Chapter 8 ~Rei and Rai~
Disclaimer : ©Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)
Genre : Romance, Drama, Tragedy, Fantasy, Friendship, Yaoi, Shounen Ai
Warning : Canon, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, yaoi, dan hal absurd lainnya.
Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!
.
Maaf.. Buat chapter ini aku buat karakter yang gak ada di Anime Naruto. Dan mungkin akan ada beberapa lagi karakter seperti ini.
.
.
.
.
.
"Eh?"
Naruto saat ini sedang kedatangan tamu—tidak! Lebih tepatnya kantor pribadinya saat ini sedang kedatangan koki mereka. Gaara. Salah satu koki terbaik yang Restoran ini miliki.
Seingat Naruto, Gaara tidak punya jadwal shift hari ini, lalu tiba-tiba Gaara masuk ke ruang Manager bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, membuat Naruto sedikitnya agak terkejut dengan tindakan Gaara barusan. Bahkan Gaara tiba-tiba duduk di depan meja kerja Naruto tanpa di persilahkan.
Apa Gaara sudah bosan bekerja? Memintanya secara tidak langsung untuk di pecat, begitu?
Tapi, dari semua yang membuat Naruto terkejut adalah, Gaara yang tiba-tiba mengajaknya keluar. Jalan. Kencan. Sekarang.
Itulah kenapa Naruto mengatakan 'Eh?' dan memasang wajah bingungnya. Apa mksudnya?
"Aku hanya ingin mengajak Pak Manager jalan-jalan sejenak. Istirahat dari pekerjaan juga diperlukan. Lagipula, aku belum pernah melihat Pak Manager mengambil hari libur. Apa di pekerjaan sebelumnya Pak Manager tidak pernah mengambil hari libur?" Jelas Gaara dengan maksud dan tujuan mengajak Naruto istirahat sejenak dari pekerjaannya—yang tentu saja itu adalah alasan.
Naruto menggeleng. "Kalau dipikir-pikir benar juga. Aku tidak pernah mengambil hari libur. Aku terlalu larut dengan pekerjaanku. Bawahanku dulu sering marah-marah padaku, dia menyuruhku untuk Istirahat. Padahal ku pikir aku bisa mengerjakan pekerjaanku lebih keras lagi." Naruto terkekeh mengingat Shikamaru yang terus-terusan mengkhawatirkan Naruto.
Gaara mengangkat alis sebelahnya. "Sasuke-san?" Tanya Gaara.
"Ah, bukan! Ini tentang pekerjaanku yang sebelumnya. Aku punya bawahan yang selalu memperhatikanku. Dia cerewet. Masih lebih baik Sasuke, yang tidak banyak bicara." Gaara menghela nafas mendengar pernyataan Naruto.
"Ternyata benar. Sekali-kali Pak Manager juga harus mengambil libur. Pak Manager butuh Istirahat. Kalau begitu, sekarang aku akan menunggu di parkiran. Kita akan pergi sekarang." Mutlak Gaara yang berlalu begitu saja. Naruto mengedipkan matanya dua kali saat Gaara sudah menghilang di balik pintu.
Gaara berani juga memerintah Manager.
.
.
.
.
.
Sasuke dan Itachi saat ini tengah berada di Salah satu Cafe buatan kakak kelasnya di lantai satu, tetapi Cafe ini hanya menyediakan menu Es krim dan di jam-jam tertentu, mereka akan mengadakan mini drama. Saat ini Itachi dan Sasuke tengah menyaksikan teater ala kadarnya sambil memakan es krim—sebenarnya hanya Itachi yang makan.
Sasuke bilang padanya kalau Sasuke tidak menyukai manis. Dan tidak ada rasa Green tea juga di menu, jadi Sasuke tidak makan apa-apa. Itachi juga bingung sendiri, padahal Es krim itu manis dan sangat enak. Kesukaan Itachi.
Tapi, ide tentang membuat kue coklat pahit itu hanya kebetulan.
