Tidak ada satu apapun yang lebih indah dan jahat selain sorot tajam matamu …

NARUTO, always belong to Masashi Kishimoto

-Author alay mulai berimajinasi liar lagi. Kukuku-

WARN

Bad Sasuke, Lemon, Absolutely Rate M, AU, Typo, No Flame, Don't Like Don't Read

.

.

.

BUK!

Bunyi keras punggung Sakura yang menghantam ranjang mengisi kesunyian yang menghuni kamar itu sebelumnya. Sasuke telah mendorong gadis berambut pink itu dan menempatkan dirinya di atas Sakura yang tengah ketakutan.

"Sasuke-kun jangan lakukan ini!" Sakura memukul-mukul dada bidang Sasuke.

Cowok raven itu meremas rambut dan mencium bibir Sakura. Dia menyesapi aroma wangi cherry dari bibir itu dan menggigitnya gemas karena bibir itu tidak mau terbuka.

Sakura memekik perlahan dan kesakitan. Bibir pink itu mengeluarkan sedikit cairan merah. Sasuke melepas sejenak aktifitasnya dan melihat noda darah mengalir kecil akibat perbuatannya. Bukannya berhenti, dia semakin ganas menghajar bibir Sakura. Tidak kuat menahan gigitan-gigitan Sasuke, bibir Sakura lengah dan terbuka sedikit. Tidak melewatkan kesempatan, lidah Sasuke segera menjajah rongga mulut Sakura yang sudah kehabisan nafas.

Lidah Sasuke menari-nari dan menjilati satu persatu gigi putih Sakura di saat tangan Sakura berusaha mendorong-dorong lengan Sasuke untuk menjauhinya. Kesal dengan penolakan Sakura, Sasuke berhenti mencium dan menindih Sakura dengan duduk di atas pinggul Sakura.

Sakura memandang takut mata tajam Sasuke. Titik air mata muncul di sudut emeraldnya. "Sa.. suke-kuun… kumohon jangan lakukan ini padaku… kumohoon…" rintih Sakura.

Sasuke diam tidak menjawab. Tangannya menelusuri pipi Sakura terus menuruni leher dan berhenti di kerah kemeja Sakura.

BRETTT!

Kedua tangan kekar itu berhasil merobek kemeja Sakura sehingga kepingan kancing berhamburan di atas bed. Dada bening Sakura yang hanya memakai bra hitam kini terekspos jelas.

"Kyaa!" tangan Sakura spontan menutupi dadanya, tapi dengan cepat Sasuke menarik tangan itu dan meletakkannya di pundak Sasuke lalu mulutnya mulai sibuk menjilati permukaan dada yang menyembul dari balik bra.

Sasuke menghisap dan menggigit kulit Sakura tanpa henti.

"Ah!" Sakura memekik kesakitan saat lagi-lagi sebulir darah keluar dari kulit dadanya. Sasuke benar-benar kejam. Cowok raven itu kemudian menarik kasar bra Sakura dengan menggunakan giginya, yang tentu saja pelindung dada itu kini lepas dengan sempurna dari tubuh setengah telanjang Sakura.

Sasuke melempar bra robek itu dan memegang lengan Sakura lalu membaringkan gadis itu dengan tangan di atas kepala. Sasuke kembali menikmati bibir Sakura tanpa ampun.

Selama lima menit terus menciumi wajah Sakura, tangan Sasuke mulai membuka kancing celana jeans Sakura. Tidak mudah. Sakura terus meronta-ronta berusaha lepas dari cengkeraman Sasuke. Untuk pria mahir seperti Sasuke pun, membuka celana cewek dengan kaki yang terus bergerak bukanlah hal yang mudah.

Dengan satu gerakan lincah, Sakura berhasil menghentakkan kakinya menendang perut Sasuke lalu berlari sebisanya menuju pintu.

GREP

Dengan cekatan Sasuke meraih tangan Sakura yang membelakanginya dan menempelkan telapak tangan Sakura pada pintu kamar.

"Sasuke-kun! Kumohon berhentilaaah!" teriak Sakura kali ini dengan air mata yang sudah mengalir deras.

Sasuke sudah kehilangan kesadarannya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bahwa dia ingin memiliki Sakura seutuhnya. Sakura, gadis pertama yang dia cintai. Gadis pertama yang mampu membuat dadanya berdegup kencang. Gadis pertama yang membuatnya hancur saat melihatnya menangis.

Tapi entah kenapa melihat Sakura menangis kali ini hanya malah membuatnya semakin ingin menguasai gadis itu semakin dalam.

