Tidak ada satu apapun yang lebih indah dan jahat selain sorot tajam matamu …

NARUTO, always belong to Masashi Kishimoto

-Author alay mulai berimajinasi liar lagi. Kukuku-

WARN

Bad Sasuke, Lemon, Absolutely Rate M, AU, Typo, No Flame, Don't Like Don't Read

.

.

.

Mikoto dan Sakura sedang berjalan mengitari rak-rak putih penuh bunga warna warni yang sedang bermekaran di sebuah toko bunga. Wanita anggun itu tersenyum dan bersenandung asyik memilih kira-kira bunga apa yang cocok untuk dibawanya ke RS Osaka menjenguk guru besar keluarganya.

Sakura mengekor dan menatap sendu bunga-bunga cantik tersebut. Dia sangat mencintai tanaman. Tapi saat ini, pikirannya terpecah membayangkan dirinya akan bertemu kakeknya. Seorang pria yang menjadi titik dendamnya. Seorang pria yang menyebabkan Ayah dan Ibunya mengalami kehidupan yang cukup pahit.

"Sakura-chan… apa kamu mempunyai ide untuk memilih bunga? Tolong bantu aku ya, aku sedikit bingung memilih bunga-bunga cantik ini. Andai bisa, kupilih semua jenis bunga, tapi kalau tidak salah ada bunga yang tidak pantas untuk dibawa menjenguk ya?"

Dengan pandangan tulus seorang Nyonya Uchiha, Sakura tidak bisa menolak dan menyembunyikan kesedihannya dengan senyuman.

"Tentu, Oba-sama…"

"Sakura-chan jangan sungkan… panggil aku Oka-san…"

"A.. anu.. ah, mmm" Sakura benar-benar tidak siap dan tidak enak memanggil Nyonya Uchiha itu dengan panggilan 'Ibu'. Dan lagi, seumur hidupnya dia tidak pernah memanggil siapapun dengan panggilan menyakitkan itu. karena Sakura memang tidak pernah hidup bersama seorang 'Ibu'.

Mikoto memandang dalam ke mata emerald Sakura lalu menepuk pundak kiri Sakura pelan.

"Tidak apa-apa kalau belum siap… aku akan selalu menunggu…" Sakura sangat bersyukur Mikoto mau memahaminya.

"Maafkan saya…"

"Tidak apa-apa…" Mikoto tersenyum manis. Sakura tersentuh. Dan andai dia mampu mengungkapkan perasaaannya saat ini, ingin rasanya Sakura menangis dalam pelukan Mikoto. Dia ingin merasakan bagaimana memiliki seorang Ibu.

"Menurut saya, Krisan ungu ini sangat cantik sebagai main flower karena dia memiliki makna keinginan kuat untuk sehat, lalu sebagai kombinasinya, daisy orange dengan makna kehangatan, mawar peach dengan makna simpati, dan tulip pink yang bermakna kepedulian… hiasannya nanti kita tambah dengan sulur-sulur hijau dan peacock putih, serta beberapa buah plum atau jeruk kecil agar mempermanis tampilannya" saran Sakura sambil menyentuh bunga-bunga itu untuk menilai kualitasnya.

Mikoto memperhatikan Sakura dengan sungguh-sungguh. Dia kagum dengan pengetahuan Sakura tentang bunga.

"Sakura-chan… kamu pintar sekali dalam menilai bunga…"

"Ah, tidak Oba-sama, saya hanya kebetulan menyukai botani" pipi Sakura memerah mendengar pujian Mikoto.

"Dan kamu juga cukup lihai dalam menjawab pertanyaan suamiku…"

"Di kampus saya, karya Fugaku-sensei menjadi literatur utama. Saya menyukai karya beliau yang selalu menggambarkan kehangatan…"

Mikoto semakin kagum pada Sakura. Dia pun menggandeng Sakura dan menuju kasir dan memesan rangkaian bunga.

.

.

Ayah dan sang putra bungsu saling berhadapan dan saling menatap dalam diam. Dua pasang mata elang sedang sibuk membaca lawan bicara masing-masing. Ayah Sasuke yang duduk dengan penuh kewibawaan memulai pembicaraan terlebih dahulu.

