Touken Ranbu © DMM & Nitroplus

Monochrome Love Story © Riren18

Pair : Ishikirimaru & Nikkari Aoe

Genre : Romance, friendship, and hurt/comfort

Warning : Boys Love Story, typo, gak sesuai EYD, little OOC, alur gaje, dan masih banyak kekurangan lainnya.

Saya hanya meminjamkan karakternya saja dan tidak mengambil keuntungan apapun dalam cerita ini :)

.

.

.

.

.

Sunyi dan senyap. Itulah situasi yang terjadi di antara Nikkari dan Ishikirimaru setelah insiden ciuman di kamar Ishikirimaru beberapa menit lalu.

Keduanya terus terdiam sambil menikmati teh buatan Nikkari. Namun, keheningan keduanya terusik saat terdengar sebuah suara. Suara dering telepon apartemen Ishikirimaru. Mau tak mau Ishikirimaru pun melangkahkan kakinya menuju sumber suara, telepon yang berdering.

"Halo. "

"Wah ternyata yang mengangkat teleponnya kakakku yang baik tapi menyebalkan. "

"Jika tidak ada yang ingin kau sampaikan, maka aku akan tutup teleponnya. "

"Buu~jangan marah begitu. Oh, ya, Aoe-san ada? "

"Ada urusan apa kau dengan dirinya? "

"Rahasia! Pokoknya sekarang kau harus panggil Aoe-san. Aku ingin membicarakan sesuatu padanya. "

"Cih...dasar adik menyebalkan. Baiklah, tunggu sebentar. "

Ishikirimaru membawa telepon wireless ke tempat Nikkari berada, ruang makan. Tak butuh waktu lama akhirnya Ishikirimaru kembali ke ruang makan.

Suasana canggung kembali terjadi tapi pada akhirnya tidak bertahan lama karena Ishikirimaru memutuskan untuk memecahkan suasana canggung di antara keduanya setelah insiden di kamarnya.

"Mikazuki ingin berbicara padamu, Nikkari-san. Aku tidak tahu dia ingin membicarakan apa tapi sepertinya penting. "

Ishikirimaru pun memberikan telepon tersebut ke Nikkari dan tentu Nikkari menerimanya meski agak malu-malu. Nikkari pun mendekatkan telepon ke telinganya.

"Halo Mikazuki-san. Ini Aoe. Ada apa? "

"Halo juga, Aoe-san. Etto...sebelum aku memulai pembicaraan, bolehkah dirimu pindah ke suatu tempat yang jauh dari tempat Ishikirimaru berada? "

"Eh? Hmm...bisa saja sih. Tunggu sebentar. "

Nikkari pun beranjak dari kursi makan dan berjalan menuju ruang tamu tanpa bilang apapun pada Ishikirimaru. Sementara itu Ishikirimaru hanya bisa geleng kepala menghadapi kelakuan adiknya yang kadang suka kurang ajar, entah pada Ishikirimaru atau yang lain.

Kemudian kembali ke Nikkari yang akhirnya memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamu. Tak lama Nikkari pun melanjutkan perbincangannya dengan Mikazuki.

"Aku sudah jauh dari tempat Ishikirimaru-san berada. Mikazuki-san ingin membicarakan soal apa kalau aku boleh tahu? "

"Kebetulan aku dan Kogitsune mendapat kupon makan untuk 4 orang dan pada akhirnya aku memutuskan mengajakmu dan kakakku agar jatah untuk 2 orang lagi bisa terpakai. Sekalian kita melakukan double date di mall! "

"Do...double date? "

"Iya, double date. Apakah Aoe-san tidak tahu soal double date? "

"Secara teori aku mengerti namun untuk prakteknya aku belum pernah. Tapi, pasangan satu lagi siapa? "

"Hahahaha pertanyaan bodoh, Aoe-san. Tentu saja dirimu dan kakakku. "

"Tapi kan aku dan Ishikirimaru-san bukan pasangan, Mikazuki-san. "

"Namun aku melihatnya kalian seperti sepasang kekasih. Cepat atau lambat pasti kalian berdua akan sepertiku dan Kogitsune. Oh, ya, aku akan ke rumah kakakku sekitar 2 jam lagi. Ku harap kalian sudah bersiap. "

"Tapi...aku tidak memiliki baju dan celana untuk pergi ke sana, Mikazuki-san. "

"Soal itu tidak perlu khawatir karena aku sudah menyiapkannya. "

"Eh? "

"Pokoknya kamu tenang saja, Aoe-san. Jangan lupa sarapan, ya. Oh, ya, Aoe-san aku ingin bertanya sesuatu padamu, bolehkah? "

"Tentu. Soal apa? "

"Apa yang terjadi padamu dengan kakakku? Entah kenapa nada suaramu terdengar gugup saat aku mengucapkan nama kakakku."

