… Tidak ada satu apapun yang lebih indah dan jahat selain sorot tajam matamu …
NARUTO, always belong to Masashi Kishimoto
-Author alay mulai berimajinasi liar lagi. Kukuku-
WARN
Bad Sasuke, Lemon, Absolutely Rate M, AU, Typo, No Flame, Don't Like Don't Read
.
.
.
Sakura mencoba memejamkan matanya yang sulit untuk terlelap. Suara mereka berdua yang sedang berada di ruang tamu terdengar jelas. Sakura mengingat-ingat ekspresi Sasuke saat memperkenalkannya pada Uzumaki Karin tadi.
"Oh? Kalian kenalan saja. Aku mau mengambil air dingin" kata Sasuke.
Karin melihat Sakura dari atas sampai bawah. Cewek merah itu mendekat dan menjulurkan tangannya mengajak bersalaman.
"Uzumaki Karin"
Sakura menatap mata Karin. Dia sedikit lebih tinggi darinya. Mungkin selisih 5 cm…
"Haruno Sakura" Sakura menjabat tangan Karin, "Uzumaki… Uzumaki. Ah, kamu berkerabat dengan Naruto?"
Alis Karin terangkat. "Hm? Kamu habis main ke studio? Yah, dia adik sepupuku. Naruto itu"
"Bukan main. Tapi bekerja. Dia modelku" Sasuke menyahut dan duduk di sofa menyalakan TV.
"Bekerja? Serius?" lagi-lagi Karin mempelajari tubuh Sakura dari atas hingga bawah. "Ahahahaha! Kamu bercanda Sasuke? Yang benar saja?"
Sakura merasa nada bicara gadis ini sangat tidak sopan dan blak-blakan. "Mari silakan duduk" Sakura mempersilakan tamu Sasuke sambil menatap mata lawan bicaranya dalam-dalam.
"Hei, sejak kapan kamu berkuasa di apartemen ini? Aku akan duduk kalau aku memang mau duduk. Bukan disuruh—suruh sama kamu. Dan kamu, Sasuke! Kenapa kamu tinggal sama cewek?"
"Suka-suka aku. Sudahlah, duduk sini" Sasuke meneguk air dinginnya, matanya tidak lepas dari acara TV.
"Bahkan aku tidak pernah kamu bolehin nginap disini!"
Sasuke cuek dan masih asyik meminum air dinginnya.
Karin sewot dan duduk di sebelah Sasuke dan merebut gelas yang sedang diminum Sasuke. Dihabiskannya air itu hingga tuntas, dan Sasuke hanya memandangnya, tidak memprotes atau menegurnya.
Sakura merasa keberadaannya di ruang tamu tidak ada gunanya. Dia masuk ke dalam kamar tidur dan mencoba untuk tidak mempedulikan semua kejadian ini.
.
"Serius deh. Masa iya gadis seperti itu tinggal serumah denganmu dan jadi modelmu?!" suara nyaring Karin menembus telinga Sakura dengan paksa. Padahal Sakura sudah menyembunyikan kepalanya di bawah bantal.
"Kamu tahu kan, aku adalah orang yang bertindak sesuai keinginanku. Aku mau dia tinggal disini. Aku mau dia jadi modelku"
"Kamu tidak pacaran dengannya kan?" tanya Karin to the point.
"Pacaran atau bukan itu bukan urusanmu kan?"
"Tapiiii!"
"Apa, mantanku?"
Hah? ternyata dia mantan Sasuke-kun?!
"Huh!"
"Jangan cemberut" ucap Sasuke.
"Aku cemberut karena aku mau. Aku bertindak sesuai keinginanku"
"Hah, ada yang copy kata-kataku"
"Ah! Lepaskan tanganmu dari rambutku!"
Apa?! Rambut? Sasuke sedang memegang rambut Karin?! Pendengaran Sakura semakin fokus.
"Sudah. Jangan cemberut. Sumpah, jelek. Tenang saja, so far, kamu masih model favoritku"
CKRIKK
Terdengar bunyi kamera.
