Naruto terbangun dari tidurnya dan menggosok matanya yang masih terasa berat. Untuk beberapa alasan dia menatap langit kamarnya. Menunjukkan sebuah ekspresi tertekan dengan desahan panjang.
"Mimpi itu lagi ..."
Walau masih terasa lelah, Naruto beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. penglihatannya sesekali menangkap bayangan yang terpantul dari cermin besar di kamarnya. Seorang anak dengan wajah suram dan rambut acak-acakan. Memiliki kulit tan eksotis turunan sang ayah dan rambut pirang terang yang mencolok. Bagaimanapun kau melihatnya, dia adalah seorang anak laki-laki normal.
Setidaknya ... itulah yang akan orang pikirkan ketika melihatnya. Tetapi sebenarnya tidak ...
Sampai saat ini Naruto belum mengerti. Masih segar di ingatannya ketika dia melawan 4 demon lord dan mati. Itu kejadian yang sudah tertanam dalam di ingatannya sehingga mustahil untuk dilupakan. Tapi bukannya pergi ke akhirat untuk beristirahat, Naruto malah terbangun di tempat tidur dengan tubuh 13 tahunnya.
Aneh? Tentu. Tetapi Naruto dapat beradaptasi dengan cepat berkat pengalamannya selama ini. Mengalami beberapa kejadian aneh sudah menjadi kesehariannya ketika meniti karir sebagai pahlawan. Jadi beradaptasi dengan situasi yang absurd ini tentu mudah baginya. Lalu yang tidak bisa ia mengerti adalah ... kenapa?
"Naruto, kau sudah bangun?" Suara feminim namun tegas datang dari lantai satu, Naruto menoleh ke pintu seolah untuk memastikan dan berjalan keluar.
"Sudah Okaa-san!"
"Cepat turun dan sarapan!"
"Hai."
Ia kembali termenung. Kenapa dirinya bisa kembali ke masa lalu? Apakah ini kekuatan dari Demon Lord? Semacam fenomena unik Tartaros? Atau sebuah keajaiban dari Kami-sama? Naruto masih tidak mengerti, dia kebingungan ... lalu pertanyaan lain muncul di kepalanya.
Kenapa aku?
Kenapa manusia tidak berguna sepertiku yang mengalaminya, kenapa tidak mereka yang lebih pantas dariku?
Naruto sadar betul akan semua kesalahannya di masa lalu. Hal-hal buruk yang ia kerjakan demi kesenangan semu selalu membuatnya muak dan bahkan terkadang jijik pada dirinya sendiri. Pikirannya mulai kacau, lalu suara ibunya kembali masuk ke telinganya.
"Naruto, ada apa? Wajah mu pucat ..."
Naruto menggeleng pelan, "Bukan apa-apa Kaa-san, hanya kurang tidur."
Naruto duduk di meja makan setelah membasuh wajah, ia mendudukkan dirinya dan mencari posisi senyaman mungkin. Tetapi mata ibunya masih menunjukkan sinar cemas.
"Beberapa hari ini kau juga bersikap tidak biasa. Kalau ada masalah bicaralah pada Kaa-san, jangan menyimpannya."
Naruto memiringkan kepalanya. Apakah sikapnya memang setidak natural itu? Dia hanya menjalankan hari-harinya dengan merenungkan berbagai hal dan ... itu tidak biasa?
"Aku merasa biasa saja kok."
"Tidak tidak. Kau sangat tidak biasa. Sebagai contoh, mana ada anak umur 13 tahun yang memiliki ekspresi seperti orang mau rapat perang." Kushina membalas dengan nada meragukan.
"Aku terlihat seperti itu?"
"Ya."
"Huuuufft ...," Menghela nafasnya pelan, Naruto berkata pada Kushina, "Sebenarnya aku punya masalah Kaa-san, tapi hanya masalah kecil jadi tidak perlu khawatir."
"Hmmm ..."
Kushina agaknya ragu akan jawaban Naruto, namun dia mengabaikannya untuk saat ini dan kembali melanjutkan kegiatannya membuat sarapan. Apa yang akan dihidangkannya adalah telur dadar dan beberapa daging serta sayur. Biasanya Naruto akan memprotes jika ada sayuran di piringnya, tapi dia keliahatan tidak mempedulikannya ... atau malah tidak memperhatikan?
"Kaa-san, Naruto kenapa?"
Bahkan adiknya juga menyadari hal tersebut.
"Thea-chan tidak boleh memanggil Nii-san begitu."
"Ops! Maaf Kaa-san, sudah kebiasaan. Lalu kenapa Nii-san bertingkah begitu?"
"Yah ... Kaa-san pikir Nii-sanmu sedang dalam masa puber, jadi tingkahnya seperti itu."
"Masa puber?"
