Touken Ranbu © DMM & Nitroplus
Monochrome Love Story © Riren18
Pair : Ishikirimaru & Nikkari Aoe
Genre : Romance, friendship, and hurt/comfort
Warning : Boys Love Story, typo, gak sesuai EYD, little OOC, alur gaje, dan masih banyak kekurangan lainnya.
Saya hanya meminjamkan karakternya saja dan tidak mengambil keuntungan apapun dalam cerita ini :)
.
.
.
.
.
Berkas demi berkas cahaya mulai menerangi suatu ruangan yang masih tertutup tirai. Nikkari pun masih terlelap dalam mimpinya. Sementara Ishikirimaru sudah bangun terlebih dahulu dan bahkan sudah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Nikkari.
Setelah menyelesaikan acara memasak dan menata perlengkapan untuk sarapan, Ishikirimaru pun langsung pergi menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Ishikirimaru hanya bisa menggelengkan kepalanya dan dia pun melangkahkan kakinya untuk membuka tirai yang masih tertutup.
Srak!
Gorden yang semula menutupi jendela kini sudah terbuka dan tentu saja membuat tidur Nikkari terusik dan perlahan-lahan Nikkari pun membuka matanya.
"Selamat pagi, Nikkari-san. Apakah tidurmu nyenyak? "
Suara ramah milik Ishikirimaru langsung menyergap indra pendengaran Nikkari dan segera Nikkari mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk.
"Ah! Maaf aku bangun kesiangan, Ishikirimaru-san. Selamat pagi juga. "
"Tidak apa-apa, Nikkari-san. Oh, ya, Nikkari-san mau mandi atau sarapan dulu?"
"Eh? Maksudmu? "
"Aku bertanya padamu ingin mandi atau sarapan dulu, Nikkari-san. "
"Jika boleh aku ingin mandi dulu. "
"Baiklah. Aku akan siapkan airnya dulu di bathtub. "
Tanpa menunggu respon dari Nikkari, Ishikirimaru langsung berjalan menuju kamar mandi yang ternyata letaknya terhubung dengan kamar Ishikirimaru. Sementara itu Nikkari hanya bisa pasrah di perlakukan dengan sangat baik oleh Ishikirimaru.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian Ishikirimaru pun kembali dan kini dia sudah berada di dekat ranjang tidur tempat Nikkari masih terduduk.
"Airnya sudah siap. Mari ku bantu untuk ke sana. "
"Tapi... "
"Aku tidak ingin luka di kakimu menjadi tambah parah karena memaksakan untuk berjalan. "
"Baiklah. Tapi, apakah gendongannya bisa di ubah ? Jujur aku merasa tidak biasa saat di gendong seperti kemarin olehmu, Ishikirimaru-san. Bukannya tidak suka, hanya saja terasa aneh. "
"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Maaf jika kemarin aku menggendongmu begitu. "
"Ishikirimaru-san tidak perlu meminta maaf padaku. "
"Iya ya. Baiklah sekarang kau lepas bajumu dan celana luarmu."
"Eh? Bu...buka baju dan celanaku? Di sini? "
"Iya. Apakah ada masalah? Lagipula kau dan aku sama-sama lelaki, bukan? "
"Iya sih. Tapi, aku merasa kurang nyaman jika harus hampir telanjang di depan orang lain. "
"Ah kau benar juga. Nanti aku keluar dulu sebentar. Oh, ya, tunggu sebentar. "
Ishikirimaru pun berjalan menuju lemari dan mengambil sesuatu dari dalam situ. Tak lama dia kembali ke tempat Nikkari berada.
"Setelah baju dan celana luarmu di lepas, kau pakai baju handuk ini saja. "
"Baiklah. Terima kasih, Ishikirimaru-san. "
"Sama-sama, Nikkari-san. Jika sudah beres, segera saja panggil aku. "
"Ok. "
Ishikirimaru pun keluar dari kamarnya. Sementara itu Nikkari mulai membuka baju dan celana piyama yang dipakaikan Ishikirimaru tadi malam. Setelah itu Nikkari langsung memakai baju mandi yang diberikan Ishikirimaru tadi.