Mini drama itu lumayan menarik. Bercerita tentang dua sahabat laki-laki yang berusaha menemukan pembunuh guru di sekolahnya. Berlagak ala detective, kedua sahabat itu menemukan pembunuh guru mereka yang ternyata adalah siswi populer di sekolah.
Ternyata si siswi itu punya hubungan gelap dengan si guru. Padahal dua pemuda itu menyukai si perempuan. Mau tidak mau, mereka menyerahkan si perempuan kepada hukum. Akhir yang tragis.
Itachi bertepuk tangan dengan keras saat tirai tertutup. Sambil menyeka air matanya yang menggenang dan kembali memberika Applause pada para kakak kelasnya yang memberikan teater dengan cerita yang sangat menyentuh. Apalagi sambil menikmati Es krim yang manis dan dingin. Ide yang brilian.
Sasuke dan Itachi berjalan keluar dari kelas dan berkeliling melihat stan-stan yang dirasa cocok untuk dikunjungi.
"Kau menangis." Ucap Sasuke. Itachi menyedok ingusnya.
"Bukan! Hanya terharu. Ceritanya menyedihkan. Mereka berdua memilih untuk menyerahkan wanita yang mereka sukai pada polisi daripada menutupi kejahatannya." Komentar Itachi pada drama barusan.
"Kalau Sasuke-san, apa yang akan Sasuke-san lakukan jika orang yang kau cintai membunuh orang lain?" Tanga Itachi menatap Sasuke. Sasuke balik menatap Itachi, dan memutuskan pandangan mereka. Mulai memperhatikan stan yang menerima ramalan masa depan di ujung koridor.
Sasuke memikirkan jika Naruto membunuh seseorang. Membunuh orang yang penting. Lalu Sasuke mengetahuinya. Apa yang Sasuke lakukan?
"Mungkin—akan kuputuskan untuk kabur dengannya. Membantunya untuk jauh dari polisi." Jawab Sasuke. Sebenarnya ini akan benar-benar dilakukan Sasuke jika Naruto membunuh seseorang. Tidak ada jaminan bahwa Naruto tidak akan di hukum mati jika orang yang dibunuh orang penting.
"Sasuke-san ternyata orang yang setia, ya?!" Ucap Itachi. Sasuke menatap Itachi yang balik menatapnya dengan senyuman.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, Sasuke-san akan melakukan apa saja walaupun itu berbahaya hanya untuk melindungi orang yang Sasuke-san cintai." Jelas Itachi.
"Tentu saja, kan? Itu bukanlah hal yang aneh." Sasuke menanggapi. Itachi mengangguk paham.
"Tapi tetap saja, itu ide yang konyol." Itachi menggeleng pelan dan terkekeh. "Kalau aku, aku akan menunggu dia." Lanjut Itachi.
"Menunggu?"
"Iya. Tetap saja itu adalah kejahatan. Aku akan menyerahkan orang yang kucintai pada polisi, lalu aku akan menunggu selama mungkin. Ku pikir itu adalah cinta sejati." Itachi menatap Sasuke yang tidak mengeluarkan ekspresi apapun.
"Aku salah ya?" Tanya Itachi. Sasuke tersenyum tipis dan menepuk puncak kepala Itachi, lalu mengusapnya.
"Cinta seseorang itu banyak bentuknya. Setiap orang memiliki bentuk yang berbeda-beda." Ucap Sasuke. Mengucapkan kalimat memalukan seperti ini membuat mengingatkannya pada seseorang yang saat ini di cintainya. Itachi tersenyum paham.
"Sasuke-san punya seseorang yang Sasuke-san cintai?" Tanya Itachi. Mereka berjalan belok naik melewati tangga. Itachi mengajaknya ke atap, katanya disana ada yang menjual takoyaki. Memakan takoyaki panas di udara yang sejuk ini—karena langit sedang mendung—adalah hal yang nikmat. Sasuke mengangguk menurut.
"Tentu ada." Jawab Sasuke santai.
