Chapter 10 ~Fail~

Disclaimer : ©Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)

Genre : Romance, Drama, Tragedy, Fantasy, Friendship, Yaoi, Shounen Ai

Warning : Canon, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, yaoi, dan hal absurd lainnya.

Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!

.

.

.

.

.

Di tengah-tengah kota, dipojokan gelap gang sempit itu terlihat seseorang yang tengah berdiri di depan pintu yang menghubungkan sebuah ruangan. Orang itu terlihat memakai jaket hitam dengan kupluk hitam, celana hitam, dan sepatu kulit hitam, berjalan masuk kedalam setelah membuka pintu didepannya.

Didalam ruangan yang hanya 3x3 meter itu, hanya terdapat sofa panjang, meja kecil disamping sofa, lalu kulkas kecil yang berada di samping meja. Setelah itu beberapa baju yang tergantung diseluruh tembok. Orang itu melepaskan kupluknya dan menjatuhkan diri ke sofa. Melemaskan seluruh sendi badannya di sofa empuknya.

Ketika dia hampir memasuki dunia mimpi, sosok cahanya muncul di depannya. Awalnya kecil, tetapi makin lama makin membesar. Membentuk seperti wujud seorang wanita, tanpa wajah, tanpa baju, hanya cahaya. Tangannya terulur menepuk puncak kepala laki-laki itu.

Laki-laki itu bangun dirasa saat ada yang menepuk puncak kepalanya. Bangun dari sofa dan tersenyum saat tahu siapa yang datang. Laki-laki itu berjalan maju, mengulurkan kedua tangannya, memeluk wujud cahaya itu.

"Aku telah melakukan apa yang kau pinta." Katanya. Tangan cahaya itu mengelus lembut rambut laki-laki itu. Suara sosok cahaya itu mengalun ke dalam otak laki-laki itu.

"Maaf, aku belum menemukan dia." Laki-laki itu melepaskan pelukannya dan menatap sedih kepada cahaya yang ada di depannya. Sekelebat suara kembali terlintas di kepalanya.

"Tenang saja. Kau tak perlu khawatir. Aku akan menemukannya—" Laki-laki itu menggenggam kedua tangan cahaya itu dan tersenyum lembut.

"—dan membunuhnya untukmu, Ibu."

.

.

.

.

.

"Dari hasil penyelidikan, polisi belum menemukan laki-laki yang beberapa waktu sempat merusak beberapa Restoran yang berada di kota Shinori. Dalam tiga hari ini, sudah ada lima Restoran yang dirusaknya tanpa alasan dan membabi buta. Saat ini, polisi meminta pada para warga—" Sasuke duduk di kursi kerjanya sambil melihat tayangan berita yang menampilkan berita itu itu lagi.

Saat ini, kasus tentang si laki-laki tak dikenal merusak beberapa Restoran lalu kabur menghilang. Ternyata tidak cuma Restoran tempatnya bekerja saja yang jadi sasaran amukan laki-laki itu, beberapa Restoran juga ikut menjadi korban. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh laki-laki itu?

Sasuke mengalihkan perhatiannya pada televisi di pojok ruangan ke pintu yang beru saja berderit, tanda ada yang membuka pintu. Naruto masuk kedalam ruangan berjalan menuju kursi kerjanya. Duduk dan menghembuskan nafas beratnya, bersender di senderan kursi kerjanya.

"Kau kenapa?" Tanya Sasuke heran. Pasalnya, Naruto datang tidak dalam keadaan yang bersemangat seperti biasa. Mungkinkah ada kejadian apa-apa saat Naruto dan Gaara mengambil pesanan bahan makanan ke agen?

"Seperti yang kau sarankan. Aku menolaknya dengan lembut, tapi dia tidak terima. Aku juga tidak terima dia tidak terima. Bagaimanapun dia harus terima karena aku tidak menerimanya. Tapi karena dia tidak terima, aku juga tidak terima. Lalu dia malah tidak terima—"

"Naruto!" Penjelasan Naruto dipotong oleh Sasuke. "Aku tidak mengerti kalau kau menjelaskannya seperti itu." Lanjut Sasuke. Naruto kembali mendesah.

Naruto telah memberitahu Sasuke tentang kejadian tiga hari yang lalu. Kejadian saat Gaara tiba-tiba memberinya kado ulang tahun lalu menciumnya. Naruto memberitahukan pada Sasuke setelah pertarungan yang mereka ciptakan di ruangan ini.

Saat Naruto memberitahunya, tentu saja Sasuke sangat marah saat itu. Marah karena Naruto terlihat menerima ciuman dari Gaara, marah karena Gaara adalah salah satu karyawannya dan berani bertindak seperti itu pada Managernya, lalu marah pada Naruto karena Naruto baru saja mengiyakan ajakan Gaara untuk mengambil pesanan barusan.

