Tidak ada satu apapun yang lebih indah dan jahat selain sorot tajam matamu …

NARUTO, always belong to Masashi Kishimoto

-Author alay mulai berimajinasi liar lagi. Kukuku-

WARN

Bad Sasuke, Lemon, Absolutely Rate M, AU, Typo, No Flame, Don't Like Don't Read

.

.

.

Intermezzo

Mother begitu terserap dalam sebuah lubang kepahitan yang menjelma menjadi instrument berjudul "Bittersweet" Ost Me Before You, sebuah film romantis yang membuat lubang di dadaku semakin lebar setelah luka menganga tercipta akibat meninggalnya kucingku. Aku tidak bisa move on dari duka itu selama beberapa hari. Maaf. Aku memang lebay dan hopeless romantic hiks...

Btw, instrument di atas juga masuk di Eyes ya, kayak 2nd moon ice pond kemarin.

Met membaca...

.

.

.

Kurenai meyakinkan dirinya sekali lagi setelah terdiam selama tiga puluh menit di dalam BMW putih miliknya yang terparkir pada basement Jiraiya Corp.

Dia tahu bahwa waktunya tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Dia tahu ancaman musuhnya, Anko, tidak lama lagi akan direalisasikan.

Membunuh Kurenai.

Dia tidak ingin menyakiti Asuma lebih dari ini. Kurenai memutuskan untuk pergi meninggalkan Asuma dan Sakura dan lenyap di antah berantah. Kabur. Mengganti identitasnya di luar negeri. Dan hidup dengan menutup semua tirai kehidupan masa lalu.

KLAP

Pintu BMW itu tertutup mantap. Kurenai berjalan menuju kantor Sakura untuk menitipkan pesan terakhir pada Asuma dan dia ingin memperingatkan Sakura akan adanya bahaya dari Anko.

Para staf memberi salam dan menunduk hormat pada Kurenai tanpa ada yang menyadari niat jahat Ibiki yang tiba-tiba, entah muncul darimana, berjalan tepat di belakang Kurenai.

Kurenai tidak menyadarinya. Dia memasuki pintu samping kantor Sakura tepat saat Ibiki memasuki kantor Sakura melalui pintu depan sambil mengarahkan moncong pistolnya pada Kurenai.

.

.

.

"Sakura! Sakura! Kumohon bangunlah!" Kurenai meracau menangis berlari mengikuti tim medis yang membawa Sakura ke ruang operasi.

"Nyonya dilarang masuk" seru salah seorang perawat menutup pintu dan lampu operasi pun menyala.

Kurenai terduduk lemas di lorong rumah sakit. Tidak berapa lama kemudian suaminya datang menghampiri dan membopong Kurenai untuk duduk di kursi.

"Ini semua gara-gara aku!" teriak Kurenai yang menangis di pelukan Asuma..

"Sssh... jangan menyalahkan dirimu. Sekarang yang terpenting adalah keadaan Sakura" dengan tangan yang masih bersimbah darah, Asuma menenangkan istrinya.

Darah? Ya. Kantor Sakura menjadi ruangan pentagon dengan aliran darah di dua sudutnya.

Setelah salah target, Ibiki bunuh diri. Keadaan kantor semakin chaos setelah semua orang melihat lubang peluru di belakang kepala Sakura. Sakura langsung tak sadarkan diri. Tubuhnya kejang pelan dan pernafasannya terbatas.

Kurenai memeluk Sakura berusaha menyadarkan Sakura tapi nihil. Dan disinilah mereka sekarang.

.

.

.

Sasuke menggila di sepanjang jalan raya menuju Rumah Sakit Osaka. Setelah sampai di bandara, dia langsung melesat cepat menggunakan Rolls Royce Fugaku yang sudah sengaja dipersiapkan oleh Mikoto. Mikoto dengan mata sembab berpesan untuk berhati-hati pada Sasuke.

Setelah berpisah dengan putranya, Fugaku dan Mikoto menyusul menggunakan Mercedesnya. Mikoto menangis tidak tertahankan mendengar telepon dari putranya siang tadi di Tokyo yang mengabarkan tragedi di kantor Sakura.

Dan disinilah mereka. Langit malam Osaka begitu kelam. Hujan deras mengguyur kota indah itu tanpa henti. Fugaku hanya bisa memeluk pundak istrinya untuk memberi kekuatan pada Mikoto.

