Entah kapan tepatnya saat aku mulai terperosok pada jurang yang dalam ini. Tidak dapat kuingat siapa, karakter mana, fandom apa, yang pertama kali mengonsumsi jiwaku hingga seperti ini. Tahu-tahu saja, hatiku sudah mengelukan cinta yang tulus untuk ratusan husbando yang kupersunting secara sepihak. Terutama roti sobek nikmat nan menggoda itu.

Beberapa teman sesama penggemar mengataiku fangirl hawek(tamak). Di saat mereka memiliki satu husbando yang dijunjung di hati, atau tergantung fetish tertentu(rambut merah mata emas, misal); husbandoku tersebar di tiap fandom. Satu husbando tiap fandom itu kemarau. Minimal dua atau tiga, aku masih merasa kurang asupan. Berbagai penampilan dan kepribadian. Ntab jiwa!

Husbando is laifo, bravo!

Sekarang duniaku agak terguncang. Aku dapat merasakan keretakan pada bahtera cintaku dengan ratusan husbando tertjintah. Husbando 3D punya roti sobek itu ternyata bukan hanya bualan semata. Terpampang jelas, terbentuk sempurna oleh Yang Kuasa dengan sedemikian rupa, basah, berbisik seduktif meminta diraba-raba.

Otakku seketika konslet. Aku mematung nista di daun pintu kamar cucu kesayangannya Kiai Madara, tanganku membatu di kenop. Mataku terbelalak lebar—tak berkedip, tak mau berlumur dosa.

Tatapan pertama adalah rejeki, yang kedua itu dosa. So, mataku menjerit; memaksakan diri untuk tidak mengedip. Berpuas diri menangkap pemandangan indah di depan sana. Tatap, selidiki, ingat-ingat, PATENKAN DALAM INGATAN! YAHUUU!

Aku pasti bermimpi. Aku melihat Mas Sasuke terpaku dengan wajah merona hebat. Syit. Ini tindakan kriminal. Bagaimana bisa dia membuatku fuwaaa-fuwaaa begini?! HUSBANDO GANTENG BISA MOE JUGA TERNYATA!

Lalu, keindahan yang kunikmati diinterupsi oleh lemparan sendal bakiak—setengah basah habis dipakai berwudhu—yang sukses mengenai kepalaku; seketika aku merasa pening dan akhirnya kubiarkan tubuhku ditangkap oleh lantai kayu Pondok Utama. Aku tevar dengan bahagia.

"DASAR MESUM! TAK TAHU ADAB! JANGAN MENGINTIP CUCUKU! SEMOGA BINTITAN PERMANEN, KAMU!"

WOI JADI KIAI NGEDOAIN YANG BAEK-BAEK, NAPA?! MASA IMUT GINI BINTITAN?! NDASMU MBAH!

"Ini tidak seperti yang Anda pikirkan, Kiai."

"SAYA TIDAK MAU TAHU! KAMU TELAH MENODAI CUCU SAYA! NIKAHI DIA SEKARANG JUGA!"

...Bukankah peran kami ini sedikit terbalik?

.

.

.

Chic White Proudly Present

(A sequel from Thariqul Jannah)

.

.

.


Hurul 'Ain

[Chapter 2]


Aku mulai curiga kalau Ummu Mikoto itu bipolar. Kelihatannya bidadari berhati mulia, tapi di dalamnya tersembunyi mode iblis! Manipulatif sekali! Rejeki yang kudapat di waktu subuh? Itu gara-gara beliau! Yang berhasil membungkam Kiai Madara dan bahkan membuatnya ketakutan? Orang yang sama!

Ummu Mikoto berhasil membuat kami mengantongi izin tidak ikhlas pergi ke Yogyakarta dari Kiai Madara. Katanya, beliau justru mendukung untuk terjadinya sesuatu hal di antara kami, agar pernikahan cepat terjadi. Apaan coba?

Dan lagi, senyumnya itulho... SEREM!

Seolah dia memang mengharap—no, lebih tepatnya menyuruh agar kami melakukan sesuatu.

Intinya, kami akhirnya bisa berangkat menggunakan mobil pribadi Mas Sasuke. Dalam kecanggungan. Setidaknya untukku.

...Siapa yang tidak akan canggung setelah tak sengaja menangkap basah seseorang sedang setengah telanjang? ROTI SOBEK ITU BIKIN LAVAR TAHU ENGGAK?!

Sayang sekali tubuh bagian bawahnya masih ditutup celana boxer.

—SYIT. RALAT. KOK KEDENGERNYA HENTAI GITU YA?! MAKSUDKU UNTUNGNYA DIA MASIH PAKAI CELANA BOXER. WAAA! INI MEMALUKAN! KIAI MADARA BENAR! SIAPAPUN TOLONG SELAMATKAN MAS SASUKE DARIKU!