"Ti...tidak ada apa-apa, Mikazuki-san. "

"Kau berbohong, Aoe-san. Pokoknya nanti kau ceritakan padaku saat kita jalan nanti. "

"Baiklah. Nanti akan ku ceritakan padamu tapi aku hanya ingin kau saja yang tahu. "

"Ah baiklah. Ceritakan saja dan rahasiamu aman bersamaku, Aoe-san. Teleponnya ku tutup dulu soalnya sudah saat waktu early morning tea. Sampai ketemu nanti, Aoe-san. "

"Ya. Sampai jumpa nanti. "

Setelah sambungan terputus, Nikkari pun meletakkan telepon itu ke tempatnya.

"Nikkari-san... "

"Huwaaaa! "

Nikkari terkejut karena tiba-tiba memanggil namanya dan berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Nikkari langsung memegang dadanya dan dia dapat merasakan jantungnya berdegup cepat karena terkejut.

"Ya ampun aku terkejut. Sejak kapan Ishikirimaru-san berdiri di situ? "

"Maaf jika aku mengejutkanmu. Aku baru saja berdiri di sini. Oh, ya, Mikazuki bilang apa padamu? "

"Soal Mikazuki tadi dia bilang kalau ingin mengajak aku dan Ishikirimaru-san untuk makan siang bersama. Mikazuki-san dapat kupon makan gratis untuk 4 orang. "

"Begitu ya. Tumben sekali dia mau mengajak makan bersama. Oh, iya, aku baru ingat soal pakaian untukmu. Aku belum sempat membelikan pakaian untukmu. "

"Soal itu tidak perlu khawatir, Ishikirimaru-san. Mikazuki-san akan membawa pakaian untukku. "

"Begitu ya. Tapi, ku harap pakaian tidak aneh-aneh. Mikazuki itu kadang suka jahil dan aneh kelakuannya. Aku sebagai kakaknya kadang sampai pusing memikirkan kelakuannya. Tapi, nanti setelah makan kita akan pergi membeli baju untuk Nikkari-san. Apakah Nikkari-san bersedia? "

"Jika ditanya bersedia atau tidak, mana mungkin aku menjawab tidak. Namun, aku tidak ingin merepotkanmu lagi Ishikirimaru-san. Sudah terlalu banyak yang kau berikan padaku. "

"Nikkari-san, aku secara tulus dan ikhlas membantumu dan aku juga tidak pernah merasa di repotkan. Aku akan senang jika Nikkari-san mau menerima bantuanku yang sebenarnya tidak seberapa. "

Untuk kesekian kalinya Nikkari terenyuh oleh kebaikkan Ishikirimaru. Sebenarnya Nikkari merasa sangat bahagia karena Ishikirimaru telah mau menolong dan bahkan mengizinkannya untuk tinggal bersama. Namun, di sisi lain Nikkari merasa tidak enak akan hal itu. Dia takut tidak bisa membalas kebaikkan Ishikirimaru.

.

.

.

.

Dua jam pun berlalu dengan cepat dan bunyi bel pun terdengar nyaring di dalam apartemen Ishikirimaru. Segera Nikkari berjalan menuju pintu dan membuka kuncinya.

Saat pintu terbuka, seketika kedua mata Nikkari terbelalak melihat sosok yang mirip dengan Mikazuki namun dalam sosok seorang perempuan yang cantik.

Melihat Nikkari yang terkejut, sosok itu malah tertawa. Hal tersebut membuat Nikkari semakin bingung. Sosok itu hanya tertawa sebentar dan tak lama dia berhenti tertawa lalu berdeham sebentar.

"Pasti Aoe-san bingung ya ini siapa? Ini aku, Mikazuki. "

"Ehhhhhh? "

"Hahahaha jangan terkejut begitu. Aku berdandan seperti ada alasannya. Lebih baik jika kita masuk ke dalam dulu. "

"Ah iya ya. Silahkan masuk, Mikazuki-san, Kogitsunemaru-san. "

Ketiganya pun masuk ke dalam apartemen Ishikirimaru. Sesampainya di dalam seketika mereka di sambut oleh tatapan horor Ishikirimaru saat melihat penampilan Mikazuki.

"Mikazuki, apa-apaan dandanmu itu, hah? "

"Ishikirimaru tenanglah."

"Mana bisa aku tenang jika adikku semakin hari semakin aneh saja kelakuannya. Kali ini yang paling aneh ku lihat. "

"Kelihatan aneh memang, tapi Mikazuki berdandan seperti ini karena ada alasannya. "

"Alasan? Alasannya apa, Kogitsunemaru ? "

"Aku yakin Nikkari sudah menceritakan soal kupon makan untuk 4 orang. Kupon itu hanya berlaku untuk pasangan laki-laki dan perempuan sementara kita berempat itu lelaki semua. Dengan kata lain... "

"Aku dan Aoe-san akan menyamar menjadi perempuan demi bisa menggunakan kupon itu. "

"Hahhhhh? "

"Ehhhh? "

Secara bersamaan Ishikirimaru dan Nikkari berteriak atas perkataan Mikazuki. Sementara Mikazuki dan Kogitsunemaru menutup kedua telinga mereka demi menghindari hal yang tak di inginkan.

