… Tidak ada satu apapun yang lebih indah dan jahat selain sorot tajam matamu …
NARUTO, always belong to Masashi Kishimoto
-Author alay mulai berimajinasi liar lagi. Kukuku-
WARN
Bad Sasuke, Lemon, Absolutely Rate M, AU, Typo, No Flame, Don't Like Don't Read
.
.
.
Malam ini adalah malam yang sangat cerah di Tokyo. Bulan terlihat jelas, dan awan-awan kecil yang berarak perlahan menghiasi langit gelap yang memantulkan rembang cahaya-cahaya Tokyo. Di tengah-tengah gemerlap dan kilau lampu, sinar yang memancar menonjol dari Tokyo Tower menjadi ratu dari segala keindahan malam.
"Sakura, tidak tidur?" Sasuke menanyai Sakura yang sedang termenung memandang pemandangan malam Tokyo. Gadis itu terlihat masih pucat dan sedikit kurus.
Sudah sekitar satu pekan sejak tragedi menimpa gadis itu. Disaat hati perempuan itu siap terbuka untuk menerima kehadiran keluarga, Kakeknya meninggal. Satu-satunya manusia di dunia ini yang memiliki hubungan darah dengannya membuat Sakura 'sendirian' lagi. Sedangkan saudaranya, Asuma dan Kurenai… Ah, Sakura bahkan tidak memiliki sedikitpun gairah untuk membicarakan Paman dan Bibinya itu.
Sakura menoleh perlahan memandang wajah Sasuke dari kejauhan. Lututnya ditekuk dan dipeluknya, lalu bibirnya melemparkan senyuman manis yang terlihat sedih kepada Sasuke.
"Tidak, Sasuke-kun tidurlah lebih dulu" jawab Sakura.
Sasuke memandang Sakura untuk beberapa detik, lalu dia mengangguk mengerti dan melenggang masuk ke dalam kamar.
Sasuke menghempaskan tubuhnya keras-keras ke atas ranjang. Kepalanya sedikit pening dan ditutupinya mata onyx miliknya dengan telapak tangan.
Hhhhh. Haruskah aku menyerah… Entah apa yang bisa membuat senyum Sakura kembali seperti semula. Sudah satu minggu aku tidak pernah melihatnya tidur di kamar. Selalu tidur setelah aku tertidur, dan bangun sebelum aku terbangun…
Sasuke mencoba memejamkan mata. Dia tidak bisa menahan kantuknya lebih lama lagi. Pertandingan kontes fotografi akan digelar beberapa hari ke depan, dan minggu-minggu ini adalah hari-hari berat SS art STUDIO. Sasuke mencurahkan semua tenaga dan skillnya untuk kontes itu, karena kontes akbar itu hanya diadakan selama 5 tahun sekali. Kontes tersebut juga selalu mengangkat harum nama juaranya. Tidak sedikit fotografer atau perusahaan kecil yang kini menjadi figur terkenal di Eropa dan Amerika berkat event itu. Bahkan sebenarnya, pekerjaan yang selama ini digelutinya adalah pengalaman dan latihan demi bisa terpilih menjadi juara di kontes itu. Ya, bisa dibilang, kontes itu adalah puncak klimaks dalam karir Sasuke. Walaupun masih bisa menungggu lima tahun, sepuluh tahun, lima belah tahun lagi, tidak ada kata menunggu untuk seorang Sasuke. Sasuke merasa dirinnya cukup berbakat untuk bisa menjuarai kontes akbar itu.
.
.
.
Setelah dress up dengan kemeja hitam Versace, jeans navy, dan aksesoris kesayangannya, tindik dark silver plus cincin yang diletakkan di kelingking dan jari tengah, serta jam tangan sport Ripcurl, Sasuke berjalan ke meja makan sambil menata rambut emonya. Sasuke melihat menu sarapan pagi ini sudah tersedia lengkap. Tapi, setelah menengok kitchen dan balkon, Sasuke tidak melihat keberadaan Sakura.
Sasuke menaikkan bahunya lalu duduk bersiap menyantap sup miso. Bibir Sasuke membentuk satu senyuman kecil saat dia menghirup aroma miso buatan Sakura. Sasuke sangat mencintai masakan Sakura. Belum pernah ada satupun cewek yang pernah dikencaninya mampu memuaskan nafsu makan Sasuke.
"Sasuke-kun?"
Sasuke menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya Sakura keluar dari kamar mandi di kamar dan sudah mengenakan kaos turtleneck putih tanpa lengan dari Chanel, dan skinny jeans panjang hitam serta ankle boots hitam. Rambut panjangnya dikuncir kuda simple, malah cenderung sedikit berantakan. Tapi toh, Sakura tetap terlihat keren dan modis di mata Sasuke. Ya, Sasuke tidak melupakan kalau Sakura adalah mahasiswi jurusan desain.