CKIIIT

Mercedes yang mereka tumpangi berhenti tiba-tiba.

"Ada apa?!" tanya Fugaku pada drivernya.

"Fu-Fugaku-sama. Bu, bukankah itu Sss-Sasuke-sama?" jawab driver terbata-bata melihat pemandangan mengerikan di depannya.

Rolls Royce Sasuke remuk menabrak sebuah truk yang tergelincir jalanan basah.

Belum usai tangisan Mikoto, shock akan kejadian tak terduga itu membuat dengungan tidak jelas antara teriakan Fugaku, riuh kerumunan para pejalan kaki, serta halilintar yang saling bersahutan meramaikan orkestra tragedi malam ini.

Fugaku berlari menuju mobil Sasuke yang hancur. Mikoto, dengan kaki yang terseret mengekor di belakang suaminya. Fugaku membuka paksa pintu mobil Sasuke yang rusak dan tidak bisa terbuka. Dengan rasa keputus asaan terdalamnya, Fugaku memukul mantap kaca jendela Sasuke lalu menyeret tubuh lemah yang tergolek di dalamnya.

Tergeletak di dada Fugaku, Sasuke tidak sadarkan diri dengan separuh wajah berlumuran darah bercampur air hujan membasahi seluruh tubuhnya.

.

.

.

Terang sekali.

Apa ini? Pemakaman? Kenapa aku ada disini?

Aku berjalan di jalan setapak di antara gundukan-gundukan berhias rumput hijau yang sangat bersih dan segar. Aku menghampiri sebuah air mancur di tengah plaza dan menyapa bayanganku. Aku yakin aku melihat wajahku. Mata hijau, rambut merah jambu, dan sedikit rona pink pada pipiku.

Aku membasuh wajahku dengan air dari fountain itu lalu berbalik dan mendapati ada dua duplikat yang persis sepertiku. Berdiri tepat di depanku dengan masing-masing ekspresi mereka.

Kiri. Wajahnya terlihat cemas. Khawatir. Atau bertanya-tanya? Entahlah.

Kanan. Menyilangkan tangannya di dada dan mengerutkan alisnya heran.

"Apa?" tanyaku.

"Tunggu apa lagi? Ayo segera ikut denganku" kata si Kanan.

"Tidak. Masih banyak yang harus kau selesaikan. Tidakkah kau rasakan? Disini?" sanggah si Kiri sambil menyentuh dadaku. Aku hanya berusaha mencerna apa yang mereka katakan. Masih bingung sekali.

"Katakan, apa yang kau rasakan disini?" tanya si Kiri lagi.

Tiba-tiba dadaku terasa hangat... panas... lalu air mataku meleleh tanpa sebab.

"Aku... rindu" jawabku sesenggukan.

"Benar... kau merindukan siapa?" tanya si Kiri.

"Merindukan apa! Kau mau membuat dia lebih tersakiti lebih dalam lagi? Dia bahkan sedang sangat rapuh di luar sana" si Kanan menghempaskan tangan si Kiri dan rasa hangat di dadaku segera mendingin dan air mataku berhenti. Dalam sekejap aku merasakan bias.

Si Kiri memandang si Kanan intens. Begitu pula sebaliknya.

Aku berbalik dan memejamkan mataku.

.

Sakura terbangun.

Dengan rasa pening luar biasa.

Kamar tempatnya berada sangat bersih dan putih. Bernuansa peach kombinasi hijau muda. Aroma mawar menyerbak di seluruh ruangan dan menimbulkan perasaan menenangkan.

"...ra! Sakura!"

Sakura mencari sumber suara itu dan emeraldnya yang cantik menangkap wajah seorang laki-laki tampan berambut dan bermata gelap dengan perban mengelilingi dahinya.

"Kamu memanggilku?" tanya Sakura lemah.

Laki-laki itu memeluk Sakura.

Sakura tidak mau dipeluk seperti ini tapi dia tidak memiliki tenaga untuk menolak. Laki-laki itu mencium pipi Sakura dan memeluknya lagi.

"Apa yang terjadi pada dahimu?" tanya Sakura.

"Tidak apa-apa. Hanya terjatuh saat ingin segera menemuimu. Dengar, aku merindukanmu" kata pria itu sambil membelai pipi Sakura.

Kali ini Sakura menyalurkan tenaganya pada tangannya untuk meraih pergelangan tangan pria itu agar berhenti menyentuh tubuhnya. Pipinya.

