A/N: Naruto ditikung? Jangan khawatir, ibunya gak akan tinggal diam. Di chapter ini son-complex Yasaka kelihatan banget. Jangankan kena tikung, cuman gara-gara Naruto hilang selama 10 menit aja semua penjaga istana hampir di eksekusi sama Yasaka. Apalagi yang bikin Naruto sakit hati xD

Judul asli dari novel ini adalah Oh No! After I Reincarnated My Moms Became Son-Con. Sialahkan Search dan baca ya ^_^ (y)

Genrenya itu fantasy, action, harem, mature, comedy, romance ... dan meskipun ada unsur kekeluargaan, saya pikir Yasaka dan ******* nganggep Naruto lebih dari sekedar anak doang lho. Jadi ya gitu de gozaru~ ... Inget Summarynya gak? Itu adalah bacaan yang selalu di baca ibu Naruto di kamarnya tiap hari.

Petualangannya gak terlalu menonjol di novel ini. Naruto cuma mengurus masalah tentang negara dan berbagai ancaman lainnya. Ini adalah perjalanan Naruto yang mulanya adalah seorang pangeran yang akan menjadi Raja Pahlawan. Tapi masih inget sama kelainan Naruto? Berserk Magical Power? Jika kekuatannya dilepaskan, setengah ibukota kerajaan bisa hancur seketika. Kalau gak bisa bayanginnya, anggep aja kalo Naruto ngamuk setengah dari luas jakarta hancur.

Untuk Word, cuman bisa segini ... susah kalo mau di banyakin lagi. Sorry ya.

Happy Read ...


Disclaimer: Naruto © Mashashi Kishimoto & High School DxD © Ichie Ishibumi.

Penulis: 川 香 麻辣 鸡肉 锅

Rate: M

Character: Naruto, Valerie, Yasaka, OC.


"Selamat pagi, Yang Mulia. Semoga kemuliaan pohon keramat bersamamu."

Delapan suara Elder bergema kuat di aula besar yang merupakan bayangan pohon raksasa. Aku melihat ke delapan Elder elf, mengangguk dan sedikit membungkuk untuk menghormati mereka.

Aku malu karena ibu dan Valerie begitu teledor. Mereka bertindak seolah-olah itu benar-benar normal untuk berganti pakaian di kamarku dengan aku disana. Aku sangat curiga bahwa mereka tidak melihatku sebagai laki-laki.

Sebenarnya, aku pikir ibu hanya melihatku sebagai putranya, sementara Valerie hanya melihatku sebagai tunangan. Apakah itu sebabnya mereka baik-baik saja dengan telanjang di depanku?

Setelah mereka berpakaian, kami sarapan. Aku tidak percaya bahwa elf hanya memiliki buah pohon aneh untuk sarapan padahal tadi malam ada daging panggang dan roti. Tapi buah ini sangat manis.

Setelah sarapan, aku mengikuti ibu ke sebuah ruangan besar yang digunakan untuk pertemuan di istana. Ruang itu memiliki karakteristik Romawi. Itu adalah ruang silindris dengan langit-langit semi-lingkaran yang tidak tertutup. Ada sebuah pohon besar di tengah ruangan. Batang pohon membentang keluar dari langit-langit, dan dedaunan menutupi sekitar menyerupai kubah yang menerangi ruangan dengan lampu hijau.

Lantainya bukan benar-benar 'lantai'karena itu adalah rerumputan pendek yang cantik. Bunga-bunga liar bermekaran di semua sisi saat kupu-kupu beterbangan di antara mereka. Ada juga bola hijau kecil yang bersinar seperti kunang-kunang. Semua ini terlihat seperti hasil kolaborasi antara pekerja kontruksi istana dan tukang kebun elf.

Kelihatannya bagian eksterior dibangun oleh manusia sedangkan bagian dalam dikerjakan oleh elf.

Ibu berkata kami datang ke ruangan ini untuk menemui delapan Elder elf. Kedelapan orang itu adalah mereka yang menyapaku sebelumnya. Aku tidak tahu seperti apa masa hidup para elf, tetapi berdasarkan standar manusia, mereka terlihat seperti lansia.

Ibu duduk di singgasana dengan sinar matahari terang di belakangnya, ia tersenyum dan berkata, "Tolong jangan terlalu kaku. Aku meminta kalian semua datang hari ini karena memiliki masalah yang aku khawatirkan."

Salah satu Elder menatap ibu dan dengan penuh hormat.

"Apa yang menyebabkan kekhawatiran andayang mulia? Sudah jarang kami melihat anda terganggu sejak naik tahta."

