… Tidak ada satu apapun yang lebih indah dan jahat selain sorot tajam matamu …
NARUTO, always belong to Masashi Kishimoto
-Author alay mulai berimajinasi liar lagi. Kukuku-
WARN
Bad Sasuke, Lemon, Absolutely Rate M, AU, Typo, No Flame, Don't Like Don't Read
.
.
.
"Dimana dia?! Dimana si jalang itu!"
Teriakan Sasuke membahana di lobby SS art Studio.
Semua mata terkejut dengan sikap bos mereka yang tidak biasa. Pria berambut raven itu berjalan setengah berlari dan menggebrak satu per satu pintu studio. Berharap menemukan si biang keladi kekacauan yang dialaminya.
Seorang security walaupun masih anak buah Sasuke, berusaha menenangkan bungsu Uchiha itu.
"Sasuke-sama. Harap tenang. Semua bisa dibicarakan" pria bertubuh besar itu baru saja menepuk pundak Sasuke saat Sasuke dengan sikap tidak sabar langsung membanting pria yang berat badannya lebih besar hampir 2 kali lipat tubuhnya sendiri.
Tak tinggal diam security lain pun mengambil sikap bersamaan untuk menahan emosi bos mereka yang entah kenapa tiba-tiba mengamuk di kantornya sendiri.
Sasuke, tanpa sedikitpun keraguan, meraih pajangan pedang kendo di dinding galeri lalu melumpuhkan mereka semua.
"Jangan coba-coba menghalangiku sekarang!" Sasuke melempar pedang kendonya lalu lanjut memasuki lift. Wajah tampannya yang tajam tertutup pintu lift yang menutup perlahan. Semua staf lobby memandangnya takut.
.
DRAP
DRAP
BRAKKK!
Sasuke mendorong keras pintu kaca hingga menimbulkan suara keras yang renyah dan mengagetkan. Naruto yang tengah asyik dengan LED touchscreen langsung berdiri menghampiri Sasuke.
"Apa-apaan Teme?!"
Sasuke mencengkeram kerah jaket Naruto, "Katakan dimana Karin!"
"Karin?! Entahlah! Memangnya dia sudah pulang dari L.A?" tanya Naruto balik.
"Cih!" Sasuke mendorong tubuh Naruto yang tidak tahu apa-apa.
Dia lalu menggeledah tiap sisi studio utama dan karena hasilnya nihil, dia menendang semua peralatan studio termasuk tripod, screen, setting, lighting, dan sebagainya.
Naruto membelalak dan langsung menerjang Sasuke sehingga dua pria tinggi itu terjatuh keras ke permukaan lantai.
Tidak terima didorong Naruto, Sasuke memukul rahang lawannya itu.
DUAK!
Bunyi pukulan itu terdengar keras. Saat semua staf hendak melerai mereka berdua, Naruto memberi isyarat pada mereka untuk diam.
Setelah mengusap pinggir bibirnya, dan melihat sedikit darah di punggung tangannya, Naruto membalas dengan pukulan tepat di rahang bawah Sasuke.
BUKK!
"Kau gila Teme?!"
BUG
"Diam!"
DUAG
"Kau yang diam! Berhenti menggila disini!"
BUGGG
DUG
BUAK
"Berhenti kaliaaaaaan!"
Suara seorang wanita menghentikan mereka berdua yang sudah babak belur dengan lecet wajah disana-sini.
Shion melempar tas besarnya dan menarik kedua lengan Naruto dan Sasuke.
"Apa-apaan kalian! Sudah kehilangan otak ya?!" marah Shion.
Sasuke menarik tangannya dengan kasar lalu memutar pergelangan tangannya. "Cih!"
Lalu dia pun pergi.
"Ouch!" Naruto meringis pelan dan Shion menyadari darah menetes di punggung tangan cowok pirang itu.
"Kamu tidak apa-apa Naruto? Sebenarnya apa yang terjadi?" Shion menarik tangan Naruto mendekat agar dia bisa membalut luka dengan sapu tangannya.