Pria itu menatap Sakura, "Kamu koma selama tiga hari dan... aku benar-benar ingin menatap matamu"

...

...

"Siapa kamu?" tanya Sakura.

Sasuke tercengang.

Dan selanjutnya semakin membuat Sasuke kehilangan nyawanya.

"Siapa aku?"

.

.

.

Setelah lelah bergulat dengan para perawat, Sasuke menyeret tubuhnya yang masih sangat lemah akibat kecelakaan yang menimpa dirinya menuju kamarnya.

Suara-suara yang ditimbulkan riuhnya Naruto, Shion, Mikoto, Asuma, Kurenai dan entah berapa orang lagi yang menyadari bahwa Sakura telah sadar dari koma dan hilang ingatan. Dokter dan pasukannya yang bergegas memasuki ruangan untuk mengecek kesehatan Sakura, serta suara-suara alat medis yang berdentingan. Bagi Sasuke semua suara itu hanya background dari suara Sakura yang berdengung, menggema, dan mengulang-ulang di dalam kepala Sasuke.

Siapa kamu

Siapa aku

Siapa kamu

Siapa aku

BRUK

Sasuke terhempas berat pada ranjangnya. Dia tidak percaya Sakura kehilangan ingatannya. Ini tidak boleh terjadi. Tidak sekarang. Tidak selamanya.

"AAAAAARGGH!"

Sasuke meremas rambutnya dan tenggelam dalam kepedihan.

.

.

.

Senja menyelimuti ruangan besar tempat Sasuke bernaung. Dia masih tidak bisa menerima keadaan Sakura yang kehilangan ingatan. Haruskah Sakura mengalami kepahitan ini? Semua ini tidak akan terjadi seandainya Sakura tidak pernah kembali ke Osaka. Seandainya saja Karin tidak mencampur aduk masalah pribadinya pada Sasuke dan Sakura, seandainya saja Sasuke tidak pernah bertemu Sakura, paling tidak Sakura sekarang pasti sedang tersenyum dan menjalani kehidupan tenang yang bahagia di sudut Tokyo.

Sasuke merasakan pening menjalar pada lukanya. Bukan luka yang berarti jika dibandingkan dengan luka tembak yang dialami Sakura, tapi... Sasuke harus menanggung luka fatal akibat kecelakaannya tempo hari. Sasuke menyentuh alis gelapnya tepat saat Mikoto masuk ke kamarnya.

"Sasuke-kun..."

Sasuke membaringkan kepalanya dan menerawang langit-langit putih yang memantulkan cahaya senja di luar sana.

Mikoto menyentuh kening Sasuke dan meraih tangan Sasuke.

"Trauma" kata Mikoto.

Sasuke menggerakkan onyx gelapnya yang indah pada wajah Ibunya.

"Dokter mendeteksi adanya trauma mental yang sangat dalam pada saraf Sakura. Jelas semua hal yang sudah dilaluinya terlalu berat untuk Sakura. Bahkan jika dia berusaha sekuat mungkin untuk mengingat semuanya, ada suatu tekanan yang pada akhirnya akan mengalahkan pejuangannya itu. Dalam diri Sakura yang terdalam ada rasa tidak ingin mengingat apapun. Dan rasa itu berhasil menguasainya sekarang"

Sasuke tahu persis tekanan apa itu. Itu pasti rasa sakit dan kecewa yang diderita Sakura gara-gara dirinya. Walau pada akhirnya kebenaran telah terkuak, tapi itu tidak sebanding dengan rentang waktu saat Sakura terkurung sepi.

Mikoto mengelus punggung tangan Sasuke yang masih penuh luka.

"Cukup kuat untuk menguasai rasa cintanya padaku?" tanya Sasuke balik dengan tatapan yang tersirat seperti memohon agar Ibunya mampu menjawab hal yang sebaliknya.

"... Oka-san tidak tahu"

Mikoto bangkit lalu mencium kening Sasuke dan keluar dari kamar.

Sasuke menutup matanya dengan pergelangan tangan sembari mengambil nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat.

Dan air mata mengalir satu per satu.

.

.

.

Esok harinya.

Sasuke berjalan menuju vending machine untuk sekaleng soda. Ya, dia tahu dia tidak diperbolehkan meminum minuman berkarbonasi itu. Tapi masa bodoh. Bukan itu yang terpenting sekarang.

