Sakura ingin menangis rasanya.
Ah, tidak kok, tidak. Sakura tidak ditinggal kawin salah satu husbando-nya lagi. Dia telah belajar dari pengalaman jikalau mempersunting cogan hero animanga dari genre romance itu tidak baik untuk kokoro, karena ujungnya si cogan tersayang pasti disatukan dengan heroine. Pasti itu, PASTI. Jadi, akhir-akhir ini Sakura lebih banyak mempersunting cogan karakter pinggiran atau cogan animanga shounen; kalian tahu sendiri, percintaan hanya garam tiada guna di shounen(misalkan sport). Paling parah, husbando-nya dipasangkan dengan teman setim secara bergantian oleh fujodanshi saklek di luar sana. Atau barangkali kawan/lawan dari tim sebelah.
Husbando direbut cocan alias cowok cantik? Ikhlaskanlah. Toh, bukan cewek yang rebut, kan?
...Ya, walau uke-nya ini cocan yang bikin cewek meragukan ke-cewek-an mereka sih.
Oke. Intinya, Sakura ingin mewek, tapi tak ada sangkut-pautnya dengan ratusan husbando tersayang.
Lalu...ada apa gerangan?
Semua ini dikarenakan seluruh santriwati kesayangannya—menyisakan Hinata dan Ino saja—tiba-tiba kompak memusuhi. Yang paling menyesakkan, alasannya hanya karena Ummu Mikoto mengumumkan dengan ceria bahwa Sakura adalah calon istri Mas Sasuke alias tunangannya.
Masalahnya, Sakura tidak bisa protes. Mereka berhak sekali untuk marah padanya. Bagaimana pun, beberapa saat yang lalu, Sakura langsung tidak langsung telah menampik keinginan untuk menikahi yang bersangkutan; malah mendukung santriwati untuk naksir pada Sasuke. Wajar jika mereka marah setelah tahu hal ini. Sakura merasa brengsek, bermuka dua, telah menusuk dari belakang.
Ummu Mikoto, why did you tell them?
Kagami-kun, Haru-cchi, Oikawa-san, segeralah lepas masa lajangmu! Ditinggal kawin pun Sakura kuadh. Apapun! Asalkan ia tidak dibeginikan oleh santriwati yang disayanginya.
Nyesek, anjir!
...Haruskah Sakura melepas Mas Ganteng Kalem Sang Husbando 3D Limited Edition?
Tidak. Sakura tidak mau! Sudah merupakan keajaiban dunia lelaki alim calon penghuni syurga itu jatuh hati padanya. Mana mau Sakura melepasnya!
T-tapi... Santrinya...
Mungkin ini yang disebut gegana. Gelisah galau merana.
.
.
.
Chic White Proudly Present
(A sequel from Thariqul Jannah)
.
.
.
Hurul 'Ain
[Prolog]
Tempat favorit Sasuke adalah kamar tertinggi hotel cabang Pantai Jimbaran. Kamar khusus yang ia buat untuk ditempati jika dirinya sedang berada di Bali. Kasurnya menghadap langsung ke bagian penutup ruangan yang dilapisi kaca besar sehingga ia dapat memandangi langsung indahnya pantai. Selain memandang bintang pada malam hari, pemandangan favorit Sasuke adalah ketika pantai berpasir putih dan birunya laut berpadu dengan lembayung jingga di angkasa.
Saat-saat seperti itu, Sasuke akan duduk di balkon kamar dengan secangkir teh hijau di tangan. Ah... Memang nikmat bersantai di sore ha—
"SASUKEEE...!"
—BRUSH!
"BROTHER ITACHI BARU SAJA MENGIRIMIKU PESAN BAHWA—Wait, mengapa kau menyemburkan teh kesukaanmu? Apakah ini saran dari paranormal yang menghubungi Mei minggu lalu?"
Sasuke menyeka mulutnya menggunakan lengan baju. Pria itu menghela napas; pasrah jika waktu santai sorenya lagi-lagi diganggu oleh seonggok kepala pirang. Dia mengambil beberapa helai tisu untuk menghilangkan jejak teh nikmat yang belum sempat melalui kerongkongannya. Tak lupa ia berikan tatapan tajam andalannya yang selalu bisa membuat karyawan ketar-ketir melihatnya.
"Kau mengagetkanku, Naruto!" seru Sasuke gahar.
Biang keladi hanya tertawa tanpa dosa. Sudah terbiasa dengan sikap galak Sasuke baik dalam mode teman maupun atasan. Mau dibentak seperti apapun, ditampol sekeras apapun, dan dijatuhi tugas bejibun dengan deadline sependek apapun, dia tetap nyengir kuda. Sering Sasuke jahati pun tetap tersenyum sepenuh hati. Dialah perwujudan sahabat (maso) sejati. Warbyazah, memang.
