Chapter 6 ~The Legend of Shinori: I Love You~
Disclaimer : ©Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)
Genre : Romance, Drama, Tragedy, Fantasy, Friendship, Yaoi, Shounen Ai
Warning : Canon, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, yaoi, dan hal absurd lainnya.
Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!
.
.
.
.
.
Setelah Sasuke berpamitan dengan Sakura dan Kakashi Sensei di depan gerbang masuk desa Konoha, Sasuke berjalan menuju hutan. Sasuke akan menebus dosanya, membayar semua yang telah Sasuke lakukan di masa-masa sebelum perang di perjalanannya ini.
Ketika Sasuke telah agak jauh dari gerbang desa Konoha, Sasuke melihat Naruto dibalik pohon yang cukup besar. Sepertinya Naruto tengah menunggunya.
Naruto menyambut Sasuke dengan tampang datarnya.
"Aku tidak menyangka kau akan muncul untuk melepas kepergianku." Ucap Sasuke.
Naruto mengeluarkan ikat kepala yang berlambang desa Konoha yang memiliki garis di tengah lambang itu. Sasuke mengingatnya. Itu adalah ikat kepalanya ketika Naruto dan Sasuke sedang saling serang di air terjun ketika mereka masih seorang Genin.
Naruto berhasil membuat goresan di ikat kepalanya.
Naruto menyerahkan ikat kepala itu kepada Sasuke, dan Sasuke menerimanya.
"Kau masih menyimpan benda itu?" Naruto memandang Sasuke sambil tersenyum, seolah-olah itu adalah ucapan selamat tinggal.
"Aku kembalikan ini." Naruto menyerahkan ikat kepala itu, Sasuke mengambilnya dari tangan Naruto.
"Kau benar-benar ingin pergi?" Tanya Naruto.
"Aku akan menebus dosa-dosa yang telah kuperbuat." Kata Sasuke.
"Kau bisa menebus dosa-dosa mu di Konoha, Sasuke." Ujar Naruto.
"Tidak. Aku akan melakukan perjalanan. Kalau di Konoha akan jadi sia-sia." Ucap Sasuke.
Sasuke melirik tangan kanan Naruto yang telah tiada. Hanya baju berlengan panjang yang tampak dimatanya.
"Maaf soal lenganmu." Ucap Sasuke. Naruto melirik tangan kanannya yang telah tiada dan terkekeh kecil kemudian.
"Bukan apa-apa. Lagi pula, Tsunade baa-san akan membuat tangan palsu yang dibuat dari sel Hokage pertama dari Ketua Yamato untuk kita. Kau tidak menginginkannya?"
"Aku tidak butuh itu." Naruto mengangguk mendapat jawaban dari Sasuke. Sangat Sasuke sekali
Naruto memajukan tubuhnya, memiringkan kepalanya, dan menyentuhkan bibirnya pada bibir Sasuke. Hanya sentuhan biasa tetapi bisa membuat jantung Naruto seakan copot dari sarangnya. Sasuke kaget bukan main melihat perlakuan Naruto yang tiba-tiba.
Naruto melepaskan kecupannya dan memandang bola mata hitam itu yang telah menjerat hatinya.
"Aku mencintaimu, Sasuke." Naruto tersenyum melihat Sasuke yang membelalakan matanya. Bukankah itu wajar? Pasti Sasuke sangat membenci Naruto saat ini. "Selamat tinggal."
Itu adalah suara Naruto yang terakhir kali Sasuke dengar sampai kabar pernikahan Naruto terdengar sampai ke telinga Sasuke.
.
.
.
.
.
Sudah tiga minggu Naruto dan Sasuke tinggal di dunia lain ini. Bohong jika Naruto dan Sasuke tidak merindukan Konoha. Tentu saja mereka sangat merindukan semua orang yang tinggal di Konoha. Naruto merindukan keluarganya. Jujur saja, walaupun ia tidak pernah mencintai Hinata—karena ia hanya mencintai Sasuke—tetap saja Naruto merindukannya.
Naruto juga bingung dengan nasib yang menimpa Negaranya ini. Apa yang terjadi selama tiga minggu ini pada Konoha setelah Konoha kehilangan Sang Hokage mereka? Apa yang terjadi pada Naruto kecil dan kawan-kawan? Apa yang terjadi pada Boruto dan Himawari? Dan yang paling Naruto cemaskan adalah, apakah Hinata masih hidup?