Sasuke belum berani menjumpai Sakura lagi. Terlalu sakit untuknya. Rasa sakit itu tidak bisa dijelaskan. Itu menyangkut kenangan, perasaan, hati, cinta, tawa, wajah cantik Sakura, darah, keringat dan air mata.

Tapi rindu itu terlalu egois untuk diabaikan. Sekembali dari vending machine, Sasuke melewati lorong sepi, berjalan sepelan mungkin menuju depan kamar Sakura dan onyx indahnya menangkap pemandangan seorang wanita cantik dengan wajah manis sedang memandang kosong jendela yang menghadap ke taman.

Sasuke tidak bisa membohongi hatinya. Dalam terkatupnya bibirnya, Sasuke ingin tersenyum menikmati wajah Sakura yang cantik. Yang teduh. Yang membuatnya jatuh cinta.

Lalu wajah indah itu menoleh ke arahnya. Ke arah Sasuke. Emerald dan onyx bertemu. Cukup lama. Satu menit dan rasanya belum ada yang ingin bergerak.

Nafas Sasuke terasa tercekat. Betapa dia, sangat, amat sangat ingin menyongsong sang putri dan membawanya pergi dari sini tapi tidak. Bukan Sakura ini yang ingin dia habiskan sisa waktunya selamanya.

Sasuke mendecih dan memalingkan kepalanya menggenggam erat kepalan tangannya lalu bergegas kembali ke kamar.

.

.

.

Esok harinya lagi.

Sasuke keluar dari ruangan dokter yang menangani Sakura dengan perasaan kesal. Jawaban orang-orang tidak ada yang mampu melegakan hatinya.

Sakura amnesia.

.

.

.

Esok harinya.

Hari ini Sasuke tampak sedikit lebih segar, walau perban di dahinya belum mau beranjak. Dia melangkah menuju kamar Sakura dengan sebuah buku tebal di tangannya.

TOK TOK

"Iya?" suara merdu Sakura dari dalam kamar membuat dada Sasuke bergetar.

"Permisi?" Sasuke menaikkan alisnya sambal mengintip dari balik celah pintu.

Sakura bingung. Sasuke masuk perlahan. Dokter bilang Sakura menderita amnesia anterograde apalah yang mana membuat Sakura tidak akan bisa mengingat kejadian kemarin setiap kali dia terbangun dari tidur.

"Hai. Aku Sasuke" Sapanya.

"Hai. Aku Sakura"

Sakura?

Sakura tersenyum manis dan menunjuk sebuah buku yang kelihatannya selalu tergeletak di samping bantalnya. Buku besar itu terbuka pada halaman pertama yang bertuliskan biodata dan foto Sakura.

"Setidaknya aku bisa memperkenalkan namaku dengan bermodal foto ini. Aku bisa saja mengatakan Hai aku Himawari jika yang tertulis disini adalah Himawari. Ya aku tidak begitu tahu, asal kamu tahu" Sakura tersenyum.

Sasuke ikut tersenyum. Sebuah kehebatan dengan intelenjensi sepintar itu Sakura berusaha meringankan beban orang-orang di sekelilingnya dengan tidak terus-menerus bertanya Siapa aku, Siapa kamu.

"Tidak apa. Apa aku boleh berada disini? Tanpa alasan khusus sebenarnya. Aku hanya ingin ngobrol denganmu" tanya Sasuke.

"Iya. Agak sepi disini. Akan menyenangkan memiliki teman… ummm.. Saa…su?"

"Sasuke"

"Sasuke. Iya. Maaf"

"Tidak apa. Jangan minta maaf"

"Hehe. Iya. Jadi, Sasuke, ceritakan tentang luka di kepalamu?" Sakura memiringkan kepalanya penasaran dengan perban di dahi Sasuke. Sasuke menaikkan satu alisnya dan melihat ke atas sekejap lalu memandang Sakura dengan senyum.

"Kamu ingin tahu? Oke. Jadi aku adalah orang yang sangat ceroboh. Siang itu di café, aku melerai pertengkaran seorang waitress dengan sekelompok pria nakal yang mencoba menggodanya"

"Menggoda?"

"Iya, menggoda. Mereka mesum sekali. Kamu lihat, aku tidak bisa melihat gadis sebaik itu diserang sekumpulan orang jahat jadi aku berusaha membelanya" Sasuke menghentikan ceritanya. Dia tersenyum simpul melihat Sakura begitu berbinar mendengar tiap kata yang dilontarkannya.

