… Tidak ada satu apapun yang lebih indah dan jahat selain sorot tajam matamu …
NARUTO, always belong to Masashi Kishimoto
-Author alay mulai berimajinasi liar lagi. Kukuku-
WARN
Bad Sasuke, Lemon , Absolutely Rate M, AU, Typo, No Flame, Don't Like Don't Read
.
.
.
Sakura melangkahkan kakinya memasuki kamar apartemen mewah Sasuke. Apartemen yang terletak di lantai 23 dengan konsep minimalis maskulin ala cowok. Dinding-dindingnya dihiasi wallpaper warna silver dan panel hitam glossy di beberapa bagian. Kitchen setnya bernuansa biru metalik dengan kombinasi silver lining. Sofa ruang tamu berwarna putih, coffee table dari kayu yang dilapisi kaca, karpet bulu tebal warna hitam. Kamar Sasuke menghadap langsung ke pemandangan Tokyo yang berhiaskan menara Tokyo.
Sakura ragu-ragu untuk masuk lebih dalam. Dia merasa tidak enak, sungkan, takut merepotkan, pada Sasuke yang sudah menghempaskan diri di sofanya.
"Hei, masuklah. Jangan malu-malu" kata Sasuke sambil memejamkan mata.
"A.. aku sebaiknya mencari tempat tidur di kampus saja…"
Sasuke mendelikkan mata onyxnya yang tajam pada Sakura. Pandangannya menjalar dari puncak kepala Sakura sampai ujung kakinya.
"Kamu gila? Mau cari masalah lagi?"
"Ku, kurasa aku tidak pantas berada disini"
"Jangan bodoh-bodoh amat bisa gak sih?" Sasuke jengkel dengan sikap gadis ini dan berdiri menghampirinya.
Sasuke berjalan pasti dengan pandangan elang yang sangat menusuk. Dia berjalan terus dan semakin mendekat. TERLALU dekat. Sakura gugup dan mundur perlahan sampai punggungnya menyentuh pintu di belakangnya.
GREP
Telapak tangan Sasuke memegang daun pintu melalui celah antara pipi dan leher jenjang Sakura. Dia memandang mata Sakura tanpa kedip, sedangkan Sakura mengalihkan pandangannya setelah berkedip beberapa kali karena tidak kuat menatap mata Sasuke terlalu lama.
Tangan kiri Sasuke mengarah pada pinggang Sakura. Sakura semakin bingung dan tegang.
Apa yang akan dia lakukan? Tuhan…
1 detik…
2 detik…
3 detik…
KLIK
Ternyata Sasuke mengunci pintu lalu menurunkan tangan kanannya dan pergi memunggungi Sakura. "Kamu tidak boleh pergi"
Sasuke lalu menghilang dari balik pintu sebuah ruangan yang sepertinya adalah satu-satunya kamar di apartemen ini. Sakura menuju dinding kaca yang menghadap night view Tokyo. Gemerlapnya lampu-lampu di seberang sana, orang-orang tidak tahu betapa banyaknya jenis kehidupan yang ada di bawah naungan cahaya-cahaya indah itu. Banyak kepahitan, kegetiran, dan duka yang menyelimuti kaum menengah ke bawah penduduk Tokyo. Salah satunya Sakura.
Tapi, melewati hal-hal buruk seharian membuat Sakura mau tidak mau tersenyum melihat pemandangan yang membuat suasana hatinya sedikit lebih baik.
"Indah sekali….." gumam Sakura.
"Tidak seindah penampilanmu"
BRUK
Sasuke melempar kemeja putih polos dan celana jeans ke lantai yang sedang dipijak Sakura. "Pakailah. Penampilanmu memang bagus menurutku, tapi aku tidak suka karena si brengsek itu yang melakukannya"
Sakura memandangi tubuhnya.
Astaga!