Yah, ternyata Sasuke memang bad boy. Pada semua cewek dia bersikap sama. Tunggu Sakura, biarkan saja! Kenapa kamu mengurusinya?! Hanya karena dia memberikanmu tumpangan dan pekerjaan, bukan berarti dia memberi perhatian lebih padamu bukan? Sakura menggeleng-geleng mengenyahkan rasa menyebalkan yang tiba-tiba membuat jantungnya berdetak kencang.
"Kamu cantik Karin"
"Yak… terus seperti itu… nice… gerai rambutmu lebih natural. Good"
CKRIK CKRIK
"Apa seperti ini bagus? Malam ini aku ingin berpose sexy" kata Karin.
"Boleh. Gigit bibir bawahmu dan turunkan sedikit tali dressmu"
CKRIK
Sakura tidak tahan lagi. Dia keluar dari kamar, dan langsung menuju pintu depan, memasang sneakersnya. Dua pasang mata sedang menatapnya.
"Mau kemana kamu?" tanya Sasuke.
"Memberi space pada lovebirds" sahut Sakura ketus.
"Hei, ini pekerjaan kami, tahu!" teriak Karin.
Tapi saat ini kan kalian sedang tidak bekerja! Sakura ingin mengeluarkan kalimat itu tapi diurungkannya. Dia tidak tahan mendengar suara wanita itu lebih lama lagi.
Dia selesai mengenakan sneakersnya dan memandang mereka berdua lalu pergi dengan menutup pintu keras-keras.
.
.
Apa yang kamu pikirkan Sakura?! Dia hanya playboy yang sudah menggodamu! Jangan jatuh cinta padanya!
Sakura teringat moment setelah makan malam tadi. Sasuke dan dirinya hampir saja berciuman. Sakura menganggap kejadian itu benar-benar serius. Sakura merasakan detak jantung Sasuke di permukaan punggungnya berdebar kencang seirama dengan jantungnya sendiri.
Tapi semua itu buyar. Kini Sakura tahu kalau Sasuke hanya mempermainkannya. Sakura terus berjalan di pinggir sungai Meguro.
Terus berjalan dan terus berjalan.
Dia tidak ingin kembali sampai Karin pergi dari apartemen Sasuke. Bahkan jika dia harus bertahan berada di luar sampai pagi pun tak masalah.
Sakura terus berjalan dan terus berjalan.
.
Sakura kecapekan berjalan terus. Apartemen Sasuke menjulang nun jauh disana. Sakura berdiri di pagar pembatas sungai. Dia melirik jam di ponsel jadulnya.
23.59
Sudah tengah malam. Sakura memungut kerikil kecil dan melemparnya ke arah sungai. Kerikil kecil tak berdosa itu tenggelam di dinginnya air.
Sama seperti Sakura yang kehidupannya tiba-tiba terlempar dan masuk ke dalam dinginnya dunia Sasuke.
BRRRRMMM
CKIT
"Ayo pulang. Disini dingin"
Sakura tahu suara mesin di belakangnya itu. Dia tidak menoleh, tidak menjawab, dan tidak bereaksi.
"Hei" Sasuke memanggilnya lagi. Sakura masih tidak bergeming.
Sasuke turun dari Aprilianya dan berjalan menghampiri Sakura. Dia mensejajarkan tubuhnya dengan Sakura. Sama-sama memandang sungai Meguro.
Sasuke memperdekat jarak mereka. Kini lengan Sasuke dan Sakura bersentuhan dari balik jaket masing-masing. Sakura menggeser posisinya beberapa senti menjauh dari Sasuke.
Sasuke mengikuti gerakan Sakura. Dia bergerak beberapa senti ke arah Sakura agar lengan mereka bersentuhan lagi.
"Jangan dekat-dekat!" alis mata Sakura mengerut.
"Biar. Masalah?"
"Ya!"
"Kenapa?"
"Aku gak mau dekat-dekat dengan orang yang habis memadu kasih"
"Hmph" Sasuke tersenyum miring dan mendengus.
"Sudah selesai? Kok cepat?" sindir Sakura.