"Sekarang Aoe-san ganti baju dan setelah itu aku akan me-make up mu. Untuk yang lainnya sudah ku siapkan. Lalu untuk kakakku tersayang pakai baju terbaikmu ya. "

Tanpa pikir lama Mikazuki langsung menarik Nikkari menuju kamar Nikkari. Sementara Ishikirimaru hanya bisa menghela nafas sambil geleng kepala. Tapi, tak lama dia pun berjalan menuju kamarnya.

.

.

.

.

30 menit berlalu dan akhirnya Mikazuki beserta Nikkari keluar dari kamar. Kini keduanya berjalan menuju ruang tamu di mana Ishikirimaru dan Kogitsunemaru berada.

Tak butuh waktu lama akhirnya Nikkari dan Mikazuki pun sampai di ruang tamu.

"Maaf menunggu lama, tuan-tuan. "

Ishikirimaru dan Kogitsunemaru pun langsung menoleh ke sumber suara. Seketika kedua mata Ishikirimaru membelalak melihat penampilan Nikkari. Entah diapakan oleh adiknya namun Nikkari terlihat cantik dan mirip seperti perempuan.

Gaun, alas kaki, aksesoris, serta make up yang dikenakan Nikkari tampak pas dan membuat Nikkari terlihat cantik. Tanpa sadar Ishikirimaru di buat merona oleh Nikkari.

"Aoe-san lihat kakakku. Tampaknya dia terpana akan kecantikanmu. "

"Eh? Benarkah? "

Nikkari pun melihat ke Ishikirimaru dan ternyata benar apa kata Mikazuki. Kini Ishikirimaru menatapnya tanpa berkedip dan terlihat samar-samar rona merah muda di kedua pipi Ishikirimaru.

Sadar dirinya sedang di tatap balik oleh Nikkari, Ishikirimaru langsung menundukkan kepalanya. Malu karena lama menatap Nikkari. Melihat Ishikirimaru salah tingkah, Nikkari hanya tersenyum tipis.

"Oh, ya, kalian berdua mau naik mobil bersama kami atau mau naik mobil sendiri? "

"Aku sih terserah Ishikirimaru-san saja. "

"Jadi bagaimana kakakku? Mau ikut bersamaku atau mau naik mobilmu sendiri? "

Ishikirimaru pun tampak berpikir sebentar tapi tak lama dia pun telah memutuskan sesuatu.

"Aku dan Nikkari-san akan naik mobilku. "

"Baiklah kalau begitu. Oh, ya, Aoe-san nanti pakai ini ya setelah keluar dari restoran. Aku yakin setelah makan pasti kakakku ingin mengajakmu untuk membeli baju. "

Mikazuki pun memberikan sebuah tas kain berukuran agak besar kepada Nikkari. Nikkari pun menerimanya dengan baik meski dia tidak tahu isi dari tas tersebut.

"Di dalamnya sudah ada baju, celana, sepatu serta yang lainnya. Aoe-san tidak perlu mengembalikannya karena aku memberikannya sebagai hadiah pertemanan kita. Ku harap Aoe-san menerimanya. "

"Ya ampun. Tapi aku sungguh senang menerima hadiah ini. Terima kasih atas hadiahnya, Mikazuki-san. "

"Sama-sama, Aoe-san. "

"Karena semuanya sudah siap, mari kita berangkat. "

Ucapan Kogitsunemaru langsung disambut anggukkan kepala dan tak lama keeempat lelaki itu keluar dari apartemen Ishikirimaru.

.

.

.

.

Setelah 20 menit berkendara, akhirnya keempatnya sampai di tempat tujuan. Setelah memarkir mobil, keempatnya langsung berjalan menuju ke dalam restoran.

Namun, sebelum mereka berempat masuk ke dalam restoran Mikazuki memberikan instruksi kepada Nikkari dan Ishikirimaru untuk bergandengan tangan. Tentu saja dengan maksud terlihat seperti sepasang kekasih.

Lalu dengan malu-malu Nikkari pun menggandeng lengan Ishikirimaru. Keduanya pun tampak seperti sepasang kekasih meskipun kenyataannya berbalik dengan apa yang di lihat.

Saat keempatnya masuk ke dalam restoran, beberapa pasang mata menatap ke arah mereka dengan tatapan berbagai macam. Meskipun sebagian menatap kagum pada keempatnya dan sayup-sayup terdengar pujian tentang mereka.

"Lihat mereka! Perempuannya cantik dan lelakinya tampan! "

"Mereka tampak seperti lukisan saja! Sangat indah! "

"Sungguh pasangan yang ideal! "

Begitulah perkataan para tamu lain soal mereka dan sementara keempat orang itu hanya bisa menahan diri untuk tidak membalas perkataan orang-orang itu.