Naruto mengalihkan mukanya dan mendecih. "Tidak tahu. Si bodoh itu tiba-tiba masuk pakai ngamuk. Tendang sana-sini. Jadi aku menyerangnya supaya dia tidak merusak lebih jauh"
"Tidak mungkin dia bertindak tanpa alasan" Shion menyentuh bekas pukulan Sasuke pada pipi Naruto yang sontak membuat Naruto meringis perih. Para staf mulai membenahi kerusakan-kerusakan akibat perbuatan nekat Sasuke sambil saling berbisik tentang perilaku anehnya.
.
.
.
FLASHBACK 3 HARI YANG LALU
Sakura berdiri di depan sebuah gedung besar yang unik. Arsitekturnya tradisional jepang, dengan pilar-pilar kayu kokoh yang dilingkari oleh ornamen ular raksasa yang terbuat dari tembaga.
Setelah pencarian panjang dari berbagai site dan jejaring sosial, Sakura akhirnya menemukan alamat kantor pengacara almarhum kakeknya yang ternyata ada di Tokyo. Bukan Osaka.
OROCHIMARU LAWYER
Plat besar itu terpampang mewah di pagar rumahnya yang tinggi.
Satu hari yang lalu, dalam konsentrasinya yang melelahkan, Sakura berusaha mengingat siapa nama yang sempat tersirat dalam percakapannya dengan kepala pelayan Jiraiya's House.
...Orochi...
Dengan sepenggal kata yang tak tuntas itu Sakura memantapkan niatnya dan mencari sungguh-sungguh artikel yang berkaitan dengan Orochi, walikota Osaka, Jiraiya, Pengacara, kuasa hukum.
Dan... disinilah dia sekarang.
Duduk di depan meja kerja Orochimaru.
Sakura mengamati orang itu baik-baik. Sepertinya dia kelihatan cerdas. Dan licik.
Matanya tidak enak dipandang, dan senyumnya sangat sinis. Rambutnya panjang lurus sepunggung.
Bukan tipikal seorang intelek
Batin Sakura.
"Saya membawa dokumen-dokumen yang dapat membuktikan bahwa saya adalah Haruno Sakura, yang- merupakan cucu kandung dari beliau" jelas Sakura panjang dan diinterupsi oleh satu gerakan telunjuk kurus pria di hadapannya.
"Sakura-san. Saya sudah mengetahui profil anda. Sejujurnya, malam sebelum Jiraiya-sama meninggal, dia merubah isi wasiatnya. Yang, dengan sangat mendadak dan saya tidak tahu apa penyebabnya sebelumnya"
"Lalu?"
"Baik, kita kembali ke malam itu. Beliau, secara pribadi, menyuruh saya datang melalui Asuma-san. Setelah menyusun perubahan isi surat wasiat, yang, disaksikan langsung oleh Asuma-san dan salah satu dokter, surat wasiat itu sah secara hukum. Tapi"
"Tapi?" Sakura mengernyitkan alisnya.
"Sesampainya saya di kantor saya ini, waktu itu, wanitu itu, si penghisap darah, ehm, maafkan saya. Saya secara pribadi tidak menyukai Kurenai-san sejak awal. Ah, wajah anda terkejut. Tidak, ini cerita lama, yang sebaiknya tidak kita bahas, intinya, Kurenai-san bukanlah orang yang baik. Terutama pada almarhum"
Orochimaru meneguk kopi hitamnya sejenak dan mempersilakan Sakura meminum tehnya, namun Sakura menggeleng sopan dan menunggu lanjutan cerita Orochimaru.
"Ya, Kurenai-san sudah menunggu saya dan duduk tepat, saya ulangi, tepat di kursi saya ini. Bukan di kursi yang anda duduki sekarang, Nona. Dengan angkuhnya menyilangkan kakinya dan entah bagaimana, dia berhasil memanipulasi saya sehingga wasiat Jiraiya-sensei akan berlaku jika dan hanya jika anda sendiri yang datang kepada saya, Sakura-san"
Jadi itu sebabnya kenapa wasiat kakek tidak terpublikasi selama beberapa bulan ini...