Aku berdiri di satu sisi dan memperhatikan mereka. Valerie mengenakan rok zamrudnya berdiri di satu sisi. Dia jelas bosan dan tidak bisa berhenti bergerak dengan gelisah. Dia seorang penjaga, namun dia sepenuhnya mengabaikan etiket. Apakah dia tidak takut?

"Aku terganggu oleh Earth Dragon. Tidak perlu untuk menyembunyikan fakta, Putraku gagal dalam ekspedisi melawan naga dan hampir mati. Itu mengingatkanku betapa berbahayanya mereka, jadi aku ingin memerintahkan pasukan elf di Utara untuk kembali ke sini karena mereka mengkhususkan diri dalam berburu binatang buas. Apakah ada di antara kalian yang memiliki pendapat?"

Delapan Elder saling memandang dan salah satu di antara mereka buru-buru mengangkat tangannya, "Itu tidak masuk akal. Wilayah Utara adalah titik pertemuan dengan para iblis. Iblis selalu mengganggu perbatasan elf. Kita tidak dapat menarik pasukan sekarang atau ras elf akan menderita kerugian besar. Itu adalah keputusan yang tidak masuk akal. "

Ibu mengusap rambut pirangnya, mendesah dan berkata.

"Lalu aku akan membawa penjaga pribadiku dan secara pribadi menundukkan mereka. Semua penjaga pribadiku adalah prajurit berpengalaman. Mereka tidak akan gemetar saat melihat naga. Bahkan jika aku menghadapi gerombolan Earth Dragon, aku pasti memiliki peluang bagus untuk menang. "

"Anda benar-benar tidak bisa melakukan itu! Anda dan penjaga pribadi Anda adalah fondasi negara. Bagaimana Anda bisa pergi karena beberapa Earth Dragon tidak signifikan. Mohon pertimbangkan kembali, Yang Mulia!"

"Apakah anda memiliki rencana yang bagus?"

Ibu menarik nafas dalam-dalam, menggosok pelipisnya untuk menenangkan diri, dan berkata, "Kalian semua adalah pengikut kepercayaan saudaraku. Setelah menggantikan tahta, aku tidak pernah sewenang-wenang pada kalian sekali pun. Dalam pertempuran itu, kalian semua tampil dengan gagah berani. Jadi kenapa? Kenapa tidak ada dari kalian yang menemani putraku ketika dia berangkat hari itu? "

Delapan Elder saling memandang, mata mereka ketakutan dan aku tidak menyalahkan mereka. Bahkan aku bisa merasakan ibu sangat marah. Dia berdiri dan menatap mereka. Gaun putih susunya tampak seperti akan terbakar.

Dia menatap mereka dan dengan dingin berkata, "Aku mengerti ... Aku mengerti bahwa kalian semua pengecut! Aku bisa mencium rasa takutmu. Kalian ketakutan. Jadi apa yang membuatmu berpikir bahwa putraku tidak ketakutan juga?! Berbicara secara logis, kalian berdelapan harusnya menemani putraku di ekspedisi pertamanya untuk membimbing dia. Tapi kalian tidak! Dan sebagai gantinya kalian malah melemparkan beberapa rekrutan baru kepadanya! Kalian adalah pengikut yang dipercaya saudaraku! Aku tidak percaya bahwa kalian semua menjadi pengecut seperti ini. Anda tidak memenuhi syarat untuk berdiri di bawah pohon keramat! Apakah kalian melupakan sumpah yang kalian buat di bawah pohon keramat? Putraku hampir mati bertarung dengan Earth Dragon, tapi kalian semua sama sekali tidak peduli!"

"Harap tenang, Yang Mulia! Kami tidak menghindarinya dengan sengaja. Kami hanya merasa tidak terlalu baik pada saat itu dan tidak bisa menemani pangeran! "

"Oh benarkah?"

Ibu tersenyum dingin, memandang mereka dan melipat lengannya di bawah dada. Untuk membuat analogi, ketika ibu menjadi dirinya yang biasa, dia cerah dan hangat seperti matahari. Tapi saat dia marah seperti sekarang, ibu sedingin es. Tidak ada yang berani mendekatinya.

Dia melihat ke arah para Elder dengan mata birunya, tatapannya tajam seperti pisau, dan berkata, "Oke. Kalian semua baik-baik saja sekarang, kan? Sekarang giliran kalian untuk berburu Earth Dragon. Tunjukkan apa yang kamu punya dan bunuh semua naga itu!"

"Yang mulia!"