"Hm?"
"Apa aku sudah boleh masuk kerja ke studio?" tanya Sakura sambil mendudukkan dirinya di kursi seberang Sasuke.
"Tentu. Kenapa tidak?" jawab Sasuke sambil menyumpit belut panggangnya.
"Terima kasih"
"Tapi… apa kamu sudah baikan? Maksudku, apa baik-baik saja? Bekerja?"
Sakura menjawab pertanyaan Sasuke dengan senyuman kecil yang masih terlihat muram.
.
.
.
CKRIK
CCKRIK
CKRIK
"Yak! Hebat. Kita istirahat sebentar" seru Naruto yang selesai memotret Sakura dengan tema dark passion.
Sakura berpakaian seksi dengan dress ketat merah maroon tanpa lengan yang dijahit asimetris sensual, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Dia melepas bulu boa hitam yang dikenakannya melingkari pinggang, lalu staf make up segera mengerumuninya untuk berganti kostum.
Naruto segera melihat gambar Sakura di komputer yang sudah tersinkronisasi dengan kameranya. "Eeehhhh… cantik sekali Sakura-chan. Aku jadi ingin menciumnyaaa!" seru Naruto sambil menggeser-geser jarinya pada LED touchscreen.
PLAK
Sasuke menepuk punggung tangan Naruto yang masih asyik memeriksa hasil jepretannya.
"Ouch! Sialan!" erang Naruto.
"Tidak boleh" sahut Sasuke sambil menggeser-geser layar. Memastikan hasil potret Naruto terlihat bagus.
"Apanya?!"
"Mencium Sakura"
KREK
Kerutan jengkel muncul di kening Naruto.
"Jelek" kata Sasuke singkat lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"EHHHH?!" seluruh staf yang berdiri di sekitar Sasuke terkaget-kaget. Bagaimana bisa pose Sakura yang sangat keren itu dibilang jelek? Tidak terkecuali Naruto yang shock foto hasil bidikannya dikritik rekan seperjuangannya.
"Teme! Aku sudah mengambil angle dengan tepat banget, tahu!" protes Naruto.
"Bukan kamu. Bukan anglenya. Tapi foto ini…-"
Semua orang menahan nafas. Mereka selalu bete saat Sasuke mulai cerewet dengan hasil foto, karena biasanya mereka harus mengganti setting, lighting, dan semuanya.
"….hampa"
Semua orang menahan nafas dua kali. Pasti. Pasti ganti set, batin mereka.
Sasuke membalikkan badan menghadap semua orang. "Kalian tahu kan, konsep tema kita kali ini dark passion? Oke, oke, settingnya sudah cukup bagus" ralat Sasuke setelah menangkap lirikan tajam Shion yang hendak protes. "Tapi" lanjutnya.
"Aku butuh model laki-laki sebagai pasangan Sakura"
"Aha! Aku tahu, aku tahu!" Naruto mengangkat tangannyaa tinggi-tinggi. Sasuke merasa sangsi dan memandang curiga pada Naruto.
"Siapa?"
"Aku saja!" jawab Naruto menunjuk pipi menggunakan kedua telunjuknya sambil nyengir.
Sasuke memutar bola matanya dan menunjuk Naruto dengan jengkel. "Siapapun tolong buang dia ke gudang!" bentak Sasuke.
Naruto menganga lebar dan menutup mulutnya dengan kepalan tangannya. "Wahhh, gomen, gomen. Aku kan cuma bercanda!" Naruto mengatupkan kedua telapak tangannya dan menunduk pada semua orang.
"Bagaimana kalau kita undang Neji lagi? Sesi foto terakhir chemistry antara Sakura dan dia sangat bagus" saran Shion. Beberapa staf mangggut-manggut setuju.
"Tidak. Neji kurang tajam pandangannya dan tidak cocok untuk tema ini. Bisa-bisa dark passion ini jadi sweet passion" Sasuke mengacak rambutnya dengan kesal lalu duduk di depan PC lanjut memeriksa gambar-gambar Sakura.
"Lalu maumu yang bagaimana?!"
"Seseorang yang keren, cool, menggoda, manis di saat tertentu, dan… sexy" jawab Sasuke cepat.
"Kamu saja Teme!" seru Naruto sambil menunjuk cowok raven itu.
Semua orang berdiri kaku dan menunggu reaksi Sasuke. Memang, kriteria di atas tadi sangat cocok, dan semuanya ada pada Sasuke. Tapi, Uchiha Sasuke? Menjadi model? Belum pernah ada yang tahu dan tidak ada yang berani menanyai.
