AN: Yo, maaf kalau mendadak. Tapi ranking adventure bakalan diganti yang sebelumnya bronze, silver, gold, dll, jadi ranking biasa antara G-SSS karena yang ini lebih gampang diingat.


Kali ini aku berhasil?

Astaga, demi para dewa ... aku berhasil!

Ini sulit dipercaya, teoriku sukses!?

Woooaaah~! Tak sepatah katapun yang keluar dari mulutku.

Ini terlalu fenomenal. Tidak ada lagi yang bisa ku rasakan. Aku merasa sangat terpenuhi.

Aku ... Aku ... Aku akhirnya mencapai tempat ini!

Ha ha ha ha ha ha!

Apa yang ku lihat di depanku adalah sebuah pohon. Tingginya kurang dari 1 meter tapi bagian atas dahannya penuh akan dedaunan sedangkan batangnya kokoh sampai ke akar. Ya! Akar dari pohon ini tidak di dalam tanah.

Atau perlu ku sebut lagi, pohon itu mengambang di udara.

Butuh banyak usaha untuk sampai kesini, tapi pada akhirnya aku sudah berada di titik finish. Ini perkembangan yang sangat jauh, aku bisa merasakan euforia di dalam diriku.

Fweh~

Aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk penelitian sihir tanpa memiliki hasil nyata. Ini tidak seperti aku menghabiskan seluruh waktuku untuk sihir, terkadang aku juga melakukan pelatihan pedang.

Bahkan jika seseorang bertanya tentangku, mungkin point plus yang menonjol dariku adalah kemampuan berpedangku? Well, walau aku pikir itu tidak dalam tahap yang memuaskan, namun orang-orang menyebutku hebat?

Itu berlebihan.

Kemudian, jika berpedang bukan sesuatu yang aku khususkan, lalu bagaimana dengan sihir? Errr ... dalam sudut pandangku, itu hanya keingintahuan murni yang disebabkan oleh keanehan dunia. Maksudku, tidak kah kalian penasaran bagaimana sihir digunakan di dunia ini? Kenapa hanya terbagi dari 7 atribut, dan meski di dalam kelompok itu ada yang namanya atribut kegelapan ... mengapa itu bukan elemen kegelepan yang sesungguhnya? Lalu kenapa tiap orang hanya bisa menggunakan sihir berdasarkan atribut yang dimilikinya?

Manusia itu pengecut. Selalu ketakutan pada sesuatu yang belum diketahui dan dengan senang hati memberikan penjelasan sederhana 'karena itu sihir' pada apapun yang rumit. Itu tidak logis dan memiliki banyak lubang. Tapi tak ada satu pun orang yang berpikir kalau itu aneh. Sebagai contohnya adalah sihir Heal, meskipun dapat menyembuhkan luka luar yang fatal sampai mengancam nyawa tetapi tidak bisa menyembuhkan penyakit yang dibawa oleh wabah tanpa menggunakan obat-obatan. Orang-orang hanya berpikir kalau itu adalah sebuah kutukan karena tidak bisa disembuhkan oleh sihir pemulihan (Sihir pemulihan berasal dari Light Atribut) yang merupakan berkah dari tuhan dan obat-obatan adalah ramuan ketinggalan jaman yang tidak berguna.

Hell, itu benar-benar bodoh.

Untuk sekarang mari lupakan itu!

Dengan perasaan gugup aku maju. Pepohonan rindang namun penuh energi di sekitar membuatku gelisah. Tingkat kepadatan mana ini seperti tidak memiliki batas. Aku tidak tahu bagaimana penyihir tingkat atas menyebut hal ini, tapi untukku yang meneliti sihir karena rasa ingin tahu ... ini sangat misterius.

Baiklah Naruto, ini adalah saat-saat yang penting. Jangan mengacaukannya dengan menjadi gugup, aku harus rileks.

Haaah huuuh haaah huuuuh~!

Baik, aku sudah tenang (mungkin), mari kita selesaikan ini!

"Tunjukkan kepantasanmu."

Aku menggores tanganku dan menuangkan darah ke tanah. Tepat sebelum darah menyentuh permukaan solid, mereka melayang dan menyebar menjadi sebuah lingkaran sihir diameter kurang lebih 5 meter dengan bahasa-bahasa asing.

"Hou~ Impresive. Aku tidak akan menahan diri hanya karena kau seorang manusia. Justru karena ada manusia yang bisa sampai kesini, aku punya harapan melebihi biasanya."

"Aku hanya penyihir amatir, jangan terlalu kasar padaku, oke?"

"Hahahaha~! Terlalu merendah."

Aku serius disini.

Kalau ritual ini gagal aku akan mati hanya karena datang kesini!

"Baiklah, yosh ... aku sudah siap."

"Sama disini."

Aku tidak tahu kenapa dia bisa se-kooperatif itu, tapi aku benar-benar bersyukur. Aku dengar dia sangat pemarah dan semena-mena, serius deh ... Aku pikir bagian tersulitnya adalah dia tidak mau melakukannya meski hanya mencoba saja.

Ini menyelamatkanku.

"Kontrak!"

"Kontrak!"


I am reincanated into the past.

Semua tokoh yang ada disini bukan milik Author, tapi pengarangnya sendiri.


"Afinitas anda adalah bumi dan kepadatan mana-nya 100."

"Afinitas anda adalah api dan kepadatan mana-nya 103."

"Afinitas anda adalah angin dan kepadatan mana-nya 92."

"Afinitas anda adalah bumi dan kepadatan mana-nya 87."

"Afinitas anda ..."

Kondisi Asuma dan Sona kaku bak robot. Mereka tidak banyak memberikan respon pada ekspresi warga yang berubah-ubah sesuai dengan hasil test. Itu lebih seperti mereka tidak peduli lagi. Bagaimana pun, kelelahan mental yang terakumulasi sudah mencapai batas maksimum. Pada awalnya mereka masih akan merespon dengan sopan layaknya bangsawan yang baik, tapi setelah lewat tengah hari tanpa istirahat, kelelahan fisik dan mental sudah masuk zona orange dan mempertahankan senyum menjadi lebih sulit.