Sasuke berpesan pada Naruto, daripada diam seakan memberikan harapan pada Gaara, lebih baik bilang pada Gaara bahwa Naruto tidak bisa membalas perasaan Gaara. Tetapi sepertinya akan rumit, ya?

"Pokoknya dia tidak terima aku menolaknya. Dia bilang harus memberikan alasan kenapa aku menolaknya."

"Lalu, kau bilang apa?"

"Maaf!" Naruto menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajahnya. "Aku bilang semuanya. Aku bilang padanya bahwa aku memiliki hubungan denganmu, aku bahkan bilang padanya kalau kami sudah menikah di negara asal kami. Kau tahu, dia sangat keras kepala sekali. Dia bilang kalau aku bohong."

Kali ini ganti Sasuke yang mendesah. "Lalu?"

"Dia bilang dia tidak akan menyerah." Naruto bangkit dari kursi berjalan kearah Sasuke, menunduk dan menangkup kedua pipi Sasuke.

"Hah.. Memikirkan ini, aku jadi ingin berciuman denganmu." Sasuke tersenyum kecil dan mengangguk. Naruto mulai melumat lembut bibir kesukaannya. Sasuke membalas dengan senang hati.

Serasa membutuhkan pasokan oksigen, Naruto dan Sasuke sama-sama melepaskan diri mereka. Naruto menatap sayu mata Sasuke, dan sekelebat ide terlintas di otaknya.

"Aku punya ide!" Seru Naruto masih di depan wajah Sasuke.

"Apa?" Kata Sasuke.

"Mungkin kalau kita berciuman di depan Gaara, mungkin saja dia akan menyerah, kan?" Sasuke menyeritkan keningnya ketika Naruto menyerukan idenya. Sasuke pikir ini bukan ide yang bagus.

"Aku pikir itu ide buruk. Mungkin saja Gaara akan berpikir kalau kau sengaja melakukan itu agar Gaara berhenti mengejarmu, kan?" Kata Sasuke. Naruto kembali duduk di kursi kerjanya sambil mengangguk.

"Benar juga, sih—eh, tapi, kau kan galak dan juga keras pada setiap karyawan. Mungkin saja Gaara berpikir, mana mungkin orang dengan sifat sepertimu bisa diajak bekerja sama hanya untuk keuntungan orang sepihak jika bukan karena kau mencintaiku? Ya kan?" Yah.. Naruto ada benarnya juga sih.

"Lalu, kau mau bagaimana?" Tanya Sasuke. "Aku tidak keberatan menciummu di depan Gaara, sih." Lanjutnya. Naruto tersenyum dan mengangguk.

"Kalau begitu, kita lakukan itu."

.

.

.

.

.

Shisui menghampiri Itachi yang berada di paintry menyerahkan nampan berisi dua piring omurice dan dua lemon tea.

"Meja nomor 3." Ucap Itachi. Shisui mengangguk dan berjalan sambil membawa nampan di tangannya menuju meja nomor 3. Setelah sampai pada meja nomor 3, Shisui meletakan dua omurice dan dua lemon tea di atas meja.

"Kau tahu, Shinori Land besok akan membuka diskon untuk para pasangan." Ucap gadis berponi.

"Iya. Aku juga tahu itu. Bagaimana kalau kau membawa pacarmu kesana?" Ucap gadis satunya lagi.

"Tentu saja. Tapi sayangnya mereka hanya menerima 69 pasangan saja. Sesuai umur Shinori Land."

"Kalau begitu kita harus datang Pagi-pagi agar kebagian diskon." Kedua gadis itu mengangguk senang. Shisui permisi setelah meletakan pesanan.

Shisui menyeringai ketika mendengar percakapan dua gadis barusan. Shisui menghampiri Itachi yang berada di dapur. Saat ini pelanggan tak terlalu banyak, maka dari itu, Pelayan seperti Shisui bisa masuk ke dapur.

"Itachi, kau besok mau pergi bersamaku ke Shinori Land?" Shisui menyenderkan badannya ke meja di samping Itachi yang tengah mencuci beras. Itachi melirik sejenak kearah Shisui lalu kembali fokus pada beras yang ada di depannya.

"Kau bermaksud membawaku agar bisa dapat diskon kan?" Tebak Itachi. Shisui kemudian tertawa.

"Mana mungkin. Aku mengajakmu kencan, loh!" Shisui menatap Itachi dengan menaik turunkan alisnya.

"Dasar tak modal." Itachi memasukan beras itu kedalan magic com dan menyalakan ke mode : masak. "Aku tahu Shinori Land sedang mengadakan diskon untuk enam puluh sembilan pasangan besok." Ucapan Itachi menohok jantung Shisui.

Iya juga, sih. Gak modal. Carinya gratisan. Atau diskonan.