"Mau mati ya?" jawab Sasuke sambil mendorong dahi Naruto menggunakan telunjuknya lalu duduk lagi di depan layar. Semua orang tegang sekaligus menahan tawa melihat Naruto yang terus disalahkan. Ya, bocah pirang itu memang terlihat imut dan lucu sekali.
"Gaara? Si aktor ganteng itu bagaimana? Dia keren, cool, dan manis sekali" Shion berusul dengan antusias.
"Dia masih bocah"
Shion merengut idolanya dibilang bocah oleh Sasuke. Apa sih, Gaara kan sudah 17 tahun.
"Bagaimana kalau presdirnya Nara corp? dia kan ganteng?" usul staf yang lain.
"Shikamaru? Kau gila? Dia partner penting kita dan kau mengusulkan presdir perusahaan besar untuk bekerja bersama kita? Dia kolega, bukan model" ucap Sasuke sambil memberikan deathglare yang mampu membungkam semua orang.
"Hhhhh, siapa ya… Ah, Pain? Kamu tahu Pain kan Teme? Itu tuh, gitaris Akatsuki. Dia kan merangkap model juga?" seru Naruto.
Sasuke menimbang-nimbang usulan itu. Cukup bagus juga, akhirnya otak Naruto berjalan juga.. Sasuke merasa tidak buruk juga.
Baru saja Sasuke angkat bicara, Shion memotongnya, "Tidak boleh! Dia itu pria licik! Aku benci dia"
"Ohoooo, ciyeee mantan pacaaaar" goda Naruto sambil merangkul pundak Shion dan gadis pirang itu langsung memerah seketika mengingat mantan pacarnya, Pain.
"Kutekankan Sasuke. Pain itu cowok brengsek. Dengan sekali lihat saja Sakura pasti bisa diraihnya! Percaya padaku! Kamu peduli pada Sakura kan?!"
Sasuke memandang mata serius Shion lalu memikirkan kembali keputusannya untuk mengambil Pain sebagai modelnya.
"Hahaha. Sakura-chan bukan cewek yang gampang diraih tahu. Iya kalau kamu" Naruto mengacak-acak pucak kepala Shion yang sukses membuat Naruto terkena pukulan telak di dadanya.
BUKK
Uhh, malang sekali nasib Naruto.
Sasuke menggeleng capek melihat tingkat stafnya. "Sudahlah. Pain jadi kemungkinan terakhir. Sementara ini tema dark passion dipending dulu sampai besok, dan saat itu aku mau kalian sudah ada kandidat terbaik sesuai kriteriaku. Bubar" perintah Sasuke dan membuat semua staf melanjutkan pekerjaan masing-masing.
.
.
Malam masih terasa sama. Penuh kehampaan karena keceriaan Sakura belum juga kembali. Gadis itu tidur setelah Sasuke tidur, dan bangun sebelum Sasuke terbangun.
Esoknya…
Sasuke mengecek kembali kameranya sebelum sesi pemotretan tema fire curves dimulai. Tema panas yang mengusung model telanjang demi memperlihatkan indahnya seni melalui lensa. Naruto dan Sakura masih sibuk memilih referensi model yang menjadi pasangan Sakura dari tumpukan album. Sedangkan Shion tidak terlihat sejak pagi.
TAP TAP
Gadis mantan pacar Sasuke melenggang anggun ke dalam studio dengan hanya memakai kain putih yang dipakainya menutup badan. Ya, Karin. Rambut ikalnya sudah berubah menjadi lurus dengan ujung-ujung rambut yang diwarnai hitam. Jelas sekali tubuhnya telanjang bulat dan hanya mengenakan high heels super tinggi berwana gold.
"Sasuke, aku sudah siap" Karin duduk tiba-tiba di paha Sasuke.
Semua orang membelalak hebat. Melihat Karin bermanja-manja pada Sasuke? Itu hal biasa, tapi dengan kostum seperti itu? Naruto menunjuk-nunjuk Karin dengan jari gemetar, sedangkan Sakura hanya bisa memandang tidak percaya akan apa yang ada di depannya.
"Hn" kata Sasuke sambil berdiri tegap. Karin hampir saja terjatuh tapi untungnya dia menahan beban tubuhnya dengan heels super tingginya. Heran juga kenapa dengan heels refleksnya cukup bagus. Dengan sedikit bete, Karin menuju set yang sudah disiapkan para staf.
Karin tengkurap di atas kain-kain putih sambil memainkan rambutnya lalu Sasuke bersiap memotretnya.
CKRIK
Karin berpose miring sambil menggigit jari tengah yang kukunya dicat kotak-kotak hitam putih.