Naruto sangat mengerti perasaan yang dimiliki oleh Hinata. Mungkin saja Hinata akan bunuh diri karena Naruto meninggalkan keluarganya tanpa tahu kapan akan kembali. Naruto menghela nafas berat jika itu semua benar-benar terjadi.
Tapi Naruto tidak bisa melakukan apa-apa. Yang bisa ia lakukan adalah browsing di internet atau mampir di perpustakaan besar di kota ini mencari tahu tentang hal-hal yang bisa membawa mereka ke dunia lain.
Naruto mendapatkan info jika di dunia ini, ketika kau menemukan orang yang sama pada dunia lain yang kau tempati, berarti dunia itu disebut dengan dunia paralel. Tetapi rata-rata orang-orang di dunia ini tidak mempercayai dunia paralel. Padahal jelas-jelas Naruto dan Sasuke terlempar ke dunia yang hampir membuat mereka gila, karena bertemu dengan orang-orang yang mirip dengan dunianya.
Naruto juga mencari sejarah tentang kota Shinori yang ada di Negara jepang ini. Sejarah menceritakan tidak ada yang spesial dari kota kecil ini. Jauh sebelum perang di mulai di kota ini, kota Shinori telah berdiri selama ratusan tahun. Beberapa penduduk juga mempunyai cerita atau lebih tepatnya legenda tentang berdirinya kota Shinori.
Dahulu kala, seorang wanita jepang berusia 23 sampai 25 tahun tersesat saat mencari jalan untuk kembali kerumahnya. Karena awalnya kota ini dipenuhi hutan, jadi si wanita itu masuk terlalu dalam ke hutan. Si wanita terus berjalan memasuki hutan berharap bisa menemukan jalan keluar. Tetapi sampai matahari tenggelam yang ia temukan hanyalah pohon-pohon menjulang lebat.
Si wanita yang kelelahan itu memutuskan untuk beristirahat di salah satu pohon rindang yang sangat besar dan menyeramkan. Si wanita memang takut dengan suasana yang tengah mengelilinginya ini, tetapi ia terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan. Tidur sampai matahari terbit bukanlah ide yang buruk.
Si wanita itu tertidur dengan rambut terurai kebawah dan hanya menggunakan kain yukata tipis berwarna biru muda dan sendal jepit, berusaha melawan hawa dingin yang menusuk kulitnya. Walaupun sudah memakai yukata tetapi masih tetap merasa kedinginan. Karena saat ini musim gugur telah terlewati dan musim dingin mulai datang.
Ketika si wanita mulai bisa menutup matanya, si wanita mendengar suara gemerisik dari arah semak-semak tak jauh dari tidurnya. Si wanita bangkit menajamkan penglihatannya di kegelapan untuk melihat lebih jelas apa yang ada di balik semak-semak itu.
Si wanita melompat kaget ketika melihat yang keluar dari semak-semak itu adalah seekor serigala. Serigala itu lumayan besar, si wanita tidak yakin mampu melawan serigala itu sendiri dengan kemampuan kendo yang ia miliki. Lagipula tidak ada pedang atau benda kayu yang panjang di sekitar sini.
Akhirnya si wanita berlari memasuki hutan lebih dalam berusaha menghindari dari seragan serigala hutan itu. Si wanita berlari sekuat tengah di kegelapan hutan dan sesekali menengok kebelakang untuk melihat serigala yang masih mengejarnya. Perasaan takut menyelimuti hatinya, ia yang tak punya sanak saudara atupun keluarga, akhirnya harus merenggang nyawa di hutan ini.
Ia tidak mau. Setidaknya ia ingin mempunyai suami dan anak-anak yang lucu sebelum ia mati. Si wanita terus berlari tanpa arah, yang ia pikirkan hanya bisa lepas dari serigala yang haus darah itu.
Si wanita yang hanya ingin mencari jalan pulang, tiba-tiba bertemu dengan laki-laki bertubuh tegap tengah berdiri memandangi wanita jepang itu dari kejauhan. Si wanita itu berhenti mendadak ketika melihat seorang pria yang berdiri di depannya dengan membawa beberapa anak panah di punggungnya dan busur di tangan kanannya.