"Jadi apa maksudmu membawa pulang seorang gadis amatir itu?"

Sasuke sedikit terhenyak dalam sepersekian detik mendengar perkataan Ayahnya. Bagaimana bisa setelah pendapat professional Sakura yang dirasanya cukup untuk memuaskan Ayahnya ternyata belum cukup untuk mengenyahkan kata amatir dari mulut maestro itu.

"Dia bukan amatir. Dia mahasiswi jurusan seni, dan, dia juga modelku"

"Model? Kau sudah kehilangan pikiranmu?!"

"Menurut Tou-san?" jawab Sasuke tidak kalah dingin.

"Aku masih tidak bisa menebak pikiranmu yang tidak matang"

"Tou-san!"

"Kau selalu saja bertindak sesukamu"

Sasuke diam dan menunggu kata—kata Ayahnya meluncur lebih banyak.

"Kau tidak pernah mendengarkan apa kata Tou-san. Sejak kecil sudah meninggalkanku. Atau kau diajari hal-hal yang tidak benar oleh kakekmu di Inggris?"

"Jangan pernah menghina almarhum Grandpa, Tou-san"

Fugaku mendongakkan kepala. Sekarang dia yang diam dan menunggu kata-kata anaknya meluncur lebih banyak.

"Tou-san tahu kenapa aku memilih jalanku sendiri. Aku pergi sejak kecil. Bahkan sejak SMA aku tidak mau berada di bawah kediktatoranmu"

"SASUKE" nada tajam dan dingin menusuk pendengaran Sasuke. Fugaku menatap lekat-lekat putra bungsunya. Dia adalah pria berwibawa yang sangat tidak ingin dikalahkan oleh darah dagingnya sendiri.

"Maafkan aku. Aku melampaui batas" Sasuke mengepalkan tangannya, memilih untuk mengalah dan menunduk.

"Dan aku harap kau tidak mengulangi kesalahan kakakmu. Kelakuanmu hari ini jelas menghinaku dan terang-terangan menentangku"

Sasuke mengepalkan tangannya lebih erat. Dia menahan agar emosinya tidak keluar. Tujuan sebenarnya dia pulang bersama Sakura hanyalah murni untuk bertemu Kaa-sannya. Sasuke tahu Ibunya pasti akan menyukai Sakura. Tapi Sasuke sama sekali tidak menyangka reaksi Ayahnya akan separah ini.

"Kau tahu kakakmu menikah dengan model murahan dan sekarang dia menjadi penulis novel yang miskin"

….

Ya, kakak Sasuke, Uchiha Itachi meninggalkan keluarganya yang menentang keputusannya untuk menikah dengan seorang model cantik dan anggun bernama Konan. Walaupun Konan adalah salah satu wanita cantik sekaligus pintar versi Sasuke, dan cukup berkelas untuk menjadi seorang Uchiha, Ayahnya yang sangat angkuh itu tidak pernah mengijinkan wanita itu untuk masuk ke dalam kehidupan anaknya. Juga kehidupannya…

.

.

Lorong RS Osaka sangat ramai hari ini. Bagaimana tidak, mantan walikota ternama mereka sedang terbaring lemah dan akan menjalani operasi. Mikoto dan Sakura berjalan menyusuri lorong itu.

"Ah! Itu kan Uchiha-sama!" teriak salah satu wartawan.

"Uchiha-sama!"

"Benar, Uchiha sama!"

"Mohon menyita waktu anda sebentar Uchiha-sama!"

"Uchiha Mikoto-sama!" sahut wartawan-wartawan lain sambil berlari berbondong-bondong menghampiri Mikoto dan Sakura.

Sakura kaget dengan kegemparan yang terjadi karena kedatangan mereka. Sakura tahu wanita anggun di sampingnya ini adalah istri dari pelukis terkenal, tapi dia sangat terkejut dengan antusias wartawan terhadap Mikoto.

"Bagaimana pendapat anda tentang operasi yang sebentar lagi akan dijalani Jiraiya-sensei?"