CKRIK
Sekarang dia berpose dengan bermain ekspresi. Bibirnya membentuk bibir seseorang yang sedang mendesah.
CKRIK
Dan pose-pose panas terus berlanjut tanpa ada arahan dari Sasuke.
Sementara itu, Sakura terpana melihat keseriusan Karin dalam bekerja. Tapi, kenapa dia merasa ada yang bergerak-gerak di dalam dadanya? Rasanya sesak dan Sakura seperti tidak ingin melihat Sasuke melakukan sesi itu.
"Naruto, apa aku nanti harus berpose seperti Karin juga? Maksudku dengan partnerku nanti?" tanya Sakura.
"Ah, aku tidak tahu Sakura-chan… tapi kupastikan kamu tidak akan telanjang kok!" Naruto merangkul pundak Sakura.
Sakura tersenyum dan melanjutkan, "Tapi… siapa ya yang akan menjadi partnerku nanti? Kalau Pain itu orangnya seperti apa?"
"Sebenarnya yang dikatakan Shion kemarin ada benarnya juga sih Sakura-chan. Pain itu playboy kelas kakap. Mending Sakura-chan jangan terlibat dengannya walau cuma dalam pekerjaan"
Sakura manggut-manggut fokus kembali melihat Sasuke dan Karin.
"Ohayoooou! Gomenasai minnaaaa, aku terlambaaat!" sapa Shion dengan wajah berseri-seri.
"Ohayou, Shion" sapa Sakura.
"Ohayo, Ohayo! Kau tahu sekarang sudah jam berapa nenek tua!" Naruto berdiri dan menunjuk hidung Shion.
PLAK
Shion menyingkirkan tangan Naruto dengan kasar lalu berkata, "Dasar keriput, aku terlambat ada sebabnya tahu! Ah, Sakura, lihat siapa yang kubawakan untukmu. TADAA, kenalkan partnermu iniiii" Shion menyingkir sedikit dan terlihatlah seorang pemuda manis yang sangat tampan dan stylenya keren.
"Halo, Sakura-chan. Salam kenal, aku Akasuna Sasori" ucap pemuda itu.
Sakura terkejut. Siapa yang tidak mengenal aktor, penyanyi, sekaligus model berbakat satu ini. Saking kagetnya, Sakura tidak sadar saat Sasori meraih dan mencium punggung tangannya.
"Whoo, whoa. Dengan ini kita pasti menang! Kenapa tidak terpikir olehku sebelumnya ya?" Naruto tidak kalah girang dan menggaruk-garuk kepala blondenya.
Sasori tersenyum simpul memandang wajah Sakura lalu mengalihkan pandangannya ke arah Karin yang juga kaget dengan kedatangan Sasori. Karin melambaikan tangannya pada Sasori, tapi Sasori malah duduk di sebelah Sakura dan merangkul pundak Sakura untuk menciptakan chemistry di antara mereka berdua.
Karin merasa sebal sudah dicuekin Sasori, dia menggigit kain penutup tubuhnya dengan kesal. Sedangkan Sasuke memandang sebal ke arah yang sama.
.
.
CKRIK
CKRIK
"Sakura-san, bisakah kamu memeluk leher Sasori-san?" pinta fotografer.
Sasuke menghempaskan tubuhnya di atas sofa sambil mengamati sesi foto Sakura-Sasori. Sasuke memutuskan saat ini dia sedang tidak mood mengambil gambar Sakura. Bagaimana tidak, dirinya yang sudah berusaha membuat Sakura ceria dalam seminggu terakhir dan ternyata menghasilkan sebuah kegagalan, kalah dengan pesona charming Sasori.
Sakura terlihat sangat enjoy berpose dengan rekan barunya itu. Bahkan saat dirinya diminta memeluk, dipeluk, pokoknya skinship dengan Sasori, senyum dan ekspresi Sakura terlihat sangat natural dan Sasuke akui… cantik.
"Woi, Teme. Aku tahu ada sesuatu terjadi di antara kalian. Kalian aneh sekali seminggu ini" sahut Naruto yang ikut menghempaskan tubuhnya di samping Sasuke.
Sasuke terlihat berpikir agak lama lalu akhirnya menutup kelopak mata dan memijat pangkal hidung.
"Hn"
"Bingo! Aku tahu, aku tahu. Aku selalu tahu" seru Naruto mengacungkan ibu jari ke wajahnya. "Ada apa sih?" lanjutnya.
…
…
"Aku ditolak Sakura" jawab Sasuke yang spontan menggerakkan tubuhnya memutar dan membungkam mulut Naruto yang siap meledak dengan teriakan.
