… Tidak ada satu apapun yang lebih indah dan jahat selain sorot tajam matamu …
NARUTO, always belong to Masashi Kishimoto
-Author alay mulai berimajinasi liar lagi. Kukuku-
WARN
Bad Sasuke, Lemon, Absolutely Rate M, AU, Typo, No Flame, Don't Like Don't Read
.
.
.
Sakura meremas tengkuk Sasuke keras-keras saat kejantanan Sasuke menerobos kewanitaannya.
Sakit.
Tapi amat sangat
Menyenangkan.
Sakura merindukan rasa itu. Rasa dimana dia dapat memiliki Sasuke seutuhnya.
Sasuke aktif memaju-mundurkan tubuhnya sambil menenggelamkan hidung mancungnya pada belahan leher Sakura yang memerah dan penuh hickey.
Sakura menahan suaranya yang sangat erotis dengan mencium pundak basah Sasuke di depan wajahnya.
Sasuke berhenti. Sakura memerah. Dengan juniornya yang masih ada di dalam Sakura, Sasuke mengangkat wajah tampannya dan membelai pipi halus Sakura.
"Kau tahu aku sangat mencintaimu, bukan?" tanya Sasuke
Sakura tersenyum manis dan merengkuh wajah Sasuke untuk menciumnya. Sasuke menghisap bibir mungil itu sekejap lalu mengangkat wajahnya lagi.
"Sakura, aku cinta padamu"
"Aku juga menc-"
CUPPP
Sasuke mencium bibir Sakura tanpa aba-aba dan melanjutkan kegiatannya di bawah sana dengan menggebu-gebu.
Sasuke bangkit lagi dan memutar tubuh Sakura menungginginya. Sasuke memasukkan lagi juniornya dan ikut menunduk di atas punggung Sakura.
Dengan perlahan sekali, kedua tangan Sasuke meraih helai-helai rambut Sakura yang berjatuhan di kedua sisi wajahnya. Lalu dalam sedetik dia menarik kasar rambut pink Sakura ke atas kepalanya.
"Sakit, Sakura?" tanya Sasuke waspada.
Sakura menggeleng, "Aku merindukan kekasaranmu"
"Lanjutkan, aku mohon" jawab Sakura tulus.
Sasuke menepuk pantat Sakura keras lalu melanjutkan aktifitasnya.
"Uhhhh…" rintih Sakura.
"Aku tidak akan berhenti" kata Sasuke.
Sakura menoleh ke belakang dan tersenyum.
Sasuke memeluk Sakura dari belakang dan telunjuknya meraih nipple kanan Sakura dan menekannya kuat.
"Akh!"
Lagi. Sasuke menarik nipple pink itu sekuat mungkin dan memutarnya. Menekannya. Memutarnya. Menggeseknya.
Sasuke melepas juniornya dan duduk lalu menghadapkan Sakura pada tubuhnya.
Sakura sangat panas.
Wajahnya memerah padam. Keringat membasahi seluruh permukaan tubuh langsingnya.
Sasuke memandangi nipple kanan Sakura yang memerah dan tegang di saat nipple kiri masih pink merona.
"Suka?" tanya Sasuke sambil memutar nipple kanan Sakura dari depan.
Sakura menjawab dengan sebuah wink dan desahan manis. Sakura meraih dagu Sasuke perlahan dan mendekatkan kepala raven itu pada nipple kirinya.
Sasuke menyeringai. Dia menaikkan Sakura ke pahanya dan memasukkan juniornya. Sasuke menuntun Sakura untuk menggerakkan pinggulnya naik-turun cepat. Bibir Sasuke menggesek nipple kiri Sakura saat tangan kiri Sasuke bermain dengan nipple kanan.
Sakura mendesah hebat. Sensasi di bawah sana luar biasa kasar, jahat, dominan.
Sasuke akhirnya meraup dada kiri Sakura dan menjilati ganas nipple kiri itu. Benang-benang Saliva berkilat membentuk pola abstrak berdiameter 6 cm dengan titik centernya tepat berada di nipple kiri yang ikut tegang.