"Jika dia saja bisa memanipulasi anda saat itu, apa yang membuat anda tidak akan termanipulasi lagi nantinya?" Sakura menyelidik, cemas jika Kurenai akan menghalangi langkahnya lagi.
Orochimaru mengambil file dari dalam brankasnya lalu menunjukkan pada Sakura.
"Ini, Nona. Nama anda, diri anda, adalah senjata terbesar untuk saya, dan, untuk anda sendiri. Di dalam dokumen ini, anda akan bisa berkuasa sepenuhnya melebihi Kurenai-san, melebihi Asuma-san"
Sakura pikir mungkin Orochimaru tidak sejahat yang dia duga sebelumnya. Kini tekad Sakura semakin membara dengan Orochimaru di pihaknya.
"Ada sedikit keraguan lagi. Kenapa Paman Asuma menyetujui surat yang jelas-jelas memberatkannya? Maksudku, aset beliau otomatis berkurang jauh dari sebelumnya jika aku meraih semua ini bukan?" tanya Sakura setelah meneliti isi surat wasiat itu.
"Ah. Kurasa anda sudah sering bertemu Asuma-san bukan?"
Sakura mengangguk.
"Dan bagaimana pendapat anda?"
"Dia baik. Sangat baik"
"Lalu?"
"Ya, dia selalu membantuku dan.."
"Nah, anda sudah menjawab pertanyaan anda sendiri. Percayalah Nona. Dengan pengalaman bertahun-tahun, saya dapat mengatakan ini dengan jelas bahwa Asuma-san merupakan partner yang sangat kooperatif dengan apapun keputusan positif almarhum"
Sakura berdiri dan menjabat tangan Orochimaru.
"Kita mulai besok"
.
.
.
FLASHBACK 2 HARI YANG LALU
Sakura melangkahkan kaki jenjangnya yang dihiasi heels tinggi krem keluar dari Jiraiya's House bersama kuasa hukumnya, Orochimaru.
Senyum dingin mengembang pada wajahnya yang puas dengan rapat yang baru saja digelar.
"Kau teruskan sisanya Orochimaru-san. Apapun yang bisa kau lakukan. Pemindahan aset dan lain-lain. Aku pergi. Dua hari lagi aku akan resmi tinggal disini"
"Baik" Orochimaru membungkuk hormat pada Sakura yang akan menaiki mobil.
Sebelum memakai kacamata hitam mahalnya, Sakura menatap tajam Kurenai yang menyilangkan tangannya karena kesal. Sangat kesal. Atas semua yang terjadi padanya. Asuma sendiri terlihat bingung dengan keadaan yang berputar cepat. Dia tidak tahu kenapa keponakannya tiba-tiba berubah sinis. Dia hanya bisa mengikuti hukum yang berlaku sekarang.
.
.
.
1 Hari yang lalu...
Sasuke. Seorang pria bahagia yang akan menyambut hari pernikahannya. Walau tubuhnya sangat lelah akan aktifitas-aktifitas padat di L.A Sasuke tidak bisa menahan diri untuk pulang lebih cepat.
Dan senyum tipisnya muncul saat melihat Sakura tengah berdiri di balkon dengan gaun putih tipis yang berkibar diterpa angin. Tunangannya itu membelakanginya dan sepertinya tidak menyadari kedatangan Sasuke.
Sasuke mengambil kameranya, dan mengambil gambar Sakura dari belakang. Cantik sekali. Manis. Dengan latar belakang berupa langit senja berwarna sephia.
Sasuke lalu memeluk Sakura dari belakang. Mencium tengkuk Sakura dan melingkarkan lengannya pada pinggang Sakura.
Sakura diam dan memejamkan mata.
...
"Sakura?"
"Iya..."
"Aku merindukanmu"
Tangan Sakura yang memegangi pagar besi bergetar dan dalam sedetik mencengkeram erat kerah kemeja hitam Sasuke lalu mencium bibir pangeran raven itu.
