[Sudut Pandang Naruto, di kehidupan sebelumnya]

Nafasku sesak dan tubuhku lemah. Aku tidak tahu dimana ini, pandanganku sudah nyaris hilang karena darah sejak beberapa saat lalu dan hanya keinginan murni yang menopangku untuk maju. Aku tidak ingin mati, aku belum boleh mati, aku akan terus hidup tidak peduli apa. Bahkan ketika indraku mulai mati, hanya berpikir kalau aku maju akan terus membuatku bertahan.

Pada saat itu, aku sudah mendekati batas. Udara dingin yang bertiup di gunung salju semakin mengikis kesadaranku disetiap terpaan. Pikiranku menolak untuk menyerah, namun tubuhku berkhianat. Aku ambruk di tanah bersalju namun sebuah tangan menopang tubuhku. Aku tidak melihat dengan jelas sosok yang membantuku, sekilas aku berpikir kalau itu adalah monster yang menghuni gunung terlarang ini.

"Anak yang malang, apa yang terjadi padamu?"

Itu adalah suara perempuan. Dengan intonasi yang tenang bercampur kekhawatiran, aku pikir itu seperti suara nenek-nenek. Ingin aku menjawab pertanyaannya, tetapi tidak ada yang keluar dari mulutku. Tenggorokanku sakit, aku kehausan. Beberapa saat lalu aku mencoba memakan salju untuk melepaskan dahaga. Tapi itu malah menjadi lebih buruk.

"Jangan khawatir ... istirahatlah ..."

Mungkin karena mental dan fisikku telah mencapai batasnya, kesadaranku menghilang berkat kata-kata nenek tersebut. Dia adalah orang asing, seseorang yang tak mungkin dapat aku percaya pada pertemuan pertama kami. Tetapi aku sudah kelelahan dan hatiku memaksa untuk mempercayai kata-katanya ... jadi aku pun memejamkan mataku dan kehilangan kesadaran.

.

Aku terbangun dengan perasaan menenangkan. Tidak ada udara dingin atau keputus asaan menjelang akhir hayat. Yang aku rasakan hanya kehangatan. Ini seperti mimpi dan mungkin memang mimpi. Apakah aku mati dan disini lah akhirat itu? Kelihatannya tidak buruk.

"!?"

Siapa gadis itu?

Figur kasual dengan rambut hitam berpakaian seragam maid. Mimik wajahnya polos dan menatapku dengan seksama. Dia sangat cantik apalagi dengan tingginya yang semampai. Jika dia pergi ke kota, ku yakin banyak laki-laki yang akan meliriknya dengan mata terpesona dan banyak perempuan yang akan iri padanya. Seperti itulah eksistensinya. Tapi aneh ... bagaimana pun aku melihat kecantikannya, aku tidak merasakan sesuatu padanya. Aku akui dia cantik, tapi ada perasaan aneh padanya.

"Automata?"

Mata gadis itu menatapku dengan tajam. Atmosfir normal disekitarnya sudah berubah dan dia berbalik keluar pintu. Beneran Automata!? Dia sangat mirip dengan manusia.

Aku memperhatikan ruangan tempatku berada. Dindingnya berwarna coklat bermotif seperti papan kayu, tapi dari instuisiku dapat dikatakan kalau itu adalah material yang keras melebihi besi. Aku tidak pernah melihat yang seperti ini.

Ketika aku memperhatikan sekitar, pintu ruangan kembali terbuka. Kali ini yang masuk tidak hanya Automata berambut hitam tapi ada juga sosok lain, seorang nenek dengan wajah tenang dan rambut yang sudah menua. Dia yang menyelamatkanku bukan?

"Akhirnya kau bangun juga anak muda, bagaimana keadaanmu?"

Itu benar-benar dia. Suaranya sama seperti orang yang sudah menyelamatkanku.

"Terima kasih sudah menyelamatkanku!"

Aku tidak boleh sombong, tidak ada yang namanya kesempurnaan. Aku tidak ingin menjadi diriku yang dulu, aku ingin berubah.

Aku menundukkan kepalaku dan membungkuk walau sedikit sulit karena posisi kakiku yang terlentang di kasur. Tidak peduli bagaimana sakitnya, aku ingin menunjukkan rasa terima kasihku yang tulus. Aku sudah putus asa, kupikir aku akan mati saat itu juga. Tapi nenek ini menyelamatkanku.

"Anak muda, jangan memaksakan dirimu. Tubuhmu masih belum sembuh."

"Tapi nenek sudah menyelamatkanku dan akan sangat tidak sopan jika aku tidak berterima kasih. Jadi tolong, terima rasa terima kasihku."

Nenek tidak merespon. Tapi bahuku merasakan sentuhan yang menenangkan. Ku lihat sosok nenek yang menyembulkan senyum damai. Dia sejenak menoleh pada Automata yang sejak awal ada disana. Walau kelihatan tidak suka, Automata itu menganggukkan kepalanya. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, apakah itu semacam isyarat?

Nenek kemudian berfokus kembali padaku, "Namaku adalah Adrianna Baleora Cecil, siapa namamu anak muda?"

"Aku Namikaze Naruto."

Itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengan dia, nenek Adrianna.


[Sudut Pandang Normal, di masa sekarang]

Alardfell, sebuah desa dekat perbatasan kerajaan Victorius yang sebagian besar penghuninya bermata pencaharian sebagai farmer. Desa kecil ini memiliki tanah subur dan lokasi yang strategis dimana dalam beberapa kilometer darinya bukit-bukit tinggi membentang, menjadikannya tempat berlindung yang cocok dari serangan monster. Bahkan jika pun ada monster yang mendekati desa, para Adventure akan dengan senang hati menahlukkan mereka.

Dalam sejarah yang tertulis di buku-buku, Alardfell hanya 3 kali menerima serangan besar. Serangan pertama dilakukan oleh sekelompok Worm Dragon yang sedang bermigrasi. Serangan kedua berasal dari prajurit kerajaan lain yang melakukan invasi, dan ketiga adalah ulah dari pasukan Demon beberapa dekade silam.

