… Tidak ada satu apapun yang lebih indah dan jahat selain sorot tajam matamu …
NARUTO, always belong to Masashi Kishimoto
-Author alay mulai berimajinasi liar lagi. Kukuku-
WARN
Bad Sasuke, Lemon, Absolutely Rate M, AU, Typo, No Flame, Don't Like Don't Read
.
.
.
PERJANJIAN KONTRAK
Pihak Pertama : Uchiha Sasuke
Pihak Kedua : Haruno Sakura
Dalam surat perjanjian ini, akan ditetapkan hak dan kewajiban masing-masing pihak. Isi surat ini bersifat mengikat dan tidak boleh diganggu gugat setelah kedua belah pihak saling sepakat dengan bukti memberi tanda tangan pada akhir surat.
1 Pihak Pertama wajib memenuhi kebutuhan sehari-hari Pihak Kedua.
2 Pihak Kedua HARUS menjadi model secara professional.
3 Pihak Kedua dilarang menolak pemberian yang diberikan oleh Pihak Pertama (kecuali jika pemberian tersebut mengandung bahaya)
4 Pihak Pertama dapat memutuskan hubungan kontrak sewaktu-waktu, namun Pihak Kedua tidak memiliki hak itu.
5 Pihak Kedua dilarang meninggalkan Pihak Pertama sampai kontrak ini berakhir.
6 Pihak Kedua akan mendapatkan 1 (satu) hari bebas dalam satu bulan untuk melakukan aktifitas apapun yang dia sukai.
7 Pihak Kedua dilarang berhubungan romantis (baca : PACARAN DAN ATAU MENIKAH) dengan orang lain selama kontrak ini masih berlaku.
8 Pihak Kedua wajib melayani kebutuhan pangan (MASAK) untuk Pihak Pertama.
9 Pihak Kedua bebas memiliki akses terhadap harta benda milik Pihak Pertama (kecuali ponsel)
10 Pihak Pertama dan Pihak Kedua HARUS tinggal bersama sampai masa kontrak habis.
Hal-hal yang belum dicantumkan bisa ditambahkan kelak. Sekali lagi, kontrak ini bersifat mengikat, dan jika Pihak Kedua melanggar salah satu atau lebih dari aturan di atas, maka Pihak Pertama berhak sepenuhnya untuk memberi sanksi atau hukuman pada Pihak kedua. Adapun jenis hukuman tidak akan disebutkan.
Tertanda,
Pihak Pertama,
_._
Uchiha Sasuke
.
Menyetujui,
Pihak Kedua,
_._
Haruno Sakura
.
.
"Apa ini? Surat ini benar-benar berat sebelah!" Sakura meletakkan surat perjanjian itu di meja dan menyilangkan tangannya.
Jadi ini, yang membuat Sasuke-kun serius banget dengan laptopnya tadi malam…
Dibalik wajah meremehkannya, inner Sasuke sedang berpikir keras. Bagaimana caranya supaya harga dirinya tetap terlihat tinggi dan mampu membuat Sakura menandatangani kontrak itu.
"Apanya yang berat sebelah?!" Sasuke mengerutkan alisnya.
"Menjadi model secara professional? Oke, aku akan berusaha. Tapi kenapa Pihak Pertama bisa memutus kontrak tapi sebaliknya aku tidak?!"
"Karena aku yang bikin kontrak"
"Terus ini, aku tidak boleh meninggalkan Sasuke-kun? Dan tidak boleh pacaran? Gini ya Mr. Uchiha, saya memang tidak akan pacaran sebelum kuliahku selesai. Tapi apa hakmu melarangku seperti itu?"
Apa? Dia tidak mau pacaran sampai lulus kuliah? Apa-apaan? Batin Sasuke.
"Karena model terkenal yang punya gossip miring sangat tidak menguntungkan buatku"
"Aku kan bukan model terkenal"
"Belum. Kamu akan segera menjadi terkenal berkat aku"
Sakura menggelengkan kepalanya kaget dan mengerjapkan matanya. Lalu melanjutkan, "Libur cuma satu hari dalam sebulan? Tidak masuk akal!"
Sasuke pun merasa keterlaluan dengan aturan yang satu itu. "Oke, satu kali dalam seminggu" katanya sambil mencoret kata bulan. Ada lagi?"