"Anti kenapa?"

"Gak apa-apa, hehe..."

Sial. Aku tambah canggung.

Pulang nanti, aku harus melaksanakan shalat taubat. ASAP!

.

Dua jam perjalanan dihabiskan dengan kesunyian total. Hanya siaran radio yang menjadi suara latar pemecah keheningan. Aku mulai tidak nyaman dengan sepi di antara kami. Kuputuskan untuk mengakhirinya.

"Eh—" Kurasa pipiku memanas. Bukan hanya aku, rupanya Mas Sasuke memikirkan hal yang sama. Kami menyahut bersamaan.

Kalau ini di pondok, aku yakin siulan heboh dari Ino dan kikikan geli Hinata mulai menjadi suara latar.

"Anti dulu deh." Mas Sasuke menolehkan kepalanya sebentar dan tersenyum tipis, lalu memfokuskan kembali matanya pada badan jalan.

Aku doki-doki seperti biasa.

"E-eh...I-itu... A-aku mau minta maaf soal... anu itu, mm, yang subuh." Lidahku gatal. Siapapun yang melihatku sekarang pasti meragukan keabsahan medali emas lomba debat nasional tingkat SD/sederajat yang ada di kamarku. Aku juga meragukannya. "...A-aku tidak bermaksud untuk—"

Mas Sasuke terbatuk. ...Gugup? Entahlah. "Tidak apa. Ini salah Ummi, bukan salahmu." Suara kekehan pelan terdengar. "Apa yang Kakek katakan tolong jangan diambil hati. Ana akan setia menunggu sampai anti siap."

Doki-dokiku naik tingkat. "Selamanya?" Aku bertanya usil.

"Selamanya." Mas Sasuke mengangguk, tertawa kecil. Kok deja vu ya. Serasa menonton ulang Azuki Miho dan Mashiro Moritaka. "...Tapi jangan sampai ubanan juga ya, Dek. Ana tidak sanggup digantung selama itu."

Aku mengangguk singkat. Segera kualihkan pandangan ke luar jendela saat lagi-lagi senyum manis bikin meringis dapat kulihat di wajah Si Mas Ganteng Kalem.

Ah, sial. Rasanya malu sekali.

Oh... Omong-omong soal Azukyun dan Mashiro-sensei... "Akhi... Punya impian tidak?"

Lampu merah. Mas Sasuke menatapku lurus. "Random sekali," komentarnya.

"M-maaf! Tiba-tiba melintas begitu saja! Kalau dirasa privasi, tidak dijawab juga tidak apa-apa!" Aku mendadak panik. Teringat kata-kata santriwan-santriwati kalau Mas Sasuke paling tidak suka privasinya diusik.

Rasanya tenang, saat Mas Sasuke tertawa ringan. Wajahnya kembali menghadap ke depan—sudah lampu hijau—tapi senyum tetap bertahan di wajahnya.

"Ana agak terkejut, tapi senang kok, anti bertanya. Impian ana banyak sih. Tapi yang paling penting dan sekarang sedang dikejar itu... membuatmu bahagia, habibah."

...ORANG GANTENG MAH BEBAS YA! SEENAKNYA SKAKMAT-IN HATI ANAK ORANG! INI ILEGAL!

"Sempet-sempetnya ngegombal ini orang," sungutku.

"Gombal apa? Ini jujur dari lubuk hati, kok." Mas Sasuke tertawa renyah. "Salah ya kalau ingin membahagiakan orang yang dicintai dan disayangi?"

STOP THAT. MY KOKORO NGGAK SANGGUP LAGI! INI ILEGAL WOI! ILEGAL!

"Walah... Habibah jadi Humairah(panggilan sayang rasul pada Aisyah r.a., yang artinya : pipinya kemerah-merahan)."

Aku ingin pingsan.

"Bisa buka kacanya, Akhi? Agak panas di sini." Aku mengipasi wajahku.

Baru sekarang suara tawa Mas Sasuke terasa menyebalkan untuk didengar.

"Tidak bisa. Mobil ini sudah pakai AC. Kalau anti minta lebih dingin, tidak akan ana kabulkan. Nanti masuk angin. Ana tidak mau anti sakit."

Oh my kokoro... Bertahanlah!

"Cuma masuk angin dikerok juga jadi." Aku menggelengkan kepala heran.

"Oke deh. Pas pulang nanti mau Mas kerokin?" Mas Sasuke mengedipkan sebelah matanya.

Aku memukul bahunya kesal, lalu menukas, "Belum muhrim, Mas! Gak boleh!" Entah wajah ini sudah semerah apa dibuatnya.

"Yaa muhrimkan saja. Mau akad kapan?"

Ino dan Hinata, kawanku yang setia, kurasa aku akan mati bahagia.