Serigala itu berlari mendekat, seperempat detik kemudian si pria itu mengambil anak panah dari belakang punggungnya, mengangkat busur dengan anak panah yang sudah di posisikan, menarik tali busur dengan anak panah, membidik dengan cepat dan melepaskan tarikannya.
Seketika anak panah itu menancap ke kepala serigala itu dan tewas di tempat. Si wanita yang sedari tadi berdiri disana benar-benar merasa akan mati ketika si pria itu mengarahkan busur itu pada dirinya. Tetapi anak panah itu melewati sebelah kepalanya dan membunuh serigala itu.
Setelah itu, si pria mengajak si wanita mengunjungi rumahnya untuk beristirahat. Si wanita melihat si pria hanya dengan celana kain pendek di bawah lutut tanpa atasan memasuki rumah gubuk yang berada di pinggir hutan ketika mereka berhasil keluar dari dalam hutan.
Pria itu terlihat seperti orang asing, rambut pirang acak-acakan dan mempunyai bola mata biru, seperti turis yang biasa ia lihat di kota ia bekerja. Si pria memperkenalkan diri pada si wanita. Ternyata, dia adalah seseorang yang secara sengaja mengasingkan diri di negara orang setelah kabur dari negara asalnya. Amerika.
Dia adalah seorang bangsawan di negaranya. Keluarganya mempunyai bisnis yang sangat berpengaruh. Maka dari itu perjodohan ini harus dilakukan. Dia bilang dia dijodohkan dengan seorang perempuan yang tidak dicintainya. Karena memang mempunyai tekad dan nekad yang gila, akhirnya si pria itu kabur keluar dari Amerika dan memutuskan untuk menetap di Jepang.
Si wanita memutuskan untuk tinggal bersama si pria bule itu, karena menurutnya pasti si pria telah tinggal sendirian cukup lama. Lagipula si wanita tidak memiliki apa-apa atau mempunyai siapa-siapa di kota asalnya.
Lambat laun perasaan cinta keduanya mulai muncul. Si wanita dan di pria memutuskan untuk menikah di kota sebelah, lalu kembali ke rumah gubuk mereka yang sudah mereka renovasi menjadi rumah yang berdiri kokoh. Mereka memutuskan untuk tinggal di sana.
Lambat laut, beberapa orang datang dan memutuskan untuk pindah di pinggiran hutan itu. Tempat itu semakin ramai oleh orang-orang yang ingin mengasingkan diri mereka juga pada tempat itu. Si pria dan si wanita yang sudah menikah merasa senang, karena mereka mempunyai tetangga yang baik-baik.
Beberapa tahun kemudian, anak laki-laki berumur delapan tahun itu sedang bermain dengan rakun peliharaannya. Mereka memasuki hutan mencari beberapa berry untuk diberikan pada ibu mereka. Tetapi si anak melihat ada cahaya putih menyilaukan berbentuk oval yang tinggi.
Si anak seperti terhipnotis oleh cahaya itu, berjalan mendekat kearah cahaya itu. Si rakun peliharaannya menarik-narik celana panjang yang dikenakan anak itu, bermaksud untuk menjauhi cahaya mencurigakan itu. Si ayah yang melihat anaknya mendekati cahaya putih mencurigakan itu langsung berlari dan menggendongnya menjauh. Seketika sang anak sadar atas apa yang di lakukannya.
Setelah itu beberapa kali terlihat cahaya putih itu muncul menculik beberapa warga di desa yang telah terbentuk itu. Beberapa kali bisa di gagalkan jika tepat waktu atau ada saksi mata di sana. Kejadian itu terus berlangsung selama dua minggu dan sudah ada 27 orang yang hilang. Termasuk anak dari si wanita dan si pria.
Sepertinya si anak adalah korban yang terakhir. Karena setelah kejadian hilangnya anak dari si wanita dan si pria itu, cahaya itu tidak pernah muncul lagi.
Setelah kejadian yang sangat menyedihkan menimpa beberapa keluarga yang ada di sana, mereka yang tidak akan pernah melupakan insiden yang sangat menyedihkan itu, memutuskan untuk memberikan desa mereka nama. Dan nama itu adalah Shinori. Shiro no Hikari.
Itu adalah legenda yang Naruto baca di internet. Walaupun hanya legenda, cerita itu sangat aneh untuk dibilang kebetulan. Cahaya itu muncul di konoha dan menculik orang-orang yang Naruto simpulkan bahwa orang-orang itu di lempar kedunia ini. Tapi kenapa?
