Chapter 11 ~ Catch, you!~
Disclaimer : ©Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)
Genre : Romance, Drama, Tragedy, Fantasy, Friendship, Yaoi, Shounen Ai
Warning : Canon, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, yaoi, dan hal absurd lainnya.
Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!
.
.
.
.
.
Dua hari setelah kejadian yang terjadi dengan tak terduga di rumah hantu yang berada di Shinori Land telah berlalu. Sasuke sampai sekarang sudah tidak mendengar lagi desas-desus ataupun berita tentang pengerusakan beberapa Restoran seperti sebelumnya terjadi.
Berita di tv menayangkan beberapa Restoran yang ada di kota Shinori ataupun beberapa kota di Jepang agar lebih waspada dan meningkatkan penjagaan karena sewaktu-waktu orang yang tak dikenal itu pasti akan kembali.
Sasuke tidak percaya jika orang itu akan kembali merusak beberapa Restoran seperti sebelumnya. Karena Sasuke merasa targernya telah ditemukan. Sasuke benar-benar melihat tatapan tajam itu mengarah lurus pada Naruto. Seperti orang yang dicari-cari telah ditemukan.
Tapi kenapa? Kenapa Naruto? Apa yang dia inginkan dari Naruto? Kenapa dia berkali-kali menghunuskan pedangnya pada Naruto?
Sasuke pernah bertanya pada Naruto soal orang itu, siapa tahu Naruto pernah membuat satu kesalahan yang tak disadarinya lalu membuat orang itu dendam pada Naruto. Tapi nyatanya Naruto mengaku kalau ia baru bertemu orang itu sekali, dan pertemuan itu terjadi kemarin. Di rumah hantu Shinori Land.
Sasuke saat ini merasa sedikit takut dan was-was bila orang itu kembali datang dan berbuat yang macam-macam pada Naruto. Sasuke merasa tidak boleh meninggalkan Naruto sendirian. Walaupun kekuatan bertarung Naruto lebih besar daripada Sasuke, tetap saja Sasuke merasa khawatir.
"Apa yang kau pikirkan, Teme?" Naruto berjalan masuk keruang kerjanya, berjalan kearah Sasuke yang sedang duduk di kursi kerjanya, menopang kepalanya dan menatap laptop tetapi dengan tatapan kosong dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Cari ribut, hah?" Sasuke menghentakan tangan Naruto dari atas kepalanya. Naruto tertawa dan duduk di kursi kerjanya, tepat di samping meja Sasuke.
"Kau ini masih saja kepikiran. Aku ini—"
"Naruto!" Naruto terkejut oleh bentakan yang keluar dari mulut Sasuke. Sasuke menatap Naruto dengan tatapan serius. Tidak! Bukan serius. Ini kelewat serius. Terlalu serius.
"Sasuke.." Naruto merapihkan rambut Sasuke yang sedikit berantakan karena ulahnya tadi. Menyampirkan helaian lurus nan hitam itu kebawah, membelai poni Sasuke yang menutupi mata kirinya. "Aku akan baik-baik saja. Aku kuat. Aku bisa mengalahkan orang itu."
"Tapi dia tidak bisa mati." Sasuke melepaskan tangan Naruto dari rambutnya. Meremas pelan tangan Naruto menghantarkan kekhawatiran yang selalu berkelebat dihati Sasuke sejak dua hari yang lalu.
"Tahu dari mana kalau dia tidak bisa mati? Hanya melihatnya dihunuskan pedang sekali lalu berdiri lagi, bukan berarti dia tidak bisa dibunuh. Bukannya sombong, tapi kau tahu aku sama sepertinya, kan? Hanya tusukan seperti itu aku masih bisa bangkit dan menyembuhkan diri. Bukan berarti aku tidak bisa mati. Aku juga manusia yang akan mati, kita hanya harus cari cara untuk menghentikannya. Kau mengerti, Kan, Sasuke?"
Naruto benar. Bagaimana mungkin Sasuke bisa melupakan hal itu. Sasuke menatap mata Naruto, melepaskan genggaman tangannya dan mengangguk mengerti. Naruto tersenyum dan meninju pelan pipi Sasuke.
"Tenang saja. Kau hanya harus selalu ada disampingku. Karena aku aman bila didekatmu."
.
.
.
.
.
Sasuke melirik jam yang berada di dinding. Jam dinding menunjukan pukul 3 sore. Jam segini biasanya Itachi sudah ada di ruang ganti. Sasuke melirik Naruto yang sedang menelepon Tsunade di seberang sana. Dari pendengaran Sasuke, Tsunade saat ini sedang berada di Rusia.
"Kau ini—Hah? Liburanmu bertambah lagi? Apa? 4 bulan? Jangan mentang-mentang ada aku, kau jadi menambah waktu liburanmu!" Yah, begitulah kira-kira isi percakapan yang sangat membuat Sasuke jengkel lalu senang. Jengkel karena Tsunade dengan seenaknya mempekerjakan Naruto dan Sasuke sedangkan dia asik liburan keluar negri, senang karena pekerjaan mereka masih ada.
