Chapter 5 ~New World~
Disclaimer : ©Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)
Genre : Romance, Drama, Tragedy, Fantasy, Friendship, Yaoi, Shounen Ai
Warning : Canon, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, yaoi, dan hal absurd lainnya.
Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!
.
.
.
.
.
"Orang ini adalah Manager baru kalian." Pagi ini Tsunade memperkenalkan Naruto sebagai Manager baru di Restoran Keluarga ini. Restoran yang tidak terlalu besar, tapi tidak terlalu kecil juga. Tsunade datang dengan menyeret koper besarnya, masih sempat - sempatnya memperkenalkan Manager baru di tempat ini.
"Nama saya Uzumaki Naruto. Mohon bantuannya." Naruto membungkuk dalam memberi salam pada karyawan - karyawan yang ada di depan matanya. Naruto takjub dengan dunia asing ini. Di depan matanya, karyawan yang berjumlah 7 orang adalah orang - orang yang dikenal di dunianya.
"Kalau yang ini adalah Asisten Manager kalian." Tsunade kemudian memperkenalkan Sasuke. Sasuke membungkuk memberi salam setelah ia menyebutkan namanya. Tanpa embel - embel apapun di ucapan perkenalannya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Baik - baiklah kalian semua." Lanjut Tsunade menyeret koper hitamnya menuju pintu belakang dan keluar setelah mengucapkan 'Itekimasu' pada semuanya.
8 karyawan yang di depan Naruto dan Sasuke mulai mengenalkan diri mereka satu persatu. Naruto tersenyum pada 8 orang didepannya dan menepuk sekali telapak tangannya. Bersiap memulai pekerjaannya di dunia yang tidak ia kenal.
"Aku sudah kenal kalian semua. Aku sudah membaca berkas - berkas kalian ketika kalian akan melamar pekerjaan di sini. Lalu, aku ingin mengubah beberapa sistem dan peraturan di tempat ini. Aku harap kalian tidak keberatan." Jelas Naruto di awal kalimatnya. Yang lainnya menyeritkan keningnya memperlihatkan tampang kurang mengerti.
"Kau ingin mengubah apa?" Tanya salah satu pelayan yang bername tag 'Haruno Sakura' di dada kirinya. Naruto tersenyum dan memperlihatkan kertas yang telah Sasuke berikan pada Naruto. Naruto menempelkan kertas itu di dinding mading pemberitahuan.
"Ini adalah shift yang telah aku rubah. Maaf kalau aku merubah shift kalian tanpa bilang - bilang. Tapi aku tidak tahan melihat jadwal shift yang berantakan seperti sebelumnya. Aku menyesuaikan jadwal bagi karyawan SMU dan Mahasiswa. Lalu menyesuaikan jadwal bagi karyawan tetap juga disini. Kalian bisa lihat jadwal shift kalian yang baru." Naruto mempersilahkan para karyawan mendekat dan melihat jadwal shift mereka yang baru.
"Bagi kalian yang pagi ini tidak mendapat shift kerja, kalian bisa pulang dan beristirahat dulu dirumah. Aku sudah memanggil orang - orang yang mengganti kalian. Mereka juga Karyawan yang aku ubah jadwal shiftnya. Apa kalian keberatan?" Tanya Naruto. Naruto yang tidak mendapat reaksi apa - apa terhadap para karyawan di depan sana merasa gugup juga. Takut jika apa yang sudah ia lakukan akan membuatnya tidak disukai para karyawan.
Ketika Naruto lebih mendekat dan melihat para karyawan, mata mereka berlinang air mata dengan tampang terharu dengan menggenggam kedua tangan mereka.
"Ano—"
"Pak Manager!" Panggil semuanya. Naruto menatap heran melihat kelakuan karyawannya yang tengah menatapnya dengan ekspresi terharu.
"Ini sempurna!"
"Jadwal ini lebih baik dari sebelumnya."
"Aku bisa berangkat ke kampus hari ini."
"Jadwal ini benar - benar tidak mengganggu kegiatan sekolahku."
"Pak Manager! Aku mencintaimu!"
"Pak Manager memang jenius!"
Semua pujian - pujian itu dilempar padanya, membuat Naruto tertawa kecil ketika menerima semua itu di hari pertamanya bekerja. Yah.. Sepertinya tidak buruk juga menjadi Manager.
