… Tidak ada satu apapun yang lebih indah dan jahat selain sorot tajam matamu …
NARUTO, always belong to Masashi Kishimoto
-Author alay mulai berimajinasi liar lagi. Kukuku-
WARN
Bad Sasuke, Lemon, Absolutely Rate M, AU, Typo, No Flame, Don't Like Don't Read
.
.
.
Naruto melirik sosok jangkung rapuh di sampingnya.
Sahabatnya yang satu itu sudah 2 hari ini meringkuk di sofa. Alis pria blonde itu bertautan. Hatinya ikut merasakan sakit yang diderita Sasuke.
Sasuke berbeda dengan yang dulu. Kurus. Tidak tampak seperti orang yang pernah mengobrak-abrik seisi gedung. Menghajar guards dengan kendo. Bertarung dengan Naruto. Bukan Sasuke yang seperti itu lagi.
Naruto tidak bisa menolak kehadiran Sasuke yang datang pada saat-saat yang tidak bisa diprediksi. Kadang pagi buta. Kadang tengah malam. Kadang juga merebut kunci rumah Naruto dengan paksa padahal mereka sedang bekerja di studio.
Seperti saat ini. Sasuke menutupi hidung mancungnya yang kurus dengan lengannya menyembunyikan mata onyx sayunya.
"Dobe..."
"Apa"
"Kapan aku bisa berhenti memikirkan Sakura?"
Naruto mendengus, "Kau menanyakan hal yang mustahil dijawab. Atau yang mustahil kau sendiri lakukan"
Sasuke membuka kungkungan lengannya. Mata sayu itu menatap langit-langit kayu minimalis rumah Naruto.
"..."
"..."
.
.
.
Wanita berambut merah menyala di pantulan cermin kamar mandi menitikkan air matanya. Tubuhnya tampak kurus dan membuncit besar di perutnya.
3 bulan? 4 bulan? Atau 5 bulan?
Entahlah. Karin tidak bisa memastikan usia kehamilannya.
Stress akut.
Kantung mata mantan model ternama itu menghitam. Berbulan-bulan ini, ah tidak, baru 3 bulan ini, yang, terasa sangat lama tentunya, menyiksa Karin secara continue.
Tidak ada seorangpun yang peduli padanya. Naruto, Shion, Sasuke. Dia hidup sesukanya. Di apartemen Sasuke. Dengan rekening yang selalu penuh.
Inikah kehidupan yang diinginkannya? Berada di area Sasuke, bergelimang harta, dan sebagainya?
Semua hampa tanpa adanya satu kata pun dari Sasuke. Selalu merespon dengan jawaban-jawaban singkat dan kini berakhir dengan tatapan acuh yang semakin menjadi.
Tidak
Ada
Kalimat
Lagi
Di antara mereka berdua.
Karin membasuh mukanya sekali lagi dan menuju sofa untuk menyalakan televisi. Dengan tangan kurus yang malas, dia melihat breaking news tentang sebuah kecelakaan motor dengan tubuh jangkung yang tergeletak bersimbah darah di balik helm putih.
Karin berdiri tegak dan mendekati layar LED memastikan penglihatannya tidak salah.
Dalam sedetik Karin terjatuh lemas. Tubuh kurusnya tidak sanggup menahan getaran hebat shock yang dialaminya melihat berita itu.
Bibir Karin memucat dalam seketika dan bergegas keluar apartemen berlari menuju sebuah jalan di daerah Tokyo tempat kecelakaan itu terjadi.
.
.
.
"Konnichiwaaa" seru Shion masuk ke dalam rumah Naruto dan mendapati kedua sahabatnya tengah terkapar di atas karpet bulu coklat tebal milik Naruto.
Naruto melirik Shion sekilas dari balik pergelangan tangannya yang menutupi wajah.
"Bawa snack apa nenek tua?"
Shion mengacungkan kantong makanannya, "Okonomiyaki"
"Aaaah! Bosan sama telur. Aku maunya daging!" Naruto kembali menutup mukanya. "Kalau gak mau ya sudah" Shion melempar okonomiyaki tak berdosa itu ke meja pantry dan ikut berbaring di antara Sasuke dan Naruto.
"Aku rindu kalian"
"Lebih tepatnya rindu masa-masa menyenangkan kita" lanjut Shion.
"Iya. Aku hampir saja lupa saat kita merintis usaha ini sambil berkeliaran di kota tanpa ada tujuan" senyum Naruto mengenang masa lalu mereka.
Sebuah hening menyelimuti suasana di antara mereka secara tiba-tiba. Ya, saat ini kepahitan memang tidak mau beranjak dari mereka bertiga.