Sasuke keluar ruangan dan berjalan menuju ruang ganti. Di depan pintu masuk ruang ganti, Itachi sedang menyiapkan apron yang ingin ia kenakan. Itachi menyadari ada suara sepatu mengarah padanya, mendongak dan mendapati Sasuke tengah berjalan kearahnya.
"Sasuke-san, selamat sore. Kau ingin mendiskusikan yang kemarin?" Itachi membungkukan badannya saat apron telah terpasang pas di badan Itachi. Sasuke mengangguk.
Itachi dan Sasuke sempat saling mengirim E-mail pada Itachi. Sasuke memutuskan untuk meminta bantuan pada Itachi atas pikiran-pikiran yang selalu menghantuinya dua hari terakhir ini.
"Kita bicarakan di dalam." Sasuke langsung masuk menuju ruang ganti, Itachi mengangkat alis sebelahnya dan akhirnya ikut masuk kedalam. Setelah berada di dalam, Sasuke mengunci pintunya dan menatap dalam mata Itachi. Itachi menelan ludah melihat ekspresi Sasuke yang siap memakan Itachi kapan saja. Kalau Itachi salah bicara, bisa-bisa Itachi akan benar-benar dimakan oleh Sasuke.
"A—Aku.. Sesuai yang Sasuke-san pinta kemarin malam, aku menanyakan hampir semua orang-orang yang ada di sekolahku. Bukan hal yang mengejutkan karena wajah orang itu sudah tertampang dimana-mana dan semua orang tahu mengenai orang itu. Hanya saja mereka tidak mengenalnya." Itachi memutuskan kalimatnya.
"Apa mereka pernah bertemu dengannya dua hari terakhir?" Tanya Sasuke. Itachi menggeleng.
"Beberapa dari mereka malah mengatakan jika melihat orang itu saat sedang berada di Restoran yang sedang di rusaknya."
"Lanjutkan." Suruh Sasuke. Itachi mengangguk patah-patah.
"Tapi, dua temanku, Rei dan Rai—" Sasuke mengerutkan keningnya ketika mendengar dua nama anak yang dikenalnya. Kenapa dengan si kembar?
"—Mereka berdua cerita padaku, mereka pernah bertemu dengan orang itu kemarin pagi. Mereka berdua ada klub Karate di jam pagi, maka dari itu mereka harus berangkat jam setengah 6 pagi. Mereka melihat orang itu berjalan lunglai, tetapi saat melihat si kembar, orang itu berlari menuju si kembar dengan membawa sebuah katana panjang. Mereka berdua tidak menceritakan padaku detail cerita tentang bagaimana mereka lolos dari orang aneh itu."
Sasuke menambah kerutan di keningnya. Orang itu bahkan juga mengincar Rei dan Rai juga. Apa mungkin yang dia incar adalah orang-orang dari Konoha? Atau tidak? Tapi Sasuke tidak heran, si kembar adalah Chunin, mereka berdua pasti punya cara untuk lolos dari orang itu.
"Apa kau di beritahu kalau si kembar mengenal orang itu?" Tanya Sasuke.
"Karena mereka menceritakannya dengan menyebutnya orang asing, ku pikir mereka tidak mengenal orang itu." Jelas Itachi. "Ano, Sasuke-san, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ada apa?"
"Apa ini ada hubungannya dengan Sasuke-san? Karena aku berpikir, dari percakapan kita semalam, jika orang itu seperti mengincar Sasuke-san? Maksudku, itu loh, biasanya penyihir punya musuh, kan? Seperti di anime-anime gitu. Apa dia musuhmu?" Tanya Itachi. Sasuke menaikan satu alisnya lalu mengkerutkan kembali keningnya. Apa dia musuh? Tentu saja dia musuh.
"Ya, dia musuh." Jawab Sasuke.
"Lalu, ada hubungan apa Sasuke-san dengan Rei dan Rai? Saat pertama kali kalian bertemu di sekolahku, aku mendengar mereka memanggilmu Sasuke-sama. Apa maksudnya?" Itachi menatap Sasuke dengan ekspresi penuh tanya dan penasaran. Sasuke menghela nafasnya dan mulai memegang pundak kiri Itachi.
"Maaf untuk sebelumnya. Tapi yang paling penting kau harus berjanji dulu agar tidak memberitahukan tentang ini semua kepada orang-orang. Siapapun, ataupun orang yang sangat kau percayai. Karena aku percaya padamu."
Itachi mengangguk. "Aku berjanji."
"Sebenarnya kami bukan berasal dari dunia ini. Kami terlempar ke dunia yang tidak kami kenal, ke dunia ini. Kami tidak tahu bagaimana caranya kami pulang, itulah kenapa kami memutuskan tinggal di dunia ini sampai kami menemukan cara agar bisa pulang ke dunia kami. Rei dan Rai, bisa dibilang, sejenis seperti kami. Alasan kenapa mereka memanggiku 'Sama' adalah karena aku sekarang menjadi bawahan Hokage." Jelas Sasuke membuat mulut Itachi sedikit menganga. Tidak menyangka kalau dua temannya itu juga seorang penyihir. Lalu mengerutkan kening sedetik kemudian.
"Hokage?" Itachi merasa asing dengan kata 'Hokage' dan memiringkan kepalanya.