"Lalu saat aku bersiap memukul pria-pria itu, mereka berhasil menyerangku"

Sakura mengerutkan alisnya sedih.

"Dan bagian yang memalukan adalah, gadis waitress itu mampu melumpuhkan orang-orang jahat itu tanpa bantuanku. Dia sangat keren, cantik dan kuat. Sayangnya aku hanya bisa mengambil gambarnya saja lewat kameraku"

Sakura tidak mengeluarkan kata-kata. Dia menjawabnya dengan pandangan mata yang sangat bermakna. Dia mencerna. Dia mengolah data. Sakura memandang Sasuke dengan jutaan pertanyaan melalui matanya.

Sakura merasa semua yang dikatakan Sasuke merupakan data. Bukan cerita. Data yang nantinya akan diterjemahkan otaknya menjadi sebuah memori.

Tapi tidak. Belum. Mata Sakura dingin lagi. Kondisinya terlalu lemah untuk mengolah data itu.

Sakura tersneyum simpul lalu meletakkan kepalanya pada punggung kasur.

"Kamu bosan ya?" tanya Sasuke.

Sakura menggeleng pelan dan menikmati wajah tampan Sasuke.

Hatinya hangat. Tidak. Panas, penuh rindu. Rasanya sosok di depannya itu luar biasa indah. Sakura menikmati tiap lekuk rahang, dagu, leher, poni, alis gelap, dan mata tajam itu.

"Apa…aku boleh memegang tanganmu?" tanya Sasuke berhati-hati.

Lagi-lagi Sakura menjawabnya melalui matanya. Diam. Sakura bukannya menolak atau mengijinkan Sasuke menggenggam tangannya. Sakura hanya penasaran. Apakah hangat itu akan muncul lagi ketika kulit mereka bersentuhan.

TEP

Bukan hangat lagi.

Debaran di dada Sakura meningkat hebat. Panas. Terlampau panas. Pipi Sakura memerah.

Sasuke melepas genggamannya dan membuat gejolak Sakura berhenti seketika.

"Aku punya sesuatu untukmu"

Sasuke menyerahkan buku tebal yang dibawanya masuk tadi.

Buku dengan cover putih itu dibuka Sakura perlahan. Alis Sakura bertautan semakin dekat.

Halaman pertama berisi foto Sasuke dan Sakura. Lengkap dengan biodata persis seperti yang dia miliki di sebelah bantalnya.

Halaman kedua lebih seperti narasi pendek disertai foto Sakura berbalut seragam waitress di sebuah café.

Hari pertama aku bertemu dengan gadis tercantik yang pernah aku lihat di dunia ini. Sebuah raga penuh pesona, cantik, kuat, dan hebat.

Dengan perlahan namun pasti, Sakura membuka halaman kedua. Sebuah foto wajahnya yang tengah terkejut dengan background taman.

Wajahmu sangat lucu. Dan pertemuan-pertemuan kita memang aneh.

Jemari Sakura mulai bergetar dan membuka halaman ketiga. Fotonya mengenakan kemeja putih Sasuke di dalam apartemen.

Aku menyukaimu. Selalu.

KLAP

Sakura menutup buku itu keras-keras. Air matanya mengalir tanpa dikomando.

"Sakura! Apa kamu mengingatnya?!" Sasuke berdiri dan memegangi bahu kecil Sakura.

Sakura mundur mengelak dari tangan Sasuke lalu memencet tombol bertuliskan "always press here if you need anything" di samping bednya.

"Kepalaku sakit sekali! Dan rasanya disini sesak sekali!" Sasuke menyentuh dadanya lalu menutupi wajahnya yang berderai air mata.

Sasuke membuka kurungan tangan Sakura dan meraih dagu kecil wanita itu dan suaranya serak memohon sebuah keajaiban dari Sakura.

"Tolong jawab aku! Apa ada sedikit saja kenangan kita yang muncul di benakmu?!"

"Tidak! Tidaaak! Jangan paksa aku. Aku mohonnnn!" Sakura berontak.

"Sakura, aku mohon!" Sasuke geram dan mengertakkan giginya.

"Pergiii!" teriak Sakura.

"Kumohon kembalilah Sakuraa"

"Pergilaaah!"

"Saku-!"