"Keluarkan padaku, Sakura"
Sakura tak kuasa menjawab. Dia hanya bisa naik-turun berkecepatan tinggi dan setelah 5 menit kemudian orgasmenya keluar.
"AAAhhhhhhhhhmmmmm…. Mmmmmhhhhhhh" Sakura ambruk di dada bidang Sasuke.
Sasuke yang belum puas lalu menidurkan Sakura dan menusukkan lagi junior kerasnya pada kewanitaan Sakura yang sangat basah.
"Ah! Ahhhh! Akh!"
Suara Sakura tidak bisa berhenti sepanjang permainan Sasuke yang konstan selama 25 menit.
Dan cairan putih itupun memenuhi rongga Sakura.
"Hhhhh… hhhh. Sudah cukup, Sakura?"
Sakura menggeleng.
Sasuke tersenyum. "Itu baru wanitaku"
Sasuke menunggingkan Sakura lagi dan ritual mereka berlanjut berjam-jam kemudian.
.
.
.
Sakura memandang wajah damai Sasuke yang tertidur lelah setelah peperangan mereka di ranjang. Sasuke berhasil memberi Sakura cairannya sebanyak 8 kali tanpa beristirahat sekalipun.
Luar biasa.
Pipi Sakura merona.
Betapa dia sangat mencintai Sasuke.
Dan pipi itu memerah.
Padam.
Dialiri air mata.
Sakura menutup bibirnya agar tangisannya tidak terdengar oleh Sasuke.
Sakura menutup penuh tubuh Sasuke dengan selimut lalu dia berjalan telanjang menuju kamar mandi.
Dengan cepat dia masuk ke dalam shower membersihkan tubuhnya. Air hangat mengaliri rambutnya, wajahnya, lehernya, pundaknya, nipplenya.
Sakura memegang kedua dadanya dan jarinya menjalari nipple yang dicium Sasuke itu. Sakit. Merah. Perih sekali. Sasuke tidak main-main dengan lidahnya. Sakura menikmati setiap sensasi sentuhan lidah Sasuke pada nipplenya dan menengadah ke atas. Menangkap air shower yang menjatuhinya.
Sakura lalu menunduk dan membasuh kewanitaannya yang lengket oleh air Sasuke. Ada setitik air itu yang menempel di ujung jari manis kanan Sakura. Sakura memandanginya dan mencium mesra jari itu.
Sakura bukan jatuh cinta lagi. Lebih dari itu Sakura menggilai Sasuke. Baginya, kebahagiaan Sasuke adalah yang terpenting.
Sakura menangis lagi.
Dan berdiri sakit di dalam shower.
.
.
.
Sakura berpakaian rapi dan cantik memakai sweater merah maroon dan mini skirt putih pola bunga. Di depan perapian sambil memutar Debussy yang menenangkan, Sakura mebalikkan halaman demi halaman buku putih Sasuke.
Lagi-lagi air mata Sakura menetes melihat perjuangan keras Sasuke untuk membawa ingatannya kembali. Sakura sampai pada halaman terakhir dan dengan cepat membalikkan halaman kembali pada halaman pertama yang berisi foto Sasuke dan foto dirinya.
Didekatkannya bibir Sakura pada foto Sasuke dan mengecup kecil foto itu. Mata Sakura yang masih basah berlinang air mata memandang ruangan hangat bernuansa klasik berbata merah dan berfurniture kayu oak.
Tuhan, jangan buat aku tertidur
Mata Sakura menangkap buku wajibnya. Perasaannya campur aduk melihat buku wajib yang dibawanya keluar kamar diam-diam agar Sasuke tidak terbangun.
Tuhan, aku Lelah
Tolong buat Sasuke bahagia
Tolong jangan buat Sasuke kehilangan cahayanya yang berharga.
.
.
.
FLASHBACK beberapa hari yang lalu.
Sakura terbangun. Teringat semua kenangannya. Tapi kamar sangat sepi saat itu.
Sakura merindukan Sasuke. Dimana Sasuke? Sakura harus segera menemui Sasuke selagi ingatannya datang.
