Touken Ranbu © DMM & Nitroplus
Monochrome Love Story © Riren18
Pair : Ishikirimaru & Nikkari Aoe
Genre : Romance, friendship, and hurt/comfort
Warning : Boys Love Story, typo, gak sesuai EYD, little OOC, alur gaje, dan masih banyak kekurangan lainnya.
Saya hanya meminjamkan karakternya saja dan tidak mengambil keuntungan apapun dalam cerita ini :)
.
.
.
.
.
Sunyi. Itulah yang terjadi setelah Nikkari berkata ingin menceritakan soal masa lalunya. Setelah beberapa saat akhirnya Ishikirimaru pun merespon perkataan Nikkari beberapa detik yang lalu.
"Silahkan saja jika ingin bercerita. Aku akan mendengarnya dengan baik-baik. "
"Terima kasih karena sudah bersedia mendengar soal diriku dan juga masa laluku. "
"Sama-sama dan tidak perlu bersifat kaku seperti itu, Nikkari-san. "
"Kau benar juga, Ishikirimaru-san. Baiklah, aku akan memulai ceritaku. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana namun bahagia. Aku adalah anak satu-satunya atau bisa dibilang anak tunggal. Tapi, kebahagiaan itu hanya bertahan sampai usiaku 17 tahun. Kebahagiaan itu hilang karena pengkhinatan yang dilakukan oleh ibuku. Pada akhirnya ayah memilih untuk bercerai dengan ibuku dan aku pun tinggal bersama dengan ayahku. "
Nikkari menghentikan ceritanya sebentar karena air mata mulai mengalir dari kedua mata Nikkari. Melihat Nikkari menangis, Ishikirimaru ikut merasakan kesedihannya dan ingin menangis juga.
Tak lama Nikkari kembali melanjutkan ceritanya...
"Setelah itu ku kira kesedihanku berakhir tapi ternyata tidak karena ada kesedihan lain yang telah menungguku. Ayahku mulai berubah menjadi suka berjudi dan mabuk-mabukkan. Lalu ayah juga suka memukul atau menendangku jika dia kalah saat berjudi atau saat dia sedang mabuk karena terlalu banyak meminum bir. Pada akhirnya hutang pun menunggu ayahku dan entah apa yang ada dalam pikiran ayahku, dia tega menjualku ke seorang bandar pengumpul lelaki dan perempuan sewaan. Tentu saja untuk memuaskan hasrat para lelaki hidung belang. Sejak saat itu aku merasa ingin mati saja. Hiks..."
Nikkari kembali menghentikan sebentar ceritanya karena dia kembali menangis. Rasa sedih pun semakin Ishikirimaru rasakan saat Nikkari menceritakan soal masa lalunya yang ternyata kelam dan berat sekali.
Setelah merasa agak tenang, Nikkari kembali bercerita...
"Kehidupanku sebagai pekerja kotor itu pun dimulai. Awalnya aku hanya di suruh untuk membantu membawa minuman saja tapi tak berapa lama aku di tarik sebagai karyawan untuk memuaskan hasrat para tamu. Awalnya aku tak mau karena aku tak mau kehilangan kesucianku tapi apa daya aku tidak bisa melawan dan akhirnya aku harus merelakan tubuh serta kehormatanku di renggut secara paksa oleh lelaki tak bertanggung jawab. Setelah itu kejadian itu terus berulang dan tentu saja membuatku muak. Lalu aku pun memutuskan untuk kabur dari situ dan berhasil meskipun aku hampir mati karena kelaparan serta kehujanan."
"Jadi...inikah alasanmu berkata jangan mendekat saat aku menyentuhmu saat kau sadar dari pingsanmu waktu itu? "
"Bisa dikatakan aku trauma dan efeknya masih terasa hingga sekarang. Maaf atas perlakuanku waktu itu dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika Ishikirimaru-san tidak menemukanku. Mungkin aku sudah berada di dunia yang lain atau masuk ke dalam neraka karena tubuhku ini sudah kotor. Hiks...rasanya aku ingin...hiks...mati saja...hiks... "
Tanpa aba-aba, Ishikirimaru langsung menarik tangan Nikkari lalu membawa Nikkari ke dalam pelukannya. Ishikirimaru pun mengelus rambut Nikkari dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Seketika tangis Nikkari pecah dan dia pun tidak berhenti menangis bahkan dia pun memeluk Ishikirimaru dengan erat.
"Menangislah sepuasmu, Nikkari-san. Aku bersedia memberikan bahu serta pelukanku untuk dirimu. Sekarang kau boleh melampiaskan semua rasa sedih serta sakit yang kau rasakan tapi berjanjilah untuk tersenyum kembali. Aku tidak ingin melihat Nikkari-san menangis dan bersedih lagi. Aku ingin melihatmu tersenyum lagi. Satu hal lagi, sekarang kau tidak sendiri karena kau punya aku dan keluarga Sanjo, keluargaku. "
Nikkari tidak membalas perkataan Ishikirimaru tapi dia mendengarkannya dengan baik meskipun ada sedikit rasa sakit karena Ishikirimaru tidak memiliki perasaan apapun padanya.