"Enaknya. Aku bahkan belum pernah jatuh cinta. Aku tidak tahu bagaimana rasanya." Komentar Itachi.
"Kau akan tahu rasanya kalau waktunya tiba. Tetapi kalau kau berani jatuh cinta, kau harus berani patah hati."
"Aku tahu itu. Orang-orang selalu mengatakan itu." Itachi cemberut.
"Mereka mengatakan itu karena tahu seberapa sakitnya saat patah hati. Bahkan kau merasa sampai ngin bunuh diri." Jelas Sasuke.
"Iya, iya. Aku mengerti."
Sasuke tersenyum kecil dan mengacak-acak rambut Itachi.
Saat mereka ingin menaiki tangga menuju atap, Sasuke melihat dua orang anak yang terlihat familiar. Dua anak laki-laki yang sepertinya seumuran dengan Itachi berjalan melewati Sasuke dan Itachi.
Ketiganya berhenti dan membelalakan matanya. Itachi yang berjalan di samping Sasuke ikut berhenti dan menatap Sasuke dan dua teman sekelasnya sedang melakukan pelotot-pelototan. Mereka berdua berani sekali memelototi Sasuke seperti itu, kalau kena semprot bisa panjang urusannya.
"Sasuke-sama?" Ucap keduanya. Lalu terkekeh kemudian. Keduanya menggeleng dan membungkuk meminta maaf. Lalu berjalan melewati Sasuke yang masih mematung. Sasuke berbalik mengejar dua anak itu dan menangkap pergelangan tangan salah satu dari anak itu yang Sasuke panggil—
"Rei?" Ucap Sasuke tiba-tiba. Keduanya kembali terbelalak.
"A—ano.. Yang Sasuke-sama pegang adalah Rai. Aku Rei." Ucap Rei yang menunjuk saudaranya—Rai, dan menunjuk dirinya sendiri—Rei.
Keduanya terkejut ketika mereka sepertinya Sasuke-sama yang ini adalah Sasuke-sama yang mereka kenal. Keduanya menatap Sasuke dengan keterkejutan yang luar biasa. Sasuke juga terkejut, karena sepertinya, ia telah menemukan dua korban yang pernah diculik oleh Shinori.
"Tidak mungkin! Sasuke-sama?!" Rei terlihat menggelengkan kepalanya dan mencengkram rambutnya. Rai yang melihat saudaranya mulai menenangkan Rei yang sepertinya terlihat sangat shock saat itu.
"Itachi. Tinggalkan kami sebentar." Itachi mengangguk dan memutuskan untuk lebih dulu menuju ke atap. Sepertinya Sasuke dan kedua teman barunya saling mengenal. Biarkan Itachi berikan waktu untuk mereka bertiga.
.
.
.
.
.
"Kau benar-benar niat ya membawaku jalan-jalan?" Naruto menggerutu di sepanjang jalan di dalam mobil. Bagaimana tidak? Gaara mengajak Naruto menaiki berbagai taman bermain di tempat ini, lalu mereka kembali melakukan perjalanan yang katanya akan menuju akuarium raksasa.
"Aku yakin, sebenarnya yang butuh jalan-jalan itu, dirimu." Ucap Naruto. Gaara tertawa kecil.
"Maaf, Pak Manager. Aku terlalu senang bisa jalan-jalan denganmu." Ucap Gaara.
"Oh iya. Nanti malam kita sekalian makan malam." Lagi-lagi keputusan sepihak dari Gaara kembali di lontarkan. Naruto menghela nafas dan mengeluarkan smartphonenya yang baru saja dibelinya, memutuskan untuk bermain game saja.
Ah.. Sekalian menghubungi Sasuke bahwa Naruto akan pulang larut.
"Pak Manager, bolehkah aku meminta sesuatu?" Tanya Gaara yang tengah menyetir. Naruto yang berada di sebelahnya hanya bergumam karena sedang fokus mengirim E-mail pada Sasuke. Gaara yang mendengar gumaman dari Naruto dan mulai berdeham.
