Chapter 7 ~Bunkasai~

Disclaimer : ©Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)

Genre : Romance, Drama, Tragedy, Fantasy, Friendship, Yaoi, Shounen Ai

Warning : Canon, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, yaoi, dan hal absurd lainnya.

Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!

.

.

.

.

.

Pagi ini lumayan mendung. Langit di atas terlihat gelap. Beberapa kali terdengar suara guntur, Naruto dan salah satu karyawannya—Gaara—sedang berada di dalam mobil Gaara. Naruto menyuruh Gaara untuk pergi dengannya dan membeli beberapa persediaan sayur dan daging untuk penjualan di Restoran. Naruto memutuskan ikut karena Naruto juga ingin melihat agen yang selalu menyiapkan sayur dan daging segar setiap hari.

Maka dari itu, mereka membawa beberapa dus sayur di belakang kursi penumpang.

Kalau dipikir-pikir, ini adalah kali pertamanya Naruto keluar untuk bekerja. Selama tiga bulan ini, Naruto dan Sasuke selalu berada di ruang Manager. Apalagi kalau tidak mengurusi semua berkas-berkas tidak jelas yang ditinggal oleh Tsunade. Dan tentu saja mengurus pesanan bahan makanan, keuangan, dan gaji para karyawan selama tiga bulan ini.

Sekarang ini semua sudah beres, Naruto ada waktu luang hari ini. Maka dari itu Naruto memutuskan untuk ikut dengan Gaara.

Oh iya, ngomong-ngomong, Naruto belum pernah berbicara pada Gaara. Interaksi mereka hanya sekedar atasan dan bawahan saja. Kalau dilihat-lihat, Gaara di dunia ini dan di dunianya tidak terlihat berbeda jauh. Karena Gaara memang memiliki badan yang kecil. Tetapi umur mereka berbeda. Gaara yang ini lebih muda.

Gaara di dunia ini berusia 21 tahun dan sekarang tengah menghadapi ujian akhir. Tetapi Gaara memutuskan untuk cuti kuliah sejenak karena biaya untuk lulus dan wisuda memerlukan begitu banyak biaya, jadi Gaara bisa fokus bekerja untuk mengumpulkan uang.

Dia bekerja sebagai koki part time di tiga Restoran. Begitu katanya.

Air mulai turun dari langit dan menghantam atap mobil Gaara. Hujannya sangat deras hari ini, walaupun sedang musim panas, Naruto dan Gaara tetap merasa kedinginan. Padahal AC mobil tidak dihidupkan, tetapi dingin ini masuk kedalam mobil.

"Pak Manager." Panggil Gaara. Naruto menoleh ketika marasa ia di panggil oleh pemuda berwajah dingin ini. Tetapi tetap saja wajah Sasuke lah yang paling dingin jika di bandingkan oleh Gaara.

"Apa kau sudah menikah?" Tanya Gaara membuat Naruto tersentak akan pertanyaan dari Gaara. Naruto bingung harus menjawab apa. Apa Naruto harus bilang ia sudah menikah? Lalu kalau begitu, bisa jadi Gaara akan bertanya dimana istrinya.

"Belum." Jawab Naruto akhirnya. Naruto ambil aman saja.

"Kalau begitu, Pak Manager suka tipe orang yang seperti apa?" Tanya Gaara. Naruto yang mendapati pertanyaan yang seperti itu, menatap keatas atap mobil berfikir.

"Mungkin, yang tinggi. Lalu putih. Dan sok jual mahal, dan Tsundere? Begitulah." Naruto terkekeh malu-malu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Gaara masih memegang setirnya dan menghela nafas dalam.

"Pak Manager suka dengan Sasuke-san, ya?" Pertanyaan dari Gaara menohok langsung hati Naruto. Apa terlihat begitu jelas?

"Ke—kenapa kau bertanya begitu?"

"Soalnya tipe Pak Manager sangat Sasuke-san sekali." Jawab Gaara melirik Naruto yang sedang salting di sebelah kursi mengemudinya.

