Chapter 13 ~I'm Home~

Disclaimer : ©Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)

Genre : Romance, Drama, Tragedy, Fantasy, Friendship, Yaoi, Shounen Ai

Warning : Canon, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, yaoi, dan hal absurd lainnya.

Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read

.

.
.

Sasuke berjalan di sepanjang koridor menuju kantor Hokage. Beberapa orang yang berpas-pasan dengan Sasuke di Koridor menundukan badannya tanda hormat tetapi dengan tatapan yang membingungkan. "Ah, Sasuke-sama. Kau sudah selesai dari tugasmu?" Tanya salah seorang Shinobi yang bekerja di gedung Hokage. Sasuke hanya menjawab seadanya dan kembali berjalan.

Ternyata benar, Shikamaru memang sangat dibutuhkan disaat-saat kondisi seperti ini.

Sasuke mengetuk pintu saat sudah sampai di depan kantor Hokage. Tanpa menunggu persetujuan seseorang yang ada di dalam, Sasuke membuka pintunya dan masuk ke dalam ruangan itu. Terlihat Shikamaru yang duduk di kursi kerja Hokage dengan kantung mata yang sama lebarnya saat Naruto tengah duduk di kursi itu.

Shikamaru membelalakkan matanya saat melihat Sasuke masuk ke ruang kantor Hokage secara tiba-tiba. Shikamaru yang sedang menyelidiki kasus yang tengah menimpa Desa Konoha ini malah kedatangan Sang Korban itu sendiri. "Sasuke!" Jerit Shikamaru.

Shikamaru berlari menghampiri Sasuke dan memperhatikan tubuh Sasuke dari atas sampai bawah. Berbeda dengan Sasuke yang biasanya, Shikamaru hampir ridak mempercayai jika Sasuke yang ad di depannya ini adalah Sasuke asli.

"Aku lupa jika masih mengenakan piyama. Maaf, aku ingin bertemu denganmu secepatnya." Jelas Sasuke yang mulai memperhatikan dirinya sendiri. Sasuke lupa jika ketika ia bertemu sosok itu saat Sasuke ingin tidur ketika malam tiba. Pantas saja orang-orang yang melewatinya memandangnya dengan tatapan bingung.

"Dimana Naruto?" Potong Shikamaru saat Sasuke ingin memulai penjelasannya.

"Aku kesini karena aku ingin minta bantuanmu."

.

.

Sasuke kembali ke hutan itu bersama dengan teman-teman di masa lalu—Naruto kecil dkk— dan juga Shikamaru yang memutuskan untuk ikut bersama. Dengan paksaan, memang, karena Shikamaru ingin langsung bertemu dengan Naruto secepatnya untuk menghajarnya, karena berani-beraninya menghilang dengan tiba-tiba dan meninggalkan pekerjaan yang akhirnya mau tidak mau Shikamaru kerjakan.

Mereka terbang kembali menggunakan pesawat yang dulu pernah mereka pakai saat ingin menuju ke hutan itu. Di dalam pesawat, Naruto dan kawan-kawan menatap Sasuke dengan tajam saat sedang berkumpul mengelilingi meja di ruang bersantai. Sasuke menyeritkan keningnya saat merasakan hawa menusuk yang di berikan pada teman-teman kecilnya.

"Apa yang kalian lihat?" Tanya Sasuke memecah keheningan. Shikamaru yang entah kemana tidak ada di ruang bersantai di dalam pesawat.

"Kau bohong!" Ungkap Naruto. "Kau menikah dengan Sakura! Kenapa kau bohong?" Lanjutnya.

"Betul. Kau hampir membuat kita jantungan. Kau sengaja, ya?" Tunjuk Sakura marah dengan wajah merona. Masih tidak menyangka jika dirinya akan menikah dengan Sasuke di masa depan.

Shikamaru datang dengan membawa cangkir teh hangatnya dan duduk di sebelah Sasuke sambil mendengarkan obrolan yang sempat dia dengar. "Apanya yang sengaja?" Tanya Shikamaru.

Semua—Termasuk Naruto yang paling semangat—menunjuk Sasuke dan tak ketinggalan tatapan tajam mereka yang mereka suguhkan untuk Sasuke. "Sasuke berbohong tentang dia menikah denganku di masa depan!" Seru Naruto.

Ahh.. karena itu. Shikamaru tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Shikamaru pernah mendengar dari dirinya yang kecil, bermaksud untuk mengkonfirmasi kebenaran tentang Sasuke dan Naruto yang menikah. Shikamaru tidak menyangka jika lelucon itu dikeluarkan dari mulut Naruto, apalagi Sasuke.

"Ternyata kau manusia." Ucap Shikamaru menyenggol lengan Sasuke sambil terkekeh. Masih tidak menyangka jika lelucon yang dibuat Naruto bisa Sasuke ikuti. Tetapi, sebenarnya, Shikamaru mengetahuinya. Sedikit.

"Hah?" Sasuke mendelik Shikamaru dengan sinis. Maksudnya selama ini dia bukan manusia? Lalu makhluk apa dia? Membuat Sasuke jengkel saja.

Tapi sebenarnya itu semua bukan sekedar lelucon. Itu adalah ungkapan perasaan yang sebenarnya dari Sasuke. Semuanya hanya tidak tahu. Sasuke sangat menginginkan hal itu—menikah dengan Naruto. Tetapi Konoha bukan Desa yang baik untuk pasangan abnormal sepertinya.

"Kupikir kalian semua tertipu. Sial!" Desis Sasuke mengalihkan pandangannya.