Sasuke, dengan sigap memeluk dan mengangkat tubuh Sakura di tengah lumatan bibir mereka lalu mereka pun menuju kamar.
Memeluk sisa kehangatan terakhir.
.
.
.
Pagi Hari
Sasuke terbangun dengan rasa pening yang amat sangat. Tapi setelah melihat selimut hitam yang berantakan karena kegiatan mereka semalaman mau tak mau membuat Sasuke tersenyum tipis. Entah kenapa, tadi malam Sakura begitu menggoda.
Mereka melakukan ritual cinta itu dalam keheningan. Ya, ada desahan. Tapi kali ini mereka melakukannya begitu dalam. Seolah saling merasa tidak ingin melepaskan satu sama lain.
Sasuke melihat sisi ranjangnya kosong.
Pasti sedang mandi
Sasuke mengenakan celananya lalu berjalan menuju kitchen untuk mengambil air dingin.
Sembari meneguk dan menyalakan TV, mata elang Sasuke menangkap sebuah amplop coklat besar dari wedding hall venue mereka.
APPROVAL
Kata itu tercetak jelas di permukaan amplop.
Sasuke penasaran dan membuka amplop itu.
Yang terhormat, Klien kami
Haruno Sakura
Sehubungan dengan surat permohonan yang anda tujukan kepada kami tempo hari, tentang pembatalan seluruh komponen pernikahan yang terdiri dari Hall, Catering, dan lain sebagainya, maka dengan ini kami verifikasi bahwa permohonan anda telah dikabulkan.
Sayang sekali kami belum bisa memberi pelayanan terbaik kepada anda, namun keputusan profesional tetap dilaksanakan. Adapun biaya yang seharusnya akan kami kembalikan telah dengan sangat baik anda donasikan kepada perusahaan kami, maka kami ucapkan terima kasih banyak.
Semoga lain kali kami bisa melayani anda dengan sebaik-baiknya, dan semoga hari anda menyenangkan.
Tertanda,
Manajer
Untuk sekian detik Sasuke tercengang dengan isi surat tersebut. Dia membacanya lagi. Dan lagi. Mengecek lagi nama si klien, dan membacanya lagi.
Sasuke meletakkan gelasnya dengan keras pada meja kacanya lalu bergegas menuju kamar mandi mencari Sakura.
Tapi nihil.
Dia mencoba menelfon Sakura, tapi nonaktif.
Sasuke semakin panik dan menggeledah semua wardrobe di apartemen.
Sama sekali tidak ada peralatan Sakura bahkan benda sekecil apapun.
Kecuali
Sasuke melihat lagi smartphonenya.
Dan disana, dalam galerinya.
Ada rekaman suara Sakura.
Tangan Sasuke bergetar dan menekan ikon play pada file itu.
.
.
.
HARI INI
Sasuke putus asa. Selepas membuat kekacauan di studio, Sasuke bergegas menuju bandara. Di dalam pesawat menuju Osakapun di telinganya masih terngiang jelas kata-kata terakhir Sakura.
Dalam satu-dua menit pertama hanya ada keheningan dan isak tangis Sakura. Membuat hati Sasuke sakit.
"Sasuke-kun... hiks...
Jika memang takdir mempermainkan aku. Kita. Kenapa caranya kejam sekali. Astaga air mataku jatuh lagi.
Aku terjatuh terlalu dalam pada cintamu. Kau cahayaku, tempatku memandang lurus pada cahaya paling terang di dunia ini.
Tapi bahkan cahaya tidak akan ada tanpa adanya kegelapan. Ya, kegelapan itu mencengkeramku, membuatku kehabisan nafas, penglihatan sehingga hatiku hanya bisa melihatmu.
Sasuke-kun, kau cintaku.
Tapi dia juga cintamu.
Dia?
Ya, janin dalam kandungan Karin. Dia buah hatimu. Anakmu.
JANGAN tinggalkan anakmu. Berjanjilah!
Hanya itu yang paling tidak bisa kuminta darimu untuk terakhir kali.
