Touken Ranbu © DMM & Nitroplus
Monochrome Love Story © Riren18
Pair : Ishikirimaru & Nikkari Aoe
Genre : Romance, friendship, and hurt/comfort
Warning : Boys Love Story, typo, gak sesuai EYD, little OOC, alur gaje, dan masih banyak kekurangan lainnya.
Saya hanya meminjamkan karakternya saja dan tidak mengambil keuntungan apapun dalam cerita ini :)
.
.
.
.
.
Seberkas demi seberkas cahaya lampu mulai memasuki indra pengelihatan Nikkari. Setelah beberapa lama akhirnya Nikkari membuka kedua matanya.
Nikkari pun menoleh ke arah jam dan ternyata sudah hampir pukul 6 pagi. Tapi, Nikkari merasa ada hal yang aneh karena ada yang berbeda pada pagi ini.
Setelah berpikir sebentar, tak lama Nikkari segera keluar dari kamarnya dan dia pun segera berjalan menuju kamar Ishikirimaru.
Seharusnya pada pukul segitu, Ishikirimaru sudah bangun dan sudah membuat sarapan untuk dirinya dan juga Nikkari. Tapi kali ini sosoknya belum hadir di dapur.
Sebelum Nikkari masuk ke dalam kamar, Nikkari mencoba untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok... Tok..
Tidak ada respon dari sang pemilik kamar. Nikkari pun mencoba mengetuknya lagi.
"Ishikirimaru-san, apakah kau sudah bangun? Ini sudah jam 6 pagi. "
Tapi pertanyaan Nikkari hanya dijawab oleh sunyi.
Lalu tak lama Nikkari segera masuk ke dalam kamar dan berjalan menuju ranjang tidur. Setelah sampai di dekat ranjang tidur, Nikkari melihat Ishikirimaru masih tertidur.
"Ishikirimaru-san, ayo bangun. Ini sudah pagi dan kau harus berangkat ke kantor. "
Sayangnya perkataan Nikkari tidak digubris oleh lawan bicaranya. Pada akhirnya Nikkari pun mencob untuk menepuk pelan pipi Ishikirimaru. Tapi, saat menyentuh pipi Ishikirimaru tiba-tiba Nikkari terlihat terkejut.
"Ishikirimaru-san demam! Aku harus bagaimana ini? "
Saat Nikkari kebingungan dengan keadaan Ishikirimaru tiba-tiba smartphone milik Ishikirimaru berbunyi dan ternyata Mikazuki meneleponnya. Segera Nikkari menjawab panggilan itu.
"Mikazuki-san tolong aku! "
"Eh? Aoe-san ada apa? Kau terdengar sangat panik. Tolong jelaskan secara tenang biar aku bisa mengerti. "
"Maafkan aku, Mikazuki-san. Tapi, sungguh aku tidak bisa tenang karena aku baru saja mengetahui jika Ishikirimaru-san demam. Aku bingung harus melakukan apa. Tolong aku Mikazuki-san."
"Begitu ya. Kakakku kalau sudah kecapekan pasti mudah demam tapi Aoe-san tak perlu khawatir. Nanti Aoe-san hanya perlu membuatkan bubur ayam dan sayuran serta memberikan obat penurun panas yang ada di kotak P3K yang berada di laci meja bawah yang terletak dekat ranjang tidur kakak. Untuk pekerjaan dan kantor nanti biar aku yang urus. Tolong rawat dan jaga kakakku baik-baik. Maaf jadi merepotkanmu, Aoe-san."
"Baiklah. Terima kasih atas instruksinya, Mikazuki-san. Aku tidak merasa direpotkan dan aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga dan merawat Ishikirimaru-san. "
"Baiklah. Anggap saja ini latihan sebelum kau resmi menjadi bagian dalam keluarga Sanjo, keluarga kami berdua. Siapa tahu nanti kakakku bisa jatuh cinta padamu, Aoe-san. "
"Mikazuki-san tolong jangan menggodaku seperti itu. "
"Maaf...maaf...aku hanya bercanda. Ku harus segera pergi ke kantor kakakku untuk memberitahu jika dia sakit. "
"Apakah direkturnya akan mengizinkannya untuk tidak masuk? "
"Tentu saja di izinkan karena yang punya perusahaan itu Ishikirimaru sendiri. Jangan bilang kakakku tidak cerita padamu jika dia adalah direktur utama di perusahaan keluarga Sanjo? "
"Dia tidak pernah cerita apapun soal itu. "
"Ya ampun. Tapi, lain kali akan ku ceritakan soal itu kepadamu, Aoe-san. Teleponnya ku tutup dulu ya. Jaa... "
"Baiklah. Jaa... "
Sambungan telepon terputus. Untuk kesekian kalinya Nikkari dikejutkan oleh fakta tentang Ishikirimaru. Dibalik sosoknya yang sederhana ternyata dia memiliki jabatan yang tinggi sekaligus berat untuk tanggung jawabnya.
