Tidak ada satu apapun yang lebih indah dan jahat selain sorot tajam matamu …

NARUTO, always belong to Masashi Kishimoto

-Author alay mulai berimajinasi liar lagi. Kukuku-

WARN

Bad Sasuke, Lemon, Absolutely Rate M, AU, Typo, No Flame, Don't Like Don't Read

.

.

.

Pagi hari, Sakura terbangun agak siang karena dia tidak bisa memejamkan mata semalaman. Setelah mencuci muka di kamar mandi, Sakura mengelap wajahnya dan bercermin. Kantung matanya menghitam. Setelah mencuci mukanya sekali lagi, Sakura kembali ke bed, tapi dia baru menyadari kalau Sasuke sudah tidak ada di tempatnya sejak dia bangun tidur.

TING

"Room Service!" suara seseorang di depan pintu. Sakura segera menuju pintu dan membukanya. Dilihatnya bellboy membawakan sarapan dan beberapa shopping bag besar.

"Dengan Haruno-san?"

"Iya, saya sendiri" jawab Sakura.

"Saya membawakan pesanan yang diorder oleh Uchiha-san"

Dengan wajah bingung Sakura mempersilakan bellboy itu melaksanakan tugasnya menaruh barang-barang itu ke dalam kamar.

Setelah mengucapkan terima kasih, bellboy itu pun pergi. Sakura melihat fruit salad, orange juice, strawberry pancake, dan potato wedges di atas nampan perak itu. Sakura tidak menyentuh sarapannya dan membuka shopping bag yang menumpuk di atas bed Sasuke.

Di salah satu shop bag bertuliskan PRADA, ada satu amplop kecil berwarna cream menyembul di permukaan. Sakura membukanya. Terlihat tulisan tangan Sasuke yang amat sangat rapi dan elegan.

Dear Sakura,

Maafkan aku harus kembali ke Tokyo. Shion dan Dobe menghubungiku mendadak tadi fajar, ada presdir dari salah satu kolega kita yang akan berkunjung. Dan rasanya kurang pantas kalau aku tidak menemui mereka karena mereka sudah bersusah payah datang jauh-jauh dari Sidney.

Aku tidak berminat membangunkanmu tadi pagi. Aku tahu kamu baru bisa tidur sekitar jam tiga pagi. Baiklah, ini beberapa peralatan yang akan kamu butuhkan seperti pakaian dan lain-lain.

Tenang saja, dengan memelukmu tempo hari aku sudah tahu ukuran bra dan pantymu. Dan awas saja kalau benda-benda ini tidak kamu pakai. Ingat, isi kontrak, pihak kedua harus menerima barang pemberian pihak pertama.

Aku tidak akan berlama-lama di Tokyo. Jika semua urusan lancar, mungkin nanti malam kita sudah bisa bertemu lagi.

Aku juga, ingin memberimu space. Aku tahu kamu membutuhkan waktu untuk sendirian. Well, untuk apapun lah. Manfaatkan waktumu baik-baik. Karena saat kembali ke Tokyo nanti kamu berhutang banyak untuk mengisi jadwal pemotretan!

Dan, aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu tidak makan sama sekali.

Regards,

Sasuke.

Sakura tersenyum kecil membaca tulisan Sasuke tentang pakaian dalamnya.

Dasar Ecchi…

Uchiha Sasuke.

Tentu Sakura merasakan kebaikan-kebaikan datang dari cowok raven itu. Walau terkadang, ralat, sering kali Sasuke bersikap menyebalkan dan mendominasi lingkup gadis itu, Sakura tidak memungkiri kalau sebenarnya Sasuke adalah sosok yang hangat di balik keangkuhan dan kedinginannya.

.

.

.

Sakura bercermin sekali lagi. Dilihatnya dirinya yang sangat berbeda dengan Haruno Sakura beberapa minggu yang lalu. Dengan dress hitam dengan pola transparan pada punggung keluaran Louis Vuitton, serta heels hitam dari Chloe membuat penampilan Sakura seperti model pro.

Sakura yang awalnya sangat tidak mood untuk sarapan, akhirnya mampu menghargai Sasuke dengan menghabiskan sarapan itu. setelah bersiap-siap, Sakura pun pergi menuju RS Osaka.

