… Tidak ada satu apapun yang lebih indah dan jahat selain sorot tajam matamu …
NARUTO, always belong to Masashi Kishimoto
-Author alay mulai berimajinasi liar lagi. Kukuku-
WARN
Bad Sasuke, Lemon, Absolutely Rate M, AU, Typo, No Flame, Don't Like Don't Read
Kemarin Mother sudah pernah rekomendasikan instrumen 2nd moon ice pond. Nah kali ini masih dengan instrumen yang sama, coba deh intip youtube sebentar lihat 2nd moon ice pond versi cover dari Reynah. Dalemmmm banget (buat yang suka instrumen)
Well, happy reading!
.
.
.
Sudah berhari-hari Sasuke berdiam diri di rumah orang tuanya. Aktifitasnya hanya berkeliaran di sekitar rumah Sakura pada jam berangkat dan pulang kerja Sakura. Walau usahanya menemui Sakura selalu mendapat jalan buntu karena ketatnya sistem pengaman, Sasuke tidak bosan.
"Sasuke-kun... " Mikoto menepuk pundak putranya yang tengah duduk termenung di teras rumah menghadap taman.
Sasuke tetap memunggungi Ibunya dan terdiam.
"... apakah kau tidak ingin menemui Ayahmu hari ini?"
"Aku tidak ingin menyulut lukanya lagi" jawab Sasuke dari balik punggungnya.
Mikoto memandang sedih putranya dan akhirnya ikut duduk di samping Sasuke.
Mereka berdua terhanyut dalam suasana hening yang menyedihkan. Mikoto menarik kepala raven Sasuke untuk disandarkannya pada bahunya. Fugaku, sang Ayah, sang guru besar, tidak mau menatap anaknya lagi.
Jika dulu Itachi meninggalkan keluarga demi istri yang tidak direstui, kini beda. Fugaku yang sudah siap menerima Sakura sebagai pasangan putranya, malah terluka oleh sikap putranya. Lagi.
Mendengar kabar bahwa Sasuke menghamili wanita lain, Fugaku menampar Sasuke. Satu kali.
Dan itulah satu-satunya reaksi Fugaku pada Sasuke untuk terakhir kali. Fugaku mengurung diri di ruang kesenian dan menghabiskan hari-harinya dikelilingi kanvas dan cat.
.
.
.
Tiga Mercedes Hitam S-Class terparkir rapi di depan gerbang mewah rumah Uchiha. Seorang wanita berambut hitam turun dari mobil kedua diiringi sedikitnya enam bodyguard dari mobil lain.
Setelah dibukakan gerbang, mereka langsung memasuki rumah Uchiha dengan percaya diri.
.
Kepala pelayan memasuki area teras tempat Sasuke dan Mikoto dengan tergesa-gesa.
"Mikoto-sama.. hh. Hh.. ada tamu dari Jiraiya House ingin menemui Sasuke-sama"
Onyx Sasuke membulat dan segera saja dia berlari menuju hall depan. Berharap Sakura yang datang menemuinya. Namun sayang sekali, yang ada di depannya hanya segerombol pengawal yang pernah dipukulinya tempo hari. Plus asisten Sakura. Wanita berambut pendek hitam.
.
.
.
Setelah menyajikan teh, kepala pelayan dan pelayan-pelayan lainnya undur diri. Ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan besar yang sangat mencekam itu.
Sasuke, Mikoto, Shizune, duduk berhadapan di ruang tamu yang biasanya juga sebagai ruang rapat grup seniman profesional, kolega Fugaku.
Sofa-sofa besar dan furniture-furniture mewah lainnya memenuhi hall itu. Dan bayangan matahari di luar terhalangi blinds jingga bercorak pohon Sakura dan menimbulkan shade-shade garis lurus menawan yang terpantul di wajah tajam Shizune.
"Baiklah, dengan segala hormat, kehadiran saya kemari adalah untuk menyampaikan pesan dari Nona pada Sasuke-sama"
Mikoto hanya bisa menahan nafas melirik ekspresi tak terbaca anaknya.
Shizune menunggu reaksi Sasuke untuk beberapa detik, lalu melanjutkan, "Nona sangat berterima kasih atas kebaikan-kebaikan anda selama ini. Maka dari itu..."
