tujuh warna;tujuh makna;berpadu menjadi satu kisah persahabatan

.


XiRuLin Proudly present

"Pelangi"

with

[Kim Namjoon x Kim Seokjin x Min Yoongi x Jung Hoseok x Park Jimin x Kim Taehyung x Jeon Jungkook]


.

.

Jingga.

Warna jingga pada pelangi menampakkan kesejahteraan dalam kesehatan. Keseimbangan antara kesehatan dan kekuatan. Kim Namjoon adalah warna jingga.

.

.

.

ᴥᴥᴥᴥᴥᴥᴥ

Namjoon masih mengingat dengan jelas awal pertemuannya dengan Seokjin.

Dua tahun yang lalu, tepat tanggal dua belas september di hari pertama salju turun.

Namjoon baru saja selesai membaca tumpukan buku di perpustakaan sekolah setelah berjam-jam tenggelam di antaranya. Langit mendung, udara menusuk tulang. Namjoon semakin merapatkan jaket hoodie hitamnya. Berdiri seperti orang bodoh di lobby sekolah, menunggu hujan salju itu berhenti. Mantel tebalnya terlupakan begitu saja di gantungan kamar, ceroboh sekali.

Hari ini adalah hari ulang tahunnya.

Yang ke enam belas tahun.

Namun tak ada hal yang spesial terjadi. Namjoon menjalani hari nya seperti sedia kala. Rutinitas bangun di pagi hari, sarapan sereal dengan susu, membaca manga sembari berjalan ke sekolah, juga pelajaran yang membosankan. Tidak ada seorang pun teman sekelas Namjoon yang mengingat ulang tahunnya.

Tentu saja tidak ada.

Namjoon seorang introvert. Sejak hari pertama dia menginjakkan kaki di sekolah ternama ini Namjoon tak kunjung mendapatkan teman. Sebagian besar mengenal nama Kim Namjoon mengingat pemuda jangkung itu berotak encer dan selalu di banggakan guru-guru di sekolah, namun tak ada yang bergerak untuk mau menjadi teman dekat pemuda tersebut. Seolah ada jarak di antara mereka. Namjoon tak masalah, Ia memang lebih suka sendiri berkutat dengan tumpukan manga favoritnya tanpa ada gangguan dari orang lain.

Ia baik baik saja ketika tidak ada satupun yang mengajaknya makan siang bersama, atau sekedar bertegur sapa ketika bertemu pandang.

Butiran salju turun mengenai lembaran manga Namjoon.

Pemuda itu mendongakkan kepala. Tatapannya langsung terfokus kepada beberapa siswi di depannya yang saling kejar di bawah hujan salju yang berjatuhan, tertawa bersama saat salah satu dari mereka tersandung tumpukan salju. Yang jatuh berseru tak terima di jadikan bahan lelucon, Ia melemparkan bola salju ke arah kedua temannya. Pekikan terdengar. Ketiga kawan karib itu berakhir perang salju, mengabaikan teriakan marah petugas kebersihan sekolah yang sibuk membersihkan salju yang menumpuk di jalanan.

Namjoon tanpa sadar tertawa kecil.

"Konyol sekali ya, ketiga gadis itu."

Hampir saja manga Namjoon terlempar apabila Ia tak menahan diri dengan cepat. Namjoon kaget luar biasa.

"Aku membuatmu terkejut?" Pemuda yang berdiri di sebelah Namjoon lah pelakunya. Entah sejak kapan dia berdiri disitu, Namjoon tak menyadari.

Namjoon menelan ludah. Kakak kelas. Pin yang terpasang di dasi pemuda bersurai cokelat muda itu menunjukkan angka dua.

"Maaf, sunbae." Namjoon cepat-cepat membungkukkan badan kikuk.

Pemuda tersebut mengibaskan tangan, tertawa kecil. "Tidak masalah. Aku sebenarnya sudah lima menit berdiri disini, tapi kau terlalu asik dengan komik di tanganmu."

"Ah, iya. Aku tak menyadarinya, sunbae." Namjoon menjilat bibir bawah, bingung harus menjawab apa. Ini pertama kalinya ada kakak kelas yang mau mengajak Namjoon berbicara. Rumor yang beredar di kelas, saat seorang kakak kelas memanggilmu maka kau harus bersiap akan kemungkinkan terburuk. Di bully, contohnya.