"Ti—tidak! Mana mungkin, kan?" Naruto tertawa dipaksakan. Akan gawat juga kalau sampai orang-orang tahu kalau Naruto memang menyukai Sasuke. Lalu kalau mereka sudah tahu itu, pasti mereka akan mencari tahu lebih dalam tentang Naruto. Kalau begitu hubungan terlarang Naruto dan Sasuke akan ketahuan. Naruto tak mau itu terjadi.

"Lagi pula banyak wanita yang seperti itu. Seperti tinggi, putih, tsundere, bukan karena kriteria itu cocok dengan Sasuke bukan berarti Sasuke yang aku suka. Kau bercanda ya?" Lanjut Naruto terkekeh sebentar lalu menatap lurus kaca mobil di depan menatap air jatuh menghantap kaca. Entah kenapa air jatuh dan jalanan basah di depan terlihat lebih menarik dari pada topik pembicaraan ini.

"Begitu ya?" Ucap Gaara.

"Tentu saja!"

Tanpa Naruto sadari, ujung bibir Gaara terangkat.

.

.

.

.

.

"Baiklah. Mohon bantuannya." Sasuke menutup gagang telepon putih di atas meja kerjanya. Sasuke memesan lebih banyak bahan makanan karena sepertinya pelanggan yang datang lebih banyak dari biasanya. Dikarenakan promosi yang dilakukan Itachi dan ide untuk mengubah menu. Selain pintar memasak dia juga pintar menarik pelanggan.

Itachi mungkin akan jadi pengusaha sukses nantinya.

Naruto tengah keluar bersama salah satu koki mereka untuk mengambil beberapa bahan makanan. Karena hari ini sepertinya pelanggan tidak terlalu ramai, jadi dua koki tidak masalah untuk bekerja di dapur.

Hari ini hujan turun lebih deras dari yang biasanya. Semoga Naruto baik-baik saja. Kalau sampai Gaara menyetir tidak hati-hati dan menyebabkan Naruto terluka, akan Sasuke jadikan menu utama Restoran ini nantinya.

Sasuke mendengar suara ketukan di pintu depan, terlihat Itachi masuk setelah Sasuke mempersilahkan masuk orang yang ada di depan pintu ruang Manager. Itachi berjalan menuju meja kerja dan duduk di kursi yang ada di depan.

Sebelumnya Itachi tidak enak hati untuk duduk di kursi seperti ini hanya untuk meminta hal sepele, tetapi Sasuke memaksa untuk jangan terlalu formal bila di hadapan Sasuke. Sasuke pernah menceritakan pada Itachi kalau Sasuke pernah punya kakak, tetapi kakaknya sudah meninggal. Lalu Itachi ini mirip dengan kakaknya yang sudah lama meninggal, jadi Itachi mungkin akan terus menurut apa yang Sasuke katakan karena Itachi juga sangat mengerti perasaan Sasuke.

"Ada apa?" Ucap Sasuke tersenyum tipis pada Itachi. Senyum yang tak pernah ditunjukan pada yang lain kecuali Itachi. Itachi sedikit khawatir akan tingkah pilih kasih Sasuke, itu akan membuat Itachi di benci oleh karyawan lain, mungkin.

"Aku ingin mengambil hari libur besok. Akan ada bunkasai di sekolahku. Aku harus ikut serta di sana." Ucap Itachi mengeluarkan alasannya. Sasuke memiringkan kepalanya kesamping.

"Bunkasai?" Tanya Sasuke. Jujur Sasuke tidak pernah mendengar kata-kata ini sebelumnya. Itachi mengangguk. Keheningan menyelimuti keduanya.

"Eemm.. Boleh kah?" Tanya Itachi hati-hati. Takutnya Itachi tidak di perbolehkan izin besok, padahal Itachi sudah berjanji pada semua teman-teman sekelasnya.

"Maksudku, Bunkasai itu apa?" Tanya Sasuke. Itachi membuka mulutnya sedikit terkejut mendengar Sasuke tidak tahu apa itu Bunkasai. 'Benarkah Sasuke ini orang jepang?' Bantin Itachi.