Sasuke menghadap punggung Sakura yang basah karena keringat. Setelah dirasa Sakura harus menahan tubuh dengan menyandarkan tangan pada pintu, Sasuke melepas pegangannya dan menuruni lengan lalu berhenti pada buah dada Sakura.

Sakura menunduk menangis keras saat Sasuke memainkan dadanya naik turun sambil menjepit kedua ujung dadanya. Sakura merasa ada suara dari dalam tenggorokannya yang akan keluar dalam bentuk desahan. Ya, dia baru pertama kali merasakan semua ini, tubuhnya merespon dengan normal dan mengakibatkan ketidaksinkronan antara tubuh dan jiwanya.

Sakura menahan desahan yang sudah mengumpul di dalam mulutnya. Perempuan yang tengah sengsara antara sakit atau menikmati alur Sasuke itu menggigit bibirnya agar desahan itu tidak keluar.

Sasuke terus memainkan dada Sakura dari belakang. Tangan kirinya kini sibuk memencet dan menarik ujung dada Sakura, sedangkan tangan kanannya bergerak turun dan memasuki area kewanitaan dari balik panty dan jeans.

SET

Sasuke terkejut Sakura sudah sebasah ini karena cairan pre-cum nya. Sasuke bangga dia sudah membuat Sakura seperti ini. Jari tengahnya dimasukkan ke lorong Sakura. Dan terkejutnya Sasuke saat tubuh Sakura tiba-tiba menegang saat dia memutar, memasuk-keluarkan jarinya dengan tempo cepat.

"Ahhhh" desahan Sakura akhirnya keluar. Itulah yang ditunggu Sasuke dari tadi. Sakura mendesah sambil menangis. Betapa kenikmatan luar biasa yang dialami Sasuke.

Sasuke menambah jumlah jari yang dipakainya menggoda Sakura. 2 jari, 3 jari, dan Sasuke sudah merasa lorong Sakura terlalu sempit untuk jari-jarinya. Cairan Sakura terus keluar dan keluar.

Sakura mencapai orgasme pertamanya.

Sasuke menyeringai kecil lalu membalik tubuh Sakura menghadap dirinya.

Benar-benar mempesona.

Pemandangan tersebut yang Sasuke dapat saat mata onyxnya melihat Sakura terengah-engah dengan air mata, dengan dada yang naik turun akibat nafas tidak teratur, dan dengan peluh yang mengalir deras menuruni pelipis.

Sasuke meraih dagu Sakura pelan lalu mencium kening Sakura. Walau masih kehabisan tenaga, Sakura masih berusaha mendorong lengan Sasuke untuk menjauhinya. Sasuke tidak mempedulikan hal itu, dia kini melepas kemejanya dan melucuti jeans Sakura.

Masih memakai jeans, Sasuke memutar-mutar jarinya di permukaan kewanitaan Sakura. Kaki Sakura gemetar. Sasuke lalu berjongkok dan menaikkan satu kaki Sakura yang sudah lemas.

Tanpa melepas panty Sakura, Sasuke membuka ke samping sisi panty yang melindungi V langsung. V Sakura mengintip dari balik sutra hitam itu dan Sasuke langsung mencium dan menghajar V itu menggunakan lidahnya.

"Kyaaaaahhhh! AAAKKKH!" Sakura yang merasakan sesuatu yang benar-benar luar biasa kini berusaha mendorong kepala Sasuke. Jangankan menjauh, gerakan tangan Sakura yang meremas rambutnya semakin membuat Sasuke bersemangat memainkan lidahnya di dalam lorong basah itu.

Permainan itu berlangsung selama 3 menit saat Sasuke tiba-tiba berhenti dan melepas paksa panty sutra Sakura.

Sakura yang sudah memerah sekujur tubuhnya hanya mampu menggerakkan tangannya yang gemetar berusaha menutupi kewanitaannya yang sekarang terpampang jelas. Walau dia sudah mendesah berpuluh kali, air matanya masih mengalir.

Sasuke berdiri dan menyingkirkan tangan Sakura serta mengecup pelan bibirnya.

Sasuke terus mencium lembut bibir Sakura.

Dan

JLEBBBBB

Kejantanan Sasuke masuk dengan tepat ke dalam tempatnya. Mereka masih dalam keadaan berdiri. Tangan kanan Sasuke menahan lutut Sakura agar tetap terangkat.

"Ahhh… hhhhhh … khhhh!?" Sakura terkejut. Matanya membelalak. Dilihatnya mata Sasuke masih menatap tajam padanya.