Petualang yang mengikuti mereka ―party Robb juga ikut membantu dalam pengujian. Tapi karena tidak bisa menggunakan Arch Stone seperti Asuma dan Sona, party robb bertugas mendata hasil dari pembabtisan elemen. Pekerjaan mereka berjalan lancar, setidaknya sampai hari sudah menjelang sore.

"Aku sangat lelah~"

"Terima kasih kerja kerasnya Sona Ojou-sama."

"Begitu juga denganmu Asuma-san."

"Hai."

Saat ini mereka tengah beristirahat di ruangan khusus yang disediakan oleh Tazuna. Perabotannya memang tidak semewah milik keluarga bangsawan tapi nyaman jadi itu cukup.

"Robb, data pembabtisan tadi bisa kau bawa kemari?"

"Tentu ... ini."

Asuma menerima tumpukan kertas dari tangan Robb.

"Hmm~ Seperti yang diharapkan dari hari pertama, jumlah yang berpartisipasi sangat banyak. Menurut data Tazuna-san jumlah seluruh penduduk Alardfell berkisar 300 orang dan dari yang ku dengar, banyak penduduk dari desa tidak memiliki akses Royal Capital, datang kesini untuk melakukan pembabtisan juga. Tapi berpikir kalau yang mengikuti pembabtisan hari pertama mencapai 600 orang, ini sedikit di luar kuota."

Sona mendengar dengan seksama sambil meminum tehnya.

"Itu sangat banyak, tapi tidak ada yang memenuhi syarat. Sebagian besar penduduk memiliki kepadatan mana rata-rata 100, dan anak-anak malah lebih rendah lagi. Aku tidak berpikir kalau data ini buruk, untuk penduduk desa sendiri pembabtisan sudah menjadi even yang menyenangkan, jadi menyisihkan hasil tidak memuaskan ... aku pikir ini cukup bagus."

"Sangat jarang mendengar Sona Ojou-sama berkata demikian."

"Apa itu sarkasme?"

Sona menyipitkan matanya pada Asuma. Asuma tertawa kecil guna merespon, ia menghembuskan asap rokoknya melewati jendela ruangan.

"Maaf Ojou-sama, saya hanya memuji."

"Aku juga minta Maaf Asuma-san, sepertinya aku kelelahan."

"Tidak bisa ditolong, hari ini memang melelahkan. Untuk makan malam hari ini, sepertinya Tazuna-san mengadakan perjamuan untuk kita semua. Jadi tolong tahan sampai saat itu."

"Aku mengerti. Dan Robb, terima kasih untuk kerja kerasnya."

Sona membungkuk sopan pada robb dan party yang sudah membantu seharian ini, padahal pendataan sebenarnya bukan pekerjaan mereka jadi sebagai seorang bangsawan Sona ingin mengucapkan terima kasihnya.

"Tapi benar-benar deh, tidak terpikir kalau pembabtisan-nya akan seramai ini."

"Ini memang mengejutkan, tapi besok kemungkinan sudah selesai."

"Aku harap begitu Asuma-san. Ngomong-ngomong, bagaimana kerajaan menanggapi laporan direwolf kemarin?"

"Saat ini sedang dilakukan penyelidikan. Kita tidak akan tahu hasilnya sampai mereka selesai."

Sona mengangguk, "Ku harap penyebabnya dapat segera ditemukan. Aku punya perasaan tidak enak."

"Saya juga merasakannya dan sudah menghubungi Guild Adventure untuk memobilisasi anggotanya di sekitar desa. Kita tidak tahu apa yang terjadi, tapi ada baiknya berpikir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi."

"Selalu tanggap seperti biasa, Asuma-san."

"Itu pujian yang berlebihan, Sona Ojou-sama."

Sona tersenyum tenang pada Asuma. Selain menjadi instruktur di akademi sihir kerajaan, Asuma adalah kenalan dari ayah Sona. Mereka sudah berteman lama sebelum Sona lahir, yang menjadikan hubungan mereka sangat dekat seperti keluarga. Jika melihat dari kemampuan, Asuma adalah type petarung jarak dekat ... type yang mustahil bisa masuk ke sebuah akademi sihir, apalagi menjadi instrukturnya. Tapi tentu saja, ada alasan bagus dibaliknya. Tidak sekedar petarung jarak dekat biasa, Asuma juga punya kemampuan tinggi di bidang lain berkenaan dengan sihir yaitu Alkimia. Dia tidak dapat membuat item pertempuran dengan daya rusak tinggi, tapi jika untuk item sekelas Arch Stone bukan masalah besar untuknya.

Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan, wajahnya pucat dan keringat mengalir deras seperti berlari dalam kecepatan tinggi membuatnya capek. Asuma melihat seksama pada orang yang baru masuk, dia adalah bawahan Robb yang ditugaskan untuk berpatroli ke lingkungan sekitar. Ekspresinya sangat buruk sampai Asuma tidak berpikir akan ada berita baik darinya.

"Apa yang terjadi?"

Robb secara objektif adalah orang yang tanggap, dia dengan cepat meminta penjelasan tapi tidak memaksa untuk terburu-buru.

"Robb-san, Th ... Three Eyed Bear! Penduduk bilang ada sepasang Three Eyed Bear yang menyerang desa!"

"Itu—kau tidak bercanda `kan?"

"Tidak mungkin aku berbohong. Guild adventure sudah diberitahu, mereka telah memberikan quest darurat untuk semua personil. Tapi karena adventure di desa ini hanya terdiri dari Rank E ke bawah, kita juga diharapkan untuk ikut membantu."

"Apakah Guild Master yang mengatakannya?"

"Benar. Tapi dia tidak memaksa karena kita disini sebagai tamu, jadi sebagai pertimbangan aku beralasan mendikusikannya dengan kalian, apa yang harus kita lakukan?"

Meskipun mereka adalah petualang yang semestinya mengikuti aturan Guild, saat ini party Robb sedang dalam misi pengawalan seorang bangsawan. Guild adventure tidak akan memaksa mereka ikut serta dan membawa 'tamu' ke dalam bahaya, itu akan membuat citra Guild menjadi buruk. Tapi karena personil yang mampu tidak memadai, dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi, pihak guild berharap party Robb dapat ikut serta.

