… Tidak ada satu apapun yang lebih indah dan jahat selain sorot tajam matamu …
NARUTO, always belong to Masashi Kishimoto
-Author alay mulai berimajinasi liar lagi. Kukuku-
WARN
Bad Sasuke, Lemon, Absolutely Rate M, AU, Typo, No Flame, Don't Like Don't Read
.
.
.
"Tadaima…" seru Sakura memasuki pintu slide rumah sambil menggendong tas karton yang penuh dengan belanjaan supermarket.
"Selamat datang… wah, wah. Sini biar aku bantu"
"Ah, tidak apa-apa. Akan saya langsung bawa ke dapur" jawab Sakura dengan senyum mengembang dan berjalan masuk ke dalam dapur.
TEK TEK TEK
Terdengar suara pisau yang beradu dengan talenan kayu yang dimainkan Sakura.
"Aku sudah menyiapkan kaldunya. Sekarang aku mau ke kebun sebentar untuk memetik beberapa sayur tambahan. Kamu tahu suamiku lebih suka sayur organik, kan?"
"Ah, maafkan saya. Stok sayur organik di supermarket tadi habis. Jadi saya…"
"Tidak apa-apa" sahut Mikoto sambil tersenyum dan melenggang keluar dari dapur.
Sakura melanjutkan aktifitas memotongnya sambil bersenandung pelan saat tiba-tiba pintu dapur terdengar terbuka kembali.
"Ada yang terlupa, Oba-sama?" kata Sakura sambil memutar tubuhnya. Didapatinya seseorang lain berdiri di depan pintu dengan membawa cawan teh.
"Oj, Oji-sama" sambung Sakura terkejut dengan keberadaan Ayah Sasuke itu.
Fugaku tidak menyahut dan bersiap memutar lagi tubuhnya.
"Anu," seru Sakura.
Fugaku berhenti dan masih membelakangi Sakura.
"Saya lihat Oji-sama membawa cawan teh. Bolehkah saya menuangkan teh hijau? Anda ingin mengisinya kembali, bukan?" tanya Sakura hati-hati.
.
.
Mikoto membawa keranjang kecil yang penuh dengan sayuran organik dari kebun. Wanita anggun itu sangat senang dengan kehadiran Sakura sejak beberapa hari yang lalu. Langkah-langkahnya sangat ringan dan senyum tidak lepas dari wajahnya.
Sungguh aneh malam itu suaminya pulang bersama Sakura. Tapi, melihat pemandangan ganjil itu tidak membuat Mikoto segera penasaran dan banyak tanya. Dia menyambut kedatangan Sakura seperti putrinya sendiri dan berusaha sebaik mungkin agar Sakura mau tinggal di rumah untuk sementara waktu.
Di koridor kayu rumah tradisional megah itu, Mikoto melihat Fugaku dan Sakura sedang duduk bersama di teras kayu dan terlihat sedang menikmati teh. Mikoto tersenyum dan mengurungkan niatnya ke dapur lewat pintu yang sedang dibelakangi dua orang itu, dia memilih memasuki dapur lewat pintu belakang.
.
.
FLASHBACK
"Sakura?"
"Fu, Fugaku-sama?"
Pria tinggi berbalut kimono tradisional biru gelap itu melepaskan tangannya dari lengan Sakura.
"Aku melihat warna rambutmu dari kejauhan. Kupikir siapa lagi yang memiliki warna rambut sepertimu" kata Fugaku.
"Bagaimana kabar Oji-sama?" Sakura menunduk hormat. "Baik. Terima kasih. Apa Sasuke bersamamu?"
"Sayang sekali tidak. Saya baru saja berkunjung ke rumah Paman Asuma"
Mata kelam Fugaku melirik koper yang terletak di samping Sakura. "Dan?" Fugaku menuntut jawaban lebih. Terlalu aneh jika Sakura pergi ke Osaka sendirian dan membawa koper. Dan, dia bilang 'baru saja berkunjung' artinya dia sudah selesai ke Jiraiya's House tapi anenya kenapa gadis di depannya ini tidak bermalam disana. Selarut ini malah berdiri di pinggir taman sepi.
"Dan…?" tanya Sakura balik.