"Kami akan menanganinya. Tolong antar Uchiha-san kembali ke kamarnya" perintah seorang dokter pada perawat sambal mendekat dan sibuk mendiagnosa Sakura yang histeris.

Sasuke menepis tangan yang terulur padanya dan pergi dengan hati yang sangat terluka. Usahanya gagal hari ini. Setelah membanting pintu kamarnya, Sasuke terduduk di lantai bersandar pada pintu di belakangnya. Dia memukul lantai granit dengan geram.

.

.

.

Esok harinya.

"Hai. Aku Sasuke"

Sasuke masuk lagi dengan keras kepala ke kamar Sakura hari ini. Kantong mata pangeran raven itu sedikit menghitam. Dia tertekan. Dia sangat merindukan Sakura.

"Hai, aku Sakura" jawab Sakura dengan senyum polos seakan tidak terjadi apa-apa kemarin. Dan senyum itu sangat menyakitkan untuk Sasuke.

Sasuke duduk dan menengok sekitar. Dilihatnya album pemberian Sasuke berdiri di sudut cabinet putih. Sakura mengikuti arah mata Sasuke.

"Hm? Kamu tertarik dengan buku itu?" tanya Sakura.

"Iya. Sedikit. Aku penasaran apa kamu sudah membacanya?" tanya Sasuke balik.

Sakura menggeleng. "Orang-orang menulis ini" Sakura menyodorkan buku wajib Sakura yang ada di sebelah bantalnya yang setahu Sasuke itu buku yang berisi hal-hal dasar tentang identitas Sakura, serta hal-hal yang bisa dilakukan atau tidak boleh dilakukan oleh Sakura.

Tulisan terakhir di buku itu berbunyi, jika sedang dalam keadaan tertekan, kurang sehat, atau ragu, Sakura dilarang membuka buku putih itu.

"Padahal aku penasaran dengan isi buku itu. Saat seseorang melarang kita, akan semakin penasaran, bukan?" Sakura tersenyum tipis.

Sasuke tidak mengerti. Bagaimana bisa tingkat kecerdasan Sakura yang tidak berkurang sedikitpun bisa melupakan hal terpenting milik mereka. Cinta mereka.

"Kenapa tidak kamu baca saja buku itu? Sekarang?" kata Sasuke.

"Aku sedang sedikit lelah. Lagipula mereka menulis hal ini tentu ada tujuannya, bukan? Aku tidak ingin merepotkan siapa-siapa"

Sasuke menarik nafas panjang. Sakura, bagaimana bisa kamu melupakanku? Bagaimana bisa.

Sasuke dan Sakura membahas hal-hal ringan sampai Sakura menguap karena kantuk.

"Kamu bisa tidur" ucap Sasuke.

"Hmmm… aku mengantuk sekali…"

Dan beberapa menit kemudian Sakura tertidur. Sasuke tidak ingin meninggalkan ruangan itu. Dia masih sangat merindukan Sakura walaupun sosok Sakura berada hanya 80 cm di depannya.

1 jam…

Seorang suster datang mengecek temperatur kamar dan berbasa-basi sedikit dengan Sasuke kenapa Sasuke tidak kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Sasuke menggeleng pelan lalu suster itupun pergi.

2 jam…

Sasuke sedikit lelah. Dan pening di kepalanya sangat menyiksa. Dia menyetuh alisnya lalu Sakura bergerak pelan dalam tidurnya dan mulut kecilnya yang pink sedikit terbuka.

Sasuke mendekat perlahan. Menyibakkan poni Sakura, mengelus pipi hangat itu, lalu…

Dengan sangat perlahan.

Bahkan suara nafas pun tak terdengar…

Sasuke mencium bibir lembut itu.

….

Masih sama hangatnya… hanya saja… kali ini dada Sasuke merasa himpitan semu yang membuatnya mengernyitkan alisnya pahit.

Sasuke memandang mata yang tertutup di depannya lalu mencium pipi dan kening Sakura.

"mmmmm…." Sakura mengerang perlahan. Sasuke segera bangkit dan duduk di kursinya.

DUK

Jari Sakura menyentuh buku wajibnya dan terbangun.

Dengan rasa pening luar biasa.

Kamar tempatnya berada sangat bersih dan putih. Bernuansa peach kombinasi hijau muda. Aroma mawar menyerbak di seluruh ruangan dan menimbulkan perasaan menenangkan.