Sasuke yang melihat Itachi yang sepertinya agak kaget dengan apa yang Sasuke barusan keluarkan dari mulutnya, sepertinya Sasuke lupa bahwa ia tidak pernah tinggal di dunia ini, dan tidak begitu banyak tahu akan budaya-budaya dari dunia ini. Harusnya ia jawab saja 'boleh' agar tidak ada kecurigaan di kepala Itachi. Sasuke kelewat ingin tahu apa-apa tentang Itachi.

"Sasuke-san tidak tahu? Aku pikir orang Jepang tidak ada yang tidak tahu Bunkasai." Ucap Itachi.

"Kau pernah kuberitahu kan, kalau aku dan Naruto bukan orang Jepang?" Elak Sasuke. Sebisa mungkin ia akan buat Itachi percaya dengan kata-katanya.

"Tapi logat bicaramu lancar seperti orang Jepang." Itachi memiringkan kepalanya memberikan alasan yang masuk akal menurutnya.

"Kau pikir aku begitu bodoh sampai tidak bisa menguasai bahasa negara orang, hah?" Ucap Sasuke menatap tajam Itachi. Itachi getar getir menghadapi Sasuke Mode Sadis : on. Keluar juga kata-kata pedas dari sang asisten Manager. Biasanya kata-kata pedas itu keluar tanpa sadar, tak terkecuali Itachi yang sering kena semprot Sasuke.

Itachi menggeleng keras.

"Kalau begitu, Bunkasai itu apa?" Tanya Sasuke kembali. Lebih baik Itachi jelaskan saja daripada kena pecat. Kena semprot masih lebih baik daripada keluar dari Restoran ini.

"Bunkasai adalah festifal budaya yang diadakan beberapa hari oleh sekolah setiap tahun. Kadang-kadang ada yang sampai lima hari, tapi ada juga yang menggelarnya hanya satu hari. Setiap kelas atau setiap club bisa menyumbang berbagai macam stan atau pertunjukan. Y—ya, begitulah." Jelas Itachi takut-takut penjelasan singkat ini tidak membuat Sasuke kurang puas.

Tetapi melihat Sasuke yang menyeritkan keningnya terlihat seperti kurang puas, ya.

"Lalu kau ingin libur besok untuk datang ke Bunkasai?" Tanya Sasuke mengembalikan wajah berseri di hadapan Itachi, seperti biasa.

"Bukan. Kelasku mendirikan Stan Cafe di sana, lalu mereka menyuruhku bekerja di bagian dapur, begitu." Jelas Itachi. Sasuke mengangguk mengerti.

"Cafe, ya?" Kata Sasuke. Itachi mengangguk.

"Aku boleh datang?" Tanya Sasuke. Itachi membelalakan matanya. Datang?

"A—Ap—Apa? K—ka—kalau datang, bagaimana—siapa yang akan mengurus Restoran ini besok?" Tanya Itachi terbata. Sebisa mungkin Itachi akan menahan Sasuke untuk tidak datang ke acara Bunkasai sekolahnya. Karena Itachi akan mati seketika kalau Asisten Managernya ini melihat Itachi yang memalukan hanya untuk Bunkasai. Terkutuklah kalian wahai teman-teman sekelas Itachi yang memaksa Itachi menggunakan hal yang memalukan.

Pipi Itachi mengeluarkan semburat merah tipis yang tak di lihat oleh Sasuke.

"Iya. Aku akan datang. Aku ingin melihat Cafe milikmu. Kalau urusan Restoran kan, ada Naruto. Bagaimana?" Tanya Sasuke lagi.

Itachi berusaha berpikir cepat. Jadwal Itachi adalah jam 7 pagi bersamaan dibukanya Cafe, lalu selesai sampai jam 11 siang. Kalau Itachi mengatakan Sasuke boleh datang jam setengah 12 siang dan selama tak membawa Sasuke ke kelasnya, itu akan baik-baik saja. Itachi mengangguk pasti.

"Sasuke-san boleh datang. Tapi datang jam 11.30 ya?"

"Kenapa jam segitu?"