"Maaf teman-teman. Aku pergi. Bye" Sasuke meraih jaket jeans dan helm putihnya lalu menutup pintu dan meninggalkan dua sosok yang terdiam dalam kecanggungan.
KLAP
"..." Naruto melirik Shion yang ada di sampingnya.
"..." Shion membalas lirikan Naruto lalu mendengus kecil.
"..."
"..."
"Nenek. Kudengar kemarin Shikamaru melamarmu" Naruto melontarkan pertanyaan sambil memiringkan tubuhnya menghadap Shion.
"Kau dengar dari siapa" sahut Shion jutek.
"Kamu jawab apa ke dia?" Naruto memandang Shion intens.
"Kenapa? Penasaran?" Shion melirik Naruto sekilas.
"..."
"..."
"... iya" jawab Naruto pendek disertai tatapan tajam.
DEG
Hati Shion serasa berhenti dalam sekejap dengan tatapan itu.
"...a-"
"Hoaaaa. Aku single sendiri dehhh!" potong Naruto seraya bangun dari tidurnya dan duduk absurd sambil memegangi poni pirangnya.
Shion menganga terkejut. Naruto menoleh pada Shion dan mengacak poni gadis pirang itu, "Selamat yaa nenek tua!" seru Naruto disertai cengiran khasnya.
"MAKASIH!" Shion bangkit dan menuju kamar mandi.
Naruto memandang punggung Shion yang menghilang dari balik pintu toilet. Masih ingat pertemuannya dengan Shikamaru kemarin senja.
"Naruto, aku akan berterus terang. Aku tahu Shion menyukaimu. Tapi aku tidak akan membatalkan rencanaku untuk memintanya menjadi istriku malam ini"
Sapphire Naruto berkilat sekilas. Puluhan kata siap dilontarkan pada kolega sekaligus teman baiknya itu. Namun mengingat betapa cantik dan antusiasnya Shion siang hari itu menanggapi rencana makan malam dengan Shikamaru, Naruto memutuskan menelan kembali deretan kalimat yang sudah berada di kerongkongannya.
"Semoga berhasil. Nenek tua itu layak mendapatkan pria terbaik" Naruto mengumbar senyum pahit seraya menepuk bahu gagah pria sejati Shikamaru.
PLASH
Shion membasuh matanya yang memerah menahan gejolak tangis yang hampir saja meluap di depan Naruto. Dia juga mengingat kejadian tadi malam dengan Shikamaru.
TREK
Pisau dan garpu steik Shion berhenti berdentang.
"A, apa?" tanya Shion dengan nada terkejut.
"Haruskah aku mengulangi lagi?" Shikamaru menyodorkan sebuah kotak beludru yang menganga dengan cincin emas berhias berlian.
"Jadilah istriku. Aku melamarmu" Shikamaru memandang mantap mata Shion yang sulit ditebak.
Shion menunduk bingung dan tidak percaya. Dia meremas dress lavender yang dipakainya.
"Kau tidak harus menjawab sekarang" lanjut Shikamaru. "Aku tahu kamu butuh waktu untuk berpikir"
"Tidak. Aku bisa menjawabnya sekarang" potong Shion mantap.
"Aku tidak bisa menerimanya. Aku menyukai orang lain. Maaf"
"Naruto"
Shion terkejut.
"Dia kan?"
Shion menunduk. Lagi.
"Aku tahu karena aku selalu memperhatikanmu"
Shion berusaha meraih gelas wine di atas meja namun tangan sigap Shikamaru segera menggenggamnya erat.
"Beri aku kesempatan untuk mengubah haluan hatimu padaku" Shikamaru menatap wajah Shion sungguh-sungguh.
Shion balas menggenggam tangan Shikamaru dan berkata, "Walau mungkin aku dan Naruto tidak bisa bersatu, kamu tidak akan bisa mengubah arah mata angin hatiku. Maaf"
Shion pergi dan Shikamaru melepas genggaman tangan yang hanya sekejap itu.
KLAP
"Kyaaaa!" Shion terkejut melihat Naruto sudah berdiri tepat di depan pintu toilet dan dengan hitungan detik memeluk Shion.
"Naruto! Apa-apaan kau!"
"Jangan menikah dengan orang lain" bisik Naruto dari balik bahunya.
Shion berhenti meronta dan merasakan aliran darahnya berhenti.
"Aku menyukaimu" lanjut Naruto.
Dan tanpa kata-kata lagi, dua insan itu saling memandang dan mendekatkan kedua bibir mereka perlahan lalu hanyut dalam sepi.