"Kita ... Kita tidak akan ikut serta. Misi kita adalah mengawal Asuma-san dan Sona Ojou-sama sampai kembali ke ibu kota. Tolak permintaan Guild Master dan fokus dalam bertahan."

"Baik!"

"Tunggu sebentar Robb."

Asuma yang sedari tadi mendengarkan kini bersuara, di sampingnya Sona memiliki ekspresi tegas akan sesuatu. Robb dan bawahannya yang hampir keluar mengalihkan perhatiannya pada Asuma.

"Yang kita hadapi adalah Three Eyed Bear, monster peringkat D. Kalian adalah adventure peringkat D di ibu kota dan satu-satunya party dengan kemampuan yang memadai di Alardfell saat ini. Jika kalian tidak membantu, maka desa ini tidak mungkin bertahan. Bahkan dalam kondisi dimana kemungkinan terbaik ada, sebagian penduduk pasti akan mati."

"Tapi kalau kami ikut dalam penaklukan, tidak akan ada yang melindungi Sona Ojou-sama."

"Jangan khawatir, memangnya kalian kira siapa aku? Di saat rakyat dalam keadaan panik, sudah tugas seorang bangsawan untuk berdiri di depan dan memimpin. Aku tidak akan minta dilindungi, karena aku akan ikut dalam penaklukan. Ini mungkin sifat egoisku sendiri tapi tidak peduli apa yang terjadi, kakak dan orang tua-ku pasti memikirkan hal yang sama."

Sona dengan tegas mendeklarasikan keinginannya. Dia belum pernah membunuh monster peringkat D karena perbedaan antara peringkat E dan D sangat signifikan. Tapi di sisi lain, tidak mungkin baginya mengabaikan penduduk desa sementara dirinya memiliki kemampuan. Ini adalah tanggung jawabnya, tidak ada keraguan atas hal itu.

"Tapi Sitri-sama—"

"Ini adalah keputusanku, tidak perlu bagi kalian untuk memikulnya. Semua konsekuensi akan menjadi tanggung jawabku."

Rasanya sangat luar biasa mendengar jawaban tanpa takut dari gadis berumur 13 tahun. Robb sampai terdiam dan Asuma menarik bibirnya membentuk senyum.

"Jadi seperti yang sudah Sona Ojou-sama katakan, kita akan ikut dalam penaklukan Three Eyed Bear."

"Baik, Asuma-san,"

Robb tidak berdaya, dia menyetujuinya meski enggan. Walaupun Robb masih terganggu, dia memilih untuk fokus pada apa yang akan dilakukannya. Dia memerintahkan anggota yang baru datang menyebutkan dimana monster beruang muncul.

Membutuhkan waktu 10 menit bagi mereka untuk sampai di tempat kejadian, itu adalah ladang gandum yang luas dengan setengah darinya sudah menguning. Pemandangan yang indah ketika sinar bulan meneranginya. Tetapi atmosfir yang terbawa angin justru menenangkan. Beberapa penduduk desa bergerombol dengan membawa obor.

"Ini adalah tempat terakhir Three Eyed Bear terlihat. Mereka menyerang sepasang suami istri dan pergi ke arah hutan."

"Baiklah. Saat ini kita akan melakukan pencarian dimana Three Eyed Bear diperkirakan akan muncul dan membentuk kelompok dengan Adventure lainnya guna mengurangi resiko, ketika kita mendapat kontak segera hubungi grub yang lain untuk melakukan penaklukan. Lalu Robb, bagaimana keadaan pasangan itu?" Setelah memberi arahan, Asuma berpaling pada Robb kembali. Laporan yang ia terima tidak detail, tapi menurut penduduk yang lain pasangan itu berhasil lolos dengan luka sedang.

"Untungnya mereka baik-baik saja walau sang suami memiliki luka cakaran di tangannya, Asuma-san. Tapi ..." Robb menahan napasnya sejenak, "Sepertinya Three Eyed Bear tidak pergi dengan keinginannya sendiri. Putra pasangan itu datang tepat ketika serangan terjadi dan dia memancing Three Eyed Bear menjauh."

Asume terdiam, matanya sempat terbuka beberapa mili meter lebih besar dari biasanya sebelum kembali normal, "Maksudmu?"

Robb tersenyum masam, "Anak mereka datang untuk menyelamatkan orang tuanya."

Bukan hanya Asuma yang memiliki ekspresi sulit, tapi anggota yang lain juga memiliki wajah pahit seolah mengunyah ratusan serangga. Three Eyed Bear adalah monster peringkat D dengan kemampuan khusus mata ketiga, tidak hanya kuat dalam segi fisik, mata ketiganya juga dapat melihat di dalam kegelapan serta memanipulasi sihir angin dengan lebih baik. Bahkan untuk Veteran seperti Asuma, mengalahkan satu Three Eyed Bear bukan perkara mudah di malam hari.

Seperti yang sudah direncanakan, kelompok Asuma itu menyusuri jalan yang dilewati oleh Three Eyed Bear. Berkat jejak besar dan anggota dengan job 'Thief', mereka dapat melacak tanpa masalah. Suasana hutan di malam hari begitu mencekam bagi Sona, apalagi jika mereka mengingat adanya sepasang Three Eyed Bear yang berkeliaran disini. Tapi seruan dari baris depan menarik perhatian mereka dengan cepat.

Itu adalah suara Robb, dia berdiri kaku dengan obor di tangannya. Rekannya bertanya-tanya ada apa, tapi dia tidak menjawab. Perhatiannya hanya terfokus pada benda besar hitam di depannya. Asuma pun menghampiri dan melihat Three Eyed Bear yang mati di depannya dengan perasaan terkejut.

"Bagaimana monster ini bisa mati?" Tanpa sadar pertanyaan itu keluar dari mulut Asuma. Jika Three Eyed Bear mati berarti ada yang membunuhnya, dan jika di desa tidak ada orang yang lebih hebat dari party Robb ... itu artinya bukan manusia yang melakukannya, kan?

"Pertarungan antar monster?"

"Bukan kah mereka pasangan, kenapa Three Eyed Bear saling membunuh."