"Jadi kau benar-benar niat, ya?!" Kali ini Sasuke kecil yang angkat bicara.

"Itu salah kalian sendiri, kenapa percaya dengan omongan makhluk kuning itu? Kupikir lucu juga bermain sedikit dengan kalian." Jelas Sasuke.

"Apa? Makhluk kuning?" Naruto kecil menatap Sasuke dengan kobaran api yang muncul di seluruh tubuhnya. "Jangan main-main kau, Teme!" Tunjuk Naruto di depan wajah Sasuke.

"Benar, Sasuke-kun. Itu tidak lucu." Ucap Sakura menunjukkan telunjuknya di depan wajah Sasuke dewasa.

"Kau minta di Sleding, ya?" Kata Kiba. "Aku hampir percaya, tahu!"

"Aku tidak akan percaya omonganmu lagi!" Ucap Chouji.

"Sasuke sudah berubah, Ternyata." Ucap Neji.

"Kau jangan main-main dengan masa mudaku, ya, Sasuke!" Ucap Lee.

"Tidak ku percaya aku terperangkap omonganku sendiri. Memalukan!" Ucap Sasuke menutupi wajahnya.

"Aku tidak tertipu." Ucap Shikamaru.

"Kau bohong, Shikamaru. Kau juga ikut tertipu." Ucap Ino.

"Tidak!"

Dan begitulah keributan yang dilakukan oleh teman-teman kecilnya. Dan tanpa mereka sadari, Shikamaru besar telah meninggalkan TKP karena tidak tahan dengan semua suara yang keluar lalu menjadi satu. Membuatnya pusing. Lalu, Semua tuduhan dan cacian dan makian dan sumpah serapah dan apa lagi yang membuat Sasuke tidak fokus pada apapun. Telinganya berdenging.

Ia bersumpah jika telinganya tidak mendengarkan apa-apa. Hanya suara Naruto yang terngiang-ngiang di kepalanya. Suara Narto yang memanggil namanya. Naruto-nya.

Sasuke merindukannya.

Sasuke ingin memeluk Naruto.

Naruto.

Sasuke menatap Naruto kecil sejenak yang masih dengan komat-kamit dengan kobaran api di tubuhnya, lalu mengalihkan penglihatannya kesebelah jendela. Tangan kanan Sasuke terkepal di samping tubuhnya. Suara Naruto yang melengking terus masuk kedalam kepalanya. Ia benar-benar ingin—

Sasuke berdiri dengan tiba-tiba membuat semuanya menghentikan suaranya. Seketika keheningan menyelimuti mereka.

"Aku baru ingat. Ada yang ingin kutunjukkan." Sasuke menatap tajam pada Naruto. "Padamu!"

Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya, memeriksa jika ia salah lihat. Bahwa saat ini Sasuke yang besar sedang menatapnya dengan Saringan yang muncul. Apa ini sangat serius?

"Karena ini menyangkut keselamatan Naruto—maksudku Hokage. Jadi aku ingin menunjukan sesuatu khusus untuk Naruto. Ikut aku!" Sasuke berjalan keluar dari ruang bersantai menuju sebuah lorong. Naruto tanpa bertanya-tanya langsung mengikuti langkah Sasuke dari belakang. Karena ini juga menyangkut kehidupannya, maka kali ini ia harus menurut.

Setelah melewati lorong demi lorong, Sasuke memutuskan untuk masuk ke kamar tidur yang kosong. Naruto kecil ikut memasuki kamar itu. Setelah keduanya masuk, Sasuke memutar kuncinya dan menatap Naruto yang sedang ketar-ketir. Apa yang akan Sasuke besar lakukan padanya? Kenapa Saringan-nya muncul?

Tetapi pandangan ketakutan Naruto pada Sasuke besar lenyap ketika Sasuke menonaktifkan Saringan dan memeluknya dengan sangat erat. Sasuke merendahkan tubuhnya dengan menumpukan kedua lututnya dilantai agar tingginya menyamai Naruto.

Naruto kecil jadi salah tingkah ketika Sasuke tiba-tiba memeluknya dengan erat dan dengan nafas yang memburu. Tangan dan tubuh itu bergetar. Naruto semakin menyerit heran.

"Sasuke— "

"Tidak ada!" Seru Sasuke. Dan mengulang kata-kata itu dengan suara berbisik.

"Apanya yang tidak ada?" Tanya Naruto. Tangannya terulur membalas pelukan dari Sasuke. Sepertinya Sasuke butuh balasan.

"Cakramu! Tidak ada! Aku tidak bisa merasakannya!" Bisik Sasuke di telinga Naruto.

"Hokage?" Tanya Naruto. Sasuke mengangguk. "Sasu— "

"Dimana? Kau ada dimana, Naruto?"

"Bukankah kau bilang Hokage ada di hutan itu?"

"Sejauh apapun kita berpisah, aku bisa merasakan Cakranya. Tapi ini tidak!" Naruto menarik Sasuke dari pelukannya dan terkejut ketika menatap wajah super khawatir yang tercetak dari wajah yang dingin itu. Apalagi dengan air yang menggenang si matanya.

"Naruto." Lirih Sasuke menatap Naruto dengan wajah terkejutnya. Secara naluriah, tangan kirinya terulur menghapus jejak air mata yang baru mengalir pada kulit pucat itu.

Naruto benar-benar tidak bisa mempercayainya. Apa yang dilihatnya di depan adalah sosok rival yang sangat ingin dikalahkannya, saat ini sedang sangat mengkhawatirkannya. Kedua tangan Naruto menangkup wajah Sasuke dan menatapnya dengan lembut.