Aku melihat wajah mereka berubah putih seperti selembar kertas. Sejujurnya, kedelapan Elder ini tidak memberiku kesan yang baik. Mereka hanya terus mengoceh tentang ini dan itu, tidak membiarkan siapa pun pergi, dan menolak ide-ide lain sementara yang mereka pikirkan adalah cara untuk mundur. Apakah mereka benar-benar memenuhi syarat untuk menjadi Elder?

"Kalian selalu mengaku tidak takut mati, tapi sekarang takut tanpa alasan yang bagus. Tak satu pun dari kalian takut mati ketika masih muda, jadi mengapa kalian takut sekarang?"

Ibu berbalik dan rambutnya yang panjang keemasan berkibar bagai cambuk, "Aku memerintahkanmu sebagai penguasa elf. Kalian memiliki waktu dua minggu untuk menyelesaikan masalah Earth Dragon. Jika tidak, kalian bisa memberikan penjelasan pada saudaraku di akhirat! Sekarang, pergi!"

"Yang mulia! Yang mulia! Mohon pertimbangkan kembali! Kami tidak bisa memimpin pasukan di usia kami sekarang! Yang mulia!"

Kedelapan Elder mengejar ibuku yang sedang pergi dengan tubuh gemetar. Valerie tiba-tiba menghadang mereka, merentangkan lengannya ke sisi tubuhnya, menghalangi mereka saat dia menyapu pandangannya ke arah delapan Elder, dan berkata dengan wajah tanpa ekspresi, "Yang mulia berkata pergi. Silakan pergi."

Begitu mereka melihat punggung putih susu ibuku menghilang dari balik pintu, mereka segera berbalik, berlutut di kakiku dan memohon, "Pangeran! Yang mulia! Yang Mulia, tolong, kami mohon pada Anda. Tolong bicara dengan Yang Mulia. Kami ... Kami tidak bisa melakukan ini! Kami…"

Dash~!

Sebelum aku dapat mengatakan apa pun, Valerie bergerak begitu cepat hingga yang dapat aku lihat hanyalah bayangan zamrud. Dan ketika aku menyadarinya, dia sudah memegang belati di tenggorokan pemimpin para Elder dan memberi mereka tatapan dingin. Valerie tidak berekspresi sebelumnya, tapi jelas dia marah sekarang.

"Yang Mulia memerintahkan kalian untuk pergi! Jika kalian berani mengganggu pangeran, maka jangan salahkan aku atas apa yang terjadi selanjutnya. Aku tidak peduli jika kalian adalah Elder. Jangan mendekati pangeranku. "

"Uhh… Valerie. Kau tidak perlu melakukan itu."

Aku tersenyum pahit dan mengulurkan tangan. Meskipun kau tidak menyukai mereka, mereka tetaplah orang yang lebih tua, jadi kau tidak boleh melakukan ini.

Meskipun benar aku meremehkan orang-orang seperti mereka, aku bisa memahaminya karena mereka sudah lansia. Maksudku ... mereka mungkin tidak memiliki umur yang panjang untuk hidup, jadi takut mati adalah normal. Dan tidak ada gunanya melakukan ekspedisi karena tubuh mereka sudah tidak sekuat dulu.

"Apakah kamu yakin? Baiklah, baiklah. Jika kamu mengatakan itu."

Valerie mematuhiku dan mengangguk. Aura permusuhannya hilang dalam sekejap saat dia menarik belatiya dan berdiri di samping. Meskipun begitu dia terus waspada mengawasi mereka.

Kenapa ku bersikap seperti itu? Ini tidak seperti mereka tiba-tiba menyelinap dan menyerangku.

Aku merasa seperti ibu tidak benar-benar ingin mereka pergi berperang. Maksudku, apa artinya mengirim delapan orang tua ke medan perang? Aku pikir dia hanya ingin mereka membantu menyelesaikan masalah ini. Mereka dianggap sebagai delapan orang yang sangat berpengalaman, berpengetahuan luas dan bijaksana. Aku pikir ibu mencoba membuat mereka membantu secara finansial dengan mengancam hidup mereka.

"Terima kasih, Pangeran. Terima kasih. Pangeran, kami mohon, tolong tenangkan Yang Mulia. Kami sudah berusia beberapa ratus tahun. Kami hanya ingin menghabiskan sisa waktu kami dalam damai dan menghargai hidup kami di bawah pohon keramat. Kami tidak memiliki keinginan untuk pergi berperang. Lagipula apa yang dapat kami lakukan? Bilah pedang tidak dapat menembus sisik Earth Dragon. Mereka ... Mereka tidak bisa dibunuh! "

"Pembohong."