.
.
.
Sasuke meletakkan helm putihnya dan berjalan menuju lift. Dia tidak ingin pulang. Dia benci melihat wajah Karin dengan segala ekspresi yang membuatnya semakin muak.
Tapi entah kenapa perasaannya tidak enak.
TING
Pintu lift terbuka. Dan saat pria raven itu bersiap masuk, betapa terkejutnya Sasuke dengan pemandangan di depannya.
Karin jatuh terduduk bersimbah darah di area kakinya sambil memegangi perutnya.
"KARIN! Karin, ada apa ini?!" Sasuke segera membopong Karin dan meraih kunci mobilnya yang sedang dipegang Karin.
"Sa... Sasuke, tolong bawa aku ke Rumah Sakit Tokyo" pinta Karin dengan bibir yang memucat.
Rumah Sakit Tokyo? Bukankah biasanya Karin pergi ke Rumah Sakit Kaguya, Rumah Sakit elit khusus Ibu dan Anak? Ah, Sasuke tidak perlu berpikir panjang. Bawa saja Karin ke Rumah Sakit Tokyo sesuai permintaannya.
.
.
.
"Maaf. Dia telah pergi" sang Dokter menundukkan kepalanya hormat lalu permisi meninggalkan kamar.
Untuk Sasuke, kabar menyedihkan ini sangat menguntungkannya. Tapi tetap saja, sebagai manusia, dia memiliki nurani. Dia memandang Karin dengan perutnya yang sudah tidak membuncit lagi.
"... di.. dia bahkan belum sempat lahir di dunia ini dan Tuhan sudah mengambilnya..." air mata Karin mengalir deras. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Tangan Sasuke baru saja bergerak perlahan untuk memegang bahu Karin tepat saat Karin berkata, "Maaf, kumohon pergilah. Aku ingin sendiri saat ini"
Tanpa berkata apa-apa Sasuke keluar dari kamar itu. Dia tahu Karin lah yang paling terpukul dengan kejadian ini. Wanita itu butuh privasi.
.
Mata Karin menatap nanar gorden kamar berwarna soft skyblue di sampingnya. Setelah mengusap air matanya, Karin memencet tombol untuk memanggil suster.
Beberapa menit kemudian, seorang suster datang sambil membawa kursi roda sesuai permintaan Karin. Dibantu suster itu, Karin menuju sebuah ruangan yang menjadi momok disetiap rumah sakit.
KAMAR MAYAT
"Maaf Nyonya, tapi bayi anda tidak ada disini.." tegur perawat itu.
Karin memandang lesu dan memaksa untuk tetap memasuki ruangan mengerikan itu.
"Aku mencari korban kecelakaan tadi siang"
Perawat itu memandang bingung dan akhirnya mengantarkan Karin pada sosok dingin yang terbaring kaku di sebuah pojok ruangan.
Dengan tangan gemetar, Karin membuka kain putih penutup wajah korban kecelakaan itu. Dia ingin memastikan bahwa apa yang dilihatnya di televisi tadi benar-benar nyata.
SET
"Ohhhh" Karin menutup wajahnya dan menangis hebat.
Perawat itu merasa tidak enak dan segera menutup wajah mayat itu lagi. Mereka bergegas keluar dan meninggalkan sosok yang ber name tag di pergelangan tangannya dengan nama
Suigetsu.
.
.
.
"Temeeeee!"
"Sasukeee!"
Naruto dan Shion berlari tergesa-gesa di lorong rumah sakit menuju Sasuke yang sedang berdiri di depan taman.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
"Hosh.. hoshh. Biarkan aku bernafas dulu" seru Naruto mengacungkan telunjuknya.
"Karin menelpon kami untuk datang kesini. Emergency" lanjut Shion dengan ekspresi serius.
"Hn. Ya, dia keguguran"
"Apa?!" seru mereka berdua bersamaan.
"Jadi... kamu... gimana donk?" tanya Naruto.
Sasuke mengalihkan pandangannya kembali ke taman.
"Tapi lihat ini" Shion menunjukkan layar ponselnya yang berisi email dari Karin.
Datanglah segera. Tentang Sakura.
Karin.
Sasuke membelalakkan onyxnya dan tanpa jeda mereka pun segera menuju kamar Karin.
.
.
.
GREKK
Karin menoleh ke arah pintu dan mendapati personel yang dibutuhkannya telah lengkap.
"Kalian datang. Silakan duduk" sahutnya lemah.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, mereka duduk sambil menerka-nerka apa yang tengah terjadi.