Kelima Karyawan pulang setelah memberi salam pada Manager mereka yang baru setelah melihat shift yang baru di tempel di papan pengumuman. Naruto menatap 2 koki laki - laki dan 1 pelayan perempuan di depan matanya.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo bersiap - siap. Selagi menunggu teman kalian sampai disini." Ucap Naruto sambil tersenyum yang membuat tiga orang yang di berikan senyuman maut Naruto mampu membuat mereka meleleh. Kalau Manager mereka seperti ini, bekerja setiap hari juga tidak masalah.
Naruto berjalan menuju ruang Managernya diikuti Sasuke di belakangnya. Naruto menuju Kursi kerja itu dan duduk dengan tenang. Meja yang sebelumnya terlihat berantakan sudah terlihat lebih rapih. Mungkin Tsunade yang membereskannya. Atau mungkin orang lain, melihat sifat Tsunade yang seperti itu.
Naruto mulai mengeluarkan beberapa buku laporan keuangan dari dalam laci. Buku tebal itu ia buka di lembar pertamanya dan mulai membacanya. Isinya sangat berantakan dan sulit di pahami. Naruto menghela nafas, mungkin ia akan merombak sedikit—tidak! Semuanya. Ia akan rubah semuanya.
Naruto mulai membuka buku tebal yang baru dan pulpen dari dalam laci. Naruto juga tidak melihat adanya komputer atau laptop di sekitar mereka. Kalaupun ada komputer atau laptop akan lebih mudah mengerjakan laporan keuangan Restoran ini, bukan dengan buku tebal seperti ini.
Sasuke ikut membolak - balikan buku itu dan menutupnya kembali.
"Kau tidak bermaksud untuk—"
"Tepat sekali. Mataku gatal melihat laporan keuangan ini. Lagi - lagi aku kagum pada Tsunade. Dengan buku yang ia buat asal - asalan seperti ini, Restoran ini masih saja berdiri." Sasuke mengerlingkan matanya mendengar Naruto berbicara.
"Kau tidak perlu melakukan sampai seperti itu kan? Kerjaanmu disini hanya membeli bahan makanan, mencatat uang yang telah digunakan. Selesai." Ucap Sasuke duduk di kursi kerjanya yang sama dengan Naruto di sebelah Naruto. Naruto menggeleng tidak menyetujui ucapan dari Sasuke. Sasuke hanya mengangkat pundaknya tidak peduli dan hanya memutar - mutar kursinya.
Naruto mengangkat gagang telepon di atas meja dan menekan tombol di telepon tersebut. Setelah menunggu sejenak, Naruto mendengar teleponnya di angkat oleh seseorang di seberang sana.
"Ah, Tsunade-san? Ini aku, Naruto. Kau bilang padaku jika aku menginginkan sesuatu bisa bilang padamu kan? Aku membutuhkan laptop. Bisakah kau kirim kesini? Aku akan pakai untuk menyimpan beberapa laporan disana."
"Untuk apa? Kau bisa tulis laporanmu di buku itu. Aku sudah menyiapkannya." Ucap Tsunade yang sedang berada di ruang tunggu Bandara.
"Tapi aku membutuhkannya."
"Uh.. Bukankah itu Merepotkan?"
"Justru pakai buku lebih merepotkan."
"Yah terserah. Aku akan kirimkan laptop padamu. Tunggu saja jika ada yang mengirim sesuatu ke Restoran."
Naruto menutup teloponnya setelah mengucapkan kata terimakasih pada Tsunade. Akhirnya laptop akan diberikan. Lalu buku - buku laporan yang tidak berguna itu tidak akan ia gunakan.
Naruto menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi yang berada di belakannya, berputar - putar seperti apa yang dilakukan Sasuke.
"Sepertinya ini adalah pekerjaan Manager paling santai yang pernah ada. Gajinya juga lumayan." Sasuke mengangguk membenarkan perkataan Naruto. Tinggal disini tidak memikirkan Negara, musuh, ataupun misi berat sebagai Shinobi. Yang paling penting adalah Sasuke bisa tinggal berdua bersama Naruto.
Sasuke tersenyum ketika ia berfikir tidak akan meninggalkan tempat ini.
.
.
.
.
.
Naruto menarikan jarinya di atas keyboard laptop silver yang baru saja di beli oleh Tsunade. Beberapa waktu yang lalu, Laptop yang baru saja datang, langsung Naruto isi dengan beberapa laporan yang bersangkutan dengan Restoran kecil ini.
