Kalau ada masalah terendus oleh Kiai Madara, sekecil apapun itu, beliau pasti sengaja mengumpulkan seluruh santriwan-santriwati ke aula utama dan mengadakan semacam sidang untuk menyelesaikannya. Karena mengibarkan bendera putih tidak semudah tertukarnya susunan sanad dalam hafalan hadits; juga sekeras apapun aku mencoba santriwati tetap menghindariku secara terang-terangan, pada akhirnya Kiai Madara turun tangan juga.
Pagi itu seharusnya santriwati melaksanakan senam pagi. Tapi, mereka semua diminta berkumpul oleh Kiai Madara. Seperti panggilan mendadak pada umumnya, suasana di aula utama begitu tegang. Semua diam, tak ada yang berani bahkan hanya untuk berbisik. Tapi, beberapa cukup punya nyali untuk melempar tatapan tajam padaku yang setia berdiri di sebelah Kiai Madara.
"Apa kalian tahu alasan ana meminta kalian berkumpul?" Kiai Madara memulai. Suasana semakin tegang. Intensitas tatapan tajam bertambah ke arahku.
Rasanya aku ingin menangis.
"Ana malu melihat sikap kalian belakangan ini. Seperti itukah cara kalian memperlakukan seorang mudarrisah(pengajar {P}) yang telah membimbing kalian 2 tahunan ini?" Suara beliau menggema dengan tegas. Tak lekang oleh usia, tetap sama seperti pertama kali aku mendengar beliau menasehatiku beberapa tahun silam. "Apa alasan kalian memperlakukan Ustadzah Sakura seperti itu?"
Hening. Tak ada yang menjawab.
"Sejauh yang ana lihat, Ustadzah Sakura serius dalam mengajar dan membimbing kalian. Bagian mana yang kalian tidak suka, bisa kalian ungkapkan. Agar menjadi evaluasi bersama. Kalau kalian bertahan memupuk dosa seperti ini, ana akan mempertimbangkan untuk mengganti Ustadzah Sakura."
Aku tercekat. "K-Kiai—"
"—Ada yang bisa mengungkapkan alasan dari sikap memalukan kalian ini dan kita selesaikan sama-sama? Atau kalian memilih Ustadzah Sakura digantikan?"
Enam tahun belajar dan dua tahun mengajar di pondok pesantren ini bukan waktu yang sebentar. Aku tak siap untuk pergi begitu saja, apalagi hanya karena masalah pribadi seperti ini. Keluarkan aku jika aku tidak becus bekerja, aku ikhlas. Bukan seperti ini!
"J-jangan! Jangan digantikan! Tidak ada yang salah dengan Mbak Sakura!" Satu santriwati menolak lantang. Hinata.
"Ayolah, teman-teman! Jangan membuat Sakura mendapat hukuman atas apa yang tidak dilakukannya! Masa kalian setega itu sih?!" Kali ini Ino yang bersuara.
Aku mulai mendengar bisikan di sana-sini.
"Ana serahkan sisanya padamu. Jelaskan, mereka akan mengerti." Kiai menepuk puncak kepalaku sekali, lalu berbalik keluar.
"Semuanya... Aku mau minta maaf."
Ketika atensi seluruh santriwati terpusat padaku, aku reflek menangis. Didiamkan bahkan tak dipandang oleh mereka selama berhari-hari sangat menyesakkan.
Muridku. Temanku. Sahabatku. Adik-adikku. Keluargaku.
Aku rindu bercengkrama dengan mereka.
.
.
.
Chic White Proudly Present
(A sequel from Thariqul Jannah)
.
.
.
Hurul 'Ain
[Chapter 3]
Sasuke memperluas cakupan bisnisnya bukan hanya membuka cabang-cabang baru. Dia tidak segan merekrut perusahaan yang lebih kecil untuk bergabung bersamanya. Oleh karena itu, perkembangannya cukup pesat dan dapat menyaingi perusahaan besar lain. Dengan pamor seperti itu, bukan hanya perusahaan kecil saja, bahkan perusahaan besar pun berlomba-lomba menjalin kerjasama dengannya.
Terkadang, Sasuke merasa diremehkan oleh banyak pihak.
Cukup banyak perusahaan yang mengirim utusan seorang perempuan dengan pakaian yang kurang sopan. Mencetak jelas bentuk tubuhnya, memamerkan anugerah lebih yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan ketika menghadap padanya, beberapa kali mereka menggodanya secara terang-terangan.
Bukannya Sasuke kebal godaan, tapi itu semua tertutupi emosi karena merasa harga dirinya dijatuhkan.
Nggak tahu, ya? Sasuke ini cucu kesayangannya pemilik pondok pesantren paling beken se-Tanah Air! Ya masa disuap untuk memberi persetujuan bekerjasama dengan cara begitu?!