"Kau masih terlalu dini untuk mengetahuinya, Thea-chan. Ini masalah yang suatu saat akan kau hadapi juga. Sesuatu yang akan di alami oleh anak-anak yang beranjak dewasa. Jadi tunggulah sampai waktunya."
"Hm, begitu kah?"
"Hump," Kushina mengangguk ringan, "Oh iya, besok ada pembabtisan elemen di balai kota. Bagaimana kalau Thea-chan dan Naruto pergi bersama untuk memeriksa elemen kalian?"
Naruto yang sedari tadi melamun tertarik dengan ucapan ibunya.
"Pembabtisan Elemen?" Ulang Thearesia dengan nada yang penasaran.
Kushina mengangguk dan tersenyum pada Thearesia, "Pembabtisan Elemen adalah test untuk menentukan elemen yang kita miliki serta menilai jumlah kekuatannya. Ini biasa dilakukan untuk merekrut murid baru ke sekolah sihir kerajaan. Tapi beberapa hari lalu kerajaan mengumumkan akan melakukan pembabtisan untuk seluruh rakyat. Jadi kita termasuk."
"Emm, jadi kita harus melakukannya juga?"
"Tidak diwajibkan Thea-chan, hanya dianjurkan. Kita hanya rakyat biasa sehingga pihak kerajaan tidak akan berharap banyak. Tetapi mengetahui elemen yang kita miliki adalah hal yang berharga karena kecocokan kita pada alam bisa mempermudah pekerjaan kedepannya. Sebagai contoh, orang yang memiliki elemen alam tanah bisa mendapatkan hasil panen lebih bagus dari pada orang lain jika dia mengolah ladang, dan orang yang memiliki elemen api bisa menjadi blacksmith halndal berkat kemampuan mengatur suhunya."
"Lalu air dan angin?"
"Elemen air akan sangat berguna bagi herbalist atau pekerjaan yang berhubungan dengan medis, sedangkan elemen angin dapat membantu kita dalam berlayar. Pada dasarnya, afinitas kita pada salah satu elemen sudah memberikan kontribusi besar dalam kehidupan sehari-hari. Jadi mengetahui elemen kita sendiri sangat dianjurkan."
"Woaah, ternyata begitu. Aku paham Kaa-san."
"Bagus sekali, jadi bagaimana denganmu, Naruto?" Kushina mengalihkan tatapannya pada anak sulungnya. "Apa kau ingin bertanya atau menambahkan?"
Naruto memutar garpu di tangannya dengan ekspresi sulit. "Menentukan pekerjaan berdasarkan elemen tidak bisa dijadikan sebagai dasar. Manusia punya potensi tersendiri untuk berkembang dari waktu ke waktu, mereka terus berevolusi dari satu generasi ke generasi lainnya. Pencocokan pekerjaan berdasarkan elemen hanya akan menjadi pembatas untuk perkembangan, sehingga pemikiran seperti ini harus dicabut sedini mungkin. Ucapan Kaa-san memang tidak salah, namun seiring dengan perkembangan zaman pemikiran seperti pencocokan elemen akan ketinggalan jaman dan akhirnya menjadi pengetahuan terbelakang."
"Na-Naruto?"
"Eh?"
Naruto menoleh pada Kushina dan Thearesia yang terdiam melihatnya. Ekspresi mereka heran, bingung, dan tidak mengerti. Dia kemudian sadar akan keanehan ini. "Maaf, itu hanya pendapatku sendiri. Jangan biarkan itu mengganggu kalian."
Kushina tidak bisa menjawabnya dengan pasti dan hanya memberikan respon yang ambigu.
Bagi Naruto, sihir bukan lagi hal yang asing. Dia bisa menggunakan banyak sihir untuk berbagai tujuan. Namun cara dia menggunakan sihir berbeda dengan kebanyakan orang dimana mereka menggunakan elemen sebagai media sihir. Sedang Naruto menggunakan metode astrologi, numerik, symbol kabalah, dan berbagai metode yang kemudian di filter untuk meningkatkan efisiensinya. Biasanya Naruto menciptakan beberapa kondisi untuk memunculkan fenomena yang kemudian berubah menjadi sihir. Sebagai contoh, untuk menciptakan petir Naruto akan menciptakan muatan positif dan negatif dalam skala tertentu yang kemudian digabungkan dalam lingkaran sihir untuk mewujudkannya. Namun dalam beberapa kasus Naruto juga dapat menciptakan sihir tidak ber-elemen jika diperlukan sehingga batasan 1 orang hanya bisa menggunakan 1 elemen tidak berlaku di teori Naruto.
Itulah sebabnya Naruto tidak nyaman dengan pembicaraan mengenai aturan mutlak elemen dunia ini. Mereka terlalu ketinggalan jaman dan tidak efisien. Serta fakta para Demon Lord bisa menggunakan metode yang mirip dengannya jelas membuat Naruto lebih frustasi.