Pemuda tersebut mengulurkan tangan. Senyumnya mengembang. "Aku Seokjin. Kau?"

"Namjoon, Kim Namjoon." Namjoon membalas uluran tangan yang lebih tua. Seketika rasa hangat menjalar di telapak tangannya. Ia termenung beberapa detik. Tangan Seokjin begitu hangat.

"Hei, kau tidak membawa hotpack? Kenapa tanganmu sebeku es begini?"

Namjoon menggeleng. "Aku lupa, sunbae."

Seokjin mengeryitkan dahi. "Ini pertama kalinya aku melihat ada yang lupa membawa hotpack di musim dingin. Kau bahkan tak memakai mantel tebal. Cari mati?"

Namjoon hanya tertawa patah-patah. Saat hendak menarik tangannya, Seokjin justru mengeratkan genggaman tangan keduanya.

"Jangan di lepas dulu. Aku sedang menghangatkan tanganmu." Pemuda tersebut merogoh tas nya dengan tangan yang lain, mencari sesuatu.

Yang lebih tinggi mengerjapkan mata bingung.

"Nah, ini." Seokjin mengeluarkan sebungkus hotpack. Dengan sigap dia membuka bungkus hotpack tersebut, menarik kedua telapak tangan Namjoon secara paksa untuk menggenggam penghangat itu erat-erat. "Lain kali, jangan lupa bawa hotpack dan jaketmu. Apa yang akan orang-orang katakan kalau mendapati siswa sekolah ini di temukan mati akibat kedinginan, bisa-bisa permasalahan di sekolah kita terkuak semua."

Alis Namjoon tertaut. "Permasalahan apa?"

"Yah, individualisme yang parah, mungkin? Rasa tidak peduli satu sama lain, persaingan sengit yang sangat berlebihan, dan tidak ada nya sikap kemanusiaan. Sedih bukan, sekolah kita ini sebenarnya hanya di isi dengan anak-anak seperti mereka."

Hening.

Tenggorokan Namjoon tercekat. Matanya yang sipit melebar, tangannya yang telah sempurna menghangat justru bergetar.

Kata-kata itu tepat menusuk relungnya. Seokjin, Kim Seokjin ini mengetahui apa yang terjadi dengan Namjoon hanya dalam sekali tangkap.

Namjoon menatap lekat-lekat sunbae di hadapannya yang balas menatapnya.

"Kenapa–" Suara Namjoon tercekat. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan getir di bibir, tapi Namjoon gagal. "Kenapa kau tahu? Kau siapa?"

Bukannya menjawab, Seokjin justru tersenyum hangat. Tanpa izin, dia maju untuk mengacak surai Namjoon yang lebih tinggi darinya, dan melihat wajah melongo Namjoon karena semakin terkejut, Seokjin tertawa kecil.

"Berminat mengunjungi klubku?"

"Kau belum menjawab pertanyaanku."

"Mau tidak?" Seokjin semakin tersenyum lebar.

Likuan di dahi Namjoon semakin berliku. Dia tidak mengerti. Sosok sunbae di hadapannya ini misterius.

Dulu sekali, saat Namjoon masih berumur sepuluh tahun dan memiliki beberapa 'teman', mereka selalu mengatakan kalau Namjoon orang yang sulit ditebak. Namjoon tidak menangis saat jatuh dari tangga, Namjoon tidak tersenyum saat wali kelasnya mengumumkan kalau dia meraih peringkat pertama seantero sekolah saat kenaikan kelas, dan Namjoon tidak marah saat buku tulisnya di coreti oleh anak-anak yang iri akan kepintarannya. Wajahnya selalu tenang, dan kata-katanya sulit dimengerti. Padahal, bagi Namjoon, orang-orang lah yang tidak bisa memahami dirinya.

Tidak ada yang pernah memahami Namjoon.

Bahkan orangtuanya sekalipun.

Namun sekarang, seorang senior yang dengan tingkat kepercayaan diri terlalu tinggi datang menghampirinya, mengatakan kata-kata yang sangat benar maknanya, seolah Namjoon adalah kaca yang terlalu transparan dan mudah di baca.