Entah kenapa kebaikkan hati Ishikirimaru membuat Nikkari merasa ingin menangis. Menangis karena terlalu bahagia karena baru kali ini ada seseorang yang begitu ramah dan peduli padanya.
Setelah dirasa selesai, akhirnya Nikkari pun memanggil Ishikirimaru dari dalam kamar...
"Ishikirimaru-san! Aku sudah selesai! "
Tak lama pintu pun terbuka dan sosok Ishikirimaru pun masuk ke dalam kamar. Setelah sampai di dekat ranjang tidur, Ishikirimaru membalikkan tubuhnya ke arah lain lalu berjongkok.
"Ayo naik, Nikkari-san! "
"Eh? "
"Katamu kan tidak suka di gendong seperti sebelumnya dan aku memilih untuk menggendongmu dengan cara seperti ini. Apakah kau tidak suka juga di gendong seperti ini?"
"Aku hampir lupa. Maafkan Ishikirimaru-san. Di gendong seperti ini tak masalah bagiku. Baiklah, aku akan segera naik. "
Nikkari pun perlahan melingkarkan tangan dan memberatkan tubuhnya ke arah punggung Ishikirimaru. Dalam sekejap, Ishikirimaru bangun dari posisi sebelumnya dan dia pun berjalan menuju kamar mandi bersama Nikkari yang kini telah berada di gendongan piggy back.
Sementara itu Nikkari menatap sosok yang kini menggendongnya. Harum sabun mandi serta shampo yang dipakai Ishikirimaru entah kenapa membuat Nikkari merasa tenang.
'Kelihatannya biasa saja tapi setelah dilihat dari dekat, ternyata Ishikirimaru-san punya tubuh yang bagus juga. Bahunya bidang dan otot serta tubuhnya terbentuk dengan sempurna. Walaupun aku belum melihat secara langsung tapi aku dapat merasakannya. '
Tak lama keduanya sudah berada di dalam kamar mandi. Ishikirimaru pun memposisikan Nikkari di pinggiran bath tub.
"Sekarang Nikkari-san silahkan membersihkan diri. Handuknya ku taruh di bagian atas toilet duduk. Sabun, shampo, sikat gigi serta pasta giginya sudah taruh di atas tutup toilet duduk. Untuk pakaiannya nanti ku siapkan dulu dan ku taruh di kasur saja. "
"Baiklah. "
"Aku keluar dulu. "
Ishikirimaru pun keluar dan menutup pintu kamar mandi. Tak lama terdengar suara air yang cukup deras beradu dengan lantai marmer kamar mandi yang dingin.
.
.
.
.
Setelah menyelesaikan membersihkan diri dan sudah berganti pakaian, Nikkari dan Ishikirimaru kini menuju ruang makan.
Seketika Nikkari merasa kagum sekaligus lapar melihat makanan yang berada di atas meja makan. Sederhana tapi harum masakkannya entah kenapa membuat perut lapar.
Kini Nikkari sudah berada di kursi makan yang berhadapan dengan kursi Ishikirimaru.
"Maaf ya Nikkari-san. Aku hanya bisa membuatkan sarapan yang sederhana. Aku belum sempat membeli bahan makanan lainnya. Aku harap Nikkari-san suka dengan menunya. "
"Jangan berkata seperti itu, Ishikirimaru-san. Ini sudah lebih dari cukup dan aku menyukai menunya. "
"Benarkah? "
"Iya benar. Jika kakiku sudah sembuh, nanti aku yang akan memasak sarapan untuk Ishikirimaru-san. "
"Syukurlah jika kau suka menunya dan ku nantikan masakanmu. Ayo kita segera makan sebelum dingin! "
"Ayo! "
Setelah mengucapkan ittadakimasu, keduanya pun mulai makan jatah sarapan masing-masing.
Nikkari pun mulai menyuapkan telur dadar gulung serta sedikit nasi ke dalam mulutnya dan seketika dia merasa senang karena sudah lama dia tidak merasakan masakan rumah yang enak. Tanpa sadar Nikkari tersenyum karena saking senangnya dan Ishikirimaru ikut tersenyum tanpa Nikkari tahu.
Keduanya pun makan dengan nikmat hingga perlahan lauk serta nasi mereka mulai habis karena di makan.