Sesungguhnya ini bukan teknik istimewa karena orang yang cukup pintar dapat melakukannya juga jika mereka mau mencoba. Pada kenyataan, teori yang Naruto punya hanyalah dasar. Untuk bisa mengembangkannya adalah tugas mereka yang berkeinginan kuat pada sihir.
Naruto menghela nafas berat, 'Pengetahuan adalah kunci kemenangan? Haruskah aku memberikan informasi ini ke pihak kerajaan? Jika umat manusia memperkuat diri mulai dari sekarang, invasi para demon pasti bisa diatasi. Namun ...'
Pada masa saat ini bangsawan adalah karakter yang paling dibenci. Mereka terlalu angkuh, sombong, merasa paling hebat, dan diktator. Tidak peduli bagaimana hasilnya, memberikan pengetahuan tentang sihir tingkat lanjut pada para bangsawan bukanlah pilihan yang bijak. Mereka hanya akan semakin semena-mena dan akhirnya rakyat akan menderita bahkan sebelum adanya invasi demon.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Ayah Naruto―Minato mengambil tempat duduk di sebelah Kushina. Dia mengedarkan pandangan hangat pada anak-anaknya.
"Pembabtisan Elemen Tou-san." Jawab Thearesia dengan antusias.
"Oh! Itu besok `kan? Apa kalian perlu ditemani kesana?"
"Tidak perlu Tou-san, aku akan pergi dengan Nii-san."
"Kalau begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Naruto, jaga adikmu baik-baik ya."
"Tapi aku tidak berencana ke pembabtisan Elemen, Tou-san." Naruto menyanggah.
"Lho kenapa? Sangat jarang lho kerajaan melakukan pembabtisan elemen untuk rakyat biasa."
'Tentu saja, ada alasan lain kenapa diadakan pemababtisan elemen. Kerajaan berniat menarik rekrutan baru sebanyak mungkin untuk meningkatkan kekuatan militer dimasa depan. Mereka akan mensurvei benih-benih yang berpotensi, kemudian dalam beberapa tahun lagi akan dipanen dalam angan-angan menjadi tentara elite kerajaan. Alasan ini juga yang memaksa Thearesia masuk ke sekolah sihir. Tidak mungkin menentangnya dan ketika kita menolak mereka akan mengatakan 'Orang yang memiliki kemampuan harus melayani kerajaan'.
Naruto tidak akan membiarkannya, dia tidak berniat ikut campur dalam politik milik kerajaan. Begitu pula dengan keluarganya, Naruto akan melindungi mereka sehingga dia tidak akan pernah menyesalinya lagi.
"Tidak apa-apa Tou-san. Pembabtisan ini tidak mewajibkan kita untuk ikut. Lagipula hari ini kita akan memanen sayur kan? Biar aku bantu."
"KAU mau bantu Naruto?" Minato tanpa sadar menaikkan suaranya pada pernyataan Naruto.
"Tidak apa-apa kan? Aku tidak ada kegiatan kok."
"Tidak apa-apa sih. Tapi ..."
Ini sangat tidak biasa! Minato ingin meneriakkannya, tapi tidak bisa. Dia masih belum terbiasa dengan perubahan sikap Naruto. Kushina sudah memberitahunya kalau Naruto bertingkah aneh, tapi perubahan ini sedikit di luar dugaan.
"Tunggu dulu! Kalau Nar ―Nii-san membantu maka Thea-chan juga akan ikut bantu!"
"Thea-chan juga?"
"Iya."
"Tapi pembabtisannya?"
"Aku tidak akan kalah dari Nar ―Nii-san."
"Thea-chan, dari tadi kau terus saja ingin memanggilku Naruto kan?"
Thearesia membuang muka atas pertanyaan Naruto dengan semu merah di pipinya, "Hmmp, mana mungkin!"
Naruto tersenyum lembut. Sudah lama rasanya dia tidak merasakan kehangatan ini. Di hari-harinya mengalahkan para demon, hanya kedinginan yang ia rasakan ketika hatinya mulai mati akan namanya kasih sayang. Perasaan tertekan, kemarahan, dan dendam adalah hal yang utamanya tidak bisa Naruto lupakan. Namun, setelah semua yang terjadi ... dia hanya ingin beristirahat ... sampai hari esok datang.
.
.
.
Victorius, kerajaan terbesar manusia yang ada dalam sejarah. Dengan relik-relik kuno yang kental akan budaya namun tidak menghilangkan kesan megah dari kota itu sendiri. Memiliki system pemerintahan yang menjadikan raja sebagai pusatnya, Victorius telah bertahan dari banyak rintangan dan halangan.