"Mohon sepatah kata untuk ditujukan pada Jiraiya-sensei!"

"Uchiha-sama, benarkah anda sekeluarga sudah seperti keluarga bagi Jiraiya-sama?"

"Uchiha-sama!"

"Uchiha Mikoto-sama! Apa anda mengetahui dimana keberadaan putri kandung Jiraiya-sama?!"

"Mohon sepatah dua patah kata, Uchiha-sama!"

Wartawan-wartawan itu berebut tempat untuk mewawancarai dan mengambil foto Mikoto. Sakura yang kebingungan berusaha menundukkan sedikit kepalanya dan menurunkan poninya agar tidak ada yang akan mengenalinya. Walaupun Sakura ragu ada manusia di bumi ini yang akan memperhatikannya atau mempedulikannya.

SET

Sebuah tangan kekar menarik lengan Mikoto dan membawanya masuk ke sebuah ruangan. Sakura berlari menyusul mereka.

.

.

"Sampai kapan Tou-san akan terus bertingkah seperti ini? Belum cukup Itachi pergi meninggalkan kita, dan Tou-san masih mengancam kehidupanku juga?!"

Sasuke kehabisan kesabaran mendengar Ayahnya menjelek-jelekkan nama kakaknya. Kakak satu-satunya yang sangat menyayanginya. Dan sekarang entah berada dimana. Meninggalkannya. Meninggalkan semuanya. Hanya nama pena 'ITACHI' yang bisa dilihatnya pada novel-novel intelektual yang memang bisa dibilang kurang laku di dunia publishing.

"Itachi adalah anak bodoh yang memilih untuk meninggalkan keluarganya. Dan aku tidak akan membiarkan kau mengulangi kebodohan yang sama" ujar Fugaku dengan tegas.

Rahang Sasuke mengeras menahan emosi yang akan segera meledak. Dia tidak tahan lagi berada di dalam ruangan Ayahnya. Baru beberapa jam berada di Osaka, dia sudah muak dan ingin segera kembali ke Tokyo.

"Tou-san tidak bisa mengaturku. Aku pergi" sahut Sasuke seraya menutup keras-keras pintu ruangan Fugaku. Dia cepat-cepat menyalakan iPhone nya dan menelfon Sakura.

.

.

"Asuma?"

Sakura menatap pria bertubuh besar yang menyelamatkan mereka dari kejaran wartawan-wartawan di lorong RS. Pria itu memiliki jenggot yang cukup lebat. Dia terlihat seperti pria baik-baik dan sangat berwibawa.

"Mikoto-san, kenapa anda tidak menghubungi saya terlebih dahulu? Saya bisa menjemput anda agar tidak dikerumuni wartawan seperti itu" jawab pria itu.

"Ah kamu ini, berlebihan sekali. Ah, Sakura-chan.. kenalkan, ini Sarutobi Asuma, putra Jiraiya-sensei"

Apa? Ibuku mempunyai saudara? Kenapa marganya Sarutobi? Batin Sakura

"Ah, aku hanya anak angkat Otou-san… Halo, salam kenal" Asuma menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

"Panggil saja saya Sakura" jawab Sakura sambil menjabat tangan Asuma, yang secara tidak langsung adalah pamannya. Dia sengaja tidak memberitahu marga Haruno nya.

"Sakura? Manis sekali. Maafkan keramaian di lorong tadi ya. Pihak RS sudah berjanji untuk memasukkan pers ke dalam RS supaya mereka bisa menyiarkan langsung kronologi operasi Otou-san…"

"Aku yakin seluruh penduduk Osaka juga ingin mendoakan kesehatan Jiraiya-sensei…" sahut Mikoto.

"Terima kasih Mikoto-san. Yah, bagaimana kalau kita langsung menemui beliau? Sepertinya operasinya akan dimulai beberapa menit lagi" ajak Asuma.

"Mari…" Mikoto menarik pergelangan tangan Sakura. Sakura berjalan dengan batin yang amat sangat terpaksa.

DRRRT

Handphone flip jadul Sakura bergetar.