Lagipula ada beberapa hal yang berbeda dari legenda itu. Korban Shinori bisa digagalkan sedangkan Shinori di Konoha tidak. Shinori di legenda menculik orang secara acak sedangkan di Konoha hanya dua orang dalam sehari. Apa ini semua ada hubungannya? Lalu apa maksud dari semua ini? Kenapa Shinori muncul di dunia Naruto? Apa yang diinginkan Shinori?
Naruto memijit pangkal hidungnya lelah. Legenda tentang kota kecil Shinori yang tengah ia tinggali ini terdengar sangat janggal dan misterius. Pertanyaan demi pertanyaan di benaknya muncul tetapi ia tidak bisa menemukan jawabannya.
Sasuke melihat Naruto tengah bergelut di depan laptopnya yang menyala di atas meja kecil di pojok ruangan di apartemen kecil mereka. Sasuke yang sedari tadi melihat Naruto menghela nafas berat. Tentu Sasuke juga ingin keluar dari dunia ini, tapi Sasuke tidak tahu apa yang harus di lakukan. Tidak! Bukan itu! Lebih tepatnya—
"Naruto, Tidurlah! Kau terlalu lama di depan laptop." Ucap Sasuke yang sudah berada di balik selimut di atas futon empuk itu. Naruto mendesah dan melanjutkan berselancar di dunia maya. Sasuke menghela nafas mendapati Naruto tidak menyahutinya.
"Naruto." Sasuke bangkit dari tidurnya masih menatap punggung Naruto. Naruto masih tidak menyahut panggilan dari Sasuke. Keheningan menyelimuti keduanya. Sasuke tidak kembali tertidur, masih setia memandangi punggung seseorang yang sangat penting baginya.
"Naruto—"
"Kau!" Potong Naruto. Sasuke mengedipkan matanya dua kali ketika tiba-tiba Naruto memotong kata-katanya.
"Kenapa?" Tanya Sasuke.
"Kau tidak berusaha." Lirih Naruto. Sasuke menyeritkan keningnya mendapati Naruto berbicara yang tidak ia mengerti.
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak pernah berusaha untuk keluar dari dunia ini." Ucap Naruto seraya mendunduk. Menghentikan pekerjaannya berselancar di dunia maya. Sasuke memandang tidak suka pada punggung Naruto. Menggeleng mengelak walaupun Naruto tidak dapat melihat gelengan kepala Sasuke.
"Tidak, Naruto! Tentu saja aku—"
"Tapi kau tidak niat." Lagi-lagi kalimat Sasuke di potong oleh Naruto.
"Apa kau tidak merindukan keluargamu? Kalau aku merindukan mereka. Aku merindukan orang-orang yang ada di Konoha." Lanjut Naruto. Sasuke masih memandang Naruto dari belakang dengan tatapan heran. Sebenarnya apa yang akan dikatakan orang ini?
"Aku juga merindukan mereka." Kata Sasuke.
"Benarkah?" Naruto memutar tubuhnya menghadap Sasuke. "Benarkah kau merindukan mereka? Keluargamu?" Pertanyaan Naruto dibarengi dengan tatapan sayu oleh Naruto. Sasuke diam memandang bola mata yang terlihat sedih itu. Dia tidak mengangguk atau menggeleng untuk menjawab pertanyaan dari Naruto.
"Aku kadang berfikir. Mungkin saja kau ingin lari dari Konoha. Jadi mungkin ini adalah ide bagus saat kau terlempar ke dunia ini." Naruto kembali membalikan tubuhnya kembali menghadap laptopnya yang masih menyala. Sasuke menekuk alisnya tajam mendapati Naruto berbicara seperti itu.
"Apa maksudmu? Kau tahu kan, Naruto? Aku tidak akan pernah lari lagi." Ucap Sasuke. Naruto menggeleng pelan.
"Aku mengerti. Tapi Sasuke, kadang aku berfikir jika kau benar-benar merindukan keluargamu. Lalu perasaanmu padaku adalah palsu." Sasuke tersentak kecil ketika mendengar Naruto mengatakan itu.
"Apa yang sebenarnya kau bicarakan?"
"Selama ini, kau terlihat menerima perasaanku. Tetapi setelah diingat-ingat, kau tidak benar-benar menerimaku." Lanjut Naruto.