Namanya Naruto. Panjangnya Sasuke lupa. Dia bule asli yang lahir dan besar di DC. Sasuke seret ke Tanah Air untuk membantunya membangun pundi-pundi harta hingga sekarang sudah resmi naturalisasi menjadi penduduk lokal. Saking terlalu seringnya mereka bersama, Mas Itachi pernah memfitnah mereka maho bersama.
Ngeselin.
"Mas Itachi kirim pesan apa?" Sasuke bertanya, memancing agar Naruto menyambung kembali perkataannya yang terputus.
"Ah! Itu! Dia berkata kau sudah tunangan Hari Ied kemarin? Apakah benar?" Sasuke mengangguk singkat. Seketika raut wajah Naruto berubah sangar. "WHY DIDN'T YOU TELL ME YOU BASTARD?! I'M YOUR BEST FRIEND, AM I NOT?!"
Setelah itu, tembakan bantal, guling, dan benda ringan terdekat seperti kotak tisu dilepaskan oleh Naruto. Sasuke berhasil menangkis bantal dan guling, tapi kotak tisu berhasil mencium keningnya hingga terasa nyut-nyutan. Sebelum Naruto semakin mengamuk, Sasuke segera menjelaskan, "Pertunangan ini belum resmi."
Naruto berhasil dibuat diam dengan tatapan kebingungan. "Belum resmi bagaimana maksudmu?" tanyanya.
"Calonnya belum siap kunikahi. Dia meminta waktu dua tahun untuk mempersiapkan diri. Begitulah." Sasuke menjawab sekenanya. Sebelah tangannya sibuk mengelus kening yang masih terasa nyut-nyutan.
"Belum siap? Berapa umurnya?"
"19 tahun."
"Wow. Pantas kau kebal godaan Mei. Suka anak kecil ya." Naruto manggut-manggut.
"OI!"
"Aku tak pernah menyangka kalau kau ini pedofil."
"Naruto! Perbedaannya hanya 5 tahun! Aku bukan pedo!"
Naruto mengekeh puas. Temannya yang tiada hari tanpa keseriusan ini memang menarik untuk dijahili sesekali. Oh ya. Naruto masih belum mengerti bagaimana rekannya yang workaholic sampai awal Ramadhan tiba-tiba berstatus telah bertunangan saat ini. Apakah orang bisa berubah secepat itu? "Kau tidak pernah bercerita soal perempuan padaku. Kau ini dijodohkan oleh Kakek atau bagaimana?"
"Aku melamarnya atas kehendakku sendiri," Sasuke? Menerima dirinya dijodohkan? Tidak mungkin. "Aku pernah menceritakan tentangnya, kok! Dek Sakura."
"Dek Sakura?" Naruto mengedipkan matanya—memproses informasi yang baru saja Sasuke berikan. "Oh! Jadi kau tidak pedo, tapi incest? You're so disgusting bro!"
"WOI!" Sasuke melemparkan bantal dengan kesal. "Aku tidak bermaksud untuk jatuh hati padanya!"
Naruto menangkap bantal itu dengan mudah. Cengiran kembali di wajahnya. Kali ini mengisyaratkan keusilan. "Wajahmu merah, Sas. So cute."
"Enyahlah dari sini, dasar maho!"
Naruto mengabaikan usiran itu, berjalan melewati Sasuke dan berdiri di sisi balkon yang satunya. Mata birunya menginvasi tiap inchi kamar Sasuke yang beberapa bagiannya berantakan oleh tumpukan dokumen dan katalog bisnis, lalu berakhir pada sosok temannya.
"Sakura pasti senang saat kau lamar. Kau pernah bilang dia naksir padamu, kan?" Sasuke menghela napas. Memang, gadis itu terlihat bahagia saat berhasil melihat keseriusannya saat melamar. Wajahnya merona, matanya bersinar, senyum terus terpatri di wajahnya. "Tiap bertemu denganmu, pasti dia tersenyum lebar."
Nah. Di situ yang salah.
Sasuke sendiri mengira selepas lamaran ini, ia akan bertemu dengan Sakura yang gugup dan salah tingkah, tapi tetap tersenyum padanya. Seperti di telepon. Sayangnya, dua hari yang lalu, ketika Sasuke mampir sebentar ke Pondok Utama sekalian mengantar bingkisan pesanan Kakek Madara dan pamit ke Bali, ada yang berbeda. Sakura memang tampak gugup. Dia tetap salah tingkah. Tapi senyumnya terlihat beda. Kaku. Dipaksakan.
Sakura terlihat sedih. Sasuke tidak suka itu.
"...Sasuke? Ada apa?" Naruto mengernyit heran dengan perubahan mimik nyaris tak terlihat di wajah temannya. "Is something wrong?"
Sasuke menghela napas untuk yang ke-sekian kalinya hari ini. Dia menenggak habis tehnya hingga tak tersisa sebelum berujar, "Aku tak tahu apa yang terjadi selama kami tak bertemu, tapi Dek Sakura terlihat sedih. Aku ingin menghiburnya. Ada saran?"