"Sebelum itu, Robb pastikan penyebab kematiannya. Sisanya menyebar secara berpasangan dan periksa daerah sekitar, jika ada monster yang berbahaya segera beri tanda."

"Ha'i!"

Setelah orang-orang menyebar, Asuma dan Robb mulai memeriksa badan Three Eyed Bear dengan hati-hati. Obor yang mereka pegang telah di tancapkan ke tanah sehingga tidak akan mengganggu. Tidak ada luka berat seperti tebasan ataupun serangan sihir. Tapi Asuma memperhatikan sesuatu di dada monster tersebut.

"Ini kan ..."

"Tangan anak kecil."

Ada potongan tangan sebatas lengan yang mencap di dada Three Eyed Bear.

Di saat bersamaan, pendengaran Sona menangkap suara pertarungan belasan meter di depannya. Karena pencahayaan yang kurang, ia harus berjalan lebih dekat untuk mendapat visi lebih jelas.

'Ini Three Eyed Bear ... bertarung dengan ..'

Tubuh besar dengan warna coklat pastinya adalah Three Eyed Bear, tetapi sosok bertubuh kecil yang bergerak lincah di sekitar Three Eyed Bear yang menjadi pertanyaan. Jika dilihat dari perawakannya, dia kira-kira sebaya dengan Sona. Entah manusia atau monster, sulit memastikannya dengan manuver gila yang dia lakukan.

Sona terus melihat dengan pemikiran untuk mendapatkan gambaran jelas dari sosok tersebut.

Pada satu kesempatan, Three Eyed Bear berhenti bergerak dan kekuatan sihir meluap dari tubuhnya. Sona bereaksi cepat, dia mengetahui apa yang dilakukan oleh Three Eyed Bear tersebut dan merespon dengan mantap. Tangannya memegang staff dengan erat dan mulutnya mulai melantunkan mantra cast.

Jlebb ...

Namun tidak seperti yang diharapkan, Three Eyed Bear kehilangan semua sihirnya dan lengan dari sosok hitam itu menembus punggungnya.

Detik itu juga, surai pirang secantik gandum tertangkap oleh indra penglihatan Sona. Dan manik biru bagai permata seakan menghipnotisnya.

Sona tidak mengerti apa yang terjadi.

"Sona ..."

Suara itu mengembalikan Sona pada kenyataan dan segera menghampiri anak laki-laki tersebut.


xxxxxXXXxxxxx


[Naruto Pov]

Aku bangun pagi seperti biasanya. Itulah yang kupikir. Tapi melihat kondisiku yang terbalut perban serta tangan yang tak memberikan respon ketika ku coba untuk gerakkan, aku paham kalau kejadian itu bukan mimpi.

Melawan dua Three Eyed Bear dengan kondisiku yang sekarang benar-benar beresiko. Tidak, bahkan orang dewasa juga akan kesulitan untuk melawan sepasang monster itu. Tapi aku menang.

Tidak bisa disebut menang karena aku kehilangan tangan kananku dan tak dapat juga disebut kalah karena beruang itu mati.

Sedangkan untuk lenganku, bagaimana aku harus mengatasinya ya. Dengan kemampuanku yang sekarang rasanya sulit menggunakan [Regeneration] untuk menumbuhkan dan menyambungnya kembali terasa lebih mustahil dengan jangka waktu yang telah berlalu.

Jadi aku akan cacat? Ah ... mungkin aku harus menggunakan 'itu'. Terdengar seperti ide bagus bagiku.

Sekarang aku memikirkannya. Bagaimana dengan dua Three Eyed Bear yang telah ku kalahkan? Meskipun mereka hanya monster Rank D, material mereka cukup bagus untuk levelku. Tapi hell! Bahkan monster Rank D cukup mahal di jaman ini. Tidak mungkin aku bisa memilikinya.

Ngomong-ngomong, apa yang terjadi setelah itu. Jelas sekali aku melihat Sona sebelum kehilangan kesadaran. Di kehidupan sebelumnya aku tidak membuat kontak dengannya karena status sosial yang berbeda. Dan ketika aku telah dinobatkan sebagai pahlawan ketika kembali ke sini, Sona mundur dari garis depan karena usianya.

Hmm, itu mengingatkanku. Berada 'disana' tidak membuatku menjadi tua.

[Tentu saja kau tidak akan bertambah tua, tempat itu memiliki hukum waktu yang sangat lambat. Bahkan jika kau membenamkan diri ratusan tahun disana tidak akan menjadi masalah. Tapi kau malah memutuskan turun ke bumi untuk menemui ajalmu, betapa bodohnya.]

Aku tahu, dia juga selalu mengatakan itu padaku. Tapi tidak dapat ditolong. Jika aku mengetahui dunia akan hancur dan hanya membiarkannya, maka rasa pahit akan tertinggal di mulutku.

Ini tidak seperti aku peduli pada semua manusia serakah itu.

Orang tuaku meninggal ketika perang dan adikku menderita karena para bangsawan. Mengetahui semua itu sudah cukup untuk membuatku muak dengan segala yang ada di bumi. Tapi dari semua hal buruk itu, aku juga bertemu dengan orang-orang yang baik seperti nenek Adrianna.

Rasanya ... aku memang terlalu naif.

Mengambil tindakan ceroboh sampai mengancam nyawa demi kebaikan yang singkat. Aku tahu itu bodoh, tapi aku tidak bisa menolongnya. Aku pikir aku akan lebih menyesal jika tidak melakukan apa-apa saat itu.

[Aku mengerti, itu memang sifatmu. Tapi seandainya saja kau mempelajari semuanya tanpa terkecuali meskipun akan sedikit terlambat, itu bisa membawa hasil yang lebih baik dari kematian.]

Seperti yang ku katakan. Itu tidak bisa ditolong. Untuk mempelajari banyak teori aku membutuhkan puluhan tahun dan itu belum termasuk dengan praktik secara langsung. Jika aku benar-benar mempelajari semuanya secara keseluruhan, mungkin akan menghabiskan beberapa ribu tahun.

[Dan meskipun memerlukan waktu yang sangat lama, kau masih akan hidup pada masa itu.]