Aduh, bagaimana caraku bisa menghentikan air mata ini..
Setelah ini, jangan pernah mencariku.
Saat kita bertemu lagi aku akan sangat menghargai jika kau menganggap kita tak pernah saling mengenal.
Tapi jika kau membuka luka lama ini lagi dengan mengingatkanku akan hubungan kita, aku akan membencimu seumur hidup. Berjanjilah untuk hidup tenang bahagia tanpaku. Tanpa kenangan tentangku.
Dengan berakhirnya suaraku ini, berakhir pula cintaku padamu.
Aku tidak mau kau terbangun karena suaraku, karenanya sekarang aku sembunyi di balkon hanya untuk menyampaikan kata-kata ini. Sekali untuk selamanya.
Untuk terakhir kalinya...
Aku mencintaimu, Selamat tinggal
PIP
.
.
.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, hati Sasuke hancur parah. Melebihi saat kakaknya Itachi memutuskan meninggalkannya dan keluarga.
Belum pernah Sasuke sesakit ini saat seseorang meninggalkan kehidupannya.
Sasuke tidak terima dan mencari Karin mati-matian untuk dibawa ke hadapan Sakura dan mengutarakan kebenaran.
Kebenaran?
Memangnya Sasuke tahu kebenarannya?
Tidak.
Bagaimana jika bayi itu memang anaknya.
Karin si biang keladi itu malah tidak muncul saat Sasuke mencari-carinya. Dengan berat hati Sasuke harus segera mencari Sakura di Osaka berharap dengan kata-katanya Sakura paling tidak mau kembali Tokyo terlebih dahulu.
.
.
.
BRAK!
Naruto menendang keras meja putih tak berdosa di hadapan Karin.
Naruto dan Shion berdiri murka tidak percaya akan cerita yang disampaikan Karin.
"Kau gila! Kau benar-benar murahan Karin!" bentak Naruto.
"Bagaimana bisa kau tega pada Sakura!" sambung Shion.
Karin hanya bisa menunduk dalam keterpurukan, "Jika bukan karena dia, aku tidak akan melakukannya sejauh ini. Aku tidak meminta kalian memaafkanku. Tapi aku minta kalian membantuku- membantu bayi ini memiliki Ayah kandungnya" jawab Karin mengelus perutnya yang membuncit kecil.
"Sialan!" Naruto pergi sambil membanting pintu.
Shion memandang pintu itu lalu melirik Karin yang mulai menitikkan air mata dan berkata, "Kau tahu kami tidak mungkin membantumu. Kau tidak tahu bagaimana dalamnya hubungan Sasuke dan Sakura. Kita semua tidak tahu. Tapi yang kita tahu sekarang, kau menghancurkan semua dan hanya menyakiti perasaan semua orang"
Shion pun berlalu dan pergi.
.
"Naruto..." Shion menghampiri Naruto yang sedang membasuh wajahnya pada wastafel taman. Rambut pirangnya yang basah menutupi ekspresinya yang sangat marah.
"Sial. Saudaraku sendiri menghancurkan hidup Teme. Aku harus bagaimana Shion?!"
Naruto memukul batang pohon palm dengan punggung tangannya dan seketika lecet. Shion menyentuh punggung tangan itu dan membalutnya dengan sapu tangannya.
"Bodoh. Harus berapa kali aku harus mengobati hasil kekasaranmu"
"Maaf"
"..."
"..."
"Karin ya Karin. Gak ada hubungannya denganmu. Yang menyakiti sahabat kita bukan kamu. Tapi Karin"
"Tetap saja"
Shion memandang wajah Naruto yang menunduk menghadap rumput hijau di pijakannya. Lalu tanpa suara Shion meraih tengkuk Naruto dan memeluknya erat.
"Shion.."
"Jangan terluka bodoh" Shion memejamkan matanya dan menyesali tindakan kecilnya yang bodoh ini.
Naruto tersenyum dan memeluk balik Shion."Terima kasih"
"Aku suka padamu" sahut Shion cepat-cepat melepas pelukannya dan memandang lekat Naruto yang mematung dalam sekejap.