"Kau bawa saja dia ke sini. Suasana Pantai Jimbaran cukup romantis, kan? Setelah makan malam lovely di cafe outdoor hotel kita, kalian bisa kembali ke kamar lalu—" Sebuah tendangan diterima tulang kering Naruto. "—THAT'S HURT, CHIEF UCHIHA!"
"Lanjutkan ceritanya. I dare you." Sasuke menggeram rendah.
Naruto tertawa ringan. "Oh, ayolah! Aku yakin kau pernah membayangkan kalian melakukan—OUCH! JANGAN MENJEWERKU! KAU INI APA?! IBUKU?!"
"Astagfirullah! Jangan racuni pikiran ana dengan imajinasi kotormu, Naruto!"
"Cihuy! Mode alimnya on! Kenyataan bahwa kau mengerti apa yang akan kukatakan sebelum selesai kuucapkan itu sudah something sekali, Chief! Aku berani bertaruh, meski kalem di luar, kau ini jagoan ranj—" Suara pukulan terdengar nyaring disertai lolongan nyeri dari korban kekerasan. "—MY FACE! THAT'S MY PRECIOUS HANDSOME FACE YOU BASTARD!"
"Lakukan sekali lagi dan kau akan kupecat. Bukan hanya sebagai karyawan, tapi juga teman."
Naruto meringis kecil. Dipecat, diperbudak, atau dijadikan gelandangan pun Naruto rela. Asalkan jangan putuskan ikatan persahabatan mereka. Jangan. Pokoknya jangan!
"Sorry!"
"I don't care."
"Sas—"
"—I'll go. Bye."
"W-WAIT, SAS! AKU TAHU CARA YANG TEPAT UNTUK MENGHIBUR SAKURA!"
"...Baiklah. Aku mendengarkan."
.
"Sakura, ponselmu bergetar." Ino mencolek pipi Sakura dengan jempol kakinya. Yang diganggu hanya menggerutu pelan dan bertahan memejamkan mata. Sudah beberapa hari ini ia memang mengeluh tidak bisa tidur.
Ino tidak tega untuk mengganggu istirahat Sakura. Tapi, repetisi getaran benda elektronik itu cukup mengganggunya yang sedang menghafal.
"Mbak Sakura...?" Hinata ikut turun tangan. Dia sedang mengerjakan tugas dan merasa terganggu pada eluhan Ino yang terganggu aktivitas murajaahnya. "Bagaimana kalau penting?"
"Tutup saja teleponnya, Hinata. Lalu tolong matikan." Akhirnya sang empunya ponsel berkicau.
Hinata mengangguk ragu. "B-baiklah..." Junior dari dua penghuni lain kamar asrama itu membuka ponsel Sakura, terdiam sejenak menatap layar. "...Husbando 3D? Siapa Mb—"
Hinata hanya melongo saat ponsel Sakura dirampas dari tangannya. Oleh siapa? Oleh yang punya.
"Halah. Dari Akhi Tercinta langsung bangun dan disambar. Katanya mau dimatikan?" Ino menyindir.
Sakura mengabaikannya; membiarkan Ino segera melanjutkan hafalan. Gadis itu memakai jilbab sederhana dan jaket, lalu keluar dari kamar sambil mengangkat telepon.
"A-Assalamu'alaikum?"
Sakura mendadak deg-degan.
["Waalaikumsalam. Ana tidak mengganggu, kan?"]
"Tidak, akhi."
["...Anti sakit? Suaranya—"]
"Aku baik-baik saja."
Hening sejenak.
["Baiklah. Ana berencana ke Yogyakarta minggu depan. Anti mau ikut?"]
Sakura mengernyit. Yogyakarta? Minggu depan?
"Ada apa ya, Akhi?"
["Anifest National. Tiketnya sudah aman. Mau ikut?"]
Sakura menganga. Anifest National, festival jejepangan yang diadakan tiap bulan di beberapa kota berbeda. Sakura sudah mendengar dari jaringan informasi sesama penggemar kalau bulan ini Yogyakarta kebagian jatah untuk menjadi tempat diselenggarakannya acara. Untuk dapat hadir itu tidak mudah. Selain tiketnya yang lumayan mengocek dompet, biasanya tidak akan kebagian kalau tidak pesan lewat panitia dari jauh-jauh hari.
Sasuke bertanya apa Sakura mau ikut? Ngelawak, ya? Tentu saja!
"MAU BANGET!"
.
.
.
Bersambung
Cuma bisa mesem lihat notifikasi dari ffn haha.
Semoga ff ini cukup berfaedah untuk dibaca. Karena jika kalian pembaca setia saya, kalian pasti tahu mayoritas ff buatan saya itu tidak ada faedahnya. :v
SYUKRAN JIDDAN!
Balasan review untuk yang tidak log-in dan yang tidak bisa dipm
Lhylia Kiryu : Syukurlah. Siap bos!
ssch1 : Terima kasih^^ Semoga makin suka ya!
Yang lain cek inbox ya wkwk.
Sekian terimagaji.
Salam Petok,
Chic White
(Your Possible!Chic-ken*roosting*)