"Itu adalah sebuah jabatan tertinggi di negara kami. Seseorang yang memerintah Negara. Kau mengerti? Dan Hokage itu adalah Naruto." Penjelasan Sasuke tentang Hokage membuat mulut Itachi menganga lebih lebar lagi. Ternyata Managernya seorang pemimpin negara di duniannya. Hebat! Itachi yakin, mata Itachi sekarang sedang membesar dan berbinar.
"Bukan waktunya untuk terkesima. Itachi, kalau kau bertemu orang itu, kau harus cepat-cepat menghubungiku. Kau paham?" Itachi mengangguk cepat.
"Tentu saja. Dan juga akan aku rahasiakan." Itachi menepuk dadanya dengan percaya diri bahwa dirinya ini dapat dipercaya dan dapat diandalkan.
"Sasuke-san kan bawahannya Hokage, sudah pasti Sasuke-san kuat. Lalu kenapa wajahmu masih khawatir?" Sasuke menegakan badannya. Mengehela nafas berat.
"Aku khawatir karena sepertinya target orang itu adalah Naruto."
"Apa? Pak Manager?"
Sasuke mengangguk. "Sebenarnya tidak heran untukku jika Naruto memiliki musuh, karena memang Naruto adalah Shinobi terkuat dari semua Shinobi di negara kami. Wajar saja jika Naruto memiliki setidaknya satu atau dua musuh. Aku tidak pernah khawatir selama ini, Naruto selalu bisa mengatasinya dengan caranya sendiri. Tapi entah kenapa, untuk yang satu ini, aku sangat khawatir. Perasaanku tidak enak."
Sasuke menatap pintu dengan pandangan yang sulit dijelaskan di mata Itachi. Dengan inisiatifnya, tangan Itachi terulur dan mengusap pelan punggung lebar Sasuke. "Hokage-sama pasti baik-baik saja."
.
.
.
.
.
Sasuke berdiri di luar di depan samping Gerbang SMA Negri Shinori, menyender pada tembok dan menatap pohon Sakura yang sedang tidak mekar. Sore ini ia sengaja datang ke Sekolah Itachi.
Sebenarnya Sasuke diberi tahu jika sekolah bubar dua jam yang lalu. Tapi Sasuke bertanya pada Itachi, jadwal pulang setiap murid pasti berbeda-beda. Karena murid ada yang mengikuti klub yang mereka pilih. Sasuke bertanya pada Itachi tentang kegiatan Rei dan Rai disekolah. Kapan biasanya mereka pulang atau klub apa yang mereka ikuti di sekolah.
Menurut Itachi, mereka berdua hari ini sedang ada klub karate. Karena klub karate akan ada pertandingan satu bulan lagi, maka klub karate selalu berlatih setiap hari dan akan pulang dua jam setelah sekolah bubar. Dan sekarang Sasuke telah mendengar banyak suara derap kaki yang kian mendekat. Sasuke menegakan tubuhnya ketika dua orang yang di tunggu telah datang.
"Sasuke-san?!" Pekik Rei ketika melihat Sasuke yang sudah berdiri di sebelah gerbang yang terbuka. Rai melirik Rei yang mendengar kata 'Sasuke-san' keluar dari mulutnya. Rai mengikuti lirikan mata Rei dan ikut terpekik kaget.
"Ah.. Kalian duluan saja. Kami sudah dijemput." Ucap Rei ketika teman-temannya menanyakan siapa orang yang telah menunggunya. Mereka mengangguk dan melambaikan tangan pada Rei dan Rai lalu melangkah pergi meninggalkan dua temannya dan satu orang dewasa yang tidak mereka kenal.
"Sasuke-san?! Apa yang kau lakukan disini?" Ucap Rei melangkah menghampiri Sasuke.
"Aku ingin mendengar cerita orang aneh yang pernah bertemu dengan kalian tempo waktu itu. Kalian mau cerita?" Rai dan Rei saling bertatapan. Orang aneh yang dimaksud Sasuke pasti orang yang seperti Shinobi di Konoha. Sepertinya Itachi cerita pada Sasuke ketika Itachi menanyakan hal itu kemarin lusa.
"Seperti yang Sasuke dengar, dia bukan manusia yang tinggal di dunia ini. Dia seperti Shinobi. Dia menyerang kami dengan membabi buta menggunakan jurus-jurus yang ada di semua klan di Konoha." Jelas Rai. Sasuke mengajak Rei dan Rai menuju bangku panjang di sebelah pohon Sakura yang tidak berbunga.
"Maksudnya? Semua jurus bagaimana?" Sasuke mengerutkan keningnya.
"Ketika kami berhadapan dengannya, dia menggunakan jurus bayangan yang menjadi jurus dari klan Nara." Jelas Rei.
"Mungkin saja dia berasal dari klan Nara, bukan?"
"Awalnya kupikir juga begitu, tetapi dia malah mengeluarkan jurus katon. Lalu dia mengganti jurusnya dengan Rasengan. Lalu—"
"Apa?! Rasengan?!" Potong Sasuke ketika Rei sedang menjelaskan apa yang mereka alami saat itu.