"Bolehkah aku memanggil Pak Manager dengan nama Pak Manager?" Tanya Gaara melirik sekilas Naruto. Naruto memasuki smartphonenya dalam kantung celananya dan menatap Gaara yang tengah menyetir.
"Namaku?" Tanya Naruto. Gaara mengangguk.
"Naruto?" Panggil Gaara. Naruto agak terkejut sedikit karena ini pertama kalinya Gaara memanggil Gaara menggunakan nama depannya dan tanpa embel-embel apapun. Naruto sedikit heran, Gaara ini sebenarnya berani atau kurang ajar? Tapi Naruto juga sedikit terkesan.
"Asal jangan memanggilku begitu di tempat kerja." Ucap Naruto. Gaara tersenyum mengangguk mengerti.
"Terimakasih." Gaara berharap usahanya yang sedikit nekat ini kedepannya tidak akan mengkhianatinya.
.
.
.
.
.
Sasuke bersama Rei dan Rai duduk di kursi panjang di ujung lorong di samping tangga menuju atap. Raut wajah mereka terlihat serius karena memang pembicaraan ini sangat serius.
"kalian selama ini tinggal dimana?" Tanya Sasuke.
"Kami di adopsi oleh dua orang yang telah menikah. Kami berdua ditemukan di pinggir danau di sebelah rumah sepasang suami istri yang tinggal disana. Ketika itu mereka bertanya siapa kami dan tempat tinggal kami, mungkin mereka pikir kami menjawab dengan ngelantur lalu mereka mengizinkan kami untuk tinggal di rumah mereka." Jelas Rei.
"Mereka pikir kami agak kurang waras karena selalu mengoceh tentang dunia ini yang sungguh berbeda dengan dunia kami, maka dari itu sepasang suami istri itu memutuskan untuk mengadopsi kami. Mau tidak mau, kami mulai membiasakan tinggal di dunia ini. Kami berdua bahkah di sekolahkan." Jelas Rai sambil menunjukan seragam yang dikenakannya.
"Betul. Mereka pikir kami anak yang kabur dari panti asuhan karena pengurus dari panti asuhan jahat. Mungkin itu hanyalah alasan mereka karena memang dari awal mereka menginginkan kami untuk menjadi anak mereka." Jelas Rei.
"Ah.. Sepasang suami istri itu tidak memiliki anak." Lanjut Rai. Sasuke mendengar penjelasan si kembar dengan baik. Si kembar ternyata tinggal dengan orang-orang yang baik. Kalau begitu, Sasuke tidak perlu khawatir.
"Sasuke-sama, bagaimana bisa ada di sini?" Tanya Rai.
"Sama seperti kalian. Karena Shinori." Jawab Sasuke.
"Apakah mungkin bersama Hokage-sama?" Tanya Rei. Sasuke mengangguk. Rai dan Rei sudah menduga ini. Mereka mendengar kalau Sasuke Sang Shinobi satu-satunya yang bisa mengimbangi kekuatan sang Hokage, telah pulang dari perjalanan jauhnya ke Konoha. Mereka tentu tahu kalau Sasuke-sama dengan Hokage bersahabat, maka dari itu, ketika Mereka berdua melihat Sasuke berada di dunia ini, mungkin saja dengan Sang Hokage, Sasuke terlempar ke dunia ini.
"Ketika kejadian yang kalian alami, kalian berdua sedang ada di hutan kan? Apa yang kalian lakukan disana?" Tanya Sasuke. Rai dan Rei menggelengkan kepalannya dengan cepat.
"Kami saat itu sedang tidak di dalam hutan, kami saat itu sedang bersama teman-teman kami. Sesuai perintah dari Hokage, kami tidak pernah berdua. Tetapi saat itu, kami mendengar suara yang sedang memanggil kami, tetapi suara itu masuk ke dalam hutan. Lalu ketika kami mengikuti suara itu, kami mendengar—" Kalimat Rai terpotong. Sepertinya Sasuke mengerti apa yang akan di jelaskan lebih lanjut lagi oleh Rai.