Kejadian-kejadian tersebut sudah berlalu cukup lama hingga generasi saat ini tidak mengingatnya lagi. Dengan suasana desa yang penuh akan kehidupan, tidak mungkin ada yang bisa menyalahkannya. Terutama pada hari ini, ketika sebuah even akbar terselenggara di seluruh desa kerajaan, Pembabtisan Elemen.

Umumnya Pembabtisan Elemen hanya dilakukan ketika diadakan perekrutan murid baru untuk sekolah sihir kerajaan dan hanya berlaku untuk jarak umur tertentu. Tetapi pada kesempatan kali ini kerajaan mengadakan even tersebut untuk seluruh rakyatnya entah itu muda, dewasa, atau pun tua ... mereka diperbolehkan mengikutinya.

Dan berkat hal ini pula, Pembabtisan Elemen yang seharusnya merupakan survei rahasia berubah menjadi festival dadakan. Desa terpencil dan tidak mempunyai akses terjangkau datang ke Alardfell untuk melakukan Pembabtisan Elemen. Dan karena hal ini pula, Alardfell menjadi sangat ramai.

Tazuna yang merupakan kepala desa Alardfell menyambut hangat hal ini dan menambahkan hiburan ke acara tersebut. Bunyi tabuhan gendang terdengar berdampingan dengan sorak sorai penuh kehidupan di jalan-jalan desa. Semua orang bersemangat sampai lupa alasan diadakan festival ini. Setidaknya, banyak dari mereka merasa bahagia kecuali untuk beberapa orang. Salah satunya adalah Sona.

Sona melihat pemandangan ini dengan perasaan tertekan. Sebagai panitia Pembabtisan, keramaian ini hanya pertanda buruk baginya.

"Ini terlalu banyak!" Sona mengeluh. Kerumunan orang ini terlalu berlebihan. Dia sempat tidak percaya ketika Tazuna mengatakan semua orang yang ada disini ingin melakukan Pembabtisan Elemen. Tapi dihadapkan pada kenyataan kejam ini, Sona langsung merasakan depresi tidak wajar untuk anak umur 13 tahun.

'Apa kesalahanku Dewi Alsuna?' Ratap Sona dalam hati.

Di sisi lain, meskipun tidak menunjukkan ekspresi berarti di wajah tenangnya, Asuma juga memiliki tetesan keringat dingin di pelipisnya. Dia telah mendengar bahwa panitia penyelenggara lain setidaknya memiliki sekitar 10 orang personil di satu wilayah untuk membantu dan itu masih sangat kurang. Jadi inikah alasannya ...

Lalu mengapa hanya dirinya dan Sona Sitri yang ditugaskan!? Apakah ini masalah kekurangan personil yang pernah disinggung oleh raja!? Karena dewi Alsuna yang merencanakan hal ini? Atau karena rekan-rekannya ingin mengerjainya?!

Asuma tidak bisa memikirkan satupun alasan yang masuk akal atas hal ini. Dia tidak ingin memikirkannya dan jika diteruskan mungkin saja Asuma akan berakhir sama seperti Sona ―tertekan. Disini dialah yang menjadi pemimpin, dia tidak boleh menunjukkan kelemahan di depan Sona dan lainnya walau hanya sedikit atau itu akan menurunkan mental mereka.

"Tidak apa-apa Sona Ojou-sama. Lakukan saja yang bisa kita kita lakukan, jika kita berpikiran positif mungkin kita tak akan menyadari kalau semuanya sudah selesai ... mungkin ..." Ucap Asuma dengan maksud menenangkan, namun kata terakhir dari perkataannya seolah memberikan keraguan tersendiri atas pernyataannya.

Sona tidak bisa merasa tenang. Namun meski demikian, dia harus melakukan ini. Semakin cepat mereka melakukannya, maka semakin cepat pula ini akan selesai ... mungkin ...

"Sudahlah! Aku tidak peduli lagi! Ayo kita lakukan!" Seru Sona putus asa.

"Itu baru namanya semangat Sona Ojou-sama!"

Mau tidak mau Asuma juga memberikan dorongan motivasi. Untuk kebaikan Sona dan dirinya sendiri.

"Kalau begitu biar saya antarkan kalian ke tempat penyelenggaraan Test. Karena desa kami tidak memiliki lapangan luas dengan fasilitas memadai, maka para tetua memutuskan untuk menjadikan balai desa sebagai pilihan terbaik." Ujar Tazuna dengan senyum cerah di wajah tuanya.

Sona melirik tajam Tazuna dari sudut matanya, 'Kau pasti senang dengan keramaian ini,' batinnya.

Tak mau membuang-buang waktu, Sona dan Asuma berjalan menuju balai desa dengan Tazuna sebagai pemandu dan para adventure sebagai bagasi berjalan. Para penduduk yang mengenali wajah Tazuna segera memberi jalan untuk lewat, membuat ruang yang muat untuk mereka semua walau harus berdesak-desakan dengan orang lain.

Banyak dari penduduk itu menunduk ketika melihat sosok Sona, gadis kecil dengan perawakan cantik walau masih anak-anak cukup untuk menunjukkan kalau dirinya bukan berasal dari kalangan biasa. Jubah dengan dekorasi daun emas juga menjadi bukti nyata bahwa dia adalah orang penting di kerajaan, seorang keturunan bangsawan.

Sona melewati masa manusia dengan tenang. Matanya fokus ke depan dan mengabaikan tatapan yang tertuju padanya. Dia adalah seorang bangsawan yang dididik untuk berpikir kalau rakyat jelata memiliki derajat lebih rendah darinya sehingga bersikap tinggi hati adalah hal yang normal. Namun dia tidak sebodoh itu, bersikap sombong itu memiliki tempat dan situasi tersendiri. Dan disini, dimana dia harus berinteraksi dengan banyak orang kelas rendah ... bersikap buruk hanya akan membuat dia menderita.

'Aku ingin ini semua cepat berakhir.' Sona tetap putus asa.