"Apaan sih? Aku gak ngapa-ngapain kok"
"Iya, cuma belai-belai rambut dan menurunkan tali baju cewek, terus menyuruhny-"
"Diam"
Sakura menoleh.
"Karin pulang setelah kamu pergi. Katanya bad mood"
"Hah, terus apa hubungannya denganku?"
Sasuke diam dan tersenyum.
"Sudah kuduga, wajah marahmu memang yang terbaik. Apa kamu ingat saat kamu ngamuk di café?"
" tidak akan termakan rayuanmu lagi, Mr. Cassanova"
"Yakin?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja. Bodoh"
"Apa barusan kamu memanggilku bodoh?!"
"Tidak" Sakura mengalihkan pandangannya.
"Tidak ada satu orangpun yang akan selamat kalau memanggilku bodoh" nada bicara Sasuke terdengar sangat serius. Sakura menoleh.
Dan
"KYAAA! Apa yang kamu lakukan?! Turunkan aku!" Sasuke menggendong Sakura dan menurunkannya di atas Aprilia. Tapi dia menurunkannya di jok kemudi.
"Wah apa ini?!" Sakura berontak dan berusaha turun, tapi tangan Sasuke memegang kedua tangannya dan meletakkannya pada tuas gas motor,
Sasuke mulai menyalakan mesin dan memasukkan gear.
"A.. A, Aku tidak bisa menyetir motor besar!" Sakura gelagapan dan kacau.
Sasuke naik ke atas motor dan duduk di belakang Sakura. Tangan panjangnya meraih tuas gas, dan…. Motor 1000R itu pun berjalan kencang.
"Sasuke-kuuuun!" Sakura berteriak sekencang yang dia bisa.
"Pegang gasnya!" perintah Sasuke yang langsung melepas tuas gas tanpa aba-aba.
Sakura terpaksa memegang kendali gasdengan spontan. Sasuke merasa aman karena dia sudah memasukkan gear 3. Cukup medium untuk kelas Sakura.
"Sa, Sasuke-kun! Bagaimana ini? Nanti kalau ada tikungan bagaimana?!"
"Ya belok saja. Tinggal belok ini. Tapi tenang saja, jalan ini lurus terus kok untuk beberapa ratus meter ke depan"
"Tetap sajaaaa!" Sakura menyetir dengan terpaksa dan terpaksa harus bisa. Kalau mereka jatuh akan sangat tidak lucu, dan itu semua salah Sasuke.
Jalanan sangat sepi. Wajar saja, karena ini tengah malam. Sasuke menikmati hembusan angin yang sangat segar. Kepala ravennya dijatuhkan di bahu kiri Sakura. Nafasnya menyentuh leher Sakura.
"Hei! Jangan beginiii. Berat tahu!"
"Biarin" tangan Sasuke malah melingkari perut Sakura dan membuat Sakura semakin tegang.
"SASUKE-KUN!"
"Sakura…"
"…."
"Kamu wangi"
.
.
Sasuke menatap wajah pulas Sakura yang tertidur karena kelelahan dengan pacuan adrenalin yang dialaminya barusan. Dia menggendong Sakura memasuki kamar dan merebahkannya pelan-pelan.
Dasar cewek polos. Kamu itu lucu dan manis. Tapi sayang sekali kamu bukan tipeku. Sangat bukan tipeku.
Sakura mengerang pelan. Posisi Sasuke saat ini sedang berada di atas Sakura setelah merebahkannya. Dibelainya poni Sakura. Ditelusurinya struktur wajah Sakura dengan telunjuknya.
Jarinya menyingkirkan poni Sakura, lalu menuruni hidung mancung Sakura, membelai pipinya, dan berhenti di sudut bibir Sakura.
Mata Sasuke tidak bisa lepas dari bibir indah itu. Dia memandanginya cukup lama dan mulai mendekatan wajahnya…
Tidak!
Sasuke segera bangkit dan mengurungkan niatnya mencium Sakura. Dia lalu mengganti bajunya dengan kaos dan boxer. Diambilnya kameranya, kemudian dia merebahkan dirinya di samping Sakura.