"Ini, ini, kenapa aku harus jadi juru masakmu? Sebenarnya aku ini model atau housekeeper sih?"
"Kamu kan dapat poin nomor 9, semua harta bendaku milikmu juga" jawab Sasuke sambil melirik kanan-kiri di interior apartemennya yang mewah ini.
Sakura mendengus dan lanjut membahas poin terakhir.
"Tinggal bersama? Sasuke-kun, sebenarnya kontrak ini berlaku sampai kapan? Aku tidak bisa menumpang disini terus menerus. Setelah uangku cukup, paling tidak cukup untuk menyewa apartemen kecil, aku akan segera pergi dari sini, dan Sasuke-kun tidak berhak melarangku menyewa apartemen!" Sakura mengoceh sambil meremas-remas ujung kaos putihnya.
"Ya. Aku tidak akan melarangmu"
Sakura berhenti meremas dan bibirnya mengembangkan sedikit senyum kemenangan.
"Kamu berhak banget punya apartemen lain, atau bahkan rumah mewah. TAPI kamu tetap harus tinggal bersamaku DISINI" Sasuke melayangkan pandangan kemenangan telak.
"Yang benar saja! Terus ngapain aku punya rumah mewah kalau aku nya masih ikut Sasuke-kun disini?"
"Makanya, aku kan sudah bilang, aku tidak melarangmu menyewa apartemen. Go on. Tapi kamu tetap disini"
"Dan ini lagi, sanksi atau hukumannya kenapa tidak dicantumkan? Bagaimana aku biasa tahu Sasuke-kun tidak akan Ecchi padaku!"
"Wah, kamu kok berpikir sampai kesitu? Ckck, Sakura… kamu Ecchi juga ya" goda Sasuke.
"Hish, bukan itu maksudku. Justru itu aku ingin mengantisipasi ke-Ecchi-an Sasuke-kun!"
Sasuke diam dan tersenyum miring.
"Sasuke-kun… !"
"Titik. Enough"
Sakura menunduk lemas dan menjatuhkan dahi lebarnya di coffee table. Lengannya terkulai lemas.
"Sudahlah, jangan sedih begitu. Kamu tahu kan? Fotomu kemarin dapat tanggapan positif dari Nara Corp, perusahaan di bidang publishing. Dan kamu akan jadi langganan majalah fashion mereka"
"Eh? Benarkah?"
Sasuke tersenyum miring dan bangkit menuju laptop Applenya untuk mengedit kata 'bulan' ke 'minggu'. Dia segera mencetaknya dan menyodorkannya pada Sakura untuk ditandatangani.
Sakura memandangi kertas itu cukup lama. Dia berpikir apakah langkah yang diambilnya ini tidak salah?
Sasuke was-was jangan sampai Sakura menolak kontraknya dan pergi meninggalkannya saat itu juga. Sakura adalah aset berharga untuk pekerjaannya, dan tidak bisa dipungkiri lagi jika kehadiran Sakura dalam kehidupannya akhir-akhir ini telah membuatnya merasa lebih… sebut saja… nyaman.
SET SET SET
Sasuke menghembuskan nafas lega. Gadis manis polos itu akhirnya menandatangani surat perjanjian mereka. Kini giliran Sasuke bertandatangan. Sedingin-dinginnya Sasuke, dia tidak bisa menyembunyikan senyum puasnya.
Sakura masih cemberut, tapi dia benar-benar tidak ada pilihan lain. Saat ini, tempat tinggal, pekerjaan yang layak, dan keamanan seorang gadis adalah sesuatu yang sangat dibutuhkannya.
.
.
"Yak, bagus. Hebat… cantik sekali. Coba senyum dan menghadap jendela… yak, good" salah satu staf Sasuke sedang memotret Sakura dengan cekatan.
Mereka sedang mengambil gambar dengan setting dapur dan kebun untuk majalah hobi. Ini baru jiwa Sakura. Dapur adalah kerajaan Sakura sehari-hari, sedangkan selain melukis, berkebun adalah hobinya.
Sakura sedang berperan sebagai istri dari pasangan pengantin muda yang baru menikah. Pasangannya adalah model rookie juga yang bernama Neji.