Sakura membuka handle pintu sedikit tepat saat terdengar suara beberapa orang sedang berdiskusi di depan perapian.
"Kami mohon Dokter, tidak adakah cara lain?" tanya Fugaku.
"Anda adalah dokter terhebat di Jepang. Tolong bantu kami" sambung Mikoto.
"Tapi Tuan, Nyonya, kalau tidak dilakukan, dia akan berkembang menjadi tumor yang sangat buruk pada saraf otak beliau"
Sakura ingin melihat wajah Sasuke yang membelakanginya namun yang terlihat hanya siluet rambut ravennya yang dibias cahaya jingga dari perapian.
"Kalau ini masalah finansial, percayalah, itu bukan suatu masalah" lanjut Kurenai.
"Sebutkan harga anda, Dokter" kata Asuma.
Dokter itu menggeleng.
"Kita harus mencari alternatif lain, Dokter" ucap Naruto yang diiyakan oleh Shion.
. . .
"Sudahlah kalian. Ini kan bukan akhir dari segalanya" jawab Sasuke akhirnya.
Apa? Apa yang mereka bicarakan?! Batin Sakura
Suasana hening untuk waktu yang cukup lama. Tidak ada yang membuka percakapan lagi. Suara yang terdengar hanya detik jam kuno dan kertakan kayu bakar. Dan setelah lima menit lamanya, Sasuke membuka suara.
"Dokter, catat ini, aku bersedia kehilangan mataku"
Sakura jatuh terduduk lemas dan kembali ke kasurnya dengan hati yang hancur. Jadi ini sebabnya mengapa Sasuke sering memegangi alisnya dan mengernyit kesakitan. Matanya sedang mati secara perlahan.
Sasuke akan kehilangan matanya?!
Cahayanya?!
Sakura pingsan di atas tempat tidur dan melupakan hal itu esok harinya.
FLASHBACK end.
.
.
.
Sakura menaikkan lututnya dan memangku buku putih besar Sasuke. Dengan Lelah, Sakura menempelkan pipinya pada halaman berisi foto Sasuke. Lelah sekali. Sakura tidak mau tidur. Sakura tidak ingin terbangun dan melupakan hari ini. Hari dimana mereka bersatu dalam rengkuhan cinta.
Sakura tidak mau tidur.
Dan Sakura tertidur.
Menangis.
.
.
.
Sasuke selesai berbenah diri dengan cepat agar bisa segera menemui Sakura yang entah ada di ruangan mana. Setelah merapikan kasur Sakura, Sasuke melangkah keluar dari kamar dan mendapati Sakura tertidur pulas dengan tubuh mungilnya yang tengah meringkuk terduduk di sofa besar kulit.
Sasuke duduk menghampiri Sakura perlahan. Menikmati pemandangan cantik perempuan di hadapannya.
Sasuke tersenyum simpul dan betapa hatinya dipenuhi cinta untuk Sakura.
Dia harus mengenang wajah Sakura sejelas mungkin agar dia bisa mengingat raut mempesona ini di sisa umurnya kelak.
Sakura harus bahagia. Dia harus berjanji untuk berbahagia dan memiliki keluarga yang diimpikannya.
Sakura harus bangga dengan kehidupannya kelak. Dan Sasuke berniat menghilang dari kehidupan Sakura setelah matanya diambil nanti.
Sasuke menitikkan satu butir air mata. Dia membelai pelan pipi Sakura.
"Mmm"
Sakura terbangun.
Onyx indah beradu pandang dengan mata emerald di depannya.
Sasuke cepat menoleh ke kiri menyembunyikan air matanya.
Sakura bangun perlahan.
"Siapa kamu?" tanya suara bening dari sang pemilik rambut merah jambu.
Sasuke mengusap pipinya yang basah. Setelah menggigit keras bibir bawahnya yang bergetar, Sasuke menghadap ke wajah Sakura lagi dan menyerahkan buku wajib Sakura.
"Halo, aku Sasuke"
Jawab Sasuke sambil tersenyum.
Sakura memandang wajah asing di depannya dan tersenyum meraih buku wajibnya.
Mereka berpandangan dan dibias jingga perapian.