"Naruto itu kuat." Ucap Naruto. Safir biru itu menatap Sasuke dengan lembut, membuat kegelisahan yang menggerogoti hati Sasuke perhalan pergi. Sasuke tahu Naruto kuat, tapi—

Sasuke menggeleng. "Musuh kita— "

"Siapa pun musuh yang kita hadapi, Naruto pasti bisa." Ucap Naruto bermaksud memberikan ucapan semangat dengan menyebut namanya sendiri. Agak aneh memang, tetapi raut khawatir Sasuke ikut membuatnya takut.

Naruto menarik tubuh besar itu kepelukannya. Memberikan aliran semangat pada Sasuke. Entah kenapa hati Naruto saat ini menghangat. Saat ini Naruto hanya ingin memeluk Sasuke saja. Sasuke yang besar ini.

"Kau mati saat itu." Bisik Sasuke. Naruto membelalakkan matanya. Sasuke tadi bilang ia mati? Naruto semakin mengeratkan pelukannya. Apa itu sebabnya Sasuke tidak bisa merasakan cakra dari diriya—Hokage?

"Naruto." Lirih Sasuke. Hati Naruto berdenyut. Sakit. Apakah umurnya sependek itu? Apa dirinya yang Hokage benar-benar mati? Apa hidupnya berakhir? Lirihan dari Sasuke kembali terdengar. Naruto merasakan panas di kedua matanya.

"Aku disini." Ucap Naruto menahan getaran suaranya. "Aku tidak akan pernah pergi—lagi."

.

.

"Itukah hutannya?" Tanya Shikamaru besar pada Shikamaru kecil yang berada di sebelahnya. Berdiri di balik jendela yang luas, menunjuk hutan yang super lebat kalau hutan itu yang dimaksud. Shikamaru kecil mengangguk membenarkan.

"Memang hutan yang itu."

"Ada yang tidak beres dengan hutan itu. Auranya berbeda sekali."

"Kau tidak boleh lengah sedikitpun ketika sudah sampai disana. Walau hanya suara sekecil apapun tetapi itu menarik perhatianmu, usahakan untuk mengabaikannya." Jelas Shikamaru kecil pada Shikamaru besar yang masih memegang cangkir di tanga kanannya.

Dibelakang, ruang bersantai, teman-temannya masih meributkan hal yang sudah terlewati. Membicarakan ekspresi wajah dari Sasuke besar yang mau-maunya mengikuti candaan-konyol-tidak-masuk-akal nya Naruto, sampai ikutnya Boruto—Anak Naruto—yang ikut-ikutan mengerjai mereka. Masih ada kedongkolan yang mengganjal di hati mereka.

Shikamaru kecil memperhatikan teman-temannya sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke dirinya yang besar. "Itu bukan lelucon, kan?" Tangan kanan Shikamaru besar terhenti di udara saat mulut cangkir teh itu akan mendarat pada bibir Shikamaru. Shikamaru memandang dirinya yang lebih kecil saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya.

"Apanya yang bukan lelucon?" Tanya Shikamaru pada dirinya yang kecil yang tengah menatapnya serius.

"Sasuke dan Naruto." Jawab Shikamaru kecil.

"Maksudmu?" Shikamaru mengalihkan pandangannya dari dirinya yang kecil menatap hutan lebat yang sebentar lagi akan sampai. Membasahi tenggorokannya menggunakan teh yang ia bawa sedari tadi. Menghilangkan kegugupan jika dirinya yang kecil juga mengetahui hal seperti itu.

"Aku tidak kaget jika Naruto menciptakan kegilaan atas kekonyolan yang dia perbuat. Tapi Sasuke? Dia tidak terlihat sedang bercanda."

"Itu hanya perasaanmu saja." Ucap Shikamaru berjalan ke arah dapur berniat untuk mengambil tehnya lagi. Shikamaru kecil memandangi dirinya yang besar kian menjauh darinya.

Shikamaru kecil mendengus dan kembali menatap hutan lebat yang semakin dekat. "Kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri."

.

.

Didalam kamar tidur yang berada di dalam pesawat yang mereka tumpangi, Sasuke dan Naruto kecil duduk di pinggiran kasur queen size. Tangan kiri Sasuke menggenggam tangan kanan kecil Naruto. Naruto tidak bisa menolak apa yang dilakukan Sasuke padanya. Apalagi ketika Sasuke mulai menceritakan semuanya dengan ekspresi menyedihkan. Ini adalah pertama kalinya dalam 13 tahun hidupnya melihat Sasuke yang seperti ini.

Naruto balas menggenggam tangan Sasuke sebagai penyalur kehangatan untuk Sasuke. Naruto juga ingin mendengar maksud dari kata-kata Sasuke yang mengatakan bahwa dirinya—Hokage—telah mati saat itu. 'Saat itu' lah yang Naruto tidak tahu.

Sasuke juga menceritakan tentang perasaannya pada Naruto. Dan tentang kehidupannya di dunia lain. Naruto yang medengar itu malah tidak merasa jijik sama sekali. Jujur saja, hatinya menghangat ketika Sasuke mengatakan jika Sasuke sebenarnya mencintainya.

Sebenarnya Naruto bingung, kenapa Sasuke menceritakan semua padanya. Naruto berpikir jika saja Sasuke mungkin masih kaget atas kematian dirinya di dunia lain. Tetapi Sasuke bilang jika sebenarnya dirinya yang besar itu masih hidup. Hanya saja makhluk aneh itu yang menahan dirinya yang besar itu untuk kembali ke Konoha.