Neji adalah penyanyi solo yang baru-baru ini mulai mencoba peruntungannya di bidang modeling. Cowok tinggi yang wajahnya calm dan cara bicaranya sangat santun. Chemistry mereka berdua sangat bagus.
"Hoi, Teme! Kamu gak jealous?" bisik Naruto sambil menyikut lengan Sasuke. Mereka berdua mengamati Neji dan Sakura yang sedang berpose di kebun. Sakura sedang menyiram Neji dengan aliran kecil air dari sprinkler. Neji yang sedang menanam bibit tulip terlihat menghindar dan tertawa natural.
"Gak. Aku suka mereka sangat natural dengan konsep ini" Sasuke menyilangkan tangannya di dada dan terlihat tersenyum puas.
"Be-nar-kaaaah?" selidik Naruto tidak percaya.
"Geez. Untuk apa aku cemburu segala"
"Kamu kan suka sama Sakura-chan!"
"Bodoh! Aku tidak menyukainya"
"Be-nar-kaaaaah?" goda Naruto lagi.
Sasuke melirik Naruto dengan pandangan menusuk.
"Kalau begitu Sakura-chan sama aku saja ya?"
"Berisik banget. Sana edit foto yang tadi!" usir Sasuke.
"Huh. Sialan!" gerutu Naruto yang menendang pelan pergelangan kaki Sasuke sambil berlalu. Yah, tapi saat ini Sasuke memang sangat suka melihat akting natural Sakura. Dan lagi, Uchiha Sasuke adalah seorang professional kan? Tidak ada alasan untuknya mencampuradukkan perasaan pribadi dengan pekerjaan.
Tapi tunggu, bukannya dia barusan sudah mengatakan kalau tidak ada perasaan pada Sakura? Yah, waktu akan menjawab.
.
.
Waktu istirahat.
Hari ini sesi foto yang harus dilakukan cukup banyak. Karena konsep pengantin baru tadi berjalan lancar, Sakura lanjut berpose untuk iklan lipstik di majalah fashion. Kini saat semua staf sedang makan siang, Sakura mengambil jatah bentonya dan makan di taman.
"Hmmm. Oishiii" Sakura mengunyah chicken katsunya dengan senang tanpa sadar kalau Sasuke sedang menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
"Kamu terlihat begitu nyaman kalau bukan aku yang jadi fotografernya" kata Sasuke sambil membuka kopi kalengnya.
"Gak ada hubungannya kok. Aku kan memang berusaha keras. Eh? Sasuke-kun tidak makan siang?" Sakura menyadari Sasuke yang hanya meminum kopi dan tidak membawa bento yang sudah disiapkan stafnya.
"….." dia tidak menjawab dan malah mengalihkan mukanya ke arah lain.
"Kenapa tidak makan? Kuambilkan bento ya?"
"Gak usah"
"Rewel amat?"
"akucumamaumasakanmu" jawab Sasuke cepat.
"Hah, apa?" Sakura tidak mendengarnya dengan jelas.
"Lupakan"
Sakura menaikkan bahunya dan lanjut makan.
"Hmmm, enakkkk…" lagi-lagi Sakura mengunyah sambil tersenyum senang. Sasuke yang melihatnya ikutan tersenyum melihat ekspresi Sakura.
KRYUUUUKK
Sasuke memegangi perutnya dan pipinya menjadi pink. Sakura menganga memandanginya.
"Dasar-Tuan-Harga-Diri. Aaaa" Sakura menyuapkan sepotong katsu ke mulut Sasuke.
Sasuke menggeleng dan menjauhkan wajahnya dengan mata yang fokus pada katsu di sumpit Sakura.
"Pihak Kedua wajib melayani kebutuhan pangan untuk Pihak Pertama. Poin ke delapan, ingat?" kini Sakura menyatu dengan kontraknya. Karena Sakura mengingatnya, inner Sasuke sangat bahagia, dan kini mulut kecilnya terbuka untuk memakan suapan Sakura.
CKRIKK
"Yooooshhhh! Aku berhasil mendapat gambar fenomenal di kantor kita!" Naruto mengacung-acungkan kamera. Rupanya dia berhasil memotret momen Sasuke sedang memejamkan mata dan membuka mulutnya untuk disuapi.