Dia tidak percaya Sasuke tega menghabisi keperawanannya seperti ini.

"Aaahhhh… hhhhuuhhuhmmmm" rintih Sakura yang langsung dibungkam Sasuke dengan ciumannya.

Gerakan junior Sasuke melembut. Dua orang itu bisa merasakan cairan hangat mengaliri paha mereka.

Darah.

Tangan Sasuke mengarahkan lengan Sakura untuk memeluk leher Sasuke.

Lengan Sakura yang sudah tidak berdaya menggantung melingkari leher Sasuke.

Dengan berhati-hati, Sasuke mempercepat tempo in-out nya. "A… Ahhh… hhhahh" Sakura benar-benar tidak bisa menahan desahannya lagi sekarang.

Sasuke puas dan melepas ciumannya. Gerakan in-out itu semakin cepat dan semakin cepat.

"Ahhh!"

"Kamu cantik sekali Sakura" kata Sasuke akhirnya.

"Ahhh, ahhh, uhhhh" Sakura merunduk menempelkan dahinya pada pundak kiri dan masih memeluk Sasuke. Hatinya begitu sakit.

Dia mendesah saat hatinya tidak menginginkan ini.

Sakura merasa dia adalah perempuan paling nista di dunia.

.

Sakura terjatuh dalam pelukan Sasuke setelah mereka melakukan ritual cinta berdiri. Sasuke menggendongnya dan menjatuhkan Sakura di ranjang.

Junior Sasuke belum puas dengan apa yang sudah mereka lakukan. Tubuh Sasuke meminta lebih. Sasuke lalu membuka lebar-lebar kaki Sakura yang tengah terbaring menghadapnya.

Sakura melemah. Dia menutupi matanya dengan pergelangan tangan. Entah karena malu, tidak ingin melihat Sasuke, atau tidak ingin membuka mata.

Sasuke memasukkan kembali kejantanannya dan kali ini tanpa tempo lambat. Keringat mulai membasahi dadanya. Sasuke menarik lengan Sakura agar dia tidak menutup matanya.

"Sakura, tatap aku"

Sakura memandang mata indah yang jahat itu.

Sakura terpesona dan kesakitan di saat yang bersamaan.

Dia merasa hina.

Sasuke terus menjelajahi lorong Sakura selama beberapa menit dan dia merasakan sesuatu hangat menyelimuti juniornya.

Sakura orgasme lagi.

Sasuke tersenyum miring sekilas lalu semakin mempercepat temponya.

Desahan Sakura sudah tidak terarah lagi. Sasuke-pun tidak tahan juga untuk mengeluarkan suaranya kali ini. Lorong Sakura benar-benar membiusnya.

"Ahhh, ah, akh! Akh! Aaahhh! Sasuke-kuuun"

"Ukh, ahh. Terus panggil namaku Sakura" perintah Sasuke sambil menggenggam tangan Sakura.

"Sasuke-kunnhhh.. ahhhhh… ahhh! Akhhhh!"

"Aku mencintaimu Sakura"

SPLASH

Sasuke mengeluarkan spermanya di dalam rahim Sakura. Sungguh kenikmatan sex terhebat yang belum pernah dia dirasakan sebelumnya. Tidak pada mantan-mantan kekasihnya. Dan Sasuke tahu, pada wanita inilah tubuh dan hatinya berlabuh.

.

.

Pagi.

Perempuan yang dicintainya terbaring nyenyak di sebelah Sasuke. Tubuh telanjang itu penuh bercak merah, pink, dan… biru.

Sasuke menyentuh permukaan kulit Sakura yang sedikit robek dan menampakkan bekas merah darah. Alis gelapnya bertautan. Dia samar-samar sadar akan kejadian tadi malam. Semuanya begitu panas, gelap, dan tidak terkontrol.

Sakura menjadi korban pemaksaan dari Sasuke. Setelah mengecup kening gadis itu, Sasuke menyelimuti Sakura dengan selimut sutra putihnya dan beranjak ke kamar mandi.

Di bawah pancuran air shower dingin yang menerpa tubuh atletisnya, Sasuke menyandarkan kedua telapak tangannya pada kaca dan menundukkan kepala ravennya.

Aku benar-benar bodoh.

.

.

Sakura membuka kelopak matanya dengan berat. Jam dinding menunjukkan pukul 11 siang. Dia tidur terlalu lama rupanya.

Tapi, walaupun matahari sedang bersinar terang di luar sana, Sakura tidak berniat mengubah sedikitpun posisinya saat ini.