"Apa yang sedang kau lakukan tengah malam di pinggiran taman sepi ini?"
Sakura gugup dan mencari jawaban terbaik yang bisa didapatnya. "Saya sedang perjalanan pulang ke Tokyo"
"Tengah malam?" tanya Fugaku tajam.
Sakura terdiam. Bagaimana dia harus berbohong di hadapan pria ini?
"Sudahlah. Ikut aku ke rumah. " sahut Fugaku sambil membalikkan badannya menuju mobilnya di seberang sana. Tidak tahu harus bagaimana, kaki Sakura pun mengikuti langkah Ayah dari laki-laki yang disukai dan dihindarinya.
.
.
Sudah hampir seminggu Sakura tinggal rumah Uchiha. Berkali-kali Sakura hendak kembali ke Tokyo namun Mikoto bersikeras menyuruhnya tinggal disana. Dan yang paling aneh adalah sikap Fugaku yang lambat laun melunak. Dia tidak lagi sinis atau bersikap dingin pada Sakura.
Hingga di suatu malam, pasangan suami-istri itu dan Sakura sedang menikmati malam yang hangat dan cerah. Mereka menonton LED TV lebar di ruang kesenian bersama-sama.
"Sakura-chan pintar sekali memasak ya. Cookies ini juga tidak kalah dengan kue yang dijual di toko kelas 1" puji Mikoto yang selalu membuat pipi Sakura memerah. "Iya, kan Anata?" sambung Mikoto pada suaminya.
Fugaku tidak menjawab tapi kemudian kepalanya mengangguk. Mikoto tersenyum lebar dan mengambil 1 keping cookies lagi sambil mengganti chanel televisi.
KLIK
"Dan, itulah pemenang foto bertema terbaik tahun ini yang dimenangkan oleh Studio Kabuto-sensei! Foto dengan tema Lab's Imagination dengan tampilan tabrakan warna dari pecahan serta semburat api dari laboratorium yang meledak itu sungguh luar biasa! Studio Kabuto-sensei masih menunjukkan eksistensinya yang tak tergoyahkan selama ini! Congratulations!"
Suara MC bersemangat mengiringi seorang laki-laki berambut perak dikuncir kuda yang menuruni stage membawa piala transparan. Sepertinya dialah pemenang kontes fotografi kategori foto.
Penonton di depan LED TV itu menantikan kelanjutan acara dengan hati berdebar. Semudah inikah Sasuke kalah? Terlebih Sakura. Alisnya berkerut serius memandang TV lekat-lekat.
Sasuke-kun…
Dan aku tidak ada disana di sampingmu…
"Selanjutnya! Penghargaan fotograger junior terbaik tahun ini dimenangkan oleh… kita lihat sesaat lagi setelah iklan berikut ini. Tetap di Photoaward 200X!"
Fugaku meneguk tehnya untuk melegakan tenggorokannya yang kering. Yah, ternyata walau bagaimanapun, Sasuke tetap anak yang disayanginya. Apapun yang menjadi sorotan berita tentang Sasuke, Fugaku memantaunya dari jauh.
"Fuuuh! Kabuto-sensei itu lagi yang menang ya. Apa Sasuke-kun baik-baik saja ya? Padahal anak itu serius sekali dengan kontes ini" Mikoto menghempaskan punggungnya yang terbalut kimono pada sandaran sofa kulit coklat tua.
Sakura bimbang dan memutuskan untuk undur diri sebentar menuju luar ruangan.
PIP PIP
Sakura memencet nomor Sasuke dengan cepat pada ponsel flip jadulnya.
"the number you're calling is busy and-"
KLAP
Sakura menutup kembali ponselnya.
Sasuke-kun… apa kamu baik-baik saja?
GREKK
Sakura memutuskan masuk ke dalam ruangan kembali saat Mikoto menarik tangannya untuk segera duduk.
"Terima kasih masih setia di Photoaward 200X. Baiklah, tanpa banyak kata lagi. Penghargaan fotografer junior terbaik tahun ini dimenangkan oleh…. UCHIHA SASUKE! Congratulation!"