Setelah mengalami pagi yang menyenangkan berkat Sasuke, Sakura kembali murung mengingat dia akan bertemu lagi dengan kakeknya, Jiraiya.

Apa aku bisa melakukan ini… Orang tua itu memang sudah membuat keluargaku sengsara. Tapi, bukan berarti beliau tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk memperbaikinya, bukan…

Bagaimanapun, di dalam diriku masih mengalir darahnya…

Sakura meyakinkan hatinya dan melangkah mantap keluar dari kamar hotel.

.

.

.

"Permisi…" Sakura melangkahkan kakinya pelan memasuki VVIP room RS Osaka tempat kakeknya dirawat. Dilihatnya ada beberapa pejabat pemerintah, pamannya Asuma, serta wanita cantik dengan rambut ikal panjang berwarna hitam.

"Ah! Sakura-chan. Kemari, masuklah" Asuma menyambut baik kedatangan Sakura dan mempersilakan sakura masuk.

"Ah, baiklah, kami permisi dulu. Semoga Sensei cepat sembuh" pamit salah seorang pejabat dan orang-orang itu pun menunduk hormat pada Jiraiya yang tergolek lemah di atas queen bed.

Jiraiya mengangguk lemah dan tersenyum. Hati Sakura bergetar melihat orang yang menjadi kakeknya itu memberikan senyum.

Bisakah aku membenci orang ini…

"Kemari, Sakura-chan. Otou-san sudah menunggu kedatanganmu dari tadi" Asuma mendorong pelan bahu Sakura untuk mendekat ke arah Jiraiya.

"Sakura-chan…" kata Jiraiya pelan.

"Iya, Sensei…" jawab Sakura sambil menundukkan pandangannya. Dia masih takut-takut melihat wajah sang mantan walikota.

TEP

Tangan keriput itu menyentuh pipi kanan Sakura dengan lembut. Sakura sontak menoleh dan memandang Jiraiya.

"Kau sangat mirip dengan putriku, anakku…"

Sakura memandang lurus ke bola mata Jiraiya yang terlihat lemah.

Tanpa disadari, air mata sudah mengaliri pipi Sakura dengan hebat. Sakura tidak bisa membendung lagi kepedihannya. Dia berdiri dan memeluk Jiraiya.

"Kakek….. aku sangat membencimu, sangat membencimu….." Sakura merintih dalam pelukannya. Jiraiya pun ikut menangis dan balas memeluk punggung Sakura yang bergetar.

Asuma memandang mereka dengan haru. Tapi istrinya, Kurenai memandang dengan pandangan yang jelas-jelas tidak menyukai Sakura.

"Nona, aku harus bicara denganmu di luar" seru Kurenai.

"Kurenai" Asuma menarik tangan Kurenai dan membawanya keluar kamar.

Sakura melepas pelukannya dan melihat wanita ikal itu sedang memandang dirinya tajam.

.

.

.

"Harus kubilang berapa kali? Biarkan Sakura-chan berada disini. Lagipula aku yang memohon padanya demi kesehatan Otou-san" Asuma marah-marah pada Kurenai yang didudukkannya di bangku taman.

Kurenai menyilangkan kaki jenjangnya dan melipat kedua tangannya dengan angkuh. "Kau memang bodoh, Sayang. Mana harga dirimu yang sangat tinggi, yang mampu membuatku terpesona padamu? Mana? Kau biarkan harga dirimu luntur untuk bertekuk lutut di hadapan gadis bocah itu?"

"Dia cucu kandung Otou-san. Darah daging yang dicarinya selama 10 tahun terakhir. Kuharap kau bisa mengerti"

"Mengerti? Kau bilang mengerti? Lalu apa kau sendiri bisa mengerti apa saja yang Tou-sama perbuat sebelum 10 tahun itu? dia bahkan tidak ingin mendengar kata 'Mebuki'satu kali pun, dan sekarang kau mau aku mengerti kalau Tou-sama menginginkan gadis kecil itu?!"