"Karena aku akan selesai bekerja di Cafe kelas jam segitu, kalau Sasuke-san berjalan sendiri, aku jadi tidak enak. Jadi aku akan menemanimu." Ucap Itachi. Sasuke terlihat mengangguk mengerti. Itachi menghela nafas lega. Untunglah Sasuke mau mengerti, Itachi tinggal berusaha untuk besok kalau Sasuke meminta mereka pergi ke Cafe kelas Itachi.

Sepertinya besok akan sangat merepotkan.

.

.

.

.

.

Sasuke mendengar deritan pintu terbuka, mengalihkan pandangan dari laptop di depannya dan melihat seorang pria pirang bertubuh tegap tengah mengosok-gosokan rambut yang sedikit basah. Dan pundak yang juga sedikit basah. Sepertinya Naruto berlari dari parkiran sampai ke Restoran.

"Ah! Lelahnya!" Naruto duduk di kursi samping Sasuke, merilekskan tubuhnya di sandaran kursi panjang itu dan menutup mata. Mengangkat beberapa dus sayuran dan bolak balik berlari menerjang hujan ternyata melelahkan juga. Sasuke menarik laci dan mengambil handuk kecil disana. Melemparkan kewajah Naruto.

Naruto yang hampir terlelap membuka matanya dan mengambil handuk yang barusan dilempar Sasuke ke wajahnya, mulai menggosokan rambut dan kulit lehernya yang basah.

"Aku pikir kau yang akan mengeringkanku." Ucap Naruto yang mendapat kerlingan mata dari Sasuke.

"Besok kau sendirian yang memegang Restoran ya, Naruto?!" Ucap Sasuke tiba-tiba. Naruto menghentikan kegiatan mengeringkan dirinya.

"Kenapa? Kau mau pergi?" Tanya Naruto.

"Aku akan datang ke Bunkasai di sekolah Itachi." Jawab Sasuke.

"Bunkasai? Apa itu?"

"Semacam kegiatan festival budaya yang ada di sekolah. Seperti membuka stan makanan atau pertunjukan. Itachi akan membuka Cafe, katanya. Aku ingin datang. Tidak apa-apa kan?" Pinta Sasuke mengeluarkan jurus memelas yang sangat ampuh pada Naruto. Naruto menelan ludahnya.

Sebenarnya bukan ekspresi memelas, tapi ekspresi menggoda.

Mata Sasuke menutup sebelah, bibir terbuka separuh dan memperlihatkan jenjang lehernya. Yang membuat Naruto tambah gugup adalah, kancing teratas kemeja Sasuke yang terbuka memperlihatkan dada Sasuke. Naruto buru-buru mengaitkan kancing itu kembali dan menghentikan ekspresi gila lainnya yang akan di ciptakan Sasuke di Restoran ini.

Akan sangat berbahaya jika Naruto menyerang Sasuke disini.

"Sepenting itukah, sampai kau mengeluarkan ekspresi seperti itu, Sasuke?" Tanya Naruto.

"Hanya padamu. Lagi pula kalau tidak melakukan ini, tidak memungkinkan kau akan melarangku." Ucap Sasuke. Naruto menatap Sasuke tajam sejenak.

"Nanti malam. 4 ronde." Mutlak Naruto.

"Dengan senang hati."

.

.

.

.

.

~Bunkasai no Shinori Koukou e Youkoso~

Sasuke kembali melihat lembaran kertas yang berada di tangannya. Melirik gapura yang berada di gerbang depan sekolah. Sasuke mengangguk. Ini pasti tempatnya.

Sasuke mengenakan kemeja pendek berwarna putih bercorak dua garis di bagian pundak sampai bawah dan celana hitam bahan, berjalan dengan pelan karena bagian bawahnya dibobol habis oleh Naruto tadi malam. Hanya ingin hadir ke Bunkasai sekolah Itachi, ternyata Sasuke harus rela mengorbankan bagian tubuh bawahnya dibuat persembahan untuk semenya. Sasuke menghela nafas lelah.

Sasuke masuk melewati gapura yang ternyata lumayan bagus. Apa anak-anak yang membuatnya?