"Kau tidak bisa meremehkan kantong seorang mahasiswa yang hidup sendiri, Itachi. Mahasiswa sepertiku itu miskin. Kau hanya akan mengandalkan hal-hal diskon seperti ini. Kau akan tahu nanti ketika sudah hidup sendiri." Jelas Shisui. Itachi mengerlingkan matanya tidak peduli.

"Bagaimana? Kau ikut? Mumpung sedang ada diskon. Aku tidak ada shift besok. Kau tinggal izin saja. Ya! Ya! Ikut aku ya!" Shisui mendekatkat wajahnya pada Itachi sambil mengeluarkan jurus seribu kasih di matanya. Memohon dengan kedua tangan yang menyatu. Itachi menghela nafasnya.

"Baiklah. Aku ikut." Ucapan Itachi membuat Shisui melompat senang dan berseru di dapur. Teriakannya yang mungkin bisa terdengar sampai ke telinga pelanggan, membuatnya mendapatkan jitakan penuh kasih sayang dari salah satu Koki disini. Kakashi namanya.

"Berisik!" Ucap Kakashi yang memberikan nampan dengan satu piring Spageti dan satu es lemon dengan kasar. "Meja 5." Lanjutnya. Shisui hanya bersungut dan memutuskan untuk mengantarkan pesanan sekarang, daripada Shisui kembali mendapatkan jitakan dari Si Koki mesum itu.

Gaara yang masih sibuk dengan spatula kayunya mencuri dengar percakapan antara Shisui dan Itachi. Gaara memang sudah di tolak, dengan mengatakan telah berhubungan dengan Asisten Managernya, Sasuke. Gaara tidak percaya. Seseorang seperti Sasuke menjalin hubungan dengan Naruto? Apalagi Naruto bilang mereka sudah menikah. Yang benar saja? Tidak masuk akal. Pasti Managernya hanya beralasan.

Maka dari itu, Gaara tidak akan menyerah.

.

.

.

.

.

Naruto sedang berbicara dengan orang yang berada di seberang teleponnya. Setelah itu ia mendengar suara ketukan yang berasal dari dalam pintu. Naruto menyuruh Sasuke membuka pintu dengan isyarat matanya. Sasuke mulai bangkit dari kursinya lalu menuju pintu. Ternyata Itachi yang mengetuk pintu Ruang Manager.

Sasuke mempersilahkan Itachi masuk dan duduk di kursi yang disediakan di depan meja kerja Naruto. Setelah menunggu Naruto selesai bertelepon agak lama, Itachi menyampaikan niatnya datang ke Ruang Manager.

"Ada apa?" Tanya Naruto.

"Maaf. Bolehkah aku izin besok?"

"Kalau boleh tahu, kenapa?" Naruto mengalihkan pandangannya ke depan laptop saat suara E-mail masuk terdengar.

"Sebenarnya, aku diajak Shisui untuk—" Itachi memutuskan kalimatnya. Apa yang Harus Itachi katakan? Tidak mungkin Itachi akan bilang pada Managernya kalau Shisui mengajaknya kencan.

"Untuk?" Tanya Sasuke yang heran mendengar penjelasan Itachi yang terpotong.

"Untuk.. Kencan." Lirih Itachi yang hampir tak keluar suara. Tapi tetap saja Naruto dan Sasuke mendengar suara kecil dari Itachi itu. Naruto dan Sasuke saling pandang lalu menahan tawa mereka. Dasar anak muda.

"Tidak boleh! Besok adalah hari sabtu. Hari itu biasanya kita mendapatkan pelanggan lebih banyak dari hari biasanya. Kau tahu kan? Kita akan kerepotan jika kau tak ada." Tegas Naruto. Itachi hanya menatap Naruto dengan tatapan kecewa yang berusaha dia tutupi.

"A—ah.. Tidak bisa, ya? Kalau begitu maaf mengganggu." Itachi bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu.

"Kau mau pergi kemana?" Pertanyaan dari Naruto membuat Itachi berhenti di depan pintu.

"Kembali ke dapur." Jawab Itachi.

"Maksudku, kau mau kencan dengan Shisui kemana?"

"Emm.. Ke Shinori Land?" Jawab Itachi.

"Shinori Land, ya? Kenapa harus kesana?"

"Shisui bilang, di Shinori Land akan ada diskon untuk enam puluh sembilan pasangan pertama." Jelas Itachi.

"Enam puluh sembilan?"

"Itu umur Shinori Land." Naruto mengangguk dan menatap Sasuke. Merasa ditatap dan mengerti akan tatapan Naruto, Sasuke memberikan Death Glare andalannya yang tentu saja tidak akan mempan pada Naruto.

"Apa?" Desis Sasuke. Naruto terkekeh.