"Ya. Aku ingin kau mengerti. Tidakkah kau lihat bagaimana usaha Tou-san selama tahun-tahun terakhir? Beliau sangat merindukan darah dagingnya! Beliau sangat merindukan anaknya! Bahkan sekarang di hadapannya muncul cucunya. Tidakkah itu membuat seorang kakek bahagia?" Asuma menjelaskan panjang lebar dengan intonasi yang meninggi.

"Seorang kakek bahagia? Ooh, jadi sekarang kau mengungkit tentang kelemahanku?! Tentang bagimana aku tidak bisa melahirkan cucu untuk keluargamu?!" Kurenai berdiri dan memandang lurus wajah Asuma.

"Aku tidak mengungkit hal itu! Ya Tuhan, Kurenai! Bagaimana bisa kau berpikir sampai sejauh itu?!"

"Ya! Aku memang wanita payah yang tidak bisa melahirkan keturunan untuk meneruskan tahta Tou-sama! Tapi bukan berarti aku bisa memberikan tahta itu pada bocah ingusan selagi kau masih hidup, Asuma. Selagi aku masih hidup"

"Please, jangan bahas tahta, oke? Aku tidak ingin mendengar tentang hal itu" Asuma memijat pangkal hidungnya.

"Apa? Kenapa? Kau pikir aku hanya wanita bodoh yang tidak bisa memikirkan masa depan Jiraiya's House dengan segala asetnya? Dengan industrinya?"

"Aku tahu, aku tahu kau wanita pintar lulusan Inggris, tapi haruskah kita membahas ini sekarang? Lagipula Sakura-chan adalah cucu sahnya, cucu kandungnya. Dia berhak atas semua milik Tou-sama"

Kurenai membelalak hebat dan tidak percaya akan apa yang keluar dari mulut suaminya.

"Dia? Gadis kecil itu jadi penerus Jiraiya's House? Yang benar saja! Aku harap kau sedang bercanda!" Kurenai menunjuk-nunjuk pintu VVIP room.

Asuma terlihat lelah dan capek untuk berdebat dengan istrinya. "Ya, tepat. Dan jika Tou-san memang menginginkan Sakura-chan, kukira tidak ada satu orangpun di dunia ini yang bisa menggantikannya. Dan aku sepenuhnya setuju dengan semua keputusan Tou-san melebihi apapun" jawab Asuma sambil berlalu dan meninggalkan Kurenai sendirian.

Sekarang rasa benci Kurenai pada pendatang baru itu semakin besar dan keinginannya untuk menguasai Jiraiya's House berbanding lurus dengan kuatnya rasa benci itu.

.

.

"Jadi… sekarang tinggal beberapa waktu lagi untuk graduation ya…"

Jiraiya sedang mengelus-elus rambut lembut Sakura yang sedang duduk di kursi sebelah Jiraiya dan kepalanya berbaring di bed. Sakura tidak tahu bahwa dirinya memiliki hati yang sangat lemah. Dia berniat mengunjungi Jiraiya sebentar lalu pergi pulang kembali. Tapi, entah mengapa, setelah melihat mata Jiraiya, pertahanan diri Sakura langsung luluh dan dia tidak bisa menjadi cucu egois lebih lama lagi. Sakura tidak bisa melihat seseorang yang menjadi sumber, yang membuat dirinya berada di dunia ini memohon sambil menangis untuknya. Memohon agar cucunya mau memaafkannya. Menangis atas kesalahannya di masa lalu. Sakura tidak bisa menghancurkan jiwa rapuh itu. Sakura tidak bisa menahan diri untuk memiliki keluarga kembali.

"Iya, Kakek…" Sakura memandang sendu kakeknya yang sedang sangat lemah.

"Kalau tidak salah, kemarin kau kemari bersama dengan Nak Mikoto ya… Kakek samar-samar lupa…"

"Benar Kakek. Aku berteman dengan putra Mikoto-sama"

"Ahh, Nak Itachi atau Nak Sasuke?"

"Kakek mengenal mereka? Sayangnya aku tidak tahu tentang Itachi-niisan, aku hanya kebetulan berhutang pada Sasuke-kun…"

"Berhutang?"

"Ah, tidak apa-apa…" Sakura menggeleng dan menutupi kenyataan yang terjadi di antara dirinya dan Sasuke.