Sasuke memotret Sakura dari angle itu. Angle dari samping. Dilihatnya hasil bidikannya. Sasuke tersenyum puas lalu menyimpan kembali kameranya.
.
.
"Mmmmmhhhh…" erang Sakura sambil menggeliatkan tubuhnya.
Sudah pagi atau belum ya? Tirai gelap ini menghalangi cahaya matahari…
Sakura mengerjapkan mata dengan malas lalu memiringkan tubuhnya. Dan yang dilihatnya adalah…
SASUKE YANG SEDANG TELANJANG DADA
Tidur di sampingnya.
"KYAAAAA!" Sakura berteriak sekencang yang dia bisa. Dilihatnya pakaiannya. Masih lengkap. Thank God.
"Akkkhhh… berisik!" Sasuke menggeliat dan menampakkan dada bidangnya yang sangat mempesona. Kulitnya putih sekali.
"Kenapa kamu tidur disini?!" tanya Sakura.
"Memangnya kenapa? Ini kamarku" jawab Sasuke sambil mengacak-aacak rambut lebatnya yang membuatnya terlihat semakin sexy.
"Maksudku, Mr. Uchiha, kenapa kamu tidur di sampingku? Kenapa tidak menidurkanku di sofa? Ohhh, aku tidak ingat apa-apa… ini semua gara-gara kamu" Sakura mengomel sambil mengucek matanya.
"Cerewet. Tidur dalam satu ranjang tidak akan membunuhmu tahu" Sasuke memiringkan tubuhnya menatap Sakura.
"Ini bukan masalah bunuh-membunuh! Atau kamu mau kubunuh?"
"Mau" goda Sasuke dengan wajah yang sangat datar.
Orang iniiii
"Baka! Sudahlah. Aku mau mandi"
Sasuke menarik tangan Sakura dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Tahukah kamu? Kita seperti sedang pillow talk, morning conversation setelah sex"
Sakura blushing dengan hebat dan menggeliat mencoba keluar dari pelukan erat Sasuke.
"Diam dulu" perintah Sasuke masih mencengkeram pinggang Sakura.
"Tidak! Dasar Ecchii!" Sakura tidak menyerah untuk berusaha lepas dari jeratan Sasuke.
GREP
BRUK
Saat dia akhirnya hampir berhasil melepaskan diri, Sasuke malah memegang kedua pergelangan tangannya dan membantingnya pelan ke bantal. Kini kedua tangan Sakura terangkat. Dia sangat malu karena dadanya yang terbungkus tanktop pink dapat terekspose dengan jelas.
"Lepaskan aku!"
"Lain kali kalau Karin datang, jangan main kabur seperti itu lagi" kata Sasuke dengan serius.
Sakura tidak mampu menjawab di depan tatapan tajam mata bening itu.
"Kamu sangat menyebalkan. Selalu membuatku khawatir"
CUP
…
…
Sasuke mencium leher Sakura.
What?!
Sakura menendang pantat Sasuke dengan lututnya.
"Aw! Dasar!" Sasuke kesakitan dan ambruk di samping Sakura.
"Dasar Om-Om Ecchiii!" seru Sakura sambil berlari menuju kamar mandi.
.
.
Sakura selesai mandi dan keluar dari kamar langsung menuju pintu depan, memakai sneakers Nikenya.
"Hei, mau kemana kamu?" seru Sasuke yang sedang basah karena keringatnya setelah berolahraga.
"It's none of your business, Sir" sahut Sakura dingin. Rupanya dia masih menyimpan sedikit kekesalan karena kehadiran Karin kemarin.
Tapi, apa yang dirasakannya ini? Tidak sepatutnya dia cemburu dan marah-marah pada Sasuke kan? Hanya karena Sasuke membelai rambut Karin, menggodanya, melambungkannya dengan mengatakan bahwa Karin masih model favoritnya? TIDAK SEPATUTNYA DIA MARAH KAN?!
Tapi entah kenapa, walau alasan Sakura sangat irasional, tiap melihat wajah Sasuke kini dia sangat bad mood dan bawaannya marah melulu. Yang benar saja.
"Hei, Sakura!"