Restoran ini memang kecil, tetapi akan lebih lama berdiri jika yang memegangnya bisa memiliki potensi menjadi pengusaha. Tetapi Naruto disini hanya membantu, Naruto akan menyalin semua isi yang ada di dalam tumpukan buku - buku tebal itu.
Akan memakan waktu lama sepertinya. Tapi tak apa, dengan begini akan lebih mudah dan Tsunade pasti akan bisa melanjutkan pekerjaan apa yang Naruto kerjakan sekarang.
Sasuke ikut membantu dengan menanda beberapa isi buku yang tidak perlu untuk Naruto salin ke laptop.
Saat Naruto dan Sasuke sedang sibuk dengan pekerjaan mereka, terdengar suara ketukan di balik pintu. Naruto tidak menghentikan pekerjaannya, berteriak masuk pada seseorang yang ada di luar ruangan.
Pintu itu berderit terbuka, pemuda dengan tinggi ideal memasuki ruangan dengan mengatakan 'Permisi' dengan sopan dan mengangguk. Naruto dan Sasuke kemudia mengangkat kepala mereka untuk melihat orang yang dipikirkan mereka adalah laki-laki karena suara itu.
Tapi suara itu—
Naruto dan Sasuke membelalakan mata mereka sebesar yang mereka bisa. Yang ada dihadapannya adalah laki-laki dengan tinggi badan semampai, tapi lebih muda, lalu rambut panjang yang diikat seperti ekor kuda dibelakang, lalu—lalu.. Lalu dua garis memanjang di kedua sisi pipi itu—
Sasuke yang paling terkejut disini. Dihadapannya, seseorang yang sempat membuatnya membenci semua yang ada di dunia termasuk dirinya, seseorang yang sempat dibunuh olehnya, seseorang yang sempat ia sesalkan setelah kematiannya ketika ia tahu kebenarannya.
Sasuke merasa ia benar-benar mati saat ini juga.
"Maaf mengganggu. Tapi aku disuruh oleh Jiraiya-san untuk datang kesini dan langsung bertemu dengan Manager." Pemuda itu membungkuk sopan pada dua laki-laki yang ada di hadapannya dengan tatapan—mengintimidasi?
Dia tidak tahu tatapan macam apa yang diberikan dua laki-laki di depannya ini. Tapi sepertinya ia tidak diinginkan di tempat ini. Jiraiya Sialan! Apa ia sedang dijebak? Dia bilang ia pasti akan diterima berkerja disini? Tapi yang ia dapat hanyalah pelototan dari dua orang yang menjabat sebagai Manager dan Asistennya.
"A—ano.. Aku disini untuk—" Sasuke berdiri tiba-tiba membuat pemuda didepannya tersentak kaget. Orang didepannya membuatnya jantungan tadi dengan cara berdiri dengan tiba-tiba seperti itu.
"Itachi!" Lirih Sasuke yang di dengar oleh pemuda yang ada di depannya.
"Eh? Kau mengenalku?" Sasuke tersentak berkat kalimat yang di keluarkan oleh pemuda yang Sasuke panggil Itachi tadi. Sasuke mengedipkan matanya menyadarkan dirinya sendiri.
Itu bukan Itachi. Itachi sudah mati dan tidak semuda orang ini. Walaupun namanya sama tapi bukan orang yang sama.
"Ah, tadi Jiraiya-san sudah mengatakan pada kami jika akan ada anak yang akan datang pada kami. Kau Itachi kan? Bisa kau jelaskan pada kami, ada urusan apa kau kesini? Maaf tapi Jiraiya-san tidak bilang sedetail itu pada kami." Naruto berbohong saat ia bilang Jiraiya memberitahukan sesuatu, padahal ia tidak mendengarkan apa-apa dari Jiraiya.
Naruto menyilahkan duduk pemuda yang ada dihadapannya. Pemuda itu menagangguk dan duduk di depan salah satu kursi yang sudah ada di depan meja Manager. Sasuke ikut duduk disebelahnya tanpa berhenti menatap Itachi yang membuat Itachi risih dibuatnya. Ditatap seperti itu tidak membuatnya nyaman sama sekali sekarang.
Apa Manager Restoran ini baik? Atau jahat? Itachi tak tahu. Tapi Itachi butuh pekerjaan ini.
"Lalu, ada apa?" Tanya Naruto.