"Apa yang ingin kau katakan, Naruto?" Tanya Sasuke yang sepertinya mulai emosi mendapati Naruto berbicara yang tidak-tidak.
"Selama ini, kau tidak pernah mengatakan 'Aku mencintaimu' atau 'Aku menyukaimu' padaku. Bukankah itu aneh?" Naruto membalikan badannya kembali menatap bola mata hitam legam itu.
"Kau hanya membalas perlakuanku. Aku tahu kau tidak pernah bersungguh-sungguh menghadapi perasaanku. Kau tahu aku mencintaimu tapi kau seperti hanya—" Naruto memotong kalimatnya menatap Sasuke dengan mata yang sangat sulit dijelaskan.
"Aku tidak tahu tindakanmu itu hanya merasa kasihan padaku atau memang hanya bermain-main. Tapi hatiku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Jadi, bisakah aku memintamu satu hal? Tolong hentikan semua ini. Jangan bersikap seakan-akan kau juga mencintaiku. Lalu aku akan berusaha membawamu pulang dan kembali pada keluargamu." Naruto memutuskan pandangan mereka dan mematikan laptop.
"Naruto—"
"Kita hentikan semuanya. Anggap saja aku tidak ada. Anggap saja perasaanku padamu tidak ada." Potong Naruto sambil menuju futon dan masuk kedalam selimut. Mencoba tidur dengan membelakangi Sasuke. Sasuke menatap Naruto dengan nanar.
Ini memang sepenuhnya salah Sasuke. Ia pernah mengatakan rindu pada Naruto tapi itu tidaklah cukup. Naruto yang selalu mengatakan jika Naruto mencintainya, pasti merasakan perasaan lelah juga menghadapi Sasuke. Walaupun Naruto pernah bilang jika dia mencintai Sasuke, Sasuke tidak pernah membalas perkataan Naruto saat itu.
"Naruto." Panggil Sasuke. Keheningan melanda mereka berdua, Naruto tidak menyahut panggilan dari Sasuke.
"Aku—"
"Bodohnya aku." Potong Naruto lagi-lagi.
"Untuk apa aku mati-matian mengejar orang itu? Untuk apa aku mati-matian membawa orang itu kembali pulang ke Konoha? Untuk apa aku merendahkan kepalaku di kaki Raikage? Untuk apa aku mengorbankan nyawa untuk orang yang tidak pernah memikirkanku? Bahkan orang itu saja tidak pernah menganggapku sebagai temannya? Untuk apa aku mengajaknya mati bersama padahal aku belum jadi Hokage saat itu? Untuk apa—"
"NARUTO!" Sasuke membentak Naruto dengan keras. Naruto tersentak dan merasakan jika tubuhnya dipaksa menghadap ke arah yang sebaliknya, saat itu juga Sasuke menatap mata Naruto yang berembun. Walau di dalam kegelapan, Sasuke masih bisa melihat genangan air di pelupuk mata Naruto.
"Itu karena aku mencintaimu." Lirih Naruto. Sasuke membatu mendengar pernyataan Naruto yang terdengar sangat tulus, sangat dalam, dibarengi dengan kepedihan. Sasuke merasa hatinya berdenyut sakit melihat ekspresi Naruto.
Naruto melepaskan tangan Sasuke dari tubuhnya dan kembali berbalik memunggungi Sasuke. Selimut itu di bawa sampai atas kepala Naruto menutupi seluruh tubuh Naruto. Sasuke masih menatap Naruto yang terbungkus selimut itu dengan keheningan. Ia bingung harus berkata apa lagi, memang benar awalnya Sasuke hanya menerima perlakuan dari Naruto. Tetapi lama kelamaan perasaan untuk Naruto tumbuh saat Sasuke menerima kabar bahwa Naruto akan menikah dengan Hinata.
Sasuke pikir Naruto tidak akan menikah dan akan menunggu Sasuke pulang setelah menjalani misinya, tetapi yang ia dengar adalah kabar pernikahan Naruto dengan Hinata. Sasuke ingat ketika perang telah usai, Naruto menunggu Sasuke dibalik pohon ketika Sasuke ingin pergi menebus dosanya. Naruto yang saat itu memberikan ikat kepala Sasuke yang dulu dan memberikan ciuman pada Sasuke secara tiba-tiba. Saat itu Sasuke belum menyadari perasaannya. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, hati yang menghangat ketika Naruto sedikit memangut bibirnya. Perasaan kecewa ketika Naruto melepas pangutannya.
