Hal yang paling menyegarkan bagi Uchiha Sasuke bukanlah jus tomat di siang hari seperti yang selalu Naruto umbar pada karyawan yang menaruh hati padanya. Akan tetapi, air wudhu di sepertiga malam setelah melaksanakan tahajud dan sebelum ia mengumandangkan dzikir pagi yang tercantum dalam al-ma'surat.
Ya, Sasuke memang memiliki kebiasaan melakukan wudhu sebelum dan sesudah shalat malam. Tidak ada alasan khusus sih. Hal ini selalu membantunya tetap merasa tenang apapun masalah yang tengah ia alami.
Jam dinding sudah menunjukkan 15 menit sebelum adzan berkumandang. Sasuke melipat sajadah yang ia duduki sedari tadi dan mengapitnya di lengan. Kemudian, ia melangkahkan kaki jenjangnya untuk keluar kamar tamu yang ia huni.
"Nak Sasuke?"
Begitu pintu terbuka, Sasuke berhadapan dengan seorang wanita yang sedang menyapu lantai. Sasuke tersenyum tipis dan mengangguk.
"Ana izin mau—"
Belum selesai Sasuke berbicara, wanita itu melepaskan sapu dan masuk ke kamar sebelah.
"AYAH! CEPET BANGUN! ITU MANTU URANG TOS RAPI JEUNG KASEP BADE KA MASJID (itu menantu kita sudah rapi dan tampan mau ke mesjid)!"
"Keun bae atuh si ujang rek ka masjid mah. Ayah tunduh keneh.(Biarlah kalau anak itu mau ke mesjid. Ayah masih mengantuk.)" Samar-samar Sasuke dapat mendengar gerutuan dari kepala keluarga rumah ini.
Ia tak dapat menahan diri untuk tertawa menanggapi tingkah unik orangtua Sakura ini.
"Embung siah, ngerakeun! Gugah ditu! (Gak mau ah, malu-maluin! Bangun sana!)"
Kurang dari tiga menit kemudian, Sasuke mendapati dirinya berjalan beriringan dengan Ayah Sakura dalam kecanggungan.
"Maaf, Pak." Sasuke tersenyum gugup menatap pria paruh baya di sampingnya.
"Santai, santai!" Pundak Sasuke dipukul main-main. "Rajin sekali kamu, Nak. Padahal kelihatan masih capek."
Sasuke bersyukur Ayah Sakura menggunakan bahasa Indonesia lagi. Sasuke memang mengerti percakapan pasutri Haruno itu (berterima kasihlah pada putri tunggal mereka), tapi dia tidak bisa menjawab dengan bahasa serupa.
"Memang masih terasa sih, Pak." Sasuke mendengus geli.
Yaa... maklum saja kalau Sasuke merasa letih. Perjalanan Jakarta-Bandung dengan kemacetan luar biasa begitu memakan waktu tempuh lebih dari yang seharusnya. Sampai-sampai sore hari, Ibu Sakura langsung menyeretnya keliling komplek untuk mengunjungi rumah teman-teman arisannya.
Untuk apa?
Ya, benar. Mengenalkan kepada mereka bahwa dia ini calon menantunya.
Melelahkan sekali menanggapi ibu-ibu hebring itu. Tapi Sasuke tetap merasa senang. Ibu Sakura menerimanya sepenuh hati. Dia tidak menyesal telah menerima usulan Sakura untuk menginap di rumah keluarganya selama ia menjalankan proyek di Bandung.
Lalu semalaman, Ibu Sakura berceloteh macam-macam soal Sakura. Ia dipersilahkan istirahat ketika tengah malam tiba.
"Assalamualaikum, Pak Kizashi. Sama siapa ini? Baru lihat." Di belokan, mereka berpapasan dengan seorang pria sebaya Ayah Sakura.
"Waalaikumsalam. Ini Sasuke, calon mantu saya."
"Oalah jackpot ini mah. Dapat dari mana?"
"Mulung di kolong jembatan, hahaha!"
Sasuke hanya bisa mengelus dada ketika ia harus mendengar lawakan garing khas bapak-bapak dan keusilan mereka pada anak muda.
Diam-diam Sasuke berandai, apakah dia akan seperti mereka suatu hari nanti?
...Kalau author jadi Sasuke sih, OGAH BANGET YAW.
.
.
.
Chic White Proudly Present
(A sequel from Thariqul Jannah)
.
.
.
Hurul 'Ain
[Chapter 4]
"BUNDAAA! SARAPAN APA HARI INI?!"
Sasuke melongo. Seorang pemuda berlari dari pagar dan masuk seenaknya ke dalam rumah sambil berteriak kencang.
Itu siapa, coba? Orang gila nyasar? Seingat Sasuke, rumah ini hanya memiliki satu putri tunggal.
Pak Kizashi sudah berangkat bekerja. Kalau ada apa-apa dengan rumah ini atau Bu Mebuki, itu adalah tanggung jawab Sasuke. Maka dari itu, Sasuke membilas tangannya yang penuh sabun (sedang mencuci mobil di halaman) dan masuk ke rumah untuk memastikan keadaan.
Eksekutif muda itu menghela napas lega ketika melihat Bu Mebuki menyajikan sepiring nasi goreng yang sudah agak dingin di atas meja makan untuk penyusup tadi. Di wajahnya terpatri senyum jenaka.