Sasuke-kun?

"Iya, Sasuke-kun?" Sakura menjawab panggilan telfon Sasuke dengan pelan.

"Kamu dimana? Ayo kita pulang"

"Apa? Pulang? Sebentar, aku sedang di RS Osaka bersama Oba-sama"

"Tunggu disana"

TREK

"Apa? Sasuke-kun mengajakmu pulang?" tanya Mikoto yang mendengar pembicaraan Sakura.

Sakura mengangguk dan tersenyum kecil.

"Tidak! Jangan pulang dulu. Apa-apaan Sasuke-kun itu. Kalian menginaplah dulu" cegah Mikoto.

Ruangan Jiraiya cukup jauh dari ruang mereka bertiga berada tadi. Setelah melewati ruang operasi, tepat di tikungan lorong, mereka beriga melihat Jiraiya yang sedang terbaring di atas bed roda sedang didorong oleh para perawat RS.

Tiga orang itu langsung mengikuti jalur Jiraiya dibawa.

"Tou-san, Tou-san! Berjuanglah!" kata Asuma sambil berlari kecil mengikuti kecepatan roda bed.

"Sensei, anda harus sembuh… berjuanglah…" sahut Mikoto yang berada di seberang Asuma.

Pria dengan bekas-bekas kekuatan dan garis-garis tegas di wajahnya itu tersenyum lemah dan mata lirihnya tiba-tiba menangkap sosok yang dikenalnya. Tangan lemahnya berusaha terangkat mengarah pada gadis berambut merah muda dengan mata hijau emerald itu.

"Me… Bu… Ki…"

Tiga orang yang mengekor dari tadi sontak berhenti dan tercengang, sedangkan para perawat yang tidak tahu menahu terus mendorong Jiraiya memasuki ruang operasi.

Pintu ruang operasi kini tertutup rapat. Tulisan di atas pintu tersebut bertuliskan, "SEDANG OPERASI"

.

.

Asuma, Mikoto, dan Sakura kini tengah duduk di bangku-bangku taman dengan topik pembicaraan yang berat.

"Sudah kuduga. Sejak pertama memandangmu, aku merasa kamu mirip dengan seseorang. Bahkan sifat kalian sama persis. Dia pintar memilih bunga, dan pintar menilai karya seni" kata Mikoto.

"Sakura-chan, siapa nama lengkapmu sebenarnya?" tanya Asuma.

Sakura menunduk cukup lama dan setelah beberapa detik dia mengangkat kepalanya menghadap pamannya itu.

"Namaku Haruno Sakura"

"Astaga. Kamu anak Mebuki-neesan?" Asuma mengernyitkan alis tebalnya.

"Astaga! Aku baru ingat kalau marga suami Mebuki adalah Haruno" Mikoto menutup mulut mungilnya dengan kedua telapak tangan.

"Kemana saja kamu Sakura-chan? Dimana Ayah dan Ibumu sekarang?" Asuma terlihat seperti pria baik yang sangat mengkhawatirkan keluarganya. Tentu saja pertemuan tidak terduga dengan Sakura, putri dari kakak perempuannya menjadi momen penting.

"Iya, bagaimana bisa Mebuki menghilang begitu saja?"

Apa-apaan ini? Bahkan adik angkat dan sahabat almarhum Ibu tidak mengetahui kematian orang tuaku?

Benak Sakura tiba-tiba terasa gelap dan merasa kecewa pada dua orang di depannya. Sakura tahu dari cerita Ayahnya dulu bahwa Ayah dan Ibunya memutuskan tali kekeluargaan dan membangun hidup mereka yang baru. Tapi apakah mereka sama sekali tidak berusaha mencari info tentang keluarganya? Tentang kabar Ibunya? Tentang kematian orang tuanya? Bagaimanapun mereka orang-orang hebat yang mampu menggerakkan oknum tertentu untuk sebuah pencarian kecil, bukan?

"Mereka meninggal dunia" jawab Sakura dengan suara yang sangat dingin.