"Mbbbmm, mmm.. leee…bhass….kkkkan!" Naruto meronta-ronta meminta Sasuke melepas bekapan tangannya.
Sasuke melepas perlahan tangannya dengan pandangan ragu.
"DITOLA- UMFBHH" Sasuke membungkam mulut Naruto lagi.
Cocok.
Naruto teriak.
Semua mata menuju pada pria-pria tidak jelas itu. "Ditoleransi, ditoleransi. Kesalahan-kesalahan Naruto" ucap Sasuke yang disambut anggukan kepala dari semua staf.
"Buuhgf, jjjann… jiiihh" ucap Naruto terbata-bata dengan wajah membiru. Sasuke akhirnya melepaskan tangannya.
"Jadi, kamu? Dan Sakura-chan? Kamu?"
Sasuke mulai menyesali keputusannya bercerita pada sahabatnya yang satu ini.
"Kamu nembak Sakura-chan? Kapan? Dimana? Bagaimana kronologinya? Dan kenapa kamu ditolak? Uchiha Sasuke ditolaaak?"
Sasuke menarik pelan rambut jabrik Naruto. "Kubilang jangan teriak-teriak. Dan pertanyaanmu itu! satu-satu donk!"
"Baik, baik. Ouch, berhenti menyiksaku donk!" Naruto mengibaskan tangan Sasuke dan kali ini dia menggeser tubuhnya menjauhi Sasuke, takut akan disiksa lagi.
"Saat kami masih di Osaka. Aku baru menyadari kalau aku memang menyukai Sakura. Dan… aku tidak bisa melihatnya menangis" jawab Sasuke serius.
"Huu, gitu aja dulu gak mau ngaku. Aku sudah tahu kamu pasti menyimpan perasaan khusus pada Sakura-chan"
"Tapi perasaanku tidak berbalas" Sasuke mengatupkan jari-jarinya di depan mulut.
"Bagaimana bisa?"
"Dia hanya diam waktu itu dengan air mata yang masih mengalir deras. Dan yang membuat hatiku hancur adalah saat dia mendorongku perlahan untuk menjauhinya dan dia berkata 'Maaf'"
"Yah, kamu juga sih, nembak dia pas keluarganya terkena musibah"
"Bukan. Saat kutanya apakah dia belum siap karena semua kejadian itu, dia menggeleng padaku"
"Terus?"
"Entahlah aku tidak mengetahui perasaannya. Hei dobe, menurutmu aku harus bagaimana?"
"Hei! Dia sudah membuatmu menjadi seseorang yang lebih baik. Kamu kan tidak pernah ditolak cewek, dan tiap habis putus juga kamu cepet move on. Tapi kali ini beda, kamu masih memikirkan Sakura-chan walau sudah ditolak"
Sasuke melirik Naruto, "Bagaimana bisa tidak bisa memikirkan, kami tinggal seatap"
"Jadi kalau tidal tinggal bersama kamu tidak akan menyukainya lagi?"
"…" Sasuke menaikkan alisnya sekejap lalu memandang Sakura di seberang sana.
"Aha! Ketahuan. Kamu bukan menyukainya, tapi jatuh cinta pada Sakura-chan!"
"Akh! Entahlah!" Sasuke mengacak rambut emonya dengan kesal.
TEP
Naruto meletakkan tangannya di pundak Sasuke "Teme, untuk membuatmu sedikit lebih lega, aku beritahu ya, Sakura-chan juga memiliki perasaan spesial padamu"
Sasuke mengibaskan tangan Naruto, "Jangan menghiburku. Aku tahu aku terlihat menyedihkan"
TEP
"Aku serius, Teme. Hanya saja dia belum menyadarinya. Dan alasan menolakmu juga, kurasa bukan sesederhana itu. dia pasti punya alasan tersendiri. Alasan yang sangat penting"
Kali ini Sasuke tidak mengibaskan tangan Naruto. Dia memandang sapphire Naruto yang terlihat bersungguh-sungguh. Mungkin cowok blonde itu ada benarnya. Sasuke seakan mendapat sedikit harapan.
.
.
Dua minggu berlalu penuh dengan kesibukan. Sakura semakin dekat dengan Sasori. Bahkan mereka sering makan siang bersama.
Dan hari ini adalah puncak sesi foto mereka yang akan diikutsertakan pada kontes. Dari semua latihan kemarin hari, semua staf setuju bahwa chemistry Sasori-Sakura paling sempurna pada tema dark passion. Keduanya manis tapi memiliki aura misterius dan menggoda pada saat bersamaan.
Dan kali ini yang menjadi fotografer mereka adalah Sasuke.