"Aku mau ke kampus!" Sakura pergi dengan menutup pintu keras-keras.
.
.
"Ohayou, Sasuke! Lho, mana Sakura?" tanya Shion sesampainya Sasuke di studio.
Sasuke berlalu dengan cuek dan sibuk mengobrol dengan stafnya yang lain.
"Hmmmm. Waduh… hmmmhh… ckck" Naruto bergumam tidak jelas dan spontan membuat Shion curiga.
"Hei, ada apa Naruto?"
"Hmmm… ah, tidak…"
"KATAKAN!" Shion mencekik leher Naruto dengan pelan.
"Awawaw, iya, iya. Uhuk, uhuk!"
"Begini, Shion… tadi pagi Karin mampir ke rumahku mengunjungi Papa dan Mama, tapi dia datang sambil jutek dan marah-marah. Waktu kutanya ada apa, dia bilang kalau ada cewek menyebalkan berambut pink yang tinggal di rumah Teme! Karin cemburu berat! Tapi, pffftt, aku senaaaang sekali melihat Karin bete gitu. Dia selalu nakal dan mencurangiku sejak kecil, aku suka sekali melihat dia marah-marah gitu. Hahaha" jelas Naruto panjang lebar.
"Huh, gadis merah itu ya? Sorry Naruto, aku tahu dia itu sepupumu, tapi aku sangat tidak suka padanya"
"Eh?! Tapi kamu kan fansnya orang-orang cakeep?" seru Naruto
"Ya, dia memang sangat cantik, tapi yang bikin aku benci padanya, dia terlalu sempurna. Bahkan tanpa sentuhan artistikku untuk me-makeover, dia sudah sangat mahir. Selain itu sifatnya jelek banget. Aku juga sedikit aneh pada diriku sendiri. Aku semacam punya sense untuk menilai seseorang dalam sekali lihat" Shion mengomel sambil mengetuk-ketuk jarinya pada meja.
"Lalu? Apa pendapatmu tentangku?" Naruto meringis lebar sambil meletakkan dua telunjuknya pada kedua pipi.
"Kamu mau jawaban jujur atau jawaban yang menyenangkan hatimu?" Shion melirik Naruto dengan pandangan remeh lalu berjalan pergi meninggalkan Naruto yang membeku dan lemas dalam seketika.
.
.
14.22
"Terima kasih atas kerja keras kalian. Aku pergi dulu" pamit Sasuke pada teman-temannya.
"Wooooiii curang pulang duluan! ini masih siang tahu!" protes Naruto.
"Gak boleh pulang! Kerjaan numpuk!" Shion menyilangkan tangannya di dada dan berdiri menghalangi jalan Sasuke.
Sasuke tahu Shion sangat ngefans pada Sakura. Dia menggunakannya sebagai senjata.
"Apa iya aku gak boleh pulang untuk Sakura?" Sasuke memandang remeh Shion sambil menyeringai penuh kemenangan.
"Wah! Kamu gak bilang dari tadi. Ya sudah, sampaikan salamku untuknya ya" Shion pun minggir.
"Salamku juga, salamku juga! Bilangin 'I Love You'" teriak Naruto dari kejauhan yang membuat Sasuke menoleh tajam dan memberi deathglare.
.
.
Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi Fakultas Seni. Jam segini pasti gak ada kuliah lagi. Paling-paling dia sedang melukis di studio atau perpustakaan Seni. Pasti di dua tempat itu. Tebak Sasuke.
Dugaan Sasuke benar. Selang 10 menit dia menunggu di parkiran studio, matanya menangkap sosok cantik Sakura dengan blus pendek tanpa lengan warna peach dengan celana warna teal, serta apron khaki yang belepotan cat minyak sedang keluar dari studio dan meregangkan kedua tangannya.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Sasuke mengambil SLRnya dan mengambil gambar Sakura yang sedang melemaskan jari-jarinya dengan rambut panjang tergerai yang tertiup angin sepoi.
Sasuke keluar dari Nissan Skylinenya dan berjalan menuju gadis pink yang tidak menyadari keberadaannya.