"Aku bertemu Jiraiya kemarin. Ketika aku bilang sedang butuh uang, beliau bilang agar aku kemari jika aku ingin mendapatkan uang." Jelas Itachi dan mendapat anggukan paham dari Naruto.
Eehh, jelas bukan, kan? Apa-apaan ini? Apa maksud semua ini? Padahal ia belum sehari menjadi Manager tapi tiba-tiba datang karyawan baru yang sepertinya masih duduk di bangku SMA karena dia memakai seragam anak sekolah.
Jiraiya, sialan! Seenaknya sendiri menyuruh orang bekerja disini, seperti Restorannya sendiri saja.
"Kau ingin kerja part time disini?" Itachi mengangguk mantap saat mendengar pertanyaan dari Naruto. Naruto menyerit memandangi Itachi.
"Apa ada Nona Tsunade yang menyuruhmu kesini?" Tanya Naruto. Itachi menggeleng.
"Tidak ada." Jawabnya dengan sopan. Naruto menghela nafasnya. Apa yang harus ia lakukan? Terima? Tolak? Naruto tak tahu. Lagipula dengan karyawan yang segini dan pelanggan yang tak terlalu ramai, membuat Naruto tidak yakin jika ingin menerima karyawan baru.
"Kau diterima!" Ucap Sasuke tiba-tiba membuat Naruto membelalakan matanya lebar memandangi Sasuke dengan tidak percaya.
"Sa—Sasuke! Kau tahu apa yang kau bicarakan kan?" Ucap Naruto lirih.
"Kau tahu kan? Restoran ini sedang tidak dalam keadaan baik? Bagaimana kau bisa menerima karyawan baru—"
"Kau diterima!" Potong Sasuke.
"Sasuke, kau tidak mendengarku? Bagaimana caranya—"
"Kau diterima! Selamat datang di Restoran—"
"Tunggu dulu! Emm.. Itachi, bisa kah kau keluar sebentar? Aku dan—ehem—Sasuke akan mendiskusikan ini. Kau tidak keberatan kan?" Itachi mengangguk setelah mendengar kata-kata itu dari Naruto. Berdiri dari kursinya, membungkuk dalam dan mengucapkan kata permisi, setelah itu Itachi berjalan kearah pintu dan keluar dari ruang Manager.
Setelah dirasa aman, Naruto mulai berdiri dan menggenggam tangan kanan Sasuke dan meremas dengan perlahan. Menatap mata Sasuke dengan dalam yang hanya di balas dengan tatapan—Bahagia? Senang? Lega?
Naruto menghela nafasnya. Ia tahu betul perasaan Sasuke. Kalau yang datang tadi adalah salah satu keluarganya, mungkin tindakan yang akan diambil Naruto sama seperti Sasuke. Tanpa pikir panjang dan ceroboh karena telah mencoba-coba membuat Restoran orang lain bangkrut.
Naruto kembali duduk dan memijat pangkal hidungnya menghadap keatas. Menyederkan tubuhnya pada kursi kerjanya. Sasuke menatap Naruto masih dengan memasang jurus seribu andalannya. Ekspresi dikasihani! Ya! Ini sangat ampuh pada Naruto.
"Oke! Baiklah! Kita diskusikan ini!" Naruto memutar kursinya menghadap Sasuke.
"Kau tahu kan kondisi keuangan Restoran ini? Dengan keadaan yang seperti ini, sangat mustahil jika kita menerima karyawan baru." Sasuke mengangguk mengerti dengan apa yang baru saja Naruto katakan.
"Aku berusaha mem—pas—kan kondisi keuangan Restoran ini untuk gaji kita semua. Lalu, kalau Itachi di terima, bagaimana cara menggajinya?" Lanjut Naruto kemudian bertanya pada Sasuke.
"Aku akan berikan gajiku padanya!" Naruto bersiul salut. Jawaban yang dijawab dengan cepat dan tanpa ragu-ragu dari seorang Sasuke.
Kau bercanda ya?!
"Gajimu cukup untuk hidup kita berdua, lagipula aku tidak akan berikan semua gajiku, dia hanya pekerja part time, kan?" Lanjut Sasuke. Naruto memandang mata Sasuke dengan ekspresi berharap. Naruto menghela nafas dan mengangguk. Sasuke tersenyum tipis dan menerjang Naruto kedalam pelukannya. Naruto tersenyum menerima pelukan maut dari Sasuke.