Setelah mengembalikan smartphone milik Ishikirimaru ke atas meja kecil, Nikkari pun segera pergi ke dapur untuk membuat bubur ayam untuk Ishikirimaru.
.
.
.
.
Setelah 30 menit berlalu, Ishikirimaru pun membuka matanya dan seketika dia merasa sangat pusing serta kepalanya terasa sangat berat. Bahkan tenggorokkan terasa sangat kering dan lidahnya terasa pahit.
Saat Ishikirimaru mencoba untuk bangun dari posisi tidurnya, Nikkari pun datang membawa sebuah nampan yang berisikan semangkuk bubur ayam, segelas air putih hangat, dan sebutir obat penurun panas.
"Ishikirimaru-san bagaimana keadaanmu? "
"Terasa pusing dan kepalaku terasa berat sekali. "
"Begitu ya. Sekarang Ishikirimaru-san sarapan dulu ya. Aku sudah membuatkan bubur dan setelah Ishikirimaru-san harus minum obat. Supaya bisa sehat kembali. "
"Baiklah. Maafkan aku, Nikkari-san. Aku jadi membuatmu kerepotan. "
"Tidak apa-apa. Aku tidak merasa di repotkan. Ishikirimaru-san perlu ku bantu untuk duduk?"
"Sepertinya aku perlu bantuanmu. "
Segera Nikkari mengubah posisi bantal Ishikirimaru menjadi vertikal dan setelah itu dia pun membantu Ishikirimaru untuk bangun dari posisi tidurnya.
Nikkari dapat melihat betapa pucatnya wajah Ishikirimaru. Padahal kemarin dia masih terlihat sehat-sehat saja. Nikkari sampai merasa kasihan melihatnya. Walaupun cuma demam, Nikkari tetap khawatir dengan keadaan Ishikirimaru.
"Nikkari-san... "
"Ya? "
"Bolehkah aku meminta bantuanmu lagi? "
"Tentu boleh. Mau minta bantuan apa? "
"Bisakah kau menyuapiku bubur yang kau buat?. Entah kenapa tanganku terasa lemas sekali. "
Seketika degup jantung Nikkari berubah menjadi tak karuan saat mendengar permintaan Ishikirimaru barusan. Padahal yang diminta terkesan sangat biasa tapi hal itu cukup membuat Nikkari merasa deg-deg an sekaligus bahagia.
Nikkari duduk di tepi ranjang tidur dan dia pun sudah memegang tatakan mangkuk. Nikkari pun menyendokkan sedikit bubur dan kemudian menyuapkannya pada Ishikirimaru.
Satu suapan bubur telah masuk dan di cerna baik oleh Ishikirimaru.
"Nikkari-san, bubur buatanmu enak. Padahal lidahku terasa pahit tapi entah kenapa bubur buatanmu terasa enak. "
"Benarkah? Padahal aku membuatnya seperti bubur ayam biasa. Tidak ku tambahkan apapun. "
"Tentu saja benar. Apapun yang kau masak selalu ku suka rasanya. Selalu cocok dengan lidahku. Tak ku sangka Nikkari-san pandai dalam hal memasak. Aku ingin memakan makanan buatanmu lagi, Nikkari-san. "
Nikkari pun hanya bisa tersenyum malu saat mendengar Ishikirimaru memuji masakannya. Tapi, di sisi lain Nikkari merasa sedih karena Ishikirimaru tidak pernah peka akan perasaan Nikkari pada dirinya.
Akhirnya acara menyuapi Ishikirimaru pun terus berlanjut sambil diselingi obrolan dan candaan keduanya.
.
.
.
.
Setelah 10 menit berlalu, Ishikirimaru sudah menghabiskan bubur yang dibuat Nikkari dan telah meminum obat.
Kini Ishikirimaru kembali berbaring di atas ranjang tidurnya sementara itu Nikkari sedang membereskan peralatan makan untuk Ishikirimaru tadi. Tapi, baru satu langkah Nikkari berjalan tiba-tiba Ishikirimaru kembali memanggil namanya...
"Nikkari-san... "
"Ada apa, Ishikirimaru-san? "
"Setelah selesai mencuci piring, Nikkari-san balik ke sini lagi ya. "
"Baiklah. Nanti aku akan kembali ke sini lagi. "
"Oh, ya, sekalian saja bawa peralatan untuk membasuh wajah dan tubuhku. Tubuhku terasa tidak enak dan aku ingin menyegarkan wajah serta tubuhku. "
"Baiklah. Aku akan menyiapkan dulu. Ishikirimaru-san istirahat saja dulu sampai aku kembali ke sini. "
Nikkari pun berjalan keluar dari kamar Ishikirimaru. Nikkari pun segera mencuci piring serta menyiapkan apa yang diminta oleh Ishikirimaru tadi.
