Chapter 9 ~Caught~

Disclaimer : ©Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)

Genre : Romance, Drama, Tragedy, Fantasy, Friendship, Yaoi, Shounen Ai

Warning : Canon, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, yaoi, dan hal absurd lainnya.

Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!

.

.

Warning! Warning! Warning! Warning! Warning! Warning! Warning! Warning! Warning! Warning! Warning! Warning! Warning! Warning! Warning! Warning! Warning! Warning! Warning! Warning!

Khusus chapter ini, agak nyerempet ke rating M ya... Maafkan saya 🙏
Semoga gak ada yang minta lemon 😋

.

.

.

.

.

Naruto membelalakan matanya terkejut luar biasa—Tidak! Sangat sangat sangat terkejut lebih dari kata-kata luar biasa. Apa ada kata-kata yang lebih dari luar biasa? Pokoknya Naruto saat ini, di tempat ini, Restoran ini, di kursi kerjanya ini, benar-benar hari yang buruk, sepertinya.

Haruskah kita memutar beberapa waktu lalu?

.

Gaara masuk kedalam ruang Manager tanpa mengetuk pintu seperti biasa. Tapi Gaara berlaku seperti itu hanya saat Sasuke tidak ada. Naruto melirik seseorang yang masuk, yang ternyata adalah Gaara, memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya di depan laptop.

Gaara berjalan menghampiri Naruto dan berdiri disamping Naruto.

"Ini sudah bulan kedua." Ucap Gaara. Naruto mengangkat sebelah alisnya heran. Gaara yang tiba-tiba masuk tanpa permisi lalu berkata seperti itu di depan Naruto, membuat Naruto agaknya bingung juga.

"Maksudmu?" Naruto menghentikan pekerjaannya di depan laptop lalu menatap Gaara yang kini berdiri di hadapannya.

"Aku pernah bilang waktu itu padamu, dua bulan yang lalu, jika dua bulan kedepan aku memberikanmu sesuatu padamu. Ingat?" Gaara berkata sambil meremas tali tas selempangnya. naruto memiringkan kepalanya kesamping.

"Benarkah? Ah. Iya." Ucap Naruto pura-pura ingat, padahal ia memang lupa. Apa memang Gaara mengatakan itu dua bulan yang lalu? Kalau memang begitu, lebih baik pura-pura ingat saja.

"Sebentar lagi musim panas berakhir, dan musim gugur akan datang. Ah, tidak! Musim gugur sepertinya sudah datang? Terserah. Apa kau tahu apa artinya?" Gaara menaik turunkan alisnya sambil tersenyum jenaka. Naruto makin menaikan alis sebelahnya bingung. Gaara menghela nafas, sepertinya Pak Managernya mulai pikun.

"Hari ini ulang tahunmu." Ucap Gaara tersenyum lebar. Naruto tersentak sejenak langsung tersenyum paham.

"Oh ya? Aku lupa. Kau ingat, ya? Hebat." Ucap Naruto. Gaara mengeluarkan sesuatu dari dalam tas selempangnya dan memberikan bungkusan persegi berwarna oranye lalu diberikan pada Naruto. Naruto menerima dengan senyum sumringan. "Hee.. Kado untukku? Terimakasih. Kau sampai repot-repot begini."

Gaara menggelengkan kepalanya. "Tidak apa."

"Ah.. Ngomong-ngomong, kenapa kau ingat ula—" Naruto membelalakan matanya terkejut luar biasa—Tidak! Sangat sangat sangat terkejut lebih dari kata-kata luar biasa. Apa ada kata-kata yang lebih dari luar biasa? Pokoknya Naruto saat ini, di tempat ini, Restoran ini, di kursi kerjanya ini, benar-benar hari yang buruk, sepertinya.

Gaara merendahkan tubuhnya agar kepala itu dapat menjangkau bibir sang Manager. Gaara menyentuhkan bibirnya pada Naruto. Hanya kecupan kecil tapi sanggup membuat dunia Naruto runtuh dalam sekejap.