Meskipun prospek bisnis ke depannya sangat bagus, Sasuke tidak segan memberi usiran halus.
Untuk apa penawaran bisnis menjanjikan jika Sasuke diperlakukan begitu? Seolah ia akan takluk karena disuguhkan utusan bak wanita penghibur. Cih. Ngelawak, ya?
"Naruto, aku sudah bilang padamu untuk tidak membiarkan wanita berpakaian tak senonoh masuk ke ruanganku. Apa kata-kataku kurang jelas?" Sasuke menegur rekan sekaligus kawannya itu dengan mata menyipit tajam.
Yang ditegur tertawa gugup, "Jelas kok, jelas! Maaf, yang satu itu prospeknya bagus sekali. Kupikir—"
"—Meskipun penawaran bisnisnya bisa membuatku menjadi orang terkaya sedunia, tetap ada adabnya." Sasuke mendengus.
"Dasar alim." Naruto mengekeh maklum.
"Titip dulu, aku mau shalat Dzuhur ke mesjid."
"Titip pahala dan kebaikan, ya!"
"Ngaco, anta. Jadi muallaf sana!"
"Iya nanti, kalau kecantol santri pondok kakekmu!"
Sasuke menggelengkan kepalanya mafhum. Naruto itu, ya, ada-ada saja. Sasuke sumpahi dia seriusan kecantol santri Kakek Madara. Haha.
.
.
.
"HEE?! Jadi waktu Mbakyu datang, Mas Sasuke dan keluarganya sudah ada di sana?!"
"Oho?"
"Uhuk, romantisnyaa!"
Ada yang lihat sekop? Sumpah demi senyuman menggoda iman dari Zen Wistaria Sang Pangeran, aku ingin menggali lubang dan mengubur diri hidup-hidup. Bagaimana caranya forum sidang ini berubah menjadi sesi introgasi dan momen diriku dibuli?
Kamvretos totallium. Aku malu sekali.
Setelah kujelaskan bahwa aku sendiri tidak tahu-menahu kalau Si Mas Ganteng Kalem ternyata berniat mempersuntingku dan aku memohon maaf karena secara tidak langsung aku menerimanya, santriwati beralih memintaku menjelaskan apa yang terjadi dengan rinci.
Bahkan tiap kata yang terucap semua penghuni rumah kala itu, mereka ingin aku menceritakannya secara jujur.
"Padahal langsung terima aja lah Mbak. Bisa mempersiapkan diri sambil jalan, kan?" Seorang santri mengungkapkan pendapatnya.
Kurasa, wajahku semakin memanas.
"Gak. M-mbak gak bisa," tanggapku dengan kegugupan yang kentara.
Mayoritas terkikik. Tiba-tiba saja aku merasa sebal. Jelas sekali pandangan mereka itu menunjukkan keusilan. Bagus, ya. Setelah membuatku galau berkepanjangan, kini mereka aktif menggodaku. Geez, terima kasih banyak.
"Lho? Kenapa tidak bisa, Mbakyu? Cocok 100% kok!"
"Dan lagi kalau udah akad tiap memikirkan Mas Sasuke kamu gak perlu istigfar lagi, Sak." Ino tertawa terbahak-bahak. "Mau langsung sosor tiap ketemu juga gak masalah."
JURANG MANA JURANG? PENGEN DORONG INO BOLEH NGGAK?
Obrolan terus berlanjut. Satu per satu mengambil bagian untuk menggodaku. Tak dapat kutahan senyumku saat mereka tertawa bersama.
Ngeselin sih, tapi aku bersyukur kami sudah tidak perang dingin lagi.
Tatapanku menelusuri seisi ruangan, lalu berhenti pada Karin yang ternyata sedang menatapku. Aku meneguk ludah. Rasa bersalahku lebih berat pada anak itu. Bagaimana pun juga—
"Aku gak keberatan kalau Mbak Sakura yang jadi pendamping Mas Sasuke." Karin berujar tiba-tiba. "Kalian memang cocok kok."
...Kok terhura ya. Senyum Karin memang sendu, tapi dia tulus mengatakannya. Aku bisa lihat dari pancaran hangat matanya.
"Syuk—"
"Aku belum selesai bicara," Kali ini Karin mengerucutkan bibirnya. "kalau Mas Sasuke mau poligami, ajak aku ya Mbak."
"Aku juga!"
"Aku! Aku!"
"Kamu masih bocah. Aku saja!"
...Nani dafuq.
.
"Perangnya sudah selesai?" Aku tersentak dan menghentikan langkahku. Padahal kelas yang harus kuajar tinggal beberapa meter saja.
Aku berbalik dan memasang senyum kaku. "Assalamualaikum, Kiai."