.
.
.
.
Setelah beberapa belas menit, Nikkari pun kembali membawa sebuah baskom berukuran sedang yang berisikan air hangat.
Nikkari pun meletakkan baskom itu di meja kecil yang terletak tak jauh dari ranjang Ishikirimaru. Tentu saja Nikkari meletakkan baskom itu dengan hati-hati agar air dalam baskom tidak tumpah.
"Nikkari-san... "
"Ya? "
"Bolehkah aku meminta bantuanmu untuk mengelap tubuhku dengan air hangat? "
"Me...mengelap tubuh Ishikirimaru-san? "
"Iya. Tapi, jika Nikkari-san tidak keberatan ya aku tak akan memak-"
"Aku tidak keberatan. Aku akan membantu Ishikirimaru-san. "
"Benarkah Nikkari-san tidak keberatan? "
"Tidak. Aku akan membantumu, Ishikirimaru-san. "
"Terima kasih. Oh, ya, untuk handuk kecil ada di lemari tingkat pada laci yang kedua. Jika tidak keberatan, tolong ambilkan kaus yang ada dalam lemari besar. Untuk handuk besar ada di bagian bawah lemari besar. "
"Baiklah. "
Nikkari berjalan menuju tempat dimana barang-barang yang diinginkan Ishikirimaru berada. Tak butuh waktu lama Nikkari pun sudah membawa barang-barang tersebut.
Sekembalinya Nikkari menuju ranjang tidur Ishikirimaru, tiba-tiba wajah Nikkari pun memerah dan terasa agak panas. Tentu saja penyebabnya karena kini tubuh bagian atas Ishikirimaru tidak tertutup oleh apapun.
Ishikirimaru selain di anugerahi wajah tampan ternyata dia juga di anugerahi tubuh yang bagus. Otot lengannya sangat pas dan membuat Ishikirimaru tampil maskulin. Belum lagi bahu serta dada bidangnya yang bisa dibilang terbentuk dan agak berisi. Jangan lupa jejeran roti sobek yang tercetak jelas di perutnya yang datar.
Untuk beberapa detik Nikkari hampir lupa untuk bernafas karena terpesona oleh tubuh Ishikirimaru yang ternyata cukup bagus dan bikin wanita, mungkin bahkan pria homo tergoda.
'Kami sama, kuatkan aku untuk tidak mimisan di hadapan Ishikirimaru-san. Namun, aku berterima kasih pada-Mu karena telah menciptakan dan mempertemukanku dengan Ishikirimaru. '
Itulah yang dikatakan Nikkari dalam hatinya saat dia duduk di pinggir ranjang tidur Ishikirimaru dan bersiap membasahi handuk kecil.
Nikkari sungguh gugup dan bahkan tangannya bergetar kecil saat handuk kecil yang telah dia peras tadi kini mulai membasahi punggung lebar dan kokoh milik Ishikirimaru.
Nikkari pun susah untuk menelan ludahnya sendiri saat tangannya mulai bergerak menuju bagian pinggang. Entah kenapa hanya melihatnya saja sudah membuat Nikkari merasa 'panas'. Tapi segera Nikkari menetralkan rasa 'panas' tersebut demi menjaga hubungan dirinya dengan Ishikirimaru.
Tapi, tanpa sadar Nikkari malah menghentikan gerakkannya dan membuat Ishikirimaru menoleh sekaligus bertanya padanya.
"Nikkari-san? Ada apa? "
Seketika Nikkari terkejut dan hampir saja menjatuhkan handuk kecil basah tersebut ke atas ranjang tidur Ishikirimaru. Lalu dengan nada bicara yang agak gugup, Nikkari pun membalas pertanyaan Ishikirimaru.
"Ti...tidak ada apa-apa, Ishikirimaru-san. "
Tanpa aba-aba Ishikirimaru pun menghadapkan tubuhnya ke arah Nikkari. Seketika detak jantung Nikkari langsung berdegup tak karuan saat melihat tubuh Ishikirimaru secara dekat. Meskipun begitu Nikkari mencoba untuk tetap mempertahankan wajah tenangnya walaupun dalam hatinya berkata lain.
"Kau yakin? Raut wajahmu mengatakan lain lho. "
"Aku yakin. Sungguh tidak ada ap-"
Tes!
Setetes cairan merah mendarat dengan mulus di atas lengan kaus yang dipakai Nikkari. Baik Ishikirimaru maupun Nikkari sendiri pun kaget melihat cairan merah tersebut. Ternyata cairan merah tersebut berasal dari Nikkari, lebih tepatnya keluar dari lubang hidung Nikkari.