Naruto memang memuji keberanian dan kekurang ajaran karyawannya ini, tapi kalau ini sudah kelewatan.

Gaara melepaskan kecupan ringan itu dan tersenyum tipis pada Naruto.

"Happy Birthday." Ucap Gaara langsung berlalu dari hadapan Naruto. Sasuke yang baru masuk berhadapan dengan Gaara yang ingin keluar ruangan. Gaara membungkuk sedikit didepan Sasuke lalu keluar dari ruang Manager menuju tempat parkir karena memang hari ini shiftnya sudah selesai.

Sasuke melihat Naruto yang mengeluarkan tatapan kosong sambil memegang kotak bungkus persegi berwarna oranye. Pasti dari si koki kurang ajar itu. Tapi kenapa Naruto menatap objek yang tidak terlihat didepan dengan tatapan kosong? Sepertinya dia belum sadar Sasuke ada di depannya.

"Hei, Naruto." Sasuke menyentuh pipi Naruto. Naruto terkesiap sadar dari keterkejutannya dan menatap Sasuke dengan wajah ingin menangis. Naruto bangkit dari duduknya dan langsung menubruk tubuh Sasuke. Naruto memeluk tubuh orang yang dicintainya ini dengan erat.

"Tenang saja, Sasuke. Aku hanya mencintaimu. Orang yang kucintai hanyalah dirimu. Jadi kau tidak perlu khawatir. Aku akan selalu ada untukmu. Karena aku mencintaimu." Cerocos Naruto tidak jelas. Sasuke yang bingung dengan sikap Naruto yang tiba-tiba balas memeluk om-om blonde ini.

"Kau kenapa? Kau sudah Gila, ya?!" Ucap Sasuke. Naruto menarik kepalanya menatap Sasuke sejenak dan langsung melancarkan aksi yang paling handal dilakukan oleh Naruto. Sasuke sedikit terkejut akan tindakan dari Naruto tetapi Sasuke tetap membalas ciuman dari Naruto.

"Aku memang sudah gila. Aku sudah tergila-gila padamu." Ucap Naruto saat melepaskan ciuman mereka.

Naruto kembali melumat bibir Sasuke dan dibalas oleh Sasuke. Melupakan kejadian barusan, meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak memiliki pikiran berselingkuh dengan yang lain. Sasuke adalah sosok yang sangat sempurna, tidak mungkin Naruto mau berselingkuh dengan anak muda itu.

"Pak Manager! Gawa—" Itachi masuk dengan tiba-tiba saat adegan di depan mata yang tidak ingin dilihatnya berlangsung. Naruto dan Sasuke melepaskan diri mereka dan menghapus jejak saliva yang tertinggal di dagu mereka.

Itachi yang kaget langsung menutup pintu. Anehnya, Itachi menutup pintu tanpa membawa dirinya keluar ruangan. "Maaf. Kupikir akan ada orang lain yang lihat."

Sambil menghadap pintu dan membelakangi Naruto dan Sasuke, Itachi berkata lirih. "Aku tidak tahu hubungan mereka ternyata seperti itu." Itachi kembali tersentak saat ingat untuk apa tujuannya kemari.

"Pak Manager, Gawat!" Teriak Itachi. Naruto dan Sasuke bertingkah pura-pura tak terjadi apa-apa—walaupun mereka tahu itu tak akan berpengaruh di depan Itachi—lalu menghampiri Itachi yang memasang wajah panik.

"Kau kenapa?" Naruto menepuk kedua pundak Itachi menenangkan.

"Ada yang aneh di luar." Itachi keluar dengan berlari. Naruto menaikan alis sebelahnya menatap Sasuke. Sasuke hanya mengangkat pundaknya tidak peduli, lalu mengikuti Itachi yang tadi sudah berlari keluar dengan santai. Naruto mengikuti Sasuke dibelakang.