Setelah mengkonfirmasi soal kupon, kedua pasangan ini duduk di dua meja yang terpisah namun saling bersebelahan. Saat kedua 'perempuan' ingin duduk, pasangannya langsung sigap menarik kursi untuk para 'perempuan'. Setelah kedua 'perempuan' itu duduk mereka pun mengucapkan terima kasih pada kedua lelaki tersebut.

Setelah itu keempatnya pun melihat daftar menu yang ada dalam buku menu. Seketika Nikkari terkejut saat melihat harga seporsi makanan di restoran itu. Harga yang paling murah saja itu 5 ribu yen dan itu pun cuma sepotong cheesecake special. Minumannya pun tak kalah mahal.

"Nikkari-san mau pesan apa? "

"Aku bingung ingin pesan apa, Ishikirimaru-san. Harga makanan dan minuman di sini membuatku terkejut. Jika tidak ada kupon mungkin aku tidak bisa makan atau minum di sini. "

"Jika Nikkari-san ingin makan atau minum di sini akan ku temani. Aku dan Mikazuki sering makan dan minum di sini. Walaupun harganya agak lumayan tapi aku suka dengan rasa masakkan di sini dan lagipula aku kenal pemilik restoran ini. "

Nikkari pun terdiam karena bingung ingin berkata apa. Bagi Nikkari sosok Ishikirimaru sungguh luar biasa sekaligus misterius. Meskipun Ishikirimaru sangat baik padanya, Nikkari tidak pernah berpikiran untuk memanfaatkan kebaikkan Ishikirimaru.

"Nikkari-san? Kau baik-baik saja? "

"Hah? Eh iya aku baik-baik saja. Maaf tadi aku melamun. Ishikirimaru-san sendiri mau pesan apa? "

"Aku mau pesan beef steak kesukaanku. Jika Nikkari-san mau menu yang sama nanti akan ku pesankan. "

"Boleh saja. Kebetulan aku bingung ingin pesan apa. "

"Oh, ya, Nikkari-san suka minum minuman alkohol? Seperti wine atau sake? "

"Untuk wine aku belum pernah merasakannya tapi aku tidak kuat jika harus meminum minuman dengan kadar alkohol yang tinggi. Itu membuatku pusing dan mual. "

"Baiklah kalau begitu. Kebetulan aku juga sama seperti Nikkari-san. Apakah Nikkari-san ingin memesan dessert? "

Nikkari pun kembali melihat buku menu dan seketika pandangannya langsung terkunci pada suatu dessert. Pada akhirnya Nikkari pun ingin memesan dessert tersebut.

"Aku ingin cheesecake with matcha cream & syrup. "

"Baiklah. Kau tahu, Nikkari-san?"

"Soal apa? "

"Entah kenapa makanan dan minuman kita selalu sama. Sepertinya kita memiliki selera yang sama, Nikkari-san. "

"Eh? Masa sih? "

"Iya. Aku juga sangat menyukai dessert pilihan Nikkari-san tadi. "

"Ah begitu ya. Tak ku sangka banyak hal yang ku suka ternyata Ishikirimaru-san juga menyukainya. "

"Aku juga tak menyangka tapi aku merasa senang karena itu. Nikkari-san ingin pesan lagi atau sudah cukup? "

"Sudah cukup segitu saja. "

"Baiklah. "

Kemudian Ishikirimaru memanggil seorang pelayan untuk mencatat pesanan mereka berdua.

.

.

.

.

Waktu pun berlalu dengan cepat dan kini Ishikirimaru serta Nikkari sedang menikmati dessert pesanan mereka. Bahkan Nikkari tampak senang serta antusias saat memakan makanan penutup pesanannya.

Saking semangatnya Nikkari pun tak menyadari jika ada sedikit cream yang tertinggal di tepi bibirnya. Lalu secara tiba-tiba Ishikirimaru mengulurkan tangannya kemudian menyapu sisa cream dengan ibu jarinya.

Perbuatan Ishikirimaru sukses membuat Nikkari menghentikan kegiatannya. Nikkari pun dapat merasakan jika dadanya berdesir halus saat ibu jari milik Ishikirimaru menyapu tepi bibirnya. Sementara itu Ishikirimaru malah memakan cream itu. Tapi, tak lama dia menyadari jika perbuatannya tadi agak kurang sopan dan segera Ishikirimaru berbicara pada Nikkari.

"Maafkan aku, Nikkari-san. Sungguh aku reflek melakukannya. Aku sungguh minta maaf karena telah berbuat tak sopan padamu. "

"Tidak apa-apa. Aku malah ingin mengucapkan terima kasih padamu, Ishikirimaru-san. "

"Kau tidak marah? "

"Tentu saja tidak. "

"Syukurlah kalau begitu. "

Tiba-tiba Mikazuki datang menghampiri meja Ishikirimaru dan Nikkari. Sambil tersenyum anggun dan ramah, Mikazuki pun berkata...