Aku melihat ke arah orang tua yang berteriak.

Valerie menarik pedangnya saat dia menatap mereka dari sudut matanya dan bertanya padaku.

"Yang Mulia, apakah Anda ingin aku membungkamnya?"

Aku menggelengkan kepala, berjongkok, menatap mereka, dan berkata, "Jika mereka tidak dapat dibunuh, lalu bagaimana kalian menjelaskan sisik Earth Dragon di tanganku ini? Selama mereka adalah makhluk hidup, itu pasti bisa dibunuh. Katakan padaku kebiasaan hidup Earth Dragon dan semua yang berhubungan dengan mereka. Lalu aku akan pergi meyakinkan Ratu."

Pemimpin Elder itu mengusap matanya dan gemetar saat dia bertanya dengan tak percaya, "Yang Mulia ... Mengapa anda ingin tahu tentang itu? Anda tidak boleh melakukannya. Jika sesuatu terjadi pada anda, kami benar-benar akan kehilangan kepala kami. Apakah anda tahu berapa banyak orang yang dieksekusi terakhir kali ketika anda hampir mati? Anda tidak boleh membiarkan sesuatu terjadi pada anda lagi. Jika sesuatu terjadi padamu, Yang Mulia benar-benar akan membantai seluruh kota."

"Jika kau tidak memberitahuku, kepalamu akan menggelinding sekarang."

Valerie memandangi mereka, melipat tangannya dan berkata pada salah satu dari mereka, "Ketika pangeran bertanya padamu, jawablah. Jangan mengatakan omong kosong yang sia-sia."

"Benar, benar, benar ... Tapi semua buku yang berhubungan dengan Earth Dragon ada di rumah saya."

Aku berdiri dan berkata, "Mari kita pergi ke rumahmu. Ayo pergi sekarang."

Aku tiba-tiba berbalik, menatap Valerie yang mengikuti aku, "Oh ya, Valerie."

Dia berhenti sebentar dan bertanya, "Ada apa?"

"Yah~ ... aku pikir ibu memasang mantra di gerbang istana. Begitu aku pergi, dia akan mengetahuinya. Jadi bisakah kamu membawaku keluar melalui rute lain?"

Dia mengangguk, "Mantra itu hanya dilemparkan di gerbang. Jika kita melompatinya maka akan baik-baik saja. Kau tidak bisa terbang dan tidak segesit aku, jadi aku akan menggendongmu."

Tertegun. Aku melihat Valerie yang jauh lebih kecil dariku. Mengangkatku saja akan sulit baginya dan dia mengatakan akan menggendongku melompati gerbang istana?

Tolong jangan meremehkan sebuah gerbang. Mereka setinggi empat hingga lima meter. Dia terampil dan cekatan jadi melompati gerbang itu sendirian tidak akan menjadi masalah, tapi apakah bisa dia melompatinya sambil menggendongku?

"Tidak apa-apa, elf angin ku akan membantu."

Valerie sepertinya bisa melihat keraguanku. Dia hanya melompat ke atas dan ke bawah dengan santai, tetapi tinggi lompatannya dengan mudah melebihi imajinasi manusia. Lebih akurat untuk mengatakan bahwa dia terbang, walau sebenarnya hanya melayang di udara.

Katakanlah, uh ... Kau mengenakan rok. Jadi bisakah kau menunjukkan sedikit lebih banyak kesadaran diri?

Aku mengajukan pertanyaan terakhir.

"Aku akan melawan kehendak ibu di sini, jadi mengapa kau tidak menghentikanku, Valerie?"

Valerie adalah kapten unit Shadow Guard istana kerajaan. Mereka menerima perintah langsung dari ibuku. Dalam pikiranku, dia bukan hanya tunangan, teman masa kecil dan pengawal, tetapi juga pengawas yang akan melaporkan tiap tindakanku pada ibu.

Dia memiringkan kepalanya ke satu sisi, menyipitkan matanya yang terlihat mengantuk, "Huh? Kenapa aku harus menghentikanmu? Kamu bilang kamu ingin pergi, jadi aku akan membantumu pergi. Aku adalah tunanganmu. Sebagai tunanganmu, itu adalah tugasku untuk mendukungmu, kan? Dan bahkan jika sesuatu terjadi, aku akan melindungimu, jadi kau tidak perlu khawatir."

