Chapter 12 ~ Go Home~

Disclaimer : ©Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)

Genre : Romance, Drama, Tragedy, Fantasy, Friendship, Yaoi, Shounen Ai

Warning : Canon, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, yaoi, dan hal absurd lainnya.

Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read

.

.

.

.

.

Sasuke menangkupkan kedua tangannya di depan wajah, memejamkan matanya sambil berdoa di dalam hatinya agar orang yang ada di sana bisa bahagia. Sasuke pikir Naruto benar-benar sudah bahagia, karena Naruto pasti sudah bertemu dengan keluarganya.

Sasuke menyelesaikan doanya untuk Naruto dan menatap sejenak nisan yang berdiri di hadapannya. Tulisan dengan huruf katakana dan hiragana kebawah itu entah kenapa sangat lucu untuknya. Namanya juga menggunakan katakana dan hiragana.

"Aku tidak pernah melihatmu menangis. Kenapa?" Sebuah suara terdengar dari belakang Sasuke, tanpa berbalik pun Sasuke tahu siapa pemilik suara ini.

Sasuke sendiri pun tidak tahu apa yang terjadi padanya. Semenjak kejadian itu Sasuke seakan-akan sulit mengeluarkan emosi. Entah itu senang atau sedih, semuanya sama saja. Jika ditanya seperti itu, Sasuke hanya diam. Seperti pertanyaan dari Gaara ke 9999+ kalinya pada Sasuke. Sasuke tidak pernah menjawab pertanyaan itu, tapi kali ini ia sangat ingin menjawabnya walaupun ia tidak tahu apa jawabannya.

"Aku tidak tahu." Jawab Sasuke.

"Hah?" Gaara mendengus menatap tajam punggung Sasuke. Jawaban dari pertanyaannya yang ke 9999+ kali ini, baru pertama kalinya mendapat jawaban yang paling membuat Gaara ingin memukul Sasuke.

"Emh.. Karena dia belum mati. Ya, kan?" Sasuke berbalik berjalan melewati Gaara sambil membawa ember kayu yang ada di tangan kanannya.

"Dia ada di balik tanah. Tidak mungkin dia bangkit dari kematian." Gaara berteriak membuat Sasuke menghentikan langkahnya.

"Dia masih hidup. Aku tidak ingin menangisi orang yang sedang mempermainkanku. Dia akan muncul suatu hari di hadapanku. Lagipula semua ini hanya dunia mimpi. Duniaku bukan disini." Sasuke kembali melanjutkan langkahnya keluar dari perkarangan pemakaman.

"Kau menyedihkan, Sasuke." Bisik Gaara.

.

.

.

.

"Baiklah kalau begitu. Tenang saja aku bisa mengerjakan sendiri. Kau lanjutkan saja jalan-jalanmu. Sampai jumpa." Sasuke menutup teleponnya setelah ia dihubungi oleh Tsunade dari German. Awalnya Tsunade merasa tidak enak tetap mempekerjakan Sasuke disaat suasana masih dalam keadaan berkabung. Tetapi Sasuke memaksa jika Sasuke bisa bekerja seperti biasa, Tsunade tidak bisa apa-apa lagi.

Suara ketukan terdengar dibalik pintu, terbuka dan Sasuke melihat jika Gaara masuk kedalam ruangan dengan buku tulis yang ada di tangan kanannya. Gaara duduk didepan meja kerja Sasuke yang memang sudah ada tempat duduk disana.

"Ini." Gaara mengulurkan buku tulis itu di atas meja menghadap Sasuke. "Menu yang kau suruh waktu itu, aku sudah menambahkan beberapa bahan. Agak mahal memang, tapi kalau melihat jenis makanan yang sangat disukai oleh orang-orang, ku pikir tidak masalah memasukan makanan ini kedalam menu."

"Bagaimana menurut Itachi?" Tanya Sasuke. Gaara mengangguk dan kembali mengambil buku tulisnya setelah dibaca sejenak oleh Sasuke.

"Dia bilang oke."

"Kalau begitu aku akan kembali memesan bahan-bahan yang tidak ada di ruang pendingin." Sasuke mulai mengetik E-mail di laptopnya memesan beberapa bahan di toko langganannya. Gaara menatap Sasuke yang masih sibuk di depan laptopnya.