Sakura terkesiap baru menyadari penampilannya. Jaket merah maroonnya kotor, kemejanya rusak, bahkan bra birunya terpampang dengan jelas. Begitu pula celana jeans yang resletingnya sepertinya rusak. Sakura buru-buru mengambil baju yang diberikan Sasuke padanya dan menutupi tubuhnya.
"Boleh aku pinjam kamar mandi?"
"Hn. Di dalam kamarku. Di ruang tamu hanya ada toilet" Sasuke menunjuk pintu kamarnya menggunakan ibu jarinya.
"Ada kamar lain?" tanya Sakura.
"Nope. Aku tinggal sendirian disini. Jadi jangan cerewet" Sasuke berlalu menuju lemari es untuk mengambil air dingin. Sakura terpaksa masuk ke kamar Sasuke. Pertama kalinya dia masuk ke kamar cowok dalam hidupnya.
.
Sakura menyentuh permukaan kulitnya saat air shower mengguyur tubuhnya. Kulit putihnya memiliki bercak-bercak pink akibat perlakuan kasar yang baru diterima dari pria mesum. Sakura memejamkan matanya dan mendongak menantang air yang terus membasahi dirinya.
Untung saja Sasuke-kun segera datang. Kalau saja tadi orang gila itu berhasil memperkosaku aku lebih baik bunuh diri dan segera menyusul Ayah dan Ibu…
Sakura menyelesaikan mandinya dan bergegas berpakaian. Dilihatnya pakaian-pakaiannya yang sudah sangat kotor dan tidak layak pakai. Akhirnya Sakura mengenakan kemeja putih Sasuke yang tentu saja kebesaran. Dan karena celana jeans Sasuke terlalu kebesaran, Sakura tidak memakainya.
Diperiksanya saku celana dan jaket Sakura. Untunglah ponsel jadul dan dompetnya masih ada padanya. Tapi pakaian-pakaian dan foto-foto Ayah-Ibunya sudah hilang. Sakura melangkah keluar kamar dan mendapati Sasuke sedang asik memegang kamera SLR.
"Sasuke-kun, terima kasih banyak, tapi celananya kebesaran. Apa aku boleh pinjam peralatan menjahit? Aku mau memperbaiki bajuku"
Sasuke terpana melihat Sakura yang hanya memakai kemeja putih tipisnya. Walau kemeja panjang itu menutupi pinggul Sakura, tetap saja kain transparan itu masih bisa membuat bra biru tua dan panty hitam Sakura tembus pandang.
Pipi Sasuke memerah. Sakura menatapnya heran. Sebelum Sakura menyadari perubahan warna pada pipi Sasuke, Sasuke cepat-cepat menutup wajahnya menggunakan kamera dan mengambil gambar Sakura.
"Hei! Main foto sembarangan!" Sakura menghempaskan dirinya ke sofa di sebelah Sasuke sambil memangku baju bekasnya.
Sasuke merampas baju Sakura dan membuangnya ke tempat sampah. "Hei, Sasuke-kun! Apa yang kamu lakukan?!"
"Buat apa benda yang sudah rusak dibawa-bawa?! Buang saja. Nanti kubelikan yang baru" Sasuke mengerutkan alisnya dan kembali menatap kameranya memeriksa hasil gambar Sakura.
"Ck. Dasar. Sasuke-kun belum pernah tahu rasanya jadi orang miskin" Sakura mengerucutkan bibirnya, menyilangkan tangan dan kakinya.
Bodoh, kalau kamu menyilangkan kakimu, pantatmu kelihatan tahu! Batin Sasuke.
"Sudahlah. Tidur sana. Aku akan tidur disini" Sasuke menyandarkan kepala ravennya pada bahu kursi lalu mendorong-dorong paha Sakura menggunakan telapak kakinya.
Sakura berdiri, "Tidak mau! Sasuke-kun saja yang tidur di kamar. Aku tidur disini saja"
"Sudah pergi sana dasar cerewet" Sasuke menghush-hush Sakura menggunakan tangannya.