Muka Sasuke langsung memerah dan mengacungkan jari tengahnya ke arah Naruto. Sasuke langsung berlari menuju Naruto untuk merebut kamera. Tapi Naruto dengan gesit segera berlari menghilang dari balik pohon.
"Sasuke-kuuun, makan dulu!" teriak Sakura.
Sasuke tetap berlari sambil menoleh ke Sakura, menatapnya dengan pandangan semua-ini-gara-gara-kamu.
Sakura tertawa dan melanjutkan makan siangnya yang sangat menyenangkan.
.
.
Warna api sudah mulai menjalari langit, aktifitas di SS art STUDIO juga sudah mulai usai. Setelah berpamitan dengan teman-temannya, Sasuke dan Sakura pun bergegas pulang.
"Sasuke-kun…" ucap Sakura saat mereka mulai memasuki mobil dan memasang seat belt.
"Hm"
"Boleh kita mampir sebentar ke suatu tempat?"
"Mau kemana?"
"Ada deh… nanti kutunjukkan jalannya…"
.
.
Sasuke memandangi punggung mungil yang sedang membelakanginya. Gadis manis itu sedang berjongkok dan berdoa di depan dua batu nisan yang berukir marga 'Haruno'. Sasuke memang tidak pernah mengenal Sakura dan masa lalunya. Dia pun ikut berjongkok dan melakukan hal yang sama dengan Sakura.
Diliriknya Sakura yang sedang mengatupkan kedua telapak tangannya dengan mata terpejam. Cukup lama Sasuke memandangi Sakura sampai akhirnya gadis itu membuka kedua mata hijaunya.
Sakura menoleh ke arah Sasuke dan tersenyum. Senyum yang sedikit sedih di mata Sasuke.
.
.
"Sakura, sini deh" Sasuke menggerak-gerakkan tangannya memanggil Sakura untuk duduk di sebelahnya.
"Ada apa?" Sakura menghampiri Sasuke.
"Salary" Sasuke menyodorkan amplop putih.
"Wah, arigatou, Sasuke-kun" seru Sakura senang.
"Karena kamu sudah gajian, ayo traktir aku makan" Sasuke memandang amplop putih itu.
"Yah! Gitu ya? Kenapa bukan Sasuke-kun saja yang traktir aku?"
"Cerewet. Ayolah, sekali-kali. Poin delapan, remember?" Sasuke berdiri dan menarik pergelangan tangan Sakura.
.
.
Sasuke dan Sakura berjalan beriringan di trotoar yang ramai dengan orang-orang yang sedang berlalu lalang. Sudah satu jam Sasuke dan Sakura mondar-mandir kesana kemari tanpa tujuan. Setelah saling berargumen mengenai menu makanan apa yang akan mereka santap, akhirnya sudah diputuskan untuk menikmati Yakiniku.
"Ahh, lama sekali matangnya" gerutu Sasuke sambil menusuk-nusuk daging yang sedang dipanggangnya dengan sumpit.
"Ya ampun, sabar sedikit donk… salah siapa minta makan malam disini?"
"Habisnya, disini adalah resto Yakiniku favoritku. Tapi lho, lama banget matangnya" Sasuke menyandarkan punggungnya dengan kesal dan mengelus-elus perut datarnya yang meronta kelaparan dari tadi. Sakura terkikik dan membolak-balik dagingnya.
"Nih, sudah matang. Yuk makan, itadakimaa-"
"Stop!"
"Eh? Sakura yang terlanjur membuka mulutnya menganga kaget dengan daging yang sudah bertengger di sumpitnya.
Sasuke mengambil kamera SLRnya lalu bersiap memotret Sakura.
"Ya ampuuun, makan dulu!" Sakura meletakkan dagingnya kembali dan menutup lensa kamera Sasuke.
Sasuke menepuk punggung tangan Sakura. "Sudah, amatir jangan ikutan. Makan sana!"
Sakura manyun dan lanjut makan. Pasti dia mau main potret seenaknya lagi deh Batin Sakura sambil melahap daging.
CKRIKK
Tuh, kan?
"Itadakimasu" Sasuke langsung mengambil tiga potong daging dan melahapnya. Mata onyxnya terpejam menikmati lezatnya Yakinikunya.
.
Sasuke menusuk-nusuk porsi terakhir dagingnya. Sakura menyeruput ocha dinginnya.