"Apa? Sudah selesai, kan? Apa ada lagi?" Tanya Sasuke saat merasa di perhatikan oleh Gaara.

"Kau itu sangat nurut, ya?"

"Hah?" Sasuke menghentikan pekerjaannya di depan laptopnya.

"Apa yang dikatakan Itachi, kau itu selalu nurut. Memangnya Itachi itu siapa?"

"Memang, ya?"

Gaara memutar matanya dan menatap Sasuke dengan wajah dongkol. Bahkan Sasuke sendiri tidak merasa.

"Ku ganti pertanyaanku. Apa yang membuatmu selalu mengikuti perkataan Itachi? Khususnya dalam bisnis ini, apa kau tidak takut mengandalkan anak bod—polos sepertinya?" Tanya Gaara. Sasuke menatap Gaara dengan heran.

"Karena dia mirip dengan kakakku. Dia pintar dan jenius, Seperti kakakku. Apapun keputusannya selalu yang terbaik. Walaupun sifatnya sangat bertolak belakang, aku pikir—"

BRAKK!

Sasuke terkejut dan menghentikan perkatannya saat Gaara menggebrak meja dengan tiba-tiba.

"Kau ini tidak bisa move on dari masa lalu ya? Kakakmu ya Kakakmu, Itachi ya Itachi. Mereka berbeda. Kakakmu itu sudah mati. Jangan samakan orang yang sudah mati dengan orang yang masih hidup. Kau menjijikan." Gaara langsung meninggalkan ruangan Sasuke dengan wajah memerah menahan amarah.

Sasuke mengangkat kedua alisnya menatap pintu yang baru saja ditutup sangat keras dengan heran. "Ada apa dengannya?"

.

.

.

.

.

Sasuke berdiri menatap langit di atas savana hijau yang luas, dengan tanah yang tidak datar tetapi sangat indah untuk dipandang. Merasakan angin yang bertiup kearahnya membuatnya melupakan sejenak masalah yang akhir-akhir ini menimpanya. Sudah hampir satu bulan Sasuke hidup sendiri di dunia ini, Sasuke mulai tidak bisa berharap jika Naruto masih hidup.

Sasuke benar-benar ingin pulang sekarang. Walaupun harapan mustahilnya memudar, tetapi ia masih menguatkan harapannya itu. Jika Sasuke pulang ke Konoha, Naruto sudah ada di Konoha lagi.

"Sasuke?" Suara yang terdengar lembut dan mendayu itu terlintas di telinga Sasuke. Padahal Sasuke pergi ke tempat pertama kalinya Naruto dan Sasuke terdampar di dunia asing ini sendirian. Tetapi Sasuke merasa jika ada orang yang memanggilnya dari belakang.

Sasuke memutar badannya dan menemukan sesosok wanita yang tubuhnya bercahanya. Dia tidak mengenakan pakaian, sepertinya. Tetapi fokusnya tertuju pada wajah itu. Sangat indah dan menenangkan.

"Siapa kau?" Sasuke maju melangkah dan mencoba menyentuhnya. Tembus. Tak bisa tersentuh.

"Kau mungkin tidak ingat padaku. Tetapi aku ingat padamu." Wanita itu tersenyum. "Narutomu belum mati. Dia ada padaku." Lanjutnya.

Mata Sasuke melebar ketika nama Naruto keluar dari bibir wanita jadi-jadian ini. Sasuke menyeritkan keningnya dan menatap tajam sosok yang ada di depannya. "Apa maksudmu?"

"Kau ingin bertemu dengannya kan?"

"Hah?" Sasuke melangkah mundur ketika sosok bercahaya itu seakan-akan terbang kearah Sasuke. Tangannya terjulur kearah poni Sasuke yang menutupi mata kirinya, disibakan keatas dan menatap bola mata berwarna ungu itu.

"Apa maumu?" Sasuke berniat mengenyahkan tangan yang bercahaya itu agar menyingkir dari hadapannya, tetapi tangan itu tembus, tak bisa disentuh. Layaknya cahaya biasa.

"Aku ingin matamu." Suara indah itu mengalun ke telinga Sasuke dan hampir membuat Sasuke goyah. "Aku akan memulangkanmu ke tempat asalmu, tetapi tidak gratis."

Sasuke terus menatap wajah dihadapannya yang tersenyum setelah meminta matanya dengan cuma-cuma, dan sialnya, senyum itu benar-benar indah.