Dengan gerakan kecil kepalanya, pengawal-pengawal Shizune mengangkat 6 buah koper penuh berisi uang tunai dan meletakkannya pada meja marmer di depan Mikoto dan Sasuke.
Muka Mikoto memerah menahan gelak emosi atas perbuatan yang tersirat menghina tersebut.
Shizune buru-buru pamit dan hendak pergi saat Mikoto berdiri dengan ekspresi marahnya. Tapi lengan Sasuke yang mengenakan sleeveless top menghalanginya.
"Terima kasih" sahut Sasuke dan disambut Shizune yang menunduk hormat.
Mikoto terkejut dengan reaksi Sasuke. Dia tidak menyangka Sasuke mampu menerima penghinaan ini.
Dan ruangan besar itupun hening dan dingin lagi dengan dua orang yang semakin terpuruk sepi.
.
.
.
"Baik Nona... 5 menit lagi saya sampai di rumah"
TEP
Shizune memandangi ponselnya yang memampangkan nama Sakura.
Hhhh. Dasar orang-orang kaya. Tidak kusangka semurah itu harga diri seorang Uchiha. Kupikir akan sedikit menyusahkan untuk bernegosiasi dengan laki-laki itu. Aku bisa dimarahi Nona kalau sampai uang itu kembali.
Shizune mengehela nafas lega dan menyandarkan kepalanya. Setelah ini dia masih harus menjemput Sakura untuk berangkat ke kantor.
Baru sejenak bersandar, Shizune dibuat terkejut dengan Rolls Royce milik Uchiha sudah terparkir beberapa meter sebelum pintu gerbang.
Mobil Shizune melewati mobil yang kaca jendelanya tertutup itu dengan rasa penasaran yang tinggi.
Tanpa ingin ada keributan lagi, Shizune memutuskan untuk segera sampai di gerbang dan menjemput Sakura lalu pergi.
Sakura keluar dari Jiraiya House dengan dress hitam tanpa lengan dan topi putih lebar menutupi wajahnya. Wanita itu berjalan cepat menuju Shizune sambil menanyakan hasil 'operasinya' terhadap Sasuke.
Shizune hanya mengangguk menjawab pertanyaan Sakura.
Emerald Sakura sedikit bergetar saat melihat wajah Shizune. Sedikit kecewa mendengar kabar bahwa Sasuke menerima uangnya. Di satu sisi, dia ingin membayar kebaikan Sasuke dengan cara yang memang kurang pantas agar Sasuke pergi dari kehidupannya. Di sisi lain, di hatinya yang terdalam, dia ingin Sasuke menolak uang itu. Demi harga diri dan kenangan mereka.
Sakura menutupi wajahnya dengan topinya dan bersiap masuk.
Tepat.
Saat.
Mobil Sasuke melaju kencang dan mengurangi kecepatan di depan Sakura.
Seiring mobil itu melaju, ratusan juta yen terbang melayang berhamburan dari jendela mobil Sasuke. Saat mobil Sasuke mengurangi kecepatannya di depan Sakura, Sakura dapat melihat kilatan dingin mata tajam Sasuke yang marah. Terhina. Dan kecewa.
Angin kencang mobil Sasuke menghempaskan lembar-lembar yen dan topi Sakura.
Sakura tidak dapat menyembunyikan kekagetannya kali ini.
Dia berdiri kaku di tengah kertas-kertas berharga yang berterbangan.
Dan dalam sedetik, mobil Sasuke mengeluarkan suara kencang gas dan menghilang dari balik taman-taman cemara.
Lagi.
Dan ternyata, di lubuk hatinya yang terdalam. Dia benar.
Semua terasa lebih baik saat Sasuke menolak uang itu.
Tapi kilatan mata itu. Melukai hati Sakura melebihi apapun. Melebihi Karin dan segalanya.
Dunianya menggelap.
Sakura pingsan.
.
.
.
Malam itu juga Sasuke bertolak ke Tokyo. Pangeran kegelapan itu mengalami kehancuran hati teramat parah. Dia tidak akan pernah bisa membenci Sakura. Termasuk sikapnya hari ini yang dengan teganya merendahkan Sasuke dengan mengirimi sejumlah yen. Tidak, itu tidak sebanding jika dia memikirkan apa yang sudah dialami Sakura. Hanya saja... Sakura melakukan hal rendah itu demi kuatnya keinginan untuk tidak melihat Sasuke lagi. Itu yang membuat hati Sasuke terluka.