Mereka pun berhenti di tanah lapang dengan bangunan tradisional di tengah-tengahnya, Asuma memperhatikan dengan decak kagum bangunan yang terbuat dari batang kayu coklat sebagai dinding dan kulit kayu alfon sebagai atapnya, arsitektur yang kuno namun kental akan tradisi itu sangat berbeda dengan perumahan warga yang umumnya dibangun dari batu bata. Meski memiliki bentuk yang sedikit kuno, besar bangunan itu sendiri sudah melebihi besar dua rumah standar.

Asuma dan party kemudian dipandu ke dalam bangunan oleh Tazuna. Ruangan di dalam sana cukup luas. Mungkin karena barang-barang yang tidak diperlukan sudah dipindahkan ke tempat lain sehingga tempat ini bisa digunakan dengan maksimal untuk pembabtisan elemen.

Asuma mengangguk dalam lalu memerintahkan robb dan penduduk di sekelilingnya ikut membantu mempersiapkan peralatan Pembabtisan. Untuk merekrut murid baru ke sekolah sihir biasanya dilakukan 2 test.

Test pertama ialah Pembabtisan Elemen guna menentukan seberapa besar potensinya, test ini adalah yang terpenting karena menentukan pantas tidaknya seseorang masuk sekolah sihir berdasarkan kepadatan mana-nya. Pada test ini juga terdapat syarat minimum untuk diterima yakni kepadatan mana setidaknya harus ada di nilai 150. Jadi bisa dikatakan kalau sekolah sihir Hanya menerima mereka yang memiliki potensi sihir di atas rata-rata orang biasa. Para pecundang yang memiliki sedikit kepadatan mana tidak akan diterima. Ngomong-ngomong ... kepadatan mana milik Sona adalah 600.

Lalu Test kedua adalah praktek. Calon murid akan di berikan beberapa sasaran untuk melakukan test, mereka diwajibkan menggunakan sihir terkuat atau spesialis untuk hasil yang maksimal. Pada test kedua panitia akan menilai divisi mana yang harus dimasuki berdasarkan sihir si calon murid.

Namun tugas Sona dan Asuma bukanlah merekrut murid, sehingga test kedua tidak mungkin dilakukan. Mereka hanya menentukan elemen apa yang dimiliki dan jumlah kepadatan mana lalu mendatanya untuk diberikan pada pihak administrasi kerajaan.

Sona berjalan menuju kotak yang sempat dibawa oleh Robb, dia membuka dan mengambil isi di dalamnya. 8 buah kristal bening berbentuk bola dengan kilatan-kilatan bagai petir di dalamnya. Mereka adalah Arch Stone, item khusus yang dapat mengidentifikasi elemen dengan keakuratan tinggi.

"Dan sinilah kita akan mulai bekerja, jangan ada yang malas-malasan." Ujar Sona pada yang lain.

"Hai!"

Dengan sigap mereka menata ruangan sedemikian rupa hingga terlihat cukup nyaman untuk para penguji. Dan bersamaan dengan teriakan Tazuna 'Test dimulai', penderitaan Sona dan party juga ikut dimulai.

.

.

.

"Nii-san beneran tidak mau ke balai desa?"

"Iya."

Entah sudah berapa kali Naruto menjawab pertanyaan yang sama dari adiknya, dia tidak bisa menghitungnya lagi. Sejak sarapan, Thearesia terus menanyainya. Mungkin karena balai kota sekarang sedang ramai akan orang yang bersenang-senang, sedangkan mereka malah disini ... di kebun keluarganya untuk membantu merawat tanaman.

"Aku tidak pergi Thea-chan. Kalau ingin pergi, Tou-san pasti mau menemani Thea-chan." Tambah Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya.

"Mumumumu ..."

Naruto tidak mengerti, kalau memang Thearesia ingin pergi harusnya dia bersama dengan Tou-san atau Kaa-san. Itu lebih mudah, lagipula Minato tidak mungkin menolak permintaan anak bungsunya sendiri. Bagaimanapun, dalam sudut pandang Naruto ... Thearesia adalah anak yang sangat disayang oleh mereka, bahkan kasih sayangnya melebihi yang diberikan pada Naruto.

Lalu kenapa dia malah sangat ingin pergi dengan kakak tidak berguna sepertinya?

"Tapi-tapi ... tapi Thea-chan ingin pergi dengan Nii-san ..." Ujar Thearesia dengan kepala menunduk sedih. Naruto melihat tingkah adiknya dengan alis merajut.

'Apa Thea-chan tidak ingin membuatku terkucilkan, jadi dia mengajakku juga? Itu mungkin yang dipikirkannya ... Tapi yah, dia benar-benar adik yang baik.' Ucap Naruto dalam hati.

Dengan menghembuskan nafas pasrah, Naruto menyerah atas permintaan adiknya. "Baik, Nii-san akan menemani Thea-chan ke balai kota. Tapi hanya setelah makan siang. Bagaimana?"

"Benarkah!? Benarkah!? Benarkah!?" Tanya Thearesia secara beruntun. Dari nada bicaranya yang tidak biasa, Naruto dapat merasakan sedikit ketidak sabaran. Tetapi ia mengabaikannya dan mengangguk sebagai jawaban.

"Yeeeeaay~! Terimakasih Nii-san~!"

Tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya, Thearesia berteriak penuh semangat sambil memeluk kakaknya erat tanpa sadar. Naruto tersenyum masam melihat adiknya, 'Seharusnya aku yang berterima kasih.'

Ini tidak seperti Naruto memiliki perasaan khusus pada adiknya. Dia hanya berpikir kalau Thearesia merasa kasihan pada Naruto dan mengajaknya untuk menghibur diri, tidak lebih dari itu. Meski tidak disadari, Thearesia mungkin punya maksud yang berbeda dengan Naruto.

"Jadi habis makan siang `kan?"

"Iya."

"Okay, kalau begitu Thea-chan pulang duluan."

"Ha? Kenapa?" Naruto menyuarakan keberatannya tanpa sadar.

"Tentu saja untuk memberitahu Kaa-san!"

"Tidak-tidak, aku mengerti. Tapi kita belum selesai disini. Masih banyak yang harus dikerjakan."