"Sakura"
"Hm?" Sakura melirik Sasuke dari balik mug besarnya.
"Kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Pertemuan pertama kita adalah saat kamu bekerja di café konyol itu"
"Hehe, iya, dan terima kasih banyak Sasuke-kun selalu muncul di saat yang tepat"
"Dulu kamu sekolah dimana?"
"Di sekolah negeri sini saja, dari Kindergarten sampai SMA. Kalau Sasuke-kun?"
"Kampung halamanku di Osaka. Masa kecilku di Inggris sama Kakek Madara. Tapi sejak SMA aku pulang ke Jepang"
"Wah? Punya rumah di luar negeri? Hebat!"
"Apanya yang hebat"
"Terus kenapa tidak kuliah di luar negeri saja? Kalau tidak salah Sasuke-kun juga kuliah di Fakultas Seni Todai kan?"
"Ya, sejak SMA aku meninggalkan Osaka untuk berusaha dengan tanganku sendiri. Tokyo menjadi tujuan utamaku"
"Kamu sangat berbakat dalam bidang seni. Kenapa tidak kuliah di Paris saja?"
"Lupakan. Terus, kampung halamanmu dimana?" Sasuke menggigit Yakiniku panasnya.
"Sama kayak Sasuke-kun" Sakura tersenyum simpul.
"Yang benar? Lalu kenapa pindah ke Tokyo?"
Sakura tersenyum getir.
Dia pun menceritakan masa lalu kedua orang tuanya yang menjadi korban cinta yang tidak direstui, kehidupan baru keluarganya, juga dirinya yang tidak pernah melihat eksistensi Ibunya seumur hidupnya. Tidak lupa Sakura juga menceritakan kronologi kematian Ayahnya dan menyebabkan kehidupan Sakura berputar 180 derajat.
Sasuke menumpukan kedua tangannya di depan bibirnya menyimak cerita Sakura dengan sungguh-sungguh.
"Ah, sudahlah Sasuke-kun. Aku juga tidak akan mengganggu kehidupanmu terlalu lama kok. Hehe" Sakura menggaruk pipinya dengan telunjuk.
"Dasar bodoh. Sudah lupa isi kontraknya ya?"
Ups, iya.
"Jangan coba-coba kabur selama masih ada aku" Sasuke meneguk sakenya.
"Aku jadi penasaran…" Sakura memandangi ochanya.
"Apa?"
"Sampai kapan kontrak ini berlaku? Sampai kapan aku harus terikat dengan Sasuke-kun?"
Sasuke tidak menjawab dan tersenyum sambil mengambil daging terakhir di atas pemanggang.
.
.
Sasuke terus menggerutu dan membolak-balik badannya ke kanan dan ke kiri di atas futon payah milik Sakura.
Futon sialan ini jelek sekali dan gataaaaaaal!
Sasuke bangun dan berkacak pinggang dengan sebal. Ditendangnya futon tebal tidak berdaya itu keras-keras. Dia mengambil air dingin dan berjalan menuju dinding kaca di kamarnya mengamati pemandangan malam Tokyo.
Pantulan wajah pulas Sakura yang sedang terlelap di atas queen bednya mengalihkan pandangan Sasuke. Dihampirinya gadis cerewet itu dan duduk di sampingnya.
Wajah tidur Sakura terlihat sangat teduh dan menyenagkan untuk dilihat. Sasuke mengelus pipi Sakura. Dia tersenyum kecil saat ingat pertengkaran kecil mereka gara-gara berebut tidur di futon tadi. Sasuke memang benci sekali pada futon itu, tapi dia lebih benci lagi kalau Sakura yang tidur di atas futon itu.
Dibelainya lagi pipi Sakura. Tiba-tiba sebutir air mata menuruni pipi lembut itu.
"Ayah…" rintihnya.
Tiba-tiba Sasuke merasakan adanya sedikit lubang di hatinya mengingat cerita-cerita Sakura tadi.
Gadis ini sangat tegar dan pantang menyerah. Dia memang bukan tipeku. Sangat bukan tipeku. Bahkan sangat menyebalkan. Tapi kenapa aku tidak pernah bisa melihatnya terluka. Aku selalu ingin membantunya setiap saat. Dan itu juga membuatku sangat sebal.
.
.