"Bagaimana kalau kita kencan ganda?!" Naruto berpendapat dan menyengir. "Kau bisa kencan dengan Shisui, lalu aku dengan Sasuke. Bagaimana?" Lanjutnya. Naruto menaik turunkan alisnya dihadapan Itachi. Meminta persetujuan.

"Eh? Tapi, bagaimana besok?" Naruto mengibaskan tangannya lalu meraih gagang telepon. Menekan beberapa angka disana dan menunggu orang yang berada disana menjawab teleponnya.

"Ah, Obito? Besok kau ada waktu luang?" Sasuke menyeritkan keningnya mendengar Naruto memanggil salah satu Koki mereka. Mau apa Naruto?

"Aku minta tolong padamu, bisa kau isi kekosongan kursi manager sehari saja? Untuk besok?" Sasuke dan Itachi menunggu Naruto menjawab seseorang yang berada di seberang sana.

"Aku tahu. Besok kau tidak ada shift, tapi hanya kau yang bisa aku mintai bantuan. Kau kan dapat diandalkan." Naruto mengetuk-ngetukan jari telunjuknya pada meja.

"Aku minta tolong padamu. Ayolah!" Naruto menggoyang-goyangkan kakinya. Sasuke dan Itachi masih menunggu.

"Oke. Kalau begitu, Khusus besok aku akan buat gajimu dua kali lipat. Khusuh besok." Tawar Naruto. Naruto tersenyum lalu menutup teleponnya.

"Siap! Kau bisa tidak masuk besok. Tapi ajak aku dan Sasuke ke Shinori Land. Kami tidak tahu tempatnya dimana. Kalau Shisui keberatan dengan keberadaan kami, kami akan memisahkan diri disana." Jelas Naruto. Itachi tersenyum dan membungkuk mengucapkan terimakasih banyak. Kemudian keluar dari ruangan.

Itachi tidak tahu kenapa ia bisa senang begini. Padahal tadinya ia tidak peduli. Tapi entah kenapa saat Naruto awalnya melarangnya, Itachi sangat kecewa. Itu artinya ia tidak bisa berkencan dengan Shisui. Itachi menggeleng tidak peduli. Mungkin saja Itachi senang akan jalan-jalan gratis besok, karena Shisui bilang semua potongan harga dan biaya makan siang Shisui yang tanggung. Ya, mungkin karena itu. Bukan karena tidak bisa berkencan dengan Shisui.

"Bagaimana? Boleh?" Ucap Shisui tiba-tiba saat Itachi sudah kembali ke dapur. Itachi mengangguk tersenyum.

"Boleh." Ucap Itachi. Shisui langsung menampilkan senyum terlebar yang ia punya. Besok akan menjadi hari yang tak akan terlupakan bagi sejarah hidup Shisui. Karena besok adalah kencan pertamanya dalam hidupnya dengan orang yang di cintainya.

"Tapi Pak Manager dan Sasuke-san akan ikut besok." Ucapan Itachi membuat senyuman Shisui luntur seketika.

"Apa? Ikut? Itu artinya tidak ada kencan untuk kita berdua?!" Shisui mencengkram kedua pundak Itachi, membuat Itachi meringis dibuatnya.

"Tidak. Mereka akan memisahkan diri nanti. Kata Pak Manager mungkin saja kita ingin waktu prifacy, begitu." Jelas Itachi melepaskan cengkraman Shisui pada pundaknya. Mengelusnya berniat menghilangkan rasa sakit di pundaknya.

"Ohh.. Begitu.. Kalau begitu tidak masalah!" Shisui mangut-mangut.

.

.

.

.

.

Jam telah menunjukan pukul 22.00 itu artinya saat Restoran tutup. Shisui tengah mengelap beberapa meja yang ada di ruangan depan. Begini lah rutinitas mendapatkan Shift malam. Ketika mereka mau tutup, sebelum pulang harus mengelap meja-meja yang ada di Restoran. Kalau tidak, bisa-bisa Sasuke bisa memenggal kepalanya.

Shisui melihat Naruto dan Sasuke berjalan menuju dirinya.

"Sudah selesai? Aku akan kunci pintunya." Ucap Naruto. Shisui mengangguk dan menyudahi acara gosok menggosok meja. Shisui berjalan di belakang Naruto dan Sasuke. Semua karyawan telah pulang. Biasanya Naruto dan Sasuke pulang paling akhir, lalu datang paling awal. Naruto dan Sasuke bilang tidak keberatan akan peraturan yang dibuatnya. Para karyawan pun hanya bisa menurut.

Setelah keluar dari Restoran dan mengunci pintu depan, Shisui, Sasuke, dan Naruto melihat Gaara yang berdiri sambil bersender pada mobilnya di depan parkiran depan Restoran. Gaara yang melihat Naruto telah keluar dari Restoran, menghampiri Naruto yang masih memegang kunci Restoran. Gaara melirik Sasuke sejenak dan kembali menatap Naruto.