"Kenapa kau ingin mataku?"

"Karena aku membutuhkannya."

"Seperti kau membutuhkan hati Naruto?"

"Betul."

"Ternyata dugaanku benar. Kau bersengkongkol dengan laki-laki asing yang telah membunuh Naruto, kan?"

"Kau tahu hal itu, ya?"

"Untuk apa? Apa yang ingin kau lakukan setelah mendapat hati Naruto dan Mataku?"

Sosok itu tersenyum makin dalam dan menatap mata Sasuke semakin tajam. "Hanya sesuatu yang kecil."

"Bagaimana caranya aku bertemu Naruto sedangkan Naruto sudah mati?" Sasuke melangkah mundur lepas dari tangan itu. Poninya yang lurus kembali jatuh menutupi mata kirinya.

"Kau percaya kalau Naruto sudah mati? Bukankah kau yang bilang jika dunia ini hanyalah dunia mimpi?"Sosok itu memudar lalu menghilang di hadapan Sasuke. Sasuke membelalakan matanya dan mencari sosok yang asing itu. Keadaannya sudah tidak bisa dilihat kasat mata lagi, entah dia sudah pergi atau belum, Sasuke masih punya banyak pertanyaan untuk ditanyakan pada sosok bercahaya itu.

"Oi.. Sasuke. Lama sekali. Apa yang kau lakukan sih? Kau menyuruhku menunggu di perbatasan, tapi itu sudah lama sekali." Gaara berlari mendekat pada Sasuke yang masih berdiri menatap lurus kedepan. Gaara menopang tubuhnya pada lutut kakinya, menarik napas dan membuangnya dengan cepat karena berlari tanpa henti.

"Apa yang kau temukan, hah? Cara membangkitkan orang dari kubur, begitu?" Gaara berdiri saat nafasnya mulai normal dan menatap Sasuke dengan tampang heran. "Apa yang kau dapat?"

Sasuke balas menatap Gaara ketika kesadarannya mulai kembali. "Aku bertemu dengan sosok asing. Dia bilang Naruto belum mati dan Naruto ada di tangannya. Kalau aku ingin bertemu dengan Naruto, aku harus membayarnya dengan mata kiriku."

"Oh? Begitu? Bukankah itu mudah? Kalau begitu berikan saja dan Naruto kembali, ya kan?"

Sasuke meraba mata kirinya yang berada di balik poni panjangnya. Jika Sasuke berikan mata ini pada sosok itu, apa benar Naruto akan kembali? Yang lebih penting lagi, apa sosok wanita bercahaya itu dapat dipercaya?

"Mata ini berharga." Lirih Sasuke. Walaupun Sasuke mengucapkan dengan lirih, tetapi Gaara tetap mendengarnya.

"Hah?" Gaara menyeritkan keningnya berang. "Itu hanya mata, Sasuke. Kau masih punya satu mata lagi."

Sasuke menatap kesal Gaara dan melangkah cepat meninggalkan Gaara sendiri. Apa yang Sasuke sudah lakukan telah mengajak Gaara ikut padanya? Awalnya Sasuke hanya mengajaknya untuk bertemu dengan pembunuh yang membunuh Naruto, untuk jaga-jaga jika pembunuhnya ingin hati seseorang lagi sebagai gantinya. Niatnya sih begitu, tetapi malah sosok itu yang muncul dan malah meminta matanya. Apa maksudnya?

Memang benar sih nyawa Gaara tidak terlalu berharga daripada mata Sasuke, tetapi sosok itu seperti punya rencana dengan matanya. Apa yang ingin dilakukannya?

Mungkinkah dia dari klan Otsutsuki yang menginginkan beberapa kekuatan untuk membangkitkan kembali Kaguya? Kalau itu mana mungkin kan? Tidak! Mungkin saja begitu.

"Oi, Sasuke. Kau perlu memeriksakan diri. Kau sakit." Kata Gaara menjajarkan jalannya pada Sasuke. Sasuke melirik kebawah karena memang Gaara lebih pendek dari Sasuke.

"Kau khawatir padaku?"

"Aku kasihan pada Naruto karena Naruto tidak bisa bahagia. Kau tahu kan, ketika orang yang sudah meninggal tidak akan bahagia ketika kerabatnya tidak mengikhlaskan kepergiannya." Gaara berucap sambil berjalan beriringan dengan Sasuke menuju perbatasan savana bermaksud keluar dari tempat hijau yang luas itu.