Di jalan yang menghubungkan ibu kota kerajaan manusia―Re-eztize dengan kota lainnya, sebuah kereta kuda dengan eksterior memukau di tarik oleh kuda-kuda gagah menyusuri jalanan berbatu.
Berkuda di sekeliling kereta dengan formasi standar adalah 2 adventure peringkat silver dan 4 peringkat Bronze. Lalu yang duduk di dalam kereta adalah penyihir muda yang terkenal dengan nama Badai Es, gadis kecil dengan potongan rambut bob hitam yang dibalut jubah putih bermotif daun emas, Sona Sitri. Berhadapan dengannya adalah instruktur yang bertanggung jawab atas pembabtisan elemen, namanya Asuma Sarutobi.
"Pembabtisan Elemen benar-benar sia-sia. Ini seharusnya tugas dari penyihir tingkat 3 dan bukannya aku."
"Tenanglah Sona Ojou-sama, keikutsertaanmu adalah nubuat dari dewi Alsuna. Kita tidak bisa melakukan sesuatu untuk mengubahnya."
"Itu benar. Tapi ..."
"Tidak apa-apa. Perintah Alsuna selalu memiliki artian tertentu. Tetapi Sona Ojou-sama, apakah anda sudah mendengar ramalan dari High Priest?"
"Aku tidak diberitahu, kelihatannya pihak atas menyembunyikan ramalan tersebut. Memangnya kenapa Asuma-san?"
"Jadi begitu, bahkan Sona Ojou-sama juga tidak mengetahuinya. Saya beberapa waktu lalu mendengar rumor aneh mengenai ramalan tersebut."
"Rumor aneh?"
"Ya, beberapa hal yang tidak bisa dipercaya."
"Dan berapa banyak rumor yang bisa dipercaya?"
"Sedikit. Sebagian besar tidak rasional."
"Aku tertarik dengan rumor yang menurutmu sedikit bisa dipercaya itu."
Asuma menyandarkan punggungnya ke kereta dan menutup matanya, "Disebutkan kalau ada permata di antara rakyat biasa. Permata yang cukup berharga hingga kerajaan perlu memilikinya dengan segala cara."
"Apa itu sungguhan?"
"Hahaha ... itu hanya rumor Sona Ojou-sama, kita tidak bisa dengan sungguh mempercayainya. Namun jika nubuat dari dewi Alsuna berhubungan dengan hal ini, kita tidak bisa melakukan sesuatu untuk mengubahnya."
Sona terdiam, dia menoleh pada jendela yang menunjukkan pemandangan dari hutan sekitar. Matanya dengan anggun memperhatikan perubahan atmosfir dari perkotaan menjadi pedesaan.
'Nubuat dewi Alsuna ya?'
Merasakan atmosfir kurang menyenangkan, Sona berusaha mengubah topik pembicaraan. "Tujuan kita adalah desa bernama Alardfell bukan? Desa seperti apa itu?" Tanya Sona seraya membenarkan posisinya.
"Desa yang cukup damai. Sebagian besar penduduknya memiliki mata pencarian sebagai petani. Tetapi karena dekat dengan perbatasan kerajaan, desa ini sangat rawan akan serangan monster. Untungnya sampai sekarang belum ada insiden yang tidak menyenangkan."
"Rawan akan serangan monster? Apakah tidak ada prajurit yang ditugaskan untuk menjaga perbatasan sekitar?"
"Pihak atas mengira tidak perlu untuk menjaga wilayah ini karena posisi yang tidak strategis untuk penyerangan. Dengan banyaknya pepohonan dan bukit, perbatasan disana akan sulit ditembus. Setidaknya, monster peringkat D ke bawah tidak akan bisa melaluinya." Jelas Asuma dengan tenang.
Sona mengangguk, "Ternyata begitu."
Peringkat monster di dunia ini terbagi menjadi 10 kategori yakni SS+, SS, S, A, B, C, D, E, F, dan G. Mereka di urutkan berdasarkan kekuatan penghancur dan seberapa banyak orang yang perlu melawannya. Pada umumnya, monster rank G adalah yang terlemah dan bisa dikalahkan oleh manusia biasa, sedangkan peringkat F memerlukan seseorang adventure rank bronze untuk melawannya. Peringkat E memerlukan sekelompok kecil party Adventure rank bronze, lalu peringkat D harus ditangani oleh kelompok sedang Adventure silver. Kemudian peringkat C ke atas dikategorikan sebagai menengah ke atas karena monster peringkat C dapat dengan mudah menghancurkan sebuah desa kecil sendirian. Untuk monster rank S ke atas pihak kerajaan biasa menyebutnya sebagai legenda, itu disebabkan karena kekuatan dari monster peringkat ini bisa menghancurkan sebuah negara besar sendirian tanpa kendala yang berarti.