Tapi, Bunkasai di sini ramai sekali. Ketika Sasuke berjalan melewati beberapa stan makanan yang berjejer di kanan kiri jalan, beberapa orang yang lewat hampir menabrak pundan Sasuke, kalau saja Sasuke tidak hati-hati saat berjalan.

Beberapa anak terlihat sangat antusias pada acara yang dibuatnya. Banyak sekali yang berteriak menawarkan makanan yang di jual pasa stan makanannya, ada yang berteriak mempromosikan kegiatan dramanya. Tapi tujuan Sasuke hari ini adalah Cafe milik Itachi.

Sasuke berjalan memasuki gedung, dan berhenti di deretan rak-rak besi yang sepertinya untuk sepatu? Sasuke tidak yakin. Sasuke menengok kebeberapa siswa yang lewat dan menanyai dimana Kelas Itachi. Beberapa orang tidak mengenal Itachi, tapi Sasuke tidak meyerah dan terus bertanya pada siswa sekolah ini yang lewat, dan akhirnya usaha Sasuke membuahkan hasil.

Itachi tidak bilang sebelumnya jika Cafenya ada di lantai dua dikelasnya, 2-3. Itachi menyuruh Sasuke untuk menunggu di depan gapura, tetapi Sasuke ingin mengunjungi Cafe Itachi langsung. Kalau begitu, sekarang Sasuke harus menaiki tangga ke lantai dua dan melihat papan kecil diatas pintu—Ah! Itu dia! Kelas 2-3.

Sasuke disambut oleh beberapa siswi di depan pintu menggunakan seragam Butler. Lucu juga.

Sasuke diantar ke meja nomor 3 oleh seorang pemuda yang mengenakan seragam maid. Sasuke sedikit menyeritkan alisnya. Murid-murid disini mengenakan seragam terbalik. Perempuan mengenakan pakaian laki-laki begitu sebaliknya. Apa ini strategi penjualan? Kelihatannya Cafe ini ramai juga. Mungkin ide ini juga akan Sasuke terapkan pada Cafenya untuk menarik lebih banyak pelanggan.

"Mau pesan apa, Tuan?" Pelayan maid tapi laki-laki menghampiri Sasuke sambil menggenggam buku di tangannya. Menyerahkan buku menu di hadapan Sasuke. Buku menu itu unik, buatan tangan dan hanya selembar.

"Kopi dan—" Mata Sasuke berhenti di tulisan Kue coklat asli. Maksudnya apa? "—Kue coklat asli itu maksudnya apa?" Tanya Sasuke. Maid iru tersenyum dan mencoba menjelaskan menu yang mereka miliki di Cafe.

"Maksudnya, Coklatnya masih asli. Belum tersentuh susu dan gula, bisa di pastikan rasanya pahit. Tapi Koki kita bisa mengolah coklat ini dengan versinya. Yah walaupun kue ini masih pahit, tapi koki kami bilang rasa ini cocok untuk orang yang tidak menyukai manis. Bagaimana, tuan? Ingin kue ini?" Tawar Maid setelah menjelaskan. Sasuke rasa kue ini cocok untuk dirinya yang tidak menyukai manis.

"Baiklah, aku pesan itu." Ucap Sasuke sambil menyerahkan lembaran menu. Maid itu mengambil menu yang ada di tangan Sasuke dan membungkuk sopan.

"Kalau begitu mohon tunggu sebentar." Maid itu mulai membalikan badannya meninggalkan Sasuke.

"Ah—tunggu dulu!" Sasuke menahan Maid itu untuk pergi.

"Ada lagi, tuan?" Tanya Maid itu.

"Aku ingin yang mengantar pesananku adalah Uchiwa Itachi." Pinta Sasuke.

"Tapi, tuan, Itachi adalah koki kami. Kami akan kerepotan jika koki kami kekurangan satu orang. Maafkan kami." Ucap Maid itu membungkuk. Meminta maaf pada om-om yang tiba-tiba saja wajahnya terlihat menakutkan ketika permintaan mustahilnya tidak terpenuhi. Maid itu melihat Sasuke menghela nafas dan mulai mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celana. Mengeluarkan satu lembar uang bernilai 10.000 yen.