"..."
"..."
"Ah, lupakan" Shion bergegas pergi tepat saat Naruto memegangi pergelangan tangannya yang mungil.
"Shion..."
Shion menunduk dengan pipi yang bersemu merah.
Naruto tersenyum. "Aku juga suka padamu. Sayang padamu..."
"... maaf, tapi sebagai sahabat"
Shion tidak menoleh sedikitpun. Matanya masih fokus pada hamparan rumput di bawahnya.
Sakit. Iya, dia ditolak. Kan?
"Shion?"
"Ahahaha. Bodoh aku cuma menghiburmu kakek peyot" Shion berdalih tertawa saat mata dengan bulu lentik itu berkaca-kaca.
GREP
Naruto cepat-cepat memeluk Shion. Shion berontak dari pelukan itu lalu berlari cepat.
"Naruto bodoh!" teriaknya dengan intonasi parau akibat menangis.
Naruto segera berlari mengejar Shion tapi tangannya terhalang cengkeraman tangan kekar lainnya. Naruto menoleh dan mendapati Nara Shikamaru di belakangnya.
"Shikamaru?"
"Aku mendengar ada keributan antara kau dan Sasuke. Ada apa?"
"Nanti kuceritakan" Naruto menarik tangannya tapi genggaman Shikamaru lebih erat lagi berbarengan dengan pertanyaannya yang kedua.
"Kau menyukai Shion?"
.
.
.
Sakura melirik wanita berambut pendek hitam yang duduk di sebelahnya di dalam Rolls Royce miliknya. Wanita itu terlihat anggun dan cerdas. Sama seperti pamannya Orochimaru.
Sakura memutuskan untuk memiliki seorang asisten pribadi karena sangat tidak mungkin jika Orochimaru menemaninya sepanjang hari. Bukan masalah gender, faktanya kini Sakura tidak peduli dengan kaki tangan berjenis kelamin apapun. Menurutnya saat ini hal itu sama sekali bukan hal penting. Ya, kuasa hukumnya yang setia pada almarhum kakeknya itu juga memiliki kehidupan lain menjadi pengacara orang lain kan? Jadi, tanpa tedeng aling-aling Sakura langsung saja setuju saat Orochimaru menunjuk keponakannya yang juga lulusan Fakultas Hukum Harvard.
"Shizune"
Shizune melirik bosnya yang tengah menyilangkan tangannya angkuh di atas dress elit Dior. Walaupun usianya beberapa tahun lebih tua dari umur Sakura, Shizune tidak ambil pusing dengan manner Sakura yang cuek. Shizune adalah orang objektif yang tidak gila hormat untuk meminta dipanggil Nona, Kakak, One-san, Shizune-san atau apapun.
"Ya?"
"Aku sudah melihat data di kantor tadi, Orochimaru melakukan tugasnya dengan baik tapi aku minta kau teliti lagi jangan sampai nama Kurenai masih tercantum pada hal sekecil apapun"
Shizune mengangguk, "Baik Nona. Ah, Oji-san berhenti dulu!" seru Shizune pada sopir Sakura.
Sakura mengikuti arah pandang Shizune, dilihatnya ada sekerumun security di depan gerbang Jiraiya's House sekitar 50 meter di depannya.
Shizune dengan cekatan menelfon kepala security mereka, Ibiki.
"Ada keributan apa Ibiki-san?"
"Ada Uchiha Sasuke yang mencoba menerobos gerbang dengan mobilnya. Kami berhasil mengentikannya setelah dia melumpuhkan beberapa orang kita. Bahkan ada di antaranya yang kami larikan ke rumah sakit"
Emerald Sakura tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Shizune melirik Sakura meminta pendapat lalu lanjut berkata, "Apa dia- Uchiha Sasuke terluka?" tanya Shizune berhati-hati.
"Iya. Maaf kami tidak punya pilihan lain. Dia sangat kuat"
Jantung Sakura serasa berhenti berdetak sejenak lalu dia memasang poker face.
"Bagaimana Nona?" bisik Shizune.