Untuk Adventure sendiri terbagi menjadi 8 peringkat yakni Bronze, Silver, Gold, Platinum, Mithryl, Orichalcum, dan Adamantite. Pembagian peringkat Adveture mirip dengan pembagian peringkat monster, namun membandingkan kekuatan monster dan manusia sangat tidak relevan. Sekuat apapun seorang manusia yang menyandang gelar Adamantite, tidak akan mungkin baginya untuk mengalahkan monster peringkat A sendirian, sehingga untuk mensiasati hal ini diperlukan membentuk sebuah party dengan anggota minimal 2.
Untuk ukuran manusia, Sona sudah masuk kategori genius. Umurnya sekarang adalah 13 tahun, namun saat menginjak 10 tahun Sona telah mendapat prestasi gemilang dengan mengalahkan monster peringkat E sendirian. Berkat prestasinya ini pula Sona terkenal dengan sebutan Badai Es.
Waktu mulai bergulir ke tengah hari, kereta yang ditumpangi Sona dan Asuma berjalan lancar tanpa kendala. Mereka membicarakan berbagai hal mengenai politik ringan dan beberapa hal mengenai sihir. Mengingat Sona adalah anak kedua dari keluarga bangsawan Sitri, sejak kecil ia sudah mendapatkan banyak pelajaran mengenai sihir dan politik kerajaan.
"Desa Alardfell memang tidak memiliki banyak prajurit, namun pihak Guild petualang sudah membangun cabang disana sejak 4 tahun silam sehingga keamanan warga cukup terjamin."
"Kalau begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jika monster peringkat D ke bawah tidak bisa menyerang, maka itu akan aman selama tidak ada monster dengan peringkat C atau di atasnya."
"Bena―"
Braaak!
Suara seperti tabrakan terdengar di pendengaran mereka, Asuma dengan sigap mencari tahu apa yang terjadi.
"Ada apa Kotetsu!?"
"Maaf Asuma, sekelompok Direwolf menyerang kita."
"Direwolf? Di tempat ini?"
"Iya, robb dan yang lain sedang menanganinya. Tapi jumlah mereka di luar kemampuan kita."
Sona yang dari tadi mendengarkan membuka pintu kereta dan menatap Asuma, "Kalau begitu aku akan ikut membantu."
Asuma mengangguk lalu menoleh pada Kotetsu, "Jangan khawatir Kotetsu, kita pasti bisa menanganinya. Aku juga akan ke garis depan."
Kotetsu bernafas lega.
Sebenarnya Direwolf bukanlah musuh yang sulit untuk sekelompok adventure berpengalaman. Mereka pun dikategorikan pada peringkan F yang pada dasarnya mudah di atasi sendirian oleh Sona. Namun hal yang berbahaya dari Direwolf adalah jumlah mereka. Ketika berburu mereka selalu berkelompok, dan ketika salah satu dari mereka sekarat ... direwolf akan melakukan lolongan terakhir [Last Howling] yang dapat memanggil kawanan lainnya.
Sona sangat percaya diri akan kemampuan sihirnya. Tapi ketika dia harus berhadapan dengan lusinan Direwolf, itu akan menjadi situasi yang sulit. Jalan satu-satunya untuk menghindari kondisi tersebut adalah mengalahkan mereka sebelum ada yang menggunakan [Last Howling].
Asuma menarik Double Dagger dari balik jubah hijaunya dan Sona membawa tongkat sihir yang lebih tinggi darinya. Sebagai seorang penyihir, Sona tidak dapat melakukan pertarungan jarak dekat atau pun bergerak banyak ketika merapal mantranya sehingga ia bisa menjadi sasaran empuk. Namun di saat seperti itulah seorang petarung jarak dekat diperlukan untuk menghadang ancaman yang datang dan itu adalah tugas Asuma disini.
"Aku akan melindungi anda Sona Ojou-sama."
Sona membalas perkataan Asuma dengan anggukan.
"Air adalah sumber kekuatan, lumpuhkan segala bentuk musuh dalam kekuasaanku, dan turuti jalan kebenaran penuh akan kasih. Mereka adalah kontradiksi, hasil dari perpecahan dan ketiadaan, serta merupakan anugerah sang dewi! Berkumpullah atas keinginanku! [Water Vortex]"
Serangan pembuka yang dikeluarkan oleh Sona adalah sihir elemen air yang tidak memiliki kekuatan destruktif tinggi, ia menggunakan air sebagai media sihir untuk menciptakan pusaran sedang dan menyapunya ke kumpulan direwolf. Beberapa dari mereka berhasil menghindar, namun banyak diantaranya terseret masuk dan disapu ke udara. Efek lain dari sihir ini adalah pusing, dan berkat situasi ini para adventure bisa melakukan serangannya dengan lebih tangkas.