"Tidak mau, week!" Thearesia pergi sambil menjulurkan lidahnya pada Naruto dengan maksud mengejek. Naruto memiringkan kepalanya dan mengerti akan sesuatu.

"Tunggu, jangan-jangan Kaa-san!?"

Thearesia cekikikan melihat kakaknya yang baru sadar, dia lalu melambaikan tangannya dan berlari secepat mungkin. "Pokoknya habis makan siang!" Tuntutnya sebelum menghilang dari bidang penglihatan Naruto.

Ekspresi Naruto berubah masam, 'Dasar.'

Dia berjongkok kembali melanjutkan kegiatannya. Sekilas apa yang dilakukannya adalah merawat tanaman dengan memberi pupuk dan mencabuti rumput liar. Tetapi pikiran Naruto jelas terbang jauh dari sana. Kepalanya tidak berhenti merakit berbagai rumus numberik yang tepat di otaknya. Beberapa kesalahan membuat Naruto menerima counter berupa pusing, tetapi dia tetap melanjutkannya seolah sakit kepalanya bukan apa-apa.

"[Appraisal]"

Menggumamkan nama sihir yang sedang ia rakit, Naruto mencoba menciptakan fenomena berdasarkan rumus yang ia rakit.

[Weed]

Rumput liar yang bisa ditemukan dimana saja.

"Ini cukup."

Sihir penganalisa.

Dulu Naruto menggunakan sihir ini untuk mencari informasi berdasarkan berbagai variabel yang berkaitan dengan subyek. Dengan menggunakan rumus numberik ia juga berhasil menciptakan sihir non-combat yang berguna dalam banyak hal. Salah satu maha karyanya adalah System, sebuah sihir penganalisa kompleks yang dibuat menyerupai game dari dunia lain. Meski tidak semirip dengan yang disebutkan oleh pahlawan dunia lain, System terbilang cukup maju.

Selain sihir numberik, Naruto juga mempelajari tentang Alkimia. Walau memiliki banyak kendala dalam pembuatannya, asalkan bahan yang dibutuhkan tersedia maka tidak ada batas untuk penciptaannya.

Mendapatkan hasil dari sekian banyak percobaan, Naruto beranjak pulang untuk makan siang dan pergi dengan Thearesia ke festival. Tidak banyak yang menarik minat Naruto, jadi dia hanya mengikuti Thearesia saja.

Sedangkan untuk Pembabtisan Elemen, Naruto tidak terlalu penasaran. Dia sudah memperkirakan beberapa hasil jika dia dan Thearesia mengikutinya. Karena yang Naruto punya saat ini adalah pengetahuan dan berbagai rumus sihir, pada dasarnya ia sudah mumpuni sebagai penyihir tingkat menengah. Tapi meskipun demikian, kepadatan sihir miliknya tidak berbeda dengan manusia rata-rata sehingga Arch Stone pasti menganggapnya tidak pantas. Hasil yang dimilikinya sangat berbeda dengan Thearesia yang dianggap sebagai genius. Percaya atau tidak, Thearesia memiliki kepadatan mana melebihi 800.

"Thea-chan ingin ikut pembabtisan elemen."

Naruto menoleh pada Thearesia yang menatapnya dengan penuh harap, Naruto menghela nafas pelan dan membelai surai merah Theareshia lembut. "Jangan hari ini."

"Kenapa tidak hari ini? Selagi kita di festival, Thea-chan juga ingin tahu elemennya."

"Thea-chan, dengarkan Nii-san. Ini adalah hari pertama dan semua orang dari desa lain datang kesini. Mereka menginginkan hal yang sama, pembabtisan elemen. Bisakah Thea-chan bayangkan berapa lama kita harus menunggu untuk melakukan test? Itu bisa berjam-jam. Jika kita menggunakan waktu itu untuk jalan-jalan dan melihat festival. Kira-kira mana yang Thea-chan pilih?"

"Jalan-jalan!" Sebuah jawaban spontan dari Thearesia.

Seringai tipis muncul di wajah Naruto.

"Kalau begitu, apalagi yang harus dibeli." Naruto melihat-lihat sekitarnya, di saat yang bersamaan Thearesia menunjuk stand yang menjajahkan makanan manis kesukaannya.

"Nii-san!"

Bahkan tanpa bertanya, Naruto tahu maksud adiknya.

"Hai."

"Yeay~"

Naruto dan Thearesia menghabiskan waktunya dengan puas. Mereka bermain dan membeli berbagai cemilan hingga kebahagiaan memenuhi dasar hatinya. Naruto tidak membenci ini, dia justru menyukainya karena dapat menghilangkan kelelahan secara mental sejak kembali ke masa lalu. Sedangkan untuk Thearesia, dia sangat jarang bermain dengan kakaknya jadi ini menjadi kesempatan yang langka.

Tak terasa, cahaya jingga sudah naik ke langit yang menandakan hari sudah sore.

"Lalu kita pulang sekarang," Ujar Naruto. Dia menggandeng Thearesia di sebelahnya agar tidak terpisah.

"Eh? Thea-chan masih ingin jalan-jalan."

"Tidak perlu terburu-buru, kan festivalnya masih akan ada sampai besok."

"Itu artinya Nii-san akan menemami Thea-chan lagi besok? Yeaaay~!"

"Tidak, tunggu ... dari mana kesimpulan itu berasal?" Tanya Naruto cengo.

"Hehehe~ Thea-chan kan anak pintar―"

Bruuk ...

"Aduh!"

Thearesia jatuh setelah ditabrak seseorang. Dia memegang pantatnya sambil meringis menahan sakit. Orang yang menabraknya pun bukannya meminta maaf malah melihat dengan seringai yang mengembang.

"Well~ Well~ Well~ Siapa yang kita punya disini? Namikaze bersaudara!" Seru orang atau mungkin bocah itu dengan nada mengejek. Tubuh tambun yang diimbangi dengan tinggi badannya membuat ia sulit dikategorikan sebagai anak-anak. Tetapi mengabaikan perbedaan fisiknya dengan Naruto, atmosfir yang dipancarkan jelas sekali milik anak-anak.