.
.
.
.
Setelah selesai makan dan membereskan peralatan makan, Ishikirimaru dan Nikkari pindah ke ruang tamu untuk sekedar duduk di sofa.
Hening dan sunyi adalah suasana yang di ciptakan oleh keduanya setelah selesai sarapan. Entah karena terlalu kenyang atau bingung ingin membahas soal apa.
Ting tong!
Suara bel pun memecahkan keheningan di antara keduanya. Segera Ishikirimaru berjalan menghampiri pintu. Tak butuh waktu lama akhirnya Ishikirimaru kembali bersama dengan dua orang laki-laki bertubuh tinggi.
"Oya, ternyata dirimu sudah sadar dan syukurlah kau tampak sehat. Aku senang melihatnya. "
"Eh? Maksudmu apa? "
Seketika Nikkari bingung saat lelaki berambut navy blue pendek berbicara padanya.
"Ah maaf! Mikazuki Munechika adalah namaku. Aku dan Ishikirimaru itu bersaudara, namun beda ibu. Semalam aku membantu Ishikirimaru untuk membawamu ke sini. Senang berkenalanmu."
"Begitu ya. Perkenalkan namaku Nikkari Aoe. Terima kasih atas bantuannya, Mikazuki-san. Senang berkenalan dengamu juga."
"Oh, ya, Aoe-san perkenalkan ini Kogitsunemaru. Bisa dibilang dia ini kekasih sekaligus tunangan ku. "
"Salam kenal, Nikkari Aoe-san. "
"Salam kenal juga, Kogitsunemaru-san. "
Akhirnya Kogitsunemaru dan Mikazuki duduk di sofa yang berada di seberang sofa dimana Nikkari dan Ishikirimaru duduk.
"Ishikirimaru... "
"Ada apa, Mikazuki? "
"Aku haus. Buatkan aku minum dong~"
"Buat saja sana sendiri. Kau biasanya begitu bukan kalau main ke sini? "
"Buuuu! Ishikirimaru jahat sama aku! Mikazuki sedih! "
Mikazuki pun pura-pura menangis sambil memeluk kekasihnya dan sang kekasih hanya bisa tersenyum maklum sambil menepuk kepala Mikazuki pelan.
"Haaaa...baiklah akan ku buatkan minuman. Dasar adik manja. "
Saat mendengar ucapan Ishikirimaru barusan, Mikazuki langsung mengubah posisinya menjadi duduk tegak dan dia pun tersenyum. Seketika Ishikirimaru ingin melempar adiknya dari jendela kamar.
"Terima kasih, kakak ku yang baik hati. Oh, ya, Kogitsune bagaimana kalau kau bantu Ishikirimaru membuat minum? "
"Kejam sekali kau dengan kekasihmu sendiri, Mikazuki. "
"Tidak apa-apa, Ishikirimaru. Daripada mengerjakan sendiri, lebih baik berdua biar lebih cepat, bukan? "
"Kogitsune memang pengertian banget. Mikazuki jadi tambah sayang sama Kogitsune~"
Seketika Ishikirimaru ingin muntah mendengar perkataan adiknya barusan. Entah kenapa Ishikirimaru merasa kasihan pada calon suami Mikazuki itu.
Akhirnya kini tinggal Nikkari dan Mikazuki yang berada di ruang tamu. Keheningan pun sempat terjadi di antara mereka tapi tak bertahan lama karena Mikazuki memutuskan untuk memecahkan keheningan di antara mereka...