Apa ini adalah kado ulang tahun dari Tuhan untuk Namjoon? Apa akhirnya dia mendapatkan orang yang benar-benar mengerti?

"Oke, karena kau diam berarti tandanya iya."

Kesadaran Namjoon pulih seketika. Belum sedetik tangannya telah di tarik begitu saja oleh Seokjin, membuatnya harus berjalan secara terpaksa akibat Seokjin yang juga berjalan cepat di depannya. Kembali masuk ke dalam gedung sekolah.

"Hei, sunbae. Kau mau membawaku kemana?" seru Namjoon panik. Dia berusaha sesopan mungkin untuk menarik lengannya dari genggaman Seokjin, namun sang senior justru mengeratkannya.

"Ikuti saja. Kau akan suka, aku jamin itu."

"Apa kau termasuk golongan mereka yang tidak berperi kemanusiaan di sekolah ini?"

"Tentu tidak. Aku justru anti mereka." Tawa Seokjin terdengar menggema di koridor sekolah yang sepi. Sebagian besar siswa telah pulang sekolah. Mereka tidak mungkin lupa membawa payung, jaket, hotpack seperti Namjoon.

Kali ini Namjoon tidak lagi melawan. Dia membiarkan dirinya di seret oleh Seokjin. "Lalu, apa tujuan sunbae membawaku? Aku bahkan tidak tahu klub yang sunbae maksud itu klub apa."

"Sudah kubilang kau akan suka, kan?" Seokjin tersenyum lebar menatap Namjoon. "Lagipula, anggap saja ini kado ulang tahunku untukmu."

Eh?

Terburu Namjoon melepas genggaman Seokjin. Matanya yang sipit melebar, menatap horror ke arah sang senior. "Kau, kenapa bisa tahu kalau ini hari ulang tahunku?"

Mau tidak mau Seokjin juga berhenti. Dia memijat pelipis, helaan nafas panjang keluar dari bibirnya. "Aku sebenarnya hanya menebak. Kau tadi membaca series manga kuroko no basuke yang menceritakan tentang ulang tahun Kuroko, bukan? Entah kau yang tidak sadar atau aku yang terlalu jeli, kau terus membolak-balik halaman dimana Kuroko mengatakan kalau ulang tahunnya tidak pernah dirayakan karena dia selalu terlupakan, di wajahmu tergurat ekspresi kesedihan yang nyata, jadi, yah, aku menebak kalau mungkin ini hari ulang tahunmu dan tidak ada yang mengucapkan selamat padamu. Jadi, aku mengajakmu ke klub. Kebetulan aku baru saja membeli series terbaru Kuroko yang di rilis kemarin, aku akan menghadiahkannya padamu."

Koridor itu lengang.

Astaga.

Jadi karena itu?

Berharap apa Namjoon kalau dia akhirnya mendapatkan sosok 'teman'?

Bukankah empat tahun ini dia tidak kunjung mendapatkannya? Tidak mungkin sosok 'teman' akan muncul segampang ini. Tidak akan semudah itu menemukan orang yang memahami seutuhnya.

"Klub yang sunbae maksud adalah klub otaku yang terkenal itu ya?" Namjoon tersenyum getir. "Yang katanya anggotanya hanya direkrut secara eksklusif oleh ketua klub sehingga membernya untuk saat ini hanya berjumlah dua orang?"

Seokjin mengangguk cepat. Senyumnya mengembang. "Benar. Dan perkenalkan, aku ketuanya. Kau secara eksklusif berhasil kupilih sebagai anggota member yang baru."

Namjoon tertawa kecil. Tatapannya tepat di mata Seokjin. Setidaknya, dia senang masih ada sosok seperti Seokjin di dunia ini. Walau hanya tebakan, dia mengerti apa yang Namjoon rasakan.

Namun, itu tidak cukup untuk disebut sebagai teman.

"Terima kasih sudah mengajakku, sunbae. Tapi maaf, aku tidak ada minat untuk bergabung dengan klub. Mungkin memang otaku itu sudah bagian dari diriku, tapi kurasa aku tidak harus masuk kedalamnya." Dia membungkukkan badan. "Terima kasih untuk hotpacknya, sunbae. Sampai jumpa."

Saat Namjoon sudah siap untuk melangkahkan kaki menjauh, suara Seokjin mengintrupsi.