"Nikkari-san, kau mimisan! Kau yakin tidak sakit atau apa?. Ku mohon jangan paksakan dirimu untuk merawatku jika kau sakit. Aku tidak mau Nikkari-san sakit karena diriku. "
"Aku tidak sakit kok, Ishikirimaru-san. Mimisan ini biasanya karena aku terlalu kecapekan tapi ini tidak begitu parah. Aku masih kuat kok untuk merawat Ishikirimaru-san. Biarkan aku membalas kebaikkanmu, Ishikirimaru-san. Setelah ini aku akan beristirahat. Maaf jika membuatmu cemas di saat kau sedang sakit begini. "
"Jangan meminta maaf padaku, Nikkari-san. Aku cemas akan keadaanmu karena aku tidak ingin kehilangan orang yang berarti bagiku. "
"O...orang yang berarti? Maksudnya? "
"Maksudku sudah seperti keluarga sendiri. "
Seketika Nikkari merasa sedikit kecewa saat mendengar perkataan Ishikirimaru yang terakhir. Tapi, Nikkari tidak bisa protes apapun soal itu karena tidak mungkin dia memaksa Ishikirimaru untuk suka padanya.
Tapi, tanpa Nikkari duga tiba-tiba Ishikirimaru memeluknya. Sontak saja degup jantung Nikkari menjadi tak karuan.
"Nikkari-san terima kasih telah hadir di hidupku karena sejak Nikkari-san dalam hidupku entah kenapa kehidupanku terasa lebih berbeda. "
"Ishikirimaru-san terlalu berlebihan. Setahuku diri ini hanya membuat Ishikirimaru-san kerepotan saja dan seharusnya aku yang mengucapkan banyak terima kasih karena Ishikirimaru-san telah mau menerima orang asing sepertiku dalam kehidupanmu. "
"Dari pertama kali kita bertemu sudah ku bilang aku ikhlas dan tulus untuk menolongmu. Aku merasa sangat bahagia akan kehadiran sosok Nikkari-san dalam hidupku. Jika Kami-sama mengizinkan dan mau mengabulkan doa ku, aku ingin Nikkari-san selalu ada di sisiku meskipun aku tahu itu tak mungkin karena suatu hari Nikkari-san akan memiliki kehidupan sendiri bersama keluarga yang akan Nikkari-san bangun. Ah...maaf atas keinginan egoisku. Lupakan saja perkataanku yang tadi, Nikkari-san. "
Seketika Nikkari ingin menangis mendengar perkataan Ishikirimaru barusan. Terasa begitu indah serta manis namun menyakitkan di saat yang sama. Menyakitkan karena dirinya hanya di anggap seperti keluarga, tidak lebih dari itu.
Jika Ishikirimaru memiliki perasaan yang sama seperti Nikkari pastinya Nikkari akan memenuhi keinginan egois Ishikirimaru hingga akhir usianya tapi sayang kenyataan tidak berkata seperti itu.
Meskipun begitu Nikkari ingin tetap berada di sisi Ishikirimaru meskipun harus menahan perasaannya pada Ishikirimaru. Nikkari pun membalas pelukan Ishikirimaru dan keduanya terus berpelukan untuk beberapa saat sampai...
Brak!
Suara pintu di buka kasar terdengar oleh keduanya dan pelaku pembuka pintu secara kasar serta yang lainnya melongo saat melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka.
"Wah! Paman Ishikirimaru memeluk siapa? "
Segera reflek Nikkari dan Ishikirimaru melepaskan pelukan mereka karena kini Mikazuki, Kogitsunemaru, seorang lelaki bertubuh tinggi besar, serta seorang anak kecil yang tak Nikkari kenal melihat mereka dengan tatapan bermacam-macam.
Lalu dengan cepat anak kecil itu menghampiri dan menatap Nikkari dengan tatapan penasaran.
"Apakah kau kekasihnya paman Ishikirimaru? "
Belum sempat Nikkari menjawab, anak kecil itu kemudian di gendong oleh lelaki bertubuh tinggi besar tadi. Tak lama lelaki itu mengeluarkan suaranya...
"Maaf kelakuan adik angkatku dan maaf juga karena telah mengganggu waktumu bersama dengan Ishikirimaru. "
"Tidak apa-apa dan kalian tidak mengganggu apapun. Ishikirimaru-san setuju soal itu kan? "
Ishikirimaru menganggukkan kepalanya, tanda dia setuju dengan perkataan Nikkari.
"Syukurlah kalau begitu. Oh, ya, perkenalkan namaku Iwatooshi dan anak kecil ini namanya Imanotsurugi. "
"Perkenalkan namaku Nikkari Aoe. Salam kenal ya Iwatooshi-san dan Imanotsurugi-chan. "
"Salam kenal juga bibi Aoe. Ima senang akhirnya Ima punya bibi."
"Sayang sekali Imanotsurugi-chan aku bukanlah perempuan. Aku sama seperti pamanmu dan kakakmu. "
"Begitu ya. Tapi, aku tetap memanggilmu dengan sebutan bibi Aoe soalnya bibi Aoe cantik dan manis. "
"Terima kasih atas pujiannya, Imanotsurugi-chan. "
Dalam sekejap Imanotsurugi dan Nikkari terlihat akrab yang tentu saja membuat Ishikirimaru dan yang lainnya ikut senang.