"Aoe-san, kau tidak berniat jahat pada Ishikirimaru kan? "
"Tentu tidak. Aku tidak mungkin menjahati orang yang telah menolongku. Jika aku berbuat jahat padanya sama saja aku tidak tahu diri dan aku tak mau hidup seperti dulu lagi. "
"Eh? Seperti dulu? Apa maksudmu? "
"Untuk sekarang aku belum bisa menceritakannya. Bahkan Ishikirimaru-san belum ku beritahu. Jika sudah waktunya pasti akan ku ceritakan. Namun, setelah di tolong oleh Ishikirimaru-san dan dirimu entah mengapa rasanya kehidupanku terasa lebih baik. Ya...seperti memulai lembaran baru dalam hidupku. "
"Begitu ya. Maafkan aku yang telah berprasangka tak baik padamu, Aoe-san. "
"Tak apa-apa. Aku mengerti karena aku orang asing di sini dan kecurigaanmu padaku tentu sebuah hal yang wajar. Etto... Mikazuki-san apakah benar Kogitsunemaru-san itu tunanganmu? Bukannya kau dan dia sama-sama lelaki? "
"Kau orang keberapa kali bertanya ini padaku. Untuk jawabannya tentu saja benar jika Kogitsune adalah tunanganku. Aku dan dia sudah di jodohkan sejak kami berdua masih kecil. Perjodohan itu atas permintaan kakekku. Intinya sih kakekku ingin salah satu cucunya menikah dengan keturunan keluarga Kitsune dan kebetulan aku suka dengan Kogitsunemaru maka aku bersedia menerima perjodohan itu. Terlihat agak aneh tapi aku bahagia bersama Kogitsune. "
Mikazuki pun mengakhiri ceritanya dengan sebuah senyuman yang mencerminkan betapa bahagianya dia bisa di jodohkan dengan Kogitsunemaru.
"Menurutku tidak aneh dan aku turut bahagia melihatmu bahagia, Mikazuki-san. "
"Terima kasih. Oh, ya, aku ingin tahu pendapatmu soal kakakku. "
"Soal Ishikirimaru-san? "
"Yup. "
"Jika di tanya soal itu aku bingung bagaimana menjelaskannya. Tapi, Ishikirimaru-san orang yang sangat baik, ramah, dan juga lembut serta peduli. Entah kenapa aku merasa kagum padanya. "
"Jangan bilang kalau kau suka padanya. Kau suka pada kakakku. "
Seketika wajah Nikkari memerah dan dia pun salah tingkah. Seketika tawa Mikazuki meledak melihat Nikkari yang salah tingkah. Tapi tak lama dia berhenti karena Mikazuki takut Nikkari marah padanya.
"Maaf...maaf...tapi sungguh reaksimu sungguh lucu sekaligus jujur. Tapi, apakah benar kau suka pada Ishikirimaru? "
"Aku bingung, Mikazuki-san. Tapi, aku merasa sangat nyaman saat bersama dirinya. Apakah itu artinya aku suka padanya? "
"Soal itu hanya dirimu yang tahu, Aoe-san. Tapi, jika benar kau mencintai Ishikirimaru suatu saat nanti maka tolong cintai dengan tulus dan jangan sakiti hatinya. Ishikirimaru belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun dan ku harap Aoe-san bisa membuat Ishikirimaru bahagia walau aku sendiri tak tahu bagaimana perasaan Ishikirimaru padamu. "
"Akan ku usahakan namun aku tidak bisa berkata untuk berjanji karena aki tidak tahu ke depannya akan seperti apa. "
"Aku mengerti. Ah, mereka berdua sudah kembali. "
Ishikirimaru dan Kogitsunemaru pun kembali sambil membawa camilan dan 4 gelas berisi teh hijau hangat yang ditaruh di atas nampan.
"Kalian berdua tampak serius sekali wajahnya. Apa yang sedang kalian bicarakan? "
"Hanya sekedar obrolan biasa dan seputar kehidupan. Benar kan, Aoe-san? "
"Iya. Kami berdua hanya membicarakan hal-hal biasa dan seputar kehidupan. "
"Nikkari-san kau tidak dipaksa oleh adikku kan? "
"Tidak sama sekali, Ishikirimaru-san. "
"Syukurlah kalau begitu. "
"Lebih baik kita segera nikmati tehnya sebelum mendingin. "
Pada akhirnya keempat orang itu pun menikmati teh hangat dan camilan sambil berbincang-bincang.
.
.
.
.
Hari demi hari berlalu dan kini Nikkari sudah bisa berjalan kembali. Tentu saja Nikkari merasa senang dengan hal itu karena kini tidak lagi merepotkan Ishikirimaru.
Kamar kosong yang ada di sebelah kamar Ishikirimaru kini sudah resmi menjadi kamar milik Nikkari. Tentu saja kamar yang di tempati Nikkari sekarang dibersihkan dan dibereskan oleh mereka berdua.