"APA?!" Asuma terlonjak mendengar jawaban Sakura. Sedangkan Mikoto menatap Sakura dengan pandangan tidak percaya.

"Bagaimana bisa anda tidak mengetahuinya? Tidakkah anda berusaha mencari tahu tentang kerabat anda?" suara Sakura bergetar menahan tangis yang hampir pecah.

Asuma dan Mikoto terdiam.

"Apa almarhum Ibuku sangat tidak penting keberadaannya bagi kalian?" cetus Sakura sambil mengerutkan alisnya.

"Sakura-chan, ada hal-hal yang tidak bisa kami jelaskan situasinya. Dulu Tou-san san adalah pria yang terlalu terobsesi dengan kharismanya sehingga siapapun keluarga, teman, rekan-rekannya yang berusaha mencari anaknya yang menjadi aib keluarga akan menerima hal yang tidak menyenangkan darinya" jawab Asuma panjang lebar.

"Aib? Ibuku aib bagi kalian?" suara Sakura semakin bergetar.

Ya, Aku tahu Ibu memang kabur dari keluarga baik-baik dan menikah dengan pria yang ditentang. Tapi… Tapi…

Sakura sendiri tidak tahu dan bingung dengan semua keadaan itu. Tapi satu hal yang jelas, dia sangat membenci kakeknya. Sangat.

"Percayalah Sakura-chan. Andai kamu bisa kembali ke masa lalu, kamu akan melihat bahwa tidak ada pria yang lebih berkuasa disini selain Jiraiya-sensei. Dan kami hanya pengecut yang tidak bisa melakukan apa-apa" sambung Mikoto sambil menggenggam tangan Sakura yang terkepal.

"Begitukah? Begitukah cara kalian menghargai nyawa orang?" mata Sakura mulai berkaca-kaca. Getaran tidak berhenti menjalari pergelangan tangannya. Ditariknya tangannya dari genggaman Mikoto.

"Sakura-chan…"

"Ibuku meninggal saat melahirkanku. Dan Ayah pergi meninggalkanku selama-lamanya karena tembakan dari polisi yang tidak bertanggung jawab" Sakura menundukkan kepalanya. Wajahnya kini tertutup poni.

"Kamu adalah bagian keluarga kami sekarang Sakura-chan. Kamu tidak sendirian lagi. Sejak beberapa tahun yang lalu Tou-san merindukan Mebuki-neesan dan berupaya mencari keberadaan kalian bertiga. Tapi usahanya tidak pernah membuahkan hasil"

"Beberapa tahun?! Lalu apa saja yang beliau kerjakan 20 tahun yang lalu? 15 tahun yang lalu? 10 tahun yang lalu?!" Sakura menatap wajah Asuma lekat-lekat dan dapat melihat ekspresi sedih Asuma yang merasa bersalah. Pandangannya beralih ke Mikoto, wanita itu, walau tidak sepenuhnya bersalah, entah kenapa Sakura merasakan sedikit kekecewaan terhadap sahabat almarhum Ibunya itu.

Sudut mata Sakura melihat kedatangan Sasuke di seberang sana yang sedang berjalan ke arah mereka.

"Maafkan sikap saya. Tapi saya tidak bisa menerima kenyataan ini" Sakura berdiri, menunduk, dan berlalu menghampiri Sasuke.

"Sakura-chan!" cegah Mikoto, "Jangan pergi"

"Maafkan saya, Oba-sama…" Sakura memunggungi wanita itu.

"Kami akan pulang Kaa-san. Tolong jangan cegah kami. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi Kaa-san pasti tahu kenapa aku ingin pergi. Kalau tidak tahu, tanyakan Tou-san" Sasuke datang dengan marah-marah karena masalah pribadi dengan Ayahnya.

Mikoto merasa pusing dengan masalah Sakura dan sentimental putra bungsunya pada suaminya.

"Kumohon jangan pulang dulu, Sasuke-kun, Sakura-chan.. tidak dengan cara seperti ini…" Mikoto menghampiri Sasuke dan memegangi lengan anak laki-lakinya itu.