"Kakak... "
"Ada apa, Mikazuki? "
"Lebih baik kau pakai bajumu dulu. "
"Kau benar. "
Ishikirimaru segera memakai kaus yang di ambil oleh Nikkari. Setelah selesai memakai kausnya, Mikazuki pun kembali bersuara...
"Kogitsunemaru dan Iwatooshi tolong keluar kamar ini dulu sebentar. Aku ingin membicarakan sesuatu dengan kakak dan juga Nikkari-san. "
"Baiklah. Iwatooshi mari kita keluar dulu. Imanotsurugi ayo kita main di luar saja ya. "
Ajakkan Kogitsunemaru pun di sambut baik oleh keduanya dan dalam beberapa detik sosok ketiganya menghilang di balik pintu yang tertutup.
Saat pintu sudah tertutup, tiba-tiba Mikazuki menatap dengan tatapan tajam pada Ishikirimaru dan tentu saja Ishikirimaru terkejut dengan hal itu.
"Kakak, apa kau melakukan kekerasan pada Aoe-san? "
"Eh? Apa maksud perkataanmu, Mikazuki? "
"Tolong jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan. Jawab dengan benar dan jujur. "
"Aku tidak melakukan kekerasan atau apapun pada Nikkari-san dan jika kau tidak percaya tanya saja sendiri pada orangnya. Mana mungkin aku melakukan kekerasan pada orang yang merawatku dengan baik. "
Mikazuki pun menoleh ke arah Nikkari dan tanpa Mikazuki bicara, Nikkari pun mengeluarkan suaranya untuk menjelaskan apa yang terjadi.
"Benar apa yang dikatakan oleh Ishikirimaru-san. Sungguh Ishikirimaru-san tidak melakukan kekerasan atau apapun padaku. "
"Lalu kenapa kau terlihat seperti habis mimisan? "
"Aku mimisan karena kecapekan. Maaf membuatmu khawatir dan membuat Ishikirimaru-san jadi pihak yang bersalah. Maafkan aku, Mikazuki-san, Ishikirimaru-san. "
"Seharusnya aku yang meminta maaf pada kakakku dan juga Aoe-san. Tapi, lebih baik jangan memaksakan diri untuk merawat kakakku jika kau sendiri sudah tidak kuat, Aoe-san. "
"Tidak apa-apa. Aku masih kuat dan aku ingin membalas kebaikkan Ishikirimaru-san padaku. "
"Aku kagum padamu, Aoe-san. Tapi alangkah baiknya kau istirahat saja karena aku tidak mau melihat Aoe-san jatuh sakit. Aku yakin kakak sudah merasa baikkan setelah di rawat olehmu."
"Baiklah aku akan istirahat nanti dan terima kasih atas pujian serta kebaikkan hatimu padaku, Mikazuki-san. "
"Sama-sama, Aoe-san. Oh, ya, Aoe-san datang ke resepsi pernikahan Tsurumaru dan Ichigo akan memakai baju apa? "
"Jujur saja aku belum tahu tapi paling aku pakai gaun yang kau berikan waktu itu. "
"Hmmm...tapi alangkah baiknya membeli yang baru. Aoe-san nanti ku belikan gaun baru ya buat ke resepsi Tsurumaru dan Ichigo nanti. "
"Mikazuki-san lebih baik aku pakai yang kemarin saja. "
"Tidak boleh. Pokoknya Nikkari-san harus memakai gaun baru dan tentunya akan sepasang sama kakakku. Kau tidak keberatan atas ideku kan, kak? "
"Jika di tanya keberatan atau tidak, jujur saja aku keberatan karena kau terlalu memaksa Nikkari-san tapi karena keadaannya harus begitu ya mau tak mau aku harus setuju. Itu pun kalau Nikkari-san tidak keberatan akan ide gilamu itu, Mikazuki. "
"Pasti Aoe-san setuju dengan ideku. Tapi, aku tak menyangka kalau kau setuju dengan ideku. Aku janji akan memilihkan gaun yang akan membuat Aoe-san tampil cantik. "
Pada akhirnya Nikkari mau tak mau harus menerima paksaan Mikazuki soal gaun baru. Padahal gaun yang kemarin saja sudah tampak mahal dan nanti dibelikan lagi yang baru. Keluarga Sanjo memang sungguh luar biasa.
.
.
.
.
Waktu berlalu berganti dengan cepat dan saat malam hampir tiba kondisi Ishikirimaru sudah mulai membaik. Setidaknya Ishikirimaru sudah beraktivitas seperti biasanya.
Saat dia hendak ke dapur, dia mendengar suara percakapan antara Nikkari dengan seorang anak kecil. Berikut percakapan keduanya...