Yang satu murni. Bersih. Tanpa emosi apapun.
Yang satu meraung pahit jauh di lubuk hatinya yang terdalam.
.
.
.
"Sasuke brengsek! Aku bilang aku akan berusaha mencari donor terbaik dan yang paling cocok untukmu!" teriakan Naruto menggema di sebuah ruangan yang cukup luas di pavilion itu.
Yang diajak bicara malah asyik mengambil gambar taman dari balik jendela. Dengan santainya Sasuke membalikkan badannya dan menunjukkan kameranya pada Naruto sambil bertanya, "Bagaimana menurutmu? Bagus kan?"
Naruto mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu meraih SLR mahal Sasuke dan membantingnya ke lantai granit gelap itu.
Sasuke tidak marah, murka. Dia hanya memandang mata Naruto dan Shion sekilas lalu duduk menyilangkan tangannya pada tengkuk sambil memejamkan mata.
"Kalian tidak perlu cemas dan repot-repot cari mata pengganti buatku. Kalian sudah mendengar perkataan Dokter sendiri bahwa gen untuk mataku sangat langka bukan?"
"Langka bukan berarti tidak ada, kan?" sahut Shion.
Sasuke hanya menaikkan bahunya malas lalu membuka matanya memandangi empat sisi ruangan persegi panjang yang penuh dengan foto menempel pada dindingnya. Penuh sekali. Sasuke mengisi ruangan itu dengan banyak foto yang mayoritas adalah foto Sakura dan pemandangan alam sejak mereka tinggal di pavilion itu.
"Sasuke!" sambung Naruto.
Sasuke memiringkan tubuhnya membelakangi Naruto dan Shion dan melambaikan punggung tangannya menyuruh mereka berdua keluar dari kamar itu.
Naruto jengkel dan akhirnya keluar dari kamar dengan langkah kaki lebar-lebar karena marah. Shion memandang sedih raven Sasuke yang mencuat dari balik kursi putarnya dan ikut keluar dari kamar.
Sasuke membuka matanya dan memijat pangkal hidungnya menahan air mata sambil tersenyum pahit.
Dia tahu ini yang terbaik.
Sasuke tahu dia tidak mempunyai pilihan.
.
.
.
Sakura terbangun. Berjalan di sepanjang lorong pavilion dan mendengar suara ribut-ribut seorang lelaki di dalam suatu ruangan. Sakura mengintip dari balik tirai tebal berwarna merah maroon.
Kenapa mereka bertengkar?
BRAKK
Sakura terkejut. Laki-laki berambut pirang itu membanting kamera dan lawan bicaranya pergi duduk di sebuah kursi putar hitam yang terlihat mahal.
Sesaat setelah beberapa interval akhirnya laki-laki pirang itu keluar ruangan dengan ekspresi murka disusul kemudian gadis berambut pirang panjang ikut keluar dengan muram.
Sakura yang penasaran berjalan sangat pelan menuju pintu ruangan itu. Pelan sekali. Pelan.
Dan tiba-tiba dia melihat wajah Sasuke dari samping sedang memijat pangkal hidungnya sambil tersenyum pahit.
Dan setetes air mata dari pemilik mata onyx itu membuyarkan seluruh amnesia Sakura.
Sakura dengan cepat dan sigap segera membalikkan badan dan menyandarkan punggungnya pada dinding sebelah sambil menutup mulutnya agar tangisannya tidak terdengar. Air mata deras membasahi wajah Sakura. Sakura mengingat semuanya. Termasuk mata Sasuke.
Sakura mengintip sekali lagi ruangan Sasuke dan mendapati pemandangan memilukan Sasuke yang berdiri menatap dinding penuh foto Sakura sambil menangis diam-diam. Satu tangan Sasuke bersandar pada dinding dan satu tangan lainnya memegangi kedua kelopak matanya.
Sakura tidak tahan lagi.
Sakura berlari keluar pavilion dari pintu belakang dan berlari kencang menerjang badai yang tengah mengamuk di luar pavilion membasahi padang rumput luas yang berbatasan dengan hutan cemara dan danau biru di seberang.