"Ohayou" Sasuke dan Sakura berhadap-hadapan dalam bangun tidur mereka. Dalam keadaan berpelukan.
"GYAAAAAAAAAAAAAA!"
.
.
Sasuke sedang dressing up dengan kaos hitam SUPREME, ripped jeans hitam, dan sepatu sneakers NB hitam putih saat dilihatnya Sakura masih santai menonton TV sambil memakan camilan potato chips.
"Sakura"
"Hm?" jawab Sakura tanpa menoleh.
"Cepat mandi, kita segera berangkat" Sasuke sibuk memasang aksesoriesnya seperti tindik dark silvernya, beberapa cincin hitam dan silver yang diletakkan di ibu jari kiri dan telunjuk, serta jam tangan Rolex di tangan kanannya.
"Mau kemana? Ini kan hari Sabtu. Kantor libur" Sakura masih asyik mengunyah keripiknya.
KLIK
Sasuke mematikan TV itu dan berdiri menjulang di depan Sakura.
"Sasuke-kun!"
"Cepat mandi. Dan pakailah baju yang bagus. Kutunggu di basement" jawab Sasuke sambil berlalu.
.
.
Sasuke sibuk membetulkan tatanan rambut emonya sambil menatap kaca spion samping. Dilihatnya Sakura berjalan ke arahnya dengan mengenakan ripped jeans warna biru, tanktop warna lavender yang dilengkapi blazer warna biru. Kaki jenjangnya dihiasi wedges berbahan kulit warna coklat. Rambut panjangnya dikepang dan diletakkan menyamping di bahu depan.
"Sudah kubilnag pakai baju yang bagus malah pakai jeans belel begitu" kata Sasuke sesudah mereka berangkat.
"Sasuke-kun sendiri juga pakai jeans belel"
"Aku kan cowok"
"Yeei, tidak ada hubungannya" protes Sakura.
Mobil berhenti di traffic lamp.
"Sasuke-kun"
"Hm"
"Kita mau kemana sih?"
"Osaka"
"Apa?! Tidak! Aku pulang saja!" Sakura bersiap-siap membuka pintu mobil.
"Tidak boleh! Hari ini kamu harus menemaniku menemui Tou-san dan Kaa-san" Sasuke mencengkeram lengan Sakura.
"Tidak mau! Pergilah sendiri, aku baik-baik saja di rumah"
Lampu hijau menyala dan Sasuke tersenyum penuh kemenangan lalu menginjak gas mobil dengan kencang.
.
.
Tiba di Bandara Internasional Kansai.
Sakura serasa masih jetlagged gara-gara trip mendadak ini. Semua ini gara-gara Sasuke. Di dalam taxi menuju rumah Sasuke, Sakura terus diam dan menggerutu dalam hati. Dia berencana istirahat hari ini setelah semua yang dialaminya sepekan ini.
Tangan Sakura menopang dagunya di pintu penumpang. Wajah keruhnya menghadap jalanan Osaka yang sangat bersih dan rapi.
Diliriknya Sasuke yang tetap cuek dan main game di iPhonenya.
Hhhhhh
Sakura menghela nafas dan pasrah dengan keadaan. Bisa apa dia? Kaki sudah terlanjur melangkah di kota orang.
Sebenarnya bukan masalah ingin beristirahat saja, yang membuat Sakura begitu kesal adalah kenapa dia dibawa-bawa Sasuke menuju rumah orang tuanya? Nanti kalau mereka salah paham bagaimana? Salah paham tentang hubungan mereka. Apalagi Sakura hanyalah gadis asing yang tiba-tiba tinggal seatap dengan putra mereka. Ini sungguh pertemuan yang menyebalkan.
Ya, baru saja kita mendengarkan suara merdu Yui. Sekarang kita beralih ke berita terbaru yang sedang hangat di Osaka
Suara radio mengisi keheningan di antara mereka.
Mantan Walikota legendaris kita, Jiraiya-sama hari ini masuk ke RS Osaka karena menderita kanker hati. Walikota yang memimpin kita semua selama berpuluh tahun itu kini sedang berjuang melawan penyakitnya di ruang operasi. Dikabarkan bahwa operasi itu akan dilangsungkan siang ini.
DEG
Sakura sangat mengetahui nama itu. Sangat.