"Aoe-san, temani aku ke toilet yuk. Aku takut jika sendirian. "

"Baiklah. Aku juga mau ke toilet. Ishikirimaru-san tunggu sebentar ya. Nanti aku kembali lagi. "

"Baiklah. "

Setelah itu Mikazuki dan Nikkari pun pergi ke toilet. Bukannya ke toilet, Mikazuki malah menarik Nikkari ke beranda restoran yang letaknya tak jauh dari toilet. Keadaan beranda restoran sedang sepi dan tak ada orang disana. Lalu Mikazuki pun mengeluarkan suaranya...

"Sesuai perkataanku di telepon tadi. Sekarang Aoe-san harus menceritakan apa yang terjadi tadi pagi antara dirimu dan juga kakakku. "

Mendengarkan perkataan Mikazuki, Nikkari hanya bisa pasrah dan mau tak mau dia harus menceritakannya pada Mikazuki tentang kejadian tadi pagi.

"Awal cerita sih aku terbangun dari tidur karena merasa sangat haus. Saat keluar kamar aku melihat lampu di kamar Ishikirimaru-san masih menyala dan karena penasaran aku pun masuk ke dalam kamarnya. Sesampainya masuk ke dalam aku melihat Ishikirimaru-san tengah tertidur di meja kerjanya. Lalu aku pun berinisiatif untuk menyelimuti tubuhnya supaya tidak masuk angin. "

"Lalu? "

"Tapi saat aku menaruh selimut di atas tubuhnya, dia malah terbangun. Kemudian aku menawarkannya untuk minum teh bersama dan dia setuju untuk minum teh bersama. Namun tanpa di duga kaki Ishikirimaru-san seperti tersandung kursi kerjanya dan menyebabkan dirinya terjatuh. Karena aku berada di depannya otomatis aku ikut terjatuh karena Ishikirimaru-san menimpa tubuhku lalu kami pun tidak sengaja ber..."

"Ber- apa? "

Seketika wajah Nikkari memerah saat mengingat kejadian tadi pagi. Kejadian tak terduga namun menjadi sesuatu yang spesial bagi Nikkari. Nikkari pun mengambil nafas sejenak dan kemudian dia berkata dengan nada yang lirih...

"Kami berdua berciuman. Tepat di bibir. "

Seketika ekspresi wajah Mikazuki terlihat sangat bahagia. Bahkan dia sampai bertepuk tangan dan tersenyum. Sementara Nikkari masih teringat-ingat kejadian tersebut.

"Aoe-san, bagaimana rasanya mendapat ciuman dari kakakku? Walau tak sengaja, ku yakin pasti ada sensasi tersendiri saat dicium olehnya. "

"Ji...jika di tanya soal itu aku bingung mau menjawab apa tapi satu hal yang dapat ku rasakan adalah bibir Ishikirimaru-san terasa sangat lembut dan hangat."

"Begitu ya. Tapi, kau orang yang beruntung karena dirimu lah yang menjadi pencuri ciuman pertama kakakku yang alimnya setengah mati. Selama 28 tahun dia hidup, dia belum pernah sekalipun pacaran atau jalan dengan orang lain. Tapi, sejak bertemu denganmu entah kenapa kakakku mulai berubah menjadi lebih lembut. Aku yakin kakakku suka padamu meski dia belum menyadari, Aoe-san. "

"Kau tidak bercanda, Mikazuki-san? "

"Mana mungkin aku bercanda soal ini, Aoe-san. Buktinya kakakku tidak marah padamu karena kau telah mencuri ciuman pertamanya. Sudah begitu dia terlihat baik-baik saja dan malah menikmati waktu bersamamu. "

"Eh? Terlihat seperti itu. Aku bahkan tak menyadarinya. "

"Aoe-san harus lebih peka saat menghadapi kakakku soal kakakku itu tidak peka kalau tidak bilang secara langsung. Kadang kalau sudah peka, dia suka sok tsundere gitu. "

"Begitu ya. Padahal aku melihat Ishikirimaru-san sebagai orang yang cukup peka terhadap sekitarnya. "

"Mungkin dia bersikap seperti hanya padamu saja. "

"Hahahaha tidak mungkin begitu, Mikazuki-san. "

"Tapi apapun yang terjadi pada dirimu dan kakakku, aku akan selalu mendukung kalian berdua. Jika kalian berdua jadian maka aku menjadi orang pertama yang berbahagia atas resminya hubungan kalian. Namun, kalau terjadi hal sebaliknya aku akan tetap seperti ini padamu, Aoe-san. Setidaknya Aoe-san harus berjuang untuk meluluhkan hati kakakku. "

"Jika boleh jujur aku masih bingung atas perasaanku terhadap Ishikirimaru-san. Seandainya perasaanku mengatakan aku jatuh cinta pada Ishikirimaru-san, aku takut sikapnya padaku akan berubah. Aku takut jika Ishikirimaru-san menjauhi bahkan membenciku. Aku tidak mau di benci oleh orang yang jelas-jelas membuat hidupku terasa lebih baik. "