Sejak sudah bisa berjalan lagi, Nikkari pun melakukan apa yang dikatakannya sewaktu pertama kali bertemu dengan Ishikirimaru. Ya...dia tidak ingin menumpang secara cuma-cuma atau gratisan. Setidaknya dia bisa membantu Ishikirimaru dalam membersihkan dan merapihkan rumah.
Setelah membereskan rumah, Nikkari pun memasak makan malam. Nikkari membuat udon untuk makan malam dan Nikkari berharap bisa membuat udon yang enak untuk Ishikirimaru saat dia pulang bekerja nanti.
Langkah demi langkah memasak udon dilakukan dengan baik dan teliti oleh Nikkari. Setelah beberapa lama akhirnya udon buatan Nikkari pun sudah siap untuk di hidangkan.
Bertepatan dengan itu, suara Ishikirimaru pun terdengar oleh indra pendengaran Nikkari.
"Tadaima... "
Menyadari Ishikirimaru sudah pulang, segera Nikkari menaruh 2 mangkuk udon di atas meja makan. Setelah itu Nikkari pun langsung berjalan ke arah pintu depan.
"Okaerinasai, Ishikirimaru-san. "
Nikkari pun menyambut kepulangan Ishikirimaru dengan senyuman. Rasa lelah dan penat yang dirasakan oleh Ishikirimaru perlahan-lahan menghilang saat mendapat sambutan hangat dari Nikkari.
Di lain sisi, Nikkari merasa senang sekaligus malu karena entah kenapa rasanya dia dan Ishikirimaru seperti sudah menjadi suami istri saja.
"Nikkari-san... "
"Ya? "
"Kau baru selesai memasak ya? "
"Eh? Dari mana kau tahu? "
"Apronmu masih belum kau lepas. Apakah kau tak menyadarinya? "
Nikkari langsung melihat ke arah tubuhnya sendiri dan seketika dia merasa malu karena belum melepas apron yang sudah kotor akibat tumpahan kuah udon yang dia masak.
"Sepertinya aku lupa melepaskannya. Etto... Ishikirimaru-san, mau makan dulu atau mandi dulu? "
"Sepertinya aku mau makan dulu. Entah kenapa aku penasaran dengan masakan yang kau buat, Nikkari-san. Aku mau taruh tas dan ganti baju dulu. "
"Baiklah. "
Ishikirimaru pun berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang senang. Sementara itu Nikkari kembali menyadari jika pertanyaannya tadi mirip seorang istri yang sedang bertanya pada suaminya yang baru pulang kerja. Hal sesimpel itu mampu membuat Nikkari merasa sangat senang dan sekaligus membuat Ishikirimaru merasakan hal baru yang terasa hangat serta asing setelah 28 tahun dia hidup.
.
.
.
.
Setelah 10 menit berlalu, akhirnya Ishikirimaru pun datang ke meja makan. Seketika Ishikirimaru terkejut dengan menu makan malam yang dibuatkan Nikkari. Harum kuah udon buatan Nikkari entah kenapa membuat Ishikirimaru merasa lapar.
"Wahhhh! Sudah lama aku tidak makan udon dan aku tak sabar ingin mencicipinya. "
Nikkari hanya tersenyum tipis melihat reaksi Ishikirimaru saat melihat udon buatannya. Tak lama Ishikirimaru pun duduk di kursi dan keduanya pun mulai makan.
"Ittadakimasu! "
Ishikirimaru pun memakan udon buatan Nikkari dengan semangat. Setelah satu suapan masuk ke dalam mulut dan dicerna seketika raut wajah Ishikirimaru berubah. Tentu saja membuat Nikkari merasa takut jika udon buatannya tak bisa memenuhi selera Ishikirimaru.
"Nikkari-san... "
"Ya? Ada apa, Ishikirimaru-san? "
"Kau tahu? "
"Soal apa? "
"Tentu saja soal udon buatanmu ini. "
"Jika tidak sesuai dengan seleramu maka a-"
"Aku sangat menyukai udon buatanmu, Nikkari-san. Udon buatanmu mengingatkanku pada udon buatan ibuku. Bisa dibilang rasanya sama enaknya. "
Seketika Nikkari merasa senang bukan main saat mendengar Ishikirimaru memuji udon buatannya. Belum lagi melihat wajah Ishikirimaru yang terlihat sangat bersemangat serta gembira saat menyantap udon buatannya.