Sakura berlari kencang. Tanpa alas kaki. Hanya mengenakan dress putih sleeveless selutut.
.
.
.
Mata sapphire Naruto menatap tajam badai di luar sana sambil mencengkeram erat pagar pembatas balkon lantai dua. Naruto memeras otak memikirkan bagaimana caranya agar dia mendapatkan donor sesuai gen Sasuke. Seluruh keluarga Sasuke sudah diperiksa Dokter dan anehnya tidak ada satupun yang cocok dengan mata Sasuke.
Naruto sedang akan masuk rumah tepat saat dia mendengar kecipak air di atas rumput yang diinjak cepat oleh seseorang. Dia menoleh dan mendapati gadis berambut merah muda lari menerjang hujan di luar sana.
"Apa-apaan Sakura!" Naruto mengeraskan rahangnya dan berlari menyusul Sakura.
.
.
.
Sakura tidak peduli.
Dingin
Gelap
Petir menyambar dimana-mana
Dingin
Sakit
Sakura tidak merasakan sakit pada kakinya yang lecet akibat menerjang bebatuan, kerikil, lumpur dan sebagainya. Sakura kesakitan pada sisi yang lainnya.
Hatinya.
Sakura tidak mampu melihat pemandangan yang barusan dilihatnya.
Pemandangan Sasuke menangis.
Sangat menyakitkan.
Sakura terus berlari. Dia menengok ke kanan dan kiri, ke depan dan ke belakang dan bangunan pavilion itu sudah tidak terlihat dari balik bukit-bukit rumput. Sakura terus mantap berlari dalam hujan dan akhirnya kakinya terpaksa harus berlutut di akhir pelariannya. Tepat di tepi danau.
Sakura menutup wajahnya dan meraung keras-keras.
Tuhan mengapa semua ini terjadi pada Sasuke! Berikan saja semua padaku. Rasa sakitnya, kegelapannya, sepinya, serahkan duka Sasuke padaku!
Sakura lunglai dan kedua tangannya menahan beban tubuhnya. Telapak tangan dan lututnya masuk ke dalam tepian air danau. Rambut panjangnya yang indah basah terkulai di pundaknya.
Sakura kehabisan tenaga dan hanya terduduk lemas selama beberapa menit sampai akhirnya dia jatuh terkulai di tanah. Wajahnya menatap langit yang masih ikut menangis.
"Sa… Suke… "
"SAKURA!"
Naruto menyongsong tubuh Sakura dan membelai pipi Sakura dengan cemas. "Sakura! Sakura! Kau baik-baik saja?!"
Emerald Sakura bergerak perlahan menatap sapphire Naruto yang terlihat ketakutan.
Tangan Sakura bergerak naik ke atas berusaha memegang pundak Naruto dan Naruto menggenggam erat tangan Sakura.
"Apa yang kau lakukan?! Sudah jangan berkata apa-apa lagi! Kita kembali dulu ke pavilion!"
GREB
Dengan tenaga yang dikumpulkannya, Sakura menarik kasar tangannya dari genggaman Naruto lalu tangan itu meremas kaos putih Naruto yang basah kuyup.
"Ak- aku mohon!" Sakura meminta dengan linangan air mata yang tidak bisa berhenti.
Naruto memilih untuk mengalah dan membiarkan Sakura berbicara.
Sakura masih bersandar pada lengan Naruto dan berkata, "Keberadaanku sudah tidak berguna lagi. Sama sekali tidak berguna. Hidupku sudah usai saat moncong pistol itu mengarah ke Kurenai-san dan aku menyongsong peluru itu. Kau paham maksudku Naruto?"
Naruto berusaha mencerna perkataan Sakura dan alisnya mengernyit tajam.
"Aku ingat dan amnesia lagi lalu ingat lagi dan amnesia lagi lalu terus begitu dan menyusahkan semua orang. Hidupku sudah selesai. Kalau kau, Naruto, menyayangi sahabatmu Sasuke dengan segenap hatimu, tolong bantu aku" sambung Sakura.