"Bibi Aoe... "
"Ada apa, Imanotsurugi-chan? "
"Apakah bibi Aoe menyukai paman Ishikirimaru? "
"Ehhhh? So...soal itu aku... "
"Aku? "
"Aku tidak tahu, Imanotsurugi-chan. Tapi, aku selalu merasa nyaman dan tenang saat berada di sisi Ishikirimaru-san. Selain itu aku juga kagum pada sosoknya yang terlihat bijaksana dan selalu tenang serta hatinya yang begitu mulia karena sudah mau menolong sekaligus mempersilahkan ku masuk ke dalam kehidupannya. "
"Wah! Imano baru tahu jika paman Ishikirimaru hebat dan begitu berarti untuk bibi Aoe. Jika kenyataannya paman Ishikirimaru suka sama bibi, apakah bibi Aoe akan menerima rasa suka paman Ishikirimaru? "
"Mungkin aku akan menerimanya. "
"Hehehehe begitu ya. Tapi, Imano berharap bibi Aoe dan paman Ishikirimaru bisa selalu bersama dan terus main bareng sama Imano. Bibi Aoe... "
"Terima kasih atas doa baikmu, Imanotsurugi-chan. Hm? Ada apa? "
"Imano lapar dan Imano mau makan nasi kari. Apakah bibi Aoe mau membuatkannya ?"
"Tentu saja bibi mau tapi bahan-bahannya sedang tidak ada. Apakah Imano mau ikut sama bibi untuk belanja bahan-bahannya? "
"Imano mau ikut bibi berbelanja tapi beli bahannya di mana? "
"Di supermarket dan bibi baru sadar kalau supermarket cukup jauh dari sini. Kalau naik kereta takut lama dan pasti Imano sudah lapar sekali. Aku bingung harus bagaimana... "
"Aku akan mengantarkan Nikkari-san ke supermarket. "
Nikkari dan Imanotsurugi terkejut saat mendengar suara Ishkirimaru yang menyahuti perkataan Nikkari yang terakhir. Dalam hati Nikkari berharap Ishikirimaru tidak mendengar perbincangannya dengan Imanotsurugi tadi.
"Eh? Bukankah Ishikirimaru-san masih sakit? "
"Aku sudah merasa lebih baik dan bisa dibilang sudah sehat. Aku juga ingin makan nasi kari buatanmu, Nikkari-san. "
"Baiklah kalau begitu. Tapi, kau harus ganti bajumu dulu dengan pakaian yang panjang dan agak tebal. Aku dan Imano akan menunggu di ruang tamu. "
"Baiklah. Aku mau bersiap dulu."
.
.
.
.
Setelah selesai berganti pakaian, Ishikirimaru beserta Nikkari dan Imanotsurugi pun berangkat menuju supermarket terdekat dengan menggunakan mobil Ishikirimaru.
Tak butuh waktu lama mereka pun sampai di tempat tujuan. Nikkari pun mengambil keranjang dorong untuk menampung apa saja yang akan dibeli oleh mereka.
Saat masuk ke dalam supermarket, ketiganya langsung meluncur ke bagian sayur-sayuran. Nikkari pun memilih sayuran yang masih segar untuk bahan membuat kare. Sementara itu Ishikirimaru dan Imanotsurugi pun hanya melihat betapa lihainya Nikkari memilih sayuran dan memasukkannya ke dalam keranjang dorong.
Tak butuh waktu lama ketiganya pun berpindah tempat menuju bagian bumbu-bumbu masakkan dan sama seperti sebelumnya, Nikkari lihai serta cepat mengambil bumbu yang dibutuhkan. Kemudian ketiganya beralih ke bagian daging tapi kali ini Nikkari bingung ingin memilih daging yang mana.
Pada akhirnya Nikkari memutuskan untuk bertanya pada Ishikirimaru...
"Ishikirimaru-san, menurutmu lebih baik aku pilih yang mana untuk dagingnya? Sapi atau babi? "
"Hmm...karena ada Imanotsurugi berarti pilih daging sapi saja. Imanotsurugi memiliki alergi dengan daging babi. "
"Baiklah kalau begitu. "
Nikkari pun mengambil satu bungkusan (yang terdiri dari streofoam kemudian di lapisi oleh plastik bening) daging sapi.
"Bahan untuk membuat karenya sudah lengkap. Apakah ada lagi yang ingin dibeli? "
"Imano mau cokelat paman Ishikirimaru! Apakah Imano boleh mengambilnya? "
"Jika Imanotsurugi berjanji menjadi anak yang baik dan penurut akan paman belikan. "
"Imano janji bakal jadi anak baik dan penurut! "
"Baiklah. Ayo kita segera menuju bagian makanan manis. "
Ketiganya pun kembali berjalan menuju bagian makanan manis. Lalu tanpa mereka tahu, semua menatap mereka dengan tatapan berbagai macam bahkan ada yang berbisik jika mereka tampak seperti keluarga yang bahagia.