"Tenang saja. Naruto belum mati. Itu berarti Naruto masih bisa berbahagia." Gaara mengerlingkan matanya mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Sasuke.

.

.

.

.

.
Sejak hari itu, Sasuke selalu dibayangi oleh sosok wanita tetapi bercahaya itu dimanapun Sasuke berada, tetapi sosok itu hanya muncul disaat Sasuke sedang sendiri. Sosok itu masih terus menawarkan tawaran yang beberapa hari lalu ditawarkan oleh sosok itu pada Sasuke. Sasuke sendiri bingung bagaimana mmembuat mereka berdua sama-sama untung.

Sasuke tidak mau menyerahkan mata kirinya pada sosok itu, tetapi Sasuke juga menginginkan Naruto kembali. Jika memang sosok itu benar-benar bisa membuat Naruto kembali, Sasuke mungkin akan senang hati memberikam mata kirinya padanya. Tetapi masalah kepercayaan Sasuke pada sosok itu tidaklah kuat. Sasuke masih mencurigainya.

Saat Sasuke sedang berada di rumah pada malam harinya seperti sekarang ini, sosok itu kembali muncul di hadapannya. Sasuke menghembuskan nafasnya ketika Sasuke sudah siap dibalik selimut di atas futonya untuk tidur.

"Apa lagi? Apa jawabanku kurang jelas? Aku tidak bisa memberikan mataku padamu." Sasuke berbicara dengan pelan pada sosok itu seperti biasa. Sasuke tidak terlalu yakin, tetapi Sasuke sepertinya benar-benar sedang melihat sosok itu tengah tersenyum padanya.

"Apa yang kau ragukan?" Suara lembut dan merdu itu mengalun ke otak Sasuke. Mulut sosok itu tidak pernah benar-benar bergerak, Sasuke yakin jika sosok itu mengirim apa yang ingin dia katakan melalui telepati. Tidak mengejutkan bagi Sasuke. "Aku benar-benar bisa mengabulkan keinginanmu."

"Tanpa pengorbanan?"

"Tidak ada usaha tanpa ada pengorbanan, sayang."

Sasuke menggigit bibir bawahnya. Perasaan cemas mulai menggerogoti hatinya. Bagaimana jika sosok ini menipunya? Bagaimana jika sosok ini benar-benar akan menolongnya?

"Bahkan Mataharimu membuat permohonan padaku dengan pengorbanan."

Sasuke membelalakkan matanya saat mendengar sosok itu seperti sedang membicarakan Naruto. Tetapi itu benar-benar Naruto, kan? Naruto membuat permohonan pada sosok misterius ini? Apa yang dia minta? Kenapa Sasuke tidak mengetahuinya?

"A—Apa? Kau bercanda? Naruto— Tidak mungkin. Kau pasti hanya menggertakku saja kan?" Sasuke bangkit dari posisi duduknya dan menatap tajam sosok yang ada di depannya. Hanya karena suaranya indah, Sasuke tidak akan termakan omongannya.

"Naruto tidak pernah cerita padamu, ya?"

Sasuke mengepalkan tangannya erat sampai telapak tangannya memutih karena kuku yang menancap kuat disana. Sosok ini mungkin saja hanya akan membuat Sasuke termakan omonganya, oleh karena itu Sasuke mempersiapkan apapun itu untuk benar-benar membunuh sosok itu.

"Sebelum Naruto memberikan hatinya pada Anakku, selama dua bulan aku selalu muncul di depannya saat dia sedang sendiri. Kupikir ia cerita padamu."

"Apa? Anak?"

"Ah.. ya! Maaf. Orang aneh yang kau selalu sebut itu adalah anakku. Dia suka bermain-main. Pasti dia selalu menakut-nakuti kalian saat dirinya muncul, kan?"

"Apa? Jangan bercanda! Orang itu yang membuat dua remaja mati! Lalu dia membunuh Naruto. Apa-apaan dengan perkataanmu itu?" Sasuke mundur saat sosok itu terbang mendekatinya. Sampai Sasuke tidak bisa kemana-mana karena tembok di dalam apartemennya menghalanginya untuk melarikan diri.