Naruto menggenggam erat lagi tangan Sakura yang dingin membeku oleh air hujan. Dia menggeleng dan menjawab, "Kau tahu aku tidak suka hal itu. Sasuke juga tidak akan pernah menyetujuinya!"
Sakura memejamkan matanya pahit. "Aku tidak memerlukan persetujuan Sasuke"
Mata Naruto mulai memerah dan menitikkan air mata pertamanya.
Sakura membuka matanya dan tersenyum.
"Berikan mataku padanya"
.
.
.
Naruto memeluk Sakura erat dalam badai. Sakura tersenyum dan membalas pelukan itu.
"Kau tahu gen Sasuke susah kan?!" raung Naruto.
"Aku yakin pasti bisa. Percayalah padaku. Bantu aku menghadap Dokter dan segala prosedurnya dan berjanjilah! Berjanjilah padaku bahwa Sasuke tidak akan mengetahuinya"
"Sakuraaaa" Naruto merintih pedih dalam belahan leher Sakura.
Sakura menepuk punggung gagah Naruto dan ikut menangis.
"Aku bahagia melakukan ini Naruto. Sasuke adalah hidupku dan hidupku tidak berarti tanpa kebahagiaannya"
Dua insan itu menangis bersamaan untuk beberapa saat dan badai seketika berhenti sepenuhnya menyisakan mega senja yang sendu dan indah.
.
.
.
Malam harinya Sasuke menemani Sakura di kamarnya seperti biasa. Naruto mengambil kesempatan itu untuk berbicara pada Shion.
"Shion, aku perlu bicara serius denganmu"
Shion yang tidak mengerti apa-apa menuruti perkataan Naruto dan menyimak seluruh cerita sore itu dengan mata memerah menahan marah dan tangis.
"Kau gila!"
"Sssshh. Jangan sampai pembicaraan ini terdengar Sasuke!" Naruto menutup bibir Shion dengan telapak tangannya.
"Mmmh! Lepas! Aku tidak setuju! Kau membunuh Sakura, Naruto!"
Naruto memandang mata Shion dalam-dalam lalu ekspresinya melemah dan menangis pelan. Dia memeluk tubuh wanita berambut pirang panjang itu.
"Sakura akan tetap melakukannya dengan atau tanpa bantuan kita" Naruto menarik tubuhnya dan meyakinkan Shion sekali lagi.
Shion menatap sapphire itu untuk sekian detik dan akhirnya membuang muka. "Dasar Sakura" dan Shion pun ikut menitikkan air matanya.
.
.
.
Keesokan harinya Shion dan Sakura pergi ke laboratorium dan Naruto mengalihkan perhatian Sasuke dengan mengajaknya pergi ke Tokyo. Shion beralasan bahwa Sakura sedang check-up dan berhubungan dengan girl stuff.
"Anda yakin dengan keputusan anda, Sakura-san?" tanya Dokter.
"Saya lebih dari yakin. Ini kewajiban saya, Dokter. Saya mohon proses ini dipercepat. Saya tidak tahu sampai kapan ingatan saya sementara ini bertahan"
Dokter mengangguk dan melanjutkan prosedur analisisnya bersama stafnya. Sakura pun memasuki ruangan Dokter sedangkan Shion menunggu di lorong Lab dalam gundah yang luar biasa.
.
Sakura keluar dari Lab bersama para Dokter. Setelah menyampaikan salam dan rasa terima kasih, tinggallah sepasang wanita dalam hening. Shion memegang pergelangan tangan Sakura dan segera menanyakan bagaimana hasil analisisnya.
"100% cocok" Sakura menjawab dengan senyum lega dan bahagia.
Shion tidak tahu harus berbahagia atau bersedih. Dia hanya bisa memeluk Sakura dan menangis pada pundak Sakura. Sakura tersenyum dan balas memeluk punggung Shion.
.
.
.
Sesampainya di pavilion, Sasuke segera menghampiri mereka berdua di pintu utama. Naruto mengekor di belakang Sasuke tidak lama kemudian.
Sasuke menyambut Sakura dengan girang. Di belakangnya ada Naruto yang melakukan kontak mata diam-diam dengan Shion dan mereka saling mengangguk perlahan.