Bisakah kamu tidak mengatakan sesuatu yang begitu menyentuh sambil menatapku seperti itu benar-benar alami? Aku mulai mengerti mengapa pangeran ini menyukainya. Valerie sedikit konyol, selalu terlihat setengah tertidur, tidak berpikir panjang, dan tidak memiliki teman karib. Jadi cintanya pada sang pangeran adalah tulus dan tanpa keegoisan. Tidak ada yang bisa melawan cinta penuh gairah dan tulusnya.

Aku mengulurkan tanganku dengan erat meraih tangan kecil putih Valerie. Sudut mulutnya terangkat menjadi seringai. Dia meraih tanganku, berbalik menghadapku, berdiri di atas jari kakinya dan dengan lembut menciumku di bibir.

"Aku mencintaimu ... pangeranku."

Maaf semuanya, tapi aku sudah ditaklukkan.

Aku tidak peduli jika aku pangeran elf atau bukan! Aku menyukai Valerie!

Akulah yang akan menikahinya di akhir, jadi siapa yang peduli jika aku adalah pangeran yang asli atau bukan. Tunggu. Aku adalah pangeran yang asli sekarang!

Aku menarik pinggungnya dengan ringan dan dia datang ke pelukanku. Valerie merangkul leherku dan aku bisa melihat ekspresi bahagia di matanya yang sipit. Aku perlahan membungkuk dan menuju bibirnya yang lembut dan indah ...

"Yang Mulia! Mari kita berangkat!"

Tch!

Kalian benar-benar tahu bagaimana menghancurkan suasana.

Mungkin seharusnya aku membiarkan Valerie memotong tenggorokan kalian di sana.


xxxXXXxxx


"Yang Mulia, bisakah aku memintamu untuk memegangku lebih erat? Ini mungkin terasa sedikit tidak nyaman untuk Anda."

Valerie menggendongku seperti putri di depan gerbang istana. Jika kita beralih peran di sini, ini akan memiliki pemandangan yang indah.

Valerie merobek kedua sisi roknya (untuk memudahkan gerakan) sehingga menampakkan kaki putihnya yang panjang. Dengan malu aku memeluknya di leher saat dia menarik napas panjang dan melompat.

Dalam sekejap, suara kencang dari udara berseru keras di telingaku, dan kecepatannya membuatku mustahil untuk bernapas. Aku tidak mengerti mengapa itu sangat tidak nyaman bagiku meskipun aku juga seorang elf. Mungkinkah karena aku tidak memiliki support dari elf angin?

Apa yang terjadi selanjutnya adalah pendaratan darurat!

Tidak. Sebenarnya, itu bukan pendaratan darurat. Valerie melayang di udara, jadi kami tidak jatuh ke tanah. Valerie menggendongku di udara saat dia melihat kereta para Elder pergi. Membawaku tidak mempengaruhi ketangkasannya sama sekali.

Valerie dengan lembut mendarat dan menurunkanku. Dia terbang di udara sambil menggendongku namun dia masih terlihat setengah tertidur. Bahkan napasnya masih sangat tenang. Atribut fisiknya menakutkan. Tidak heran dia menjadi seorang kapten di usia muda.

"Silakan turun kebawah. Semua buku ada di bawah."

Pemimpin para Elder pastilah yang paling menonjol di antara mereka. Dia dengan hormat membungkuk ke arah kami dan membawa kami ke ruangannya. Ini haruslah menjadi pohon berlubang dengan atmosfer terbaik di kota.

Yah, aku kira kita harus memanggil pohon besar ini rumahnya. Awalnya aku berpikir bahwa ini hanya hiasan, tetapi setelah aku memasuki pohon berlubang, aku menjatuhkan rahangku ketika melihat betapa luasnya bagian dalam. Di luar itu hanya sebatang pohon. Tapi, di dalamnya tidak kurang dari ukuran vila.

Elf benar-benar memiliki sihir tingkat tinggi.

Menghirup udara segar dari dedaunan hijau, kami mengikuti Elder itu menuruni tangga yang berputar-putar. Dia mengeluarkan kunci dan membuka pintu. Saat pintu terbuka, aroma tinta memenuhi udara. Meskipun ini adalah ruang bawah tanah, sinar matahari bisa menembus ke dalam ruangan. Itu tidak terlihat seperti ruangan di bawah tanah. Apakah ini juga karena sihir?

Di depan kami ada rak buku yang sangat tinggi. Anda tidak mungkin melihat bagian atasnya. Ini sama sekali tidak terlihat ruang bawah tanah. Ini perpustakaan, kampret.

Aku kagum pada hal itu yang sepertinya membuat si tua sangat bangga pada dirinya sendiri.