"Itu benar. Kami benar-benar takut saat itu. Dia seperti tak terkalahkan. Terakhir dia seperti mengendalikan pasir. Kami tidak terpikir untuk melawannya. Yang kami pikirkan adalah kabur dari serangan yang dia keluarkan." Ucap Rai mengangguk.
"Bagaimana? Sasuke-san? Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana jika dia mengincar kami lagi? Kami hanyalah Chunin yang tidak sehebat itu. Apalagi di dunia ini, kami tidak bisa menggunakan Cakra terlalu sering. Ketika kami mengeluarkan Cakra, kami cepat lelah. Kami khawatir." Jelas Rai. Sasuke juga setuju dengan ucapan Rai. Setiap ia menggunakan Cakra, ia akan cepat lelah. Mustahil jika bertarung dengan orang aneh itu tanpa menggunakan Cakra.
"Kalau kalian khawatir, aku bisa mengantar kalian dan menjemput kalian setiap hari sampai aku selesai menguruanya." Tawar Sasuke berdiri dari duduknya. "Ayo. Aku antar sampai rumah kalian." Lanjut Sasuke. Rei dan Rai menggeleng dengan cepat.
"Tidak perlu sampai seperti itu. Kami—"
"Tidak apa. Ayo!" Sasuke memotong ucapan Rei dan berjalan meninggalkan sekolah. Rei dan Rai saling tatap dan mendesah lalu berjalan mengikuti Sasuke dan melangkah di samping Sasuke. Mereka merasa tidak enak kalau Sasuke harus mengantar dan menjemput mereka setiap hari. Tapi kalau tidak begini, mereka juga khawatir jika orang itu datang lagi. Tetapi jika ada Sasuke disini, mereka tidak perlu khawatir lagi.
"Kupikir kau harus menyerangnya?" Bisik seseorang yang jauh dari Sasuke, Rei dan Rai berada di balik pohon Sakura yang lumayan besar.
"Iya. Tapi aku tidak kenal dua orang itu, aku ingin kau urus orang dewasa yang itu." Balas satu orang yang disebelahnya sambil merendahkan topinya menyembunyikan rambut merahnya. Laki-laki disebelahnya mengerlingkan matanya.
"Sebenarnya urusanku bukan dengan orang itu." Bisik laki-laki berambut hitam berkupluk abu-abu itu.
"Lalu? Kenapa? Aku sudah membayarmu!" Bentak si rambut merah itu masih dengan tetap berbisik. Melirik tiga orang yang sudah terlihat pergi lumayan jauh. Mereka berdua keluar dari tempat persembunyian dari balik pohon Sakura.
"Lalu kau ingin aku apakan dia?" Ucap laki-laki itu mulai berbicara dengan suara normalnya.
"Terserah. Yang aku mau, kau buat orang itu pindah dari kota ini. Kalau bisa pindah dari negara ini." Ucap si rambut merah penuh dengan penekanan.
"Aku bisa membuatnya pindah dari dunia ini." Ucapnya menyeringai.
"Itu berlebihan."
"Urusanmu hanya dengan orang itu kan? Itu bisa diatur. Akan aku buat dia gila."
"Maksudnya?"
"Kau lihat saja nanti. Dia akan gila. Dan jangan lupa setengah bayaranku, Gaara." Ucap laki-laki itu sambil menyeringai membayangkan apa yang harus ia lakukan setelah ini.
"Terserah." Ucap si rambut merah yang dipanggil Gaara oleh orang yang di sebelahnya. Walaupun Gaara tidak tahu apa maksudnya yang akan dilakukannya dengan kata 'gila' itu.
.
.
.
.
.
Sasuke masuk kedalam ruang Managernya dan duduk di kursi kerjanya. Menyenderkan tubuhnya dan melirik Naruto yang masih saja menelepon, padahal Sasuke saat pergi dari sini Naruto tengah menelepon. Naruto menutup teloponnya saat kata 'terimakasih' terucap dari bibirnya.
"Lama sekali kau bertelepon?" Tanya Sasuke memejamkan matanya menyamanakan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Kau dari mana saja?" Naruto menatap tajam Sasuke saat Sasuke sudah membuka matanya.
"Coba tebak aku dari mana?"
"Kau dari mana, Sasuke? Aku sedang bertanya padamu!" Naruto makin menajamkan tatapannya dan suaranya pada Sasuke. Sasuke menyeritkan keningnya melihat Naruto yang sepertinya sangat marah dengan kepergian tiba-tiba Sasuke hari ini. Agak lama memang, harusnya Sasuke memberitahukan dulu pada Naruto. Tapi mau bagaimana lagi, Naruto keasikan bertelepon dengan Tsunade.
"Aku dari sekolah Itachi. Ah—mulai hari ini aku akan menjemput dan mengantar Rei dan Rai ke sekolah. Aku takut jika mereka berdua diserang oleh orang aneh itu lagi." Jelas Sasuke sambil menyentuh kening Naruto bermaksud menghilangkan kerutan yang diciptakan Naruto. Naruto menepis tangan Sasuke dan meremasnya lumayan kuat.