Sakura menyilangkan tangan dan kakinya, "Biarkan Ibiki-san melakukan tugasnya" sahut Sakura dingin.
"Uchiha Sasuke tidak mau pergi sebelum bertemu Nona" sambung Ibiki.
"Usir dia sebisamu. Aku tidak akan masuk rumah sebelum dia pergi" Sakura merebut ponsel Shizune untuk berbicara dengan Ibiki.
"Apa sebaiknya kita panggilkan polisi?"
"Tidak. Merepotkan saja" Sakura mengembalikan ponsel pada Shizune, "Kita tunggu saja sampai dia pergi" Sakura lalu memasang headset dan memejamkan matanya.
.
.
.
"Nona... sudah tiga jam kita menunggu. Bagaimana kalau ki-"
"Jalankan mobilnya sampai depan gerbang" perintah Sakura.
Setelah mobil sampai di depan gerbang, Sakura turun dengan anggun memakai kacamata hitamnya lalu berjalan masuk.
"Sakura!" seru Sasuke seraya berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman security.
Sakura enggan menjawab dan terus berjalan melewati pria yang 'pernah' dicintainya itu.
"Sakuraaaa!"
Dengan hempasan terakhir Sasuke berhasil lepas dan berlari menyusul Sakura, menarik lengan wanita itu dan meraih pundaknya.
Sakura memandang lurus mata Sasuke dari balik kacamatanya tanpa sepatah kata apapun.
Sasuke tampak lusuh dan pucat. "Ayo pulang! Tempatmu ada di sisiku!"
"..."
Para security berhenti berlari atas perintah Shizune.
Sakura masih terdiam tanpa gerakan sedikitpun.
"Sakura kumohon!" Sasuke menggenggam tangan Sakura lalu memeluknya erat.
Sakura menolehkan kepalanya sedikit memberi kode pada Shizune. Shizune mengangguk dan para security pun berlari menangkap Sasuke untuk tidak bertindak lebih jauh lagi.
"SAKURAAA!" dengan perlawanan mati-matian, Sasuke tidak bergerak dengan empat pria besar yang mengapitnya.
Sakura, masih tanpa kata membetulkan blazernya yang sedikit kusut akibat pelukan Sasuke lalu berjalan masuk menghilang dari balik pintu hijau raksasa Jiraiya's House.
"SAKURAAAAAAAAAAA!"
Teriakan Sasuke membahana di balik punggung Sakura.
Wanita berambut merah muda itu segera berlari menuju kamar pribadinya yang berada di lantai tiga.
Dengan nafas yang tersengal, dia segera mengintip Sasuke yang sudah babak belur memukul rahang Ibiki lalu pergi dengan membanting pintu mobil keras-keras.
Di ambang jendela, Sakura hancur dan runtuh sudah pertahanannya.
Topengnya kini hilang. Raungan tangis Sakura pecah dalam gelapnya kamar raksasa bernuansa coklat tua.
Sakura memeluk lengannya sendiri dan jatuh terduduk di atas dinginnya lantai granit krem.
Sakura sakit.
Hancur.
Baginya, Sasuke lebih dari sekedar cinta.
.
.
.
Yeheeeyyy Konbanwaaa!
Halooo apa kabar minna-san..? rinduuu banget. Okay, kali ini Mother datang dengan sejuta alasan (lagi)
Hahahah
Kali ini lama banget gak update karena laptopnya rusak. Huhuhu. Kasian laptop jadul ini sudah menemaniku bertahun-tahun semenjak jaman kuliah dulu. Kasian... kasian... (sambil meluk dan ngelus-elus laptop dengan lebay) hahahahabisnya ngerjain ff di PC lain gak comfortable banget.
Wew, maaf ya konfliknya masih berat pake sadis pake tega. Kuharap minna-san masih mau setia ngikutin Eyes yaaa.
Aku akan selalu berusaha tidak mengecewakan minna-san.
Akhir kata, hontou arigatou minnaaaa... Love You
Review Please?
Mother CHANYOU