"Begitu ya. Tapi, aku yakin kakakku bukan tipe orang yang seperti itu. Dia akan bersikap sama meskipun Aoe-san telah mengungkapkan perasaan yang sebenarnya terhadap kakakku. "

"Ku harap perkataan Mikazuki-san dapat terjadi. "

"Lebih baik kita segera kembali sebelum kakakku dan Kogitsune menyusul ke kamar mandi. "

"Ah Mikazuki-san benar. Ayo kita segera kembali. "

Akhirnya dua 'perempuan' cantik itu kembali ke tempat dimana para lelaki menunggu mereka.

.

.

.

.

Waktu terus berjalan dan kini Nikkari serta Ishikirimaru sudah berada di sebuah mall. Sesampainya di dalam mall, Nikkari pun meminta Ishikirimaru untuk menemaninya ke toilet. Nikkari ke toilet tentu saja untuk mengubah penampilannya. Tidak mungkin dia berdandan terus seperti perempuan.

Sekitar 30 menit kemudian akhirnya Nikkari keluar dengan tampilan yang berbeda. Awalnya Nikkari memakai sebuah gaun bergaya sederhana berwarna navy blue dan segala pelengkap lainnya agar terlihat seperti perempuan.

Kini dia sudah berganti memakai kaus longgar berwarna abu-abu muda yang panjang menutupi setengah paha Nikkari. Kaus tersebut dipadukan dengan kardigan panjang berwarna seperti gaun yang dia pakai sebelumnya dan legging jeans berwarna hitam. Tak lupa sepasang ankle boots dan tatanan rambut yang biasa dipakai Nikkari sehari-hari, di ikat ponytail.

Sementara Ishikirimaru hanya menanggalkan jasnya saja dan kini dia memakai kemeja lengan panjang berwarna birua tua, celana bahan panjang berwarna hitam, dasi berwarna abu-abu muda polos, dan vest berwarna hitam. Sederhana namun mampu membuat perempuan bahkan lelaki manapun akan terpesona.

Setelah itu keduanya pun berjalan menuju sebuah toko baju yang terletak di lantai 2. Keduanya terus berjalan berdampingan hingga sampai di toko baju.

Sesampainya di sana, keduanya langsung masuk ke dalam toko. Nikkari pun mengikuti Ishikirimaru dari belakang dan sesekali matanya menatap kagum toko baju tersebut.

Tapi, tiba-tiba Nikkari terhenti langkahnya karena dia menabrak tubuh Ishikirimaru dan hampir saja terjatuh kalau tidak di pegang oleh Ishikirimaru. Tentu saja itu membuat Nikkari menubruk dada bidang Ishikirimaru.

"Kau baik-baik saja, Nikkari-san?"

"A...aku baik-baik saja, Ishikirimaru-san. "

"Syukurlah kalau begitu. Maaf gegara aku berhenti mendadak hampir membuat Nikkari-san terjatuh. "

"Salah ku juga tidak fokus melihat ke arah depan. Ishikirimaru-san tidak salah. "

Tanpa keduanya tahu, seseorang pun menghampiri keduanya. Seseorang itu tersenyum melihat tingkah keduanya. Tak lama seseorang itu pun mengeluarkan suaranya...

"Ku kira siapa yang sedang bermesraan, ternyata Ishikirimaru dan pacarnya. Kalian tampak mesra sekali dan pose kalian itu membuatku rindu akan kekasihku di rumah."

Secara reflek Ishikirimaru dan Nikkari mengubah posisi mereka dan menoleh ke sumber suara.

"Kau mengejutkanku, Tsurumaru Kuninaga. "

"Aku kan memang suka mengejutkan orang-orang Ishikirimaru. Apa kau sudah mulai pikun? "

"Enak saja. Aku belum tua tahu!. Sudah lama kita tidak bertemu sejak acara pertunanganmu dengan anak sulung keluarga Awataguchi. "

"Kau benar. Oh, ya, kau sudah dapat kabar soal pernikahanku dengan dia? "

"Eh? Menikah?. Aku belum dapat kabar apapun soal itu. "

"Ya ampun. Jangan bilang Mitsu-bou lupa memberitahumu. "

"Mungkin. Mitsutada tidak bilang apapun soal itu saat di kantor. "

"Dasar Mitsu-bou. Soal pernikahanku dan Ichigo akan di laksanakan 2 minggu lagi. Aku tidak mengundang banyak orang. Aku cuma mengundang beberapa sahabat, keluarga, dan kolegaku. Tentu saja aku mengundangmu dan jangan lupa ajak pacarmu yang cantik itu. "

"Dia bukan kekasihku. Aku dan dia hanya teman saja. Satu lagi, dia itu juga laki-laki. Kalau kau tidak percaya tanya saja dia. "

Seketika dada Nikkari terasa sedikit nyeri saat Ishikirimaru mengatakan seperti itu. Meskipun pada kenyataannya memang begitu namun Nikkari tetap merasa sedikit sakit dan sedih saat mendengarnya.