Di dalam apartemen yang pernah menjadi sarang mereka berdua, saksi bisu kisah cinta mereka berdua. Di tempat inilah semuanya dimulai.
Sasuke memasuki kamarnya yang luas. Bersih tak mempunyai cela.
Jari-jari Sasuke merayap merambati rak kaca kokoh yang menempel pada salah satu dinding kaca. Setelah menemukan sebuah lekuk, Sasuke memencet tombol disana dan dalam sekejap rak kaca itu bergeser dari tempatnya semula. Membuka sebuah ruangan kecil persegi berukuran 3x3 meter.
PIP
Ruangan kecil yang gelap itu kini terang benderang.
Cahaya lampu putih menerpa foto-foto frameless yang menempel di dinding. Objek foto-foto itu semuanya adalah Sakura. Tanpa kecuali.
Mulai dari saat gadis itu bekerja di cafe, malam pertama Sakura menginap di apartemen ini, dan berbagai hal-hal kecil penuh ekspresi cantik Sakura, hingga foto terakhir yang Sasuke ambil.
Foto Sakura dengan gaun putih tipis membelakanginya dengan background langit warna sephia.
Sasuke menyentuh foto itu perlahan dan ingatannya mengalir kembali pada kejadian itu. Malam terakhir itu. Dan suara terakhir Sakura.
Tangan Sasuke mengepal keras lalu jatuh tidak berdaya ke sisi tubuhnya.
Dan setitik air mata turun dari rahang tegasnya.
.
.
.
Keesokan harinya Sasuke masuk kembali ke SS art studio.
Sasuke tidak memiliki ide apapun saat ini. Dan dia sudah memutus hubungan dengan kantor L.A. Saat ini mimpinya tidak ada artinya lagi. Dia ingin melanjutkan hidupnya yang lama. Kehidupan sebelum ada Sakura.
Untuk sementara.
Setelah meminta maaf pada seluruh staf termasuk security yang dikumpulkan pada aula karena sikapnya yang terakhir kali sangat terlewat batas, yang dengan sangat mengejutkan ternyata semua orang sudah merindukan bossnya. Daripada kecewa, marah, atau mempermasalahkan attitude Sasuke, orang-orang kantor sudah lega bahwa Sasuke sudah mau kembali.
Yang paling bahagia adalah Naruto dan Shion. Tentu saja, karena mereka adalah tiga serangkai sejak awal pembentukan studio.
Ya, Sasuke belum bisa tersenyum. Memang jarang tersenyum. Tapi, Naruto dan Shion selalu berusaha membuat Sasuke nyaman.
"Jadi? Apa yang ingin kamu lakukan sekarang Teme?" tanya Naruto sambil meminum jus nanasnya.
"Entah.." Sasuke menjawab dengan setengah hati sambil memainkan gelas berisi air dinginnya.
Shion menyeruput ocha dinginnya sambil melirik dua sahabatnya itu.
"Ne, ne.. jangan berpikir apapun deh saat ini. Sebaiknya kita semua kerja secara rilex dulu.. okey?"
Sasuke memejamkan matanya dan menghela nafas panjang lalu menyandarkan kepalanya.
...
...
"Dobe, rasanya aku lebih baik nginap di rumahmu dulu untuk sementara ini" kata Sasuke masih memejamkan mata.
...
...
Hening.
Tidak ada yang menjawab.
"Hei! Aku bicara denganmu bodoh" Sasuke bangun dan menatap Naruto.
Tapi Naruto dan Shion dan hampir semua orang menatap ke satu arah di belakang kursi Sasuke.
Wanita berambut merah dengan kemeja teal dan jeans berdiri kaget dan menjatuhkan tasnya di ambang pintu studio utama.
.
.
.
Angin semilir membawa bunga yang berguguran di rooftop garden SS art studio lantai lima. Dari balik pintu kaca studio utama, Naruto, Shion, dan beberapa staf inti saling berusaha mengintip dalam kecemasan.