Tanpa Nikkari sadari, dia pun semakin jatuh hati pada sosok yang kini masih bersemangat menyantap masakan sederhana buatannya.
.
.
.
.
Setelah selesai makan malam, Ishikirimaru pun membantu Nikkari untuk membersihkan peralatan makan yang mereka berdua gunakan.
Saat sudah selesai dengan acara membersihkan peralatan makan, Ishikirimaru pun berniat kembali ke kamarnya.
"Nikkari-san, kau tidur duluan saja. Aku ingin mandi lalu melanjutkan pekerjaanku dulu di kamarku. Pekerjaan yang mau tak mau harus ku kerjakan malam ini demi hari liburku besok tidak terganggu. Oh, ya, terima kasih atas makan malamnya yang sangat enak. Jika boleh, aku ingin makan udon buatanmu lagi. "
"Baiklah, aku akan istirahat duluan. Ishikirimaru-san jangan tidur terlalu malam karena tidak baik untuk kesehatan. Soal itu pasti akan ku buatkan jika Ishikirimaru-san ingin makan lagi dan sama-sama. "
"Pasti nanti aku akan bilang jika ingin makan udon buatanmu lagi. Selamat beristirahat, Nikkari-san. "
"Selamat beristirahat juga, Ishikirmaru-san. "
.
.
.
.
Jam demi jam berlalu dan tepat pada pukul setengah 4 pagi Nikkari terbangun dari tidurnya karena dia merasa sangat haus. Akhirnya Nikkari memutuskan untuk mengambil segelas air di dapur untuk menghilangkan rasa hausnya.
Saat hendak berjalan menuju dapur, dia melihat lampu kamar Ishikirimaru masih menyala dan Nikkari memutuskan untuk menunda rencana sebelumnya, mengambil segelas air untuk minum.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Nikkari pun masuk ke dalam kamar Ishikirimaru dan betapa terkejutnya Nikkari saat melihat sosok Ishikirimaru tengah tertidur pulas dalam kondisi masih terduduk di kursi kerjanya dan tangan kanannya yang menggenggam sebuah kacamata.
Segera Nikkari mengambil selimut yang berada di atas ranjang tidur Ishikirimaru. Nikkari pun melebarkan selimut itu dan menyelimutinya ke tubuh Ishikirimaru.
Tapi, saat selimut yang di sampirkan Nikkari itu baru saja menyelimuti tubuh Ishikirimaru, tiba-tiba Ishikirimaru malah terbangun dari tidurnya.
"Uh... Nikkari-san ? Ada apa? "
Dalam keadaan masih setengah sadar Ishikirimaru bertanya pada Nikkari.
"Etto... Ishikirimaru-san lebih baik beristirahatnya di kasur saja. Tidak baik tidur dalam posisi seperti ini. "
Tak lama setelah Nikkari berkata seperti itu, Ishikirimaru langsung tersadar sepenuhnya dan dia terlihat seperti terkejut melihat Nikkari ada di dalam kamarnya.
"Nikkari-san! Kenapa kau ada di sini? Oh, ya, sekarang sudah jam berapa? "
"Maaf jika aku lancang masuk ke dalam kamarmu tapi aku tadi penasaran kenapa lampu kamarmu masih menyala dan setelah masuk aku menemukanmu tidur dalam posisi seperti tadi. Sekarang masih jam setengah 4 pagi. Oh, ya, apa pekerjaanmu sudah selesai, Ishikirimaru-san? "
"Begitu ya. Maaf jadi membuatmu repot, Nikkari-san. Ternyata masih sangat pagi dan untung saja pekerjaanku sudah selesai. Tapi, badanku terasa agak sakit karena tidur dalam posisi seperti tadi. "
"Kalau Ishikirimaru-san tidak keberatan, aku bersedia untuk memijat. Setidaknya bisa mengurangi rasa sakit yang ada."