Seketika itu juga, tiga pasang mata terkejut dengan siaran di chanel tersebut. Sakura berdebar-debar melihat wajah live Sasuke yang sedang disorot penuh lalu kamera tetap fokus pada sosok jangkung dan gagah dengan jas hitam, kemeja silver, dan rambut emo mencuat yang sudah bertumbuh agak panjang terlihat dikuncir di belakang kepala, sedang berjalan menaiki stage menuju podium.
Mikoto berkaca-kaca dan mengucapkan kata-kata bahagia yang tidak dapat Sakura dengar dengan jelas karena saat ini pendengarannya hanya bisa menangkap suara dari TV itu.
Fugaku pun terfokus pada acara itu sambil menyilangkan tangannya di dada erat-erat.
Sasuke tersenyum sekilas saat menerima trophy itu dan langsung menempatkan dirinya di atas podium. Sakura harus mengakui bahwa sosok berambut raven emo itu sangat tampan dalam balutan setelan jas.
"Terima kasih banyak atas penghargaan ini. Staf kami yang luar biasa pantas mendapatkannya. Tapi sayang sekali, saat ini saya akan mempersembahkan kehormatan ini pada kekasih saya, Haruno Sakura yang juga menjadi model pada foto studio kami."
Fugaku dan Mikoto melirik Sakura yang tengah menahan nafas dalam ketegangan. Sakura mengepalkan tangan pada lututnya yang terbalut rok merah.
"Sakura, dengarkan aku baik-baik karena aku mengatakan ini di depan penduduk Jepang"
Sasuke mengarahkan pandangannya pada kamera sehingga di TV, wajahnya tersorot fokus.
"Tidak peduli kau membenciku, atau menghindariku sampai ke ujung dunia, aku akan terus mengejarmu. Dan akan terus menyayangimu. Sakura, Maafkan aku. Aku, Uchiha Sasuke, mencintaimu"
.
Dan seketika telinga Sakura tidak mampu mendengar apapun. Wajah ribuan penduduk Tokyo di dalam Dome yang sedang bertepuk tangan, respon Mikoto, dan gumaman Fugaku tidak mampu memasuki daun telinga Sakura.
Sakura meneteskan air mata haru.
Menit-menit berikutnya yang menampilkan beberapa model terbaik tahun ini, termasuk salah satunya Karin, tidak dapat membuat Sakura terfokus pada layar LED lagi. Dia meminta ijin pada kedua orang tua Sasuke untuk keluar mencari udara sejenak untuk mengisi paru-parunya yang sesak akibat debaran jantungnya.
.
.
"Oka-san!" seru Sasuke menghambur masuk ke dalam ruang keluarga.
"Sasuke-kun! Kenapa kamu bisa ada disini? Photoaward belum selesai kan?"
Fugaku dan Mikoto terkejut melihat keberadaan putranya yang tiba-tiba ada di Osaka, di dalam rumahnya. Memang, baru sekitar 2 jam yang lalu mereka melihat penampilan gagah Sasuke secara live di TV. Tapi berada disini? Tiba-tiba?
"Jangan pedulikan itu dulu. Dimana Sakura? Aku tahu dia disini" sahut Sasuke terengah-engah sambil membuka 2 kancing kemejanya karena kepanasan setelah berlari-lari.
"Oka-san benar-benar tidak tahu. Dia tadi keluar untuk mencari udara segar, dan belum kembali ke rumah" jelas Mikoto sambil merangkul lengan anaknya untuk duduk.
Dengan sopan Sasuke menggenggam tangan Mikoto menolak untuk duduk.
"Maaf, Kaa-san. Aku akan pergi mencarinya" Sasuke berbalik menuju pintu slide.
"Sasuke-kun!" seru Mikoto.
Sasuke hanya menoleh sejenak sambil tersenyum simpul.
"Sasuke"
Suara berat Fugaku memecah suasana.
Sasuke berhenti dan masih membelakangi mereka berdua.
"Maaf Tou-san. Kau tidak bisa mencegahku"
…
"Hadap kemari" perintah Fugaku.
Sasuke memiringkan badannya dan tergagap menerima benda hitam kecil yang dilempar ayahnya.
Kunci mobil Bentley Continental GT
Sasuke memandangi benda itu tanpa berkedip.