Setelah itu keduanya pun saling berpelukan tanpa ada satu kata pun yang menjadi pemecah suasana di antara mereka.
.
.
.
.
10 menit pun berlalu dan setelah puas menangis akhirnya Nikkari malah berakhir tidur di pelukan Ishikirimaru.
Mau tak mau Ishikirimaru pun menggendong Nikkari untuk dibawa ke kamar milik Nikkari. Tanpa sayangnya pintu kamar Nikkari tertutup rapat dan membuat Ishikirimaru susah untuk membukanya karena kini dia menggendong Nikkari dalam posisi bridal style.
Pada akhirnya Ishikirimaru membawa Nikkari ke dalam kamarnya karena dia tidak menutup pintu kamarnya.
Setelah masuk ke dalam kamar, Ishikirimaru pun meletakkan tubuh Nikkari dengan perlahan di atas ranjang tidurnya dan menyelimuti dengan selimut tebal yang biasa Ishikirimaru pakai saat tidur.
Setelah menutup pintu kamarnya, Ishikirimaru pun ikut berbaring di samping Nikkari dan bahkan dia menaruh kepala Nikkari di atas lengannya. Ishikirimaru bahkan mengelus rambut panjang Nikkari. Tak lama Ishikirimaru mengatakan sesuatu pada Nikkari yang sudah tertidur...
"Ku harap setelah ini segala bebanmu akan hilang dan begitupula dengan air mata yang kau tumpahkan tadi akan berubah menjadi senyuman yang indah. Aku tidak tega melihatmu seperti tadi, Nikkari-san. Bagaimanapun keadaanmu, aku akan menerimamu apa adanya, Nikkari-san. Tetaplah hidup dan aku akan bersedia memberikan apapun demi kebahagiaanmu dan juga untuk melihat senyumanmu, Nikkari-san. "
Setelah selesai berbicara, Ishikirimaru pun memberikan sebuah kecupan lembut pada dahi Nikkari. Beberapa menit kemudian rasa kantuk pun mulai dirasakan oleh Ishikirimaru dan dia pun ikut tertidur sambil memeluk Nikkari.
Entah reaksi apa yang akan diberikan Nikkari saat dia tersadar pagi harinya...
.
.
.
.
Waktu berlalu dan sang rembulan telah berganti dengan sang fajar. Cahaya matahari pun mulai memasuki kamar Ishikirimaru yang masih gelap.
Perlahan-lahan Nikkari pun terbangun dari tidurnya dan seketika dia terkejut saat menyadari keadaannya sekarang. Ya...kini dia masih berada dalam pelukan Ishikirimaru dan tentu saja Nikkari dapat merasakan hembusan nafas teratur Ishikirimaru pada puncak kepalanya.
Rasa bahagia dan malu pun bercampur aduk dalam hati Nikkari dan belum lagi Ishikirimaru memeluknya dengan erat sehingga Nikkari tak bisa bergerak sedikit pun.
Pada akhirnya Nikkari mencoba memberanikan diri untuk mengelus pelan pipi Ishikirimaru, tentu saja dengan tujuan agar Ishikirimaru terbangun dari tidurnya. Namun, usaha Nikkari tidak menghasilkan apapun dan Nikkari bingung harus berbuat apalagi.
Sambil menunggu Ishikirimaru terbangun, Nikkari pun mengamati wajah Ishikirimaru yang masih tertidur. Nikkari memperhatikannya dengan seksama.
Perlahan tapi pasti dan seperti benda logam yang tertarik oleh magnet, wajah serta bibir keduanya mulai dekat dan pada akhirnya kedua bibir itu bertemu untuk beberapa detik saja.
Ciuman singkat dari Nikkari sukses membangunkan Ishikirimaru dan dia pun segera menundukkan wajahnya serta berpura-pura tidur.
Perlahan-lahan kesadaran Ishikirimaru terkumpul dan dia menyadari ternyata sudah pagi. Ishikirimaru pun tersenyum saat melihat Nikkari masih terlelap dalam tidurnya.
"Sebelum dia bangun, lebih baik ku buatkan sarapan dulu. "
Ishikirimaru pun melepaskan pelukannya dari Nikkari dan tentu saja Nikkari merasa sangat lega. Saat Ishikirimaru hendak turun dari kasur tiba-tiba dia kembali menoleh ke arah Nikkari dan tentu saja Nikkari hampir jantungan karena itu.
Chuuu!
"Semoga ini bisa menjadi jimat kebahagiaanmu, Nikkari-san. "
Tanpa bisa Nikkari cegah sebuah kecupan manis telah mendarat di dahinya. Sebuah kecupan manis dari Ishikirimaru.