.

.

.

Anifest National itu...sesuai dengan apa yang kubayangkan selama ini. Cosplay Competition yang epic, Voice Acting Competition cihuy, Cover Dance jempolan, Guest Star yang tak dapat diremehkan, dan stand-stand merchandise berbagai fandom yang banyak peminatnya. INI SURGA DUNIA, VROH! BELUM AFDOL KALAU BELUM DATENG MESKI SEKALI SEUMUR HIDUP!

Selesai menjarah isi festival itu hingga kaki pegal-pegal, kami kembali ke penginapan. Kamarnya sengaja dipesan bersebelahan agar kami bisa mengobrol sebentar di balkon.

"Syukran jiddan lho, Akhi. Aku benar-benar senang hari ini."

"Afwan. Syukurlah kalau kau senang. Tempo hari kelihatannya suntuk banget, anti. Sedih juga." Aku tersentak. Wait... Jangan bilang, Mas Sasuke mengajakku ke mari untuk menghiburku?

"Maaf sudah membuat Mas Sasuke khawatir."

"Tidak apa-apa." Mas Sasuke tertawa ringan. "Mau bercerita, tidak?"

Aku meragu. Haruskah kuceritakan?

"...Ini soal santriwati." Atensi Mas Sasuke terarah sepenuhnya padaku. Meleleh. Aku merasa amat spesial. "Belakangan ini mereka gencatan senjata denganku. Ummu Mikoto menceritakan 'kau tahu' pada mereka. Sepertinya mereka membenciku sekarang. Akhi tahu sendiri mereka naksir akhi. Terutama Karin."

"Mungkin ada kesalahpahaman. Coba anti bicarakan baik-baik dengan mereka. Rasanya tidak mungkin mereka membencimu begitu saja, habibah. Bagaimana pun, mereka sayang padamu."

"A-akhi pikir begitu?" Mas Sasuke mengangguk. "B-baiklah. Nanti akan kubicarakan dengan mereka."

Pundakku terasa ringan. Aneh sekali.

"Toyyib. Sekarang tidurlah. Awali hari esokmu dengan senyuman, habibah. Lailatukum sa'idah."

Kurasa...aku akan tidur lelap malam ini.

Husbando 3D memang dabes.

.

.

.


Bersambung


Untuk yang sudah baca di grup fb mungkin udah greget ya nunggu Chic up chapter 8 xD Tunggu ya, nanti dibarengin sama ch 8 di sini.

Balesan ripiu~

CherryFreeze : Nanti kalau ada kubungkus dan kuhias pita deh. Ntar dikirim ke rumahmu lewat telegram wkwkwk.

Neko si pelaut : Aamiin! Wkwkwk... Omong-omong... Kamu cucunya Popeye ya?

sakura : Pertanyaan bagus. Baru saja saya mau klarifikasi setelah cerita perjalanan mereka selesai wkwk. Sebenarnya tidak boleh sih. Apalagi kalau keluar kota. Bisa mengundang zina, benar? Jadi, jangan diikuti ya wkwk. Sebisa mungkin dijauhi. Tapi, dalam pandangan saya yang mencoba menempatkan diri sebagai Ummu Mikoto, ada dua hal yang dijadikan dasar 'yaudahlah gapapa asal jangan macem-macem'. Keduanya tidak berkhalwat. Karena yang namanya festival jejepangan itu tempat ramai. Lalu, tentang larangan wanita bersafar tanpa mahram. Ada hadits yang mengatakan dilarang jika tiga hari perjalanan. Ini kembali lagi kepada kepercayaan masing-masing sih.

Oh iya. sakura-san juga review di drabble Thariqul Jannah, ya? Menanyakan 'bukan suami istri kok pelukan?'. Memangnya tidak tertangkap kalau dari drabble 4-9 berlatar waktu saat mereka telah menikah?

Dan mohon digarisbawahi, ini cerita dengan tema islami. Apakah salah jika saya buat seorang tokoh melakukan kesalahan atau kekhilafan? :)

Pesan-pesan moral dalam sebuah cerita tidak selalu disampaikan secara tersurat. Dan tidak semua yang penulis buat adalah hal yang di kehidupan sehari-hari dianggap boleh.

Yamasa penulis buat cerita pembunuhan untuk memprovokasi pembaca agar jadi pembunuh?

Entah apa yang Chic ketik di sini. Kalau masih ada keganjalan atau kesalahan boleh kritik lagi saja. Chic mabok rumus dan pemrograman udah dua hari gak tidur mau bubu dulu wkwkwk

Terima kasih untuk semua pembaca yang berkenan meninggalkan jejak!

Any comment? :3 Kritik dan saran ditunggu.

Sekian terimagaji.
Salam Petok,
Chic White

(Your Possible!Chic-ken *roosting*)