PLAK
Sakura memukul pelan tangan Sasuke. "Jangan ngusir begitu, cepat ke kamarmu, Sasuke-kun!"
GREP
Sasuke menarik tangan Sakura dan membuat Sakura terjatuh tepat di atas dada bidang Sasuke. Kemeja Sakura tersingkap ke atas dan memperlihatkan panty hitam berendanya.
"Jangan bilang kamu mau tidur bersamaku di sofa sempit ini?" goda Sasuke sambil memberi satu wink kecil pada Sakura. Sakura yang bersemu merah padam karena hidung mancung mereka hanya berjarak kurang dari 10 cm dan dadanya menindih dada Sasuke, dia segera berontak.
Sasuke menahan posisi Sakura yang sangat tidak menguntungkan itu. "Aku tidak keberatan kok kalau kamu mau tidur dengan posisi ini" tangan Sasuke masih menggenggam erat pergelangan tangan Sakura.
Sakura bangkit dalam 1 detik dan berlari menuju kamar Sasuke. "Dasar Ecchi!" teriaknya sambil menutup pintu kamar.
Sasuke tersenyum miring dan bergumam, "Kalau gak begini kamu gak tidur-tidur" lalu menutup matanya.
.
.
Sasuke terbangun dari tidurnya karena aroma sedap yang menusuk hidungnya. Dia melirik Sakura yang sedang asyik memasak di kitchennya. Setelah mengganti jaketnya dengan kaos tanpa lengan berlabel Reebok di dadanya, Sasuke mencuci muka dan menggosok giginya.
"Sedang masak apa?" tanyanya sambil menghampiri Sakura. Sasuke mengintip dari balik bahu Sakura.
"Ah, Ohayou… maaf aku menggunakan dapurmu dengan lancang. Aku tidak berani membangunkanmu. Sebentar lagi siap. Tunggu ya…" Sakura menoleh dan tersenyum ceria.
Sasuke menggerakkan bahunya dan menuju beranda. Dia melakukan rutinitas paginya dengan sedikit berolahraga. Sasuke sedang sit-up, berlari di atas treadmill, dan melakukan push up dengan satu tangan.
Sakura menyiapkan sarapan ke meja makan sambil sesekali melirik Sasuke melakukan kegiatannya. Sakura tersenyum simpul dan pipinya blushing. Tapi lalu Sakura menggeleng keras dan mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak jatuh cinta pada Sasuke.
Sakura memiliki prinsip untuk tidak jatuh cinta sebelum lulus kuliah. Sakura tidak mau menikah terlalu dini dan mengakibatkan keluarganya tidak siap menghadapi dunia kelak. Sakura harus kuat dan matang terlebih dahulu.
"Sasuke-kuuun! Sarapannya sudah siap! Ayo kita sarapan" teriak Sakura dari dalam.
Sasuke melangkah masuk dengan handuk kecil yang bertengger di bahunya. Pemandangan seorang Sasuke yang basah karena peluh mengaliri pelipis, rambut basah, dan tubuh maskulin yang dilapisi kaos ketat membuat Sakura menahan nafas.
"Jangan terpesona begitu. Paling tidak jangan mencolok gitu kalau mengagumi tubuhku" Sasuke meminum jus tomat yang diberi irisan jelly di dalamnya.
"Baka" Sakura menunduk dan menusukkan garpunya ke fruit saladnya.
"Wow, jus ini enak banget. Kok beda sama yang kubuat biasanya ya?" Sasuke mengagumi jus buatan Sakura seperti anak kecil yang baru saja memakan pizza.
Sakura tersenyum dan menyodorkan piring pada Sasuke. "Kamu belum mencicipi yang ini"
Sasuke menyendok rice omelet buatan Sakura dan mata onyxnya membelalak heran dalam sedetik lalu dihajarnya dengan lahap masakan Sakura.