Sudah ku katakan, tidak mungkin bagiku mengabaikan bangsa iblis ketika mereka berniat menghancurkan umat manusia.

[Baiklah kau menang, mungkin itu juga sebabnya kau mendapatkan gelar [Pahlawan] ketika turun ke sini. Tapi tolong jangan bertindak bodoh. Karena gelarmu sebagai [Pahlawan], daripada menyelamatkan nyawa manusia, mereka (para bangsawan) malah mencoba untuk memanfaatkanmu demi kepentingan mereka.]

Kupikir tidak semua bangsawan seburuk itu. Ketika aku kembali ke sini, ada beberapa nama bangsawan yang terkenang karena jasanya. Diantara mereka ada Ajuka, Serafal, Neji, dan masih banyak lagi. Mereka memberikan kesan yang baik pada rakyat dan membantuku secara tidak langsung ketika aku menjadi pahlawan.

Tapi meh! Menjadi pahlawan itu merepotkan. Semoga pahlawan dari dunia lain cepat datang dan mengalahkan bangsa iblis.

[Mungkin dua atau tiga tahun lagi.]

Hmm, berarti kekacauan akan dimulai satu tahun lagi.

"Ngomong-ngomong Kurama ... KURAMA!?"

[Yo! Kau baru menyadariku Naruto?]

"Tidak ... tapi bagaimana?"

Suaraku meninggi secara tidak sadar. Keadaan di luar sunyi dan matahari belum menampakkan cahayanya. Mungkin karena ini masih subuh jadi suaraku terdengar sangat jelas. Tapi abaikan itu, tidak― pertama ... ―arrrg!

[Jangan berisik Naruto, ini masih pagi.]

Jangan katakan itu padaku! Apa yang sebenarnya terjadi disini!? Bagaimana kau bisa hidup kembali dan kenapa?

[Ceritanya cukup panjang tapi aku akan meringkasnya. Setelah aku mati saat itu, aku tidak memiliki ingatan apapun setelahnya. Tetapi beberapa bulan lalu, aku secara tiba-tiba tersadar di tubuhmu. Ketika itu aku berniat mendiskusikannya denganmu, tapi karena aliran sihir di dalam tubuhmu sangat kacau dan akan berakhir buruk jika kubiarkan. Maka aku menyesuaikannya dulu sebelum mengatakannya padamu. Aku juga telah mengkonfirmasi beberapa hal, salah satunya adalah kontrak kita akan tetap aktif meskipun kau masih bocah ingusan karena eksistensiku sebagai spirit masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Kesimpulannya Kurama-sama yang bijak ini akan mengikuti petualanganmu kembali gahahaha~!]

Aku tidak tahu harus merasa senang atau jengkel. Tapi yah, ini kabar bagus.

"Setelah apa yang terjadi, aku senang bertemu denganmu kembali, Partner!"

[Ya!]

Kurama adalah spirit peringkat atas yang berhasil ku kontrak ketika melakukan studi sihir. Dia sedikit istimewa karena selain kontrol sempurna atas sihir, dia memiliki pengetahuan yang sangat mendalam atas hukum dasar dunia. Selama triliunan tahun (menurutnya), Kurama telah mempelajari banyak pengetahuan dari berbagai dimensi dan mengarsipkannya ke dalam dimensi isolasi miliknya. Ketika aku membuat kontrak dengannya, aku mendapat akses ke dalam dimensi tersebut dan selama beberapa puluh tahun aku membenamkan diri dalam studi sihir tanpa istirahat.

Tapi di balik pengetahuannya yang terlampau luas, Kurama juga memiliki kekurangan. Dia tidak dapat bertarung. YA! Meskipun dia memiliki kontrol sihir sempurna dan pengetahuan yang luas, dia sangat lemah.

Itu juga berlaku untukku di kehidupan sebelumnya.

Karena terlalu banyak mempelajari teori sihir tanpa praktek langsung, kecakapanku sebagai seorang adventure menghilang dan harus berlatih dari awal lagi. Dari sana aku memahami kalau latihan adalah hal yang penting. Selama waktu latihan itu pula aku melakukannya dengan terburu-buru karena bangsa iblis sudah menguasai setengah benua manusia. Jadi sihir yang dapat kugunakan terbilang prematur (Balance Breaker, Limit Break, Curse Mark, Aerodinamic).

Rasanya sangat menyedihkan ... betapa tidak kompetennya diriku.

[Jadi bagaimana selanjutnya? Pada masa ini bangsa iblis telah melakukan pergerakan secara diam-diam guna memecah kekuatan manusia. Mereka akan memulai rencana penaklukan secepat mungkin dan meskipun monster sekelas Demon Lord belum muncul, ras iblis jelas memiliki kekuatan sihir di atas manusia.]

Kurama kembali bicara di pikiranku.

Pada dasarnya manusia itu lemah sehingga ras iblis bisa memusnahkan mereka dalam jangka waktu 100 tahun. Bukan hanya lemah, manusia juga bodoh. Seharusnya mereka paham kalau pemahaman sihir di zaman ini sangat dangkal dan mencoba untuk menyempurnakannya dari waktu ke waktu. Tapi yang lebih buruk dari itu semua, manusia adalah makhluk serakah. Selalu berpikir semua yang ada di dunia ini adalah miliknya.

Apa aku memang harus menyelamatkan manusia?

Huuuffft~ ini menyedihkan.

Kalau pada dasarnya manusia tidak berusaha untuk berubah, hal ini akan terus terulang tak peduli seberapa lama aku melawan ras iblis.

Selama aku tenggelam dalam delusiku, cahaya matahari sudah memasuki kamarku yang menandakan ini sudah cukup terang.

Yosh, untuk sekarang mari putuskan kalau aku hanya akan menghalangi invasi ras iblis. Itu saja. Lagipula, sejak awal tujuanku adalah mengalahkan Demon God, jadi tak masalah.

[Begitu ya. Maka aku akan mengikutimu seperti biasa Naruto.]

Terima kasih Kurama.

"Ah, ngomong-ngomong. Ada hal penting yang harus aku katakan padamu."

Katakan saja.