"Na—Pak Manager, kau ada waktu besok?" Tanya Gaara. Sasuke menyerit mendengar Gaara yang sepertinya sedang mengajak Naruto besok. Dan lagipula, apa-apaan itu? Sasuke berani bertaruh, ia mendengar Gaara awalnya ingin memanggil Naruto dengan Namanya. Sasuke tidak mungkin salah dengar.

"Maaf. Aku ada acara besok. Ada apa?" Tanya Naruto.

"Bisa kau batalkan?" Sasuke kembali mengerutkan keningnya. Berani sekali meminta hal seperti itu. Dasar setan kecil!

"Maaf. Tidak bisa." Naruto menggeleng dan tersenyum kecil. Gaara melirik Sasuke yang sepertinya mengerutkan keningnya tajam.

"Aku ingin mengajak Pak Manager ke Shinori Land besok. Apa Pak Manager bisa?" Ajak Gaara tak mau menyerah. Shisui yang mendengarnya malah jadi geregetan sendiri. Dari awal Naruto sudah mengatakan tidak bisa. Kenapa masih keras kepala begini. Lihatlah! Wajah Sasuke sudah seperti manusia yang ingin makan manusia sepertimu.

"Gaara, kau tak dengar tadi Pak Manager bilang apa? Dia tidak bisa." Shisui akhirnya angkat suara. Gaara memberikan tatapan membunuhnya pada Shisui. Shisui menatap Gaara heran, kenapa Gaara jadi marah pada Shisui? Harusnya Shisui yang marah pada Gaara yang tak sopan bertingkah seenaknya pada Managernya sendiri.

"Kau mau mengajakku kencan?" Tanya Naruto. Gaara menatap Naruto dan mengangguk.

"Berani sekali kau mengajak Managermu KENCAN dengan seenaknya seperti itu?" Tidak tahan sedari tadi hanya diam, akhirnya Sasuke buka suara. Menatap tajam Sasuke tidak menerima dengan tingkah Gaara yang seakan-akan akan merebut Naruto darinya.

"Bagaimana? Pak Manager?" Gaara berusaha tidak mempedulikan tatapan tajam yang dilayangkan oleh Sasuke padanya. Gaara menarik kedua tangan Naruto dan menggenggamnya. Sasuke membelalakan matanya melihat tangan Naruto jatuh pada tangan setan kecil itu.

"Maaf, Gaara. Aku tidak bisa. Aku ada acara besok." Naruto berusaha melepaskan tangan Gaara yang mencengkram kuat kedua tangannya. Naruto melihat Sasuke berjalan melewatinya menjauh diikuti oleh Shisui dibelakangnya. Sepertinya Sasuke marah padanya.

"Sasuke! Tunggu!" Naruto berteriak saat Sasuke sudah terlalu jauh melangkah dari Naruto dan Gaara yang sedang sibuk dengan acara tarik-menarik tangan. "Gaara, lepaskan!" Lanjut Naruto masih bertahan menggenggam erat tangan Naruto.

"Gaara, apa maumu? Aku sudah bilang tidak bisa kan?" Naruto sudah tidak bisa melihat Sasuke dari jauh. Sepertinya Sasuke benar-benar marah padanya. Naruto harus cepat cepat mengejar Sasuke kalau tidak, Naruto bisa-bisa tidur di luar depan pintu.

"Pasti Sasuke pura-pura marah, iya kan? Kau yang sudah menyuruh Sasuke untuk memainkan drama ini, iya kan? Aku tidak akan tertipu dalam drama mu, Naruto." Gaara masih belum menyerah melepaskan tangan Naruto. Naruto merasa panas sekarang saat Gaara memanggil Sasuke dengan namanya tanpa embel-embel apapun.

"Tidak sopan sekali kau, Gaara. Aku dan Sasuke adalah atasanmu." Naruto sudah mulai marah.

"Aku tidak peduli. Kalau kau mengaku dari awal kalau kau tidak mempunyai hubungan dengan Sasuke, aku tidak akan begini."

"GAARA!" Naruto membentak Gaara akhirnya. Kemarahan sudah ada di ubun-ubun. Naruto merasa Gaara sengaja membuat rusak hubungannya dengan Sasuke. Nafas Naruto keluar masuk dengan kasar.

"Apa kau sadar baru saja membuat hubungan orang hampir retak, Gaara?" Desisi Naruto. Wajah Naruto kali ini benar-benar mengerikan di mata Gaara. "Pulang! Ini sudah malam. Maaf aku benar-benar tidak bisa bersamamu besok. Aku ada kencan dengan Sasuke. Sudah jelas kan?" Naruto menatap tajam Gaara sejenak kemudian berlari keluar area parkir Restoran. Sebisa mungkin Naruto harus bisa membuat Sasuke tidak marah padanya.