"Terimakasih Ojou-sama!"
"Ini kesempatan kita! Habisi mereka!"
Kotetsu merangsek maju dengan kecepatan tinggi pada kumpulan direwolf. Di sebelahnya kelompok adventure juga ikut bergerak, 5 orang dari mereka adalah petarung jarak dekat, sedangkan 1 adventure silver adalah penyihir.
Para Direwolf masih merasa pusing, tetapi banyak diantara mereka mulai menyeimbangkan posisinya yang goyah sebelum bentrokan terjadi.
Asuma menghadapi dua direwolf sekaligus, dengan kekuatannya sebagai petarung jarak dekat ... mereka tidak akan menjadi masalah. Gerakannya yang piawai menghindari serangan yang datang, dagger hitamnya memancarkan kilau metalik indah ketika bergerak dengan bebas menembus tubuh Direwolf di depannya.
"Grrr... Grrrr ... Grrr!"
Direwolf yang masih bertahan menggeram pada Asuma, memamerkan gigi tajam yang teraliri air liur menjijikkan. Matanya yang buas menjadi semakin menyeramkan ketika pupilnya menjadi merah darah dan gerakannya seolah menjadi lebih cepat beberapa kali lipat.
"Itu masuk keadaan [Rage―mengamuk]!?"
Beruntungnya Asuma bisa bereaksi atas perubahan sikap Direwolf, dia bermanuver melewati celah serangan si Direwolf tetapi dugaannya salah.
"Sona Ojou-sama!"
Sejak Direwolf tersebut tidak mengincar Asuma, dia lebih memilih menyerang Sona yang berada di barisan belakang. Jika dipikirkan dengan cermat, ketika monster masuk ke keadaan [mengamuk] mereka menjadi sangat berbahaya. Kekuatan, kecepatan, dan pertahanan mereka naik dua kali lipat. Namun di samping manfaat tersebut, ada kelemahan fatal yang menyertai yakni kehilangan fikiran sehingga dia hanya akan fokus pada satu musuh yang ada di depannya.
Itulah kenapa kejadian ini di luar perkiraan Asuma. Jika hewan yang masuk keadaan [Rage] kehilangan fikiran, kenapa dia malah menyerang Sona dan bukannya Asuma yang berada di hadapannya? Apakah ini semacam insting hewan untuk menghilangkan ancaman terbesar?
Tidak, sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu. Asuma harus bergerak―
"Dindingku adalah pertahanan yang solid. Tercipta atas air dan udara lalu terkumpul dalam keharmonisan cahaya, datang dan jawablah panggilanku! [Ice Wall]!"
Direwolf yang menerjang ke arah Sona menghantam dinding es selebar 2 meter yang tercipta dari ketiadaan. Bunyi tabrakan tersebut cukup keras di telinga dan momentum serangan Direwolf membuat dinding es bergetar pelan. Namun dengan satu tarikan nafas, Sona memutar tongkat sihirnya sambil membaca mantra sihir lainnya.
"Tumbuh dan mekarlah dalam keindahan alam. Air yang menghujani cahaya dewi lalu menjadi bernoda akan dosa si anak bungsu, cabik dan balaskan dendamnya! [Ice spines from retaliation]!"
Belasan duri es mencuat dari dinding es milik Sona, memanjang dan terus memanjang sampai menembus tubuh si Direwolf yang malang. Melihat tindakan Sona yang terampil Asuma menghembuskan nafas tertekan, rasanya percuma saja dia khawatir pada putri bangsawan tersebut. Kemampuannya memang seperti yang dirumorkan. Ketika menghadapi keadaan kritis ia sama sekali tidak panik dan tetap tenang memikirkan langkah selanjutnya. Itu adalah kekuatan dari si Badai Es.
Dalam beberapa detik, dentingan logam yang bertabrakan dengan taring dan cakar terdengar lebih keras. Para petarung jarak dekat kesulitan ketika harus berhadapan dengan serigala yang besarnya mencapai 1 meter, namun berkat bantuan dari Sona dan penyihir lainnya pertempuran menjadi lebih mudah.
Seekor Direwolf memisahkan diri dari kawanan, ia menarik nafas dalam sebelum moncongnya membentuk sudut layaknya lolongan. Itu adalah [Last Howling], kemampuan Direwolf yang sangat merepotkan.
Sona berusaha merapal mantra serangan untuk menghentikan proses pengaktifan kemampuan, tapi dia tidak akan sempat.
"Asuma! Di sana!"
"Baik."