Saat sampai di depan, terlihat pintu masuk kaca sudah hancur. Kaca yang pecah berceceran dimana-mana. Beberapa orang karyawan terlihat menyapu kaca-kaca dibawah dan beberapa membungkukan badan meminta maaf pada para pelanggan. Naruto melihat beberapa pelanggan, ada yang masih memasang ekspresi kaget dan shocknya.

"Apa yang terjadi?" Akhirnya Naruto angkat bicara. Beberapa pelayan menengok wajah Manager mereka yang terlihat seperti ingin makan orang. Salah satu pelayan wanita menjelaskan apa yang baru saja terjadi.

"Tadi ada orang aneh yang tiba-tiba masuk kedalam Restoran, dia berdiam diri dipintu masuk sambil mengedarkan pandangannya. Karena itu sangat menganggu, saya menghampiri bermaksud untuk duduk di meja jika ingin makan. Tetapi dia malah mengeluarkan Shinai* dan menghancurkan beberapa barang di sekitar sini. Dia juga menghancurkan kaca pintu." Jelas pelayan wanita itu. Naruto mengerut semakin tajam dan membuat pelayan wanita itu semakin takut. Padahal Manager mereka belum pernah memperlihatkan wajah marah seperti ini.

"Apa salah satu dari kalian tidak ada yang mengejar mereka?" Tanya Naruto.

"Saya sudah mengerjar orang itu ketika dia pergi. Ketika saya sudah hampir mengejarnya, orang itu menghilang. Padahal aku yakin, dia berlari menuju jalan buntu." Ucap salah seorang pelayan laki-laki itu. Terlihat memang keringat yang mengalir diantara pelipis dan lehernya.

"Lalu kalian ingat wajah orang itu kan?" Tanya Naruto. Semua pelayan mengangguk. Salah satu pelanggan remaja memakai seragam sekolahnya menghampiri Naruto dengan selembar kertas.

"Aku menggambarkan sketsa wajah orang itu. Ku pikir ini akan bermanfaat." Naruto meraih kertas itu dan melihat wajah orang gila yang sudah menghancurkan Restorannya tanpa alasan. Naruto tidak pernah melihat wajah ini sebelumnya. Naruto menyerahkan kertas itu pada Sasuke.

"Terimakasih. Ini sangat membantu." Ucap Naruto tersenyum. "Telepon polisi. Lalu jelaskan padaku, kenapa aku bisa tidak bisa mendengar jika ada keributan disini!" Naruto bersedekap didepan karyawan-karyawannya. Salah satu orang karyawan mulai mengeluarkan handphonenya dan memanggil polisi.

"Nona Tsunade sengaja membuat ruangannya kedap suara, agar suara yang dihasilkan Nona Tsunade tidak mengganggu yang lain. Karena Nona Tsunade sering bermain video game atau sekedar berkaraoke." Jelas salah satu karyawan wanita. Naruto menepuk keningnya. Tsunade menciptakan hal yang tak berguna.

"Dan aku tidak tahu itu sampai sekarang." Desah Naruto.

.

.

.

.

.

Naruto dan Sasuke membungkukan badannya pada mobil polisi yang melaju meninggalkan halaman Restoran. Naruto menghela nafas ketika mobil polisi itu telah berjalan jauh dan menghilang dari pandangannya.

Naruto melirik Sasuke yang masih memegang kertas sketsa wajah—karena sketsa wajah itu sebelumnya telah diperbanyak untuk kebutuhan polisi—'si orang kurang kerjaan' itu. Begitulah Naruto menyebutnya. Naruto pikir, orang itu hanya sekedar iseng, atau memang sudah gila. Atau mau cari sensasi? Naruto tidak peduli. Yang penting sekarang Naruto menginginkan pertanggungjawaban dari orang itu.

Naruto menatap wajah samping Sasuke yang terlihat sangat serius menatap lembar kertas di tangannya itu. "Ada apa, Sasuke?"