Dia adalah kakeknya. Ayah dari Ibunya.
Sakura ingat di masa kecilnya, saat dia dan Ayahnya menonton acara TV, Ayahnya selalu mengatakan bahwa walikota hebat itu adalah kakeknya. Ayahnya selalu mengagumi kakeknya walau gara-gara dialah nasib keluarga Sakura menjadi runyam.
Sakura ingat raut wajah Ayahnya yang selalu terlihat bangga dan senang tiap kali kakeknya muncul di TV dengan segudang prestasi yang dicapainya.
Tapi.
Sakura sangat membenci kakek itu. Orang tua yang sudah membuat keluarganya hancur. Sakura ingin mengenyahkan semua pikiran tentang keluarganya. Dia sekarang hanyalah seorang gadis dengan perjuangan untuk masa depannya sendiri.
"ra?"
"SAKURA"
"Eh? I, iya?" Sakura tenggelam terlalu dalam dengan pikirannya sehingga tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai di gerbang rumah Uchiha.
"Kita sudah sampai. Ayo turun"
Sakura memandangi gerbang megah dengan nuansa tradisional di depannya. Bahkan untuk melihat puncak atap gerbang itu Sakura harus mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi.
Tiba-tiba seseorang membukakan gerbang itu.
"Sasuke-sama, senangnya. Selamat datang" sapa pelayan Sasuke. Sasuke tersenyum tipis dan menggandeng tangan Sakura menuju rumah utama.
"Hei, lepaskan tanganku" bisik Sakura.
"Diam" jawab Sasuke.
Mereka melewati koridor-koridor kayu yang sangat panjang. Sakura mengamati rumah besar ini dengan seksama. Di samping kiri terlihat taman zen yang ditata apik lengkap dengan kolam koi dan air mancur bambu. Sebuah pohon Sakura yang terlihat berumur ratusan tahun juga menghiasi taman itu. di dinding sebelah kanan, terlihat pajangan lukisan-lukisan tradisional yang sangat menawan. Di tiap pojok kanan bawah lukisan tersebut, terdapat inisial F.U.
Jadi pelukis terkenal Uchiha Fugaku itu Ayahnya Sasuke-kun…
"Sasuke-kun?" ucap suara teduh seorang wanita.
Sasuke dan Sakura menoleh bersamaan ke sumber suara tersebut. Terlihat seorang wanita cantik dengan rambut berwarna sama seperti Sasuke mengenakan kimono biru tua sedang berjalan ke arah mereka.
"Kaa-san" Sakura dapat melihat kilatan bahagia di mata Sasuke. Cowok emo itu memeluk ibunya.
Sakura ikut tersenyum melihat pemandangan itu. Pemandangan yang tidak akan pernah dia dapatkan untuk dirinya sendiri.
"Siapa gadis manis ini?" Ibu Sasuke memiringkan kepalanya. Sakura menunduk hormat.
"Salam kenal. Saya Haruno Sakura"
"Wah, nama yang manis. Kamu cantik sekali. Aku Mikoto. Sasuke-kun, dia pacarmu ya?"
"Bukan" Sasuke menggeleng dan memeluk pundak Ibunya.
"Ah, dasar anak muda. Tinggal mengaku saja sulit sekali. Ayo masuk, kita temui Tou-san" Uchiha Mikoto menggandeng lengan Sakura.
Sakura benar-benar merasa malu. Dia menemui keluarga Sasuke dengan memakai ripped jeans. Sungguh pertemuan yang payah. Dia melirik Mikoto di sebelahnya. Wanita itu sangat cantik, ramah, dan baik hati.
.
"Tou-san" Sasuke duduk bersila dan membungkuk hormat pada Ayahnya.
Sakura mengikuti gerakan Sasuke dengan wajar. "Salam kenal, Uchiha-sensei. Saya Haruno Sakura"
Ruangan Uchiha Fugaku terasa sangat beraura dan berwibawa. Sakura merasa tegang dan suasana dingin menyelimuti ruang ini. Uchiha Fugaku hanya melirik mereka berdua sebentar lalu melanjutkan aktifitas melukisnya.
Sakura melirik Sasuke yang juga terdiam dengan tegang. Jarang sekali dia melihat Sasuke takut pada seseorang. Tapi yah, ini kan Ayahnya. Sudah sepatutnya.