"Gara-gara kau pergi, Gaara kembali mengusikku. Itu sangat mengganggu, kau tahu? Apa aku harus merantaimu agar kau tak kemana-mana, hah?"
"Kau ini kenapa, sih? Aku hanya keluar sebentar. Kau bisa mengatasi Gaara sendirian, kan? Aku percaya padamu. Jadi—"
"Kau terlalu percaya padaku, Sasuke." Potong Naruto saat Sasuke belum menyelesaikan kalimatnya. "Kalau aku selingkuh, bagaimana?" Lanjut Naruto. Sasuke menyipitkan matanya menatap Naruto lalu meniup wajahnya.
"Kau memang sedang berselingkuh, Naruto. Aku juga sedang berselingkuh."
Naruto menatap wajah Sasuke yang lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Naruto berpikir kalau ucapan Sasuke bebar adanya. Mereka sedang bermain api. Naruto mencintai Sasuke tapi ia juga menyayangi Hinata. Naruto menghembuskan nafas beratnya saat memikirkan Hinata dan dua anaknya di Konoha. Naruto merindukan keluarganya. Kalau mereka sudah pulang ke Konoha, bagaimana kelanjutan cerita cinta yang ia jalani diam-diam dengan Sasuke di dunia ini?
Naruto tidak bisa memikirkan kelanjutannya. .
.
.
.
.
.
Tiga hari setelah perjanjian sepihak yang Sasuke buat dengan Rei dan Rai, Sasuke benar-benar rutin mengantar dan menjemput Rei dan Rai saat berangkat sekolah dan pulang sekolah. Rei dan Rai tidak bisa menolak tawaran yang Sasuke berikan untuk mereka. Jadi saat Sasuke menjemputnya, Rei dan Rai hanya bisa berterimakasih.
Dalam tiga hari ini memang tidak ada tanda-tanda kehadiran orang aneh itu yang tiba-tiba menyerang dengan mengeluarkan jurus-jurus yang sangat dikenal di Konoha. Tetapi Sasuke harus tetap Waspada Karena orang itu suatu saat pasti akan memunculkan dirinya lagi.
Sebenarnya, Sasuke tidak benar-benar berniat untuk menjaga dua Chunin itu. Sasuke hanya ingin menangkap orang aneh itu—jika sewaktu-waktu orang aneh itu datang lagi—dan menginterogasinya. Karena Sasuke punya banyak pertanyaan tentang semua kejanggalan yang terjadi selama ini, dan Sasuke merasa jika orang itu tahu semuanya.
Hari ini, Sasuke sedang ada di perjalanan pulang setelah menjemput kembar Chunin itu lalu menuju restoran tempat kerjanya. Sasuke Masih memikirkan kata-kata yang dikatakan oleh Naruto sebelum Sasuke berangkat menuju sekolah Itachi.
Naruto mengatakan Jika ia mempunyai Firasat yang buruk saat Sasuke pergi. Tapi Sasuke menyangkal perkataan Naruto jika itu hanyalah perasaan tidak enak yang hanya numpang lewat saja dan tidak seserius itu. Mungkin perasaan tidak enak itu adalah perasaan di mana waktu yang akan datang Naruto akan didatangi oleh Gaara kembali. Bisa jadi.
Sasuke selalu percaya Naruto jika dia bisa mengatasi Gaara.
Tapi..
Malam ini, Sasuke berdiri di depan jendela menatap mobil yang berjalan kian menjauh dari apartemen mereka. Sasuke mengalihkan pandangannya pada tubuh yang teronggok di lantai yang sangat dikenalnya. menatapnya dengan tatapan super tajam yang bahkan tidak dirasakan oleh tubuh yang sudah kehilangan kesadaran itu.
Hari ini saat Sasuke pulang dari menjemput Chunin kembar itu, Naruto tidak di temukan di ruang Manager. Begitupun dengan Gaara, Koki mereka. Sasuke hanya bisa berpikir positif saja. Tapi yang ia lihat barusan adalah, adegan Gaara tengah membopong Naruto yang sedang mabuk lalu Gaara menyeringai dengan seringaian 'Iam a Champion' nya itu. Membuat Sasuke haus akan membelah leher si pirang idiot ini.
"Hei, Idiot! Usuratonkachi! Bangun, kau!" Sasuke menendang tubuh tak berdaya itu sampai tubuh itu akhirnya mulai menunjukan tanda-tanda kehidupan.
"Sudah pagi?" Tanya Naruto dengan suara paraunya. Perempatan di dahi Sasuke mencul begitu saja. Membuat Sasuke menginjak dengan lebih keras tubuh tak berdaya itu. Bisa-bisanya Si Pirang Super Idiot ini bertanya seperti itu. Sasuke ingin sekali membuat Naruto panggang saat ini juga.
"Sakit.. Aaa.." Teriakan Naruto benar-benar parau saat ini. Seperti halnya orang-orang yang sedang bangun tidur. Sasuke menghentikan aksinya dan mengangkat Naruto untuk duduk menyender pada tembok.
"Apa yang kau lakukan hari ini?"