"Kau ke hutan itu bermaksud bertemu sosok bercahaya itu untuk mengambil Hokage? Kau bilang sosok itu agak tidak masuk akal, kan? Apa kau bisa mengalahkannya?" Tanya Naruto kecil. Sasuke tersenyum tipis.

"Aku tidak harus mengalahkannya. Sosok itu sepertinya tidak berbahaya. Aku hanya akan bernegosiasi dengannya. Dan kau akan pulang ke masa lalu."

"Kau serius?" Sasuke mengangguk.

"Lagipula, sebelum aku kembali ke Konoha, kami sudah bernegosiasi." Sasuke menatap Naruto dengan mata kananya yang berwana ungu spiral itu. "Aku akan menukar Rinegan-ku demi Naruto."

Naruto tersentak ketika Sasuke menunjukan padanya mata ungu yang terlihat aneh itu. Naruto tidak tahu jika Sasuke punya mata seperti itu. Yang Naruto tahu, Uchiha hanya punya Saringan, tetapi—

"Mata itu—kau—itu penting untukmu, kan?" Tanya Naruto saat Sasuke masih menunjukan mata itu. Tangan kiri Naruto terulur menyingkirkan poni jatuh Sasuke untuk lebih jelas melihat mata itu.

"Dibandingkan mata ini, Naruto lebih penting. Dia adalah Hokage di desa Konoha. Aku harus berbuat sesuatu untuk membawanya kembali."

"Bukan! Kau mengorbankan matamu hanya untuk dirimu. Bukan untuk Konoha." Ucap Naruto mengusap pipi pucat Sasuke. Sasuke tersenyum tipis ketika isi kepalanya dibaca oleh Naruto kecil. Apa yang akan dilakukan Sasuke, walaupun mengorbankan bagian tubuhnya, itu semua hanya untuk Naruto.

Sasuke merendahkan kepalanya menyentuhkan keningnya pada kening Naruto. Naruto kecil yang tidak terlihat akan menolak malah menarik kepala Sasuke lebih dekat. Setelah itu, bibir keduanya bersentuhan.

Ini adalah kedua kalinya Naruto mencium Sasuke setelah kejadian tidak sengaja di kelas beberapa waktu lalu. Sensasi yang ini sangat berbeda ketika Naruto tidak sengaja mencium Sasuke di kelas. Ciuman yang ini mengantarkan kehangatan pada dadanya. Perutnya terasa diaduk-aduk saat Sasuke mencoba mencium Naruto lebih dalam.

Mulut kecil Naruto membuat Sasuke lebih mudah untuk memimpin ciuman itu. Tangannya melepas genggaman yang ia tautkan pada tangan kecil Naruto, menuju belakang leher Naruto, mendorongnya agar lebih bisa dijangkau Sasuke.

Tangan Naruto meremas kerah baju Sasuke saat dirasakan membutuhkan oksigen untuk paru-parunya. Tetapi Sasuke masih terus melumat mulut kecil itu dengan rakus melupakan tangan kecil Naruto yang berusaha memukulnya untuk menghentikan ciumannya.

Naruto meraup banyak udara ketika Sasuke melepaskan ciumannya. Sasuke kembali mengecup bibir Naruto dengan lembut bermaksud untuk menghantarkan kata maaf untuk Naruto. Setelah Naruto bernafas dengan normal, Naruto kembali menarik kepala raven itu untuk mendekati wajahnya. Entah kenapa ciuman yang ia lakukan dengan rival abadinya ini benar-benar berbeda.

Di kamar itu, Naruto tidak pernah selemah ini selama hidupnya di hadapan Sasuke.

.

.

Sasuke dan Naruto keluar dari kamar tidur, berjalan menuju ruang tengah kembali berkumpul bersama semua orang. Sepertinya mereka sudah bersiap-siap untuk turun dari pesawat karena memang tujuan mereka akan dekat sebentar lagi.

Tidak ada yang curiga ketika Naruto dan Sasuke besar datang setelah cukup lama tidak kembali ke tempat semua berkumpul. Kecuali satu orang, yang melihat Naruto dengan ujung matanya dengan tajam seperti ingin menyelidiki sesuatu. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja ketika sedari tadi yang ia lihat hanya diamnya Naruto.

Setelah sampai pada hutan itu, sama seperti sebelumnya. Tidak ada dataran, yang ada hanyalah pohon besar yang rimbun dan lebat. Pesawat berhenti di atas pohon dan semua orang melompat turun dari atas pesawat ke batang pohon demi batang pohon layaknya Shinobi Konoha.

Setelah sampai di tanah, Sasuke menuntun mereka semua ke tempat ketika ia dan Naruto pertama kali bertemu dengan Sosok itu. Sasuke yakin jika yang waktu itu, ketika Sasuke melihat Itachi sedang mengulurkan tangan padanya adalah sosok yang bertemu dengan Sasuke di dunia lain itu.

Shikamaru kecil berjalan mundur sampai berada di samping Naruto dan berjalan di sebelahnya seperti biasanya. Masih mengikuti Sasuke yang mewakili di depannya, Shikamaru kecil makin merapatkan tubuhnya pada Naruto. Yang lainnya tidak memperhatikan tingkah Shikamaru karena perhatian mereka tertuju ppada punggung lebar Sasuke dewasa dan Shikamaru dewasa di depannya.