[Baik. Sepertinya setelah kau mati, terjadi rekatan pada dimensi astral yang bersebrangan dengan dimensi 'waktu'. Selama kejadian ini arwahmu yang belum sepenuhnya memasuki dimensi astral malah terseret pada dimensi 'waktu' secara kebetulan. Dalam kasus ini, seandainya saja banyak arwah yang mengalami kejadian sama mungkin saja keseimbangan antar dimensi akan hancur yang berakibat pada ledakan berantai.]

Tunggu, bukankah itu sangat gawat?

[Itu sudah berlalu jadi mari lupakan.]

Hei!

[Masalah yang lain adalah, karena arwahmu mengalami 'kecelakaan', tubuh astral yang seharusnya membangun tubuh masa kecilmu justru terombak dan menciptakan kondisi baru. Dirimu yang sekarang berbeda dengan dirimu yang seharusnya. Kau tidak memiliki afinitas dan kepadatan mana-mu telah berubah. Itu adalah faktanya."

Walaupun aku tidak memiliki afinitas, itu bukan masalah karena pada dasarnya teknikku tidak menekankan pada batasan 1 afinitas per orang. Tapi apa maksud dari kepadatan mana-ku berubah?

"Mungkin sebagai ganti dari kembalinya kau ke masa lalu, kepadatan mana-mu menjadi semakin kecil."

Seberapa kecil?

"20."

Sangat kecil.

Di kehidupan sebelumnya, kepadatan manaku adalah 150. Jumlah yang terbilang 'cukup' untuk mendaftar ke sekolah sihir kerajaan tapi tidak kulakukan. Lalu sekarang malah semakin kecil dan bahkan aku tidak memiliki afinitas. Itu menyedihkan, tetapi aku tidak ingin mengeluh ... serius, ini menyedihkan.


xxxxxXXXxxxxx


Setelah memutuskan komunikasi dengan Kurama, orang tuaku dan Thearesia mendatangi kamarku. Ibu dan Thea menangis karena mengkhawatirkanku, sedangkan ayahku justru memiliki ekspresi yang sangat marah.

Dengan penuh emosi dia membentak dan mencaciku tanpa memberi jeda. Harus ku akui, ayahku yang marah sangat menakutkan, dan karena itu kesalahanku, aku tidak bisa membela diri.

Aku membuat keputusan egois yang hampir merenggut nyawaku. Tidak mungkin ada orang tua yang tidak marah.

Sepeninggalan ayah dari kamar, ibuku mengatakan sesuatu. Dari ceritanya, ternyata aku tidak sadarkan diri selama 3 hari dan selama itu ayah selalu menemaniku. Dia benar-benar syok ketika melihat keadaanku malam itu dan secara mengejutkan ayah menangis.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Tapi dapat ku sadari aku membentuk seulas senyum dengan perasaan hangat. Ketika bertemu lagi, aku harus meminta maaf dengan benar pada ayah.

Pada masa aku tidak sadarkan diri, bangsawan yang datang ke desa kerap mengunjungiku. Dia adalah gadis kecil berkacamata dengan potongan rabut bob, Sona Sitri. Katanya ada yang perlu dibicarakan denganku. Mungkin nanti siang Sona akan datang lagi.

Aku menanyakan pada Thea, apakah dia sudah melakukan pembabtisan element atau belum. Tapi jawabannya ...

"Tidak mungkin aku melakukan pembabtisan ketika Nii-san sedang terluka!"

Itu berarti, Sona datang kesini bukan untuk merekrut Thea ke sekolah sihir. Lalu kenapa?

Atau mungkin karena insiden Three Eyed Bear?

[Ini hanya pendapatku. Tapi bukankah sangat aneh seorang anak-anak mengalahkan mosnter rank D di masa ini?]

... AAAAH!

Aku lupa!

Apa aku akan diintrogasi? Tapi kenapa ada yang janggal?

"Kaa-san, apa yang terjadi dengan Three Eyed Bear?"

Jika orang tuaku tahu kalau akulah yang membunuh Three Eyed Bear, mereka seharusnya memberikan sedikit reaksi. Bahkan jika Kaa-san dan Tou-san menyembunyikan kebenarannya, Thea-chan pasti akan gaduh dan terus membicarakannya. Jadi mungkin ...

"Party yang dibawa oleh Sitri-sama telah membereskan mereka. Untunglah, mereka (Party Sona) datang tepat waktu untuk menyelamatkanmu. Berterima kasihlah ketika dia datang berkunjung ya."

"Ha'i Kaa-san."

Dan aku kehilangan kesempatan untuk menolak kunjungan Sona. Tapi ini menjelaskan banyak hal, mereka akan menanyaiku ... mungkin. Baiklah, yang akan terjadi biarkan terjadi~

[Kau sangat tidak termotivasi.]

Bahkan jika aku memiliki motivasi. Apa yang akan ku lakukan? Membuat alasan untuk menolak hanya membuat mereka semakin curiga dan kabur malah membuat keluargaku khawatir. Jadi satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menghadapi pertanyaan mereka.

Tapi ini benar-benar rasa sakit di pantat.

Tidak sampai siang hari, Sona telah datang ke rumahku. Dia tidak membawa banyak orang, hanya seorang pria paruh baya berjenggot. Aku tidak tahu siapa dia, tapi melihat dari sikap dan udara yang dibawanya, sudah pasti dia petarung veteran.

"Namaku adalah Sona Sitri dari rumah keluarga bangsawan Sitri dan yang disana adalah pengawal sekaligus instrukturku, Sarutobi Asuma. Selama dua hari ini aku sudah berkunjung ke rumahmu, senang akhirnya kau siuman dan kita dapat bercakap-cakap."

"Nama saya Namikaze Naruto, suatu kehormatan anggota keluarga bangsawan Sitri sudi berkunjung ke kediaman saya yang kumuh ini."

Karena kau telah melihatku, bisakah kita sudahi ini dan kau pergi? Seandainya saja aku bisa mengatakan itu.

"Begitu juga denganku. Melihat kondisimu rasanya sulit dibayangkan kalau 3 hari lalu kau bertemu dengan Three Eyed Bear."

Sona bertanya dengan seringai kecil dan mata yang menyipit perlahan. Apakah ... Apakah ini sesi introgasi?