.
.
.
.
Setelah 15 menit berlalu akhirnya mereka kembali ke apartemen Ishikirimaru. Sesampainya di sana, Nikkari segera membereskan bahan makanan dan menyiapkan bahan untuk membuat kare.
Melihat Nikkari terlihat sibuk, Ishikirimaru pun berniat memberikan bantuan...
"Nikkari-san, adakah yang bisa ku bantu?. Aku melihat kau tampak sibuk sekali. "
"Sebenarnya aku butuh bantuan agar lebih cepat memasak karenya tapi apakah Ishikirimaru-san sudah sehat?. Aku takut Ishikirimaru-san kembali demam lagi. "
"Soal itu tenang saja dan lagipula aku sudah sehat kok. "
"Begitu ya. Baiklah kalau Ishikirimaru-san mau membantu. Sebelum itu Ishikirimaru-san cuci tangan dulu kemudian memakai celemek masak agar tidak kotor pakaiannya. "
"Baiklah. "
Ishikirimaru pun berjalan menuju wastafel dan mencuci tangannya. Tak lama dia pun kembali ke hadapan Nikkari dan segera Nikkari menyerahkan sebuah celemek masak pada Ishikirimaru.
Kemudian Nikkari memberikan Ishikirimaru tugas yaitu memotong wortel menjadi bentuk dadu. Tapi, saat memotong Ishikirimaru agak kebingungan karena dia jarang memotong sayuran dalam bentuk dadu.
"Nikkari-san... "
"Ya? "
"Bisakah mengajarkan ku sebentar bagaimana cara memotong sayuran agar terlihat dadu potongannya? "
"Tentu bisa. Tunggu sebentar. "
Nikkari yang sedang mencuci kentang yang telah dikupas pun di tinggalkan sebentar dan kini Nikkari berada di belakang Ishikirimaru kemudian memegang tangan Ishikirimaru. Tentu saja dengan maksud untuk mengajarkan, bukan yang lain. Nikkari pun mulai menggerakkan tangan Ishikirimaru yang tentu saja gerakkannya seirama dengan gerakkan tangannya.
Untung saja Imanotsurugi sedang asyik makan cokelat di ruang tamu dan kini keduanya merasakan sesuatu yang aneh saat tubuh keduanya bertemu. Sadar akan posisi mereka yang tak biasa, Nikkari segera melepaskan gengggamannya dan menjauh dari tubuh Ishikirimaru.
"Maaf Ishikirimaru-san jika aku lancang tadi. Maafkan aku. "
"Tak apa-apa. Lagipula Nikkari-san mau menjelaskan caranya kan. "
"Iya sih. Tapi, aku takut membuat Ishikirimaru-san merasa tidak nyaman dengan posisi seperti itu. "
"Bagaimana pun posisinya, aku merasa baik-baik saja jika Nikkari-san yang melakukannya."
"Syukurlah kalau begitu. Tapi, apakah Ishikirimaru-san sudah mengerti yang ku ajarkan tadi ?"
"Aku sudah mengerti. Terima kasih atas pengajarannya, Nikkari-san. "
"Sama-sama, Ishikirimaru-san."
Keduanya pun melanjutkan kegiatan masing-masing dan tak lama hanya terdengar bunyi memotong serta suara air yang mulai mendidih.
.
.
.
.
Setelah 30 menit berlalu, akhirnya nasi kare buatan Nikkari pun selesai. Harum nasi karenya pun tercium oleh Imanotsurugi dan tak lama Imanotsurugi pun muncul di dapur.
Imanotsurugi menatap tak sabar nasi kare buatan Nikkari. Tapi, saat hendak ingin mengambil bagian untuk dirinya sendiri secara tak sengaja bagian lengan bawah Nikkari bersentuhan dengan panci yang panas.
Ringisan kesakitan pun keluar dari mulut Nikkari...
"Awwww..."
Ishikirimaru dan Imanotsurugi yang sudah berada di meja makan langsung menghampiri Nikkari yang kini berjongkok sambil memegang lengan bawahnya.
"Nikkari-san, ada apa? "
"Bibi Aoe ? bibi kenapa? "
"Ah maaf membuat kalian jadi khawatir. Lengan tangan ku hanya terkena panci panas. "
"Ya ampun Nikkari-san itu harus segera di dinginkan. "
Tanpa aba-aba Ishikirimaru menarik pelan Nikkari hingga berdiri kemudian menuntun Nikkari menuju tempat untuk cuci piring. Ekspresi wajah Ishikirimaru menunjukkan bahwa dia khawatir akan keadaan Nikkari.
Segera Ishikirimaru menyalakan keran agar airnya keluar dan secara perlahan Ishikirimaru menuntun tangan Nikkari yang terkena panas panci tadi ke bawah aliran air yang keluar dari keran.