"Tinggal suruh orang yang mengganti Itachi berkerja lebih awal, kan?" Ucap Sasuke memperlihatkan uang yang ada di tangannya.

"Tu—tunggu sebentar." Si maid berlalu kebelakang kain yang membentang luas di belakang kelas. Sepertinya itu adalah dapur mereka. Sasuke menunggu sekitar 10 menit dengan melihat sekeliling. Cafe yang dibuat seadanya oleh anak-anak berumur 16 tahun ini ternyata cukup elegan juga. Apalagi menu yang mereka keluarkan cukup berat dan tidak murah.

Kalau Sasuke bilang, mereka anak-anak yang berani.

Sasuke pikir, mungkin ide untuk membuat menunya dari Itachi semua. Karena Itachi berani mengambil keputusan di luar akal tetapi sukses besar. Sasuke benar-benar salut dengan anak itu.

"Sa—Sasuke-san?!" Jerit Itachi yang mengundang banyak mata untuk melihatnya. Sasuke menengok saat suara Itachi menjerit menyebut namanya. Seperti yang ia pikirkan, Itachi mengenakan baju maid walaupun Itachi bekerja di belakang. Itachi yang membawa nampan atas pesanan Sasuke masih terdiam di tempatnya dengan mulut menganga. Sepertinya Itachi shock berat.

"Kenapa diam?" Tanya Sasuke yang sanggup membuat Itachi keluar dari keterkejutannya. Itachi terkesiap dan menghampiri meja Sasuke dan menaruh kopi dan kue pesanan Sasuke ke meja.

"Maaf menunggu lama." Ucap Itachi. Sasuke mengangguk. Sasuke melirik Itachi yang masih berdiri di samping meja, alis matanya terangkat melihat Itachi yang dia seperti patung sambil menatapnya.

"Duduklah!" Suruh Sasuke. Itachi kembali terkesiap.

"E—eh? Tidak boleh! Maksudku, seorang pelayan tidak boleh—"

"Duduklah! Aku sudah membayarmu." Perintah Sasuke mutlak. Dan lagipula, apa-apaan itu tadi? 'Membayarmu' katanya? Itu membuat Itachi seperti kupu-kupu malam yang dapat dibayar sesuka hati. Dengan berat hati Itachi menurut dan duduk di bangku yang berhadapan dengan Sasuke.

Sasuke mulai menyendok kue yang terlihat hitam itu, diatasnya terdapat kacang almond. Sangat berkelas dan lezat tentunya.

"Kue ini idemu?" Tanya Sasuke. Itachi mengangguk membenarkan.

"Sassuga! Kalau Itachi yang buat aku tidak kaget. Sangat enak, aku menyukainya." Komentar Sasuke dan kembali menyendok kue itu. Itachi mengucapkan terimakasih dengan terbata.

"Ano.. Sasuke-san. Kenapa datang jam segini? Ini masih jam sepuluh?" Tanya Itachi takut-takut kalau-kalau ia kena semprot lagi.

"Aku tahu pasti kau menyembunyikan sesuatu. Kalau aku tak datang lebih awal, aku tak akan tahu kalau kau benar-benar sedang menyembunyikan 'sesuatu', kan?" Sasuke menfokuskan penglihatannya pada baju maid yang dikenakan Itachi. Sangat lucu. Tapi tidak cocok.

Itachi mengenakan seragam maid berwarna putih dengan panjang di bawah lutut. Dengan renda-renda di sekitar dada dan di sekeliling baju berwarna hitam, lalu di punggung terdapat pita hitam yang lumayan besar. Tak lupa dengan celemek kecil yang berada di bawah dada yang juga berwarna hitam. Ternyata memang tidak cocok untuk Itachi. Karena memang Itachi laki-laki dan tidak manis.

Itachi merasa Sasuke menatap tajam dirinya. Pasti Sasuke sedang memperhatikannya sedang mengenakan baju maid ini. Sudah Itachi katakan pada semua teman sekelasnya kalau ini bukan ide yang bagus. Sekarang Itachi merasa ingin mati saat ini juga karena sang Asisten Manager di tempatnya bekerja melihatnya mengenakan hal yang sangat memalukan.

