa mengetuknya. Terlihat wanita yang sedang tidur - tiduran di sofa sambil menonton televisi mengangkat kepalanya, melihat siapa yang sudah memasuki istananya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Nenek Tsunade." Ucap Naruto.

"Hah? Siapa yang kau panggil Nenek, anak muda? Dasar! Anak muda zaman sekarang tidak punya sopan santun." Ucap wanita yang dipanggil Tsunade.

"Jiraiya! Mau perlu apa kau datang kesini?" Tsunade bangkit dari sofa berjalan menuju kursi kerjanya. Tsunade tiba tiba menunjuk Naruto dan menatap tajam.

"A-ada apa?" Ucap Naruto terbata.

"Kau! Kenapa kau memanggilku Nenek, Anak muda? Dan juga kau tahu namaku dari mana?" Tanya Tsunade. Naruto melirik Papan Nama yang ada di atas meja kerja Tsunade yang berada di pojok kanan atas.

"Namamu ada di sana." Tunjuk Naruto. Tsunade lupa kalau papan namanya ada di sana. Tsunade mendengus dan berdehem.

"Aku membawakan mu seseorang. Kau bilang kau butuh orang kan. Bagaimana kalau mereka berdua?" Lanjut Jiraiya.

Naruto langsung memperkenalkan diri. "Selamat sore, Namaku Uzumaki Naruto. Yang ini temanku namanya Uchiha Sasuke." Ucap Naruto sekalian memperkenalkan Sasuke. Sasuke hanya membungkuk memberi salam.

"Mereka berdua? Kalian bisa apa? Jiraiya, kau ingatkan? Aku membutuhkan posisi Manager sekarang. Selama 5 bulan kedepan aku ada urusan." Kata Tsunade. Jiraiya melirik kearah Naruto dan Sasuke.

"Apa? Manager? Kenapa tiba - tiba begini? Lagipula aku tidak ada pengalaman sebagai Manager." Ucap Naruto. Jiraiya pamit permisi sebentar lalu menarik Naruto dan Sasuke ke pojok ruangan.

"Kalian kan alien? Tidak bisa kah kau menggunakan kekuatan - kekuatan yang biasa kalian lakukan di dunia kalian?" Bisik Jiraiya.

"Aku sudah bilang kami bukan alien. Lagi pula kekuatan macam apa? Aku tidak punya kekuatan." Ucap Naruto.

"Ah.. Kalian alien tidak berguna." Ucap Jiraiya menggaruk - garuk kepalanya.

"Sudah ku bilang kan, kami bukan alien." Naruto menghela nafas lelah dan pasrah.

"Kenapa tidak kau ambil saja Naruto? Kau kan Hokage, mungkin saja pekerjaan Manager kurang lebih sama." Ujar Sasuke. Naruto menggeleng keras.

"Tentu saja sangat berbeda, Sasuke." Ucap Naruto.

"Hokage itu apa?" Tanya Jiraiya.

"Hokage itu seperti pemimpin negara." Jiraiya melebarkan mulutnya menatap Naruto takjub mendengar penjelasan singkat dari Sasuke. Jiraiya mengangguk mantap dan menyeret Naruto kehadapan Tsunade.

"Dia sangat siap mengisi kekosongan Manager." Ujar Jiraiya mantap.

"Hee.. Jangan buat keputusan seenaknya sendiri dong!" Ucap Naruto berusaha melepaskan cengkraman tangan Jiraiya dari tangannya.

"Kau takut Naruto?" Tanya Sasuke dengan tampang meremehkan.

"Hah? Mana mungkin. Aku terima! Aku akan jadi Manager." Ucap Naruto mantap dan mendapat tepukan di punggung Naruto dari Jiraiya.

"Bagus! Aku salut pada semangat mudamu, anak muda! Kau mulai bekerja besok." Ucap Tsunade menopang dagunya lalu menguap. Menager tanpa wibawa sama sekali.

"Terimakasih, tapi jangan memanggilku anak muda terus. Umurku ini sudah 34 tahun, tahu!" Jiraiya dan Tsunade membuka mulutnya lebar saat mengetahui fakta yang sangat sangat membuatnya tidak percaya.

"Apa? Kupikir umurmu 21 tahun." Tsunade bersuara. Naruto yang dikiranya berumur 21 tahun hanya terkekeh bodoh dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Hee.. Semuda itu kah? Ehehe" Ucap Naruto masih terkekeh. Tsunade dan Jiraiya berpaling melihat Sasuke. Seakan mengerti apa yang ingin ditanya, Sasuke mengatakan "Sama." Pada dua orang tua ini. Seakan shock dan dendam dengan dua om - om ini.

Umur dan wajah sangat tidak sinkron.

"Apa kalian punya pengalaman?" Tanya Tsunade.