"Apa yang kau bicarakan pada Sasuke?" Bisik Shikamaru masih menatap lurus kedepan sambil memperhatikan langkahnya. Naruto menegang ketika Shikamaru mulai bertanya hal yang tidak ia duga.

"Tidak biasanya kau suka mengurusi urusan orang lain." Balas Naruto dengan berbisik.

"Sudah jawab saja."

"Sasuke bilang padaku kalau dia punya rencana. Tetapi dia hanya membutuhkanku agar rencananya berjalan sesuai perkiraannya. Sasuke juga bilang kalau jangan beritahu rencana ini pada siapapun termasuk kau. Dia bilang dia sudah menduga ini, kalau kau akan bertanya padaku apa yang baru saja aku lakukan dengan Sasuke berdua. Sekarang, Aku sudah memberitahu mu tapi aku tidak bisa meberitahumu rencananya. Maaf."

Shikamaru sudah menduga kalau Naruto pasti akan menyangkalnya. Pasti ada yang disembunyikan Naruto. Sebenarnya ini bukan Shikamaru yang biasanya, yang selalu tidak peduli pada urusan orang lain. Tetapi, kecurigaan akan hubungan dengan Naruto dan Sasuke membuat rasa penasarannya jadi muncul. Ini tidak berguna, ini urusan orang lain, tapi Shikamaru penasaran.

"Aku janji tidak akan memberitahu yang lain. Kalau kau mau memberitahu rencananya mungkin aku bisa bantu." Bisik Shikamaru masih belum menyerah. Naruto melirik Shikamaru dengan ujung matanya lalu kembali melihat ke depan.

"Sasuke bilang jangan." Balas Naruto. Shikamaru agaknya sedikit geram karena rasa penasarannya tidak bisa menghilang karena jawaban dari Naruto. "Sebenarnya bukan itu yang ingin kau cari tahu, kan?"

Shikamaru mendelik dengan heran. "Hah?"

"Tidak." Elak Naruto. Shikamaru membekap mulut Naruto dengan tiba-tiba dan membawanya ke belakang pohon besar. Shikamaru mengintip dari balik pohon saat melihat semua orang lumayan menjauh, Shikamaru mendesis dan menaruh telunjuk kirinya di depan mulutnya. Setelah Naruto diam, Shikamaru melepas bekapannya.

"Kenapa?" Tanya Naruto yang tiba-tiba serasa telah 'diculik' oleh Shikamaru. Shikamaru menatap tajam Naruto dan mencengkeram erat kedua pundaknya.

"Apa yang kau rencanakan pada Sasuke? Beritahu aku." Paksa Shikamaru dengan nada tajam. Naruto menyerit tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Shikamaru.

"Kau kenapa sih?"

"Dengar, Naruto. Apapun yang Sasuke bilang padamu, jangan kau percaya!" Ucap Shikamaru.

"Apa? Maksudmu apa?"

"Apa Sasuke mengatakan jika kau harus melakukan ini dan itu agar Hokage kembali?" Tanya Shikamaru. Naruto memandang Shikamaru sambil menyembunyikan ekspresi wajahnya yang hampir saja membuat Shikamaru ingin lebih memaksanya lagi agar menjawab pertanyaan darinya.

"Aku merasa, Sasuke punya suatu rencana yang disembunyikannya. Seperti dia akan mengorbankanmu untuk Hokage." Lanjut Shikamaru. Naruto menatap Shikamaru sejenak dan tertawa kecil. Menggeleng dan menepuk pundak Shikamaru.

"Tidak mungkin Sasuke seperti itu." Ucap Naruto menggelengkan kepalanya.

"Benar. Sasuke tidak mungkin seperti itu."

Naruto dan Shikamaru mendongak keatas saat merasa ada yang menimbrung obrolan mereka. Sosok itu, sosok yang aneh dan bercahaya, berbentuk seperti perempuan yang sedang terbang, tapi bercahaya. Sekejap Shikamaru dan Naruto dibuat terpesona olehnya.

"Halo!"

.

.

Sasuke menghentikan jalannya lalu berbalik melihat semua orang yang sudah berkumpul di sebuah tanah lapang. Sasuke masih mengingat ketika ia kehilangan kesadaran saat melihat sosok Itachi di sini. Ia hanya harus memanggil sosok itu muncul disini.

"Sudah sampai?" Tanya Shikamaru. Sasuke mengangguk.

"Aku hanya tidak tahu cara memanggilnya."

"Memanggil orang yang akan membawa mereka kembali ke masa lalu?" Shikamaru kembali bertanya. Sasuke mengangguk lagi. Sasuke menyerit ketika tidak melihat sosok Naruto kecil dalam rombongan. Seingatnya, Naruto ada di belakangnya.

"Dimana Naruto?" Semuanya cukup terkejut ketika Sasuke bertanya dengan nada yang keras dan membentak. Seketika itu semuanya celingukan saat sadar Naruto tidak ada di sebelah mereka.

"Shikamaru juga ada di mana?" Jerit Ino. Yang lain makin heboh ketika sadar jika dua teman mereka hilang. Sasuke semakin menggeram karena kelalaiannya yang di perbuat. Kalau seperti ini akan semakin sulit untuk membawa Naruto—Hokage—kembali. Semakin banyak sandra maka akan semakin banyak yang harus Sasuke korbankan.

"Kau sadar juga, Sasuke?"

Sasuke dan yang lainnya mendongak melihat sosok bercahaya itu terbang dari atas menuju ke bawah dengan membawa Naruto dan Shikamaru di kanan kirinya dalam keadaan tak sadarkan diri. Sasuke menggeram dan menatap sosok itu dengan tatapan membunuh miliknya.