"Tolong, jangan interupsi saat aku bicara dan, tolong, diamlah sebentar Naruto"
Naruto yang hendak mebuka mulutnya untuk bicara mengurungkan niatnya.
"..."
"... Kalian boleh menghakimiku setelah ini selesai. Kalian bisa memenjarakanku, atau membunuhku. Terserah."
"Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini"
Tiga pasang mata di ruangan itu menatap Karin terkejut.
.
.
.
"Kau! Sayang sekali aku tidak mau memukul perempuan. Tapi dengarkan aku baik-baik karena aku hanya akan mengatakannya satu kali. Kalau sampai Sakura tahu tentang ini, aku akan membuatmu menyesal walau kau adalah saudara Naruto. Dengar, satu-satunya kelemahanku adalah tidak memiliki kelemahan" Sasuke pergi menerjang badai L.A dengan amarah memuncak.
Jari lentik Karin yang gemetar meraih kembali bungkus rokoknya dan mengambil satu batang sigaret dan menyulutnya.
Mata indah model pro itu terpejam sejenak lalu terbuka dan meneteskan sebutir air mata.
"Fffuhhhh" Karin menghembuskan asap rokoknya dengan keputus-asaan terdalamnya.
KREEEET
Karin memandang seseorang yang memasuki kamarnya.
Matanya berkilat, dan masih menahan air matanya.
"You're smart, Bitch"
"Sudah cukup kan menyiksaku?!" bentak Karin pada sosok laki-laki berambut biru muda di depannya. Ya, kekasihnya, bukan, seorang kriminal L.A yang sudah terlanjur mengikat Karin selamanya dalam belenggu kegelapan.
"Jangan berani-berani membentakku sayang. Kau tahu akibatnya kan? Ya, apa boleh buat. Siapa suruh Ayahmu menjadi pembunuh bayaran untuk membunuh kakakku" Suigetsu mencium Karin yang telanjang dengan kasar sambil meremas paksa kewanitaan Karin.
Ayah Karin memang seorang pembunuh bayaran. Tapi beliau ditugaskan untuk membunuh kriminal saja. Dan sayangnya tanpa sepengetahuan Karin, target terakhir Ayahnya adalah kakak dari kekasihnya. Setelah sukses dengan misinya, Ayah Karin yang sudah pensiun dan kekuatan fisiknya melemah dibalas dengan kejam oleh Suigetsu.
Suigetsu mengurung ayah Karin di suatu tempat di Jepang dan menyiksanya setiap minggu. Kecuali Karin mau menuruti setiap perkataan Suigetsu, ayahnya hanya akan dikurung. Tidak disiksa setidaknya.
Kelam
Kehidupan Karin sangat kelam dan menyiksa. Setiap malam, bahkan saat drinya menstruasi dia kerap diperkosa oleh Suigetsu beserta teman-temannya. Jika dia menolak, Karin harus bersiap melihat video Ayahnya yang tengah disiksa.
Hingga pada hari berbadai itu, saat dirinya tengah menangis diperkosa Suigetsu di dapurnya sendiri di L.A, seseorang datang meminta perlindungan badai.
Sasuke.
"Tidak. Jangan kemari, Sasuke!" rintih Karin dalam hati.
Suigetsu menyeringai melihat ekspresi Karin dan membaca ketakutan di mata wanita berambut merah itu.
"Dia atasanmu bukan? Pria maskulin tampan yang membuatmu jatuh hati dan tergila-gila?"
Karin diam memandang tajam disertai kengerian mendalam di ubun-ubunnya.
"Well, aku akan membuatmu menjadi istrinya" sahut Suigetsu cepat sambil memuntahkan sperma sebanyak-banyaknya dalam kewanitaan Karin.
.
.
.
Dan terjadi. Karin hamil. Dan dia yakin 100% bahwa janin di dalam kandungannya adalah anak biologis Suigetsu. Karin tidak seks sama sekali dengan Sasuke. Dia hanya membuat Sasuke pingsan dan menelanjanginya. Tidak lebih dari itu.
Neraka berlanjut. Suigetsu ingin memeras Karin dengan memanfaatkan kekayaan Sasuke. Skenario berjalan mulus. Dengan akal busuk Suigetsu, Karin mendepak Sakura dari kehidupan Sasuke dan mampu meraih uang Sasuke.
Peristiwa itu membuat mental Karin down terus menerus.
Dia tidak bisa membuat cinta satu-satunya, Sasuke, tersiksa gara-gara dirinya. Berkali-kali Karin mencoba bunuh diri dengan menenggak obat-obatan, tapi selalu berakhir dengan rasa sakit yang teramat sangat serta penyesalan pada janinnya.