"Ouch, dingin!" Sasuke menempelkan cola dingin pada pipi Sakura.
"Sasuke-kun?!"
"Capek?"
"Sedikit"
"Sakura"
"Hm?"
"'I Love You'"
…
…
…
Angin berhembus pelan mengisi kesunyian interval setelah Sasuke mengatakan kata cinta pada Sakura. Emerald Sakura membelalak dengan sukses.
"Salam dari Naruto. Katanya 'I Love You'" jelas Sasuke pada akhirnya sambil tertawa renyah.
Geez, aku terlanjur kaget dan malu banget Sakura menggerutu dalam hati dan mengocok colanya kencang-kencang.
"Kamu tertipu ya? Kamu pikir aku menyatakan cinta padamu?" Sasuke tertawa dan memperhatikan pipi Sakura yang semakin merah.
"Baka! Aku gak akan tertipu dengan perangaimu " saking gugupnya Sakura membuka colanya dan…
CCRASSSS
Air soda memuncrat membasahi Sasuke dan Sakura yang duduk berdekatan pada anak tangga.
Mereka saling berpandangan.
…
"Buh. Hahaha" mereka berdua menertawai diri mereka sendiri yang tampak kacau dengan air soda di wajah mereka. Cahaya matahari sore menyinari mereka dengan hangat,
"Sasuke-kun…"
"Hm?"
"Maaf ya…"
"Maaf untuk..?"
"Apapun. Aku berhutang banyak padamu" Sakura tulus mengatakannya dan mengelap pipinya menggunakan apronnya.
Tiba-tiba Sasuke menyingkirkan apron Sakura dan menyeka cola di wajah Sakura dengan telapak tangannya. Sakura terperangah sampai Sasuke berhasil membersihkan seluruh sisa cola.
Keheningan menyeruak.
Sakura balas membersihkan wajah Sasuke dengan tangan telanjangnya. Kini giliran Sasuke yang terperangah dan terpana melihat mata Sakura saat tangan mungil itu menyentuh, mengelus, menyeka pipinya.
Dipegangnya pergelangan tangan Sakura yang tengah menyentuh pipinya. Membuat suasana di tengah mereka berdua sangat tegang. Lagi.
Setelah saling memandang dalam diam, Sasuke menurunkan tangan Sakura dan melepas tangannya.
"Ayo pulang"
.
.
Tiba di apartemen.
Sasuke menatap Sakura tidak percaya. Gadis itu membawa futon putih murahan property kampus ke dalam apartemen fancynya. Futon itu diletakkan tepat di samping kanan kolong queen bed Sasuke.
Dia menyilangkan tangan dan berdiri di depan pintu kamar dengan muka yang sangat tidak senang.
"Aku dapat pinjaman dari ketua klub lukis, katanya aku bisa memakai futon ini. Nah! Dengan begini, kita tidak perlu rebutan kamar atau sofa lagi. Hehehe" Sakura menepuk telapak tangannya membersihkan debu yang menempel.
"Sebel. Kenapa tidak minta kubelikan saja? Lihat saja benda itu! Rongsokan dan jelek banget tahu gak?" Sasuke menunjuk-nunjuk futon itu.
"Apa sih? Sudah dipinjami masih mau protes juga? Lagian nanti yang pakai juga aku"
"Atau mending kita pindah saja? Cari apartemen dengan dua kamar?" tanya Sasuke dengan was-was. Sebenarnya bukan futon itu yang salah, tapi Sasuke benci karena tidak bisa tidur seranjang lagi dengan Sakura.
"Yang benar saja! Pemborosan! Ya sudah kalau tidak boleh ditaruh disini, akan kutaruh di ruang tamu. Aku akan tidur di ruang tamu! Nanti aku akan bangun lebih pagi setiap harinya agar Sasuke-kun tidak perlu melihat futon JELEK ini" Sakura bersiap mengangkat kembali futon itu, tapi Sasuke buru-buru mendekatinya dan menahannya.
"Jangan!"
"WHY?!"
"Nanti ruang tamuku kotor" jawab Sasuke dengan alasan yang sudah sangat mainstream di antara mereka berdua. Yah, alasan sebenarnya Sasuke sih, tidak mau berpisah ruang dengan Sakura.