Tubuhnya merasakan sakit luar biasa terutama pada kewanitaannya.

Perih.

Tubuh dan hatinya.

Emerald cantik itu menerawang kosong ke arah pemandangan Tokyo yang terlihat begitu cerah. Sangat berbanding terbalik dengan psikis Sakura.

Dan sebutir air mata pun menuruni pipi jatuh ke atas bantal hitam Sasuke.

Sasuke-kun…

Aku tidak akan menyalahkanmu.

Akulah yang hina disini.

Aku ketakutan setengah mati dan merasakan pandangan tajammu yang sangat dingin.

Aku tahu kejadian tadi malam adalah sebuah kecelakaan.

Sesuatu yang kita sebenarnya hindari.

.

.

Tapi…

Akulah yang hina.

Aku diperkosa namun aku…

Menikmatinya.

Aku menyukainya…

Aku menyukaimu…

Aku mencintaimu…

Aku adalah perempuan paling kotor di dunia…

Bulir-bulir air mata itu mengalir tanpa henti. Tangan kurus Sakura tidak bergerak sama sekali. Dia berada dalam keadaaan yang sangat aneh.

Fakta yang ada, Sakura mencintai Sasuke.

.

.

CKRIK

"Stop" ucap Sasuke dingin. Dia selesai memotret dan langsung menyerahkan kamera pada staf lalu bergegas berjalan menuju taman sambil meminum air dingin dari botol.

Sasuke duduk di pinggiran tangga sambil memegangi kepala ravennya yang sangat pening.

"Teme" seru Naruto yang tiba-tiba menyusulnya duduk.

Si pemuda raven itu tidak merubah posisinya maupun menjawab sapaan sahabatnya. Dia tetap menunduk dan memegangi rambut emo yang mencuat dari balik jaket baseball hitam putihnya.

"Ceritalah. Aku tahu bidikanmu masih keren. Tapi kok aku melihat ada yang mengganjal dari hasil potretmu" Naruto menyandarkan tubuhnya pada lengannya yang menumpu pada rerumputan di belakang paha.

"Aku benar-benar bodoh, Dobe" Sasuke melepas rambutnya dan menghela nafas panjang lalu menghadap lurus ke depan dengan wajah kusut.

"Lho? Baru tahu ya?" Naruto menggaruk-garuk kepala pirangnya.

Sasuke kesal dan memberikan deathglare pada Naruto.

"Hihihi. Bercanda, bercanda" Naruto mengacak-acak rambut emo Sasuke.

"Geez! Aku sedang tidak mood bercanda" Sasuke menepis lengan Naruto.

"Jadi, ada apa?" Naruto serius bertanya kali ini.

"…."

"Heiiii" Naruto menggoncang bahu Sasuke.

"…"

"Teme!"

"Aku …-sa Sakura"

"HAH? Apa? Aku tidak dengar" Naruto meletakkan telapak tangan kiri pada telinganya dan mendekatkan pada kepala Sasuke.

"Aku …..-ksa Sakura!" ucap Sasuke cepat.

"Heeeiii! Bisa tidak sih ngomong lantang kayak cowok?!"

Sasuke geram, dia memejamkan matanya lalu dengan cepat mencengkeram kerah kaos polo Naruto. "AKU MEMPERKOSA SAKURA. PUAS?!"

Mata biru Naruto kaku dan tubuhnya tegang mendengar pernyataan mengejutkan dari mulut Sasuke.

Sasuke melepas kerah polo Naruto dan menopangkan dagunya pada kepalan tangan. "Jangan bilang siapa-siapa" lanjutnya.

"UWOOOOO! SIALAAAAN!" Naruto menjitak kepala Sasuke yang sukses membuat si bad mood Sasuke membalasnya dengan mendorong kepala Naruto.

Dua cowok itu pun bertengkar kecil dan saling pukul untuk beberapa menit sampai mereka berhenti karena dua-duanya sama-sama berdarah di sudut bibir.

.

"Sialan! Kupikir kamu akan menjaga Sakura-chan! Kupikir kamu tidak akan memperlakukan dia seperti kamu memperlakukan cewek-cewek lain!"

"Diam, bodoh! Aku sendiri tidak tahu kenapa aku begitu brengsek padanya tadi malam"

"Huh! Seorang cowok yang mengatakan 'tidak tahu' atas sex yang sudah dilakukannya benar-benar rendah!"

"Sialan! Kamu pikir aku mau?!"

"Nyatanya?!" tantang Naruto.

….

"Hn. Kamu benar. Aku seorang pecundang" sahut Sasuke akhirnya setelah merenungkan kejadian tadi malam.