"Tak apa. Aku mengerti. Tak perlu di teruskan." Ucap Sasuke. Rai dan Rei mengangguk paham.
"Aku dan Naruto masuk ke dunia ini sehari setelah kalian." Ucap Sasuke. Rai dan Rei menatap Sasuke terkejut. Hanya selang sehari?
"Ketika kalian terperangkap oleh Shinori, aku ada disana, dan mencoba menahan kalian berdua. Tetapi gagal." Lanjut Sasuke.
"Ah.. Begitu ya? Kalau begitu, Sasuke-sama dan Hokage-sama sudah empat bulan juga tinggal di sini. Lalu—"
"Apa?!" Ucapan Rai terpotong oleh Sasuke.
"Apa kau bilang? Empat bulan?" Tanya Sasuke. Rai dan Rei mengangguk.
"Iya kan? Sasuke-sama bilang, Sasuke-sama masuk ke dunia ini setelah kami kan? Hanya selang satu hari, maka dari itu Sasuke-sama sudah empat bulan ada di dunia ini, kan? Sama seperti kami." Jelas Rai.
"Tidak! Tidak! Tidak! Aku dan Naruto baru tiga bulan ada di sini." Ucap Sasuke. Tiba-tiba terlintas di pikiran mereka semua kalau ini adalah masalah waktu.
"Selang satu hari di Konoha, itu artinya satu bulan di dunia ini?" Gumam Rei. Rai mengangguk setuju.
"Kalau begitu, ini sudah tiga bulan. Pasti sudah ada beberapa orang baru yang di kirim ke dunia ini. Berarti, sebentar lagi akan ada dua orang lagi." Ucap Rai.
"Apa kalian pernah bertemu orang-orang dari Konoha?" Tanya Sasuke.
"Maksudnya? Aku bertemu semua orang yang ada di Konoha di dunia ini. Tetapi dengan umur yang berbeda, atau kadang ada yang sama. Bahkan aku pernah bertemu dengan Ayahku yang meninggal waktu perang dunia Shinobi ke 4. Ayah kami disini masih muda." Jelas Rei sambil menghentakan kakinya kesal. Rai mengangguk menyetujui kata-kata dari Rei. Tinggal di dunia ini membuatnya gila.
"Maksudku, korban dari Shinori." Ucap Sasuke. Keduanya menggeleng.
"Hanya Sasuke-sama." Jawab Rei. Sasuke menghela nafasnya. Sasuke juga pertama kalinya bertemu dengan korban Shinori.
"Apa kalian punya kertas dan pulpen?" Tanya Sasuke. Rei mengeluarkan buku siswanya dan memberikan pulpen pada Sasuke. Sasuke membuka buku siswa itu dan menulis sesuatu disana.
"Oh iya. Bisakah kalian jangan memanggil Naruto, Hokage-sama atau Nanadaime-sama disini? Cukup panggil Naruto." Ucap Sasuke menatap buku kecil diatas pahanya yang ia torehkah beberapa tulisan diatasnya.
"Kami mengerti." Rei dan Rai mengangguk paham.
"Ini adalah alamat apartemen tempat tinggalku dan Naruto sekarang. Kalau ada apa-apa kalian berdua bisa berkunjung. Dan sudah aku tulis juga alamat tempatku dan Naruto bekerja. Ini Restoran. Mungkin kalian bisa sekedar makan-makan dan mengobrol masalah ini dengan kami disana." Sasuke menyerahkan buku siswa itu pada Rei.
"Terimakasih, Sasuke-sama. Kalau begitu kami permisi dulu. Kami ada jadwal mengurus Cafe kami di kelas. Kalau sempat, mungkin Sasuke-sama bisa hadir ke Cafe kami." Pinta Rei. Rai dan Rei bangkit dan membungkuk mengucapkan terimakasih.
"Kelas kalian berdua sama dengan Itachi kan? Aku sudah mampir tadi." Ucap Sasuke. Keduanya mengangguk dan kembali membungkuk dalam mengucapkan terimakasih. Setelah itu pamit dan berlari kecil turun menuju kelasnya.