Sasuke menyelesaikan makannya dengan keheningan. Sasuke berdiri dan meletakan selembar uang di atas meja.

"Kau bilang ingin mengajakku berkeliling kan? Ganti bajumu sekarang. Aku tunggu di depan pintu." Perintah Sasuke. Itachi menghela nafas pasrah, sangat paham akan sifat Sasuke yang suka memerintah seenaknya. Apa itu memang pekerjaannya sebelum dia di Jepang? Atau memang hobinya?

Itachi mengambil selembaran uang yang ada di atas meja, mulai bangkit dari kursi, dan menuju dapur mengganti baju maidnya dengan seragam sekolah. Lebih baik Itachi cepat daripada Sasuke terlalu menunggu lama dan akhirnya Itachi kena semprot lagi.

Suara teriakan beberapa orang terdengar ke telinga Itachi. Itachi menghampiri beberapa temannya yang ada di dapur.

"Ada apa?" Tanya Itachi.

"Listriknya mati. Kami tidak bisa menggunakan microwave dan kompor listrik jika begini." Ucap salah satu temannya. Tiba-tiba listrik kembali menyala. Itachi dan yang lainnya menghela nafas lega. Mereka bisa kembali memasak, semoga saja listrisnya tidak turun lagi.

Itachi mengganti baju maidnya dengan seragam sekolah. Teman-temannya melirik Itachi yang tengah merapihkan kerah seragamnya.

"Hei, Itachi. Laki-laki itu siapa?" Tanya salah satu teman perempuan bername tag 'Izumi' di baju butlernya yang tengah mengatur beberapa gelas kopi di atas nampan.

"Ah.. Dia Manager di tempat kerja part timeku." Jelas Itachi.

"Aku pikir dia pacarmu." Ucap Izumi. Itachi tersedak ludahnya sendiri ketika wanita itu mengatakan hal yang tidak dapat di percaya.

"Ha—Hah? Bisakah kau menerka dengan normal? Seperti 'kupikir dia Ayahmu' atau 'kupikir dia kakakmu' begitu. Kalau pacar—apa kau gila? Yang benar saja. Lagipula dia laki-laki." Itachi keluar dari dapur saat dirasa seragam yang dikenakannya sudah rapih.

Izumi mengelengkan kepalanya pelan saat melihat Itachi keluar dari kelas ketika Izumi mengantarkan beberapa cangkir kopi ke meja pelanggan.

"Soalnya aku lihat laki-laki itu selalu memperhatikanmu." Lirih Izumi melihat Itachi yang menghampiri laki-laki yang disebut Manager oleh Itachi. Laki-laki itu mengusap kepala Itachi dengan lembut sambil tersenyum tipis.

"Di lihat bagaimana juga, senyum itu berbahaya."

.

.

.

.

.

"Maaf menunggu lama, Sasuke-san." Itachi menghampiri Sasuke yang berdiri di depan pintu kelas. Mengusap kepalanya pelan seperti biasa. Lama-lama Itachi merasa kalau dia adalah peliharaan Sasuke.

Itachi dan Sasuke mulai berjalan ke lantai satu. Itachi bilang ingin mengajak Sasuke menonton pertunjukan mini drama yang di buat oleh seniornya. Sasuke mengikut saja.

Suara teriakan keluhan beberapa orang terdengar kembali. Sepertinya listrik kembali turun, membuat beberapa kelas yang mendirikan stan Cafe mengeluarkan keluhannya, karena ini yang kedua kalinya listrik mati. Padahal hari masih siang, dan Bunkasai ini diadakan sampai malam.

"Ada apa?" Tanya Sasuke yang melihat sepertinya terjadi keributan. Itachi mendongak keatas melihat Sasuke—yang memang lebih tinggi Sasuke daripada Itachi.

"Mungkin listrisnya turun lagi." Jawab Itachi seadanya.