Saat Nikkari masih tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya. Tentu saja Nikkari kaget dan seketika dia mundur beberapa langkah saat melihat sosok serba putih bernama Tsurumaru itu.

"Maaf jika aku mengejutkanmu. Tapi, apa benar yang dikatakan Ishikirimaru tadi? "

Secara perlahan Nikkari menganggukkan kepalanya. Meskipun dalam hatinya berkata lain.

"Yah...ku kira Ishikirimaru sudah tidak jomblo lagi. Oh, ya, namaku Tsurumaru Kuninaga. Kalau aku boleh tahu siapa namamu? "

"Namaku Nikkari Aoe. Salam kenal dan senang bertemu denganmu, Kuninaga-san. "

"Senang bertemu denganmu juga, Aoe-san. "

Keduanya saling melakukan ojigi saat melakukan perkenalan. Setelah melakukan perkenalan, Ishikirimaru meminta bantuan Tsurumaru untuk mencarikan beberapa pakaian resmi dan tidak resmi untuk Nikkari.

.

.

.

.

Setelah 40 menit berlalu akhirnya Ishikirimaru dan Nikkari berpamitan dengan Tsurumaru. Mereka pun mendapat undangan pernikahan Tsurumaru dan calon istrinya.

Kini Ishikirimaru dan Nikkari bingung mau pergi ke mana karena masih ada waktu 1 jam lagi sebelum makan malam tiba.

"Nikkari-san... "

"Ya? "

"Apa kau punya ide kita ke mana dulu sebelum makan malam tiba? "

"Aku tidak punya ide tapi mungkin kita bisa pergi ke tempat yang seru. "

"Tempat yang seru ya? Hmm... Ah! Aku tahu tempatnya! "

Tanpa aba-aba Ishikirimaru pun menarik lalu menggenggam tangan Nikkari yang tidak memegang tas belanja. Tentu saja Nikkari pasrah serta deg-deg an karena tiba-tiba Ishikirimaru menarik kemudian menggenggam tangannya. Rona merah muda tipis kini terlihat di kedua pipi Nikkari.

Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Nikkari dan Ishikirimaru sampai di tempat bermain yang penuh dengan berbagai macam mainan. Keduanya pun masuk dan berjalan menuju bagian penjual kartu.

Ishikirimaru pun melepaskan genggamannya dan dia mengeluarkan 2 lembar uang dengan nominal 500 yen untuk membeli kartu. Tak butuh waktu lama kartu untuk bermain sudah berada di tangan Ishikirimaru.

Setelah itu Nikkari dan Ishikirimaru pun menikmati waktu mereka untuk bermain di tempat itu tanpa tahu jika orang-orang melihat mereka dengan tatapan heran, terutama kepada Ishikirimaru.

.

.

.

.

Waktu pun terus berjalan dan tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 9 malam.

Kini Nikkari dan Ishikirimaru telah sampai di apartemen Ishikirimaru. Rasa lelah tentu saja sangat dirasakan oleh keduanya. Meskipun lelah keduanya pun menikmati hari ini.

Ishikirimaru dan Nikkari masih duduk di sofa namun keduanya tak ada yang berbicara. Tapi, tak lama Ishikirimaru pun memecahkan keheningan di antara mereka berdua.

"Nikkari-san... "

"Ya? "

"Apakah kau menyukai sesuatu yang lucu atau yang menggemaskan? "

"Untuk kedua hal itu aku cukup suka. Kenapa memangnya Ishikirimaru-san? "

"Aku ingin memberikan sesuatu padamu. Tunggu sebentar... "

Ishikirimaru pun mencari sesuatu dari salah satu tas belanja yang dia bawa. Tak lama keluarlah sebuah bungkusan yang cukup besar dengan aksen pita berwarna biru tua sebagai pemanisnya. Ishikirimaru pun memberikan bungkusan itu pada Nikkari.

"Ini untukmu, Nikkari-san. "

"Untukku? "

"Ya. Untukmu, Nikkari-san. Ku harap kau suka dengan isinya. "

"Terima kasih. Bolehkah aku membuka hadiahnya? "

"Tentu boleh. "

Segera Nikkari membuka kado dari Ishikirimaru dengan perlahan tapi pasti. Setelah melihat isinya seketika mata Nikkari berbinar-binar. Secara cepat Nikkari mengeluarkan isinya.

Ternyata isinya sebuah boneka beruang berwarna cokelat tua dengan hiasan baju tradisional jepang berwarna hijau dan hakama berwarna abu-abu agak muda dengan putih pada bagian bawahnya. Tak lupa sebuah topi hitam tradisional menghiasi kepala boneka tersebut.