Di taman di luar sana, Sasuke menarik kencang lengan Karin dan menyeretnya menuju luar gedung.
Dengan kasar dilepasnya tangan Karin. Wanita yang ketakutan itu mencari pegangan pada pohon untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang sedang kurang stabil karena sedang berbadan dua.
"Sasu-!"
"KAU-SEBAIKNYA-SEGERA MEMPERBAIKI MASALAH! Sasuke mendekat dan mencengkeram rahang Karin.
Dengan posisi seperti itu, Karin bahkan tidak bisa menggerakkan rahangnya untuk bicara. Sasuke menatap tajam mata Karin yang berkaca-kaca lalu melepas cengkeramannya.
"Masalah?! Ya, semuanya memang menjadi kacau! Tapi dia adalah bagian dari hidupmu Sasuke! Dia adalah belahan nyawamu!" Karin memegangi perutnya dan memprotes Sasuke keras-keras.
Sasuke terdiam melihat perut yang membuncit kecil di hadapannya. Terlintas pikiran iba pada Karin tapi dengan cepat dia menepis pikiran itu.
"Dengar jalang! Ini adalah perintah terakhirku untukmu! Bawa Sakura kembali kesini apapun caranya!"
Sasuke berjalan melewati Karin dengan angkuh.
Karin menangis hebat dan menggigit bibir bawahnya.
"Sasuke gila!" teriaknya sambil meremas pinggiran rambut ikalnya.
Sasuke tidak peduli tapi matanya fokus pada tatapan-tatapan mata yang membelalak menuju pemandangan di balik bahunya.
Karin berjalan ke tepi rooftop dan menaiki dinding pagar yang hanya setinggi 1 meter.
Wajah penuh tangis itu menoleh pada Sasuke tanpa sepatah kata lagi.
"KARIIIN!"
Sasuke berbalik dan berlari menjangkau Karin yang sudah menghilang dari balik pagar.
Gerombolan orang-orang ikut menumpuk di balik bahu Sasuke.
Karin sudah tergeletak di area parkir bersimbah darah dengan posisi jatuh tengkurap.
Dengan cepat Sasuke menuruni bangunan itu melalui lift, sedangkan Naruto yang biasanya sangat kuat dan tegar entah kenapa tubuhnya tak mampu bergerak dan wajahnya pucat pasi melihat kondisi sepupunya. Shion membimbingnya untuk duduk dan meminta seseorang segera menelpon ambulance.
Shion mengelus punggung Naruto di saat dadanya sendiri bergetar hebat tidak percaya akan apa yang baru saja terjadi.
Karin benar-benar serius
.
.
.
Lorong rumah sakit sangat sepi. Hanya ada cahaya lampu yang memaksa keluar dari balik dinding kaca buram. Sasuke terus mengumpat dalam hatinya.
Sial! Sial!
Kenapa semua ini menimpaku?!
Kenapa semua terjadi gara-gara aku!
Siaaaalll!
SREGGG
Pintu itu terbuka.
Sang dokter yang keluar dari dalam ruang itu membuka maskernya dan menyapa Sasuke. "Anda ayah dari bayi itu?"
Dengan segenap energi yang dikumpulkannya, Sasuke berusaha menjawab, "Apa dia, mereka berdua baik-baik saja?"
Dokter paruh baya itu tersenyum dan menepuk pundak Sasuke.
"Janinnya sehat. Mereka berdua sudah melalui saat kritis. Tolong jaga mereka baik-baik, si ibu benar-benar membutuhkan dukungan fisik dan moril yang kuat. Dia terlihat sangat stress" jawab dokter sambil berlalu dan mempersilakan Sasuke masuk.
Pikiran Sasuke benar-benar kusut sekarang.
Jika dia melihat wajah Karin sekarang, dia tidak akan bisa menarik diri lagi. Sedangkan hatinya masih dan selalu ada pada Sakura.
Sasuke mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu setelah terdiam selama semenit, tangan itu akhirnya membuka handle pintu kaca buram.
Onyx itu memandang wajah Karin yang menatapnya sambil mengelus perutnya.
Tanpa kata, Sasuke berjalan perlahan mendekat ke ranjang. Tidak tahu harus berkata apa, Sasuke hanya bisa membisu dan menundukkan kepala memandang perban berdarah pada dahi Karin.