Sakura dengan emeraldnya yang cantik menangkap wajah seorang laki-laki tampan berambut dan bermata gelap dengan perban mengelilingi dahinya.

Sakura buru-buru membuka buku di sebelahnya, "Hai. Aku Sakura" katanya tergagap lalu tersenyum pada Sasuke.

Sasuke mengatupkan bibirnya tidak mampu berkata-kata.

"Siapa kamu?"

"Hai, aku Sasuke"

Sasuke menengadah ke wajah Sakura dan memaksakan senyumnya. Sakura tersenyum dan memulai sebuah topik ringan yang sangat tidak relevan dengan keadaan sebelum-sebelumnya. Dan Sasuke hanya bisa mengikuti irama si hilang Sakura.

.

.

.

1 minggu kemudian.

Tidak ada gunanya menyuruh si keras kepala Sasuke untuk diam. Sasuke dengan penuh ketangguhan memaksa Fugaku, Mikoto, Asuma, dan pihak RS untuk menjadikannya dan Sakura berada dalam satu kamar yang sama. Dan kini mereka berada dalam satu villa yang sama. Dalam kamar dan nuansa yang sama dengan kamar sebelumnya.

Mikoto sering menemani mereka bersama staf RS yang selalu siaga dengan alarm Sakura.

Dan sudah tidak terhitung berapa kali dua insan itu saling memperkenalkan diri tiap saat Sakura membuka mata dari tidurnya.

Di satu hari, onyx Sasuke yang sedang mengamati Sakura sedikit bersinar saat Sakura yang sedang sangat sehat membuka halaman ke sepuluh buku putihnya. Halaman dengan foto Sakura mengenakan apron saat sedang berada di luar studio kampusnya.

Di satu hari Sakura hanya membuka halaman kedua lalu menutupnya lagi.

Di satu hari, Sakura hanya mengintip buku putih itu lalu membatalkan niatnya.

Di satu hari Sakura membaca seluruh album itu sampai halaman terakhir yang berisi fotonya memakai dress putih membelakangi Sasuke berdiri di balkon apartemen berlatar belakang langit sephia. Tanpa hasil. Tanpa reaksi. Hanya pijatan di pangkal hidungnya mengurangi pening kepala, lalu sepi dan kosong lagi.

Hingga di suatu sore, hujan deras. Villa sangat sepi. Hanya ada Sasuke dan Sakura. Staf RS yang berjaga di pavilion sebelah yang terdiri dari satu dokter dan sepasang perawat sepertinya tengah lelah dan tertidur.

Sasuke juga tertidur.

Sakura melangkah ke sudut cabinet dengan kaki telanjangnya. Dia membetukan dress putihnya yang sedikit kusut lalu duduk lagi di kasurnya sambal melirik pria berambut raven yang tengah tertidur pulas di kasur sebelahnya yang jika Sakura tidak salah dia mengenalkan dirinya bernama Sasuke.

Sakura membuka halaman pertama.

Benar. Namanya Sasuke.

Dan aku Sakura.

Halaman kedua…

Halaman ketiga…

Halaman ke dua puluh lima dan air mata mulai mengenangi pipi Sakura.

Seberapa dalam ikatanmu denganku Sasuke? Bagaimana bisa aku melupakan semua ini? Melupakanmu?

Sakura menutup bibirnya dan menangis dalam hening. Dia tidak ingin Sasuke terbangun.

Sakura meremas rambut sampingnya betapa dia ingin ingatannya kembali.

Sakura menutup lagi buku itu. Dia tidak sanggup melanjutkan.

Lalu diapun menutup matanya menuju dunia dimana dia tidak khawatir karena telah amnesia. Dunia mimpi.

.

.

.

Terang sekali.

Apa ini? Pemakaman? Kenapa aku ada disini?

Aku berjalan di jalan setapak di antara gundukan-gundukan berhias rumput hijau yang sangat bersih dan segar. Aku menghampiri sebuah air mancur di tengah plaza dan menyapa bayanganku.

Aku membasuh wajahku dengan air dari fountain itu lalu berbalik dan mendapati ada dua duplikat yang persis sepertiku. Berdiri tepat di depanku dengan masing-masing ekspresi mereka.

Kiri. Wajahnya terlihat penasaran

Kanan. Memandangiku dengan wajah serius.

"Apa?" tanyaku.

"Semoga ini menjadi pertanda baik" ucap si Kiri.

"Semoga" lanjut si Kanan.