Tak lama Ishikirimaru pun keluar dari kamarnya dan Nikkari segera membuka matanya sambil memegang dada kirinya yang dimana kini dia dapat merasakan detak jantungnya berdegup tak beraturan.
"Tentu saja itu akan menjadi jimat kebahagiaanku untuk selamanya, Ishikirimaru-san. Apalagi jika kau memilih untuk menjadi milikku. "
.
.
.
.
Setelah 15 menit berlalu, Nikkari pun keluar dari kamar Ishikirimaru dan tentu saja dia sudah mencuci wajahnya.
Nikkari pun berjalan menuju dapur dan seketika mencium harum pancake saat kakinya memasuki dapur. Saat berjalan menuju meja makan terlihat 2 piring yang berisi sebuah pancake berukuran sedang dan sebuah gelas susu putih.
Ishikirimaru yang sudah selesai membersihkan alat masak seketika terkejut melihat Nikkari yang sudah berdiri tak jauh dari meja makan.
"Wah! Nikkari-san! "
Nikkari yang melihat reaksi lucu Ishikirimaru yang terkejut karena kehadirannya pun hanya bisa tersenyum tipis. Tapi, tak lama Nikkari pun berkata...
"Maaf jadi membuatmu terkejut, Ishikirimaru-san. "
Segera Ishikirimaru menggelangkan kepalanya, tanda dia tak apa-apa.
"Salahku sendiri tidak menyadari kehadiranmu, Nikkari-san. Kau tidak perlu minta maaf. Oh, ya, apakah kau menyukai pancake? "
"Aku menyukai pancake. Etto... Apakah ada yang bisa ku bantu, Ishikirimaru-san? "
"Tidak ada. Nikkari-san duduk duluan saja. Sebentar lagi aku akan menyusul setelah mengeringkan peralatan masak."
"Baiklah. "
Nikkari pun duduk di salah satu kursi dan dia pun menunggu Ishikirimaru dengan tenang.
Setelah beberapa menit, Ishikirimaru pun akhirnya datang dan duduk di kursi yang bersebrangan dengan Nikkari.
"Maaf jadi membuat Nikkari-san menunggu. "
"Tidak apa-apa. Santai saja, Ishikirimaru-san. "
"Terima kasih atas pengertiannya, Nikkari-san. Sekarang ayo kita makan pancake nya. "
Keduanya pun memakan pancake buatan Ishikirimaru dengan khidmat hingga suapan terakhir.
.
.
.
.
Setelah keduanya sarapan, Ishikirimaru dan Nikkari pun membangunkan Imanotsurugi yang masih tertidur. Keduanya pun masuk ke dalam kamar di mana Imanotsurugi masih terlelap dalam tidurnya.
Keduanya pun membagi tugas. Ishikirimaru membuka tirai sementara Nikkari membangunkan Imanotsurugi. Dengan langkah perlahan Nikkari mendekati ranjang tidur dan sesampainya di ranjang tidur, Nikkari pun mengelus rambut Imanotsurugi dengan lembut kemudian berkata...
"Imanotsurugi-chan, ayo bangun. Sudah pagi, lho~"
Selang beberapa detik, kedua kelopak mata Imanotsurugi terbuka dan seketika dia memeluk Nikkari sambil berkata...
"Selamat pagi, bibi Aoe! "
"Selamat pagi juga, Imanotsurugi-chan. Apakah tidurmu nyenyak? "
"Sangat nyenyak dan aku pun bermimpi indah! "
"Syukurlah kalau begitu. Sekarang Imanotsurugi-chan segera mandi dan setelah itu sarapan pancake buatan Ishikirimaru-san, pamanmu. "
"Baiklah, bibi Aoe. "
Imanotsurugi pun segera turun dari ranjang tidur. Saat berjalan menuju kamar mandi tiba-tiba suara Ishikirimaru menghentikan langkah Imanotsurugi.
"Sehabis mandi dan sarapan, kita bertiga akan pergi ke mall karena paman ingin membeli sesuatu untuk hadiah pernikahan teman paman. Jadi, Imanotsurugi pakai baju yang rapih ya. "
"Baiklah, paman Ishikirimaru. "
Tak butuh waktu lama sosok Imanotsurugi menghilang di balik pintu kamar mandi yang sudah tertutup.