"Dengar, kalau kau memiliki kesulitan apapun, jangan takut untuk meminta padaku, atau Asuma. Anggaplah dia pamanmu sendiri…"

Sakura hanya tersenyum dan membelai uban Jiraiya.

"Nak Sasuke… anak nakal itu ya. Hehe. Dia selalu berlari-lari dan memecahkan guci-guci berhargaku di rumah" Jiraiya mengenang masa lalunya. Walau Sakura merasa sedikit sedih karena bukan dirinya yang ada di masa lalu kakeknya, dia tetap tersenyum dan mendengarkan kakeknya dengan sabar.

"Sakura-chan pacarnya Nak Sasuke?" tanya Jiraiya to the point.

Kenapa semua orang berkata begitu sih… Batin Sakura.

Sakura hanya menggeleng dan tersenyum.

"Sakura—chan…"

"Iya?"

"Percayalah padaku. Pertemuanmu dengan Nak Sasuke adalah sesuatu yang sudah ditakdirkan…" Jiraiya memegang tangan Sakura, "Kau akan menjadi mata baginya. Mata yang akan membuatnya berada di sisi paling terang di dunia…"

Sakura menatap Jiraiya. Dia tidak paham dengan kata-kata kakeknya itu. tapi, untuk menyenangkan hati Jiraiya, Sakura mengangguk pelan dan berusaha mengerti.

"Aku sangat bersyukur masih bisa dipertemukan dengan cucuku sekali saja sebelum aku pergi"

"Kakek bicara apa? Aku tidak akan membiarkan Kakek pergi dariku lagi. Sudah cukup aku kehilangan keluarga" Sakura benar-benar yakin bahwa orang tua di hadapannya ini bukanlah pria yang dibencinya selama 22 tahun terakhir lagi. Orang tua di hadapannya ini adalah sosok yang merindukan kehangatan. Dia tahu itu karena pancaran cahaya mata Jiraiya tidak berbeda sama sekali dengan mata yang dipandangnya di cermin tadi pagi.

"Maafkan aku, nak. Maafkan Kakekmu yang bodoh ini" Jiraiya menangis dan mengelus pipi Sakura lagi.

"… Aku tidak akan menyesal di surga nanti, karena di saat-saat terakhirku aku masih bisa menjumpaimu…" lanjut Jiraiya.

Bulir-bulir air mata memenuhi pelupuk mata Sakura. "Kakek bicara apa sih…"

"Sakura-chan… terima kasih…"

Tangan yang membelai pipi Sakura kini terjatuh tepat bersamaan dengan jatuhnya air mata Sakura.

Hari saat Sakura menemukan keluarganya kembali, adalah hari dimana dimana dia kehilangan.

Lagi.

.

.

.

"Iya, Kaa-san. Kami akan kembali ke Tokyo malam ini juga… Ah, atau mungkin besok pagi. Iya, maafkan aku"

"Iya, nanti kusampaikan. Kurasa dia masih shock"

"Iya. Terima kasih. Oyasumi" Sasuke menutup telfon dan berjalan menuju bednya di kamar hotel 1501. Dilihatnya Sakura masih berbaring lurus dan menatap langit-langit dengan pandangan kosong.

"Sakura, kamu baik-baik saja?"

Sakura terlihat menutupi matanya dengan lengan kanannya karena setitik air mata lagi-lagi jatuh dan menuruni pipinya.

Sasuke memandangi Sakura dengan perasaan campur aduk. Dia benar-benar iba dengan apa yang sudah terjadi pada Sakura. Sakura sendiri, masih belum bisa mengenyahkan kejadian tadi siang di RS Osaka.

FLASHBACK SASUKE

"Farewell, Mr. Toneri. Have a safe flight" Sasuke, Shion, dan Naruto berpisah dengan koleganya di bandara.

"Thank you, Mr. Uchiha, Miss Shion, Mr. Uzumaki. It really is an honor to be able have a chance joining your company" pria blasteran Jepang dan Kanada yang sekarang memegang perusahaan advertise di Australia itu menyalami mereka bertiga satu per satu.