Naruto menganalisa anak tersebut, namanya Jirobo. Pembuat onar yang selalu menindas anak lain dengan fisik besarnya. Jirobo juga sering mengerjai dan menghajar Naruto di masa lalu. Jika Naruto yang dulu adalah anak menjengkelkan yang banyak omong, maka Jirobi adalah anak menjengkelkan yang banyak pakai otot.

"Ada apa Jirobo?" Tanya Naruto ringan setelah membantu Thearesia berdiri.

"Begini Naruto, kami kehabisan uang dan kelihatannya kalian punya banyak uang saat ini. Bagaimana kalau kau berbagi denganku? Setidaknya aku tidak akan memukulmu jika kau menurut." Jelas Jirobo dengan nada mengancam yang sangat jelas.

Dua anak buah yang berdiri di belakang Jirobo tertawa cekikikan. Entah apa yang lucu dari ucapan Jirobo, Naruto mengabaikan mereka.

"Anu, sebenarnya ... bukannya aku tidak mau. Tapi uang kami tinggal sedikit, jadi bagaimana? Kau tetap menginginkannya?" Tawar Naruto masih dengan nada ringan.

"Apa kau bercanda denganku!? Tadi aku melihatmu membeli banyak makanan, kau pikir aku buta?"

"Nah, itu maksudku. Karena sebagian besar uang kami sudah habis untuk belanja, jadi yang kami miliki hanya sisanya. Lalu apa kau masih mau menerimanya?"

"Nii-san!"

Thearesia tidak terima dengan keputusan Naruto. Itu adalah uang yang diberikan oleh orang tua mereka, mana mau Thearesia memberikannya pada orang brengsek seperti Jirobo.

Jirobo menghela nafas berat, "Berikan padaku." Walau Jirobo mengatakan kalau dia akan membiarkan Naruto pergi setelah menerima uangnya, Jirobo akan tetap memukuli Naruto untuk dijadikan peringatan kedepannya.

"Ini," Naruto melemparkan kantung uangnya tinggi-tinggi. Dia percaya Jirobo tidak akan melepaskannya dan dia pun yakin, siapa yang menyerang duluan adalah pemenangnya.

Menjadikan kantong uang sebagai pengalihan yang membuat Jirobo sadar tidak sadar memfokuskan perhatiannya ke atas, Naruto mengurangi jaraknya dengan Jirobo secepat mungkin dan menghantam selangkangannya dengan tendangan kuat.

Byaaaarrr!

Bruk ...

Jirobo nyaris tidak memahami apa yang baru saja terjadi. Dia berniat menangkap kantong uang yang dilemparkan oleh Naruto, lalu perasaan yang teramat sakit merambat dari selangkangannya, dan kesadarannya mendadak seolah terbang ke kegelapan.

"Jirobo-aniki!"

"Aniki!"

Dua anak buah Jirobo mencoba membangunkannya, tetapi Jirobo tetap pingsan dengan mata memutih dan busa tipis di tepi mulutnya.

"Ni-Nii-san, apa dia mati?" Thearesia bertanya ragu bercampur perasaan tidak enak.

Naruto menggeleng, "Dia masih hidup kok, hanya tidak sadarkan diri. Ayo!"

"Tapi ..."

Kedua saudara itu pun pergi meninggalkan tempat kejadian perkara tanpa memiliki perasaan bersalah ―terutama Naruto. Dia tidak peduli bagaimana keadaan Jirobo, semasa di kehidupannya dulu Jirobo selalu mengganggunya dan ketika monster menyerang desa, dia adalah orang yang paling cepat melarikan diri. Memperhatikan postur tubuhnya yang besar, Naruto punya semacam harapan padanya.

Menilai hari yang sudah mulai gelap, Naruto dan Thearesia pulang ke rumah tanpa melakukan pembabtisan elemen. Sebagai gantinya mereka akan melakukan pembabtisan besok, ketika kerumunan yang mengantri mulai berkurang.

30 menit kemudian Thearesia dan Naruto sampai di rumah. Ketika tiba, mereka tidak melihat cahaya dari dalam rumah. Merasakan keanehan, Naruto mengecek waktu berdasarkan cahaya bulan dan sisa cahaya matahari. Tidak ada kesalahan, ini sudah kisaran pukul 7 malam. Orang tua mereka seharusnya sudah ada di rumah.

"Aneh, ayah dan ibu sepertinya belum pulang." Ungkap Thearesia jujur.

"Iya."

Naruto merasakan keganjilan. Karena ingatan di masa lalunya sedikit kabur, Naruto hanya mengingat momen-momen tertentu yang sangat membekas. Seperti penyerangan monster, pembabtisan elemen, kondisi adiknya yang hancur, dan ...

Wajah Naruto menjadi pucat, sebuah kenangan yang tidak begitu dia ingat tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Itu kenangan yang buruk tapi dia sedikit tidak mempedulikannya dulu. Ia berusaha tenang dan mengajak Thearesia menuju rumah kenalan keluarganya, Ayame dan Teuchi jii-san.

Walau Thearesia penasaran dengan tindakan kakaknya. Ia tetap menjadi gadis yang baik dan mengikutinya.

"Naruto ada apa? Bukannya ini agak malam untuk berkunjung?"

Teuchi bertanya pada Naruto dan Thearesia yang mampir ke kedainya. Naruto tidak punya banyak waktu, dia terburu-buru tapi di saat bersamaan tidak ingin membuat Thearesia khawatir jadi dia tetap berusaha tenang.

"Tidak apa-apa paman Teuchi, aku ingin menitipkan Thearesia karena orang tua kami belum pulang."

"Minato dan Kushina belum pulang?"

Naruto mengangguk, "Iya, jadi aku akan mencarinya."

"Oi oi oi oi Naruto, ini sudah malam. Akan bahaya jika kau keluar sendirian, monster bisa menyerang kapan saja. Aku akan meminta bantuan penduduk desa untuk membantu mencari Minato dan Kushina."

"Aku mengerti. Tapi aku tidak bisa diam saja, jadi kumohon ... tolong jaga Thearesia selama aku pergi."

"Naruto― Oi dengarkan aku!"