"Butuh sepanjang hidupku untuk mengumpulkan semua buku-buku ini. Aku memiliki beberapa buku keramat dan aku juga memiliki satu-satunya salinannya, jadi tolong jangan merusaknya. "

Valerie tiba-tiba bertindak agak cemas, mengambil kerah dari yang lebih tua, "Cepat dan bawa semua buku tentang Earth Dragon ke sini."

Aku berhenti sejenak, berbalik untuk melihat Valerie ketika dia melihat ke arahku. Matanya yang biasanya mengantuk tampak ketakutan, "Naruto, kita harus cepat kembali. Yang Mulia baru saja mengetahui bahwa kamu telah hilang. Semua penjaga sedang mencarimu. Aku baru saja menerima pesan itu. Kita harus ambil buku-buku itu dan cepat kembali."

Aku mengangkat bahu dan dengan santai berkata, "Itu bukan masalah besar, bukan? Aku bukan penjahat. Akan baik-baik saja jika aku menjelaskannya pada ibu."

Aku belum lari ke suatu tempat yang jauh, aku masih di dalam kota. Dan aku tidak berpikir ibu akan bersikap kasar padaku. Aku hanya akan meminta maaf dan itu akan baik-baik saja.

Ini adalah kesempatan langka bagiku untuk berada di luar, jadi aku ingin mengumpulkan semua informasi dan membawanya kembali.

"Apakah kamu lupa betapa menakutkannya Yang mulia ketika dia tidak bisa menemukanmu ?! Jika kita tidak buru-buru kembali Yang mulia akan marah. Dia akan membunuh semua orang yang berhubungan dengan ketiadaanmu di istana!"

Kegelisahan Valerie memenuhi matanya membuatku takut. Sekarang aku memikirkannya, ibu pasti akan melakukan hal seperti itu. Dan dilihat dari ekspresi Valerie, dia tidak bercanda.

"Tenang dulu. Katakan padanya aku bersamamu dan kita sedang dalam perjalanan kembali."

Aku tidak tahu bagaimana mereka berkomunikasi tetapi aku buru-buru memberikannya perintah dan berbalik untuk memberi tahu Elder, "Bawakan aku beberapa buku terbaru tentang Earth Dragon dan aku akan mengambilnya kembali. Aku bersumpah akan mengembalikannya padamu!"

"Oke oke oke! Cepatlah kembali ke istana!"

Aku baru saja melakukan perjalanan kecil di luar, bagaimana itu berubah menjadi masalah besar? Aku bahkan belum pergi selama sepuluh menit. Ibu, kamu terlalu khawatir!

Dirimu yang biasa adalah penguasa bijaksana, tetapi sekarang kau tampak seperti seorang tiran. Kupikir yang terbaik adalah aku cepat kembali atau ekspresi Valerie akan menjadi lebih buruk.

"Ayo pergi!"

Aku mengambil tumpukan buku, meraih tangan Valerie dan berlari ke arah istana kerajaan seperti hidupku tergantung padanya.

Begitu aku sampai di pintu masuk, penjaga gerbang tampak senang seolah-olah dia baru saja bereinkarnasi dan berkata dengan suara gemetar, "Pangeran, tolong cepatlah kembali!"

Aku tidak menyalahkannya. Lagi pula, jika aku tidak kembali, kepala mereka akan menjadi yang pertama menggelinding.

Aku menyerahkan buku-buku itu kepada Valerie, "Bawa buku-buku ini ke kamarku, lalu datanglah melihat mam- ... Yang Mulia."

"Baik."

Valerie mengangguk dan melompat ketika melintas di belakangku. Kau merobek rokmu, jadi tunjukkan kesadaran diri! Dan kenapa aku merasa kamu tidak memakai celana dalam?! Apakah elf tidak memakai celana dalam?! Mengapa sekilas aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat?!

Aku mendengar suara sepatu kuda di belakangku. Sepertinya para penjaga akhirnya kembali. Aku berbalik dan melihat raut wajah mereka yang tampak seperti ketika kau berhasil melarikan diri dari kematian. Aku kira Valerie tidak berbohong. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berlari ke istana.

"Temukan dia, kalian tidak berguna! Cari di ibukota! Kunci semua gerbang ibukota kerajaan! Dia putraku satu-satunya dan kalian tidak bisa menjaganya?! Aku bersumpah atas nama dewi Clementina, jika dia memiliki luka walau hanya satu goresan saja, tidak seorang pun dari kalian akan melihat hari esok! Sekarang keluar dan cari putraku!"