"Apa yang kau rencanakan?!" Desis Sasuke. Sosok itu turun menyentuh tanah dan menjatuhkan Naruto dan Shikamaru ke tanah.

"Tidak ada. Aku hanya tertarik pada pikiranmu. Semakin banyak sandra, maka semakin banyak untuk di korbankan." Sosok itu tertawa kecil sambil menatap Sasuke dengan menggoda. Tapi Sasuke tidak tergoda sama sekali, Sasuke merasa harus membunuh sosok itu saat ini juga.

"Aku tidak bisa dibunuh, Sasuke. Aku yang menciptakan dunia ini." Ucapnya. Shikamaru menimpali.

"Kau itu Tuhan?" Tanya Shikamaru. Sosok itu menatap Shikamaru dengan lembut, sejenak membuat Shikamaru terpana.

"Kau bisa menyebutnya seperti itu."

"Jika kau benar-benar menyebut dirimu Tuhan, lalu mengapa kau bermain-main dengan kami? Pulangkan kami ke masa kami!" Seru Sakura kecil menatap tajam ke sosok itu.

"Aku hanya bosan. Aku hanya ingin bermain-main sedikit lebih lama."

"Hah?! Apa maksudmu? Kau pikir kami mainan?!" Teriak Ino maju selangkah menghampiri sosok itu. "Ino! Jangan mendekat!" Teriak Shikamaru. Tapi saat Ino melangkahkan kakinya semakin dekat pada Sosok itu, Ino terlempar jauh dari tempatnya. Terpental dan jatuh di atas tanah. Semuanya terkejut melihat Ino terbang di atas kepala mereka dan mulai menghampiri Ino yang masih sadarkan diri.

"Aku tidak apa-apa." Lirih Ino yang masih menatap tajam sosok yang tengah tersenyum itu.

"Dimana Naruto?" Tanya Sasuke masih menatap tajam sosok bercahaya itu. Tangan itu menunjuk pada Naruto kecil yang sedang pingsan di sebelahnya. Sasuke makin geram dibuatnya.

"Aku mohon." Lirih Sasuke. Sosok itu tersenyum dan mengangkat tangan kanannya ke atas, kemudian sosok laki-laki berambut cepak pirang dengan kaus putih turun dari atas langit. Sasuke terkejut ketika melihat Narutonya kembali tanpa ada luka di perutnya.

"Itu Naruto!" Seru Sasuke saat melihat Naruto terbang dari atas. Sosok itu dengan perlahan menjatuhkan Naruto yang sedang tak sadarkan diri di atas tanah.

"Sang Hokage masih hidup. Dia tidak pernah mati. Dia hanya masih dalam keadaan terkunci dalam Genjutsu-Ku."

"Genjutsu?"

Sosok itu mengangguk. "Semua yang kau alami bersama Naruto di dunia itu, semuanya hanyalah Genjutsu yang aku buat."

"Apa?!" Sasuke terkejut bukan main. Sasuke, Sang Uchiha tersisa terperangkap dalam Genjutsu. Ini adalah hal yang memalukan. Kalau Naruto mendengar ini, ia pasti akan ditertawakan habis-habisan.

"Apa aku boleh mengambil Naruto kembali?" Tanya Sasuke. Shikamaru agaknya dibuat terkejut karena perubahan sikap Sasuke yang jadi lembut ketika meminta Naruto di kembalikan.

"Boleh. Setelah pertukaran yang sudah kita bicarakan telah terlaksana."

"Pertukaran? Apa yang akan kau lakukan Sasuke?!" Seru Shikamaru.

Sasuke melangkah mendekati sosok itu. Shikamaru berlari bermaksud untuk menghentikan Sasuke, tetapi anehnya Sasuke bisa melanjutkan langkahnya dengan mudah sedangkan Shikamaru terlempar kebelakang seperti Ino. Setelah Sasuke mendekat, tangan bercahaya itu terulur menyibak poni jatuh Sasuke. Menatap mata Rinegan itu dengan seringainya.

"Tolong bebaskan Naruto dan Shikamaru lalu bawa pulang mereka semua ke masa lalu. Kembalikan Hokage ke padaku. Dan jangan pernah kau tunjukkan dirimu pada kami lagi." Ucap Sasuke menatap tajam sosok bercahaya itu.

"Itu tidak sepadan hanya dengan menukar satu matamu."

"Hanya ini yang aku punya."

"Bagaimana jika kau..." Sosok itu menatap seluruh tubuh Sasuke. "...memberikan mata kirimu dan kedua kakimu untukku?"

Sasuke sebisa mungkin bersikap tenang. Tapi saat melihat kedua Naruto itu mengejang, ketenangan Sasuke buyar.

"Mereka berdua aman." Ucap sosok itu menunjuk dua Naruto di bawahnya.

"Bagaimana tawarannya?"

"Kau tidak akan mendapatkan untung apapun jika mendapatkan kedua kakiku." Ucap Sasuke.

"Tentu aku dapat." Sosok itu tersenyum dengan lembut. Tangan kirinya terulur kesamping dan seketika portal putih muncul dan berputar.