Sasuke menghela nafas, dan mulai menaiki tangga ke atap. Sepertinya Sasuke membuat Itachi lama menunggu. Kalau begitu, untuk makanan selanjutnya, bukan ide yang buruk jika Sasuke yang membayar.
.
.
.
.
.
Malam ini, Gaara mengantar Naruto pulang dengan selamat sampai tujuan ke apartemennya. Naruto membuka pintu mobil itu lalu mengucapkan terimakasih atas jalan-jalan yang diberikan oleh Gaara. Naruto tersenyum dan melambaikan tangannya ketika mobil Gaara berjalan menjauh dan mengecil sampai tidak terlihat di ujung jalan.
Naruto menghela nafasnya lelah, jalan-jalan seharian seperti ini sangat melelahkan. Gaara menyeretnya kesana kesini seperti orang kerasukan.
Ah.. Akuarium tadi sangat indah. Mungkin Naruto akan mengajak Sasuke kesana kapan-kapan.
Naruto melangkah menuju apartemennya dan membuka pintu. Tidak dikunci. Itu berarti Sasuke sudah pulang.
Lampu didalam menyala dan kamar mandi sedang dipakai. Naruto melihat dua futon disana telah digelar. Sasuke keluar dari kamar mandi dengan lilitan anduk di bagian bawah tubuhnya. Menuju lemarinya mengambil beberapa potong baju.
"Tadi aku bertemu Rei dan Rai. Kau ingat mereka? Dua Chunin yang diculik oleh Shinori. Mereka berdua ada di dunia ini. Aku baru saja bertemu mereka." Ucap Sasuke mulai memakai pantsu nya. Naruto melotot saat ingin menaruh smartphone dan dompetnya di atas meja kecil di ujung tembok.
"Mereka ada disini juga? Sudah kuduga. Semua korban Shinori juga ke dunia ini." Naruto meremas dagunya. "Lalu bagaimana mereka?"
"Mereka baik-baik saja. Ada dua orang suami istri yang mengurus mereka." Naruto mengangguk paham. Melepaskan kancing jaket di pergelangan tangannya.
"Kau tahu? Ternyata satu hari di konoha sama dengan satu bulan di dunia ini." Sasuke berbalik menghadap Naruto saat dirasa sudah memakai pakaiannya dengan lengkap.
"Apa?! Itu berarti, di konoha sudah tiga hari berlalu?" Naruto hanya mangut-mangut. Sasuke menyeritkan keningnya melihat Naruto yang seolah-olah tidak peduli akan waktu di Konoha dengan dunia ini. Mungkin saja Naruto benar-benar melupakan tempat lahurnya. Tanah airnya.
Sama seperti Sasuke. Yang mulai tidak mempersalahkan saat mereka berada di dunia ini. Yang mulai tidak peduli.
Tapi, istri dan anaknya?
"Aku mendengar suara mobil." Ucap Sasuke mulai memakai pajamanya. Naruto mengangguk sambil melepas jaket yang dikenakannya dan digantung disamping jendela. Naruto merebahkan tubuhnya diatas futon dan mulai merilekskan tubuhnya.
"Iya." Jawaban yang sangat singkat, Naruto. Sampai membuat Sasuke ingin membunuhmu saat ini juga.
Sasuke telah selesai dengan pakaiannya dan mulai menatap tajam Naruto yang telah menutup matanya.
"Kau baru pulang jalan-jalan dengan orang itu, lalu langsung tertidur. Mandilah dulu, Naruto! Bau badanmu seperti wangi parfumnya." Sasuke menarik kaki Naruto dan menyeret tubuh Naruto keluar dari Futon menuju kamar mandi.
"Kupikir kau sedang jalan kemana, ternyata—Ugh—kau pergi dengan si rambut api itu." Ucap Sasuke masih berusaha menyeret Naruto—hanya dengan satu tangan—masuk ke kamar mandi. Naruto membuka matanya dan menghentikan perbuatan Sasuke yang menyeretnya dengan kesusahan dan mulai berdiri masuk ke kamar mandi.