"Ishikirimaru-san... "
"Ya? "
"Apakah kau tidak bekerja? "
"Ku rasa aku ambil cuti tambahan. Lagipula kita berdua belum mencari hadiah untuk pernikahan Tsurumaru dan Ichigo. Oh, ya, Nikkari-san ingin memakai pakaian apa untuk menghadiri pesta pernikahan Tsurumaru dan Ichigo? "
"Aku ikut Ishikirimaru-san saja. Mau tradisional atau modern aku akan terima dengan senang hati. "
"Baiklah. Nanti kita pergi ke butik temanku untuk membeli gaun baru untukmu. Untuk sepatu dan lainnya ku serahkan pada Mikazuki nanti. "
"Lebih baik aku pakai gaun yang diberikan Mikazuki-san saat itu. Jangan menghamburkan uangmu demi hal yang tidak perlu, Ishikirimaru-san. "
"Haaaa... Nikkari-san selalu saja begini. Tapi, tolong untuk kali ini izinkan aku untuk membelikanmu gaun baru agar kita bisa tampil serasi saat menghadiri pesta pernikahan Tsurumaru dan Ichigo. "
Pada akhirnya Nikkari pun menyerah karena Ishikirimaru telah mengatakan ingin tampil serasi dengannya. Walaupun tampak ramah, jika sudah memiliki prinsip akan sesuatu pasti Ishikirimaru tidak akan mau mengubahnya atau bisa dibilang keras kepala.
"Baiklah. Aku mau mandi dan bersiap-siap. Ishikirimaru-san juga harus siap-siap. "
"Ok. "
.
.
.
.
Setelah selesai mandi serta bersiap, ketiganya pun berangkat menuju mall yang terletak di pusat kota.
Sebelum berangkat Imanotsurugi meminta sesuatu kepada Nikkari dan tentu saja permintaan itu hampir Nikkari tolak karena dia merasa malu. Malunya bukan karena malu harus memakai baju perempuan tapi dia malu jika harus berpura-pura menjadi istrinya Ishikirimaru karena Imanotsurugi meminta kepada Nikkari dan Ishikirimaru untuk menjadi orang tuanya seharian.
Ishikirimaru setuju saja demi membahagiakan sang keponakan angkatnya. Sementara itu Nikkari terpaksa harus menyetujuinya karena Nikkari tidak mau melihat Imanotsurugi menangis karenanya.
Setelah 30 menit berkendara, ketiganya pun sampai di tempat tujuan. Sesudah memarkirkan mobil, ketiga orang itu masuk ke dalam kawasan mall. Tapi setelah masuk ke dalam kawasan mall, Ishikirimaru dan Nikkari bingung mau pergi ke mana.
"Nikkari-san..."
"Ya? "
"Kau punya saran atau ide untuk kado pernikahan Tsurumaru dan Ichigo? "
"Kalau boleh jujur, aku tak punya saran atau ide karena aku tidak tahu keduanya menyukai hal apa dan bagaimana sikapnya. "
"Jika di tanya soal sifat, Tsurumaru dan Ichigo saling berlawanan. Tsurumaru orangnya tidak bisa diam dan iseng sementara Ichigo kebalikkannya. Anehnya mereka bisa saling jatuh cinta dan menikah. Tapi, aku turut senang melihat keduanya di persatukan oleh ikatan suci. "
"Begitu ya. Mungkin kita belikan sesuatu yang bisa mereka pakai berdua. Contohnya kayak memberikan afternoon tea set. Kalau tidak mau yang berat, mungkin bisa memilih sesuatu yang terbuat dari kain, seperti baju, selimut, atau yang lainnya. Tinggal Ishikirimaru-san mau pilih yang mana. "
Ishikirimaru tampak berpikir sebentar setelah mendengar usulan dari Nikkari. Tak lama dia pun telah memutuskan sesuatu.
"Baiklah, ku putuskan untuk membeli selimut, piyama dan kimono tidur, serta peralatan memasak. Sekarang ayo kita berangkat menuju ke tempat membelinya. "
"Ayo! "
Ketiganya pun berjalan beriringan menuju tempat membeli barang-barang yang disebutkan Ishikirimaru tadi.
.
.
.
.
Setelah hampir 2 jam berlalu akhirnya barang-barang yang mereka inginkan telah di dapatkan dan sudah di kemas sempurna. Ishikirimaru pun pamit sebentar pada Imanotsurugi dan Nikkari untuk menaruh semua barang-barang yang telah dibeli.
Kini Imanotsurugi dan Nikkari menunggu di sebuah kursi panjang yang terletak tak jauh dari sebuah toko sepatu. Awalnya semua tenang-tenang saja tapi seketika berubah saat keduanya kedatangan 2 lelaki paruh baya mendekati keduanya.
"Nona cantik sendirian saja, mau aku temani? "
Nikkari langsung merasa takut karena trauma masa lalu mulai menyelimuti dirinya sehingga Nikkari hanya memilih untuk diam saja. Imanotsurugi yang menyadari Nikkari dalam bahaya, segera melindungi Nikkari dengan menjauhkan tangan kurang ajar salah satu lelaki itu dari Nikkari dan kemudian dia berkata...
"Jangan sentuh mama Imano! Kalau berani akan Imano pukul!"