"Ide bagus, Nikkari-san. Tapi, pijatnya di atas kasur saja ya. "
"Baiklah. "
Ishikirimaru pun bangkit dari kursi kerjanya tapi tanpa dia tahu kakinya sangat berdekatan kaki kursi dan tentu saja Ishikirimaru tersandung. Karena Nikkari berada di depannya, tentu saja dia ikut menjadi korban yaitu tertimpa Ishikirimaru dan juga selimut yang masih tersampir di bahu Ishikirimaru.
Kepala belakang Nikkari sukses membentur lantai marmer namun untungnya tidak terlalu keras. Rasa berat tentu saja sangat Nikkari rasakan karena dia tertimpa tubuh Ishikirimaru yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Namun ada sesuatu yang membuat keduanya merasa aneh.
Keanehan tersebut berasal dari rasa asing yang kini menyelimuti keduanya. Ternyata rasa aneh itu adalah...
"HUWAAAAAAA! "
Ishikirimaru pun berteriak dan menjauh dari posisi sebelumnya. Ya...secara tidak sengaja Ishikirimaru mencium bibir Nikkari saat dia terjatuh tadi. Sementara itu Nikkari masih terdiam dalam posisinya dan masih memproses apa yang terjadi padanya tadi.
Namun, tak lama semburat merah muda tipis hadir di wajah Nikkari. Perasaan terkejut, deg-deg an, dan senang kini menyelimuti hati Nikkari. Bahkan Nikkari masih mengingat benar bagaimana lembut dan hangatnya bibir Ishikirimaru.
Karena keduanya sama-sama terdiam dan membuat suasana keduanya menjadi tambah aneh akhirnya Ishikirimaru mengalah untuk membuka suara.
"Nikkari-san...maafkan aku. Maaf karena kecerobohanku kau jadi harus...etto... "
"Tidak apa-apa, Ishikirimaru-san. Mau bagaimana juga hal tadi tidak bisa di cegah karena itu kecelakaan. Ishikirimaru-san juga tidak perlu meminta maaf padaku. "
"Apakah benar tidak apa-apa, Nikkari-san? "
"Tidak apa-apa. Ishikirimaru-san tenang saja. "
Nikkari pun bangun dari posisi sebelumnya. Sementara itu Ishikirimaru pun bernafas lega karena Nikkari mengatakan bahwa dia tidak apa-apa. Namun, degup jantung Ishikirimaru masih belum normal.
"Soal pijatnya tadi lebih baik tidak usah, Nikkari-san. "
"Baiklah kalau begitu. Oh, ya, apakah Ishikirimaru-san ingin minum sesuatu? Seperti kopi atau teh panas? "
"Aku ingin teh panas saja. Nikkari-san duluan saja ke dapur. Nanti aku akan menyusul setelah membereskan dokumen dan selimutku ini. "
"Baiklah. "
Nikkari pun berjalan keluar dari kamar Ishikirimaru. Setelah kepergian Nikkari dari kamarnya, Ishikirimaru pun menyentuh bibirnya yang tadi secara tak sengaja mencium bibir Nikkari.
"Kami sama ...entah kenapa ciuman tadi membuatku merasa bahagia. Apakah aku jatuh cinta pada, Nikkari-san? Apakah aku berdosa jika aku mencintainya yang juga laki-laki? "
Sayangnya pertanyaan Ishikirimaru tetap menjadi misteri untuk dirinya sendiri dan juga Nikkari.
.
.
.
.
つずく
.
.
.
.
Author note :
Halooooooo minnaaaaaa!
Riren is back!/slap
Maaf baru bisa update cerita ini karena dari kemarin-kemarin otak Riren terbagi-bagi sama cerita yang lain T^T/maruk sih lu ren ? ゚リツ?
Sebelumnya Riren ingin mengucapkan terima kasih kepada para reader yang telah mau membaca + memberikan vote & comment nya ke Riren. Sungguh Riren merasa sangat senang sekali ^^
Untuk chapter baru ini pun Riren tetap butuh review dari para reader. Tanpa kalian Riren tidak akan pernah bisa berkembang untuk menulis lebih baik.
Maaf apabila chapter ini masih banyak kurangnya tapi Riren harap chapter kali ini bisa membuat para reader terhibur ^^
See you in the next chapter~
Riren