"Tapi… kamu mencintainya, kan, Teme?"

"Tentu saja!" Sasuke menatap mantap mata Naruto. Naruto mengangguk puas dan akhirnya merangkul bahu Sasuke.

"Berjanjilah kamu akan memperlakukannya dengan lebih baik untuk ke depannya"

"Tidak perlu diminta" jawab Sasuke. "Aku pasti melakukannya. Tapi…"

Naruto memandang Sasuke sungguh-sungguh. "Tapi?"

"… Aku bahkan tidak yakin apa Sakura akan menatapku lagi"

"Hhhhh"

"Hhhhh"

Kedua orang itu menghela nafas bersamaan. Ya, mereka tidak mengetahui bagaimana reaksi Sakura setelah ini.

"Ada satu hal yang jelas. Aku tidak akan melepaskannya, aku terlalu mencintainya. Argh, sial! Kenapa Sakura bisa membuatku jadi seperti ini sih!" Sasuke mengacak rambutnya.

Naruto tersenyum simpul. "Kamu tahu, ini yang dinamakan cinta. Serba tidak jelas"

"Menyebalkan" Sasuke mendengus dan berdiri meninggalkan Naruto.

.

.

Sakura masih belum beranjak dari bathub hitam yang ditempatinya selama 1 jam belakangan. Dia menyandarkan kepala pinknya sambil memejamkan mata. Jari-jarinya sibuk mengaduk-aduk busa sabun yang mengambang memenuhi permukaan air.

Gerakan naik turun, bertautan, nampak di alis Sakura yang tengah memikirkan sesuatu.

Sakura membuka matanya sekejap memandangi bunga cosmos di samping wastafel, lalu menutup matanya lagi.

Hening.

Sakura menikmati kekosongan yang mengisi kamar mandi mewah itu. lagi-lagi jemarinya mengaduk-aduk busa, tapi dalam sedetik semua aktifitasnya berhenti seketika.

Sakura mendapat ide.

Sakura bergegas bangkit dan meraih bathrobe pinknya secepat kilat lalu keluar dari kamar mandi untuk menengok jam dinding dalam kamar.

14.56

Sudah hampir jam 3 sore. Dua jam lagi Sasuke-kun sudah pulang. Aku harus bergegas.

Gadis merah jambu itu segera berpakaian dan mengepak beberapa pakaian ke kopernya. Ya, Sakura mempunyai rencana sekarang.

.

.

Sasuke memarkir motor Aprilianya dan berjalan tidak jelas ke dalam apartemennya. Sejak keluar dari studio tadi, suasana hatinya tidak menentu. Saat memacu kencang gas motornya, artinya Sasuke sedang buru-buru ingin segera sampai di apartemen untuk menjumpai Sakura. Tentu saja, cowok raven itu sangat ingin mengetahui keadaan Sakura setelah dia meninggalkannya pagi ini untuk bekerja. Tapi pada saat-saat tertentu Sasuke memelankan laju Aprilia dan hatinya merasa takut untuk menemui Sakura. Lebih tepatnya waspada bagaimana jika Sakura akan membencinya. Jelas, pasti membencinya. Dia sudah memperkosa seorang gadis. Sialnya, gadis itu dicintainya.

Begitu pula saat Sasuke berjalan saat ini. Kadang dia berlari kecil untuk segera masuk ke dalam lift. Tapi setelah di dalam lift, Sasuke mempersilakan ibu-ibu yang naik ke lantai 25 untuk menuju lantai tersebut lebih dahulu daripada berhenti di apartemennya yang berada di lantai 23. Di dalam lift lagi-lagi Sasuke galau. Bimbang.

Akhirnya kaki tinggi dengan celana jeans navy melangkah keluar dari dalam lift dengan mantap. Pemuda raven itu memutuskan untuk cepat-cepat melihat wajah Sakura.

Aku tahu aku terlihat menyedihkan. Aku tahu aku adalah orang yang patut dibenci. Tapi aku masih berhak untuk berharap melihat Sakura menungguku pulang dengan semangkuk udon di atas meja makan, bukan? Aku masih bisa melihat senyumnya kan?

Langkah Sasuke semakin mantap saat dia memasuki apartemennya.

"Tadaima. Sakura?"

Sasuke melayangkan pandangannya menyapu seluruh ruangan. Sepi. Ruangan itu masih sama bersihnya seperti saat dia berangkat tadi pagi.

Dia tidak mungkin masih tidur kan?