Asuma juga menghampiri mereka. Bahkan dia menunduk, membungkuk, dan akhirnya menjatuhan kedua lututnya di atas rumput.

"Aku mohon dengan sangat Sakura-chan, tolong bertahanlah untuk berada disini sampai Tou-san sadar dari operasinya. Aku tahu ada secercah harapan untuk sembuh muncul di matanya saat beliau melihatmu menjelang masuk ke ruang operasi tadi" Asuma memohon dengan sangat.

Sasuke tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Dia menarik tangan Sakura untuk pergi dari tempat itu. Tapi Sakura tidak mau bergerak.

"Sakura"

"Baiklah Asuma-san. Saya akan berada disini sampai beliau sadar" jawab Sakura akhirnya.

Asuma tersenyum lega dan berdiri dengan wajah bahagia.

"Tapi. Saya masih belum bisa memaafkan beliau"

Asuma tahu. Asuma juga menyadari bahwa luka pada hati Sakura yang terukir sejak dia terlahir bukanlah sesuatu yang bisa menghilang dalam sekejap. Asuma bersyukur gadis itu, keponakannya itu mau menahan lukanya untuk memberi kesempatan pada Jiraiya.

"Terima kasih Sakura-chan. Aku sangat menghargainya"

Mikoto dan Asuma tersenyum. Mereka sangat berharap agar Sakura mendapatkan haknya kembali. Hak-hak yang tidak dimilikinya sejak kecil.

Memiliki keluarga.

.

.

"Jadi… apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sasuke.

Sakura, Sasuke, dan Mikoto sedang berada di dalam taxi menuju rumah Uchiha. Sasuke anti memakai satu dari deretan mobil mewah Fugaku. Harga dirinya yang tinggi akan runtuh jika setelah pertengkaran menyebalkan itu dia memakai mobil Ayahnya. Nonsense. Dan tentu saja situasi awkward menyelimuti mobil taxi itu. Bahkan pengemudi taxi itu pun terlihat takut-takut dengan aura Uchiha muda yang sedang marah dan seorang gadis muda yang diam dengan raut wajah suram.

Sakura diam tanpa jawaban, sedangkan Mikoto bingung harus menjawab apa. Akhirnya Sasuke merasa sebal karena dua wanita itu diam tanpa kata.

Taxi berhenti di kediaman Uchiha. Mikoto turun terlebih dahulu. Tapi Sasuke menahan agar Sakura tidak ikut turun dari mobil.

"Lho, kenapa kalian tidak turun?" tanya Mikoto.

"Kami tidak akan menginap di rumah ini" jawab Sasuke.

"Kenapa? Tapi, kalian tidak akan kembali ke Tokyo kan?"

Sasuke mempertimbangkan opsi itu, namun dia tahu kalau Sakura akan berada di Osaka sampai Jiraiya pulih.

"Maaf Kaa-san, tapi aku tidak mau tidur seatap dengan Tou-san" Sasuke semakin sebal.

"Oookh, jangan bilang kalian berselisih paham lagi" erang Mikoto. Rupanya bukan sekali ini Sasuke dan Ayahnya tidak akur.

"Maaf Oba-sama.. saya rasa saya juga belum bisa kembali ke rumah ini. Maafkan saya" Sakura menunduk hormat tapi dengan pandangan yang mengarah ke bawah. Kesedihan masih menyelimutinya.

"Lalu kalian mau pergi kemana?"

"Aku akan mencari hotel dekat sini. Kaa-san jangan khawatir" jawab Sasuke.

"… baiklah. Aku mengerti. Tapi sesekali mainlah kesini ya, Sasuke-kun, Sakura-chan…"

"Hm. Aku pergi"

"Hati-hati" Mikoto melongokkan kepalanya dan mencium dahi Sasuke.

.

.

Sesampainya di kamar 1501, kamar di lantai 15, Sasuke langsung merebahkan tubuhnya di salah satu single bed yang ada. Ya, dia memesan satu kamar yang berisi twin bed alias single bed kembar yang ada dua buah. Sasuke tidak mau ambil resiko mendengar omelan Sakura lagi tentang perebutan kasur.