"Tunggu apa lagi?!" hardik Fugaku.
"Thanks" Sasuke tersenyum lebar dan pergi.
Mikoto mendekati Fugaku dan duduk di samping suaminya.
"Ternyata suamiku peduli juga pada Sasuke-kun. Tidak kusangka ternyata kebaikan hatimu masih belum luntur ya…" Mikoto tersenyum tulus pada suaminya.
"Ehm. Aku mau tidur" Fugaku berdiri dan menyembunyikan wajahnya dengan rambut panjangnya.
Mikoto terus tersenyum dan menikmati acara Photoaward yang masih berlangsung.
.
.
Bentley Continental GT hitam milik Fugaku berjalan dengan kecepatan normal di sepanjang jalanan sepi yang dipagari pepohonan cemara. Pengemudinya melayangkan pandangan elang yang fokus pada setiap sudut remang yang mengisi tiap sekat udara antar tanaman.
Keringat membasahi pelipisnya dan giginya sibuk menggigit bibir bawahnya.
Kemana Sakura? Dimana kamu?
Sasuke menyalakan iPhonenya yang mati sedari tadi.
Sial, bodohnya aku. Kenapa tidak terpikir olehku untuk menelfonnya. Bodoh. Bodoh.
TUUUT
TUUUT
"Sasuke-kun?" jawab suara teduh di seberang sana.
Ohhh thank God. Dia menjawab panggilanku.
"Dimana kamu, Sakura?"
"Aku? Osaka"
Damn it. Aku tahu kamu di Osaka. Tapi dimananya?!
"Aku juga di Osaka. Kamu dimana? Aku baru saja dari rumah"
"Jangan membohongiku. Sasuke-kun sedang berada di Photoaward. Aku melihatmu dengan jelas tadi"
Cewek ini..!
"Cerewet. Dimana kamu sekarang, jawab!"
"Sasuke-kun yang jangan cerewet! Tiba-tiba telfon sambil marah-marah!
"Setelah menerima award aku langsung menuju Osaka. Puas? Sekarang katakana kamu dimana? Aku sedang berkeliaran tidak jelas di jalanan sepi"
"Lho? Sebelumnya, kenapa bisa tahu aku ada di Osaka?"
Kuapakan kamu nanti kalau sudah ketemu, Sakura!
"Kamu sangat meremehkanku. Mata-mataku banyak tahu. Sudahlah, kamu ada dimana?"
"Hmmm. Kalau begitu, cari saja aku sekarang lewat mata-matamu"
…..
…..
"…. Lupakan"
"Eh?"
"Hadap ke kiri"
…
Dan disanalah.
Di jalanan sepi di suatu sudut kota Osaka yang rindang.
Sakura melihat sosok yang sama dengan yang dilihatnya beberapa jam yang lalu di TV. Pemuda ganteng dengan kuncir kecil akibat rambut emo yang kepanjangan, memandang penuh kesal kea rah emerald Sakura yang sedang duduk di bangku taman pinggir jalan.
"Sasuke-kun…?"
"Ya. Ini aku. Dasar tukang kabur" celoteh Sasuke berjalan cepat menghampiri Sakura dan masing-masing masih memegang ponsel di telinga.
"Bagaimana kamu bisa menemukanku?" tanya Sakura pada Sasuke melalui sambungan telepon. Cowok raven itu kini berjarak sekurang-kurangnya 8 meter darinya.
Sakura berdiri.
Angin semilir menyapu rambut panjang merah mudanya ke belakang dan menampakkan pipi serta daun telinganya yang putih.
Kali ini Sasuke mendekat dan menutup ponselnya lalu meletakkannya pada saku celana.
TEP
Sasuke merampas ponsel Sakura kemudian memasukkannya ke saku celananya yang lain.
"Hei, apa yan-!"
CUPP
Sasuke mengecup dalam-dalam bibir Sakura.
Sakura memejamkan mata perlahan lalu memeluk punggung gagah Sasuke.
Sasuke tidak mampu menahan diri lagi. Dia tidak mempedulikan apapun lagi. Hanya Sakura. Dia menyayangi Sakura. Dia tidak bisa kehilangan Sakura. Ditariknya pinggang ramping Sakura yang terbalut blus lembut warna peach tanpa lengan dan dilapisi cardigan rajut warna coklat.