"Kamu kuliah?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Hm? Iya, kenapa?"
"Jurusan?"
"Desain. Kenapa?"
"Jadi chef saja"
"Hahaha. Tidak, terima kasih. Aku jadi chef buat keluargaku saja kelak"
Sasuke berhenti menyendok dan memandang Sakura sejenak.
…
…
"Oh" jawabnya singkat.
Sakura bingung dan lalu melanjutkan sarapannya.
"Aku sudah selesai makan. Aku mau mandi duluan. Kamu pilihlah celana apapun milikku yang ukurannya cukup untukmu. Kita berangkat satu jam lagi" perintah Sasuke.
.
.
Nissan Skyline Sasuke terparkir apik di jalanan Ginza, daerah pertokoan paling elit di Tokyo. Sasuke melepas sunglasses hitamnya dan bersiap keluar dari mobil.
GREP
Sakura menahan lengan Sasuke dan melepasnya. "Ke.. kenapa kita kesini Sasuke-kun? Aku tidak akan mampu membayar baju-baju disini" Sakura menoleh ke sekeliling dengan gelisah.
"Siapa bilang kita kesini untuk membelikanmu baju? Dasar PD" Sasuke melenggang keluar mobil. Sakura masih cemas dan tidak mau turun dari mobil.
Sasuke berjalan memutar dan membukakan pintu penumpang. "Ayo keluar" Sasuke memberikan deathglare nya yang sangat sangar.
"Tidak mau" Sakura mengerutkan alisnya.
Sasuke merasa gemas dan menarik lengan Sakura. Akhirnya Sakura berada di luar mobil. "Ayo ikut aku" Sasuke menggenggam tangan Sakura erat-erat. Sakura berusaha melepasnya karena malu dilihat orang-orang di sekitarnya.
Sasuke mengenakan sunglassesnya lagi dan tersenyum penuh kemenangan.
.
.
"Ya. Bagus. Aku ambil yang ini juga"
Sakura berdiri canggung dengan ekspresi keruh karena sedari tadi dipaksa-paksa Sasuke mencoba baju-baju pilihannya. Sudah 6 toko yang mereka datangi mulai dari Chanel, Dior, Tiffany & Co., Guess, Gucci, Beams, dan sudah 18 tas belanja yang sudah penuh dengan baju-baju wanita yang mereka beli.
"Baik, Tuan" ujar pemilik toko.
"Aku tidak bisa menerima ini semua, Sasuke-kun!" bisik Sakura saat pemilik toko sudah pergi.
"Ya memang. Yang akan menerimanya adalah modelku" jawab Sasuke dengan enteng.
"Lalu kenapa dari tadi aku yang disuruh mencoba semua pakaian ini?" Sakura mengerucutkan bibirnya.
"Hmm kenapa ya? Menurutmu kenapa? Aku sendiri tidak tahu" goda Sasuke yang sedang asyik bercermin dan membetulkan poni ravennya.
"Sasuke-kun!"
"Ah iya! Karena model baruku adalah kamu" Sasuke memiringkan kepalanya menghadap Sakura sambil menaikkan sebelah alisnya.
Sakura menganga dan kemudian menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya. "A.. Aku tidak bisa, Sasuke-kun. Aku tidak bisa menjadi model"
"Belum dicoba sudah menyerah"
"Tapi-"
"Ah, iya, sebentar. Tuh, kita dipanggil pemilik toko. Ayo"
.
.
"I, ini kan..?" Sakura terpana melihat bangunan yang menjadi tujuan mereka.
"Ya. Kantorku. Cepat turun dari mobil"
Mereka berdua sampai di SS art STUDIO. Bangunan modern 5 lantai yang sangat mewah dengan rooftop garden.