Tapi…

Ada yang aneh.

Jangankan mengomel. Satu patah kata pun tidak keluar dari mulut gadis itu. Sasuke bisa menebak sedikit situasi di RS tadi karena dia datang terlambat. Tapi Sasuke yakin, semua itu pasti ada hubungannya dengan Jiraiya.

Sasuke merentangkan kakinya panjang-panjang dan melipat kedua tangannya di belakang kepala.

"Sakura…"

"…"

"Sakura?"

"Hm"

"Jadi… ada masalah apa sebenarnya?"

Punggung Sakura terlihat amat kesepian. Sakura sedang duduk di samping bednya yang paling dekat dengan dinding kaca. Sakura menoleh dan memberikan senyuman sekilas. Sasuke merasa ada yang benar-benar tidak beres. Dihampirinya Sakura dan dia pun duduk di samping Sakura.

"Aku… memang bukan good listener, tapi…"

"Sasuke-kun"

"Iya?"

"Apa kamu akan berbahagia saat kamu menemukan keluargamu? Yang tidak pernah kamu temui sebelumnya?" tanya Sakura tanpa memandangnya. Mata hijau itu masih menerawang gelapnya malam di luar sana.

Oooh, jadi Jiraiya-sama adalah keluarga Sakura? Aku bisa menebak sih Batin Sasuke.

"Well, aku pastinya akan sangat senang. Tapi realitanya, bahkan oleh Tou-san pun aku sering dibuatnya muak. Jadi, aku sih, fleksibel saja, tergantung keadaan"

Sakura mencerna kata-kata Sasuke. Ya, tergantung keadaan.

"Bagaimana kalau keadaanmu seperti aku? Keluarga yang tidak menyayangi orang tuaku, dan membiarkan orang tuaku tidak sejahtera sampai mereka meninggal dunia. Dan aku, selalu sendirian dan ditinggalkan…"

"Sakura, apa masa lalu begitu menyakitimu? Oke, maafkan aku, maaf, tapi yang terpenting sekarang aadalah kebahagiaanmu bukan?"

Sakura menoleh tajam. Bahkan Sasuke pun tidak mampu memahami sakit yang dideritanya karena luka akibat terlalu lama sendiri. Sungguh, tidak adakah satu orangpun di sekelilingnya yang mampu menjalani hidup seperti dirinya? Sebagai seorang gadis sebatang kara dan tidak memiliki siapa-siapa. Diusir disana-sini, diperlakukan manager dengan rendah, dan bertahan hidup semampu dia.

Tidak, Sakura tidak ingin terlihat picik dan lemah. Tapi, lagi, tidakkah seseorang akan merasakan api kemarahan melihat orang yang menjadi sumber kesengsaraannya? Apalagi orang tersebut sangat berkuasa di saat Sakura terlunta-lunta. Sendiri.

Tidakkah seseorang akan marah?

Tidakkah?

"Lupakan saja. Terima kasih Sasuke-kun. Aku mau tidur sekarang" Sakura membaringkan tubuhnya dan menyelimuti tubuhnya.

Gadis ini bahkan tidak mandi, makan, atau memikirkan baju ganti untuk besok. Sepertinya dia benar-benar dalam depresi.

"Tidurlah yang nyenyak" Sasuke mengacak poni Sakura lalu berjalan menuju bednya dan menjentikkan jarinya lalu lampu ruangan itupun mulai meredup dan akhirnya padam seiring tertutupnya kelopak mata Sasuke.

Sakura masih belum menutup matanya. Mata hijau yang memandang entah kemana itu mengalirkan sebutir air mata. Mulut kecilnya terkatup dan Sakura merasakan dingin merasuki hatinya.

Tuhan, salahkah aku? Salahkah aku… salahkah aku…..

.

.

Sementara itu, di kediaman megah nan klasik ala western, seorang wanita cantik berambut hitam panjang ikal dengan dress hitam ketat selutut keluaran Gucci sedang menatap tajam komputer tabletnya. Matanya meneliti tiap kata yang menjadi tajuk berita di internet.