Sasuke menghela nafas. "Sepertinya aku pernah melihat orang ini. Tapi dimana? Aku tidak ingat." Jelas Sasuke masih menatap sketsa wajah itu. Naruto menaikan alis sebelahnya.

"Kau pernah lihat? Kalaupun pernah lihat mungkin orang itu hanya kebetulan lewat didepanmu." Tebak Naruto lalu berjalan masuk kembali kedalam Restoran. Naruto menatap pintu kaca itu sudah bolong. Mungkin ia akan memanggil orang untuk memperbaiki pintu itu sekarang juga.

Sasuke mengangguk setuju. "Kau benar, mungkin saja itu kebetulan." Sasuke mengikuti Naruto di belakang masuk kedalam Restoran. Naruto berhenti di depan salah satu karyawan lalu 'mengatakan jika ada beberapa orang yang ingin memperbaiki pintu Restoran, langsung perbaiki saja dan jangan memanggilku.' katanya. Sasuke pikir Naruto langsung memperbaiki kerusakan tanpa menunggu orang itu tertangkap dan meminta ganti rugi.

Mungkin terlalu merepotkan.

Setelah sampai di ruang kerja mereka, Naruto duduk di kursi kerjanya dan meraih gagang telepon yang berada di ujung meja. Beberapa percakapan Sasuke tangkap di telinganya, memesan pintu kaca dan meminta langsung datang untuk dipasangkan. Naruto menyelipkan gagang teleponnya diantara pundak dan telinganya, lalu Naruto menyalakan laptopnya, sepertinya ia melakukan transaksi via internet pada tukang yang tadi Naruto telepon. Setelah ia berkata bahwa uang telah di transfer, sepertinya tukang yang berada di seberang telepon akan segera datang kesini.

Naruto menutup teleponnya dan bersender di senderan kursi. Menutup matanya, merenungkan hal yang baru saja terjadi. Sudah 5 bulan dan Tsunade belum pulang. Lalu ada beberapa kejadian yang sangat aneh di sekitarnya.

Mulai munculnya si Chunin kembar, lalu perlakuan Gaara yang barusan. Naruto sangat lelah. Ia ingin bermesraan dengan Sasuke dengan damai. Ah.. Mungkin ia akan mengajak Sasuke jalan-jalan.

Sasuke menatap Naruto yang terlihat lelah. Dari awal masuk ruang kerjanya, Sasuke menatap selalu wajah Naruto. Saat Naruto bersikap dan berekspresi marah pada karyawannya, lalu saat dia memesan pintu kaca untuk Restoran ini dengan wajah yang serius, lalu wajah lelahnya ini, sangat tampan. Sasuke tidak pernah bosan untuk memandang wajah orang yang sudah berkepala tiga itu.

Naruto membuka matanya dan menatap Sasuke yang juga menatapnya. Naruto menyeret kursinya lalu berhadapan dengan Sasuke. Sasuke yang kaget, karena tiba-tiba Naruto ada di hadapannya, menyeringai dengan wajah yang mengerikan.

"Kita lanjutkan yang tadi." Ucap Naruto. Tangannya mulai membuka kancing kemeja atas Sasuke. Sasuke menahan tangan Naruto yang bermaksud ingin menelanjanginya.

"Apa? Disini? Kau gila? Bagaimana jika ada yang masuk?" Naruto menghela nafanya dan langsung bangkit dari duduknya. Menuju pintu dan memutar kuncinya dari dalam. Naruto mulai menuju Sasuke dan duduk di pangkuan Sasuke.

"Kita baru saja mendapatkan info yang menarik kan? Ruangan ini kedap suara. Aku baru tahu itu dan aku punya ide bagus menggunakannya. Lagipula, kau lupa, ya? Hari ini hari ulang tahunku, kan?" Naruto menggenggam kedua pipi Sasuke. Menunduk mendekat kearah wajah Sasuke, sampai jarah wajah mereka hanya 5milimeter yang tersisa.

"Aku tahu itu. Tapi Kita bahkan sudah melalukannya tadi malam."