"Lalu, kau akan membiarkan rasa sepi itu merasukimu?"

Langkah kaki itu terhenti.

"Kau akan membiarkan dirimu kesepian terus menerus? Tertutup, dan tidak membiarkan siapapun mencoba mengetuk pintunya? Kau tahu, aku ini sangat pemilih dalam memilih anggota. Aku tahu, kau orang yang tepat untuk kuajak. Kau butuh pertolongan, kan? Aku tidak tahu sudah berapa lama dirimu hancur seperti ini, tapi kau itu nyata hancur, Namjoon. Aku melihatnya dengan baik."

"Lalu kenapa?" Suara Namjoon tanpa sadar bergetar. "Kenapa kau mau menolongku?"

"Karena kita sama."

Apa?

Langkah kaki Seokjin menuntunnya mendekati Namjoon, ia kemudian merangkul pemuda yang lebih tinggi darinya itu dengan erat. Senyum Seokjin mengembang begitu tatapan mereka berdua beradu.

"Aku tahu apa yang kau rasakan, Kim Namjoon. Aku juga mengalaminya. Yoongi juga. Dia tipe orang yang mencoba kuat di luar namun di dalam sangat rapuh. Di hina, di jauhi, di musuhi, tidak ada yang mengerti dirimu seolah seluruh dunia ini mengangkat bendera perang kepadamu. Itu yang kau rasakan, bukan? Kita ini memiliki ketertarikan yang sama, pengalaman hidup yang sama pula. Itu berarti kita adalah keluarga. Jadi, sudah sepantasnya aku menolongmu. Ah, tidak. Bukan. Menolongmu adalah kewajibanku."

Untuk pertama kalinya sejak empat tahun yang lalu, Namjoon serasa ingin menangis.

Memori kelam itu terputar begitu saja seperti kaset rusak. Mereka yang berkedok teman berbalik menyerangnya dengan kata-kata pedas setiap hari, kotoran hewan di dalam loker, teror di pos rumah, mobil Ibu nya yang terbakar, wajah Ayah yang menghiasi seluruh media cetak Korea Selatan, teriakan 'penipu' dari tetangga, dan Namjoon kecil yang mencoba menampung semuanya sendirian. Tidak ada yang peduli, tidak ada. Ibu nya lari, ayahnya di tahan dengan hukuman seumur hidup, Namjoon kecil sendirian.

Dia selalu sendirian.

Ingatannya masih jelas kala pertama kali masuk di SMA ini, para orangtua siswa yang melihatnya saling berbisik-bisik. Mencap Namjoon sebagai siswa paling pertama yang harus mereka jauhi. Sehingga benteng pembatas itu tercipta dengan sendirinya.

Seokjin meremas lembut bahu tegap Namjoon. Dia kembali mengacak surai yang lebih tinggi, dan Namjoon seolah merasa memiliki seorang kakak.

"Setidaknya kau tinggal di panti. Yoongi di usir dari rumahnya sendiri, kabur ke Seoul saat berumur sembilan tahun dan terpaksa tinggal di jalanan. Percayalah, di atas hidupmu yang menderita ini masih banyak orang yang jauh lebih tersiksa darimu, Namjoon. Karena itu, kau tidak boleh membiarkan dirimu rapuh. Jadi lah kuat. Klub ini bisa membantumu melepas stress, mungkin seperti anime marathon atau bermain game hingga larut malam dan di usir satpam?"

Tawa Namjoon tersendat di balik suara sengaunya, berusaha menahan tangis.

Dia membiarkan dirinya di seret Seokjin menuju klubnya. Saat pintu di buka, ada sosok pemuda berkulit pucat yang berbaring di sofa, membaca manga. Tidak terhitung manga di rak lemari besar di pojok ruangan, TV berlayar lebar di sisi yang lain, konsol stik di dekatnya tergeletak begitu saja. Raut wajah pemuda itu datar, tanpa senyuman. Seokjin memperkenalkannya sebagai Yoongi, Namjoon hanya tersenyum kikuk.

Setelahnya perdebatan antara Seokjin dan Yoongi di mulai akibat manga kuroko yang ingin di hadiahkan Seokjin kepada Namjoon namun di tolak mentah-mentah oleh Yoongi. Mereka bertengkar hebat, namun anehnya Namjoon justru tertawa lepas.