Bahkan tanpa menunggu Teuchi menyelesaikan ucapannya, Naruto sudah berlari ke dalam kerumunan orang yang berjalan-jalan di festival. Teuchi tidak bisa tinggal diam, dia meminta beberapa pelanggan setianya untuk menjaga kedai bersama dengan Ayame dan Thearesia, sementara Teuchi sendiri memanggil penduduk setempat untuk membantu mencari orang tua Naruto.

Dia tidak memikirkannya dengan seksama, tetapi perasaannya cukup buruk.

"Onii-san."

.

.

.

'Buruk! Buruk! Buruk! Buruk! Buruk! Sialan! Padahal aku sudah kembali ke masa lalu, kenapa aku malah melupakannya!? Kau sangat naif Naruto!' Naruto terus memaki kebodohannya sambil berlari dengan kecepatan penuh, dia bisa menggunakan limit break dengan tubuhnya yang sekarang. Tapi karena beban fisik yang terjadi setelah efeknya menghilang, Naruto pikir itu hanya akan digunakan pada keadaan mendesak.

Sebenarnya Naruto juga sudah memikirkan beberapa gagasan mengenai sihir penguat tubuh di kehidupannya dulu. Tetapi karena keadaan yang terburu-buru Naruto tidak bisa menggunakan semua pengetahuannya secara optimal dan karena itu sihir yang dimilikinya hanya berfokus pada output dengan konsekuensi yang sebanding.

Naruto terus berlari seolah dengan pasti mengerti tujuannya. Ini bukan kali pertama dia melewati jalanan ini, jadi dia bisa dengan mudah melewati medannya. Ketika langkahnya semakin dekat dengan tujuan aslinya, sebuah suara geraman yang besar terdengar.

"Graaaa!"

Di sudut pandangannya, tempat yang merupakan kebun keluarganya. Disana Naruto melihat Kushina dan Minato, mereka memegang alat berkebun dengan ketegangan yang intens. Sedangkan di depan keduanya, sepasang beruang menggeram pada mereka dengan niat mengancam. Meskipun disebut sebagai beruang, tingginya sekitar 2 meter dengan 3 mata di kepalanya. Naruto tidak mungkin salah, itu adalah monster peringkat D―Three Eye Bear.

"Ayah! Ibu!"

Mungkin karena mendengar suara anaknya, Kushina dan Minato spontan menoleh pada Naruto dengan wajah terkejut bercampur pucat.

"Naruto ap-APA YANG KAU LAKUKAN? PERGI DARI SINI!"

"CEPAT PERGI!"

Dengan putus asa pasangan Namikaze itu mengusir Naruto. Tapi Naruto tidak begitu mempedulikannya. Dia sudah menjadi aib bagi keluarganya dan selama hidupnya hanya penyesalan yang ia punya. Jadi kali ini ... pada saat ini Naruto akan melakukan sesuatu yang di anggapnya benar dan memastikan tidak ada penyesalan di masa depan.

"Woi beruang bau! Jika kau bukan pengecut maka carilah lawan yang seimbang!"

Jujur saja, Naruto bukan lawan yang seimbang dari segi fisik.

"Kau serpihan kotoran monster!"

Dan dia juga tidak di umur yang cocok untuk berkata kasar.

Ucapan Naruto sukses memprovokasi dua beruang itu. Mereka segera mengalihkan target mereka pada Naruto dan mengabaikan Kushina beserta Minato yang memiliki ekspresi parah.

Dua monster itu berlari dengan empat kakinya. Naruto juga berbalik dan lari dengan kecepatan penuh menuju sisi lain desa, tempat yang sudah tidak asing baginya ―hutan. Dia berlari dengan segenap kekuatannya. Karena Naruto jarang melatih fisiknya selama beberapa minggu belakangan, kecepatan larinya tidak terlalu bagus. Dia akan tersusul, itu akan terjadi ketika daya tahan tubuhnya menurun.

Jika dia bertarung dalam konfrontasi langsung, Naruto akan kalah karena perbedaan fisik. Sedangkan untuk menggunakan [Stealt], Naruto tidak memiliki skill tersebut dan fakta dia ditargetkan menjadikan itu mustahil.

Maka!

Naruto mengerem mendadak ketika mereka memasuki area hutan. Kekuatan fisik antara manusia dan monster memang berbeda, tetapi Naruto bisa menaikkan presentase kemenangannya dengan sihir. Dan jika itu masih tidak menjamin kemenangannya, Naruto hanya harus melawan mereka satu persatu.

Karena Naruto berbalik arah secara mendadak, beruang bermata tiga mengira dia sudah menyerah. Jadi daripada menghentikan momentum larinya, dua beruang itu justru menambah kecepatan mereka. Saat jarak ketiganya kurang dari setengah meter, udara di depan mereka meledak dengan keras. Gelombang kejut yang tercipta diantara mereka saling menghempaskan satu sama lain. Tetapi Naruto yang menjadi dalang dari fenomena tersebut sudah mempersiapkan tindakan lanjutan. Kuda-kudanya mantap dan dengan posisi yang sudah diperkokoh, Naruto mengucapkan arianya.

"Stärken, schärfen, behalten." (Memperkuat, mempertajam, mempertahankan.)

Tangan kanan Naruto saling merapat membentuk ujung tombak. Itu bukan sihir yang masuk ke dalam keterampilan, tapi Naruto dapat menggunakannya dengan leluasa. Naruto sudah menggunakannya beberapa kali, jadi tidak ada masalah dalam penggunaannya.

Naruto berlari menembus awan debu tanpa kenal takut. Di depannya seekor beruang monster kehilangan posisinya karena ledakan barusan, dia masih kebingungan dan Naruto memanfaatkan momen tersebut. Tangannya melesat melewati bagian dada yang merupakan titik vital monster. Sama seperti ketika melawan Stone Slime, Naruto mengincar core yang merupakan jantung seekor monster. Perasaan ketika tangannya menembus daging tidak terlalu buruk, dia sudah terbiasa melakukannya. Tapi karena tangannya yang kecil, ada batasan seberapa kuat Naruto dapat menembusnya.