Sakura mengekor di belakang Sasuke selama mereka berjalan dan menaiki lift menuju studio utama. Selama berjalan itu pula, Sasuke tidak henti-hentinya menjawab pertanyaan dari karyawan-karyawannya seputar photo session di berbagai sektor.
Bahkan saat sedang berjalan pun dia sudah mulai bekerja… Batin Sakura
GREKK
Pintu kaca otomatis di depan mereka sudah terbuka.
"WOI TEME! Kemana aja sih telat bangeeeeet! Aku sudah ditelfon perusahaan Nara berkali-kali" keluh pemuda berambut blonde yang sangat manis dengan gigi gingsulnya.
"Hn. Aku ada perlu sedikit. Shion, bantu dia dress-up" Sasuke menunjuk Sakura di belakangnya menggunakan ibu jarinya.
"WOAAAAAAHHH!" seru Shion dan Naruto bersamaan.
"Waaaah. Kireeeiiii! Halo, aku Shion" Shion mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
BRUK
Naruto menabrak Shion ke samping untuk mengambil space di hadapan Sakura.
"Konnichiwa! Aku Uzumaki Naruto. Cowok paling kece di tempat ini! Wah, kamu cantik bangeeet" salamnya dengan cengiran yang sangat ceria.
"Naruto! Baka! Jangan kasar gini donk! Ah, maafkan kami ya, kami memang biangnya kerusuhan di kantor ini" Shion menggaruk belakang kepalanya dan merangkul Sakura menuju ruang ganti.
"Salam kenal Shion-san, Uzumaki-san. Aku Haruno Sakura" Sakura tertawa melihat tingkah teman-teman Sasuke.
"Jangan panggil kami dengan imbuhan –san, nanti Naruto besar kepala" Shion nyengir pada Sakura.
"Ya, Sakura-chan, panggil aku Naruto saja" teriak Naruto.
Sakura dan Shion pun masuk ke ruang ganti.
"Hebat! Kecantikannya natural banget, Teme! Kamu kenal dimana?" Naruto menyikut lengan Sasuke.
"Aku? Aku menyelamatkannya saat dia hampir diperkosa orang gila" jawab Sasuke sambil menyeringai.
"Wooooo, jadi dia jatuh cinta padamu gitu? Atau kamu yang jatuh cinta padanya?"
"Ck. Dia memang manis, tapi sama sekali bukan tipeku. Sudah jangan berisik, ayo siap-siap"
.
.
"Sudah kubilang jangan terlalu tegang!"
Sakura yang sudah di make over Shion dengan dress bunga putih, straw hat, wedges orange, dan keranjang bunga mengubah posisi tangannya yang terlalu tegap ke posisi menggenggam. Sakura sedang menjalani sesi pemotretan dengan tema musim semi.
"Ya. Sekarang coba senyum. Jangan dipaksakan"
CKRIK CKRIK
"Sakura!" bentak Sasuke yang masih tidak puas dengan gestur Sakura.
Sakura menatap sedih ke arah Shion dan Naruto yang sama takutnya dengan Sakura.
"KALAU KAMU BEGINI TERUS GAK BAKAL SELESAI!" teriak Sasuke dan menggema ke seluruh ruangan.
Makanya sudah kubilang aku gak bisa jadi model… Batin Sakura
"Hhh. Kalian semua, keluar dari ruangan ini. Tinggalkan kami berdua" perintah Sasuke.
Semua staf pergi keluar, begitu pula Shion dan Naruto. Walau mereka tidak tega pada kondisi Sakura yang kacau di depan kamera, mereka terpaksa pergi karena ngeri juga pada amarah Sasuke.
.
Sasuke menghampiri Sakura yang tertunduk lemas. Dipandanginya Sakura dengan cermat.
"Hei" ucap Sasuke.
Sakura mendongakkan kepalanya takut-takut.
"Tahukah kamu, kamu kelihatan cantik dengan semua pakaian ini"
Hah? Aku tidak salah dengar?