Lalu sebuah angin berhembus kencang dan meleburkan dua duplikatku itu menjadi kelopak-kelopak sakura.

Aku membalik badanku dan menutup mata.

.

.

.

Sakura terbangun tiba-tiba.

Kamar itu gelap. Tapi dengan pasti dia melihat Sasuke di seberang sana. Mengamatinya dengan tatapan tajam di sudut sofa.

Sakura tidak ingat kenapa Sasuke bisa terluka dan memiliki perban di dahinya.

Tapi.

Sakura.

Ingat semuanya. Dirinya, Yamato-san, Sasuke, Café, Naruto, Shion, Karin, Studio, Sasori, Kampus, Mikoto, Jiraiya, semuanya. Bahkan Sakura mengingat Ibiki yang masuk ke dalam kantornya dan mengarahkan moncong pistol ke arah Kurenai di belakangnya dan Sakura berlari melindungi Kurenai dan semuanya menghitam dan Sakura merasa tertidur begitu lama.

Oh tidak. Sakura ingat. Dia pernah kembali dari amnesia. Di tempat ini juga. Di depan Sasuke juga. Beberapa hari yang lalu.

Sasuke bangkit dengan cepat dari sofanya dan memegang erat tangan Sakura.

Sasuke mencium ganas Sakura dan Sakura membalas lidah Sasuke yang menjelajahi rongga mulutnya. Sakura menangis. Lalu mundur.

"Kenapa? Kenapa aku sebodoh ini? Maafkan aku, Sasuke. Maafkan aku yang begitu egois!" Sakura menangis di pelukan Sasuke. Suara hujan di kegelapan malam menjadi background irama mereka.

Sasuke menengadahkan wajah Sakura pada dirinya lalu setelah meraih dagu Sakura Sasuke melumat habis bibir pink itu lagi. Sakura kesulitan mengambil nafas lalu mundur lagi.

"Berapa lama yang terakhir kali aku sadar?"

Sasuke mengusap air mata Sakura dan menjawab, "Yang terakhir kamu kembali selama 10 menit dan itu yang terlama. Sebelumnya hanya 3 menit lalu menghilang lagi"

Sakura terbelalak dan menangis lebih keras lalu memeluk leher Sasuke erat-erat. Betapa dia sangat merindukan aroma maskulin Sasuke.

"Maafkan akuuu… maafkan aku… untuk segalanya" rintih Sakura.

Sasuke menarik Sakura agar menatap matanya. "Seumur hidupku aku tidak akan menyerah untuk membuatmu kembali. Bahkan aku akan membuatmu jatuh cinta padaku setiap hari. Setiap kali kamu membuka mata"

Sakura meraih dagu Sasuke dan mencium, menggebu-gebu. Dengan kedua bibir yang masih berkutat, Sasuke naik ke ranjang Sakura melepas kemejanya. Pun Sakura, jemari lentiknya juga sibuk membuka kancing depan dressnya.

Sasuke yang telanjang dada menggigit penuh nafsu pundak bening yang baru saja terekspos di depannya.

Sasuke tenggelam di belahan leher Sakura yang kini terbaring sempurna dan Sakura melenguh pasti, meremas dan memeluk punggung yang selama ini menampung rindu sebesar samudera.

.

.

.

TBC

.

.

.

Eyyy… ey!

Haloooo. Hahaha. Haduh haduh. Gimana ya? Ya ga gimana-gimana #bego

Selaluuuuu merasa sangat berterima kasih sama reader sekalian yang mauuuu meluangkan waktu mampir, review, menunggu, nagih-juga, wkwk, sama ff ini.

#ojigi

Mother harap minna-san benar-benar enjoy sama cerita ini dan please tetap ikuti sampai akhir yaa… chapter ini sedikit lebih panjang. Gapapa kan? Ehehe #geje #lambai_tangan

Untuk SasuSaku, aku sudah greget pingin nulis lemon chapter besok huahaha #pervert gapapa kan? Mereka udah lama loh ga enaena #mwahahaha

BTW ada yang suka BTS dan EXO ga? Karena… sayasuka sayasuka!

Ada sedikit quiz. Tadi di sepanjang cerita ada kalimat yang berhubungan dengan BTS. Kalau Army pasti tahu. #optimis heheh. Selamat mencari. Gomenasai ada sampahya Korea bernama CHANYOU disini. Huhuhu.

Yass. Review please?

Mother CHANYOU