Ruangan ini, klub ini, baunya seperti rumah.

ᴥᴥᴥᴥᴥᴥᴥ

"Hyung, kalau soal ini bagaimana cara mengerjakannya?"

Kepala Namjoon menyembul dari balik manga di tangan. Ada Jungkook yang kini sedang menatapnya penuh harap, duduk bersila di tengah ruangan dengan buku-buku matematika berserakan di atas meja.

"Kau belum selesai? Kupikir sudah."

"Belum, hyung. soal terakhir ini terlalu rumit." Jungkook menghela nafas berat. Tiga puluh menit dia berkutat dengan buku-buku keramat itu dan pekerjaan mengerikan ini harus tersendat akibat kemunculan soal yang tidak terduga tingkat kesulitannya.

Namjoon tertawa. Dia menutup manga yang tadi di bacanya lalu bergeser mendekati Jungkook. "Mana coba kulihat. Hei, soal ini tidak asing." Kepala Namjoon menoleh cepat. "Hob-ah, kau ingat tugas matematika minggu lalu?"

"Yang mana? Yang kukerja di papan atau ya–sial Taehyung! Jangan menyerangku dulu!" Pekikan panik Hoseok menggema dari depan TV, dia memukul Taehyung yang duduk di sampingnya dengan konsol namun Taehyung hanya tertawa lepas. "Bukannya hyung yang bilang kita harus bermain tanpa ampun?"

"Tapi aku sedang berbicara dengan Namjoon, sialan! ulang! Kau curang!"

Taehyung melotot tidak terima. "Aku tidak curang, hyung! hyung saja yang teledor!"

"Kau curang karena tidak menekan tombol pause tadi! Jadi, kita harus mengulangnya!"

"Hah! Aku tidak mau!"

"Berani melawanku, ya?!"

"Bruh." Namjoon memijat pelipis. "Bisakah pertengkaran ini dihentikan?" di sampingnya, Jungkook sudah terbahak tidak henti.

Hoseok beralih menatap Namjoon garang. "Ini gara-gara kau yang mengajakku berbicara, sial! Padahal sedikit lagi score ku bisa mengalahkan Taehyung!"

Rahang Namjoon jatuh seketika. Matanya memicing tajam. "Kenapa jadi aku yang di salahkan? Aku ini memanggilmu karen–"

'Daijoubu datte oh yeah, itsukawa good day, touzen'

Perkataan Namjoon terhenti.

"Taehyung hyung, ada panggilan masuk." Jungkook menunjuk ke handphone yang tergeletak di samping sang pemilik. Taehyung tersadar, cepat-cepat dia mengangkat panggilan tersebut lalu beranjak dari posisi duduknya.

"Halo, Jennie? Ah, benar juga, aku hampir lupa–Ya! ya tentu saja jadi. Jam 3 sore ini kan? Oke, tenang saja aku tidak akan terlambat. Ya, sampai jumpa."

Ketiga pemuda lain yang sedari tadi terdiam mendengarkan percakapan Taehyung saling melirik.

Taehyung memasukkan handphone tersebut ke sakunya, lalu menatap satu per satu kawan-kawannya. "Sepertinya aku tidak ikut ke arcade. Aku ternyata ada janji dengan Jennie."

Ah, ya. Walau nyentrik, Taehyung ini terkenal di kalangan kaum hawa.

"Jangan lupa belikan aku keychain Shigatsu!" Jungkook menyeru cepat. Taehyung tertawa, mengangguk. Pemuda bersurai cokelat itu kembali duduk di samping Hoseok.

"Yah, kudoakan kencanmu berjalan lancar, Tae-kun." Hoseok tertawa. Perkelahian mereka tadi telah terlupakan.

Taehyung balas mengangguk, "Doakan aku." Lalu ikut tertawa.

Namjoon menyeringai. Dia beranjak dari duduknya, bergerak merangkul Taehyung yang duduk tak jauh darinya. "Ingat ini baik-baik, Tae. Untuk memulai sebuah hubungan, kau harus agresif."

Taehyung memutar bola mata malas. "Terima kasih untuk sarannya, hyung. tapi sayang sekali, aku lebih suka orang yang mengalaminya langsung daripada hanya sekedar menguasai teori."