Naruto berlari kencang dan melihat Sasuke yang tengah berjalan sendirian disana. Sepertinya Shisui telah pulang kerumahnya, karena jalan kerumah Shisui dan apartemennya berlawanan arah. Tanpa Naruto sadari, Gaara ikut berlari jauh di belakang Naruto.

Naruto terus berlari sampai sosok Sasuke sudah terlihat semakin dekat. Naruto menubruk Sasuke dan memeluknya dari belakang. Sasuke tidak kaget, karena Sasuke telah mendengar derapan kaki yang tengah berlari dibelakangnya. Karena ini malam hari, derapan kaki seperti ini akan sangat terdengar di telinganya.

"Maaf." Naruto berbisik ditelinga Sasuke. Gaara berhenti berlari saat dilihatnya Naruto terlihat sedang memeluk Sasuke dari belakang. Gaara langsung menyembunyikan tubuhnya dibalik pohon disebelahnya.

"Aku tidak marah, kok." Bisik Sasuke. Naruto membalikan tubuh Sasuke dan memeluknya dari depan. Sasuke berkedip kaget ketika merasakan pelukan erat dan tubuh yang bergetar yang di lakukan oleh Naruto. Sasuke membalas memeluk Naruto, tangan kanannya mengusap punggung lebar Naruto. Kepala Sasuke ditenggelamkan di kepala pirang itu.

"Aku percaya padamu." Bisik Sasuke. Naruto makin mengeratkan pelukannya.

"Terimakasih." Balas Naruto.

"Aku selalu percaya padamu. Aku percaya kau bisa mengatasi si setan kecil itu."

"Setan kecil?" Naruto melepaskan pelukannya dan menatap Sasuke.

"Ya, dia. Setan kecil. Bersih keras untuk mendapatkanmu." Jelas Sasuke. Naruto terkekeh mendengar panggilan 'sayang' Gaara dari Sasuke.

Naruto mengulurkan tangannya menyentuh pipi Sasuke, membawanya kedepan wajahnya dan melumat pelan bibir yang selalu menjadi kesukannya. Sasuke membalas perlakuan dari Naruto. Ditengah-tengah perumahan seperti ini, malam-malam dan melakukan hal seperti sekarang ini, membuat darah keduanya berdesir juga.

Sasuke membuka matanya melihat Naruto yang dengan sangat mendalami kegiatan yang tengah mereka lakukan. Melihat wajah Naruto sedekat ini membuat Sasuke ingin lebih dalam menjelajah mulut Naruto. Tetapi, mata Sasuke menangkap hal lain, seseorang yang jauh berdiri di samping pohon yang lumayan besar. Seseorang itu berdiri menatap tajam mata Sasuke yang juga menatapnya.

Sasuke tidak berniat untuk menghentikan kegiatannya, malah semakin gencar untuk melakukannya seperti memberikan pesan lewat tatapannya jika Naruto adalah milik Sasuke. Tangan Sasuke menjelajah punggung besar Naruto seperti mencari-cari pengangan. Karena pertahanan yang Sasuke buat hampir hancur, lumatan demi lumatan yang mereka lakukan membuat kaki Sasuke semakin lemas. Melupakan seseorang yang mengepalkan erat tangannya jauh disana.

Sasuke melepaskan pangutan mereka dan bernafas dengan panjang pendek karena kelelahan. Lama juga mereka melakukan ini malam-malam disini. Naruto menahan tubuh Sasuke yang hampir jatuh karenanya. Naruto menenggelamkan kepalanya pada leher Sasuke, mulai melakukan aksinya di leher jenjang itu.

"Jangan disini, Naruto." Bisik Sasuke. Sasuke mendesah menutup matanya merasakan aliran listrik yang diberikan oleh Naruto. Tangan kanan Sasuke meremas bagian belakang baju Naruto.

Gaara meninggalkan tempat itu dengan tatapan tajam yang belum ia hilangkan. Gaara sampai saat ini masih mempercayakan jika apa yang dilakukan Naruto dan Sasuke itu hanyalah drama yang mereka ciptakan. Itu artinya Gaara belum kalah. Gaara belum menyerah.

.

.

.

.

.

Naruto dan Sasuke saat ini sedang berada di antrian pintu masuk Shinori Land, berdiri di belakang Itachi dan Shisui. Kalau dilihat-lihat, mereka akan berhasil masuk dengan tiket diskon disini, karena mereka berangkat Pagi-pagi hanya demi tiket diskon. Oke. Bukan Sasuke sekali. Kalau bukan Naruto tidak menyeretnya hanya demi omong kosong seperti ini, Sasuke tidak akan mau.