Setelah pria bule itu take off, Naruto berteriak dan dan meregangkan lengannya lebar-lebar. "Uwooooh! Akhirnya selesai juga! Aku pikir aku bakal mati mendengar seluruh rapat tadi. Benar-benar membosankan!"

Shion memukul pelan kepala blonde Naruto. "Kamu ini, dia partner penting kita, tahu. Kalau kita bisa menguasai Australia, kita pasti bisa meraih Eropa juga!" seru Shion.

"Ya. Benar. Kita benar-benar harus memikirkan prospek kita di luar negeri" sahut Sasuke sambil menatap iPhonenya dengan serius.

"Yah, kalian berdua ini! Aku kan memang tidak cocok dengan segala sesuatu yang berbau omong kosong ini itu. Aku lebih suka langsung bertindak!" Naruto tidak mau kalah dan berkacak pinggang.

"Ya.. ya, ya, tuan-berbakat-paling-aktif, tapi kalau tidak ada aku yang punya banyak link dengan rekan-rekan kita, kamu gak akan dapat job!" Shion tidak mau kalah dari Naruto dan ikutan berkacak pinggang.

"Geez, tapi lhooo, kamu ngerti gak sih, rasanya duduk di meeting room selama 5 jam?! Pantatku sampai panas!"

"Pantatmu tidak sebanding dengan keuntungan yang akan kita dapat" Shion mengetikkan bilangan angka di smartphonenya dan menunjukkannya pada Naruto.

"Uwooooh?! Kita bisa dapat uang segini banyak?!" mata sapphire Naruto membelalak melihat jumlah yen yang akan mereka dapatkan jika berhasil bekerja sama dengan Mr. Toneri. "Shion, kamu serius?!" Naruto merebut ponsel Shion dan melihat lekat-lekat pada benda itu.

"Iya! Makanya jangan berisik dan berhentilah mempermasalahkan pantatmu itu!" Shion merampas ponselnya dari Naruto.

"Hihihi, kalau begitu aku rela deh pantatku habis gara-gara meeting lagi" Naruto nyengir dan meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.

"Huuu, baka!" Shion manyun, lalu matanya melirik Sasuke yang sibuk memandangi iPhonenya. "Ada apa Sasuke? Mendadak diam. Mengerikan"

"Iya. Kenapa kamu Teme?" sahut Naruto yang mengintip dari balik bahu Shion.

"Teman-teman, aku harus segera kembali ke Osaka secepatnya" Sasuke memasukkan iPhonenya ke saku jasnya dan berbalik lalu berlari kecil keluar dari bandara.

"Temeee! Woi, ada apa?!" Naruto berusaha menyusul Sasuke yang tengah berlari. Shion pun mengikuti dua cowok di depannya itu.

"Emergency" jawab Sasuke singkat.

"Emergency apa?!" teriak Naruto lagi.

Sasuke menoleh sedikit, "Kakek Sakura meninggal"

Naruto dan Shion berhenti berlari karena terkejut. Mereka berdua mematung dan sosok raven tinggi itu pun menghilang di balik escalator.

.

FLASHBACK SAKURA

Sakura memencet tombol interkom berkali-kali dengan jari yang bergetar kacau. Setelahnya, dia menempelkan telunjuknya di ujung hidung Kakeknya.

Tidak ada nafas.

Sakura kemudian menempelkan daun telinganya ke dada Jiraiya. Sambil menekan nadi kakeknya itu dengan ujung jari tangan kirinya.

Tidak ada detak sama sekali.

Sakura menggoncang-goncang bahu lemah Jiraiya, "Kakek! Kakek banguuuun! Bagaimana bisa kau membuatku membencimu dua kali! BANGUUN! Aku benar-benar membencimu, Kakek!"

BRAK

Pintu ruangan terbuka dan beberapa perawat dan dokter masuk. Salah seorang perawat mencegah Sakura mendekati Jiraiya agar tim medis memiliki space untuk mendiagnosa Jiraiya. Sakura meronta-ronta, tangannya berusaha meraih tubuh yang tergolek itu.

"Lepas! Dia Kakekku! Aku cucunya! Aku cucunya! Kembalikan keluargaku, kembalikan Kakekku!" Sakura menangis bisa dia selalu kehilangan keluarganya?