"Emh? Sasuke? Hari ini?" Tampang super idiot ala Naruto benar-benar membuat Sasuke kesal. Sasuke perlahan menarik nafas dalam dan mengeluarkan perlahan. Mencoba menenangkan diri, bagaimanapun manusia di depannya ini sedang dalam keadaan mabuk yang tidak akan bisa menjawab pertanyaannya dengan benar.
Gaara, brengsek.
.
.
.
.
.
Sasuke berdiri di depan cerminnya menatap kemeja tanpa dasi. Biasanya Naruto yang selalu memakainya. Tetapi hari ini Naruto tidak bisa bekerja seperti biasa, suhu badannya naik saat ini. Sasuke tidak tega untuk meninggalkan Naruto sekali lagi, kalau bocah api itu datang lagi bagaimana?
Tidak. Sudah Sasuke duga panggilan setan kecil lebih cocok.
Kalau setan kecil itu datang lagi bagaimana?
Sasuke menghela nafasnya dan menghampiri Naruto yang berada di balik futon. Menyentuhkan dahinya yang telah Sasuke tempel dengan kompres yang Sasuke beli di mini market. Dahinya masih panas, leher dan badanya juga panas. Sasuke mengelus kedua kelopak mata itu sampai akhirnya terbuka.
"Aku berangkat dulu." Ucap Sasuke. Naruto mengangguk dan kembali memejamkan matanya. Sasuke bangkit dan keluar dari apartemennya. Sasuke bisa mempercayai Naruto jika Naruto pasti baik-baik saja. .
Sasuke menarikan tangan kanannya di atas keyboard saat ada panggilan masuk beberapa saat yang lalu. Suara debuman super keras yang berasal dari pintu yang dibuka secara tiba-tiba membuat Sasuke tersentak. Pelakunya adalah Itachi yang saat ini masih mengenakan seragam sekolahnya dengan tubuh yang penuh peluh dan menatap wajah Sasuke dengan tatapan sangat khawatir.
"Kau kenapa?" Tanya Sasuke.
"Rei dan Rai dibunuh."
.
.
Malam ini, Sasuke berada di tempat kejadian perkara dimana Rei dan Rai dibunuh oleh orang yang tidak diketahui. Beberapa dari kesaksian murid yang berada di tempat melihat seorang laki-laki berambut hitam dengan kulit putih datang dengan katana lalu menghunus tubuh Rai dengan tiba-tiba saat ada pelajaran olahraga yang mengharuskan anak-anak berada di luar.
Saat Rei ingin menghampiri Rai yang tergeletak penuh darah, saat itu juga Rei dihunus oleh orang itu. Gilanya kejadian itu dilakukan didepan banyak orang, termasuk Itachi. Itachi datang dengan wajah penuh kebingungan, tanpa suara tetapi air mata itu mengalir. Banyak yang bilang jika itu adalah musuh orang tua dari si kembar. Tetapi menurut orang tua angkatnya, mereka tidak punya saingan dalam bisnis. Kalau pun ada, tidak ada yang sampai dendam seperti ini, sampai membunuh kedua anaknya itu tidak masuk akal.
Sasuke merasa bodoh saat ini. Kedua Chunin itu terbunuh. Berkat kelalaian dari Sasuke.
Sasuke teringat Naruto dirumah. Naruto sedang demam. Sasuke khawatir jika kejadian ini juga menimpa Naruto saat Sasuke tidak ada.
Sasuke berjalan melewati garis polisi menuju tengah-tengah lapangan. Darahnya masih terlihat, sepertinya belum sempat dibersihkan. Sasuke sengaja datang tengah malam karena Sasuke pikir para polisi itu tidak akan ada di Tempat Kejadian Perkara.
Setelah Sasuke melihat darah kering itu, Sasuke keluar dari lapangan dan melihat ke sekeliling sekolah. Awalnya Sasuke tidak terpikir untuk mencari tahu sesuatu tentang si orang asing itu di sekolah Itachi. Tapi karena ada kejadian seperti ini, mungkin saja Sasuke mendapatkan setitik petunjuk yang membawa Sasuke pada si pembunuh.
Sasuke berjalan mengitari taman kecil yang berada di sebelah gedung aula di samping gedung belajar. Di taman itu terdapat semak-semak yang memutar mengitari taman tersebut. Sasuke melajukan jalannya karena melihat benda yang bersilau di bawah semak-semak itu. Sasuke merendahkan badannya dan mengambil sesuatu yang ternyata adalah botol kaca. Tetapi dalam botol itu terdapat sebuah kertas yang di gulung. Karena penasaran, Sasuke membuka tutup botol gabus itu dan mengeluarkan gulungan kertas itu.
Saat dibuka, Sasuke membelalakan matanya lalu bangkit dan mengedarkan pandangannya pada taman sekitar. Sasuke merasa orang itu mengikutinya. Tidak! Orang itu tahu jika Sasuke akan kemari setelah pembunuhan itu. Sasuke kembali melihat kertas yang berada di tangan kanannya yang membuat Sasuke sedikit khawatir dan membuat jantungnya berdegub kencang.