Mungkin ini adalah kesalahan Sasuke karena tidak membalas apa-apa ketika Naruto pertama kali menciumnya kala itu. Mungkin Naruto berfikir bahwa Sasuke tidak memiliki perasaan pada Naruto sampai dia memutuskan untuk menikah dan melupakan Sasuke. Tentu saja Sasuke sangat kaget saat mendengar kabar pernikahan itu, tapi akhirnya Sasuke memutuskan untuk menikahi Sakura. Entah apa alasannya, Sasuke juga tidak tahu.
Untuk lari dari masalah perasaannya? Atau untuk membalas dendam pada Naruto atas perasaannya? Atau untuk memperlihatkan pada Naruto bahwa Sasuke juga bisa menikah? Atau—atau—yang sebenarnya adalah Sasuke putus asa?
Sasuke masih memandangi Naruto yang masih terbalut selimut. Sasuke melihat pergerakan naik turun dengan teratur. Mungkinkah Naruto sudah tertidur? Sasuke menghela nafas beratnya, ternyata permasalahan perasaan seperti ini berat juga.
"Kenapa kau menikahi Hinata?" Lirih Sasuke. Naruto masih bernafas secara teratur. Mungkin dia benar-benar tertidur. Hati Sasuke berdenyut sakit. Ia butuh jawaban. Jawaban kenapa Naruto memutuskan menikahi Hinata ketimbang menunggu Sasuke.
"Kenapa kau menikahi Hinata, Naruto?" Tanya Sasuke lagi. Walaupun Sasuke tahu pertanyaannya tidak akan dijawab oleh Naruto.
"Kau ingin tahu?" Tiba-tiba suara Naruto mengudara dari balik selimut membuat Sasuke terkesiap. Kaget ketika tahu ternyata Naruto belum tertidur. Selimut itu masih menutupi seluruh tubuh Naruto.
"Aku menerimannya karena aku sangat tahu perasaan Hinata padaku. Hinata yang selalu memandang diriku dari jauh, memendam perasaan itu sedari kecil sampai saat ini. Hanya bermodalkan kepercayaan pada diri sendiri jika suatu saat cintanya akan terbalaskan walaupun tidak tahu kapan akan terbalas. Bisa saja perasaan itu akan terbuang sia-sia ketika orang yang disukainya tidak membalas perasaannya.
"Aku mengerti itu. Sangat mengerti itu. Kau akan melakukan apa saja untuk orang yang kau cintai walaupun nyawa taruhannya. Karena aku juga pernah merasakannya. Memendam perasaan selama itu bukanlah hal yang mudah. Kau harus menahan rasa sakit di hatimu ketika orang yang kau cintai melihat hal lain bukan dirimu.
"Maka dari itu aku putuskan untuk menikahi Hinata. Menghentikan rasa sakit yang dirasakan Hinata. Karena dia begini juga gara-gara aku, aku harus bertanggung jawab. Lagipula Hinata orang baik, wanita yang bertanggung jawab untuk keluarga. Yang harus kulakukan adalah melupakanmu. Yahh.. Walaupun aku tidak akan pernah bisa melakukannya." Jelas Naruto panjang lebar masih di balik selimutnya. Sasuke yang mendengar penjelasan dari Naruto sedikitnya merasa bahagia juga bahwa alasannya menikahi Hinata bukan karena dia mencintai Hinata.
"Apa kau ingin tahu kenapa aku menikahi Sakura?" Tanya Sasuke. Sasuke melihat sedikit pergerakan di balik selimut itu. Sasuke tersenyum kecil ketika melihat Naruto sedikit bereaksi. Mungkin ini artinya dia juga ingin tahu alasan kenapa Sasuke menikahi Sakura.
"Aku putus asa." Ucap singkat Sasuke. Naruto menaikan sebelah alisnya heran di balik selimut.
"Aku putus asa ketika mendengar orang yang kucintai akan menikah dengan orang lain. Aku pikir dia akan menungguku pulang. Tapi ternyata dia malah menikah dengan wanita lain. Aku putus asa. Ini memang salahku karena tidak mengatakan apa-apa saat aku pergi, aku telah menyakitinya, maka dari itu aku butuh pelarian." Jelas Sasuke. Naruto perlahan menurunkan selimut itu dan menatap Sasuke yang masih duduk memandanginya.