Bahkan dengan kecepatannya sebagai seorang petarung jarak dekat tidak mungkin bagi Asuma menutup jarak 10 meter dalam sepersekian detik. Tapi ia tetap tenang dan melemparkan salah satu pisau miliknya membelah angin tepat menuju ke tubuh si Direwolf. Serangan tersebut memang tidak cukup dalam untuk membunuhnya, namun cukup untuk membatalkan pengaktifan kemampuan si Direwolf. Tanpa membuang waktu lagi, Asuma menebas secara horizontal dagger di tangan lainnya.
Crasssh ...
Dengan serangan penutup dari Asuma, pertarungan berhasil dimenangkan.
Kotetsu bernafas penuh kelegaan sambil mengusap keringat di dahinya. Ia sudah menjadi Adventure untuk waktu yang lama, tetapi menghadapi penyergapan dengan jumlah yang sebanding dengan 1:2 tetap membuatnya tegang. Jika dia sendirian dalam situasi tadi, sudah pasti dia tidak akan selamat. Syukurlah keadaan tidak menjadi lebih buruk dan dia berterimakasih atas hal itu.
"Kupikir aku akan mati hahahaha ..."
"Kau itu terlalu pesimis, Kotetsu." Asuma berjalan ke sampingnya dengan canteen air di tangannya yang di ulurkan pada Kotetsu, "Kita istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan."
"Hai, terima kasih Asuma-san."
"Ya," Asuma lalu berjongkok dan memperhatikan tumpukan Direwolf di depannya. Tak lama kemudian seorang Adventure yang disewa oleh Asuma mendekat, dia adalah Robb.
"Asuma-san, apa Asuma-san berpikir ada yang aneh?"
Pria paruh baya itu menoleh ke Robb seraya menghisap rokok favoritnya, ia tidak langsung menjawab tapi tetap memperhatikan tumpukan direwolf itu. Setelah menghembuskan nafas panjang bersama kepulan asap rokok dia menjawabnya, "Tidak mungkin aku merasa tidak aneh `kan? Direwolf adalah monster yang tinggal di daerah pegunungan dimana iklimnya dingin. Mereka memiliki sistem adaptasi yang bagus pada suhu rendah dan tidak akan mengherankan jika mereka turun gunung ketika musim dingin tiba. Tetapi sekarang adalah musim panas dan yang lebih aneh adalah tidak adanya daerah pegunungan di dekat sini." Jelas Asuma sambil terus memperhatikan mayat-mayat Direwolf.
Robb mengangguk, "Aku juga berpikir begitu," Ia kemudian membuat ekspresi parah di wajahnya, "Mungkinkah ada gejala tertentu yang menyebabkan Direwolf muncul disini?"
Maksud dari gejala tertentu memiliki banyak artian. Biasanya mereka dihubungkan dengan kemunculan monster kuat, perubahan cuaca yang tidak terkirakan, migrasi ke tempat yang lebih baik, dan kedatangan demon. Menafsirkan dari ekspresi Robb yang sulit, Asuma hanya berdoa semoga hal yang mengerikan tidak terjadi.
"Kita tidak tahu dan informasi yang kita punya sangat sedikit. Untuk sekarang aku akan mengirimkan pesan ke kerajaan dan kita lanjutkan perjalanan ke Alardfell."
"Ha'i."
Semoga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
.
.
.
[Naruto Pov]
"Terimakasih atas kerja kerasnya, Naruto!"
"Sama-sama, Obaa-san."
Aku membalas ucapan bibi di depanku sebelum berpamitan untuk pulang. Hari ini aku membantu orang tuaku memanen sebagian sayur dan menjualnya ke obaa-san yang biasa membelinya. Jujur saja, aku sebenarnya bukan anak yang sopan di kehidupanku dulu. Entah itu ketika menjadi orang tidak berguna ataupun saat nyawaku sudah di ujung tanduk, aku tidak cocok dengan sikap yang sopan. Namun menghormati yang lebih tua itu sangat penting sehingga aku tidak punya pilihan lain.
Nah kemudian, beberapa hari ini aku sudah meluangkan sedikit waktu untuk meneliti sihir baru, jadi aku pikir ini saat yang tepat untuk mencobanya. Di kehidupan ku sebelumnya, aku mempelajari tentang teknik pedang dengan tubuh dan instingku sehingga ini berubah menjadi masalah pada keadaanku sekarang.
Aku memang dapat menggunakan insting dan pengalaman untuk menggunakan skill-skill ku sebelumnya. Namun tubuhku tidak sekuat itu sehingga teknik berpedangku memiliki batasan yang sangat jelas. Untuk mensiasatinya aku perlu mempelajari sihir yang dulu selalu kujadikan sebagai prioritas rendah. Ironis ...