"Karena saya ingin menjadi petualang, itu adalah pengalaman yang bagus." Aku mengangkat tangan kananku yang terbalut perban. Meskipun masih terasa sakit, aku menahannya. "Bahkan saya mendapatkan cindera mata."

"Sangat disayangkan, tetapi menjadi petualang dengan satu tangan pastinya sangat sulit. Tugas petualang kebanyakan adalah penaklukan monster dan mereka perlu mengeluarkan semua potensinya agar bisa berhasil. Dan dengan keadaanmu saat ini ..."

"Tidak apa-apa, entah bagaimana saya pasti bisa mengatasinya."

"Sama seperti yang kau lakukan pada Three Eyed Bear?"

DIA BENAR-BENAR MENANYAIKU!

"Maafkan saya Sitri-sama, aku tidak ingat dengan benar kejadian malam itu. Dari yang saya dengar, Sitri-sama lah yang membunuh kedua monster tersebut. Apakah saya salah?"

"Itu adalah pernyataan resminya. Tapi pada kenyataannya, sebelum aku sampai kesana kedua Three Eyed Bear itu telah mati."

Apakah dia menyeringai!? Dia benar-benar menyeringai! Ini bukan imajinasiku kan!? Sial, sekarang aku malah gugup.

"Me-Mengejutkan sekali. Ap-Apakah mungkin ada monster lain yang membunuh mereka (Three Eyed Bear)?"

"Ya, disana ada yang 'lain'. Itu Monster yang mengejutkan. Tingginya seperti anak berumur 13 tahun, punya rambut pitang, mata biru yang jarang, dan sekarang tengah beristirahat di ranjangnya dengan wajah yang sangat panik."

Kampreeeeet!

Aku ketahuan! Aku ketahuan! Aku benar-benar ketahuan! Apa yang harus ku katakan? Jika aku menyangkal, Sona hanya akan terus menekan sampai mengaku. Ini buruk.

Sekarang coba pikir, apa yang akan dia dapatkan jika tahu aku dapat membunuh monster Rank D?

Menjadikan aku pengawalnya(Kepedeean)? Itu tidak mungkin. Selain karena aku adalah rakyat biasa, Sona telah memiliki Asuma yang bisa mengawalnya bahkan ketika menuntut ilmu di sekolah sihir.

Mungkin ... mungkin kah dia ingin menjadikan aku sebagai bahan penelitian!? Tidaaaaaak~!

Mari kita pastikan!

"A-Ahem, sepertinya Sitri-sama sudah mengetahui dimana monster tersebut, ja-jadi aku penasaran. 'Seandainya' aku adalah monster tersebut dan keberadaanku sudah diketahui .. aku ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Sitri-sama padaku. I-Ini hanya seandainya saja, tolong jangan salah paham."

Sebenarnya percakapan ini sangat bodoh. Kami berdua tahu siapa si 'monster' tapi tetap berbicara seolah-olah 'dia' tidak ada disini.

Hei! Apa-apaan dengan senyum kemenangan itu!?

"Jika monster tersebut berbuat baik, aku tidak akan melakukan hal buruk padanya. Justru sebaliknya, aku dengan senang hati akan mendukungnya. Tidakkah kau pikir akan hebat memiliki seekor monster disampingmu?"

Itu artinya, dia ingin merekrutku?

"Itu penawaran yang bagus. Tapi Sitri-sama terlalu tinggi menilai si monster. Mungkin saja monster tersebut memiliki kekurangan seperti kepadatan mana-nya hanya 20 dan tidak memiliki afinitas. Itu bisa jadi 'kan?"

"Oh my~"

Sekarang bagaimana? Apakah kau akan tetap merekrutku meskipun tahu kelemahan-

"Monster itu bisa melakukan pembabtisan elemen sendiri tanpa ada yang membantu? Itu mengejutkan sekali."

Apakah itu sungguh mengejutkan? Kalau aku tidak salah ingat, pembabtisan elemen memerlukan Arch stone untuk melakukannya, dan metode pembuatan terbilang mudah. Tapi masa dimana aku lahir, penyihir dengan kemampuan Alkimia sangat langka karena dianggap lemah dalam pertarungan ... tunggu, apa aku sudah menginjak ranjau darat?

[Gahahahaha~ sekarang kau malah memberikan Harimau kelaparan seekor babi.]

A-Aku sudah kalah ...

"Sekarang Namikaze Naruto," Sona tiba-tiba mengubah nada bicaranya, "Dalam dua tahun kerajaan akan mendirikan sekolah Knight yang bermitra dengan sekolah Sihir. Pada saat itu, kerajaan akan menerima dengan senang hati tiap orang yang memiliki potensi dan aku sadar kau memiliki potensi tersebut. Ku harap kau memikirkannya dengan hati-hati."

Mendirikan sekolah Knight? Bahkan sekolah sihir saja tidak beres dan kerajaan ingin membuatnya lagi? Aku tidak habis pikir.

"Hei Sitri ..."

Aku mengubah nada bicaraku lebih dalam dari sebelumnya dan paman ―maksudku Asuma-san bereaksi. Aku mengerti, ini sangat tidak terduga untuk seorang rakyat biasa memanggil anggota keluarga bangsawan tanpa honorofik. Tapi cobalah mengerti.

"Aku mengatakan ini secara pribadi. Tapi ... penyihir di kerajaan ini sangat lemah."

Invasi pertama ras iblis, ribuan penyihir gabungan dari pasukan reguler dan siswa sekolah sihir kalah telak. Dari yang ku dengar, ras iblis memiliki pengetahuan yang lebih luas tentang sihir dan mereka dapat memanfaatkannya secara penuh.

Dari perkiraanku (Hanya hipotesa), ras iblis berhasil menemukan perkamen sihir kuno di tanah mereka dan karena ras iblis memiliki umur panjang, pengetahuan akan huruf kuno masih terpelajari sampai sekarang.