"Bagaimana jika aku memintanya lagi?"

"Tapi, tapi—apa harus disini?" Sasuke menjauhkan wajahnya dari Naruto.

"Disini! Sekarang!" Naruto menyeringai penuh kemenangan ketika melihat Sasuke yang pasrah saja. Naruto mulai melumat mulut seseorang yang berada di bawahnya dan melepas kemeja itu.

Dan pertarungan panas itu pun mereka mulai.

.

.

.

.

.

Tukang yang dipanggil Naruto telah sampai di Restoran. Beruntung ketika para tukang itu datang, pelanggan terakhir pun sudah keluar dari Restoran. Dengan begitu para karyawan memasang tulisan didepan jalan masuk jika ada perbaikan. Maka para tukang itu bisa memperbaiki pintu itu dengan leluasa.

Sedangkan para Karyawan lainnya ikut membantu para tukang jika para tukang itu membutuhkan sesuatu. Ada yang sekedar duduk santai dan bersih-bersih. Shisui yang sedang mengobrol kecil dengan salah satu tukang, melirik Itachi yang memangdang keluar jendela dengan tatapan kosong.

Shisui menghampiri Itachi dan menepuk pundaknya pelan. Itachi terlihat tersentak dan menatap Shisui dengan bingung, kemudian Shisui tertawa pelan. "Ini sudah sore dan kau masih melamun. Kau bisa kerasukan setan nantinya."

Itachi cemberut dengan imutnya ketika Shisui mengejek Itachi. Pipi Shisui mengeluarkan semburat merah tipis ketika melihat juniornya ini cemberut dengan menggelembungkan pipnya dengan imutnya. Sanking imutnya, Shisui tidak tahan untuk memakan Itachi saat ini juga.

Shisui duduk disamping Sasuke dan merangkul bak sahabat.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Shisui. Itachi berhenti menggelembungkan pipinya dan menatap Shisui yang berada di sebelahnya. Seniornya dalam urusan masak-memasak.

"Aku ingin bertanya, tapi pertanyaan ini agak aneh. Aku tidak yakin ingin menanyakan ini, tapi aku penasaran. Jadi jangan tertawakan aku, ya?!" Itachi menunjuk dengan telunjuknya di depan wajah Shisui dengan nada perintah. Shisui mengangguk dan melahap dan mengigit kecil telunjuk Itachi yang berada di depan wajahnya.

Itachi terkejut dengan apa yang dilakukan Shisui dan langsung mencabut telunjuknya dan mengelap telunjuknya yang terkena air liur di baju seragamnya Shisui.

Ini adalah kebiasaan buruk Shisui. Dia akan melahap apa saja yang ingin dilapahnya. Itachi sering dilahap oleh Shisui, mulai dari kuping, hidung, tangan, leher, dan lain-lain. Itachi awalnya tentu sangat kaget, tapi lama-kelamaan ia sudah terbiasa akan kelakuan absurd seniornya.

Shisui agaknya bingung juga dengan sikap Itachi yang masa bodoh. Seharusnya dengan kelakuan Shisui pada Itachi, Itachi harusnya bisa menangkap jika Shisui menyukai dan ingin memiliki Itachi. Atau Itachi bisa membenci Shisui karena sikap kurang ajarnya terhadap Itachi. Tetapi Itachi masih terlalu polos untuk bisa berpikir sampai kesana. Bahkan Shisui tidak yakin, sebenarnya Itachi itu polos atau bodoh.

"Begini, apa bisa seorang laki-laki dan laki-laki saling mencintai?" Tanya Itachi. Dan keluarlah sudah Itachi dan kepolosa—kebodohannya ini. Shisui menghela nafasnya. Apa yang harus ia jawab atas pertanyaan yang koyol ini?

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Shisui mulai meraup leher jenjang milik Itachi itu, dan seperti biasa, Itachi menjauhinya dengan tidak peduli.