Sasuke masuk ke dalam kamar dan mendapati ruang kosong yang sama bersihnya. Bahkan bekas peperangan tadi malam sudah tidak ada. Sasuke mengintip ke dalam kamar mandi dan, nihil.

Jantungnya berpacu semakin cepat karena gelisah. Dimana gerangan Sakura? Sasuke membuka lemari kayu oak baru yang dibelinya khusus untuk Sakura. Sasuke semakin gelisah karena melihat isi lemari itu berkurang banyak. Ya, tidak banyak juga, karena Sakura sepertinya hanya mengambil beberapa potong pakaian. Sasuke keluar kamar menuju dapur yang juga bersih, lalu menuju balkon. Dilihatnya seprai putih dan selimut sutranya sedang dijemur dan berkibar-kibar.

Sasuke menyentuh kain itu. Harum.

Sepertinya Sakura mencuci bersih benda-benda yang terkena darah dan sperma. Sasuke meremas kesal kain itu dan masuk kembali ke dalam ruang tamu sambil membanting pintu slide balkon keras-keras.

Sasuke berjalan gontai dan duduk di atas sofa.

BUG!

"Siaaaal!"

Sasuke memukul sandaran sofa dengan bagian luar kepalan tangannya.

"Siaaaaaal!"

Kali ini kaki tinggi itu menendang coffee table di depannya dan tiba-tiba sebuah kertas jatuh dari balik asbak keramik. Sasuke cepat-cepat mengambil kertas itu dan membacanya seksama.

Sasuke-kun

Maaf

Maaf aku harus pergi.

Tidak akan lama. Aku janji.

Aku tidak membenci Sasuke-kun. Itu pasti. Aku hanya bingung dengan keadaan. Kumohon beri aku waktu untuk sendiri.

Dan, aku minta dengan sangat, tolong jangan mencariku.

Aku benar-benar ingin sendirian saat ini.

Jaga kesehatan. Makanlah teratur.

Sakura.

P.S : Aku akan kembali.

Aku pasti kembali.

"Aaaaarghhhh!"

Sasuke berteriak frustasi dan membanting kertas itu ke lantai. Dia pasti akan mengalami hari-hari menyebalkan tanpa Sakura untuk beberapa hari ke depan di saat malam penghargaan dan pengumuman pemenang kontes digelar.

.

.

Osaka, 20.09

TIIINGGGG

Gerbang megah Jiraiya's House, rumah mewah bergaya barat dengan ornamentasi rumit yang menghiasi setiap sudut terbuka setelah wajah Sakura dikenali oleh penjaga.

Sakura berjalan beriringan bersama seorang kepala pelayan tua baik hati menyusuri jalan lebar dengan paving krem menuju pintu utama rumah.

"Sungguh sebuah kehormatan saya bisa menemui Sakura-sama. Mengapa anda tidak pulang disini saja, Nona?" tanya kakek tua itu.

Sakura tersenyum dan mengedarkan pandangannya pada taman yang mengelilingi rumah. Benar-benar bergaya barat. Lapangan rumput luas yang memiliki pohon-pohon cemara menjulang tinggi sepanjang jalan lebar, dengan rumpun-rumpun hortensia ungu yang tumbuh rimbun di kaki pohon, serta lampu-lampu taman yang memendarkan cahaya melankolis hangat. Di ujung jalan tepat di depan pintu raksasa rumah itu terdapat air mancur yang berbentuk asimetris dengan aliran air yang turun dan turun dan turun pada kontur relief air mancur.

"Terima kasih banyak, Ojii-san.." Sakura menjawab pertanyaan kakek itu dengan anggukan dan senyuman.

GREEEK

Pintu besar berwarna hijau tua itu terbuka dan menampilkan pemandangan di belakangnya. Lorong lebar dan panjang dengan dinding-dinding perak di kedua sisinya yang berhiaskan pintu-pintu yang menuju tiap ruangan.

Sakura dipersilakan menunggu Asuma dan Kurenai pulang di dalam ruang tamu.

"Saya selalu siap membantu anda, Nona. Silahkan panggil saya kapan saja…" pamit kakek baik hati itu.

"Ah, Ojii-san disini saja. Saya… masih merasa canggung untuk berada sendirian disini…" pinta Sakura.

"… Baiklah, Nona"

"Ojii-san sudah lama bekerja disini?"

"Saya mengabdi selama hampir 30 tahun, Nona" jawab sang kakek tanpa menghilangkan senyumnya sedikitpun.