Sasori sudah siap dengan kemeja putih yang 2-3 kancingnya sengaja dibuka, dilapisi jas silver, ripped jeans hitam, tindik silver. Sedangkan Sakura memakai dress silver futuristik yang memiliki pola transaran abstrak dan memperlihatkan sebagian tubuhnya seperti perut, dada atas, punggung, dan pinggul sebelah kanan. Rambut lurusnya dibiarkan tergerai bebas, dahinya dihiasi manik-manik kristal sedangkan lehernya dihiasi collar dari diamond hitam. Tidak lupa kaki jenjangnya memakai heels transparan yang menyerupai sepatu kaca.
"Baiklah. Kita mulai" kata Sasuke. Seisi studio memandang mereka bertiga.
"Fighting, Sakura-chan" ucap Sasori sambil mengepalkan tangan.
Sakura tersenyum dan memperlihatkan gigi putihnya.
Sasori meraih pinggang Sakura dan mendekatkannya ke tubuhnya. Sasori menatap tajam mata Sakura dengan ekspresi yang sangat keren.
Alis Sasuke bertautan melihat aksi dua orang di depannya.
CKRIK
Sasori mengubah posenya memeluk Sakura dari belakang dan menempelkan hidung mancungnya yang kurus di pundak Sakura.
Tangan Sasuke semakin keras menggenggam kameranya.
CKRIK
Sasori kemudian mengangkat tubuh Sakura di depannya lalu menyuruh Sakura meletakkan tangannya di pundak Sasori. Posisi mereka berhadapan dengan Sakura yang terangkat tinggi dan menempel pada Sasori. Kaki Sakura menekuk ke belakang dan memberikan kesan bahwa pasangan itu sedang asyik memadu kasih.
Rahang Sasuke juga semakin mengeras. Apa aku menginginkan ini, apa aku mau melihat ini.
CKRIK
Sasori memutar tubuhnya dan membaringkan Sakura di atas bed yang dihias dengan kain-kain hitam. Sakura melirik Sasuke yang tetap diam lalu tangan halus Sasori membelai pipinya. Sasori sudah berada di atas Sakura.
Sasori menaikkan paha kanan Sakura agar menekuk lalu tangannya meremas rambut di puncak kepala Sakura. Pose ini benar-benar menantang. Sakura mendadak berdebar-debar. Bukan karena Sasori. Tapi pose ini mengingatkannya pada ciuman pertamanya bersama Sasuke.
Sekali lagi Sakura melirik Sasuke yang memandangnya tajam.
"Sakura, tatap aku" kata Sasori.
Sakura mengembalikan pandangannya ke arah Sasori dan
CUPPP
Sasori mencium bibir Sakura. Dengan mata terbuka. Dua pasang mata yang saling memandang dalam ciuman.
CKRIK
Sasuke refleks menekan shutter kamera. Setelahnya dia berbalik dan menyerahkan kamera dengan kasar pada Naruto. Sedangkan semua staf yang tidak mengetahui perasaan Sasuke bertepuk tangan riuh setelah melihat adegan Sasori mencium Sakura.
Sasori mengangkat Sakura dari atas bed dan mengusap bibir Sakura yang basah. "Sakura-chan, maaf ya"
Sakura kikuk dan hanya mengangguk gugup. Dia masih terkejut dengan kejadian barusan.
.
.
Sasuke membasuh mukanya di wastafel taman. Dia mencoba mendinginkan kepalanya yang sangat panas setelah melihat gadis yang disukainya dicium cowok lain. Sasuke benci. Dia membenci dirinya sendiri yang mengagumi karya seni barusan. Dia akui kalau pose itu punya standar yang bagus untuk diikutkan kontes. Dan Sasuke yakin presentase kemenangan dengan foto itu pasti di atas 80%.
Tapi
Sakura?
Kenapa harus Sakura?
TEP
Sebuah tangan halus memberikan sapu tangan pada Sasuke. Dia mendongakkan kepalanya melihat orang itu.
"Jangan pasang muka begitu. Ayo masuk ke dalam, Naruto sudah selesai mengedit fotomu dan menunggu pendapatnya untuk mengsubmit foto ke server kontes" Karin membetulkan letak kacamatanya dan mengajak Sasuke masuk.
Sasuke melangkah masuk ke dalam studio.
Ah, sial. Mulai saat ini aku pasti melihat foto itu dipajang-pajang di kontes dan website-website. Gerutu Sasuke dalam hati.
Sasuke melihat komputer Naruto dikerumuni banyak orang. Dia melangkah dengan ekspresi keruh. Terlihat Sakura berdiri di barisan paling belakang dan sudah berganti pakaian dengan kemeja kotak-kotak kasual dan jeans serta sneakers Converse.
Gadis itu menoleh dan mendapati Sasuke mendekat.