"Itu adalah jalan pulangnya." Seketika itu, Naruto kecil dan Shikamaru kecil bangun dari tidurnya. Setelah sadar, Shikamaru besar memanggil Shikamaru kecil dan Narutp kecil untuk mendekat. Naruto menatap Shikamaru besar dan bertanya. "Apa yang dilakukan Sasuke?" Dan Shikamaru hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"AAKKHHH!" Sasuke berteriak ketika rasa sakit menjulur ke seluruh kakinya. Sasuke terjatuh ke atas tanah dan memegang kedua kakinya. Sasuke menatap horor apa yang barusan terjadi.

"Aku belum menyetujuinya, Brengsek!" Teriak Sasuke. Sosok itu mendekat dan menyentuh puncak kepala Sasuke dengan lembut.

"Walau kuberi waktu satu bulan pun, jawabanmu tetap sama."

Sosok itu menyentuhkan tangannya pada kening Naruto lalu cahaya keluar dari tangannya. Sesaat setelah itu, Naruto mengerjapkan matanya dan melihat Sasuke sedang terduduk dengan menatapnya penuh rasa khawatir. "Kau bangun?" Lirih Sasuke.

"Apa yang terjadi?" Saat Naruto sudah bangun dari tidurnya, tubuhnya terlempar keluar menubruk tubuh Shikamaru yang malah ikut terlempar.

"Kenapa aku kena dua kali!" Desis Shikamaru berusaha bangkit setelah menghantam kerasnya tanah, ditambah beban berat tubuh Naruto di atasnya. Naruto bangkit lalu menatap Sasuke yang masih terduduk di depan sosok bercahaya itu.

"Kau!" Naruto berlari menghampiri Sasuke dan lagi-lagi terpental kebelakang. Naruto memukul tanah dan menatap tajam sosok yang tengah tersenyum padanya.

"Hei! Kau bukan tandingannya!" Suara yang mengalun dalam dirinya membuat Naruto tersentak. Setelah sekian lama tidak bertemu, akhirnya Naruto bisa mendengar suara Kurama lagi.

"Kau dari mana saja?" Tanya Naruto yang berada di alam bawah sadarnya.

"Aku selalu ada di dalam dirimu. Hanya saja aku seperti tersegel di dalam tubuhmu dan tidak bisa berbicara denganmu. Tapi aku masih bisa melihat semua kejadian yang kau alami saat berada di dunia itu."

"Apa kau bisa bekerjasama denganku untuk melawannya?"

"Dia bukan sosok yang bisa dilawan. Dia bukan makhluk hidup. Dia juga bukan hantu. Dia adalah Dewa hutan ini. Dia berbeda dengan Kaguya. Aku tidak bisa melawannya. Kau juga tidak bisa melawannya dengan trikmu."

"Lalu? Apa yang harus kulakukan?"

"Sepertinya Sasuke mulai melakukan pertukaran."

"APA?!"

Naruto dan yang lainnya menatap tajam kearah sosok yang kembali mengulurkan tangannya pada Sasuke. Tangan itu kembali menyibak poni jatuh Sasuke dan menatap mata berwarna ungu itu.

"Terimakasih."

Sosok itu tersenyum kembali pada Sasuke. Mau bagaimana pun menolak keras, Sasuke tidak bisa mengontrol pergolakan batin saat melihat sosok itu tersenyum. Seketika perhatiannya hanya tertuju pada 'Naruto' yang berada di 'depannya'.

"AAKKHHHHH! AAAKHHH! HAHH!" Sosok itu menatap mata yang berhasil dia genggam. Tersenyum atas kemenangan yang ia buat sendiri.

"Mata yang indah."

Semua orang melihat Sasuke besar yang tengah berteriak menahan sakit akibat mata yang diambil secara tiba-tiba. Naruto geram dan tangannya terkepal kuat. Apa tidak ada yang bisa dilakukannya? Dia Hokage dan dia tidak bisa melindungi Sasuke.

"Hokage sekalipun, kau hanya Shinobi biasa. Kau tidak di takdirkan untuk melawanku." Sosok itu terbang keatas dan menjauh. "Portal itu akan tertutup 2 menit lagi. Sebaiknya kalian cepat agar bisa pulang ke masa lalu. Setelah itu, kalian akan melupakan kejadian-kejadian yang pernah kalian lihat di masa depan kalian."

Sosok itu kemudian menghilang di langit. Naruto berlari menghampiri Sasuke yang masih menahan sakit. Ia tidak tahu apa yang terjadi ketika ia tidak sadarkan diri. Tetapi saat Kurama bilang kalau Sasuke sedang melakukan pertukaran, Naruto semakin yakin bahwa apa yang dilakukan Sasuke ternyata lebih dari gila.

Sasuke kecil jatuh terduduk dan memegang mata kirinya. Berteriak dan berdesis secara bersamaan. Naruto kecil dan Sakura kecil menghampiri Sasuke dengan raut wajah panik. Bertanya apa yang terjadi pada Sasuke, dan hanya mendapatkan gelengan dari Sasuke.

Shikamaru menggendong Sasuke kecil dan menaruhnya pada punggung Naruto kecil. Masih menahan rasa sakit, Sasuke tanpa sadar meremas apapun bagian tubuh Naruto kecil.

"Kalian semua pulanglah sebelum Sasuke semakin tersiksa." Perintah Shikamaru. Semuanya mengangguk dan mulai berlari menuju portal putih yang berputar. Sebelum Naruto masuk ke portal itu, Naruto melirik Sasuke besar yang masih berteriak ketika dirinya yang besar sedang berusaha menutup mata Sasuke yang terus mengeluarkan darah.

Naruto kemudian melirik Shikamaru dan tersenyum kecil. "Terimakasih."

Dan setelah itu, portal putih itu hilang.

.

.