"Listrik, ya?" Gumam Sasuke. Itachi mengangguk saat mendengar gumaman dari Sasuke. Sasuke berhenti berjalan dan menatap Itachi. Itachi yang merasa Sasuke berhenti berjalan, ikut berhenti menatap balik Sasuke yang menatapnya.

"Kenapa?"

"Mungkin aku bisa bantu."

.

.

.

.

.
"Disini!" Ucap Itachi menunjukan jalan untuk Sasuke tempat dimana Sasuke 'mungkin' bisa memperbaiki Listrik yang turun.

Di tempat, terlihat ada dua guru yang tengah menyetel listrik itu hidup kembali, tetapi kembali turun. Sudah mereka duga akan seperti ini.

"Mungkin, aku akan menyuruh beberapa anak yang membuat stan Cafe untuk tidak menggunakan kompor listrik sejenak. Sudah kuduga kalau listriknya tidak kuat." Ucap salah satu Guru yang ada di depan panel listri.

"Kalau begitu, mungkin mereka akan protes padaku. Karena pengunjung hari ini terlihat sangat ramai." Sangkal Guru yang satunya.

"Sensei." Panggil Itachi. Dua Guru laki-laki itu menengok ke arah sumber suara yang ternyata adalah muridnya dengan—siapa?

"Itachi-kun, kenapa kesini?" Ucap salah satu Guru yang ternyata adalah wali kelas Itachi.

"Eto.. Pamanku bilang bisa memperbaiki listrik disini, mungkin." Ucap Itachi menunjuk dengan ibu jarinya orang yang ada di samping Itachi yang ternyata adalah pamannya—di pikiran dua Guru itu.

"Maaf, panel listriknya tidak rusak. Hanya daya listriknya tidak kuat. Saya bingung apa yang harus diperbaiki." Ucap wali kelas Itachi.

"Aku bisa mengatasinya. Pak Guru sekalian bisa kembali ke Bunkasai." Ucap Sasuke. Dua Guru itu mengangguk dan berusaha percaya pada paman Itachi ini. Keduanya pamit dan kembali ke kantor guru.

Setelah keduanya pergi dari sana, Sasuke mengulurkan tangan kanannya di depan panel listrik.

"Itachi, apa kau mau menjaga rahasia?" Tanya Sasuke.

"Rahasia?" Itachi memiringkan kepalanya ketika Sasuke mengatakan rahasia. Sasuke mengangguk.

Itachi terkejut di tempat ketika Itachi melihat tangan kanan Sasuke yang sedikit demi sedikit mengeluarkan percikan listrik yang keluar dari tangan Sasuke. Itachi membelalakan matanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Yang ada di mata Itachi itu seperti aliran listrik yang mengalir lalu bersatu di telapak tangan Sasuke. Sasuke mengarahkah tangan kanannya ke panel listrik yang terbuka dan mengalirkan listrik itu dengan perlahan. Setelah listrik yang berada di tangan Sasuke telah hilang, Sasuke kembali menghidupkan beberapa saklar yang ada di sana. Setelah selesai, Sasuke menutup pintu panel listrik itu.

"Lumayan melelahkan juga. Aku jarang mengeluarkannya akhir-akhir ini." Ucap Sasuke dan melihat Itachi yang masih mematung dengan menatap tangan kanan Sasuke. Mungkin ini benar-benar aneh bagi orang-orang yang ada di dunia ini.

"Sihir?" Lirih Itachi. Sasuke mengangkat alis sebelahnya heran. Orang-orang di dunia ini menyebut cakra yang barusan dikeluarkan Sasuke itu sihir? Sasuke baru mengetahui itu.

"Yah, begitulah. Sihir. Bisa di bilang begitu. Apa kau mau jaga rahasia ini?" Tanya Sasuke lagi. Itachi mengangguk kaku.

Tentu saja akan Itachi jaga rahasia ini. Bisa-bisa Sasuke akan dibakar jika semua orang tahu kalau Sasuke adalah penyihir.

Sasuke adalah penyihir.

Asisten Managernya adalah penyihir.

Penyihir.

Penyihir.

Itachi berharap bisa bangun dari mimpinya.

.

.

.

.

.

Tsuzuku