"Ah, Sasuke-kun. Apa aku su….."
Sasuke melenggang cuek melewatinya dan tidak menganggap keberadaan Sakura sama sekali. Sakura menatap sedih cowok emo yang sudah menghilang dari balik bahu orang-orang lalu dia menjauh dan bersandar di dinding.
"Yo, Teme! Haruskah aku mengsubmit yang ini?" Naruto menunjuk foto saat Sasori mengangkat Sakura tinggi-tinggi.
"Huuuu! Bicara apa kau Naruto-senpai! Jelas-jelas yang kissing itu yang sempurna!" seru seorang staf.
"Iya! Ah, Naruto-senpai ini bercanda saja!"
"Aku lebih suka yang adegan kiss itu!"
"Dengan foto terakhir itu kita pasti menang!"
"Yaa!"
"Setuju!"
Sasuke menggeser-geser LED, dan mengangguk saat menatap foto ciuman itu.
"Ya. Submit yang ini sebagai main photo. Selebihnya jadi tambahan saja" ucap Sasuke singkat sambil berlalu, "dan kalian semua, setelah ini kita kumpul di bar untuk merayakan kemenangan yang akan kita raih" tambahnya.
Karin tersenyum lebar saat sarannya untuk mengajak semua staf minum-minum dilakukan oleh Sasuke. Karin memberinya saran saat dia menghampiri Sasuke di taman tadi.
"Banzaiii!"
"Horeee"
"Arigatou Sasuke-senpai!"
"Te, Teme! Kamu serius!?" teriak Naruto yang simpati pada Sasuke. Ya, Naruto kan mengetahui perasaan Sasuke yang sebenarnya.
"Yeyy, kita minum-minum sampai puas senpaiiii!" rangkul seseorang yang membuat Naruto hilang di balik tumpukan orang-orang berbahagia.
Sasuke melenggang keluar menuju mobilnya bersama Karin.
"A, anu Sasuke-kun" Sakura menegur Sasuke.
Sasuke terus berjalan dan membelakangi Sakura. Sakura hanya bisa menatapnya sedih dari kejauhan.
.
.
Malam hari, di bar.
Semua orang sudah menggila dengan bir-bir yang mereka minum. Sasuke yang sangat kuat terhadap minuman beralkohol meneguk lagi gelas yang sudah kesekian. Di sebelahnya ada Karin yang sibuk menggelayuti lengan Sasuke di saat mata onyxnya sibuk menatap Sakura di seberang sana.
"Kenapa kamu tidak minum lagi Sakura?" tanya Shion yang sudah mabuk dan limbung.
"Ehehe. Tidak Shion, kamu harusnya yang berhenti minum" Sakura mengambil gelas Shion. Shion merebut kembali gelasnya. Gadis pirang itu wajahnya sudah memerah seperti tomat. Begitu juga Naruto yang duduk di sampingnya. Duo blonde itu menyanyi tidak jelas dan masuk ke dunia awang-awang mereka sendiri.
Sakura menggelengkan kepalanya tersenyum melihat tingkah teman-temannya.
Hhhh. Aku ingin pulang saja… tapi, kunci apartemen ada di Sasuke-kun dan dia masih asyik bersama Karin.
"Melamun apa Sakura-chan?" tanya Sasori tiba-tiba.
"Ah, tidak Sasori-kun. Aku… hanya tidak nyaman berada disini"
"Apa perlu kuantar pulang?"
Sasuke melihat Sakura sedang bercengkrama dengan Sasori. Dia meneguk birnya lagi dan lagi. Sasuke hanya ingin menghilangkan rasa jengkelnya dengan meracuni dirinya.
Karin yang terpesona melihat Sasuke mempunyai ide yang tiba-tiba terlintas di benaknya. Dia membuka handbag Dolce & Gabbananya lalu membuka sebuah botol bening kecil berisi pil-pil perangsang. Di saat perhatian Sasuke tercurah pada Sakura, Karin diam-diam memasukkan pil itu ke dalam gelas Sasuke.
"Ini.. minumlah Sasuke. Aku yang menuangkannya untukmu" Karin menyodorkan gelas berisi obat perangsang itu. Karin berniat membawa Sasuke ke apartemennya dan melakukan sex.
Sasuke meraih gelas itu tanpa ragu dan menghabiskannya sekaligus. Tiba-tiba dia terkejut.
Sasori menarik tangan Sakura dan dua orang berambut merah jambu itu pun keluar dari bar.
Sasuke tidak bisa keluar begitu saja mengikuti Sakura mengingat dia berniat mencueki Sakura hari ini. Digandengnya tangan Karin dan mereka pun keluar dari bar juga.