Sasuke tersenyum simpul dan mengangguk meyakinkan Sakura.
Sakura tersenyum mendengarnya. Lalu…
CKRIK CKRIK
"Ya, bagus. Sudah" nada Sasuke menjadi normal kembali. Alias jutek.
Hah? Dia? Cuma pura-pura ya?! Sakura terjebak dalam rayuan Sasuke.
"Dasar" umpat Sakura pelan, namun tetap saja terdengar oleh Sasuke. Sasuke tersenyum dan berkata, "Sudah kubilang kan? Semua bakat sudah ada di dalam sini" Sasuke menunjuk pelipisnya.
Sakura mengerucutkan bibirnya.
"WAAA, Sakura-chaaaan!" Shion dan Naruto yang mengintip dari balik pintu kaca langsung masuk berhambur dengan mereka. Shion memeluk Sakura, sedangkan Naruto merebut kamera Sasuke melihat hasil pekerjaan cowok raven itu.
"Waaaah, amazing! Lihat, Sakura-chan, Shion, lihat! Lihat!" Naruto melambai-lambai meminta gadis-gadis itu untuk menghampirinya.
"Kyaaa. Cantiknyaaaa!" Shion berseru sambil memejamkan matanya dan menggeleng keras-keras karena gemas pada Sakura.
Mata emerald Sakura menatap foto dirinya sendiri dengan tidak percaya. "Ini aku?"
"Ya. Itulah kecantikanmu" Sasuke mengatakannya sambil berlalu keluar ruangan.
Sakura blushing saat Shion dan Naruto meliriknya dengan curiga.
"Sakura-chaaaaan. Kamu jangan jatuh cinta pada Teme! Dia berbahaya!" Naruto mengerutkan alisnya.
"Ah.. aha… ahahaha.. tentu saja tidak. Huh, mana mungkin, mana mungkin.." Sakura mengibaskan tangannya mengelak dari tatapan Shion dan Naruto.
"Hish, kalau sampai terjadi apa-apa pada Sakura gara-gara cowok emo itu, aku akan menculikmu Sakura" Shion yang sangat terobsesi dengan kecantikan, sangat menyukai teman barunya itu.
Naruto kemudian menggeser tampilan kamera untuk melihat hasil bidikan Sasuke sebelum-sebelumnya.
"HWAAAAH!" teriakan Naruto memekakkan telinga semua orang.
"Baka! Ada apa sih!?" Shion penasaran dan merebut kamera dari tangan Naruto.
"KYAAAA! Kamu habis ML sama Sasuke, Sakura?!" Shion membelalakkan matanya.
"Hah?! TIDAK! Apaan sih?" kini kamera itu berada di tangan Sakura.
Terlihat foto Sakura dengan rambut berantakan yang dicepol ke atas dan paha jenjang yang telanjang kaki sedang mengenakan kemeja putih transparan dengan bra dan panty yang terlihat samar sedang berjalan ke arah kamera.
"Kyaaaa! Kalian salah pahaaaam!" Sakura panik dan mencari menu untuk menghapus foto itu.
GREB
Tiba-tiba Sasuke datang dan merebut kameranya.
"Dasar tangan-tangan lancang. Ayo Sakura. Sudah cukup untuk hari ini. Kita pulang" Sasuke meraih tengkuk Sakura dan mendorongnya di depannya.
"Ciyeeeee Teme! Sialaaan" teriak Naruto.
"Sakuraaaaa! Hati-hati dengan cowok hidung belang ituuuu!" sahut Shion.
Sakura tertawa dan melambaikan tangan pada orang-orang baik hati yang baru saja ditemuinya. Dia lalu mendongakkan kepalanya melirik Sasuke yang ternyata sedang blushing dan cemberut.
.
.
"Ini salarymu untuk hari ini" Sasuke menyodorkan amplop putih pada Sakura saat mereka sedang makan malam di apartemen.