"Agak sulit karena kekuatan penetrasiku kurang. Tapi aku mendapatkannya ... sekarang [Shut Down]!"

Core atau biasa disebut sebagai Magic Crystal adalah batu langka yang biasa muncul dalam tubuh monster karena mana yang terkristalisasi. Item ini banyak digunakan dalam peralatan dan persenjataan karena berfungsi sebagai konduktor sihir yang baik sehingga harga jualnya lumayan tinggi. Tetapi ada beberapa kasus dimana Magic Crystal dapat tercipta di dungeon yang pada dasarnya memiliki konsentrasi mana tinggi. Terlepas dari itu semua, Magic Crystal adalah kumpulan mana terkristal yang berguna untuk mengalirkan mana ke seluruh tubuh monster, cara kerjanya sama seperti jantung. Ketika fungsi ini dinonaktifkan, maka monster akan mati.

Bagaimana pun, tidak ada manusia atau demon yang bisa melakukannya. Namun karena Naruto terbiasa dengan rumus dan sirkuit sihir, dia dapat melakukannya dalam skala tertentu. Meski dalam kondisinya sekarang dia harus memegang Magic Crystal secara langsung untuk melakukannya, di kehidupannya dulu Naruto dapat mematikan fungsi Magic Crystal dalam radius 20 meter.

Set ... Crassh!

Tangan kanan yang Naruto gunakan untuk menusuk tubuh monster beruang terputus dari tubuhnya. Ia kehilangan tangannya karena lengah, beruang lainnya tidak terlalu bodoh untuk mengabaikan kesempatan dimana tangan Naruto masih tertanam di tubuh temannya.

'Sial, penjagaanku menurun.'

Pendarahan hebat terjadi di lengan Naruto. Rasa sakit menjalar seperti sengatan listrik ke seluruh tubuh, itu mempengaruhi sistem saraf yang lain dan membuat gerakan menjadi tumpul. Berkat keadaan ini pula Naruto tidak bisa melakukan banyak gerakan karena darah bisa mengalir dengan deras dari sana. Ini adalah kesempatan emas untuk si monster beruang. Dia tidak akan menyia-nyiakannya. Mengabaikan teknik aneh yang digunakan Naruto untuk membunuh rekannya, beruang yang tersisa meraung penuh kemenangan.

"Graaaaa!"

Beruang bermata tiga mengayunkan cakarnya sekuat tenaga, tidak peduli apa pun di depannya, mereka terpotong menjadi dua. Jika melihat dari stuktur cakarnya yang terdiri dari 5 jari seharusnya serangan tersebut memberikan luka melintang berjumlah 5. Tapi dengan manipulasi angin sekitar, beruang bermata tiga dapat memberikan luka yang ketajamannya melebihi pedang besi. Dan Naruto menerima serangan tersebut. Tubuhnya terbelah dua dan organ pencernaannya tumpah keluar. Dari serangan tersebut darah merah mengalir seperti sungai. Tidak diragukan lagi. Itu kemenangan beruang bermata tiga ... atau begitu seharusnya.

'Kenapa?' Wajah beruang seolah mengatakan itu. Naruto adalah anak kecil, kekuatan dan refleknya tidak akan bisa menyamai orang dewasa apalagi beruang bermata tiga. Tapi mengkhianati fisiknya, dia dapat menghindar mudah seolah menduga serangan itu akan datang.

Naruto tidak memiliki energi sihir dan reflek seperti di kehidupannya dulu. Dia pun tidak bisa secara penuh mempercayai instingnya dalam pertarungan nyata. Tapi dibandingkan dengan semua itu, Naruto punya pemikiran yang tenang dan kemampuan menganalisis abnormal. Dia akan mencari informasi sebanyak mungkin dari musuh dengan memperhatikan banyak aspek. Postur tubuh, kontraksi otot, gerakan pupil mata, atmosfir sekitar, menebak pikirannya, dan kondisi lingkungan dalam jarak tertentu. Dari sudut pandang pihak ketiga, Naruto akan terlihat seperti membaca masa depan, tapi sebenarnya dia hanya melakukan pengamatan dan mengeksekusi aksi dalam perencanaan.

Beruang bermata tiga terus menyerang Naruto dengan gerakannya yang gesit. Kecepatan dan kekuatannya adalah curang, jika Naruto mengandalkan refleknya yang sekarang dia pasti akan mati hanya dalam beberapa menit tanpa keraguan. Tapi dengan metode pengamatannya yang abnormal, Naruto dapat mengambil tindakan setidaknya 3 detik sebelum gerakan di eksekusi. Itu waktu yang cukup untuk persiapan dalam penghindaran.

Di saat yang sama, Naruto mulai sulit bernafas dan tubuhnya melemah akibat kehilangan darah. Dia kelelahan dan sewaktu-waktu bisa ambruk karena anemia. Tetapi cahaya di mata shafirenya masih menyala terang. Dia berkonsentrasi pada setiap serangan yang datang. Tebasan, serudukan, cakaran. Pola serangan beruang bermata tiga tidak rumit. Mungkin karena kecerdasan yang dimilikinya tak lebih dari hewan biasa, apa yang dilakukannya terbilang sangat sederhana.

"Graaaaaa~!"

Kali ini beruang bermata tiga meraung sekeras-kerasnya, kejengkelan jelas muncul di wajah berbulunya. Setiap serangan yang dilancarkannya dapat dihindari, fakta itu saja sudah membuatnya sangat marah. Walau otaknya tidak memiliki kecerdasan standar, harga dirinya sebagai jenis monster terkuat di area ini tidak akan sirna. Dia menyerang, tapi dihindari, menyerang lagi, dan dihindari lagi. Tidak ada habisnya.

Pada akhirnya, kemarahan mencapai ubun-ubun. Dia tidak peduli lagi, walau memakan waktu beberapa detik beruang bermata tiga menghentikan serangannya. Dia memfokuskan semua energi yang dimilikinya di kedua cakarnya, itu akan menjadi besar. Serangan terkuat yang bisa dia gunakan, beruang bermata tiga mengayunkan cakarnya. Dari arah yang berlawanan dia bisa mendengar seseorang berteriak 'Awas!' dengan nyaring. Tapi tujuannya adalah anak di depannya.