Paramedis berusaha sekuat tenaga mereka untuk menyadarkan kembali Jiraiya. Sakura yang masih meronta kini ditahan oleh dua perawat bertubuh besar. Shock telah membuat tenaganya keluar sepenuhnya.

"Tou-san!" Asuma masuk, diikuti Kurenai di belakangnya. "Tou-san! Apa yang terjadi?!"

"Tolong jangan mengganggu kami. Kami mohon!" kata seorang perawat. Asuma dapat melihat Ayahnya tidak bergerak sama sekali. Pikiran yang ditakutkannya kini terjadi. Asuma kehilangan kesadarannya dan berdiri tegak terhenyak dengan semua peristiwa ini.

Sedangkan Kurenai berlari mantap ke arah Sakura yang masih meronta-ronta.

PLAKK

Dilayangkannya tamparan keras ke pipi Sakura. Sakura tidak peduli dan masih mencoba mendekati Kakeknya.

"Sakura! Apa yang sudah kau lakukan?! Kau yang ada bersama Tou-sama bukan?! Bagaimana bisa kau membiarkan Tou-sama meninggal?!" bentak Kurenai.

"Aku tidak! Kakek tidak meninggal! Kakek tidak boleh meninggal!" air mata Sakura membasahi wajah dan lehernya.

"Kau! Kau jelas-jelas ada di samping Tou-sama! Kau membunuhnya!"

"Tidak! Dia Kakekku!"

"Aku tahu kau punya dendam pada Tou-sama! Tapi beraninya kau!"

"AKU TIDAK MEMBUNUH KAKEK!" Sakura berteriak sekencang yang dia bisa.

"Ya! Kau membunuh Tou-sama demi hartanya. Dan motifmu cukup kuat! Kau membenci Tou-sama seumur hidupmu!"

"Semuanya harap diam!" bentak dokter kepala di ruangan itu.

"Pukul 14.23, Jiraiya-sama meninggal dunia. Penyebab kematian kanker hati. Dan sebagai tambahan, beliau sebenarnya meninggal dalam keadaan yang lebih baik dari kemarin. Organ tubuhnya membaik karena suasana hatinya benar-benar bagus, namun sayang nyawa beliau tidak bisa diselamatkan. Kematian beliau murni karena kanker. Mari kita doakan agar Jiraiya-sama tenang di alam sana" dokter kepala menjelaskan panjang lebar dengan bijaksana.

Asuma yang dari tadi shock, kini menundukkan kepalanya. Kurenai berhenti berteriak dan melayangkan pandangan sedih. Sedangkan Sakura kehabisan tenaganya, dan akhirnya pingsan.

.

Sakura mengerjapan matanya. Aroma khas rumah sakit menusuk hidungnya. Saat dia mulai bisa melihat sekelilingnya, ada Mikoto dan Sasuke di samping bed menatap dirinya cemas.

"Sakura-chan. Syukurlah kamu sudah sadar…" Mikoto memeluk Sakura.

Ekspresi Sakura masih blank dan tidak ada raut manis di wajah Sakura seperti biasanya. "Aku turut berduka, Sakura-chan…" ucap Mikoto bersimpati, tapi Sakura masih diam dengan pandangan kosong.

Sakura bisa merasakan semuanya. Ucapan Mikoto, pandangan cemas Sasuke, suara Fugaku dan Asuma di luar ruangan, serta ramainya pers di lorong. Sakura bisa merasakan semua itu.

Tapi

Sakura tidak bisa mencerna semua itu. Rasanya seperti masih gelap. Lubang di hatinya masih menganga lebar. Bahkan saat Sasuke menyentuh tangannya dan menggenggamnya erat.

Iya, Sakura bisa merasakan kehangatan Sasuke.

Bisa.

Tapi rasa gelap itu masih bersemayam di hati Sakura. Satu-satunya reaksi yang bisa dilakukannya adalah menjatuhkan air mata lagi dan lagi. Dengan pandangan kosong, air mata Sakura tidak berhenti mengalir.

Sasuke menyeka air mata yang tak kunjung berhenti itu dan membaringkan kembali tengkuk Sakura ke bantal.