"Eh? Salary?"
"Bagaimanapun kamu adalah modelku. Ngerti?"
"Hmm baiklah…" bagaimanapun Sakura sedang membutuhkan uang. Memang terdengar jahat dan licik, tapi sampai dia mampu mengumpulkan uang yang cukup, dia memutuskan untuk bekerja pada Sasuke sebagai modelnya dan kemudian mencari tempat tinggal dan pekerjaan baru. Dia lalu membuka amplop itu.
"Waaa! Banyak sekaliii?" Sakura terkejut karena uang di dalamnya sama dengan gajinya bekerja di café selama seminggu.
"Sudah kubilang menjadi modelku salarynya gede" Sasuke mencomot pasta dengan saus tomat dan daging yang dibuatkan Sakura.
"Tapi Sasuke-kun, ini gak imbang. Aku kan hanya dipotret sekali saja"
"Gak apa-apa. Atau kamu mau kupotret lagi? Aku gak keberatan"
"Tidak!"
"Ayolah. Settingnya di kamarku ya?"
"Dasar Ecchi!" Sakura meneguk sodanya sampai habis.
Sasuke memandangi bibir Sakura yang sangat sensual saat dia sedang minum.
"Kamu yang Ecchi" sahut Sasuke enteng.
"Apanya?!"
"Hmp" Sasuke tersenyum. Dia merasa terhibur dengan kehadiran Sakura di apartemennya.
"Yah, terima kasih banyak Sasuke-kun. Tapi aku tidak akan merepotkanmu terlalu lama. Aku akan berusaha dan sambil mencari info apartemen murah untuk kutempati nanti"
Alis Sasuke naik sebentar lalu turun lagi. 10 detik dia terlihat berpikir keras.
"Hn" jawabnya akhirnya.
"Well, karena disini hanya ada satu kamar, aku minta dengan sangat agar aku diijinkan tidur di sofa ruang tamu. Ya?" pinta Sakura.
"Tidak boleh. Nanti sofa mahalku kotor" Sasuke menyendok puding karamelnya.
"Kalau begitu di lantai, boleh?"
"Tidak boleh. Nanti lantaiku kotor"
"Terus aku tidur dimana, donk?"
"Di kasurku"
"Ecchi!"
"Sakura, jujur aja deh. Kamu pasti ingin ML sama aku kan?" Sasuke menatap Sakura dengan serius.
"Gila kamu! Tidak!" Sakura menatap Sasuke tidak percaya.
"Hei" Sasuke menggenggam tangan Sakura.
"Waa, apaan sih? Jangan menakutiku, Sasuke-kun" Sakura menarik tangannya.
"Hmp" Sasuke benar-benar senang menggoda Sakura yang sangat lucu dalam berekspresi.
"Aku mau beres-beres" Saakura bangkit dari kursi dan membereskan meja makan.
"Hei, aku belum selesai dengan puding itu!"
Sakura cuek dan menuju kitchen sink.
"Hei, Sakura! Sudah kubilang aku masih belum selesai dengan puding itu!"
Sasuke menyusul Sakura yang kerepotan dengan banyak peralatan makan di kedua tangannya. Puding Sasuke terletak di puncak piring-piring itu.
Sasuke menjulurkan tangannya lewat sela-sela perpotongan leher Sakura. Sakura mengelak dengan lihai dan Sasuke menjulurkan tangan satunya lewat pinggang Sakura. Sakura yang sangat sensitif di bagian perut langsung berhenti kaku.
"Ah, Sasuke-kun, berhenti, geliii!"
"Ahaha.. jadi ini kelemahanmu?" Sasuke senang karena Sakura akhirnya berhenti menggeliat.
Posisi mereka berdua sangat dekat. Bahkan tidak ada jarak di antara mereka. Sakura membelakangi Sasuke dengan kedua tangan yang penuh dengan peralatan makan. Sedangkan Sasuke berdiri di belakang Sakura dengan tangan kanan yang memeluk pundak, tangan kirinya memeluk pinggang Sakura.