Imanotsurugi menatap galak pada kedua lelaki paruh baya itu tapi hanya di balas tawa merendahkan dari lelaki itu. Lalu tanpa aba-aba salah satu lelaki itu pun mendorong tubuh mungil Imanotsurugi hingga terjatuh dan lelaki lainnya menarik tangan Nikkari yang tentu saja berniat membawa Nikkari pergi dari situ.
Imanotsurugi pun hanya bisa menangis melihat Nikkari dibawa oleh lelaki asing yang memiliki niat jahat pada Nikkari. Tapi, baru beberapa langkah kedua lelaki itu membawa Nikkari tiba-tiba sebuah suara yang tak asing bagi Imanotsurugi dan Nikkari pun terdengar.
"Cepat lepaskan dia atau kalian berdua akan ku buat menyesal! "
Kedua lelaki paruh baya itu menoleh dan salah satunya pun menghampiri Ishikirimaru sambil memasang wajah sombong dan menantang Ishikirimaru.
"Kau siapa, hah? Berani-beraninya menyuruhku! "
"Kau tidak perlu tahu siapa aku tapi cepat lepaskan dia atau kau tidak akan bisa melihat matahari esok hari. "
Lelaki itu pun marah dan dia pun melayangkan satu pukulan ke Ishikirimaru. Pukulan itu pun dapat di hindari dengan mudah oleh Ishikirimaru. Segera Ishikirimaru melayangkan serangan balasan dan Ishikirimaru melayangkan satu jurus karate yang ternyata mampu menjatuhkan lelaki tadi.
Setelah itu Ishikirimaru mendekati lelaki yang lainnya dan Ishikirimaru dapat melihat betapa ketakutannya Nikkari. Segera Ishikirimaru berlari ke arah lelaki yang memegang Nikkari dan dia pun melayangkan sebuah tendangan sambil memberikan suatu perintah pada Nikkari...
"Nikkari-san menunduk! "
Refleks Nikkari langsung menunduk dan seketika lelaki yang memegangnya tadi telah terletak tak berdaya di lantai.
Ishikirimaru pun segera menarik Nikkari dalam pelukannya kemudian dia pun mengatakan sesuatu pada kedua lelaki yang berniat jahat pada Nikkari...
"Sekali lagi kalian menampakkan wajah kalian dan menyentuh dia, aku akan memastikan detik itu juga kalian akan mati! "
Setelah itu Ishikirimaru langsung menggandeng Nikkari serta Imanotsurugi dan berjalan menjauhi kedua lelaki tadi serta orang-orang yang melihat kejadian tadi.
.Acara membeli gaun dan yang lainnya pun batal karena keadaan Nikkari tidak bertambah baik sejak insiden tadi.
Kini ketiganya sudah berada di apartemen Ishikirimaru. Imanotsurugi pun ikut khawatir melihat keadaan Nikkari yang sejak tadi diam saja dan matanya terasa kosong serta tubuhnya yang masih gemetar.
"Paman, bibi Aoe kenapa? Kenapa bibi Aoe diam saja? Ada apa dengan bibi Aoe, paman? "
"Paman pun tak tahu, Imanotsurugi. Paman juga bingung kenapa Nikkari-san jadi seperti ini. Tapi, Imanotsurugi tidak perlu khawatir karena nanti Nikkari-san akan kembali seperti semula. Sekarang Imanotsurugi masuk ke dalam kamar, ganti baju dan tidur siang. "
"Baiklah, paman. Jika bibi Aoe sudah baikkan kasih tahu Imano ya. "
"Pasti akan paman kasih tahu. "
Imanotsurugi pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Sementara itu Ishikirimaru masih kebingungan dengan keadaan Nikkari. Setelah berpikir beberapa lama, Ishikirimaru menggendong Nikkari menuju kamarnya. Biasanya Nikkari akan bereaksi saat di gendong ala tuan putri tapi kali ini dia hanya diam saja sambil menatap kosong ke arah lain.
Sesampainya di kamar, Ishikirimaru pun meletakkan tubuh Nikkari dengan hati-hati dan dia pun duduk di kursi sambil memegang tangan kanan Nikkari.
"Nikkari-san, ku mohon jangan seperti ini. Aku merasa sangat sedih saat melihatmu hanya diam dan menatap kosong seperti ini. Beri aku reaksi apapun agar aku tahu kau baik-baik saja atau sebaliknya. "
Sayangnya perkataan Ishikirimaru hanya di jawab hening. Pada akhirnya Ishikirimaru menyerah dan memilih untuk membiarkan Nikkari tetap seperti itu. Tapi, jauh di dalam hatinya Ishikirimaru berharap Nikkari kembali seperti sedia kala yang tersenyum dan membalas setiap perkataannya.
.
.
.
.
Waktu pun berlalu dengan cepat dan kini malam telah tiba. Mikazuki dan Kogitsunemaru pun datang bertamu dan betapa terkejutnya mereka berdua saat mendapat kabar tersebut.