Tawa Hoseok dan Jungkook spontan menggelegar. Keras sekali. Namjoon menimpuk kepala Taehyung kuat kuat, lalu menghardik kedua kawannya yang masih terbahak keras. "Oi, ini tidak lucu!"

"Lucu, bodoh! Kata-kata Taehyung tepat menusukmu, Namjoon! Kau itu hanya modal teori, kencan saja kau tidak pernah!"

Dan gelak tawa mereka pun semakin keras. Kali ini di susul Taehyung.

Wajah Namjoon merah padam. "Jangan seolah kau berdua pernah, hah!"

"Oi, kalian berisik sekali sialan."

Sosok pemuda yang berbaring di atas sofa dengan manga menutupi wajah kini mengerang kesal. Tidur nyenyaknya akhirnya terusik akibat tawa terlalu besar dari kawan-kawannya yang lain.

Keempat pemuda lainnya hanya terkekeh.

"Bangun kau, Yoongi. Kukira ada rapat osis setelah istirahat kedua?"

"Memang ada. Dan waktuku sekarang yang harusnya ku gunakan untuk mengisi energi malah terusik gara-gara suara sialan kalian. Brengsek." Yoongi melempar manga di wajahnya sembarangan. Raut wajahnya yang selama ini memang kusut kini semakin kusut.

Yang lain tertawa. Mereka sudah terbiasa mendengar keluh kesah Yoongi tentang keberisikan enam kawannya. Umpatan kesal maupun timpukan telah menjadi makanan sehari-hari, tapi tidak ada yang kapok atau mencoba untuk meredakan suara mereka.

"Jin belum datang?"

"Belum, hyung. paling antrian di Kantin terlalu panjang." Namjoon menjawab selagi memfokuskan diri di soal-soal matematika Jungkook.

Suara rengekan Jungkook terdengar. Ia menghantuk-hantukkan pelan kepalanya di meja, frustasi. "Aku lapaaar."

"Ada cokelat batang di tasku. Ambil saja, Kook-ah."

"Uwah!" sekejap, rengekan Jungkook berubah menjadi pekikan ceria. "Hobi hyung penyelamat! Arigatou gozaimasu!" lalu bergerak secepat kilat membuka tas Hoseok dan mengambil sebungkus cokelat batang. Pemuda paling muda di antara mereka itu melahap cokelatnya dengan ceria, dan tak lupa memberi satu potong suapan kepada Taehyung yang membuka mulutnya, menginginkan cokelat itu juga.

Klub mereka damai selang beberapa menit. Namjoon fokus memecahkan soal matematika milik Jungkook, Taehyung dan Hoseok bermain game tanpa suara-suara berisik lagi dan Yoongi menatap malas pertandingan mereka sembari menopang dagu di atas sofa.

Lima menit kemudian, pintu klub terbuka dan dua anggota mereka muncul di baliknya dengan tangan menenteng plastik besar berwarna putih.

"Pesanannya sudah dataaang!" Jimin mengangkat plastik itu tinggi-tinggi, bibirnya tertarik dari ujung ke ujung dengan sempurna.

Semua pemuda di dalam ruangan itu bersorak senang. Bahkan Yoongi yang pemalas pun gesit bangkit dari posisinya dan menyambar botol vitamin juga satu kotak bento yang di pesan untuk masing-masing anggota.

Mereka kemudian duduk bersila di depan meja. Jin dengan telaten membagikan menu pesanan satu per satu, sedangkan para anggota hanya tinggal menyodorkan tangan di depan Jin. Senyum mereka merekah. Perut para pemuda ini tidak dapat di ajak kompromi lagi.

Selama acara makan di mulai, Namjoon menatap wajah sahabat-sahabatnya satu per satu. Rasa hangat menyelimuti hati Namjoon. Semenjak mengenal keenam pemuda ini, dia tidak pernah lagi makan sendirian. Dan Namjoon sangat mensyukuri hal itu. Dalam lubuk hati Namjoon, dia berharap momen ini tidak akan pernah sirna, untuk selamanya.

.

.


To Be Continued : blue.


thank you for review + fav + follow + read this fiction!

whose excited with our babies anniversary?!

Last,

Mind To Review?

sincerely,

XiRuLin.