.

Di pesawat, Sasuke duduk dengan menatap Kakinya yang hanya terjulur di atas sofa. Mata kiri Sasuke hanya diperban menggunakan kain kasa. Naruto hanya bisa menghentikan pendarahannya. Sebenarnya Naruto bisa membuat mata baru untuk Sasuke seperti yang pernah ia lakukan pada Kakashi sensei, tapi Cakranya saat ini belum benar-benar pulih.

"Maaf." Ucap Naruto menatap Sasuke dengan mata sendu. Sasuke memutar matanya mendengar kata maaf dari mulut Naruto kesekian kalinya.

"Itu adalah Maaf yang ke 28 kali darimu." Ucap Sasuke menatap Naruto heran. Naruto tahu Sasuke hanya ingin Naruto tidak merasa bersalah, tetapi melihat mata Rinegannya hilang dan kedua kakinya sudah tidak memiliki fungsi sebagai mana mestinya, membuat Naruto semakin sedih.

Shikamaru yang entah ada di mana tidak terpikirkan lagi oleh Naruto. Naruto membawa kepalanya keatas paha Sasuke. Meremas celana yang di pakai Sasuke dan mulai menangis. Sasuke seperti ini adalah karenanya, ia tidak bisa apa-apa. Ia tidak tahu bagaimana caranya menyembuhkan kaki yang lumpuh. Sakura juga pasti sangat sedih dengan apa yang diperbuatnya pada suaminya.

Naruto benar-benar bingung dan pusing saat ini. Sasuke mengelus rambut pirang yang berantakan namun lembut itu. Sebenarnya Sasuke juga sedih dengan apa yang menimpa dirinya, tapi kalau tidak begini, Naruto tidak akan pernah kembali. Jadi yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah bersyukur karena ia bisa melihat Naruto kembali.

"Apa aku sudah jadi orang cacat?" Pertanyaan Sasuke membuat Naruto mengangkat wajahnya dengan tiba-tiba. Memperlihatkan wajah sembab yang mengerikan. Tangan kanan Sasuke terulur dan menyeka air mata yang turun di pipi tan itu.

"Mataku tinggal satu, Tanganku tinggal satu, lalu kakiku kehilangan fungsinya." Ucap Sasuke menatap Naruto dengan tersenyum kecil. "Itu semua bukan apa-apa jika kau masih terus berada di sisiku."

Sasuke membawa kepala pirang itu untuk mendekat dan mengecupnya singkat. "Kecuali kalau kau keberatan denganku."

Naruto menggeleng cepat. "Mana mungkin." Naruto mencondongkan tubuhnya untuk memeluk Sasuke erat. Sasuke balas memeluk Naruto walaupun tak seerat Naruto. Sasuke merasa bahagia walaupun dia banyak kehilangan anggota tubuhnya, cinta Naruto padanya tidak berkurang. Kalau begitu, pengorbanan yang ia lakukan tidak sia-sia.

"Terimakasih, Naruto." Ucap Sasuke. "Ini adalah yang terakhir."

Naruto melepaskan pelukannya dan menatap Sasuke heran. "Apa maksudmu?"

"Shikamaru sudah melihat kita." Ucap Sasuke sambil melirik kebelakang Naruto. Naruto sadar, sudah sadar sejak dulu kalau Shikamaru sudah tahu hubungan tabu yang dijalani oleh Naruto dan Sasuke. Naruto tidak perlu repot-repot menengok kebelakang untuk melihat Shikamaru. Naruto kembali memeluk Sasuke dengan erat.

"Kalau kau pisahkan aku dengan Sasuke, aku akan pisahkan kau dengan Istrimu." Desis Naruto. Shikamaru berjalan menuju sofa dan duduk di sana.

"Aku tidak peduli dengan hubungan kalian." Ucap Shikamaru sambil menguap. Naruto melepaskan pelukannya pada Sasuke dan menatap Shikamaru dengan wajah heran. Lalu kembali menatap Sasuke dengan tajam.

"Apa maksudmu yang terakhir?" Desis Naruto. Sasuke tersenyum lalu tertawa kecil.

"Tidak. Aku hanya bercanda."

Naruto menggeram dan mulai mengangkat tangannya dan menyentuh pada sesuatu yang bukan tempatnya.

"AHH! Apa yang kau lakukan?!" Teriak Sasuke menghalau tangan nakal itu dari 'Junior'nya.

"Aku tahu yang ini tidak lumpuh."

"Hentikan! Disini ada orang! Ah!" Wajah Sasuke menampilkan kemerahan saat masih berusaha menghalang tangan Naruto untuk masuk ke celananya. Tapi terlambat. Shikamaru mengerlingkan matanya dan bangkit dari tempat ia duduk semula. Sepertinya minum kopi lebih enak saat ini, meninggalkan Hokage yang sedang Horny dengan rivalnya.

"Na—Narutoo!" Kegiatan yang tak bisa di hentikan itu mulai tak terkendali dan terlepas pada ruang santai yang berada di pesawat itu. Sasuke sebenarnya memang sudah lama ingin melakukannya dengan Naruto, tapi kalau begini dan ditempat yang seperti ini, Sasuke benar-benar ingin membunuh Naruto.

Sialnya, Sasuke tidak bisa membunuh orang kesayangannya.

.

.

Owari

.

.

Ehehehe... kelar dengan gaje. Maap yang nunggu kelamaan. Biasa, penulis amatir sok sok kena WB (+_+)

Mau Epilognya gak? Gak usah ya? Apa dibuat aja?