Mikazuki pun hampir memberikan sebuah pukulan pada Ishikirimaru jika Kogitsunemaru tidak menghentikannya.
"Kakak kenapa tidak menjaga Aoe-san dengan baik? "
"Mikazuki hentikan! "
"Biarkan aku berbicara, Kogitsunemaru! Aku harus memberitahu kakakku yang bodoh ini agar bisa menjaga Aoe-san lebih baik lagi! Seharusnya dia bisa menjaga dengan baik orang yang sangat mencintainya! Aoe-san selalu mencintaimu dalam diam, kak. Dia selalu menanti kepekaanmu pada perasaannya dan dia bahkan rela terus bersamamu seandainya kau tidak mencintanya! "
Seketika hanya sunyi yang terasa saat Mikazuki mengakhiri perkataannya. Ishikirimaru pun merasa sangat terkejut dan bahkan hampir tak percaya dengan apa yang dikatakan Mikazuki padanya.
'Nikkari-san mencintaiku? Kenapa? Bukankah dia lelaki juga? Tapi, entah kenapa aku malah merasa bahagia saat mendengarnya. Apakah aku juga mencintainya? '
Pertanyaan Ishikirimaru hanya bisa di jawab oleh Ishikirimaru sendiri. Meskipun begitu sisi lain dari Ishikirimaru pun menyangkal hal tersebut. Ya...menyangkal jika dia juga mencintai Nikkari Aoe.
"Itu tidak mungkin. Aku dan Nikkari-san sama-sama lelaki. Lagipula kau tahu darimana jika Nikkari-san mencintaiku, hah?"
"Aoe-san sendiri yang cerita padaku dan seharusnya aku merahasiakannya darimu, kak. Tapi, saat ini sungguh tepat untuk memberitahukan hal itu padamu. Kalau kau tidak percaya akan perkataanku, nanti kau tanya saja sendiri pada Aoe-san! Satu hal lagi, soal cinta sesama lelaki bukan hal yang buruk dan kau pun menerima hubunganku dengan Kogitsune, bukan?. Seharusnya kakak dapat mengerti dan memahami hal itu demi membuat Aoe-san bahagia."
Setetes air mata pun jatuh dari salah satu kelopak mata Mikazuki. Segera Kogitsunemaru memeluknya dan menenangkannya.
"Ishikirimaru mungkin lebih baik kau pikirkan kembali perkataan Mikazuki tadi. Aku mengatakan hal ini karena beberapa kali Mikazuki menceritakan hal ini padaku dan aku yakin jika Aoe-san memang mencintaimu. Soal hubungan sesama jenis ku rasa tidak buruk dan siapa tahu Aoe-san adalah orang yang menjadi jodohmu. Aku dan Mikazuki permisi dulu. Selamat beristirahat, Ishikirimaru. Tolong sampaikan salam kami berdua padanya dan soal pakaian untuk pesta pernikahan Tsurumaru dan Ichigo akan kami berdua urus. "
Kogitsunemaru pun menggandeng Mikazuki yang masih terisak menuju pintu keluar dan tak lama sosok kedua orang itu menghilang di balik pintu yang tertutup.
Sementara itu Ishikirimaru masih terus bergelut dengan perasaannya sendiri dalam heningnya malam.
.
.
.
.
2 hari berlalu dan keadaan Nikkari masih tetap sama. Keadaan ini membuat Ishikirimaru semakin khawatir karena jika seperti ini terus Nikkari akan jatuh sakit.
Setiap pagi, siang, dan malam Ishikirimaru mencoba mengajak Nikkari berbicara dan menawarkannya untuk makan tapi sayangnya hanya di jawab oleh diam.
Kini Ishikirimaru kembali mencoba untuk membuat Nikkari makan dengan cara mengajaknya berbicara.
"Nikkari-san, aku membuatkan bubur untukmu. Aku suapi ya... "
Seperti biasa, Nikkari tidak merespon apapun saat Ishikirimaru mengajaknya berbicara atau menawarkannya makanan.
Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepala Ishikirimaru. Sebuah ide agar lambung Nikkari terisi oleh makanan meskipun cuma sedikit. Segera Ishikirimaru memasukkan satu sendok ke dalam mulutnya dan kemudian dia mendekatkan wajahnya ke Nikkari.
Ishikirimaru pun mencium Nikkari dan dia menyalurkan bubur itu melalui mulutnya. Saat bubur itu telah masuk ke dalam mulut Nikkari, ternyata mendapat respon yang baik karena Nikkari mau menelan buburnya meskipun mata Nikkari masih terlihat kosong.
"Sepertinya tubuh Nikkari-san masih mengingat tentang ciuman saat itu. "
Ishikirimaru pun melakukan hal itu terus sampai setengah porsi telah di habiskan. Meskipun terkesan memalukan serta kurang ajar, mau tak mau harus Ishikirimaru lakukan agar Nikkari tidak jatuh sakit.