Aku mendengar teriakan keras segera setelah aku mencapai pintu masuk. Aku merasa bahwa sejenis karya seni pahat baru saja berubah menjadi sampah. Aku mendorong pintu terbuka untuk melihat beberapa penjaga berlutut pada satu kaki saat ibu memarahi mereka, dan kepala patung berguling-guling di tanah.

Ya, itu patung yang diduga sebagai salah satu raja peri sebelumnya. Bukankah ini sangat buruk?

Valerie tiba-tiba muncul dari belakang dan mendorongku ke arah ibu, "Yang Mulia, pangeran telah kembali!"

Ibuku menarik napas lega. Ketika dia melihatku, matanya yang dipenuhi amarah dalam sekejap menggenang dengan air mata. Kemarahannya yang bisa membakar seluruh istana kerajaan menghilang tanpa jejak.

Dia menarikku erat-erat ke pelukannya dan menangis di pundakku. Aku memeluk punggungnya saat payudaranya menyerangku, "Maaf, bu. Aku minta maaf karena pergi tanpa memberitahumu."

Mari kita sisihkan semuanya untuk sejenak dan menghiburnya dulu. Aku hanya pergi beberapa saat. Aku bahkan tidak ingat jalannya dan kegemparan seperti ini telah terjadi. Jika aku meninggalkan kota dan terluka, kami mungkin memiliki penjaga baru sekarang, jika kalian tahu apa yang ku maksud.

"Anak bodoh! Kamu anak bodoh! Bukankah aku memberitahumu untuk tidak pergi? Kenapa tidak memberitahuku ketika kamu pergi?!"

Ibu menangis di pundakku dan memukul punggungku dengan kedua tangannya. Ibu benar-benar ketakutan. Aku bisa merasakan semua berat tubuhnya padaku karena kakinya sudah lemas.

Aku dengan ringan mendorong punggungnya dan melihat wajahnya yang pucat. Aku merasa buruk. Aku terlalu terburu-buru kali ini ...

"Maaf Bu, aku seharusnya tidak pergi seperti itu."

"Kamu anakku satu-satunya. Aku hanya ingin kamu aman dan tidak terluka." Tangan Ibu gemetar saat dia menyentuh wajahku. wajahnya yang cantik tercekik oleh air mata, "Aku mohon, nak ... Demi dewi, tolong jangan buat ibu khawatir ... Kau satu-satunya ... Kau anakku satu-satunya ... Ibu mohon ..."

Tangisan ibu goyah, tubuhnya terlihat lemah, dan wajahnya penuh air mata. Aku memeluknya, lalu berbalik untuk melihat Valerie dan menunjuk ke atap. Valerie mengangguk lalu meninggalkan ruangan.

Aku membantu ibu duduk di kursi, berlutut dengan satu lutut di depannya, dan berkata, "Maaf Bu, aku seharusnya tidak pergi begitu saja."

Aku sebenarnya tidak tahu seperti apa elf itu, tapi ini tidak akan berubah buruk, kan?

Ibu mengusap air mata dengan saputangannya saat dia menggosok kepalaku dengan tangannya yang lain.

Dia menarik napas dalam-dalam, dan berkata dengan suara yang goyah, "Jangan membuat mama khawatir seperti ini. Apakah kamu tahu betapa takutnya mama ketika mengetahui kamu menghilang? Jangan biarkan sesuatu terjadi padamu. Jika sesuatu terjadi padamu, apa alasan mama untuk terus hidup?"

Aku bahkan tidak pergi selama sepuluh menit ...

Dan aku masih di dalam ibu kota ...

Belum lagi aku memiliki para Elder dan Valerie bersamaku.

Namun, aku tidak menyebutkan semua ini padanya. Aku berdiri, berjalan mendekatinya dan dengan ringan memeluknya. Dia memelukku erat-erat dan mengusap air matanya di dadaku.

"Bu, maafkan aku, aku tidak akan membuatmu khawatir lagi."

"Uhn ..."

Setelah merasa lega ibu mengangkat kepalanya dan akhirnya tersenyum.

Pada saat itu, seorang petugas datang ke pintu dan berkata kepada kami, "Yang Mulia, saya minta maaf karena mengganggu anda, tetapi Tuan Kabuto dari umat manusia menunggu untuk bertemu Anda."

Ibu mengangguk, berdiri, menyeka air matanya dengan saputangannya, menatapku dengan senyum, dan berkata, "Naruto, apa mama terlihat rapi?"