"Eh? Mau kemana? Aku belum selesai minum" ucap Karin padahal di dalam hatinya dia sangat gembira.
Sasuke tidak menjawab. Dia terus menarik Karin menuju parkiran.
Bingo. Dilihatnya Sakura bersiap naik ke mobil BMW Sasori.
Sasuke tidak bisa menahan diri lagi. Dilepasnya tangan Karin lalu bergegas berjalan ke arah Sakura dan diraihnya pergelangan tangan Sakura.
"Mau kemana kamu?"
"Aku mau pulang. Sasori-kun yang akan mengantarku. Sasuke-kun lanjutkan saja. Boleh kubawa kunci apartemennya?" jawab Sakura.
"Tidak perlu. Kamu bisa menginap di rumahku Sakura" sahut Sasori mengancam Sasuke di seberang mobil.
"Hei, Sasuke! Sudahlah berikan saja, kita pulang ke rumahku!" seru Karin.
"Tidak"
Sasuke meraih tangan Sakura dan menariknya ke dalam Nissan Skyline yang langsung melesat cepat. Sasori memandang mobil itu dengan tajam sedangkan Karin yang kecewa karena rencananya gagal, melirik Sasori dan melancarkan serangan.
"Huh! Dasar Sasuke bodoh! Hei, Sasori-san. Bagaimana kalau aku menggantikan Sakura ikut ke rumahmu?" goda Karin.
Sasori memberikan senyum termanis pada Karin dan berkata, "Maaf, rumahku tidak menerima cewek nakal" sambil memberikan wink. BMW Sasori pun ikut melesat cepat meninggalkan Karin sendirian.
"Sialaaan! Kenapa semua orang memperlakukanku seperti orang bodoh!" teriak Karin di parkiran dan membuat semua orang disana melihat geli pada Karin.
.
.
Sasuke terus memegang pergelangan tangan Sakura selama mereka berjalan menuju kamar apartemen.
"Lepaskan aku Sasuke-kun! Apa yang kamu lakukan!?"
Sasuke tidak menjawab. Mereka pun sampai di depan pintu apartemen.
"Aku tidak mau masuk! Kamu aneh hari ini!" Sakura menarik tangannya dan bersiap pergi dari tempat itu.
Sasuke meraih pundak Sakura dan menyandarkan gadis itu di depan pintu. Lorong apartemen sangat sepi dan suara benturan punggung Sakura terdengar cukup keras.
"Setelah menolakku kau langsung berpindah ke cowok lain hah?"
Sakura diam dan menatap mata Sasuke dalam-dalam.
"Apa kau begitu membenciku?!" bentak Sasuke.
Tubuh Sasuke terasa panas. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Rasanya sangat panas dan jantungnya berdebar tidak teratur.
Masih menatap Sasuke dengan tajam, mata emerald Sakura mengalirkan air mata tanpa dikehendakinya. Hatinya sangat sakit mendengar ucapan Sasuke.
"Katakan!" bentak Sasuke lagi.
"Baik! Akan kukatakan! Aku tidak bisa menerima perasaanmu karena aku menyukaimu! Aku tidak mau kehilangan orang yang kusayangi lagi! Setiap kali aku menyayangi seseorang, mereka selalu meninggalkanku sendiri. Meninggalkan dunia ini! Dan aku tidak mau kehilanganmu!"
Tangisan Sakura semakin deras seiring kata-katanya meluncur.
Sasuke terkejut dan berdiri kaku mendengar pengakuan Sakura.
"… karena itu, lebih baik aku menjauh perlahan dan semakin baik jika kita saling melupakan" sambung Sakura sambil menyingkirkan tangan Sasuke dari pundaknya. Sakura berjalan perlahan menjauhi Sasuke.
GREP
Sasuke menarik tangan Sakura dan meraih dagunya.
Dilumatnya bibir Sakura dengan ganas. Lidah Sasuke memaksa masuk ke dalam bibir Sakura yang tengah kehabisan nafas.
Digigitnya bibir Sakura, dihisapnya sudut bibir Sakura berkali-kali.
Sakura meronta namun lengan kekar Sasuke dengan kuat menguncinya erat.
Sasuke melepas ciumannya dan menarik masuk Sakura ke dalam apartemen.
Dada Sasuke berdebar semakin kencang.
Dan Sakura, merasa akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya.
.
.
TBC dulu ya…
Keep follow the story dan saya harap minna-san mau berbaik hati meninggalkan review…
Well, aishiteru. Di headerku selalu ada kata 'lemon' tapi sampai chap ini belum ada lemon yang lemon. Wahaha…
Next chap hard lemon. Beware buat yang underage.
Hihihi
Review, please?
Mother CHANYOU