TEP
Karin menggenggam tangan Sasuke. Sasuke tidak bisa menarik diri sekarang.
"Ijinkan anak ini mendapatkan cintamu..." kata Karin lirih.
Ingin rasanya Sasuke berteriak tidak. Getaran hebat bergemuruh di dalam dadanya. Semua ini begitu menyesakkan. Bibir Sasuke terkatup rapat. Giginya saling menekan.
Sasuke menarik tangannya dari genggaman Karin, lalu berbalik sambil mengucapkan kata-kata berat yang dia harap tidak ingin didengarnya sendiri.
"Kau bisa tinggal denganku sampai dia lahir"
Mata Karin menampakkan cahayanya.
Saat Sasuke sudah sampai di ambang pintu, wanita itu menangis bahagia dan berkata, "Terima kasih"
Sasuke memejamkan matanya dan segera keluar dari ruangan itu.
Berat, perih.
Dia berlari menuju mobilnya dan pergi ke tempat yang jauh, menghindar dari semua bencana ini untuk sementara.
.
.
.
Sementara itu di Jiraiya House sedang terjadi pertemuan yang diadakan secara diam-diam. Kurenai menunggu saat suaminya dan Sakura berada di kantor.
Kurenai dalam masalah besar. Sebelum Sakura datang kemari, Kurenai sudah membuat perjanjian akan memasukkan grup investor besar secara illegal. Kenapa illegal? Karena grup itu ingin menguasai setidaknya 50% aset industri milik Jiraiya. Tentu saja hal itu dilarang, karena nilai maksimal aset orang luar jika digabungkan hanya 40%. Itu sudah termasuk aset semua investor lainnya.
Dan sekarang Kurenai berhadapan dengan pemimpin grup itu secara langsung. Seorang wanita cantik bernama Anko yang seumuran dengannya.
"Apa maksud anda membatalkan kesepakatan di antara kita?" tanya Anko tajam sambil menyilangkan kaki jenjangnya yang terlihat jelas dengan miniskirt navynya.
"Saya sudah mengirim surat resmi lengkap dengan penjelasannya-"
BRAK
"Anda tahu tidak ada kata 'resmi' di antara kita! Sejak awal kita bermain di dunia kotor, Nyonya!" Anko menggebrak meja dan menimbulkan suara keras di ruangan yang hanya berisi dua wanita itu. Semua pengawal dari pihak manapun dilarang masuk demi keamanan informasi.
"Ya! Dan anda tahu saya sudah tidak memiliki kuasa sebesar itu lagi untuk memainkan dunia itu sekarang!" Kurenai yang memang kasar ikut emosi dan balik membentak Anko.
"Anda tahu, orang-orang seperti andalah yang cepat mati di dalam dunia seperti ini" ancam Anko serius dan memandang lekat mata lawan bicaranya.
"Anda mengancam saya?! Sebaiknya anda cepat angkat kaki dari rumah ini. Kurasa anda sudah tahu letak pintu keluar!"
Anko membelalak. Dia tidak pernah diusir dengan cara yang tidak terhormat begini. Anko meraih Hermesnya lalu menyunggingkan senyum sinis tanpa kata apapun lagi.
Sesudah Anko pergi, Kurenai terduduk kaku. Jari-jarinya bergetar hebat dan keringat dingin mengaliri pelipisnya.
Aku pasti baik-baik saja
Aku pasti baik-baik saja
.
Malam itu, di sebuah kamar suite hotel di jantung Osaka, dua insan tengah berada dalam puncak bercinta mereka.
"Ohhh Oh... lebih dalam lagi.. Akh!"
"Lagi! Lebih cepat! Ah, Ah, Ahhhh!"
Rambut gelap si wanita tersibak dan menampakkan peluh serta seringai kenikmatan luar biasa.
Pria yang ada di belakangnya terus menusuk kewanitaannya dengan kecepatan ekstrim. Sudah 3 jam mereka bertahan melakukan ritual cinta itu dalam berbagai posisi tanpa sedetikpun si pria mengeluarkan kejantanannya.
"Ohhhhhh..." akhirnya Anko mencamai klimaks dan ambruk di atas bantalnya.