"Waalaikumsalam." Kiai Madara tersenyum—tidak, lebih tepatnya menyeringai—dan merebut kitab kuning yang selalu kubawa ke mana-mana. "Tak usah ke kelas hari ini. Shizune akan menggantikanmu."
Lho?
"Ada yang lebih penting. Ikut ana!" Kiai Madara berjalan mendahuluiku. Aku mengikuti beliau dengan patuh.
Kiai Madara membawaku ke Pondok Utama. Tepatnya ke ruang arsip sekaligus perpustakaan khusus untuk tenaga pengajar. Di meja yang biasa kami gunakan untuk rapat pengajar itu terdapat berbagai dokumen yang berserakan. Selain itu, ada sesosok pria asing berambut pirang sedang duduk lesehan dengan wajah serius di sana.
Pengajar baru, ya?
"Nak Naruto." Kiai menyapa. Pria itu menaikkan pandangannya dan tersenyum lebar.
Naruto? Hmm... Rasanya nama itu tidak asing.
"Eh, hai, Kek!" ujarnya. Lalu, tatapannya beralih padaku.
Rasanya aku ingin melempar sesuatu. Aku hafal dengan jelas tatapan macam apa itu.
"Hai, Manis."
Kalau bukan pria hidung belang, palingan makhluk kurang kerjaan yang genitnya na'udzubillah.
Whack!
Kemudian, aku dikejutkan oleh sebuah buku tebal yang mengenai kepala pirang itu dengan cukup keras. Ouch. Itu pasti sakit.
"INI SUDAH KETIGA KALINYA! APA SALAHKU KALI INI?!" raung Si Pirang.
Kulitnya tan eksotis. Cengirannya menyilaukan meski menjengkelkan. Genit pula. Kalau saja dia karakter anime, sudah kusunting jadi husbando. Sayangnya manusia beneran. Aku tidak suka.
Melihat pelaku penganiayaan pada si Pirang, aku terpaku di tempat.
"Aku tidak peduli kalau kau flirting pada siapapun, tapi yang satu ini punyaku. Back off, idiot."
"Eh? ...OH! INI YANG NAMANYA SAKURA?!" Naruto, si Pirang, tertawa. "Sorry, Sasuke."
Aku pangling. Lagi-lagi, aku melihat Si Mas Ganteng Kalem dengan busana selain baju koko dan kopiah berbatiknya. Sosoknya tampak semakin gagah dengan pakaian formal khas bos-bos di drakor yang kulihat gara-gara paksaan Ino dan Hinata. Aku lupa bagaimana caranya bernapas selama beberapa detik.
Gantengmu nambah, Mas.
Uhuk.
Beristigfar dalam hati, kualihkan pandanganku kepada Kiai Madara. Beliau sedang menatapku dengan ekspresi menyilaukan. Senyum lebar, pancaran mata yang begitu berkilau.
Sesaat kupikir, beliau kerasukan tuyul.
"Bagaimana? Cucuku tampan, kan?"
Mataku reflek kembali menatap objek yang disebutkan. Seolah ini adalah komik shoujo yang hobi membuat pembacanya kalau tidak diabetes pasti terkena darah tinggi karena iri, objek bersangkutan juga tengah menatapku.
Mas Sasuke itu kulitnya putih porselen. Kalau tersipu, ronanya terlihat jelas sekali.
Hatiku dag-dig-dug, batinku menjerit 'MOE!' saat melihat jelas bagaimana merahnya pipi itu.
Jujur, aku ingin menggodanya. Barangkali menjahilinya sedikit. Seperti yang selalu kulakukan setiap melihatnya merona karena sesuatu.
Kali ini, kutahan. Kenapa?
Karena aku sadar, wajahku pun terasa panas.
"Cie yang sedang dimabuk cinta~ Betah amat saling memandang seperti itu~"
Wajahku terasa semakin panas. Aku meringis kecil saat mendengar suara hantaman buku untuk yang kedua kalinya.
"BOSS! I'm your secretary for goddamn's sake! Is this how you repay me after all the things I have done for you?!"
"You deserves it."
"Cruel!"
"Thank you."
Aku terlonjak saat Kiai tertawa lebar. Kuberikan tatapan datar pada beliau.
Aku memang senang bisa melihat Sasuke lagi. Akan tetapi, bukan berarti aku senang waktu mengajarku diganggu dengan seenak jidatnya. Aku punya kewajiban, tahu.
"Maaf, Kiai. Tapi—"
"—Ana kenal tatapan itu." Kiai Madara terkekeh. "Maaf mengganggu waktu mengajarmu, Ustadzah. Tapi cucuku ini jarang sekali menampakkan batang hidungnya dan jarang bisa melakukan komunikasi pribadi. Tidak akan lama, kok. Dia tidak pernah mampir lama. Hanya Ramadhan saja yang jadi pengecualian."