Naruto dan Sasuke mengedarkan pandangannya kesegala arah, beberapa pasangan laki-laki dan perempuan memang dominan disini. Tapi tak jarang melihat pasangan laki-laki dan laki-laki atau perempuan dan perempuan ikut mengantri disini. Mungkin saja mereka tidak benar-benar pasangan kan?

Gerbang Shinori Land telah dibuka. Setelah mengantri masuk kedalam taman bermain itu, Naruto dan Sasuke adalah pasangan ke 57. Beruntung. Mereka mendapatkan gelang berwarna biru, gelang itu adalah salah satu item untuk menaiki beberapa wahana yang akan dinaiki secara gratis di hari besar Shinori Land. Beruntung lagi.

Setelah berada di dalam Shinori Land, mereka memutuskan untuk memisahkan diri. Itachi dan Shisui berlari ke wahana Rolle Coaster sedangkan Naruto dan Sasuke memutuskan menuju cafe kecil yang tak jauh berada di jalan masuk Shinori. Karena mereka datang pagi sekali dan belum sarapan, mungkin secangkir kopi dan sepotong kue jadi sarapan yang cocok untuk mereka.

Tanpa Naruto dan Sasuke sadari, berdiri seorang laki-laki yang mengenakan jaket abu-abu dan kupluk abu-abu dengan celana jeans gelap, menatap tajam dengan keberadaannya yang cukup jauh dengan Naruto dan Sasuke. Berdiri dibalik tiang lampu dan menatap tajam salah seorang diantara mereka berdua. Ujung bibir itu tertarik ke dua arah.

"Aku menemukanmu."

.

.

.

.

.

Naruto dan Sasuke berjalan menuju rumah hantu. Setelah mereka menaiki beberapa wahana yang ekstrem dan menantang—walaupun sangat tidak terasa untuk Naruto dan Sasuke. mereka pun memutuskan untuk memasuki wahana rumah hantu. Sebenarnya, Naruto telah menguatkan hati sebelum memutuskan untuk memasuki wahana rumah hantu dan berdoa semoga hantu-hantu disini lucu-lucu.

Tangan kiri Naruto tak lupa meremas tangan kanan Sasuke untuk jaga-jaga jika Sasuke tiba-tiba meninggalkannya. Sasuke mengerlingkan matanya merasakan tangan Naruto terlalu erat mengganggam tangannya. Setelah berjalan cukup jauh, Naruto berteriak tertahan ketika ada sesuatu yang menyentuh punggungnya.

"Naruto, perlu kuingatkan kalau hantu disini tidak ada yang asli. Semuanya palsu—"

"Aku tahu!" Potong Naruto. Sasuke kembali mengerlingkan matanya. Oh hebat, Seorang Hokage yang berhasil menghentikan perang dunia takut dengan hantu. Hebat. Benar-benar hebat.

"Sasuke, bisakah kau berhenti?!" Ucap Naruto menarik tangan Sasuke untuk berhenti.

"Apanya?"

"Kau terus-terusan menyentuh punggungku!"

"Tanganku terus-terusan kau genggam, Naruto. Ngomong-ngomong tanganku hanya satu kalau kau lupa." Sasuke mendesah lelah. Tangan kanannya yang dari tadi kesakitan diremas lalu ditarik tiba-tiba seperti tadi. Dasar Naruto.

BRUKK!

Naruto menyingkir saat dirasa ada angin yang melewatinya. Keadaan sekitar memang gelap tapi Naruto masih dapat melihat jika Naruto dan Sasuke tidak hanya berdua saja. Ada satu orang berdiri dibelakang mereka yang menggenggam katana yang lumayang panjang. Apa itu asli? Untung saja Naruto dapat menyingkir dengan cepat, kalau tidak, Naruto akan terbelah jadi dua.

"Cih, meleset." Desis orang itu. Apa ini termasuk pertunjukan rumah hantu disini? Kenapa berbahaya sekali?

Orang itu berjalan perlahan mendekati Naruto dan Sasuke. Sasuke meraih katana yang dipajang di tembok atas. Sasuke merasakan aura pembunuh yang keluar dari orang itu. Sepertinya, ini bukan main-main. Orang itu serius.

"Apa maumu?" Tanya Naruto. Orang itu hanya menyeringai menatap Naruto. Orang itu melayangkan katana keatas, dengan sigap Sasuke mendorong Naruto kesamping dan menahan katana orang itu dengan katana yang dipegangnya. Katana yang dipegang Sasuke sedikit retak, karena memang itu hanya katana figura.

Sasuke mendorong orang itu dan dimulailah adu pedang di dalam rumah hantu. Beberapa perabotan rusak dan terdengar suara teriakan wanita yang sepertinya berperan sebagai hantu di dalam rumah hantu itu. Naruto melihat pertarungan sengit itu dan keuntungan sepertinya bukan berada di pihak Sasuke. Pedang yang Sasuke gunakan sudah rusak.