Naruto memanggil Itachi yang sedari tadi berdiri di depan pintu, masuk dengan tatapan yang harap harap cemas. Karena Itachi tadi sedikit mendengar dari mulut pak kepala Manager itu jika kondisi keuangan Restoran ini sedang tidak baik. Itachi tidak tahu apakah ia akan diterima nantinya.
Itachi berjalan ke arah kursi dan duduk dengan manis disana. Menunggu jawaban yang sangat ia harapkan keluar dari om-om—eh? Mas-mas ini—eh? Om-om atau mas-mas ya? Itachi meneliti wajah tampan laki-laki pirang di hadapannya. Ah masa bodoh. Ia tidak peduli.
"Sebelumnya, aku ingin mendengar, kenapa kau ingin bekerja disini sedangkan kau masih sekolah? Ngomong-ngomong kau kelas berapa?" Tanya Naruto menarikan jari-jarinya di atas keyboard, menuliskan beberapa data penting karyawan barunya ini di dalam laptopnya.
"Nama saya Uchiwa Itachi. Saya kelas 2 SMA, umur saya 17 tahun." Jawab Itachi. Naruto mengangguk dan terus melanjutkan pekerjaannya pada laptop. Sasuke menaikan satu alisnya. Namanya berbeda. Lagipula kenapa Uchiwa?
"Margamu unik, ya?" Ucap Sasuke. Itachi hanya menunduk malu dan terkekeh.
"Yah, hidupku juga lumayan sulit dengan membawa Marga Ayahku." Kata Itachi. Sasuke memperhatikan wajah Itachi yang sesaat terlihat keras. Ada apa ya?
"Aku ingin bekerja karena, aku ingin menggantikan ayahku. Dia pergi dari rumah dan meninggalkan aku dan juga Ibuku. Pekerjaan Ibuku tidak dapat mencukupi kebutuhan kami, karena itu aku memutuskan untuk membantu Ibuku." Jelas Itachi. Naruto dan Sasuke memandang Itachi dengan raut kasihan. Benar-benar berbeda dengan Itachi yang dulu.
"Ayahku sebenarnya sudah pergi dua tahun yang lalu, tapi baru sekarang aku berani membantu Ibuku. Karena Ibuku keras kepala dan terlalu bekerja keras, aku khawatir pada apa yang akan terjadi nantinya." Lanjut Itachi. Naruto tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah. Aku mengerti. Lalu, apa yang jadi keahlianmu untuk bisa bekerja di sini?" Tanya Naruto.
"Aku bisa memasak. Aku bisa menjadi koki disini. Selama ada bahan aku bisa buat apa saja." Jawab mantap Itachi. Naruto terkekeh mendengar Itachi berkata seperti itu.
"Baiklah. Tapi bisakah kau membuatkan kami tiga jenis masakan yang belum pernah dibuat di restoran ini? Bisa dibilang ini adalah tes untukmu." Tantang Naruto dan Itachi menerimanya dengan senyuman lebarnya.
.
.
.
.
.
Naruto dan Sasuke berada di dapur tengah menyendok tiga macam makanan yang ada di atas pantry. Mereka berdua telah mencicipi masakan dari Itachi. Ternyata memang benar enak. Padahal yang Sasuke tahu Itachi tidak bisa memasak. Tapi Itachi dari dunia ini sangat pandai memasak.
Naruto mengangguk dan tersenyum atas makanan yang dibuat oleh Itachi. Sangat enak, juga memakai bahan yang tidak terlalu mahal. Kalau dia bisa memasukan makanan ini di menu, mungkin akan meningkatkan pendapatan di Restoran ini.
"Kerja bagus, Itachi. Aku akan masukan tiga masakanmu di menu. Apa kau bisa mulai hari ini?" Tanya Naruto. Itachi mengangguk mantap.
"Tentu saja. Aku baru pulang sekolah, maka dari itu aku masih memakai seragam. Aku akan bekerja dengan baik."
"Baiklah! kalau begitu, setiap hari kau harus masuk. Jadwalmu dari jam 4 sore sampai jam 10 malam. Khusus hari sabtu dan minggu kau masuk jam 10 sampai Restoran tutup. Tentu saja gaji di hari lain dengan sabtu dan minggu berbeda. Lalu untuk hari libur, kau bilang saja padaku. Tidak ada jadwal hari libur untukmu, jadi kalau kau sedang ada urusan kau bisa izin padaku atau Sasuke. Untuk pekerjaan, kau akan bantu-bantu dua koki di dapur. Apa kau keberatan? Atau ada pertanyaan?"