.

.

"Sebaiknya kami pulang" pamit Sasuke dengan menggenggam kursi roda yang diduduki Sakura.

"Pulanglah ke rumah kami" pinta Asuma.

"Tidak, Asuma-san. Menurutku tidak baik jika membawa Sakura ke tempat almarhum tinggal sebelumnya. Sementara ini" jawab Sasuke.

"Kalau begitu pulanglah ke rumah kita Sasuke-kun" sambung Mikoto.

Sasuke melirik sekilas Ayahnya yang berdiri di belakang Ibunya.

"Tidak, Kaa-san. Mungkin lain kali" Sasuke menunduk hormat dan berlalu dari hadapan semua orang.

.

.

.

Sasuke membopong Sakura dengan lembut menuju kamar mereka di lantai 15. Sepanjang lorong hotel yang sepi, dia terus memandang wajah kusut Sakura yang tengah meringkuk di pelukannya.

Gadis manis yang biasanya ceria itu sangat berbeda dengan keadaannya sekarang. Betapa Sasuke sangat mengkhawatirkan psikis Sakura. Tidak sedikit tekanan yang dialami Sakura. Dan Sasuke, sangat benci melihat air mata Sakura.

Kembali di kamar hotel. Sasuke masih memandang Sakura yang tetap menutup matanya menggunakan pergelangan tangan.

Sepertinya air mata Sakura tidak bisa mengering. Cairan bening itu terus turun membasahi pipi Sakura.

Sasuke memijat pangkal hidung mancungnya dan memejamkan mata. Dia tidak tahan melihat Sakura menangis. Hatinya ikut sakit. Ini aneh. Sasuke belum pernah merasakan perasaan menyebalkan seperti ini.

"Sakura…"

"….."

"Kumohon berhentilah menangis"

"….."

"Itu…"

"….."

"…. Menyakiti perasaanku"

"…." Sakura tetap tidak bergeming.

"Aku tidak suka melihatmu menangis"

"….."

Sasuke berdiri menghampiri Sakura yang tengah terbaring. Dia lalu mengangkat kakinya ke atas ranjang dan menempatkan lututnya di samping kaki Sakura sehingga kaki Sakura berada di tengah-tengah antara lutut Sasuke.

Sasuke membungkukkan badannya dan meletakkan tangan kanannya di bantal perpotongan leher Sakura untuk menahan beban tubuhnya.

"Sakura, tatap aku" tangan kiri Sasuke menyingkirkan pergelangan tangan Sakura yang digunakannya menutup mata.

Mata sembab itu menatap onyx Sasuke. "Aku tidak mau melihat apapun sekarang" jawab Sakura yang lalu mengalihkan pandangannya dan menutup kelopak matanya.

Sasuke lalu meraih dagu Sakura dengan ibu jari dan telunjuk kirinya, membuat Sakura menghadap padanya sekali lagi.

Tapi kali ini Sasuke tidak mengatakan apapun. Sekarang tangan kirinya malah menutup mata Sakura.

Dan.

Sasuke…

Mencium bibir Sakura.

Ciuman yang sangat lembut.

Sakura tidak menolak ciuman itu, dan tidak membalasnya. Dia hanya diam dan air matanya semakin deras mengaliri jemari Sasuke yang menutupi matanya.

Sasuke mencium bibir Sakura cukup lama, lalu memiringkan kepalanya untuk mencium sisi lain bibir Sakura.

Setelahnya, Sasuke mencium leher Sakura, lalu mengecup dahi Sakura, dan kembali mencium bibir Sakura.

Sasuke lalu melepas tangan yang menutupi mata Sakura.

Kedua pasang mata itu saling menatap lawannya masing-masing.

…..

…..

…..

"Aku menyukaimu Sakura"

.

.

.

Konbanwa minna-san… aitakatta…

Aku kepingin banget fic ini segera tamat, tapi memang dasarnya aku males, ralat, kekurangan waktu untuk duduk tenang di depan laptop dan menulis. Mwahaha…

Sementara, sabar dulu ya kalau ceritanya gaje poooll… saya masih berusaha. Hehehe

Well, please keep follow my story, ne?

I Love You…

Review, please?