Tangan bercahaya itu terulur menyentuh dan mengusap lembut pipi pucat Sasuke. Tangan itu kemudian berpindah mengangkat poni yang menutupi mata kiri Sasuke, dan menaruhnya pada telinga Sasuke. Tersenyum saat sosok itu melihat mata spiral berwarna ungu yang dimiliki Sasuke.

"Aku akan mengatakan sekali lagi. Apa kau akan percaya pada dunia mimpi?"

Sasuke menyerit mendengar sosok itu terus menatap mata kirinya dan mengucapkan kata-kata dunia mimpi lagi. Sasuke sebenarnya ingin percaya pada dunia mimpi yang dikatakannya, tetapi Sasuke masih ragu. Yang terpenting, siapa sosok ini? Apakah dia teman atau lawan?

"Kau ingin pulang, Sasuke?"

Sasuke mengangguk.

"Kau ingin bertemu dengan Naruto, Sasuke?"

Sasuke kembali mengangguk.

"Kalau kau ingin pulang dan bertemu dengan Naruto, maka selesaikan dulu masalah yang ada di Konoha. Aku akan memberikan Naruto padamu saat kau berhasil menyelesaikan semuanya."

Sasuke tidak bisa untuk tidak terhanyut akan suara indah itu dan untuk tawaran menggiurkan itu. Sial! Sasuke seperti orang bodoh yang langsung mau jika diberikan permen oleh orang asing, padahal sudah jelas jika sosok ini sangat mencurigakan. Tetapi Sasuke tidak tahan untuk tidak mengangguk.

Badannya kaku, kakinya lemas, apa yang harus Sasuke lakukan?

Tangannya terulur mencoba menyentuh lengan yang masih menahan poni panjangnya. Dan ajaibnya Sasuke benar-benar bisa menyentuhnya saat ini. "Naruto—Apa yang bisa kulakukan untuk bertemu dengan Naruto?"

Sosok itu tersenyum dengan lembut. Kembali mengusap pipi Sasuke untuk yang terakhir. "Persiapkan dirimu!"

Setelah itu, Sasuke melihat cahaya putih mulai menyebar pada apartemennya dan disaat itu juga Sasuke merasa seperti jatuh dengan bebas dalam ruang putih kosong yang luas. Perasaan hampa, kuatir, dan juga cemas mulai menyelimuti Sasuke. Sasuke masih jatuh di tempat yang asing dan tidak ada apapun yang ia lihat di sekelilingnya. Sasuke mulai memejamkan matanya membayangkan jika Naruto ada di sisinya. Walau sedikit, perasaan cemas yang tadi mampir mulai terlupakan.

BRUKK!

Sasuke merasakan rasa sakit pada bagian bokong dan pinggangnya saat suatu yang keras menyentuh badanya dengan tiba-tiba.

"Sasuke! Sasuke kembali!" Suara teriakan nyaring yang sangat sasuke hapal, membuat Sasuke bangkit dari jatuhnya dan membuka matanya.

"Naruto?"

"Sasuke, kau kembali! Syukurlah!" sosok Naruto kecil yang berlari menghampiri Sasuke, membuat Sasuke ingin memeluknya saat ini juga. Suara rubut terdengar di ruangan yang lumayan luas ini. Sasuke menulikan pendengarannya dan menatap sekeliling ruang yang sangat ia hapal betul tempat ini.

Tempat ini adalah ruang rapat kantor Hokage. Lalu orang-orang di sini adalah sekelompok anak-anak yang datang dari masa lalu. Segerombolan anak-anak itu menghampiri Sasuke dan berteriak bersamaan membuat Sasuke pusing setengah mati.

"DIAM!" Suara cempreng dari Naruto kecil menghentikan keributan yang dilakukan oleh teman-temannya. Naruto kecil kembali menatap Sasuke dengan raut wajah yang membuat Sasuke tidak tahan setengah mati untuk tidak memeluknya. Sasuke sangat merindukan sosok mataharinya itu.

"Sasuke, kau tidak apa-apa?" Pertanyaan dari Naruto membuat badan Sasuke lemas seketika. Apa ini benar-benar nyata? Suara kecil Naruto mengalun ke telinga Sasuke saat Sasuke dalam kondisi yang membingungkan. Keringat dingin mulai keluar dari pelipisnya.