Naruto menjelaskan secara rinci di dapur ketika Itachi sudah berganti seragam koki. Mendengar Naruto memberikan peraturan seperti itu, sepertinya berat juga bagi seorang pelajar seperti Itachi. Itachi menelan ludah dan mengangguk mantap—tidak! Terpaksa mantap. Karena memang Itachi membutuhkan pekerjaan ini.
"Tidak keberatan sama sekali. Aku siap jika harus bekerja sekarang juga." Naruto tersenyum mengangguk mantap melihat semangat Itachi. Naruto menepuk puncak kepala Itachi yang lebih pendek darinya. Lalu berjalan keluar dari dapur kembali ke ruang Manager. Sasuke yang melihat tingkah Naruto mengikuti menepuk puncak kepala Itachi dan tersenyum tipis. Lalu berlalu mengikuti Naruto.
Di dapur, Itachi membungkuk hormat pada dua koki yang akan bekerja sama bersama Itachi kedepannya. Mungkin saja dengan bekerja disini akan membuat keahlian memasaknya menjadi meningkat dan suatu saat impian membuka Rumah Makan kecil akan terwujud.
.
.
.
.
.
Naruto duduk kembali di kursi kerjanya dan menghadap laptop. Mengirim E-mail pada Tsunade, memberitahukan bahwa ada karyawan part time baru di Restorannya. Setelah itu, ia kembali menyalin laporan yang ada di buku tebal itu ke laptop.
Sasuke sesekali memandang Naruto di saat ia sedang menanda buku yang ada di depan mejanya. Naruto yang sadar akan lirikan Sasuke sedari tadi mencoba membuka suara.
"Kau kenapa?" Tanya Naruto balik melirik Sasuke saat Sasuke tertangkap sedang meliriknya. Sasuke kembali menanda buku yang ada di depannya.
"Apa kau tidak terlalu keras pada Itachi?" Tanya Sasuke masih sibuk menanda buku yang akan Naruto salin ke laptop nantinya. Jari-jari Naruto kembali bekerja di atas keyboard.
"Maksudmu?"
"Membuat Itachi bekerja setiap hari, membuat hari liburnya tak menentu, kau tahu kan dia masih anak sekolah? Apa kau tidak berpikir jika mungkin dia akan kelelahan di sekolahnya dan mungkin bisa menganggu belajarnya?" Sasuke meletakan stabilo hijau muda di atas meja, lalu mulai serius menatap Naruto. Naruto menghentikan pekerjaannya dan balas menatap Sasuke.
"Aku bilang dia hanya bantu-bantu kan? Tidak mungkin akan semelelahkan itu. Lagipula aku lihat dia anak yang pintar, mungkin. Jadi aku pikir pekerjaannya tidak akan menganggu belajarnya." Jelas Naruto. Sasuke menggeleng tidak menyetujui apa yang dikatakan oleh Naruto.
"Aku lagi cemburu, loh!" Ucap Naruto.
"Hah?" Sasuke tidak mengerti kenapa Naruto mengatakan dia sedang cemburu. Naruto bangkit dari duduknya, menyentuh pipi kanannya dengan lembut. Membawa kepalanya keatas dan mengecup bibirnya lembut.
Sasuke terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Naruto, tapi tetap saja Sasuke membalas kecupan itu. Menggenggam tangan Naruto yang berada di pipi kanannya. Naruto melepaskan pangutan itu dan berbicara di depan bibir Sasuke.
"Kau terlalu khawatir pada Itachi. Bagaimanapun Itachi yang ini tak ada hubungan darah denganmu." Naruto melepaskan tangannya dari pipi Sasuke dan kembali duduk di meja kerjanya. Sasuke mengedipkan matanya beberapa kali setelah mendengar alasan yang membuat Naruto tengah cemburu.
Sasuke terkekeh pelan, setelah itu ia kembali mengambil stabilo itu dan kembali fokus pada buku di depannya.
"Mana mungkin, kan? Dia hanyalah bocah yang mirip dengan Itachi."
Naruto mengerlingkan matanya mendengar ucapan dari Sasuke. Oh, benarkah?
.
.
.
.
.
Tsuzuku