Nikkari pun meringis sedikit saat lukanya terkena air tapi itu hanya untuk sebentar. Rasa sakit yang dirasakannya terganti oleh rasa deg-deg an karena kini tidak ada jarak antara tubuhnya dengan tubuh Ishikirimaru. Nikkari pun dapat merasakan betapa besar, lembut, serta hangatnya tangan Ishikirimaru.
"HUEEEE! "
Tak lama suara tangis Imanotsurugi pecah karena dia khawatir Nikkari kenapa-kenapa. Ishikirimaru dan Nikkari segera mengalihkan perhatian mereka pada Imanotsurugi.
"Eh? Imanotsurugi kenapa? "
"Hiks... Imano khawatir...hiks...bibi Aoe kenapa-kenapa, paman. "
"Ya ampun. Tapi, kamu tenang saja karena Nikkari-san tidak apa-apa. Nanti paman akan memberikan salep pada Nikkari-san. Imanotsurugi jangan menangis lagi ya. "
Perlahan-lahan tangisan Imanotsurugi mereda dan dia langsung memberikan pelukan pada Nikkari saat Nikkari sudah selesai membasuh lukanya dengan air. Tentu saja Imanotsurugi mendapat balasan pelukan serta elusan lembut pada rambutnya.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan bibi. Imano-chan jangan menangis lagi ya karena bibi sudah tidak apa-apa."
"Baiklah. Imano tidak akan menangis lagi. Bibi cepat sembuh ya. "
"Itu baru namanya anak baik dan pintar. Bibi akan segera sembuh. Sekarang kita bertiga makan dulu. "
"Baiklah, bibi Aoe. "
Ketiganya pun berpindah ke meja makan dan bersiap memakan nasi kare buatan Nikkari. Saat hendak menyuap nasi ke dalam mulutnya, tiba-tiba sendok yang di pegang Nikkari terjatuh dari genggamannya.
"Nikkari-san? Ada apa? "
"Tanganku terasa agak sakit. Maaf jadi mengganggu waktu makanmu dan Imano-chan. "
"Kalau tangan bibi sakit, bagaimana kalau paman Ishikirimaru menyuapi bibi? "
"Eh? "
"Daripada bibi Aoe tidak makan sama sekali karena tangannya masih sakit. "
"Benar juga kata Imanotsurugi. Tapi, jika Nikkari-san tidak mau maka aku tidak akan memaksanya. "
"Aku mau saja namun aku takut merepotkanmu, Ishikirimaru-san. "
"Kau ini selalu saja seperti ini, Nikkari-san. Sejak kita bertemu aku sudah bilang aku ikhlas dan tulus untuk membantu. Bagiku Nikkari-san sama berharganya dengan keluargaku. Jika Nikkari-san mengalami kesusahan maka aku akan berusaha untuk membantu Nikkari-san semaksimal mungkin. Oleh karena itu Nikkari-san tidak perlu merasa sungkan atau tidak enak padaku. "
Untuk kesekian kalinya Nikkari merasa bahagia sekaligus sakit karena sampai detik ini Ishikirimaru hanya menganggapnya seperti keluarga saja, tidak lebih. Namun, Nikkari merasa bahagia karena Ishikirimaru terlihat begitu peduli padanya dan selalu ada untuk Nikkari disaat apapun.
.
.
.
.
Setelah 1 jam berlalu, kini Ishikirimaru dan Nikkari berada di ruang tamu. Sementara Imanotsurugi sudah masuk ke dalam kamar dan tidur.
Hanya sunyi yang menemani keduanya tapi pada akhirnya kesunyian itu hilang saat Nikkari mengeluarkan suaranya untuk berbicara...
"Ishikirimaru-san... "
"Ya? Ada apa, Nikkari-san? "
"Aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Apakah kau mau mendengarnya? "
"Tentu aku mau mendengarnya. Silahkan saja bercerita, Nikkari-san. "
Nikkari pun mengambil nafas dalam-dalan kemudian mengeluarkannya secara perlahan melalui mulut.
"Aku akan menceritakan diriku dan juga masa laluku..."
.
.
.
.
つずく
.
.
.
.
Author Note :
Halo semua! Riren bawa chapter baru lho XD
Maaf ya baru bisa update lagi ceritanya dan maaf juga jika chapter kemarin masih banyak kekurangannya T^T begitupula dengan chapter baru ini.
Tapi, Riren merasa bersyukur sekaligus bahagia karena banyak yang memberikan kritik serta saran untuk cerita ini dan Riren mengucapkan banyak terima kasih kepada para reader yang telah mau meluangkan waktunya untuk membaca serta memberikan kritik dan saran untuk Riren :).
Untuk chapter baru ini Riren mohon kritik dan sarannya lagi dari para reader agar cerita ini menjadi lebih baik :)
Mungkin hanya ini yang ingin Riren sampaikan
See you in the next chapter~
Riren