"Apa kau baru saja melihat seorang laki-laki dengan laki-laki sedang berciuman?" Tebak Shisui yang mendapatkan bulatan mata yang lebar dari Itachi. Bingo!

"Kok tahu, sih?" Itachi memandang Shisui takjub.

"Pasti yang kau lihat itu Pak Manager dengan Sasuke-san kan?" Tebak Shisui lagi dan pelototan mata Itachi semakin melebar. Bingo lagi!

"Kau membaca pikiranku, ya?" Shisui heran, kenapa ia bisa menyukai anak SMA yang polo—bodoh ini.

"Terlihat, kok." Ucap Shisui santai. Itachi memiringkan kepalanya sambil mengatakan kata andalannya.

"Maksudnya?" Itu dia! Kata andalannya! Yang membuat Shisui dan orang-orang disini malas berbicara pada Itachi.

"Maksudku, tingkah mereka berdua kelihatan sekali jika mereka punya hubungan. Tapi mereka bisa menutupinya dengan baik. Sepertinya tidak ada orang yang tahu sampai saat ini." Jelas Shisui dan dibalas anggukan oleh Itachi yang Shisui sangat yakin, bahwa Itachi masih belum mengerti walaupun sudah menganggukan kepalanya.

"Benarkah?" Tanya Itachi. Shisui tertawa.

"Tidak. Aku bohong. Sebenarnya aku tidak tahu mereka berpacaran jika aku tidak melihat mereka berdua berciuman." Itachi kembali melebarkan matanya.

"Kau melihat mereka berciuman? Dimana?" Tanya Itachi bersemangat. Shisui menatap langit-langit mengingat adegan yang tak sengaja ia lihat.

"Aku tidak tahu kapan. Aku lupa. Pokonya, mereka berciuman di depan toilet ketika Restoran sepi." Ucap Shisui sambil berbisik di telinga Itachi. Itachi meneguk saliva nya.

"Kau mau tahu apa yang terjadi selanjutnya?" Tanpa sadar Itachi mengangguk. Jujur saja Itachi pun penasaran. Jadi maksud Sasuke yang memiliki orang yang di cintainya itu adalah Pak Managernya.

Shisui berdehem sebelum memulai ceritanya.

"Ketika itu, Pak Manager Mendorong Sasuke-san ke tembok. Ah.. Aku akan panggil Pak Manager dengan sebutan mr. N." Itachi mengangguk.

"Mr. N mulai meraba pasangannya, di dada, lalu turun sampai ke perut. Pasangannya mendesah kala Mr. N menurunkan tangannya pada selangkangannya." Itachi kembali meneguk salivanya. Shisui yakin, jika Itachi tidaklah bodoh untuk mengerti hal semacam ini.

"Setelah itu, mereka berciuman kembali dan mulai memasuki toilet. Kau pasti tahu apa yang akan terjadi selanjut—Ouch, Sakit." Shisui mendapat jitakan telak dan menyakitkan dari Kakashi. Kakashi juga termasuk koki senior di Restoran ini.

"Jangan kau kotori otak suci Itachi dengan ceritamu yang tidak berguna itu." Kakashi yang ada di belakang mereka kembali menjitak kepala Shisui.

"Sakit, pak tua. Lagipula, sejak kapan kau sudah berada di sana?" Shisui mengusap-usap kepalanya sendiri saat ia yakit ia tak akan geger otak.

"Sejak kau cerita tentang Mr. N sedang bersama pasangannya. Lagipula, siapa itu Mr. N?" Kakashi bersidekap didepan Shisui dan Itachi. Shisui menghela nafas dalam hati, bagulah tidak ketahuan.

"Berisik. Itu adalah Nana Sensei, dosenku di kampus. Itachi mana tau dengan orang mesum itu." Kalau mengangguk ketika nama Nana disebutkan. Ia hapal betul dengan dosen mesum di kampus Shisui itu. Mereka pernah berteman sejak berada di falkutas yang sama. Walaupun sama-sama mesum, tetapi Kakashi tidak pernah grepe-grepe orang.