"Wah! Lama sekali. Hebat…"

Kakek itu menggeleng pelan. "Nona… maafkan saya untuk bertanya lagi, tapi, mengapa Nona tidak tinggal di rumah ini saja?"

"…." Sakura diam dan menerawang ke jendela besar yang tertutup gorden coklat kombinasi gold.

"Ah, mohon maafkan kelancangan saya" Kakek itu merasa bersalah dengan pertanyaan yang enggan dijawab cucu Jiraiya itu.

"Saya… tahu diri, Ojii-san. Bagaimana bisa saya, gadis asing yang tiba-tiba muncul seenaknya masuk dan tinggal disini. Itu bukan hal yang pantas bukan?"

"Anda bukan orang asing, Nona. Anda adalah cucu sah, cucu kandung almarhum Jiraiya-sama"

"Ya, benar. Tapi untuk datang dan menikmati semua ini.." Sakura memandang ruangan mewah itu dan melanjutkan, "Saya kira saya tidak bisa"

"Dan Ojii-san, tujuan saya kemari karena saya ingin sekali mengunjungi…" dengan berat Sakura melanjutkan kalimatnya, "… keluarga"

Kakek pelayan itu dapat mendengar sedikit kegetiran saat Sakura mengucapkan kata terakhirnya.

"Nona, maafkan kelancangan saya sekali lagi. Tapi saya rasa sebaiknya anda menemui Orochimaru-sama. Beliau adalah pengaca-"

BRAK

Pintu ruangan itu terbuka tiba-tiba dan sesosok wanita berambut hitam ikal dengan dress ketat warna abu-abu dan blazer transparan masuk dengan langkah-langkah mantap.

"Ojii-san. Siapa yang mengijinkanmu menerima tamu tidak diundang?" tanya Kurenai dengan lantang dan menatap Sakura lekat-lekat.

"Beliau bukan tamu tidak diundang. Sakura-sama berhak untuk data-"

"Cukup. Pergilah. Dan jika ada satu kata lagi untuk membela gadis ini, kau boleh menanggalkan seragammu dan pergi menjauh dari Jiraiya's House!" Kurenai membentuk gerakan cepat dari telunjuk kirinya masih dengan tatapan terpaku pada Sakura.

Sang kepala pelayan baru saja akan angkat bicara saat tangan Sakura mendorong bahunya dengan lembut untuk keluar dari ruangan. Kakek itu pasrah dan akhirnya pergi.

Kini tinggal Kurenai dan Sakura yang saling berdiri dan berhadapan.

"Maaf, aku datang tanpa pemberitahuan, Kurenai-san. Dan aku minta tolong jangan hakimi Ojii-san. Beliau hanya mengantarku menuju ruangan ini" Sakura menunduk hormat dan memandang Kurenai yang sedang melipat tangannya.

"Oke. Lagipula Ojii-san itu pasti membusuk bersama rumah tua ini. Dan kau, apa tujuanmu kemari?"

"Aku hanya ingin menjumpai anda dan Paman" jawab Sakura.

"Menjumpai kami? Dengan membawa koper? Kau yakin kau tidak berniat merebut rumah ini dariku?" Kurenai menyentuh koper Sakura menggunakan kakinya yang terbalut boots putih dengan aksen resleting silver.

Astaga. Wanita ini.

"Kurenai-san, dengan segala hormat, maafkan aku jika anda berpikir seperti itu. Tapi aku tidak ada maksud lain selain berkunjung"

"Kau yakin? Lihat, setelah memasuki rumah ini kau pasti tidak tahan untuk meraihnya kan?"

"Hhh. Maaf aku tidak sedang ingin berdebat. Bolehkah aku, meminta ijin pada anda, Nyonya Besar, untuk menemui Pamanku?"

"Asuma sedang dinas di luar negeri. Puas? Sekarang kau tidak ada alasan untuk berada disini lagi kan?"

"Anda tidak sedang berbohong kan?" selidik Sakura yang tidak percaya dengan kata-kata Kurenai.

"Beraninya kau!" Kurenai mengambil handle koper Sakura dan menyeretnya keluar rumah.

"Kurenai-san! Jangan seperti ini. Kenapa anda begitu membenciku?!" Sakura mengejar dan merebut handle kopernya.

"Membencimu? Lebih tepatnya aku muak padamu! Kau datang di saat yang tidak tepat dan mempercepat kematian Otou-sama! Ah sudahlah! Aku capek berdebat denganmu! Pergi!"