Naruto melemparkan katana yang dilihatnya tak berada jauh dikakinya kepada Sasuke dan Sasuke membuang katana yang sudah rusak, menerima katana dan kembali melanjutkan adu pedang dengan orang yang tak dikenalnya itu.

Tunggu..!

Sasuke kenal orang itu. Orang itu yang sudah menghancurkan Restorannya. Lalu kenapa dia ada disini? Menyerangnya dengan membabi buta seperti ini? Ada masalah apa orang itu dengan dirinya?

Orang itu menjauhkan Sasuke dengan cara melemparkan Sasuke sampai menghantam tembok. Orang itu kuat sekali, dia seperti memiliki cakra. Orang itu menatap Naruto yang berdiri tak jauh disana, berlari melayangkan katana keatas udara. Naruto telah siap dengan Rasengan yang ada di tangan kanannya. Sasuke bangkit dari jatuhnya berlari menuju orang itu yang ingin menebas Naruto.

Sasuke—tidak sengaja—menusuk orang itu dengan katana yang dibawanya. Sasuke terlalu takut tadi karena orang itu sempat ingin menebas Naruto. Sasuke bernafas dengan berat. Orang itu tidak bergerak. Sepertinya Sasuke telah membunuh orang yang ada di dunia ini. Naruto menghilangkan Rasengannya dan menatap orang yang jatuh bersimbah darah dengan pedang yang tertusuk di perutnya.

"Ini bukan salahmu, Sasuke." Naruto menenangkan Sasuke. Sasuke masih bernafas dengan berat melihat hasil perbuatannya.

"O—orang yang macam-macam dengan Naruto harus dibunuh." Desis Sasuke. Naruto menatap Sasuke dengan sayu. Sasuke juga pasti shock atas apa yang dilakukannya tanpa sengaja itu. Setelah berhenti dengan membunuh orang, lalu sekarang kembali membunuh orang, itu membuat seorang seperti Sasuke agak kaget juga.

Naruto dan Sasuke menatap orang itu yang terbangun dengan gerakan patah-patah. Mereka berdua pikir orang itu sudah mati, tapi dia kembali bergerak. Mencabut sendiri pedang figura itu dan melemparnya kesembarang arah, Naruto dan Sasuke membelalakan matanya saat melihat luka orang itu menutup. Orang ini bukan manusia biasa.

Sasuke mengaktifkan Saringannya dan menyiapkan Rinegannya. Orang ini tidak boleh dianggap remeh. Pertama-tama Sasuke harus menghentikan pergerakan orang ini agar Sasuke bisa membawa Naruto keluar. Sasuke merasa orang itu menatap tajam Naruto terus menerus. Sepertinya Naruto adalah targetnya untuk dibunuh.

"Hei!" Panggil Sasuke. Orang itu mengalihkan pandangannya dari Naruto dan menatap Sasuke. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Sasuke, Sasuke langsung memberikan Genjutsu pada orang itu. Berhasil.

Sasuke menarik Naruto keluar dari rumah hantu. Di luar sudah ramai orang-orang yang ingin tahu tentang keributan yang berada di rumah hantu barusan. Sasuke terus berlari menarik Naruto, keluar dari gerbang Shinori Land dan menghentikan taksi yang tengah melintas.

Didalam taksi, Sasuke terus menggenggam erat tangan Naruto. Naruto melihat Sasuke mengeluarkan tampang kalut, takut, dan cemas. Naruto mengerti itu, karena memang sedari tadi orang itu terus memandangnya dengan tajam. Pasti dirinya lah yang menjadi target.

"Aku akan baik-baik saja." Naruto balas mengenggam tangan Sasuke. Sasuke menatap Naruto yang tersenyum. Senyuman Naruto setidaknya membuat Sasuke sedikit tenang. Mulai sekarang, Sasuke akan menjaga Naruto, mau bagaimanapun orang itu sepertinya tidak bisa dibunuh.

.

.

.

.

.

Seorang laki-laki masuk ke ruangan gelap dan kecilnya dengan lemas dengan jaket terkoyak dan berlumur darah kering. Menjatuhkan badannya pada sofa yang berada tak jauh dari sana. Melepaskan kupluk itu dan melemparkan dengan kasar kesembarang arah.

Cahaya itu kembali muncul. Berbentuk wanita, menjulurkan tangannya pada wajah lelah laki-laki itu.

"Maaf, bu. Aku gagal." Laki-laki itu menunduk dengan tatapan sedih. Sekelebat suara terdengar terlintas di otaknya.

"Baiklah, bu. Aku akan berusaha. Aku pasti membunuhnya untukmu, bu."

.

.

.

.

.

Tsuzuku