Sakura tidak bisa berbohong pada dirinya sekarang.
Dia mencintai laki-laki itu.
Sakura berjinjit dan memeluk leher Sasuke dan membalas ciuman panas Sasuke.
Dan hujan pun mulai turun.
Membasahi dua manusia yang telah menyadari perasaan sesungguhnya di antara mereka berdua.
.
.
…
…
"….hhhahh…"
"mnghhh…"
"Sssassukke-kuuunhhh…."
"Hmmh.."
"Ahhhhh… ahhh"
"Mmmmh….."
"…Ah! Uhh… Ahh, ahhh, aaakh!"
CTAAAAAR! GLARRR!
Desahan Sasuke dan Sakura bersahutan dengan suara halilintar di langit gelap yang tengah menangis keras. Mobil tempat mereka berlindung dan memadu cinta saat ini diam kokoh di halaman parkir taman yang sangat sepi di tengah malam badai seperti ini. Hanya sesaat Bentley kokoh itu bergerak sedikit akibat hentakan yang terjadi di dalamnya. Ya, Sasuke dan Sakura sedang bercinta dengan menggebu-gebu penuh hasrat dan jiwa.
Tanpa banyak berpikir berulang kali, Sasuke memeluk erat Sakura dan membawanya masuk ke dalam kursi penumpang.
Sasuke melucuti cardigan Sakura dengan cepat lalu mencium bahu bening Sakura serta melumat dan menggigitnya berulang kali.
Sakura yang sudah memantapkan cintanya pada Sasuke pun membalas perlakuan laki-laki itu dengan menciumi kening, pipi, telinga, dan leher Sasuke.
Sasuke yang gemas lanjut membuka blus peach Sakura dengan cara yang sangat sensual. Perlahan, dan menggoda. Membuat syaraf-syaraf Sakura naik turun tersengat setiap sentuhan panas Sasuke.
Sakura yang tidak mau kalah, ikut membuka helai-helai jas serta kemeja dan membuat Sasuke tersisa dengan celana mewahya. Dan, celana dalam Armani merah tua mengintip dari balik pinggang Sasuke.
Sasuke sengaja memaksimalkan hasrat Sakura dengan terus menciumi, menghisap dada Sakura hingga ujung dada Sakura tegang, memerah, dan meminta lebih. Sasuke dengan seringai tampan terus menggoda Sakura sampai akhirnya Sasuke sukses membuat Sakura hanya memakai bra saja tanpa panty yang menempel pada tubuhnya.
Sasuke menurunkan celana dan Armaninya, lalu membuat posisi Sakura menukik kearah pintu mobil membelakangi Sasuke.
Kaki kiri Sakura menahan beban tubuhnya yang setengah tengkurap pada lantai mobil, sedang kaki kanannya menekuk pada kursi. Sasuke bersiap memasukkan juniornya untuk yang ke sekian kali, tapi diurungkannya.
Sasuke ingin menggoda Sakura.
Dimainkannya juniornya pada permukaan V Sakura dan membuat Sakura geli tidak sabar dengan kejahilan Sasuke.
Masih menungging, Sakura meremas rambut pinknya yang terjuntai basah karena keringat.
"Kenapa Sakura?" goda Sasuke.
"Sasuke-kunnh… berhenti bermain-main…"
"Hm? Apa? Kamu ingin aku bagaimana? Katakan.."
"Sasuke-kunnnhh…" rintih Sakura.
Sasuke menyeringai lalu berjongkok menempelkan dada bidangnya pada punggung Sakura di bawahnya.
"Apa? Bilang…" goda Sasuke seraya menyisipkan jari-jari mahirnya pada kedua dada Sakura yang menggantung dari balik bra putih berenda.
Sakura memekik terangsang gerakan sensual Sasuke pada dadanya. Tidak hanya itu, Sasuke membuat kiss mark pada leher jenjangnya.
Tepat.
Sakura orgaasme lagi, dan lagi. Diraasakannya cairan hangat mengalir turun ke selangkangan dan pahanya.
"Sasuke-kunnn…"
"Hm?"
"Ba…"
"Apa..?"