Setelah cukup jauh aku berjalan. Aku masuk ke dalam hutan yang berada di pinggiran desa Alardfell. Tidak banyak hewan yang aktif di malam hari, sebagian besar dari mereka adalah monster level rendah yang mencari makan dan yang lainnya hanya hewan noktural biasa. Untuk diriku sendiri, latihan yang paling bagus adalah melalui pertarungan. Aku tidak menganjurkan hal ini karena bahayanya cukup besar. Tapi demi membiasakan tubuh dalam pertarungan yang asli ini sangat diperlukan.
"Bahkan jika aku ingin mencari monster yang sesuai ..."
Gyuut ... Gyuut ...
Suara ini ...
Aku menoleh ke celah yang tercipta di antara bebatuan. Di antara celah tersebut sesuatu bergerak pelan seperti hewan avertebrata, warnanya abu-abu dengan bentuk cair seperti jelly. Ah ... ini Slime stone.
Dari pengetahuanku, Slime memiliki banyak jenis berdasarkan warna. Yang kuning mengandung zat asam korosif, yg hijau berarti racun, merah tentu saja panas, biru adalah dingin, dan abu-abu adalah slime stone. Jika kita membicarakan tentang Slime stone, maka ada ciri khusus yang membedakannya dari slime lain. Berbanding terbalik dengan struktur tubuhnya yang lentur seperti jelly, Slime Stone sebenarnya memiliki tubuh yang keras. Spesialisnya adalah pertahanan yang elastis.
"Jadi mari kita coba ..."
Slime stone memiliki pertahanan yang bagus. Aku tidak bisa secara sembarangan menyerang tubuhnya tanpa tahu lokasi corenya. Tapi jika aku menggunakannya untuk latihan ... itu akan sempurna.
Tik!
Aku menjentikkan jariku dan udara di depanku seolah meledak dengan suara nyaring. Shockwave dari seranganku menghantam slime stone dan mementalkannya ke belakang. Tetapi serangan seperti itu tidak akan bisa digunakan untuk menghabisi lawan, jadi aku segera berlari sambil merapalkan mantra lainnya.
"Stärken, schärfen, behalten." (Memperkuat, mempertajam, mempertahankan.)
Lingkaran sihir dengan berbagai aksara dan numberik muncul di depan tangan kananku dan bergerak melewatinya. Bagian tanganku yang terlewati oleh lingkaran sihir seolah mengeras layaknya batu, sulit di gerakkan, dan kaku. Perasaan ini cukup nostalgia karena ini adalah sihir yang aku gunakan ketika baru mengenal sihir di kehidupanku dulu. Yah ... tapi ada sedikit perbedaan. Di kehidupanku dulu aku menggunakannya untuk mengeraskan pedang atau sejenisnya dan bukannya pada anggota tubuhku sendiri. Jadi ini adalah pertama kalinya.
Aku mempertajam fokusku pada Slime Stone yang masih terdiam karena efek hantaman. Saat jarakku sudah cukup dekat untuk melancarkan serangan, Slime tersebut mengubah bentuknya menjadi lebih lebar bersiap melahapku. Namun itu tidak akan menghentikanku ...
Jleeeb ...
Tanganku menembus tubuh Slime tanpa kendala. Ketika menyerangnya, aku telah memperkirakan tempat dimana corenya berada dan dapat ku dengar sesuatu yang pecah di dalam tubuh Slime Stone. Aku cabut tanganku yang terlumuri lendir coklat lengket.
"Bahkan jika aku menggunakan sihirku pada Slime Stone, aku tidak tahu seberapa bagus kinerjanya secara umum. Tapi jika aku membandingkannya dengan monster di kehidupanku dulu ... ini sangat tidak memuaskan. Aku harus menaikkan kinerjanya lagi." Ujarku setelah membersihkan sisa-sisa slime dari tanganku.
Ini belum cukup ... kalau ingin mendapatkan hasil yang maksimal maka aku harus terus melakukan trial dan error.
Tadi aku sudah bilang pada Kaa-san kalau kalau aku akan main ke rumah teman jadi pulang agak telat, seharusnya tidak akan masalah jika aku melanjutkannya sampai 2 jam lagi.
Yosh ... ayo kita coba lagi.
[To Be Continue]
A/N: Yang ngikutin cerita sebelumnya mungkin sudah tahu siapa Thearesia. Tetapi bagi yang belum tahu bisa search gimana penampilan Thearesia di google dengan keyword Thearesia Van Astrea. Sedangkan untuk Robb, dia hanya OC ... tapi mungkin ada yg gak asing sama nama ini? :3
Alasan dari re-make cerita ini adalah, karena memasukkan unsur game menurutku akan memiliki banyak batasan pada perkembangan cerita sehingga Author pikir akan lebih merubahnya jadi begini. Andai kata ini lebih buruk dari yang sebelumnya, Author minta maaf.
Mungkin itu aja, terimakasih untuk yang sudah mau membaca cerita ini.