AKHIRNYA! KEMUNCULAN GADIS BERAMBUT MERAH JAMBU a.k.a DUPLIKAT ALM. MEBUKI-SAMA DI KLIMAKS OPERASI JIRAIYA-SAMA! SIAPA DIA?

RS Osaka siang ini dihebohkan oleh dua kejadian besar. Pasalnya operasi kanker hati mantan walikota hebat kita, Jiraiya-sama, dilakukan di RS ini. Semua warga Osaka tidak henti-hentinya memanjatkan doa, harapan, dan permohonan agar beliau mampu melalui operasi dengan lancar dan mampu sehat kembali dan berkumpul dengan warga-warga Osaka yang sangat dicintainya.

Namun, ada pemandangan ganjil yang sempat kami abadikan. Tiba-tiba muncul gadis manis berambut merah jambu, dan memiliki wajah yang sangat persis dengan putri Jiraiya-sama yang menghilang beberapa tahun yang lalu. Ya, tidak lain tidak bukan, almarhum Mebuki-sama.

Gadis tersebut terlihat berlari bersama Uchiha Mikoto-sama, istri pelukis ternama Uchiha Fugaku, serta Sarutobi Asuma, sang putra angkat Jiraiya-sama.

Semua pertanyaan berkumpul menjadi satu, mengapa gadis ini muncul di saat seperti ini? Benarkah gadis ini hanya mencari kepopuleran di tengah kesempitan, ataukah dia hanya tamu asing yang tidak ada hubungannya dengan semua ini? Ataukah dia berusaha mengincar harta warisan Jiraiya-sama?

Semua ini masih menjadi misteri bagi kita. Dan berita ini akan sangat menarik untuk kita ikuti. Mari kita doakan sekali lagi agar Jiraiya-sama berhasil menjalani prosedur operasinya.

Di bawah artikel tersebut ada foto saat Jiraiya didorong masuk dan diikuti tiga orang, di antaranya Sarutobi Asuma, Uchiha Mikoto, dan seorang gadis paling cantik yang pernah dia lihat dengan helai—helai merah muda yang berkilau terkena pantulan cahaya.

BRAKK

Tablet mahal itu tetap menyala walau dibanting oleh penggunanya.

"Aku pulang" seru Sarutobi Asuma yang memasuki ruang perpustakaan tempat wanita ikal itu berada.

Tablet itu dipungut lagi oleh wanita itu, lalu diacungkannya ke arah Asuma.

"Apa maksudnya ini? Warisan kan? Dia mengincar warisan kan?! Gadis ini?" teriaknya kacau.

"Apa yang kau katakan istriku, dia Sakura-chan. Cucu Tou-san, putri dari almarhum kakakku" Asuma menghampiri wanita itu.

"Cucu? Anak Mebuki?! Benar kan? Dia mengincar harta Tou-sama!"

"Kurenai! Jaga kata-katamu!"

Sarutobi Kurenai memandang tajam suaminya dengan penuh amarah. Rencananya untuk menguasai Jiraiya's House kini mendapat kerikil kecil berwarna pink dari Tokyo.

.

.

.

Haa, TBC…

Curhat sedikit boleh? (Gak boleh! Kau kira ini situs apaan hah?! #theotherme)

Jadi… kupikir aku bisa mengupdate fic ini beberapa malam yang lalu, tapi yaaaah, tiap pegang laptop bawaannya langsung nonton K-drama meluluuu. (Kamu memang pemalas! Pakai alasan K-drama segala #theotherme)

Well, minna-san, saya masih boleh kan? Minta-minta? Haha... minta fav, follow, atau review dunkkkk… ahahay.. (kamu memang sangat memalukan, Mother #theotherme)

Aku sayang kalian… sungguh terima kasih buanyaak atas dukungan minna-san… tanpa dukungan itu, mana bisa aku nulis-nulis begini. Dengan kata-kata semangat dari minna-san selalu membuatku tersenyum dan merasakan rasanya keluarga kecil di dunia tak kasat mata… ehehehe

Okay, have a nice day/night minna-san…

Review Please?

Mother CHANYOU