KAU MENCARIKU, SASUKE? TEMUI AKU DI LOKER SEPATU NOMOR 110
Sasuke langsung menancapkan larinya menuju loker sepatu. Sialnya loker itu berada di dalam gedung yang tertutupi oleh pintu kaca yang luas. Sasuke melihat sekeliling dan menemukan kawat yang hanya sepanjang 10cm, mengambil kawat itu dan mencoba membuka lewat lubang kunci. Hanya beberapa detik Sasuke berhasil membuka pintu itu.
Sasuke berlari mengitari loker, tetapi Sasuke tidak menemukan sesosok manusia yang berada di loker sepatu. Sasuke kembali melirik kertas yang berada di genggamannya. Loker 110.
Sasuke berlari mencari loker yang bernomor sama dengan yang ada di kertas. Saat telah menemukan lokernya, Sasuke membuka loker itu dan kembali menemukan botol kaca yang didalamnya terdapat gulungan kertas. Sasuke membuka botol itu, mengambil gulungan kertas itu dan membukanya. Sasuke menahan nafas saat membaca pesan itu.
BEBERAPA HARI YANG LALU ADALAH ULANG TAHUN PACARMU KAN? SAMA SEPERTI NOMOR LOKER INI. OKTOBER, 10TH. NGOMONG-NGOMONG, KAU BELUM MEMBERIKAN HADIAHMU YA? KAU INGIN HADIAH UNTUK PACARMU? TEMUI AKU DI ATAP.
Perasaan Sasuke semakin menjadi-jadi. Naruto ada di rumah dan dia belum bergerak dari kasurnya. Sasuke melangkahkan kakinya keluar gedung, tetapi terhenti sebelum melangkah melewati pintu kaca. Sasuke meremas kertas yang berada di tangan kanannya lalu bergegas masuk kedalam gedung. Berlari melewati tangga demi tangga, dan sampai pada atap.
Sasuke mengedarkan pandangannya kesekeliling atap dan tidak menemukan seseorang pun yang berada di atas sini kecuali Sasuke. Sasuke melangkahkan kakinya menuju pagar pembatas menuju botol kaca yang sudah Sasuke lihat sewaktu sampai di atap tadi. Sasuke membuka tutup botol itu dan membuka kertas yang berada di dalam botol.
Sasuke menyeritkan keningnya saat membaca isi pesan itu. Tetapi Sasuke langsung pulang kerumah karena perasaannya semakin tidak enak dari waktu ke waktu. Sasuke percaya jika setiap pesan yang dikirim untuk Sasuke adalah kabar buruk untuknya.
APA BOLEH AKU MEMILIKI HATI KEKASIHMU?
Sasuke kembali melirik kertas itu dan meremasnya menjadi bola. Melemparnya kesembarang arah saat Sasuke tengah berlari dengan sekuat tenaga di jalanan yang sepi. Hanya ada beberapa mobil lewat di tengah malam seperti ini. Restorannya bahkan sudah tutup beberapa jam yang lalu.
Setelah mencapai pintu apartemenya, Sasuke langsung membuka pintu dan di suguhkan dengan pemandangan yang paling ditakuti oleh Sasuke. Warna merah memang dibenci oleh Sasuke, tapi kali ini, merah adalah warna yang membuat Sasuke dapat menghentikan jantungnya seketika.
Sasuke membelalakan matanya, membuka mulutnya dan hanya mengeluarkan suara tercekit. Sasuke melihat Naruto tergeletak masih di atas futonnya, dengan darah keluar dari bawah dadanya. Sasuke melihat seseorang lagi yang berada di sebelah Naruto sedang menangis sesenggukan memeluk tubuh Narutonya.
Sasuke menghampiri dan langsung mendorong Gaara sampai membentur tembok apartemen lumayan keras. Sasuke menatap Naruto dengan perasaan yang sama saat Itachi meninggal. Mengelus permukaan wajahnya yang mendingin. Kelopak mata yang menyembunyikan indahnya langit biru itu tertutup.
"Naruto?" Sasuke memanggil dengan lirih tetapi yang dipanggil tidak merespon apa-apa. Sasuke tidak tahu apa yang sedang dirasakannya. Perasaan itu sangat sulit di jelaskan. Sasuke menyentuh perut Naruto, merasakan lubang yang ada di sana. Hati Sasuke semakin berdenyut. Ia ingin berteriak tetapi tidak bisa. Ia ingin menangis tetapi tidak bisa. Sasuke hanya ingin menatap wajah Naruto selagi bisa.
Sasuke melirik Gaara yang masih berada di tempatnya dengan menangisi Naruto. Dengan wajah dinginnya, Sasuke mendekati Gaara. "Kau tahu siapa yang melakukannya?" Tanya Sasuke pada Gaara. Sasuke mencoba bertanya pada Gaara, jika yang melakukan semua ini bukanlah Gaara. Gaara tidak mungkin berbuat seperti itu pada Naruto karena Sasuke tahu bagaimana perasaan Gaara pada Naruto.
Gaara menatap Sasuke dengan wajah sembabnya. Mengatakan nama yang asing di telinganya. Gaara menjelaskan ciri-ciri perawakan orang tersebut saat dilihat kalau Sasuke tidak mengenalnya. Saat itu Sasuke sangat yakin jika orang itulah yang membunuh Naruto.