Sekilas mencium bibir Sasuke sebelum pergi ke kamar mandi. Sasuke mendengus atas perbuatan Naruto dan mulai berjalan menuju futon, menyamankan tubuhnya pada futon setelah mematikan lampu.
Naruto mengeringkan rambutnya yang basah setelah keluar dari kamar mandi hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada. Naruto melihat Sasuke yang telah tidur duluan tanpa menunggu Naruto. Mungkin dia marah. Ini juga salahnya tidak bilang pada Sasuke kalau ia sedang jalan-jalan bersama Gaara. Mungkin Sasuke sedang cemburu. Begitupun Naruto, kadang kala cemburu pada Itachi yang selalu mendapatkan perhatian khusus dari Sasuke.
Naruto masuk kedalam selimut dan memeluk Sasuke. Sasuke yang hampir masuk kedalam mimpinya terbangun karena gerakan yang diberikan oleh Naruto. Sasuke melepaskan pelukan dari Naruto dan membelakanginya.
Naruto tersenyum kecut dan kembali memeluk Sasuke dari belakang. Menghirup dalam-dalam tengkuk leher itu membuat Sasuke kegelian.
"Hentikan!" Sasuke berontak dalam pelukan Naruto berusaha melepaskan diri, tetapi pelukan Naruto terlalu kuat sampai akhirnya Sasuke menyerah. Naruto membalikan tubuh Sasuke menghadapnya dan menenggelamkan wajah Sasuke pada dadanya. Naruto menghirup dalam puncak kepala Sasuke.
Sepertinya, Sasuke sedang ngambek sekarang.
"Sasuke. Kau tahu, kan, aku hanya mencintaimu." Ucap Naruto. Naruto hanya mendapat tanggapan dari Sasuke yang memperdalam tubuhnya pada tubuh Naruto, menghirup dalam wangi tubuh dada bidang itu. Naruto tersenyum melihat Sasuke nya terlihat sangat posesif.
"Kau harusnya tidak jalan bersamanya." Akhirnya Sasuke menyuarakan kekesalannya sedari tadi. Sasuke meraba punggung telanjang Naruto dan terus menghirup wangi dada bidang itu.
"Iya, iya. Maafkan aku. Dia memaksaku keluar. Lain kali aku akan menolak. Aku tidak mungkin meninggalkanmu setelah aku mendapatkanmu setelah semua yang terjadi, kan?" Naruto makin mengeratkan pelukannya. Sasuke mendongak melihat wajah Naruto yang tersenyum padanya.
"Setelah semua yang terjadi dalam hidupku—" Naruto membuat tubuhnya sejajar pada Sasuke.
"Mana mungkin aku melepaskanmu semudah itu." Naruto memajukan wajahnya menyentuh bibir yang selama ini menjadi kesukannya. Sasuke memiringkan wajahnya agar mempermudah Naruto menciumnya. Sasuke membalas ciuman itu yang lama-lama menjadi pangutan, lalu menjadi lumatan.
Setelah lama pangut memangut, serasa keduanya kehabisan okesigen, memutuskan pangutan mereka berdua yang masih menyatukan saliva mereka berdua. Saling menatap dengan sayu. Naruto menuju leher jenjang Sasuke dan membuat tanda di leher putih itu.
"Aku mencintaimu, Sasuke." Sasuke hanya mendesah disela-sela Naruto membuat kissmark lalu mengucapkan betapa ia mencintai si Raven.
"Ahh!" Sasuke meremas rambut Naruto saat Naruto melancarkan aksinya turun ke dadanya. Di titik sensitifnya. Sasuke ingin lagi, lebih dari ini.
Sasuke juga mencintainya. Sangat mencintainya. Tidak akan Sasuke lepaskan Naruto pada si rambut api itu.
Tentu saja.
.
.
.
.
.
Tsuzuku