"Sasuke?" Suara itu kembali memanggil dirinya. Tangan kecil itu terulur menggenggam tangan kirinya dan membawanya merendah untuk bisa berjajar pada Naruto kecil. Semua orang menatap penuh khawatir karena Sasuke yang mereka lihat seperti sudah melihat monster yang akan menerkam dirinya.

Tangan Naruto kecil terangkat mengusap keringat yang keluar dari pelipis Sasuke. "Kau demam, Sasuke? Tubuhmu panas." Ucap Naruto kecil.

"Akan ku ambilkan air untuk minum." Sosok Naruto kecil itu menjauh dan kembali dengan cepat membawa gelas di tangannya. Secepat kilat Sasuke langsung menghabiskan air yang dibawa oleh Naruto kecil. Setelah minum perasaan Sasuke lebih baik. Sasuke kembali melihat teman-temannya yang dari masa lalu tengah menatapnya dengan wajah khawatir.

Sasuke kembali menatap Naruto kecil dan balas menggenggam tangan kecil itu. "Apa yang terjadi?" Tanya Sasuke.

"Saat itu, Kau dan Naruto dibawa oleh Shinori. Lalu setelah itu kami pulang dan memberitahukan hal ini pada Shikamaru. Shikamaru lalu mengurung kita disini selama 7 hari. Selama 7 hari itu kami tidak tahu apa-apa tentang yang terjadi di luar sana." Jelas Neji.

Shikamaru mengurung mereka? Kenapa? Apa mungkin karena anak-anak ini merepotkan?

"Dimana Naruto?" Tanya Sasuke. Yang lain hanya menyipitkan matanya saat pertanyaan yang sama ingin mereka keluarkan pada Sasuke.

"Seharusnya aku yang bertanya. Dimana Naruto?" Tanya Sasuke kecil pada dirinya yang besar. Sasuke merasa jantungnya berdetak sangat cepat, perutnya memanas jika mengingat kematian Naruto. Tidak! Itu hanyalah dunia mimpi. Naruto pasti masih hidup.

Sasuke mengingat sosok yang bercahaya itu sebelum Sasuke terlempar ke Konoha. Sebelumnya sosok itu mengatakan kalau Sasuke harus menyelesaikan masalah yang ada di Konoha sebelum ia bisa bertemu kembali dengan Sasuke. Kalau begitu, Masalah seperti apa yang tengah menimpa Konoha?

Suara ketukan pintu terdengar dari luar dan suara kunci memutar juga terdengar. Shikamaru benar-benar mengurung mereka.

"Semuanya! Saatnya makan siang! Aku membawa Yakisoba, loh!" Suara yang sangat familiar terdengar sampai ke telinga Sasuke, sampai sosok itu menunjukkan dirinya.

Sakura dengan sosok yang dewasa masuk kedalam ruangan yang luas itu dan menunjukan ekspresi terkejutnya pada semuanya. Keranjang yang lumayan besar itu untungnya tidak jatuh saat dirinya tengah dikejutkan oleh seseorang yang tengah berdiri ditengah anak-anak.

"Sasuke-kun." Lirih Sakura. Sakura menaruh keranjang itu ke lantai dan berlari menerjang Sasuke dengan sangat keras. Kalau bukan karena kekuatan Sasuke yang besar, sudah dipastikan mereka berdua akan jatuh ke belakang. Sakura menangis sambil menyebut nama suaminya berkali-kali dan mengucap syukur.

Sasuke tersenyum tipis saat istrinya memeluknya dengan erat. Bagaimanapun Sakura adalah istrinya, Sasuke juga sedikit merindukan wanita pink berisik ini. "Aku pulang!" Ucap Sasuke mengeratkan pelukannya pada Sakura. Sakura mengangguk dengan sesenggukan. Setelah itu mereka melepaskan pelukannya dan menatap satu sama lain.

Sakura mengusap air matanya yang mengalir di pipinya dan tersenyum lebar saat Sasuke mengelus puncak kepala Sakura. Jujur saja, Naruto kecil yang melihat perlakuan Sasuke pada Sakura yang sangat manis seperti itu, sedikit membuat hatinya panas. Bagaimanapun Naruto kecil masih menyukai Sakura. Tetapi Naruto harus tetap tersenyum, karena Naruto tidak boleh terlihat lemah di hadapan Sakura.

"Dimana Naruto?" Sakura bertanya saat menatap sekelilingnya dan tidak mendapatkan sosok sahabatnya disamping suaminya.