"Bawah… kumohon…"
Bingo. Sasuke semakin senang.
"Maksudmu ini?"
Sasuke mengusap-usap dua jarinya pada dinding V Sakura yang semakin membuat Sakura ingin meminta lebih. Dia tidak tahan akan perbuatan Sasuke yang sengaja menggulur-ulur kegiatannya. Sakura menginginkan junior Sasuke segera memasuki lorongnya dan menyemburkan cairannya dalam Rahim Sakura.
SET
SET
Sasuke masih asyik menggesek-gesek jari kanannya pada permukaan V Sakura sambil mencubit-cubit ujung dada Sakura menggunakan jari kirinya.
Cukup! Sakura mengambil inisiatif.
Diputar tubuhnya menghadap Sasuke.
Sasuke tersenyum dan bersiap mencium bibir Sakura.
Tapi.
Sakura mendorong bahu kekarnya… terus, sampai posisi mereka berbalik. Sasuke kini terlentang di atas kursi, dan Sakura menempatkan dirinya di atas paha Sasuke.
"Sakura?"
"Sssh… Aku juga bisa mengalahkanmu, Sasuke-kun…" bisik Sakura sensual tepat di depan bibir Sasuke. Dan hal itu sukses membuat junior Sasuke semakin tegang.
Untuk sekian detik onyx Sasuke terkejut senang. Tapi kemudian dengan cepat Sasuke mencengkeram lengan Sakura yang tengah menahan bahu Sasuke.
"Karena kamu yang memulai, jangan harap bisa lepas dariku tanpa seijinku" tatap Sasuke tajam.
Sakura membalas tatapannya.
Dan, Sakura memasukkan V nya pada junior Sasuke.
Desahan-desahan luar biasa memenuhi seisi mobil mewah itu.
Dengan pose woman on top, Sakura memuaskan hasratnya yang sudah menggebu-gebu dengan menaik-turunkan tubuhnya. Kecepatannya luar biasa, dada Sakura terguncang-guncang akibat gerakannya yang sangat pro-aktif. Tentu saja pangeran raven itu tidak diam saja. Diremasnya dua keindahan yang sedang berguncang itu terus-menerus.
Kegiatan itu berlangsung selama beberapa belas menit. Hangat. Cairan Sakura keluar lagi.
Wajah cantik Sakura merah padam. Nafasnya habis, keringat menucur deras, dan bibirnya merekah merah sempurna.
Tapi Sasuke, masih ingin menikmati V Sakura lebih lama lagi. Sakura ambruk ke pelukan Sasuke, dan kini Sasuke yang berperan. Sasuke menaik-turunkan pinggulnya mendorong juniornya di dalam rahim Sakura.
"Su… sudahhh cukup Sasuke-kuuunnnhh… sa.. sakiit.." ucap Sakura terbata-bata karena gerakan mantap Sasuke.
"Jangan harap. Kamu menikmatinya bukan?"
Sakura tidak menjawab, tapi memejamkan mata dan mengangguk.
Sasuke sangat bahagia dan mempercepat gerakan in-outnya.
Sakura tetap mendesah walau energinya habis. Walau terasa sedikit perih karena belum beristirahat sedikitpun, Sasuke dan Sakura tidak ingin momen ini berakhir.
Suara tepukan antara kulit paha dan pantat Sakura tidak berhenti.
Sakura mendongakkan kepalanya sejenak untuk menatap kekasihnya.
Sasuke balas menatapnya penuh cinta lalu diraihnya tengkuk Sakura untuk mencium bibir wanita yang sangat disayanginya.
Hujan diluar masih sangat deras. Sederas air yang akan dikeluarkan Sasuke untuk semalaman nanti.
.
.
.
Koonbanwaaaa!
Long time no see!
Halo minna-san.. apa kabar? Wahh lama buangeeet gak update. Yahh moga minna-san gak bosen dengan ff ini yaa. Sekarang masih rada blank dengan isi ff pas ngetik. Tapi honestly, aku sudah siapin konsep plus plot plus ending buat nantinya…
Please, tetap ikuti cerita walau author malas ini sering pake gak jelas pas update.
Aishiteru…
Review, please?
Mother CHANYOU