.
.
.
.
Waktu terus berjalan tanpa bisa dihentikan dan tak terasa waktu telah menunjukkan pukul hampir tengah malam.
Dalam gelapnya malam, sepasang iris berbeda warna pun kembali terlihat hidup. Rasa pusing dan berat mulai di rasakan oleh Nikkari.
Saat dia menoleh ke arah kanan, dia terkejut melihat Ishikirimaru yang tertidur dengan posisi terduduk di kursi. Secara tiba-tiba kejadian 2 hari lalu terputar kembali di pikiran Nikkari dan hal itu memicu kenangan buruk yang Nikkari alami saat sebelum dia bertemu dengan Ishikirimaru.
"JANGAN! JANGAN SENTUH AKU! AKU TIDAK MAU! PERGI! "
Jeritan Nikkari sukses membuat Ishikirimaru terbangun dari tidurnya dan segera Ishikirimaru memeluk Nikkari, mencoba memberi ketenangan.
Hal yang sama kembali terjadi lagi. Namun, kali ini halusinasi Nikkari soal masa lalu semakin buruk karena Nikkari masih terus melawan dan memukul tubuh Ishikirimaru sambil menjerit-jerit tidak jelas.
Lalu pada akhirnya Ishikirimaru terpaksa harus melakukan sesuatu yang tak biasa agar Nikkari kembali sadar dan tidak berhalusinasi lagi.
Chuuu!
Ishikirimaru kembali memeluk Nikkari dan segera dia mencium bibir Nikkari dengan lembut. Perlahan-lahan Nikkari berhenti meronta dan seketika wajah Nikkari langsung memerah karena dia sudah menyadari bahwa kini dirinya sedang dicium oleh Ishikirimaru, tepat di bibir.
Setelah dirasa sudah tenang, Ishikirimaru pun melepaskan ciumannya. Keduanya pun langsung menundukkan kepala dan tak berani menatap ke arah lawan bicara.
"Maaf jika membuatmu merasa tak nyaman akibat perbuatanku tadi tapi aku terpaksa melakukannya karena Nikkari-san kembali berhalusinasi soal masa lalumu. Jika Nikkari-san tidak suka atau bagaimana, kau boleh memukulku atau melakukan hal lain padaku. "
Nikkari menggelengkan kepalanya, tanda dia tidak menyetujui perkataan Ishikirimaru barusan.
"Mana mungkin aku memukulmu, Ishikirimaru-san. Aku malah ingin berterima kasih padamu karena untuk kesekian kalinya kau kembali menolongku. "
"Jangan berkata seperti itu, Nikkari-san. Apapun akan ku lakukan demi dirimu dan juga kehidupanmu karena Nikkari-san sangat berarti bagiku. "
"Untuk kesekian kalinya kau berkata seperti itu, Ishikirimaru-san dan aku merasa sangat bahagia. Padahal aku hanya orang asing yang kau temui ditengah jalan. "
"Syukurlah jika kau merasa seperti itu. Walau begitu waktu telah merubah segalanya dan tentu saja kau sangat berarti untukku sekarang. Oh, ya, Nikkari-san aku ingin bertanya sesuatu padamu tapi aku ingin kau menjawab dengan jujur. "
"Aku akan menjawab dengan jujur segala pertanyaanmu, Ishikirimaru-san. "
Setelah Nikkari berkata seperti itu, Ishikirimaru pun mengambil nafas yang dalam sambil memejamkan matanya. Sementara itu Nikkari hanya bisa menunggu Ishikirimaru ingin bertanya soal apa.
"Tepat 2 hari yang lalu Mikazuki memberitahuku soal sesuatu yang tidak pernah ku duga sebelumnya. Setelah mendengarnya aku merasa bersalah sekaligus bingung untuk menjawab dan menghadapinya. Pada akhirnya aku pun memutuskan untuk bertanya langsung padamu walau ku tahu saat ini kurang tepat untuk menanyakannya. Nikkari-san, apakah benar jika kau mencintaiku selama ini? "
Kedua mata Nikkari membola karena dia terkejut. Nikkari ingin sekali marah pada Mikazuki tapi tidak bisa karenanya kini Ishikirimaru tahu soal perasaannya. Perasaannya yang sangat mencintai Ishikirimaru.
Nikkari pun menundukkan kepalanya tapi tiba-tiba dagunya diangkat oleh Ishikirimaru.
"Ku mohon jangan tundukkan kepala dan wajahmu. Aku ingin melihat kejujuran dari matamu, Nikkari-san. "
Nikkari pun menelan ludahnya dan dia pun mencoba untuk mengatur detak jantung serta rasa gugupnya. Lalu dengan wajah yang sangat memerah, akhirnya Nikkari menjawab pertanyaan Ishikirimaru.