"GRAAAAA~!"

Jleb!

Bukannya menerima serangan dari beruang bermata tiga, Naruto justru mendaratkan serangan di punggung si beruang. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah Magic Crystal yang merupakan kendali sihir. Sama seperti beruang satunya, Naruto mematikan fungsi Magic Crystal tanpa menghancurkannya.

Namun ...

Kekhawatiran Naruto bukanlah beruang bermata tiga lagi, melainkan gadis kecil berambut hitam di seberang sana.

"Sona ..."

Bruuk~!

Tanpa memiliki kekuatan di tubuhnya lagi, Naruto ambruk.


[Sudut Pandang Naruto, di kehidupan sebelumnya]

Pada hari itu aku mengetahui kalau Nenek Adrianna adalah seorang Magi Craftman. Sebuah profesi yang mengkhususkan diri pada penciptaan, penemuan, dan penelitian. Dia menciptakan banyak hal mengagumkan di waktu luangnya hingga bengkelnya dipenuhi dengan barang-barang. Aku mengagumi pekerjaannya. Itu hebat karena aku belum pernah bertemu dengan seorang Magi Craftman sebelumnya. Di kerajaan memang ada institut yang khusus mengajar para Magi Craftman, tapi karena spesialisasiku adalah pertarungan maka interaksiku dengan merasa sangat minim. Jadi tak bisa terbantu.

Hari ini, aku menemani nenek Adrianna ke bengkel kerjanya. Di belakang kami, sosok Automata yang beberapa hari lalu ku temui mengikuti kami, namanya Mio. Mio adalah Automata yang handal, dia dapat melakukan banyak pekerjaan yang lebih efisien ketimbang manusia normal dalam skala yang terlampau jauh.

Aku pernah diberi saran oleh Adrianna untuk bertarung melawan Mio. Kupikir itu aneh untuk bertarung dengan Mio mengingat dia adalah wanita, meskipun pada asalnya dia adalah Automata. Tapi secara bulat-bulat aku menelan semua ucapanku, kekuatannya adalah CHEAT! Apa-apaan dengan kekuatan mengerikan itu! Aku dilempar ratusan meter dengan satu tangannya!? Apa itu lelucon! Itu sama sekali tidak lucu tahu!

Aku ketakutan dan sejak itu aku merasa lebih seperti seekor tikus yang diawasi oleh singa. Mengerikan!

Oke. Untuk saat ini mari abaikan itu.

Nenek Adrianna mengambil beberapa Magic Crystal berwarna merah dari ruang hampa. Wow, itu sihir ruang? Ternyata Magi Craftman punya sesuatu semacam ini?

"Naruto, apa kau keberatan membantuku?"

"Tidak. Sama sekali tidak. Tapi sebenarnya apa yang akan nenek buat?"

"Untuk saat ini aku berpikir membuat Golem."

Sungguh! Aku akan diajak untuk membuat golem!? Hebat!

Tidak perlu ragu. Aku menerima Magic Crystal itu dengan senang hati.

"Naruto, apa kau mengerti garis besar dalam menciptakan golem?"

"Aku tidak tahu. Yang biasa ku lakukan adalah berlatih dan meneliti sihir. Meski Golem juga termasuk dalam ruang lingkup sihir, metode yang digunakannya agak berbeda dengan sihir pada umumnya. Jadi aku kurang pandai dalam penciptaannya."

"Maka kemudian, aku akan menjelaskan beberapa bagian. Pertama, untuk menciptakan sesuatu biasanya memerlukan referensi tertentu untuk melakukannya. Aku biasa menggunakan manusia sebagai referensi karena fungsi tubuh kita sangat seimbang dibanding makhluk lainnya. Tapi ini tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan referensi lain jika memungkinkan."

"Apa itu artinya kita bisa menggunakan hewan sebagai perbandingan?"

"Benar."

"Lalu bagaimana kalau kita menciptakan sesuatu yang benar-benar baru tanpa mengambil referensi yang ada?"

"Asalkan kau memiliki gambaran kasar dan perhitungan yang tepat. Tentu saja itu bisa dilakukan. Jadi ke tahap selanjutnya?"

Aku mengangguk.

"Lalu untuk bagian dalam ..."

Nenek Adrianna kemudian menjelaskan tentang bagian-bagian terpenting golem. Yang pertama adalah Control Core, ini diciptakan untuk menggantikan fungsi otak. Jadi di dalam Control Core ini segala ingatan, program, dan pengetahuan disisipkan. Itu logika yang masuk akal untukku. Dan karena penulisan rumusnya berasal dari aksara kuno, aku sedikit kesulitan mempelajarinya. Nanti aku harus meminjam buku dari perpustakaan nenek Adrianna.

Lalu sebagai bahan bakar tidak digunakan mana dari Magic Crystal. Sebaliknya, Magic Crystal justru digunakan sebagai media untuk menarik eter (semacam zat tidak nampak yang ada di udara) yang kemudian di konvert sebagai mana terus dikirimkan pada mesin yang disebut ManaDrive, dari mesin ini lah mana kemudian didistribusikan ke seluruh tubuh.

Terakhir, karena EterCovert bekerja terus menerus tanpa henti, ketika mana yang disalurkan ke seluruh tubuh sudah dalam batas maksimum dan terpaksa untuk dibuang ke udara lagi. Maka dibuatlah Mana Tank yang akan menyimpan mana berlebihan ini untuk cadangan di kemudian hari.

"Mungkin itu saja, ada yang mau kau tanyakan?"

"Masih banyak yang ingin ku tanyakan."

"Begitu rupanya hohoho ..."

Entah kenapa, rasa ingin tahuku tergelitik karena pembicaraan nenek Adrianna.

[To Be Continued.]


AN: Uh, hello. Gak banyak basa basi, ini chapter 3. Maaf karena gak bisa bales review, lagi sibuk. Terima kasih dan sampai ketemu di chapter depan. ^_^)