Karin, seorang wanita yang nakal mungkin. Tapi dia sangat menyayangi janinnya.
Harapannya hanya Sasuke. Walau hanya bersandar pada khayalan semu, tinggal bersama Sasuke sedikit meringankan penderitaannya. Tapi walau bagaimanapun mata Sasuke tidak akan pernah memandangnya. Selamanya.
Sampai Karin melihat Suigetsu tergeletak bersimbah darah bersama helm putihnya.
Sebuah keajaiban yang ditunggu-tunggu Karin selama ini.
Karin menangis bahagia.
Sampai
Matanya menangkap pemandangan yang lebih mengerikan.
Seseorang yang mengalami insiden yang sama di tempat itu.
Sebuah mobil van yang menabrak Suigetsu, di dalamnya terdapat seseorang yang sangat disayanginya.
Ayah Karin.
.
.
.
"Entah bagaimana cara Ayahku kabur dari tempat Suigetsu menyiksa dia, yang jelas dia bunuh diri demi membunuh Suigetsu. Aku bergegas kemari tapi di dalam lift aku mengalami kontraksi parah yang sangat menyakitkan. Dan pada akhirnya aku kehilangan semua orang"
"Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini"
Cerita Karin dimulai dan diakhiri dengan kalimat pedih yang sama.
Tiga pasang mata itu membelalak tidak percaya akan apa yang baru saja mereka dengarkan. Terlalu fantasi untuk dipercaya, tapi terlalu sakit untuk diabaikan.
Dan semua hal menjadi jelas sekarang.
Semua orang merasa terluka sekarang. Apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa yang sebenarnya terjadi, ya kan? Itu pemikiran kalian kan?"
Sasuke menatap kaku mata Karin.
Naruto memandang Karin, "Kenapa kau tidak minta tolong padaku?!"
"Dan menambah jumlah orang yang terluka karenaku? Tidak"
"Selama ini kau juga korban?!" seru Shion.
Karin mengangguk pelan. Air matanya menetes pelan.
"Kau lihat? Kau mendengar semua ini kan?" Karin menggumam menundukkan kepalanya.
Sasuke, Naruto dan Shion bertanya-tanya apa maksud pertanyaan Karin barusan.
"... Maafkan aku Sakura. Sasuke tidak bersalah sama sekali"
Karin memandang sesuatu berbentuk persegi panjang yang ditempelnya di jendela di balik gorden tipis soft skyblue.
Sebuah tablet berukuran 10 inch tersembunyi apik dan memiliki posisi strategis untuk merekam seluruh percakapan tadi sekaligus tersambung dengan video call dengan sang tokoh utama.
Sakura.
Di seberang sana, Sakura, yang sepertinya tengah berada di kantornya menangis kaku tidak berdaya melihat seluruh kejadian itu. Matanya lurus mantap menatap mata Sasuke yang juga memandangnya intens.
Sekarang semuanya jelas.
Masalah terselesaikan.
"Sasuke-kun maafkan aku! Aku mencintaimu!" seru Sakura di seberang sana.
Sasuke tidak membuang waktu. Dia segera berdiri mendekati tablet itu.
Tepat
Saat
Objek gambar di dalam tablet itu terbelalak kaget dengan sesuatu di kantornya sana.
Ibiki, kepala penjaga Sakura, memasuki kantor itu dengan moncong pistol yang mengarah ke balik bahu Sakura. Satu keuntungan bahwa Sakura membawa device nya sejajar dengan tubuhnya sehingga orang-orang di kamar Karin mampu melihat dengan jelas apa yang terjadi disana seakan mereka ikut berada disana. Sakura memutar tubuhnya untuk melihat dan melindungi seseorang yang baru saja memasuki kantornya dari sisi pintu yang lain.
Kurenai.
"SAKURAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Teriak Sasuke.
"KYAAAAA!" Shion dan Karin berteriak ngeri melihat pemandangan di video itu. Sedangkan Naruto yang hendak menghampiri tablet itu juga mendadak terdiam terbelalak.
Sedetik.
Mereka berempat mencerna pemandangan mengerikan Sakura tertembak di kepalanya lalu video menghitam seketika.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Hiks
Haiiiiiiii. Wkwkwkw
Lama ya. Buangetttt.
Banyak banget alasan yang mau aku omongin. Tapi mending ga usah aja ya. Percuma ini. Wkwk
Hayooooo, kok jadi gini ceritanya? Bingung? Hehe... stay tuned deh pokoknyaaa.. sudah klimaks ini
Aku merindukan kalian sangatttttt.
Review, please?
Mother CHANYOU