Fugaku meletakkan kuasnya dan menggeser tempat duduknya.
"Haruno-san. Coba kemari. Menurutmu apa kesan pertama saat kau melihat lukisan ini?"
Sakura siap-siap berdiri saat Sasuke menahan tangannya.
"Tou-san. Dia hanya temanku. Tidak perlu sampai seperti itu"
Fugaku mendelik ke arah Sasuke. "Kau tahu Tou-san selalu menilai orang dari sudut pandang dia melihat karya seni. Kemarilah Haruno-san"
Sasuke melepas genggamannya perlahan. "Tidak apa-apa Sasuke-kun. Kamu lupa kalau aku juga mahasiswi jurusan Seni?" bisik Sakura.
Sakura duduk di sebelah Fugaku dan mengamati lukisannya.
Walaupun Fugaku terkesan dingin dan jahat, lukisan-lukisannya selalu menggambarkan kehangatan alam. Seperti lukisan di depannya ini. Terlihat seekor burung kecil berwarna kuning sedang bertengger di cabang pohon plum.
"Boleh saya?" Sakura meminta ijin untuk mengamati lebih dekat.
"Go On"
"…."
Sakura mengamati cara pelukisnya menggores tinta dan gradasi warna pastel khas jepang yang memenuhi tiap permukaan kanvas.
Sakura sudah siap mengutarakan pendapatnya, tapi dia ragu-ragu. Diliriknya Sasuke dan Mikoto yang mengawasinya dengan tegang, lalu pandangannya beralih ke mata elang Fugaku.
"Silakan, Haruno-san"
"Baik. Menurut saya, lukisan ini sangat cantik dan penuh keindahan. Makna yang ingin disampaikan secara keseluruhan adalah sebuah atmosfer kehangatan yang meyelimuti burrung kecil ini… Tapi Fugaku-sama… saya melihat adanya sedikit kesedihan saat melihat burung ini" Sakura menjawab sambil menatap lekat-lekat mata Fugaku, sambil mencari-cari kira-kira kesedihan apa yang sedang dirasakan maestro hebat ini.
"Baik. Sudah cukup. Terima kasih"
Sakura kembali ke tempat duduknya di sebelah Sasuke.
"Aku ingin bicara berdua dengan Sasuke"
Sasuke menatap tajam Ayahnya dalam keheningan.
"Baiklah Sakura-san, ayo ikut aku" ajak Mikoto.
Sakura ber-ojigi dan keluar dari ruangan mencekam itu.
.
.
"Maafkan sikap suamiku ya? Dia memang begitu orangnya"
"Ah, tidak apa-apa Mikoto-sama…"
"Ah, panggil saja aku Oka-san, Sakura-chan pacarnya Sasuke-kun kan?"
Pipi Sakura berubah menjadi pink saat dia dipanggil dengan imbuhan –chan oleh Ibu Sasuke. Dia cepat-cepat menggeleng mengelak dari pernyataan bahwa dia adalah pacar Sasuke.
Mikoto tertawa kecil. "Sakura-chan, tolong temani aku ya? Mumpung aku ada teman… aku mau menjenguk kenalan di RS Osaka"
"Eh? RS Osaka?"
"Iya, beliau adalah guru Fugaku-san. Fugaku-san sudah menjenguknya kemarin tanpa mengajakku. Sekarang aku harus kesana. Beliau sudah seperti Ayah kami sendiri"
Sakura merasakan sesuatu yang tidak enak akan segera terjadi.
"Kamu pasti mengenal Walikota Jiraiya kan? Dia terkenal sekali di seluruh Jepang"
Sakura mengangguk dengan gugup. Dan Mikoto tidak mengetahui keringat dingin yang sedang membasahi pelipis Sakura.
.
.
Konnichiwa minna-san…
Wah, jarang banget update siang-siang begini. Gara-garanya tadi malam ketiduran setelah dapat 2K words. Hahaha. #payah
Hontooooooouuuu Arigatou buat minna-san yang terus support buat cepet-cepet update ini. Fav, follow, review, visit kalian membuatku merasa berhutang banyak kalau tidak segera meluncurkan chapter terbaru.
Yosh, please keep follow the story ya…
Aishiteru
Review Please?
Mother CHANYOU