"Dia CEO di suatu perusahaan yang dia buat." Kata Jiraiya.

"Hee.. Hebat juga! Lalu kenapa kau cari kerja?" Tanya Tsunade lagi.

"Perusahaannya bangkrut." Jiraiya sekali lagi yang mencari alasan.

"Kalau begitu restoranku akan bangkrut kalau dipegang olehmu." Tsunade menyerit heran.

"Restoranmu memang sudah bobrok kan—" Tsunade meninju perut Jiraiya sampai terlempar kebelakang. Naruto yang melihat itu hanya meringis. Pasti sakit sekali, karena ia juga pernah merasakannya.

Tsunade melihat Sasuke yang hampir melupakan Sasuke. "Lalu, kau! Apa yang kau—"

"Aku akan jadi tangan kanan Manager." Potong Sasuke. Tsunade takjub melihat wibawa yang kedua om - om ini bawa. Tsunade mengangguk mantap dan memberikan berkas - berkas yang lumayan tebal.

"Tapi apa kau akan bisa bekerja dengan tangan satu?" Tanya Tsunade yang melirik tangan kiri Sasuke yang tidak ada.

"Tentu saja. Aku sudah berpengalaman." Ucap Sasuke mantap.

"Baiklah! Kalian akan mulai bekerja besok. Aku akan berikan semua ini—pastikan kalian baca—lalu di lemari itu akan ada seragam untuk kalian berdua." Naruto dan Sasuke membungkuk dalam mengucapkan terimakasih. Setelah itu mereka pulang karena hari mulai gelap. Naruto membawa berkas yang beratnya Nauzubillah, sedangkan Sasuke hanya membawa tas kecil saja.

Saat sampai di apartemen, Naruto menaruh seluruh berkas yang sangat berat itu lalu merenggangkan badannya kekiri dan kekanan. Membuat suara dipinggangnya berbunyi.

"Dasar licik kau, Sasuke. Harusnya kau bantu aku membawa berkas tidak berguna ini, kau kan tangan kananku." Naruto duduk dan mulai membuka berkas itu satu - satu. Sasuke mendengus dan ikut duduk disamping Naruto dan ikut membaca berkas yang ada di sana.

Setelah membaca—tidak! Melihat sedikit berkas yang ada di tangan mereka, mereka bedua bertatapan dan kemudian terkekeh menggelengkan kepalanya menanggapi isi dari kertas yang ada di tangan mereka.

"Aku kagum pada Nenek Tsunade. Walaupun sistemnya hancur seperti ini, restorannya masih berdiri kokoh." Ucap Naruto masih tertawa.

"Kau lebih cocok jadi Manager kalau begitu." Ujar Sasuke yang mendapat gelengan keras dari Naruto.

Naruto dan Sasuke mendengar suara ketukan dari arah pintu mereka. Naruto berdiri menuju pintu dan membukakan pintu. Di depan sudah ada Jiraiya yang membawa nampan.

"Aku bawakan makanan untuk kalian. Kalian pasti belum makan." Ucap Jiraiya. Naruto mengucapkan terimakasih banyak. Lalu Naruto mempersilahkan Jiraiya masuk dan menaruh nampannya di depan Sasuke. Jiraiya yang melihat berkas yang tengah berantakan seperti ini ikut nimbrung.

"Kalian sudah baca? Bagaimana komentarmu?" Tanya Jiraiya. Naruto dan Sasuke mengangguk.

"Sangat kacau." Komentar Naruto.

"Benar kan? Lagipula memang dia kerjanya makan, minum, dan tukang suruh - suruh. Mengerikan!" Komentar Jiraiya.

"Kalau begitu, kenapa ia jadi Manager?" Tanya Sasuke.

"Ayahnya." Jawab Jiraiya singkat. Kalau begitu Naruto dan Sasuke tidak heran melihat Manajernya seperti itu.

"Lagipula, orang seperti dia ada urusan apa sampai lima bulan?" Tanya Sasuke lagi.

"Liburan ke Prancis." Gubrak! Naruto dan Sasuke merasa apartemen nya runtuh seketika. Manager macam apa yang mengambil cuti 5 bulan lamanya hanya ingin liburan? Naruto menggeleng - geleng kepalanya heran.

"Kalau begini, aku akan mengubah semuanya dan mengulang dari awal." Ucap Naruto.

"Memangnya tidak apa - apa?" Tanya Jiraiya.

"Saat ini akulah Manajernya. Lagipula aku akan buat semudah mungkin. Agar setelah Tsunade pulang dari liburannya, dia bisa bekerja dengan tenang melihat semua berkas yang aku rubah menjadi lebih mudah dipahami." Ucap Naruto mantap.

"Hei, kalian! Perlihatkan padaku!" Desak Jiraiya.

"Apanya?" Tanya Naruto.

"Perlihatkan aku kekuatan yang kalian punya."