"Ishikirimaru-san aku sangat menyukai hadiahnya! Terima kasih banyak! "

"Sama-sama, Nikkari-san. Aku turut senang karena kau menyukai hadiahnya. "

"Tapi, Ishikirimaru-san mendapatkan ini dari mana? Perasaan tadi kita tidak ke toko boneka. "

"Boneka itu ku dapat saat kita bermain di tempat game tadi. Karena memenangkan memenangkan tiket cukup banyak, akhirnya ku tukarkan dengan boneka itu. "

"Ya ampun. Seharusnya boneka ini jadi milik Ishikirimaru-san. "

"Tapi aku lebih memilih untuk menyerahkannya ke dirimu, Nikkari-san. Jujur saja aku tidak pernah main boneka dari kecil. "

"Begitu ya. Tapi, jika di lihat-lihat lagi boneka ini mirip denganmu."

"Eh? Apanya yang mirip? "

"Warna bulunya sewarna dengan rambut Ishikirimaru-san dan warna mata boneka ini juga sama dengan warna matamu. "

"Hmm...benar juga. Sebuah kebetulan yang aneh tapi lucu. "

"Kau benar tapi aku akan merawat boneka ini dengan baik-baik. Oh, ya, Ishikirimaru-san soal pernikahan temanmu itu, calon pengantin wanitanya itu namanya manis ya. Seperti nama buah."

Tak lama setelah Nikkari berbicara seperti itu, Ishikirimaru pun tertawa. Tentu saja Nikkari merasa bingung karena tidak mengetahui alasan mengapa Ishikirimaru tertawa.

Namun, Ishikirimaru segera menghentikan tawanya karena dia takut Nikkari marah nantinya. Setelah lebih tenang, Ishikirimaru menceritakan alasan mengapa dia tertawa.

"Soal calon istrinya Tsurumaru itu sebenarnya dia bukan seorang wanita. Nama kanjinya juga bukan berdasarkan dari kanji buah. Bisa dibilang namanya cukup keren untuk ukuran seorang laki-laki. "

"Ehhhhhh? Jadi Kuninaga-san menikah dengan laki-laki? "

"Kurang lebih begitulah. Waktu pertama tahu, aku cukup terkejut tapi pada akhirnya aku mengerti mengapa dia bisa mengambil keputusan itu. Nikkari-san, bersedia tidak untuk menemaniku datang ke pesta resepsi Tsurumaru dan Ichigo? "

"Jika Ishikirimaru-san tidak merasa keberatan, aku bersedia untuk ikut. Tapi, soal bajunya bagaimana? Apakah ada ketentuannya? "

"Terima kasih karena sudah menerima tawaranku. Eh? Aku belum lihat. Tunggu sebentar ku lihat undangannya dulu. "

Ishikirimaru pun mengambil undangan dari Tsurumaru dari salah satu tas belanjanya. Tak lama dia pun membuka undangan tersebut dan membacanya secara bersama-sama dengan Nikkari.

Seketika kedua orang ini membelalakkan matanya saat melihat tema pesta yang diselenggarakan oleh kedua mempelai.

CROSS DRESSING PARTY!

Intinya jika kalian datang berdua (terutama keduanya lelaki) maka salah satunya harus menjadi seorang perempuan dan wajib memakai gaun perempuan. Begitupula sebaliknya.

Ishikirimaru dan Nikkari hanya bisa tepuk jidat dengan kode pakaian yang harus dikenakan saat menghadiri pesta tersebut. Mengejutkan dan agak konyol memang menjadi ciri khas Tsurumaru.

"Nikkari-san tetap yakin ingin datang meskipun harus berpakaian seperti itu? "

"Karena sudah diundang, mau tak mau harus datang dan aku juga harus memenuhi perkataanku tadi. "

"Baiklah kalau begitu. Aku yakin adikku juga akan mengetahui hal ini. Setidaknya nanti aku bisa meminta tolong padanya untuk mendandanimu saat harinya tiba. "

"Eh? Mikazuki-san kenal dengan Kuninaga-san? "

"Bisa dibilang mereka itu berteman sejak keduanya masih di SMA. Kemungkinan Mikazuki akan pergi bersama dengan kita."

"Begitu ya. "

"Karena sudah semakin malam, lebih baik kita segera mandi lalu beristirahat. Aku duluan, Nikkari-san. "

"Kau benar. Baiklah. Selamat beristirahat, Ishikirimaru-san. Terima kasih untuk hari. "

Ishikirimaru pun membalas perkataan Nikkari dengan senyuman dan tak lama dia pun masuk ke dalam kamarnya sambil membawa 1 tas belanja.

Tak lama Nikkari pun ikut menyusul masuk ke dalam kamar Nikkari sendiri.

Lalu tanpa keduanya sadari hubungan di antara keduanya mulai memasuki babak baru dan tentu saja akan membuat keduanya semakin kerepotan sekaligus penuh dengan emosi.

.

.

.

.

つずく

.

.

.

.