"Sasuke-kun, lepaskan. Aku tidak bisa bergerak!"
"Apa iya aku mau melepasnya?" bisik Sasuke tepat di telinga kiri Sakura. Dada dan pahanya menempel pada punggung dan pantat Sakura.
Keheningan malam membuat mereka mampu mendengar debaran jantung masing-masing yang berpacu cepat.
Bagaimana ini? bagaimana ini? Batin Sakura.
Sial. Aku hanya berniat menggodanya, tapi kenapa tubuhku tidak mau bergerak?! Batin Sasuke.
Ah, persetan. Kalu memang ini yang terjadi, aku tidak keberatan tidur dengan cewek ini.
Tangan Sasuke mulai berjalan pelan menaiki perut Sakura.
"Saaa… Sasuke-kun…. Jangaaan" Sakura gemetar.
"Ssst…." Sasuke menenangkan Sakura dan memeluk pinggang Sakura lebih erat.
Suasana semakin panas di antara mereka berdua. Sama-sama canggung dan bingung dengan keinginan mereka sendiri.
"Sakura…"
Sakura tidak mampu menjawab panggilan Sasuke dan masih berdiri tegak penuh ketegangan.
"Tatap mataku…" tangan kanan Sasuke menarik perlahan dagu mungil Sakura agar gadis itu menoleh padanya.
"Sakura…" Sasuke menatap emerald Sakura yang sangat indah.
"Sa… Sasuke-kun" sahut Sakura dengan suara yang bergetar.
Sasuke mendekatkan kepalanya ke wajah Sakura.
Dan…
…
…
TING TONG
TING TONG
Bel pintu mengagetkan mereka berdua. Sakura segera berlari menuju kitchen sink dan Sasuke dengan canggung bercampur kesal berjalan menuju pintu.
Aakh, apa yang kau lakukan Sasuke?! Bodoh! Rutuk Sasuke pada dirinya sendiri.
Sasuke memencet tombol monitor dengan ogah-ogahan untuk melihat siapa tamu yang mendatangi rumahnya.
.
Haruno Sakura! Sadar donk, sadar! Bagaimana bisa kamu hampir saja terjatuh pada atmosfer Sasuke-kun! Batin sakura sambil mencuci tangannya.
Akhhh. Bego, bego… Sakura berniat menuju kamar dan menyembunyikan diri sampai pagi di bawah selimut.
Tapi saat akan membuka pintu kamar, dilihatnya Sasuke berjalan dari arah pintu depan bersama seorang gadis cantik yang sangat tinggi dan sexy dengan rambut ikal merah yang sangat indah.
"Hah? Siapa dia, Sasuke?" tanya gadis berambut merah itu.
Sasuke diam dan tidak menjawab. Mereka bertiga saling bertatapan dan bingung dengan keadaan. Sakura menatap gadis itu, gadis itu menatap Sasuke, dan Sasuke menatap Sakura.
.
.
.
Hiyaa, TBC…
Minna-san yang baik hati, terima kasiiiih banyak atas masukan, review, fav, dan follow, juga silent readers…
Sangat membantu terutama semangatku. Di ffku sebelumnya aku pernah bilang kalau aku adalah tipe orang yang bisa berhenti nulis untuk jangka waktu yang cukup lama. Dan memang terjadi di ffku sebelumnya. Hahaha.
Gomen, gomen… aku sayang kalian semua…
Aku mencoba menaruh cover di ff ini dengan chara SasuSaku 3D dari final fantasy karena aku selalu membayangkan (khususnya Sasuke) chara ini setiap menulis kata-kata di dalam cerita. Ahahaha. #mulaialay
Mohon dukungannya pada orang tua ini ya?
Aishiteru…
Review, please?
Mother CHANYOU