Si pria yang belum mencapai klimaks, memutar tubuh Anko menghadap padanya dan menusukkan kembali kejantanannya dan membuat Anko tersenyum pasrah.
"hhhh... Ahhh.. ini yang membuatku puas melakukannya denganmu. Kau tidak peduli aku sudah sakit atau apa... ahhh... kau pria yang sangat pas untuk partner seksku"
Anko menyentuh bekas luka pasangannya pada wajahnya saat si pria mengeluarkan kejantanannya dan dadaAnko pun penuh dengan cairan cinta mereka.
Pria itu duduk dan menarik punggung Anko agar ikut duduk menghadap dirinya.
Anko memiringkan kepalanya untuk mencium pasangannya. Lalu setelah seporsi ciuman panas, Anko memeluk dada bidang pria itu.
"Kita sudah melalui masa-masa sulit sejak bangku kuliah. Perbedaan status sosial, perbedaan prinsip, bahkan kita kini berperang dalam dua kubu yang berbeda. Tapi aku yakin kau pasti selamanya di pihakku" bisik Anko sensual di telinga pria itu.
"Tentu saja. Aku tidak peduli dengan posisimu sebagai bos besar atau apalah. Akan kuselesaikan dalam 3 bulan ini"
Anko melepas pelukannya dan mencium lagi bibir pasangannya.
"Jangan sisakan bukti. Lakukan apapun yang kau bisa. Wanita itu harus mati. Mengerti, Ibiki?"
Ibiki balas memandang Anko dan membaringkan wanita itu untuk melanjutkan aktifitas mereka lagi.
.
.
.
Resmi.
Sekarang Sasuke dan Karin tinggal bersama.
Karin melakukan apa yang terbaik yang bisa dilakukannya untuk bayinya dan Sasuke. Dia berhenti menjadi model dan tinggal di apartemen sepanjang hari. Memasak, dan aktifitas lainnya.
Ya, Sasuke masih menjalani hidupnya. Sperti biasa. Semuanya terlihat normal dari luar.
Dari luar.
Hanya Karin yang bisa merasakan.
Sasuke hanya merespon perkataannya jika memang diperlukan. Sasuke tidak pernah menatapnya. Tidak pernah mengajaknya bicara. Bahkan Sasuke membagi kamarnya yang luas menjadi dua ruang yang disekat.
Karin seperti tinggal sendirian di tempat itu. Tapi Karin tidak menyerah. Dia sudah mendapatkan Sasuke. Dia akan berusaha menjadi yang terbaik.
Bahkan Naruto tidak pernah berani membahas kehidupan Sasuke dan Karin. Semua orang sudah cukup terluka. Sekarang perasaan Sasuke sudah bias dan dingin. Tidak bisa merasakan apapun lagi.
Sedangkan Sakura, semakin berkembang dan fokus pada kehidupannya sekarang. Dia menjadi pemimpin muda yang cakap dan tegas. Tidak ada satu orang pun di Jiraiya House, kantor, maupun pabrik-pabrik yang pernah melihat Sakura tersenyum.
Tidak ada.
Hanya sebuah kamar bernuansa coklat yang menjadi saksi bisu tangisan, mimpi buruk, dan raungan kepedihan tengah malam yang dialami Sakura.
.
.
.
Konnichiwa minna-san... ahahaha
Telat lagi telat lagi. Masih ingat nasib laptopku kan? Sekarang died. Huhuhuhu
Makanya ini agak kesulitan karena harus nebeng laptop adek.
Makasiiiiiih banyak masih mau setia di ff ini it means a lot. Really.
Aku juga lagi banyak cobaan akhir-akhir ini. Kerjaan gak dibayar klien dll. Buat reader senior pasti pernah ya mengalami saat-saat pahit yang tidak menyenangkan kekeke. Sedangkan buat reader junior, hati-hati ya nanti kalau sudah masuk dunia kerja, yang penting semangat dan jadilah orang yang baik hati pada siapapun.
Well, selamat menikmati karya Mother yang kejam ini yaa. Haha.
Aku sudah punya alur buat endingnya kok. Jadi.. stay tune ya.
Aishiteru, Saranghae, Love You
Review Please?
Mother CHANYOU