Aku mengulurkan tangan untuk menyeka air mata di pipinya. Harus ku katakan, kulit elf benar-benar terasa enak disentuh.

"Kamu terlihat baik-baik saja, bu. Aku akan meninggalkanmu dan akan kembali ke kamarku."

"Oke ... Bawa dia masuk."

Ibu tersenyum dan melepaskanku. Aku membungkuk dan pergi ketika Tuan Kabuto masuk. Dia tampak seperti pria yang jujur dengan rambut abu-abunya disisir rapi ke belakang. Jubah hitamnya tidak memiliki setitik kotoran di atasnya dan dia tidak berkumis atau berjenggot.

Dia melihat aku keluar, jadi dia membungkuk saat tersenyum, dan berkata, "Senang bertemu Anda di sini, your majesty. Tolong izinkan aku untuk menyambut Anda atas nama Her Majesty. Her Majesty menantikan kembalinya Anda."

"Ah? Oh ... Uhh ... Ya ... Senang bertemu denganmu, Tuan Kabuto ... Umm ..."

Aku menatapnya bingung. Dia mengatakan beberapa hal dan melihatku seperti kami saling kenal ... Tidak ... Sepertinya orang-orang dari istana kekaisaran manusia akrab denganku ... Tapi aku tidak mengerti apapun yang dia katakan. Her Majesty? Pulang ke rumah? Bukankah ini rumahku?"

Pada saat itu, ibu tiba-tiba muncul di pintu, melihat ke arah kami, dan berkata sambil tersenyum, "Apakah putraku menyebabkan anda kesulitan, Kabuto?"

Tuan Kabuto berdiri, tersenyum hormat untuk tujuan diplomatik, "Tidak sama sekali, Yang Mulia. Bagaimana bisa his majesty menyebabkan seorang pelayan seperti saya bermasalah? Saya baru saja menyapa his majesty, dan menyampaikan salam dari her majesty."

Aku kemudian menyadari bahwa mereka berdua menyapaku secara berbeda. Orang-orang dari pihak ibu memanggilku sebagai "Yang Mulia (Your Highness)", sementara Tuan Kabuto menyebutku "Yang Mulia (Your Majesty)".

Jadi ratu elf disebut sebagai "Mulia (highness)", sedangkan ratu manusia disebut sebagai "keagungannya (Majesty)". Itu berarti ibuku adalah ratu elf dan aku pangeran mereka. Lalu apa yang ratu manusia lakukan denganku sampai tuan kabuto memanggilku majesty?

"Tolong perbaiki kata-katamu. Menurut perjanjian, Naruto adalah putraku sekarang. Dia adalah pangeran dari para elf. Dia adalah putra yang aku banggakan, bukan putranya dan karena itu dia bukan pangerannya juga. Jika kamu datang kali ini untuk mengunjungi putraku, maka silakan kembali."

Meskipun ibu tersenyum, aku tahu dia marah. Jari-jarinya yang panjang gemetar. Aku tidak akan terkejut jika hal berikutnya yang dia lakukan adalah menembakkan bola api.

Tuan Kabuto menggelengkan kepalanya, "Harap tenang, Yang Mulia. Aku hanya menyambut his majesty karena kami berpapasan. Akan sangat tidak sopan jika seorang punggawa tidak menyapanya, jadi tolong abaikan saja. Namun, yang ingin aku bahas memang terkait dengan his majesty."

Ibu dengan dingin menjawab, "Oh benarkah? Baiklah kalau begitu, mari kita dengar ide-ide baru apa yang dia buat."

Ibu berbalik ketika Tuan Kabuto tersenyum, menatapku lagi, sedikit membungkuk dan berkata, "Selamat tinggal his― ... Yang Mulia, aku harap kau baik-baik saja."

"Kamu juga."

Tuan Kabuto tersenyum, berbalik dan mengikuti ibu.

Bingung, aku berbalik dan berjalan ke kamarku sendiri. Apa yang sedang terjadi? Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara para elf dan manusia karena aku? Tubuh ini tidak memberiku cukup kenangan, tapi itu benar-benar memberiku lebih dari cukup masalah.

.

.

.

Bersambung.


A/N: Saya bingung, bagusnya di terjemahin gimana Your Majesty dan Your Highness. Dua-duanya punya arti yang mirip (yang mulia). Kalau entar gak dapet pencerahan mungkin pake bahasa inggrisnya biar gak salah.

Keterangan: His (Majesty) merujuk pada kata ganti dia (laki-laki). Sedangkan Her (Majesty) merujuk pada kata ganti dia (perempuan)