"Kekuatan seperti apa?"

"Kekuatan yang biasa kalian punya. Bukankah alien selalu punya hal yang seperti itu. Sesuatu yang keluar dari tangan kalian, seperti itu." Jiranya mempraktekan tangannya ingin mengeluarkan kekuatannya seperti Avatar.

Naruto yang mulai mengerti mulai menunjukan telapak tangannya. Bola berbentuk angin berwarna biru memutar di tangan kanan Naruto. Jiraiya yang melihat itu membulatkan matanya dan membuka mulutnya kagum. Karena seumur hidupnya, Jiraiya belum pernah melihat hal yang seperti ini.

Soal pekerjaannya yang sebagai dukun gadungan, sebenarnya ia tidak bisa apa - apa. Meramal atau mengusir hantu, itu hanyalah bualan untuk ia menghasilkan uang. Ia hanya punya bakat mengetahui jika Orang yang ada di hadapannya benar - benar manusia atau makhluk lain yang menyamar sebagai manusia. Maka dari itu, Jiraiya keukeuh berfikir jika Naruto dan Sasuke itu alien.

Jirainya mengangkat tangannya berniat menyentuh bola Rasengan yang ada di tangan Naruto. Seketika Naruto menghilangkannya.

"Jangan di sentuh. Rasengan di ciptakan untuk menghancurkan sebuah benda atau makhluk hidup." Jelas Naruto. Jiraiya mengangguk paham.

"Ouh.. Namanya Rasengan. Kalau kau? Tunjukan padaku." Jiraiya menatap Sasuke dengan mata bola berbinar - binar seperti anak kecil yang mengharapkan di berikan permen pada malam halloween. Sasuke menghela nafas dan mulai menunjukan tangan Kanannya. Seketika aliran listrik keluar dari tangannya. Jiranya bertepuk tangan melihat hal yang mengagumkan.

"Listrik? Hebat sekali! Apa namanya?"

"Chidori." Jawab Sasuke.

"Selain itu kau memiliki apa lagi?" Tanya Jiraiya pada Naruto dan Sasuke.

"Sebenarnya masih ada beberapa, tetapi jurus andalanku adalah Kagebunsin." Ucap Naruto.

"Kagebunsin?" Jiranya terkihat bingung. Ketika Naruto memasang kuncian tangannya dua Naruto muncul dengan tiba - tiba. Jiraiya kaget ketika melihat ada tiga Naruto di depannya. Dia bertepuk tangan seperti anak kecil yang sedang melihat pertunjukan sulap. Naruto tertawa melihat Jiraiya yang terlihat senang.

Naruto merasa Guru tersayangnya telah kembali ke kehidupan Naruto dan ia bisa menghiburnya. Sasuke yang melihat Naruto tertawa menanggapi tingkah Jiraiya hanya tersenyum kecil. Senyuman yang sangat indah, tentu saja!

.

.

.

.

.

Setelah membereskan mangkuk bekas makan dan berkas - berkas yang sempat berantakan, Naruto dan Sasuke mulai menggelar futon dan berbaring di atasnya. Setelah lelah menanggapi permintaan tak masuk akal Jiraiya, membuat stamina Naruto dan Sasuke terkuras juga. Jiraiya berpesan bahwa tidak boleh menggunakan kekuatan seperti ini diluar. Mereka berdua pun menurut.

Setelah mematikan lampu, Naruto dan Sasuke pun berbaring di atas futon yang tadi mereka gelar. Naruto melirik Sasuke yang sudah menutup matanya. Menggeser badannya dan memeluk Sasuke.

Sasuke yang belum tidur sepenuhnya membuka matanya dan melihat Naruto tersenyum kearahnya.

"Memelukmu dan tidur bersamamu adalah impianku sejak dulu." Ucap Naruto. Sasuke tahu itu. Sasuke juga sama. Ia dari dulu menginginkan ini tapi tidak bisa.

Tapi sekarang bisa. Ia bisa bebas memeluk Naruto. Sasuke membalikan badannya menghadap Naruto dan balas memeluk. Sasuke memajukan tubuhnya memperdalam pelukannya pada Naruto. Menenggelamkan wajahnya pada dada Naruto.

"Aku juga." Ucap Sasuke. Membuat Naruto tersenyum tipis dan memeluk Sasuke lebih dalam. Kalau begini terus, mereka berdua tidak bisa tidur karena sanking senangnya.

"Aku tidak menyesal jadi korban penculikan Shinori." Lirih Sasuke dan kemudian mulai tertidur didalam pelukan Naruto. Naruto diam tak menjawab kata - kata dari Sasuke. Naruto sempat berfikir jika ia juga sempat senang menjadi korban Shinori.

Tetapi, apa iya semuanya akan baik - baik saja?

.

.

.

.

.

Tsuzuku