Di sisi lain, meskipun ras manusia memiliki beberapa perkamen sihir kuno, karena bahasa yang asing membuat proses penerjemahannya menjadi sangat lambat. Sangat mengecewakan bahwa ras selain iblis tidak bisa menggunakan perkamen itu dengan benar

Sedangkan Elf ... mereka hanya peduli pada kebanggaan dan peraturan kuno. Itu merepotkan padahal bangsa elf termasuk ras yang superior.

"Kenapa kau berpikir demikian?"

"Tidak ada. Hanya intuisiku saja. Maaf kalau menyinggungmu."

"Baiklah. Lain kali cobalah untuk menahan diri. Jika penyihir negeri ini mendengarnya, kau pasti sudah dibunuh."

"Aku akan berhati-hati."

"Oh benar. Ini adalah Magic Crystal milik Three Eyed Bear, cobalah jual saat kau telah menjadi seorang petualang. Harganya lumayan tinggi."

Sona memberikan dua permata dengan besar 10 cm. Keduanya memiliki warna hijau yang cerah.

"Terima kasih. Aku akan menggunakannya sebaik mungkin."

"Baiklah, sampai jumpa lagi di sekolah sihir kerajaan."

Aku belum setuju untuk mendaftar kesana.


xxxxxXXXxxxxx


Setelah meninggalkan rumah rakyat biasa tersebut, Sona menghembuskan nafas kelegaan. Di sisi lain, Asuma justru memiliki ekspresi yang sangat bermasalah.

"Di saat terakhir, tekanannya benar-benar berubah. Perbedaannya sangat jelas antara kami berdua. Dan untuk dapat beraksi dalam keadaan tersebut Asuma-san sangat hebat, sedangkan aku malah membeku di tempat."

"Tidak Ojou-sama. Mengeluarkan tekanan sebesar itu normalnya hanya bisa dilakukan oleh seorang yang telah melewati keadaan hidup dan mati berkali-kali. Itu adalah pengalaman dari bertahan hidup. Sangat abnormal anak seumurnya bisa melakukan hal tersebut."

"Lalu kau akan percaya dengan apa yang ku katakan?"

Sona bertanya penuh semangat seperti memenangkan lotre, pada kenyataannya ia senang karena apa yang dikatakannya adalah benar.

"Dengan melihatnya secara langsung, saya mempercayai ucapan Sona Ojou-sama sebelumnya. Robb dan yang lainnya akan saya suruh menutup mulut perihal tersebut."

Sebelumnya Asuma dan Robb sulit mempercayai cerita putri bangsawan tersebut yang mengatakan 'anak itu mengalahkan dua Three Eyed bear!'. Selagi akal sehat masih eksis di dunia ini, sulit untuk mempercayai perkataan Sona.

"Sona Ojou-sama," lanjut Asuma, "Apakah bijak menyambut anak it ―Naruto dibawah sayap keluarga Sitri? Ini adalah taruhan yang besar, jika anda menang maka keluarga Sitri akan menjadi semakin kuat. Tetapi jika anda kalah dalam taruhan, nama keluarga Sitri akan tercoreng."

"Tidak apa-apa, aku percaya padanya."

"Saya heran dari mana asal kepercayaan itu."

Sona menanggapi ucapan Asuma dengan senyum lebar yang jarang ia tunjukkan, 'Tidak mungkin aku tidak mempercayainya setelah melihat ekspresinya saat itu.' Sewaktu Naruto tidak sadarkan diri malam itu, mimik wajahnya menunjukkan kelegaan yang mendalam. Mungkin saja karena ia berhasil mengalahkan Three Eyed Bear atau mungkin karena ia bisa menyelamatkan orang tuanya. Sona tidak mengetahuinya 100%, tapi jelas itu bukan ekspresi dari orang jahat.

"Karena kita sudah menyelesaikan tujuan kita, ayo pulang ke Royal Capital."


xxxxxXXXxxxxx


Disaat bersamaan dengan perginya Sona, Thearesia masuk ke dalam kamar Naruto. Wajah manisnya tampak kesal dengan mata yang berkaca-kaca, Naruto tidak mengetahui apa yang terjadi tapi dia punya firasat buruk.

"Nii-san akan pergi ke Sekolah Knight yang sama dengan Sitri-sama!?"

Firasatnya benar.

"Tidak, Nii-san bahkan belum memutuskan―"

"Tapi Nii-san mau kan!?"

"Thea-chan ... dengarkan―"

"Pokoknya jika Naruto Nii-san ke sana, maka Thea-chan juga akan ikut!"

Tanpa memberikan ruang bicara bagi Naruto, Thearesia pergi meninggalkan kamar Naruto dengan teriakan 'Aku tidak akan kalah~!'

Naruto terdiam. Dia tidak punya niatan untuk masuk ke sekolah Knight yang disarankan oleh Sona, tapi adiknya secara tegas memproklamirkan diri akan masuk ke sana karena alasan tertentu. Tidak mungkin rasanya Naruto membiarkan adiknya pergi ke sana, tempat dimana para bangsawan terus menerus membullynya ...

.

.

.

TBC


A/N : Terima kasih untuk yang sudah review fanfict Author. Meski jarang update, saya akan tetep coba untuk update. Btw, untuk pair masih belum ditentunkan tapi kayaknya Sona bakalan jadi kandidat. Sedangkan untuk tangan Naruto yang putus, ada sedikit petunjuk di chapter ini. Dichapter depan Naruto (kemungkinan besar) bakalan keluar dari desanya.

Penjelasan untuk Kurama. Author di chapter ini menulis kalau Kurama itu lemah. Maksud lemah disini adalah Kurama gak punya kekuatan fisik besar dan gak bisa menggunakan sihir berbasis serangan langsung seperti fireball, water cannon, dll karena dia adalah spirit (sejenis roh). Namun disisi lain, Kurama bisa mengendalikan sihir secara sempurna, melakukan serangan mental, dan tahan terhadap serangan mental. Intinya, dia lemah di serangan eksternal tubuh (fisik, sihir normal dll) tapi kuat di serangan internal tubuh (sihir mental dsb).

Mungkin itu aja, maaf kalau gak bisa balas review kalian dengan lebih baik. Tapi Author sangat menghargainya.

Mungkin itu saja, ini adalah akhir chapter 4 dan silahkan tunggu kelanjutannya di chapter 5 :)