"Walaupun begitu, kau tidak baik bercerita seperti itu dengan Itachi. Jangan buat otak suci Itachi sama kotornya denganmu." Kakashi menoyor kepala Shisui yang terakhir kalinya lalu berlalu masuk ke dalam dapur.

"Begitulah. Ngomong-ngomong, kau melihat mereka berciuman dimana?" Tanya Shisui kembali pada topik pembicaraan mereka sebelumnya.

"Apa maksudmu? Aku tidak kenal siapa itu Nana Sensei. Aku tidak pernah melihat Nana Sensei berciuman dengan pasangannya." Shisui menepuk kepalanya. Ia benar-benar ingin memakan Itachi saat ini juga. Shisui penasaran, cara apa yang digunakan Itachi saat menjalankan promosi pada Restoran ini.

"Bukan. Maksudku Pak Manager dengan Sasuke-san." Itachi mengangguk paham.

"Ahh.. Itu. Aku melihat mereka tadi. Saat aku ingin melaporkan kejadian ini. Aku memergoki mereka tengah berciuman." Shisui membelalakan matanya lebar.

"Kau yakin? Itu berarti mereka tahu kau melihat mereka?"

"Yah, begitulah. Mereka saat itu langsung melepaskan diri dan bertingkah seolah tidak ada apa-apa." Shisui mengangguk mendengar penjelasan dari Itachi. Shisui meringai dan tertawa kecil. Sedang memikirkan ide tiba-tiba saja muncul di kepalanya.

"Mereka baru tahu kalau ruangan kerja mereka kedap suara. Mungkin saja mereka sedang melakukan itu." Ucap Shisui terkekeh sendiri. Itachi memiringkan kepalanya bingung akan kata-kata dari Shisui.

"Itu?"

.

.

.

.

.

"Na—Naruto. Aku—Akh" Sasuke meremas sandaran kursinya.

"Sasuke!" Naruto merasa jika apa yang ingin ia keluarkan sedari tadi telah keluar 'didalam' Sasuke. Naruto Dan Sasuke terengah-engah di akhir kegiatan mereka. Sasuke yang menumpukan lututnya di atas kursi kerjanya, sedangkan bokongnya menungging kebelakang.

TOK TOK TOK

Naruto mendecih ketika mendengar suara ketukan di pintu. Naruto mengeplak mengeluarkan 'Bendanya' dari 'dalam' Sasuke.

"Ahh." Bahkan hanya begini saja, Sasuke mendesah. Naruto membawa Sasuke duduk di kursi di belakang meja. Sasuke hanya mengenakan atasan dan celananya telah Naruto copot. Berbeda dengan Naruto yang masih berpakaian lengkap. Celana yang tergeletak di lantai, Naruto ambil dan menyimpannya di bawah kolong meja yang tertutup dari depan.

Setelah membenarkan celanannya, Naruto menuju pintu. Memutar kuncinya dan membuka pintu itu. Disana Terlihat Itachi yang berdiri di depan pintu dengan tampang polosnya. Seperti biasa.

"Ada apa?" Naruto dengan tampangnya yang tidak bersahabat—karena berani mengusik kegiatannya—tidak membunuh rasa penasaran Itachi. Itachi datang kesini untuk membuktikan sesuatu, setelah dijelaskan dari Shisui jika Naruto dan Sasuke sedang melakukan itu. Itachi mengerti sekarang, apa yang di maksud dengan itu.

"Apa kau sedang melakukan 'itu' dengan Sasuke-san?" Tanya Itachi.

"Hah?" Naruto menyeritkan keningnya tidak mengerti.

"Apa kalian sedang melakukan 'itu' tadi?" Tanya Itachi lagi.

"Itu?"

"Sex." Ucap Itachi dengan gamblangnya. Naruto membulatkan matanya dan mencengkram pipi Itachi—yang membuat Itachi manyun—dengan tangan kanannya.

"Dengar!" Desisi Naruto merasa ia sangat marah saat ini.