"Kiai—"
"Tolong temani sebentar, ya?" Kiai Madara menepuk pundakku. "Ana mau mengajar lagi."
Kiai Madara berjalan keluar.
"Eh, wait, Kek! Aku tidak sudi jadi obat nyamuk di sini!" Naruto berdiri dan mengejar beliau. Tapi, pintu ditutup tepat di depan wajahnya. "OY PAK TUA!"
"Diam di sana. Awasi mereka supaya tidak berkhalwat." Suara Kiai Madara terdengar mengecil. Beliau meninggalkan kami.
Naruto berbalik dan menatap Sasuke kebingungan. "Berkhalwat? Apaan tuh?" tanyanya.
"M-mana dokumen hasil meeting yang tadi? Aku sudah menemukan file salinan yang kusimpan di sini." Mas Sasuke sempat menatapku, tapi tak lama kemudian langsung memfokuskan matanya pada dokumen yang berserakan dan duduk di tempat yang Naruto duduki sebelumnya.
"Obrolan ini belum selesai, Chief." Naruto duduk di samping Sasuke. Tangannya meraih beberapa dokumen dan memberikannya kepada Sasuke. "jadi, mau bagaimana?"
Mereka hanyut ke dalam obrolan yang tak kumengerti. Oh iya, dipikir-pikir aku tidak tahu apa-apa soal pekerjaan Mas Sasuke dan belum tahu bagaimana sosoknya saat bekerja.
Aku mempelajari hal baru tentangnya. Aku senang.
Mungkin Kiai Madara benar. Ini penting dan harus kuketahui, sebagai calon pendamping sehidup-sematinya.
...Kalau ini dunia anime, mungkin kepalaku sudah mengepulkan asap. Aku malu sekali rasanya.
"Ah, sial. Hei, Pinky, aku tidak bisa konsentrasi dengan pandangan penuh cintamu itu. Langsung maju dan peluk saja kalau memang rindu." Naruto bersiul.
Kalau badanku memiliki titik didih yang cukup rendah, aku yakin aku sudah menguap dan menyatu dengan partikel gas di udara. Sialan. Ternyata pria bule bernama Naruto ini satu spesies dengan Ino.
Aku memalingkan wajahku. "M-maaf. Silakan lanjutkan." Kulangkahkan kakiku menuju salah satu rak berisi buku bahan ajar.
"...Baru buka jas sekarang, Sasuke?"
"D-di sini terasa panas."
"Kenapa tidak dibuat semakin panas saja dengan Sakura? Kudengar perpustakaan adalah salah satu tempat yang patut dicoba untuk—"
WHACK!
"SAKIT WOI, UCHIHA!"
Kutarik kata-kataku. Naruto tidak satu spesies dengan Ino. Pria itu perwujudan evolusi tingkat tinggi dari Ino. Dia lebih mengerikan!
...Kuharap, suara yang tadi itu, disebabkan oleh pukulan kitab kuning kesayanganku.
Gusti, kuatkan kokoro hamba dari cobaan ini.
.
.
.
Bersambung
Ketika hobi dan studi tidak saling mendukung... TwT
Balesan ripiu :
Neko si pelaut : Yang baca meleleh yang nulis terleleh(?)
hana hayashi : Syukurlah kalau kau doki-doki wkwkwk. Gak usah ngode-ngode segala langsung konfrontasi aja uwu. Maap gak bisa kilat. Doumo hiks
Guest : Saya tidak pernah menjanjikan Sasuke pov. Maaf kalau garing. Dari awal prolog juga sudah saya suguhkan bagian Sasuke itu tidak dalam pov si Mas Ganteng Kalem tapi pov authornya. Buat sudut pandang orang pertama lebih dari satu tokoh dalam satu cerita yang sama itu tidak mudah btw. Saya takut saya tidak konsisten dalam pembawaan satu tokoh ke yang lainnya. Maaf jikalau kemampuan saya terbatas gitu-gitu saja
Ceexia : Haha syukurlah kalau diri ini menghasilkan sesuatu yang berguna. Semoga tetap suka ya sampai tamat nanti
CherryFreeze : Pengen punya calon? Yuk semakin mendekatkan diri pada-Nya. Dia-lah yang tahu apa yang terbaik bagi kita wkwkwk #sokbijaklu
Yang lain sudah di pm yak. Terima kasih dan semoga suka!
Kritik dan saran tetap diterima. Ajukan saja di kolom review. Namun maaf jika mungkin ada yang tidak terpenuhi untuk satu dan jutaan alasan lain.
Sekian terimagaji
Salam Petok,
Chic White
(Your Possible!Chic-ken*roosting*)