Sasuke kembali melirik Naruto dan menyentuhnya. Sudah mulai kaku dan darahnya sudah kering. Sepertinya Naruto dibunuh tidak lama setelah Sasuke keluar. Sasuke menyuruh Gaara untuk memanggil polisi dan ambulan, Gaara mengangguk dan sibuk dengan ponselnya. Sementara Sasuke kembali meraba perut Naruto yang berlubang. Sepertinya dia benar-benar mengambil hati Naruto. Tapi untuk apa?
"Aku tidak tahu jika dia menipuku." Gaara berucap setelah melakukan panggilan. Sasuke kembali melirik Gaara yang telah berhenti menangis dengan wajah kerasnya. Gaara menatap Sasuke dengan tatapan dendam. "Aku melihatnya membawa hati Naruto. Dia menunjukan padaku bahwa dia berhasil mencapai tujuannya. Aku tidak tahu apa tujuannya, tetapi jika dia tertangkap oleh polisi, aku yang akan mengadilinya."
"Kau tidak menahannya?" Tanya Sasuke.
"Tidak bisa. Entah kenapa badanku tidak bisa bergerak. Seolah-olah ada yang menahanku. Sepertinya aku terlalu kaget saat melihat kejadian itu." Sasuke berfikir jika orang itu menggunakan jurus bayangan khas dari klan Nara. "Dia juga saat itu kaget saat melihatku. Seperti dia tidak menyangka akan kehadiranku." Lanjut Gaara.
Sasuke masih tidak mengerti dengan semua ini. Orang yang paling dicintainya telah mati. Tubuhnya kaku. Sasuke tidak bisa berfikir lagi.
"Bagaimana ini?" Sasuke mengucap kata itu dengan lirih. Ia menanyakan perasaanya sendiri. Saat Sasuke melihat Naruto yang seperti ini, tidak ada perasaan histeris atau apapun yang di keluarkan oleh Sasuke sendiri. Sasuke sangat mencintai Naruto, tetapi kenapa? Saat kematian Itachi, Sasuke menangis. Tapi saat kematian Naruto?
Naruto mati. Dia kaku. Tidak ada hati. Hatinya diambil.
Hatinya diambil.
Itu dia. Jika Sasuke berhasil menemukan orang itu dan berhasil mengambil kembali hati Naruto, mungkin perasaan Sasuke akan berubah.
Setelah itu mobil polisi dan ambulan datang bersamaan. Tentu saja Gaara dan Sasuke tidak lepas begitu saja dari tangan polisi. Selama dua hari Gaara dan Sasuke berada di kantor polisi untuk melewati tuduhan yang ditunjuk oleh polisi. Setelah itu Gaara dan Sasuke dilepas karena polisi percaya dengan mereka kalau pembunuhnya adalah orang aneh tanpa identitas yang selama ini polisi cari.
Sasuke kembali bekerja setelah urusan dengan polisi. Tentu saja tanpa Naruto. Sasuke merasa ada yang hilang saat ini. Pemakaman Naruto pun dilaksanakan tanpa Sasuke. Sasuke hanya tidak ingin. Entah kenapa.
Posisi Manager telah Sasuke ambil alih. Sebagai Manager, Sasuke semakin hari semakin diam. Dingin. Tetapi masih bekerja dengan baik di Restoran. Tentu saja Sasuke selalu mengingat akan kenangan tentang Naruto. Anehnya setiap Sasuke mengingat Naruto, hatinya tidak merasakan emosi yang menggebu-gebu. Hanya perasaan sepi karena Naruto sudah tidak ada.
Sasuke pernah berfikir, apa yang akan dikatakannya pada Hinata, Boruto, dan Himawari, dan juga semua orang yang ada di konoha jika Naruto sudah tidak ada.
Pernah sekali Sasuke berfikir jika ini semua hanya mimpi. Ketika sudah pulang ke Konoha, Naruto akan datang menyambutnya dengan senyuman khasnya yang secerah matahari dan memeluknya dan mengatakan sesuatu yang membuat Sasuke tidak akan melepaskan Naruto lagi. Sasuke tersenyum kecil dan berharap jika itu bisa terjadi. Tidak! Sasuke yakin jika itu terjadi.
Mungkin Sasuke sudah mulai gila karena menganggap itu semua mungkin terjadi.
.
.
.
.
.
"Ini? Untuk apa?" Gaara melihat benda putih kecil seperti obat berbentuk bundar ada di telapak tangannya. Gaara mendapat kesempatan mengajak—lebih tepatnya menculik—Naruto untuk keluar makan malam. Tetapi orang aneh itu memberikan Gaara sesuatu yang tidak Gaara tahu.
"Kau berikan ini ke minumannya, lalu dia bisa jadi milikmu."
Gaara menyeringai mendapat sesuatu yang sangat menarik darinya. Memang niatnya mengajak Naruto pergi ke apartemennya. Susah memang, tapi bukan Gaara jika tidak bisa membuat Naruto menurut padanya. Gaara tidak akan menyerah.
Tentu saja.
Sampai Gaara tidak tahu jika apa yang dimasukan itu bukanlah obat biasa.
.
.
.
.
.
Tsuzuku