"Kamu sedang tidak hilang, kan?" tanya Sasuke.
Sakura menggeleng manis dan menggenggam tangan Sasuke.
"Dengar, Sakura. Aku punya kabar bagus" kata Sasuke antusias.
"Naruto sudah mendapatkan donor yang gen-nya 100% cocok untukku!" lanjutnya tanpa mengetahui bahwa pendonornya adalah kekasih yang berada di depan dirinya sekarang.
"Syukurlah! Aku berbahagia untukmu, Sasuke-kun" Sakura memeluk erat Sasuke dan Sasuke mengangkat tubuh Sakura dan memutar tubuh mereka bahagia. Naruto dan Shion memandang sedih pasangan di depannya.
"Aku tidak tahu siapa pendonornya tapi yang jelas dia bersedia mendonorkan matanya secara sukarela. Kata Naruto dia sedang menderita penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan dan ingin bagian tubuhnya bisa berguna bagi orang lain" Sasuke menjelaskan dengan semangat.
"Syukurlaaah. Aku benar-benar berbahagia untukmu Sasuke-kun" Sakura mencium bibir Sasuke dan mereka pun berciuman mesra. Shion masuk ke dalam pavilion menggandeng tangan Naruto dan mereka berjalan dalam rasa sakit hati yang luar biasa.
.
.
.
Hari operasi pun tiba. Sasuke menyampaikan rasa sayangnya pada Sakura sebelum berangkat menuju rumah sakit. Saat ini mata Sasuke sudah tidak bisa berfungsi normal 100%. Karenanya sekarang dia mengenakan eyepatch hitam dan tidak bisa melihat apa-apa.
"Sakura, aku tahu kamu sedang hilang saat ini. Tunggulah aku satu bulan lagi, kata Dokter supaya kondisi mata baruku nanti berfungsi sepenuhnya. Sepulangku nanti, aku akan memintamu mengarungi sisa hidup kita bersama. Kita habiskan waktu kita hanya aku dan kamu. Dan kali ini akan kujaga kamu selamanya, aku tidak mau kehilanganmu lagi" Sasuke memeluk Sakura yang hari ini berpura-pura kambuh amnesianya. Setelah mencium sekilas bibir Sakura, Sasuke-pun pergi.
Sakura sudah meminta secara khusus pada Asuma dan Kurenai agar menyembunyikan dirinya pasca operasi nanti dan menghilang sepenuhnya dari kehidupan Sasuke.
.
.
.
TOKYO
Ruang operasi terbuka. Sasuke tidak menyadari bahwa ada sosok di sebelahnya yang akan diambil matanya untuk ditransplantasikan pada dirinya. Sosok itu disembunyikan di balik tirai medis tipis.
Dua sosok itu pun dibius.
Sakura menutup emeraldnya.
Dan Sasuke membuka Onyxnya untuk terakhir kali.
.
.
.
To Be Continue
.
Holaa. Lama sekali yaa. Long time no see n_n
Maaf yaa. Maaf maaf maaf.
Mother sibuk sekali urus pekerjaan, suami, kucing (hehe), dsb. Yang pasti ini belum tamat yaa. Maafin Mother bikin yang menyakitkan begini soalnya… soalnyaa… Mother orangnya suka yang sedih-sedih ehehehe (jahat banget).
BTW ada sedikit NaruSaku moment gapapa yaa? Karena Mother adalah SasuSaku dan NaruSaku shipper (no hate please) tapi yang penting disini Sakura kan bukan selingkuh yaa. Masa pelukan gitu di flame. LOL. Mother adalah Sakura hard centric.
Oya, misal kapan-kapan bikin one-shot tentang Sakura dan member BTS ada yang baca ga yaa? Ehe.
Oke deh ditunggu chapter selanjutnya yaa. Jangan bosen-bosen ngikutin cerita ini walau sampai kapanpun. Yang jelas Mother pasti menamatkan cerita ini kok. Kan sayang kalau ga dilanjut. Huhuhu.
Aku cinta readers semuaaa muach muach
Review please?
Mother CHANYOU