"Kalau boleh jujur aku memang memiliki perasaan padamu. Lebih tepatnya aku mencintaimu, Ishikirimaru-san. Aku tidak tahu kapan perasaan itu mulai tumbuh tapi yang pasti perasaanku itu semakin membesar seiring berjalannya waktu. Aku tidak berani mengungkapkannya karena aku takut kau akan membenci dan mungkin menjauhiku. Aku yakin kau juga merasa jijik dengan hal itu, cinta sesama jenis. Terlepas dari segala perasaanku padamu, aku ingin selalu bersamamu. Aku ingin selalu berada di sisimu, Ishikirimaru-san. Aku akan tetap mencintaimu meskipun perasaanmu tidak sama denganku. "
Tetesan air mata menjadi penutup atas pengakuan yang Nikkari lakukan. Nikkari pun pasrah dan ikhlas menerima jawaban apapun dari Ishikirimaru yang kini masih terdiam.
Secara tiba-tiba Ishikirimaru memeluk Nikkari. Saat keduanya berpelukan Nikkari dapat merasakan jika detak jantung Ishikirimaru berdegup dengan sangat cepat dan kencang.
Tak lama Ishikirimaru pun kembali mengeluarkan suaranya...
"Terima kasih atas perasaanmu padaku, Nikkari-san. Sungguh aku merasa bahagia mendengarnya karena ini pertama kalinya aku sangat dicintai oleh orang lain. Aku tidak merasa jijik atau keberatan soal perasaanmu itu. Tapi... "
"Tapi apa, Ishikirimaru-san? "
"Tapi aku tidak yakin atas perasaanku sendiri. Aku takut membuatmu kecewa tapi di sisi lain aku tidak ingin kehilanganmu. Nikkari-san selalu bisa membuatku nyaman dan tenang. Saat kita berdua berciuman waktu itu walau tak sengaja aku merasakan debaran aneh dan debaran itu semakin kuat namun membuatku bahagia saat kau ada di sisiku. Apakah itu tandanya aku juga mencintaimu, Nikkari-san? "
"Soal itu aku tidak yakin karena perasaan itu hanya bisa di mengerti oleh dirimu saja, Ishikirimaru-san. Jika kau perlu waktu untuk memahaminya, aku bersedia untuk menunggunya meskipun memakan waktu yang lama. Terima kasih atas kejujuranmu padaku, Ishikirimaru-san. "
Nikkari pun membalas pelukan Ishikirimaru dan tak lama Nikkari melepaskan pelukan Ishikirimaru.
Saat hendak turun dari ranjang tidur milik Ishikirimaru, tiba-tiba kembali ditarik oleh Ishikirimaru hingga Nikkari terlentang di atas kasur yang empuk. Dengan cepat Ishikirimaru memenjarakan tubuh mungil Nikkari di antara tubuhnya dan juga kasur.
"Ada apa lagi, Ishikirimaru-san?"
"Ku mohon temani aku malam ini, Nikkari-san. "
"Haaaa...baiklah. Ayo tidur yang benar. "
Ishikirimaru pun menjauh dari tubuh Nikkari dan segera meletakkan kepalanya di atas bantal. Nikkari pun menyusulnya. Tapi, baru saja Nikkari menempelkan kepalanya ke bantal, tiba-tiba Ishikirimaru memeluknya dengan kepala Ishikirimaru menempel pada dada Nikkari.
"Biarkan aku tertidur sambil mendengar detak jantungmu, Nikkari-san. "
"Dasar manja. Lakukan saja sesukamu, Ishikirimaru-san. Maaf gegara mengurus diriku kau jadi kurang istirahat. "
"Tak apa-apa. Etto.... Maukah Nikkari-san mengelus rambutku sambil mendendangkan lagu Ruri iro no sora? "
Nikkari pun hanya tersenyum dan tak lama dia pun melakukan hal yang di minta oleh Ishikirimaru.
Pada akhirnya malam itu berakhir dengan damai namun masih tersimpan sejuta misteri di dalamnya...
.
.
.
.
つずく
.
.
.
.
Author Note :
Halo Riren balik lagi XD
Chapter 5 akhirnya selesai juga XD *ngelap keringat*
Tak terasa sudah 5 chapter Riren buat untuk cerita ini dan selama ini Riren merasa bersyukur karena ada yang mau membaca cerita Riren yang gaje dan banyak kekurangannya ini.
Tapi, Riren usahakan untuk menamatkan cerita ini dalam 2-3 chapter lagi dan tentu saja endingnya rahasia hohoho XD /plak
Untuk sekarang dan seterusnya, Riren minta kritik serta sarannya kepada para reader yang telah membaca cerita ini, baik di wattpad maupun ffn. Tanpa kritik dan saran dari kalian ff ini tidak akan berjalan sampai sekarang.
Riren mohon maaf apabila masih banyak kekurangan, baik segi cerita ataupun penulisannya.
Sampai bertemu di chapter berikutnya
Jaa~
Riren