"Sudah kubilang nanti kubersihkan!"
"Sudahlah, taruh disini saja" Sasuke berlalu dan menuju kamar mandi.
Huh dasar labil batin Sakura.
.
.
Malam itu suasana begitu tenang. Sasuke sibuk mengetik sesuatu di laptop Applenya sejak dua jam yang lalu. Sakura tidak mau menanyainya atau mengganggunya karena adalah suatu anugerah saat Mr. Uchiha Sasuke tidak mengganggu aktifitasnya.
Sakura sedang menonton anime di TV, sambil sesekali melirik Sasuke yang begitu sibuk dengan dokumennya. Kadang sakura mendelik heran saat melihat Sasuke bereaksi berlebihan dengan dokumennya sendiri.
Kadang cowok raven itu manggut-manggut puas, tapi lalu tiba-tiba kedua alis hitamnya bertaut tajam, tak lama kemudian tertawa sendiri, lalu berpikir keras dengan meletakkan genggaman tangan di depan mulutnya, kemudian berdecak kecewa dan terlihat sedang mengulangi kata-kata dalam dokumennya.
Anime yang ditonton Sakura kalah dengan pemandangan aneh Sasuke yang sedang kebingungan. Sakura merasa tingkah cowok dingin itu jauh lebih menarik daripada karakter pangeran dalam animenya.
Sasuke merasa dirinya sedang diperhatikan lalu memandang tajam Sakura seakan berkata Apa lihat-lihat? Sakura kemudian menggeleng dan mengalihkan pandangannya ke TV lagi.
Setelah Sasuke terfokus pada TV, Sasuke kemali berkutat dengan laptopnya. Sakura terkikik melihat Sasuke meremas rambut emo jabriknya dengan frustasi. Cowok sok pintar dan sombong itu bisa stress juga ternyata.
.
.
22.00
Sakura menguap dan menutup box cheese sticknya. Dilihatnya meja kerja Sasuke yang sudah kosong. Sudah tidur rupanya.
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Sakura berjalan menuju futon tebalnya pelan-pelan agar Sasuke tidak terbangun, tapi betapa kagetnya Sakura saat mendapati cowok raven itu sedang berbaring miring membelakanginya di atas futon.
"Hya, Sasuke-kun! Ngapain tidur disini?"
"Aku gerah tidur di bed" jawabnya tanpa mengalihkan wajahnya.
"Banguuun. Disini keras dan nanti kamu masuk angin!" Sakura menarik-narik lengan Sasuke agar dia mau bangkit.
Sasuke menarik tangannya, "Gak mau! Kamu aja yang di bed!"
"Sasuke-kun!"
"…"
"SASUKE-KUN!"
"Cerewet! Aku ngantuk! Cepat tidur sana!" Sasuke malah membungkus tubuhnya lebih erat pada futon itu.
Sakura cemberut dan terpaksa menaiki bed Sasuke. Dia menyelimuti tubuhnya sambil melirik gundukan Sasuke di sebelahnya.
"Gomen Sasuke-kun…"
"Sasuke sudah tidur" jawab Sasuke.
Sakura tersenyum.
Sakura memiringkan tubuhnya menghadap gundukan futon Sasuke. Sasuke memandang pantulan wajah Sakura yang juga sedang memandangnya dari pantulan kaca di depannya.
Dan Sakura tahu, saat itulah dia merasakan sepercik kecil kehangatan timbul di hatinya semenjak terakhir kali dia merasakannya saat Ayahnya masih ada.
.
.
.
Hontou-hontou Arigatou Gozaimasuuuu!
Berkat minna-san yang sudah berbaik hati mengikuti cerita dan memberi dukungan lewat fav, follow, review, dan visitnya, akhirnya saya menyempatkan diri update Eyes di tengah-tengah kantung mata yang memiliki kantung mata dan encok yang pegal-pegal. Hahaha.
#nasiborangtua
I LOVE YOU
#peluksatusatu
Review Please?
Mother CHANYOU