"Apa yang terjadi pada Konoha saat aku dan Naruto tidak ada?" Sasuke mengalihkan pertanyaan Sakura dengan pertanyaannya. Bagaimanapun Sasuke harus cepat mencari masalah di Konoha agar Naruto bisa cepat pulang.

"Sebenarnya tidak ada masalah yang berarti. Masalah yang kau dan Naruto hilang dirahasiakan dari semuanya. Yang tahu hanya kami—Keluarga Naruto, Keluarga Shikamaru, dan aku. Shikamaru mengerjakan pekerjaan Naruto sendirian, lalu Shikamaru bilang pada setiap orang yang bertanya 'kemana Hokage?' maka kami harus menjawab 'Hokage sedang keluar negeri untuk mengurus masalah Shinori' seperti itu."

"Apa ada warga lain yang diculik oleh Shinori?"

Sakura menggeleng. "Tidak ada. Justru saat kalian berdua menghilang, satu persatu warga yang diculik mulai kembali."

"Si kembar Chunin itu juga kembali?" Tanya Sasuke. Sakura mengangguk. "Semuanya, Sasuke-kun." ucap Sakura.

Sasuke menyeritkan keningnya. Masalah satu persatu mulai terselesaikan. Lalu masalah apa lagi yang harus di selesaikan Sasuke?

Sasuke menatap satu-satu wajah teman-teman kecilnya. Mungkin masalah yang dimaksud sosok bercahaya itu adalah mereka? Tapi bagaimana caranya Sasuke untuk mengembalikan mereka semua ke masa lalu?

"Sasuke? Dimana Naruto?" Neji yang kali ini bersuara. Sasuke menatap Neji kecil yang juga menatapnya. Semua orang menatapnya tak terkecuali Sakura, seperti menuntut jawaban yang dari tadi digantung oleh Sasuke. Sasuke menatap Naruto kecil sejenak, memangdang bola mata biru kesuakaanya.

"Naruto ditahan oleh sosok yang menjadi dalang hilangnya semua warga di Konoha. Jika aku bisa memulangkan kalian ke masa lalu, Naruto akan dikembalikan. Tapi masalahnya ada padaku." Jelas Sasuke. Semua orang yang ada di dalam ruangan menahan nafasnya ketika Sasuke mengatakan jika Sang Hokage sedang di tahan.

"Apa maunya orang itu?" Ucap Shikamaru kecil pada Sasuke. Sasuke menggeleng.

"Aku tidak tahu. Ku pikir dia hanya sedang bermain-main." Tebak Sasuke. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu kembali ribut. Mereka mempertanyakan apa maksud setelah menghilangkan warga Konoha lalu mengembalikannya lagi lalu menahan Sang Hokage. Dan yang paling berisik adalah Naruto itu sendiri, mempertanyakan kenapa dirinya yang Hokage dan hebat itu bisa-bisanya ditangkap dengan mudahnya.

Sasuke menekuk alisnya marah saat mendengar perkataan dari Naruto kecil seakan-akan Naruto-nya itu lemah. "Naruto tidak selemah itu. Dia—saat itu menawarkan dirinya. Aku tidak tahu jelas, yang pasti Naruto saat itu tengah mengorbankan sesuatu untuk warga desanya. Naruto tidaklah selemah itu jika ditangkap dengan mudah oleh sosok itu. Dia pasti melakukan negosiasi dengan—nya—Naruto—masih— " Perkataan Sasuke mengandat di ujung kalimat.

Benar juga! Pasti Naruto mengorbankan hatinya untuk mengembalikan semua warga desa yang duculi oleh Shinori. Selama dua bulan dihampiri terus menerus oleh sosok itu, pasti Naruto goyah dan akhirnya memberikan hatinya untuk dikorbankan. Tetapi, semudah itu? Mati untuk orang lain? Sasuke kembali terbayang tubuh kaku Naruto saat Sasuke mendekapnya. Wajah pucat itu terbayang kembali dan membuat hatinya berdenyut.

Tapi sosok itu menjanjikan Naruto akan kembali jika Sasuke memberikan mata kirinya. Atau bisa mengembalikan teman-temannya ke masa lalu.

"Akan kubawa kalian ke hutan itu lagi. Sepertinya kalian akan bisa pulang jika aku bisa bertemu dengan sosok itu lagi."

.

.
Tsuzuku