"Maafkan aku, Naruto." Ucap Sasuke. Naruto bangkit di perbaringannya, duduk dan menatap bola mata hitam itu dengan dalam.
"Pelarian?" Tanya Naruto.
"Maaf. Aku hanya putus asa. Aku tidak—aku hanya tidak terpikirkan jika kau akan menikah dengan orang lain. Aku depresi. Aku pikir kau mencintaiku, tapi kau malah menikah dengan orang lain. Tetapi ketika aku ingin pergi lagi menjalani misi, kau mengatakan kalau kau masih mencintaiku. Tentu saja aku sangat kaget, maksudku, kau masih memikirkanku walaupun kau sudah memiliki keluarga." Ucap Sasuke. Tangan Sasuke terangkat dan menyentuh pipi Naruto. Membawanya dalam tatapan penuh rasa.
"Aku mencintaimu, Naruto." Lanjut Sasuke seketika mencium bibir Naruto. Bibir itu dua kali lebih nikmat dari biasanya. Mungkin karena Sasuke telah mengatakan kalimat yang sudah lama ingin ia ucapkan tetapi terlalu takut untuk di ucapkan. Naruto masih diam bergeming ketika Sasuke telah melepaskan pangutannya.
Naruto menatap Sasuke dalam.
"Coba katakan lagi." Pinta Naruto.
"Aku mencintaimu, Naruto. Dari dulu. Maaf aku diam saja. Aku terlalu takut mengatakannya, kau telah bersama dengannya. Tidak mungkin aku mengatakan itu. Sampai kau mengatakan kembali setelah sekian lama jika kau mencintaiku, aku masih tidak dapat mengatakannya. Aku hanya bisa mengkuti tindakanmu tanpa balas mengatakan bahwa aku juga mencintaimu." Naruto terkekeh kecil ketika kalimat Sasuke terlalu panjang. Padahal Naruto hanya ingin 3 kata itu keluar dari bibir Si Raven ini.
"Aku mencintaimu." Lanjut Sasuke. Naruto tersenyum tipis dan memeluk Sasuke. Menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher Sasuke. Menghirup aromanya dalam-dalam berusaha mengingat aroma memabukan itu di dalam kepalanya. Sasuke membalas pelukan Naruto, mengusap punggung Naruto, menghantarkan rasa hangat yang sudah lama ia ingin sampaikan pada Naruto.
"Ahh!" Sasuke terpekik ketika tiba-tiba Naruto menggigit leher sebelah kanan Sasuke dengan gemas. Desahan yang tidak disengaja dikeluarkan oleh Sasuke di dengar oleh Naruto. Setelah itu Naruto semakin genjar menandai Sasuke dengan berbagai Kissmark di sekujur lehernya. Sekuat tenaga Sasuke menahan rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Apa yang Naruto lakukan? Kenapa rasanya luar biasa?
Semua kenikmatan itu berputar-putar memenuhi otak Sasuke. Naruto melepaskan pangutannya di leher Sasuke. Memandang Sasuke yang balik menatapnya dengan tatapan sayu, membuat Naruto tidak tahan memakannya saat ini juga.
Naruto mulai melumat lembut mulut Sasuke yang dibalas oleh Sasuke. Tangan kanan Sasuke melingkar di leher Naruto, sedangkan tangan kiri Naruto berada di pinggang Sasuke dan tangan kanan Naruto berada di balik leher Sasuke, menahan agar pangutannya tidak terlepas. Naruto membawa Sasuke jatuh ke futon tanpa menghentikan pangutan mereka. Saling serang dan saling terima.
Dirasa sangat membutuhkan oksigen, mereka melepaskan pangutan mereka dengan saliva yang masih terhubung satu sama lain. Tangan kiri Naruto yang sejak tadi berada di belakang pinggang Sasuke, beralih tempat ke atas kancing celanan Sasuke. Naruto menatap Sasuke dengan wajah memohon. Sasuke mengangguk mengizinkan dengan semburat merah yang memenuhi pipi putihnya itu.
Malam ini, akan menjadi malam pertama mereka.
.
.
.
.
.
Tsuzuku