"Kalau kau bilang ini pada siapapun, kubunuh kau!" Desis Naruto lalu menghentakan pipi Itachi. Naruto masuk kedalam ruangan dan kembali menutup pintu. Sudah Naruto duga, Naruto memang tidak pernah menyukai Itachi. Tapi kalau Sasuke tahu jika Naruto baru saja melakukan hal yang seperti itu pada karyawan kesayangannya, mungkin Naruto yang akan membunuh Sasuke.

"Sakit." Lirih Itachi mengelus pipi yang dicengkram Naruto. Shisui mengintip dari balik tembok, lalu menghampiri Itachi yang masih mengelus pipinya yang memerah.

"Huu.. Kau membangunkan macan yang sedang tertidur." Shisui menepuk pundak Itachi dan tertawa.

"Sepertinya mereka benar-benar sedang melakukan 'itu', ya?" Shisui meremas dagunya sambil mangut-mangut.

"Shisui, jangan bilang siapa-siapa tentang ini. Nanti aku bisa di bunuh." Ucap Itachi yang masih meringis mengelus pipinya. Shisui melirik pipi Itachi yang memang memerah. Shisui mulai mengelus pipi Itachi dengan kedua tangannya.

"Tadi keras sekali, ya?" Itachi mengangguk. Jujur, itu sangat sakit sekali. Kalau Itachi boleh menangis, Itachi sudah menangis dari tadi.

Shisui menunduk kebawah mendekat kewajah Itachi, dan mulai merauh pipi Itachi—kembali. Itachi memutar kedua matanya dan berusaha melepaskan jilatan yang dilakukan Shisui. Tapi kali ini, Shisui tidak akan sengaja melepasnya.

"Shisui, lepaskan!" Itachi makin gencar mendorong kepala Shisui, dan Shisui juga semakin gencar menjilat pipi Itachi. Setelah sekian lama memberontak, akhirnya Itachi menyerah dan membiarkan Shisui melakukan apa yang dia mau. Shisui tidak takut ketahuan, karena semua orang tengah mengobrol di depan sambil melihat tukang-tukang itu bekerja.

Itachi menjilat pipi kanan Itachi lalu berpindah ke pipi kiri. Tetapi perpindahan itu melewati bibir Itachi tanpa memgangkatnya terlebih dahulu. Tentu saja itu adalah modus Shisui. Menggunakan kebodohan Itachi pada kesempatan ini. Kesempatan dalam kesempitan ini tidak boleh di sia-siakan.

Tapi kalau dipikir-pikir, Itachi tidak merasa jijik sama sekali. Kenapa ya?

.

.

.

.

.

Naruto berjalan kearah Sasuke yang masih duduk di kursinya.

"Ada apa?" Tanya Sasuke. Naruto menggeleng.

"Tidak." Naruto duduk di kursi kerja Sasuke dan memandang 'junior' Sasuke yang masih tertidur.

"Apa?!" Sasuke sepertinya risih dipandangi seperti itu oleh Naruto. Naruto melirik 'junior' Sasuke yang sepertinya telah bangun dari tidurnya.

"Hee.. Baru kupandangi saja sudah berdiri." Ucap Naruto menyeringai.

"Berisik!"

"Mau dilanjut?" Naruto memajukan tubuhnya mengecup pelan bibir Sasuke. Sasuke menatap tajam Naruto.

"Cari cara yang menantang! Yang tidak biasa!" Perintah Sasuke. Naruto kembali menyeringai. Kalau itu, tentu saja keahlian Naruto.

"Yes, my lord. I'll do it. Just for you!"

Sasuke balas menyeringai. Sasuke suka ini.

.

.

.

.

.

Tsuzuku .

Kyaaaaaaaaaaaaaaaa~~~~ Maaaaapppppppp kan aku 😭😭😭
Sudah buat cerita begini.. Uuuuuu... #SemogaGakAdaYangMintaLemon #SemogaGakAdaYangMintaLemon