"Kure-"

"Dan kalau kau mencoba untuk kembali lagi kesini, kau tahu aku akan mebuat ojii-san tadi menjadi gelandangan!" Kurenai tahu Sakura adalah perempuan berjiwa besar. Kurenai tahu Sakura akan kalah kalau dia menggunakan ancaman itu. Dan Kurenai tahu dia menang dalam permainan ini.

BRAKK

Pintu raksasa hijau itu bergetar karena dibanting oleh Kurenai. Dengan langkah gontai Sakura pergi dan menyeret kopernya keluar dari gerbang Jiraiya's House.

Beberapa pembantu menawari Sakura transportasi tapi Sakura menolak halus tawaran itu karena dia tidak tahu seberapa luas cakupan ancaman pemecatan Kurenai akan merambah. Sakura memutuskan berjalan ke halte bus terdekat.

Osaka adalah kota indah yang masih menjaga kelestarian budaya Jepang. Karenanya, tidak sedikit taman-taman indah yang sepi di malam hari. Halte bus terdekat terletak di sudut taman.

.

.

"Aku pulang" seru Asuma menghampiri istrinya yang sedang menikmati wine di depan perapian.

"Selamat datang" jawab Kurenai singkat tanpa menoleh.

"Wah, dingin sekali. Ada sesuatu yang terjadi?" Asuma memeluk Kurenai dari belakang melingkarkan tangannya pada pundak wanita ikal itu.

Kurenai tidak menjawab dan pintu ruangan diketuk oleh seseorang.

"Saya sudah membawakan croissant anda, Nyonya" Kakek kepala pelayan memasuki ruangan tempat mereka berada, "Ah, selamat datang, Tuan"

"Halo Ojii-san. Wah croissant itu kelihatannya lezat. Bagaimana harimu?" Asuma mengambil sepotong croissant dan menggigitnya.

"Hari saya baik, terima kasih sudah bertanya Tuan"

Kurenai masih tidak berpaling dan menikmati wine nya.

Kepala pelayan melirik sekilas Kurenai lalu berkata, "Sebenarnya Tuan, hari ini ada-"

"Ah, suamiku. Kamu pasti lelah sekali ya sibuk di kantor seharian menemani investor-investor kita mensurvey pabrik" potong Kurenai sambil merebut croissant Asuma lalu meletakkannya di nampan. Tangan Kurenai kemudian sibuk melepas dasi dari kerah kemeja Asuma.

"Kamu benar, Sayang. Hari ini benar-benar luar biasa. Aku yakin aku dapat melihat mata mereka terpana dengan industri kita" Asuma semangat bercerita.

"Berterima kasihlah padaku yang giat mencari investor-investor kaya dari seluruh pelosok negeri" Kurenai mengalihkan topik dan membelai bahu gagah Asuma, "Ojii-san, kau sudah boleh pergi. Tidakkah kau lihat kami sedang membutuhkan waktu pribadi?!" lanjut Kurenai dengan glare menusuk pada kepala pelayan. Dia memberi kode supaya Ojii-san tutup mulut mengenai kedatangan Sakura.

Kakek tua itupun pergi.

Kurenai melayangkan pandangan menggoda pada Asuma dan mencium panas bibir Asuma. Asuma menanggapi ciuman itu dengan senang.

Asuma menjelajahi rongga mulut Kurenai tanpa sadar di sela-sela ciuman itu Kurenai membuka mata dan memandang tajam mengingat kerikil pink dari Tokyo yang selalu mengganggu pikirannya.

.

.

Sakura melihat jam pada ponsel flip jadulnya.

22.13

Tidak ada satupun bus atau taxi yang melintas. Sakura mendesah lelah dan memutuskan untuk lanjut berjalan ke tempat yang mungkin sedikit lebih ramai saat sebuah tangan meraih pergelangan Sakura.

TEP

Sakura menoleh pada sosok gelap di belakangnya.

Bukan orang yang diharapkannya untuk ditemui. Tapi paling tidak Sakura tidak akan tidur di jalanan malam ini.

"Sakura?"

.

.

.

Minna-san yang aku sayangiiii.. hahaha… gomen Mother belum bisa update cepat. Ukh! Kenapa musim kemarau tidak kunjung usai ya? Panas merajalela walau aku tinggal di kota yang dingin. Ditambah lagi kulitku semakin hitam karena mbolang di proyek. Wkwkwk.

(kenapa jadi curcol? #theotherme)

Gomen neeee…

Wah aku kehabisan kata-kata… mohon reviewnya ya…

Fav, follow, visit, review dari minna-san ibarat air buat tanaman. Hahaha.

Well, see you on the next chap.

I Love You

Review, Please?

Mother CHANYOU