"Bangun kesiangan lagi, kamu?"
"Ho'oh, Bun. Semalem habis ngerjain paper. Hari ini ngampus sore makanya udah shalat subuh langsung tidur lagi, heheh." Sang Penyusup nyengir.
"Jangan dibiasakan." Sasuke reflek berujar. Ketika dua sosok lainnya menoleh, Sasuke terbatuk gugup. "Daripada tidur, lebih baik tadarusan."
"Ini siapa, Bun?" Sang Penyusup memicing ke arah Sasuke.
Rasanya Sasuke ingin mencolok mata anak itu dan barangkali menaburinya dengan wasabi. Nggak tahu, apa? Sasuke ini kan—
"Calon kakak iparmu, Kib." Bu Mebuki menepuk puncak kepala anak itu. "Ini Kiba, Nak Sasuke. Tetangga sebelah kami. Dari kecil sering Sakura asuh seperti adiknya sendiri meski umur mereka sama. Sudah Ibu anggap seperti anak sendiri."
Skakmat. Anak itu punya tahta lebih tinggi ternyata. Sasuke tidak bisa memeranginya.
"O-oh begitu..." Sasuke mengangguk. "Ya sudah, ana lanjut cuci mobil dulu, Bu."
Aneh. Sakura tidak pernah menceritakan apapun soal Kiba ini.
.
Sasuke memeras kanebo sekali lagi. Ia menghela napas lega melihat mobilnya yang sudah bersih berkilau. Hari ini meeting pertama jam 2 siang. Ia masih punya waktu sekitar 4 jam-an untuk mengecek laporan yang dikirim Naruto semalam dan tak sempat ia buka karena ia gunakan waktu yang tersisa untuk menghubungi Sakura.
Saat Sasuke berniat merapikan kembali selang air yang ia pakai, tangan lain mengambil alih tugasnya. Badannya masih terbalut kaos oblong dan celana boxer, tapi rambutnya tidak sekacau tadi.
"Terima kasih," ujar Sasuke.
Sosok yang ia kira orang gila nyasar itu tidak menjawab. Matanya memicing, memandang Sasuke dari atas sampai bawah. Sasuke bergidik. Ia merasa ditelanjangi.
"Katakan, apa kelebihanmu dibandingkan Usui Takumi?"
Sasuke mengernyit. "Usui—siapa?"
"Usui Takumi." Pemuda bernama Kiba itu melipat tangannya di depan dada. "Kalau Sakura menerimamu, berarti kau lebih hebat dari Usui Takumi."
Sebentar, nama itu tidak asing. Mungkinkah itu salah satu karakter anime yang Dek Ino bilang Sakura klaim sebagai husbando-nya?
Oh, Sasuke ingat. Nenek Sakura juga menanyakan hal yang sama. Naruto versi animasi dengan kulit lebih cerah itu, kan?
"Jadi?" Kaki Kiba mengetuk bumi—tidak sabar.
"Ana tidak tahu," jawab Sasuke jujur.
"Hmm..." Kiba bersedekap. " 'Ana', eh? Anak pesantren juga? Teman di Ibnu Sina, ya?"
Sasuke berkedip. "Ibu tidak memberitahumu?"
"Aku yang tidak bertanya." Kiba menggendik tak acuh. "Kakak ini maho ya?"
Cukup Mas Itachi saja yang menuduhnya maho, Gusti. Kenapa anak ini ikut-ikutan?
"Ana jelas-jelas melamar Sakura, Kiba."
"Nah, justru itu! Berarti kakak ini maho. Sakura sih bukan cewek."
...Hah?
.
.
.
Aku sedang membantu Ummu Mikoto merapikan arsip ketika ponselku berbunyi nyaring.
"Ah, maaf, Ummu. Lupa di-silent." Ummu Mikoto hanya tertawa kecil dan memberi isyarat untuk mengeceknya.
[Incoming call : Husbando 3D]
"Siapa, Nak?" tanya beliau.
"M-Mas Sasuke."
Aku bergidik sendiri saat Ummu tersenyum lebar—kelewat lebar, kampret!
Jatuhnya jadi serem!
"Boleh diangkat dulu."
Ngomongnya 'boleh' tapi matanya jelas-jelas mengancam, 'angkat atau mati?'. Bagaimana nasib anak-anakku dan Mas Sasuke kalau neneknya seperti ini? Hii.
... MASYAALLAH TADI AKU MIKIR APAAN?! ANAK-ANAKKU DAN M-MAS—JURANG MANA JURANG?!
Karena udara di sekitar terasa semakin mencekam, kuputuskan untuk menerima panggilan.
"A-Assalamu'alaikum."
["Wa'alaikumsalam."]
"Ada apa ya, Akhi?"
["...Ana ingin bertanya."]
Aku mengernyit. Bertanya?
"Iya?"
Ada yang aneh. Dari salam pertama pun kesannya...
Damn. Jangan bilang Ibu melakukan sesuatu yang tidak-tidak dan Mas Sasuke ingin mencabut lamarannya?!
Aku kenal ibuku sendiri. Kalau ibu sudah menaruh perhatian padamu, mustahil dia tidak mempermalukanmu di depan banyak orang. Percaya padaku, ini serius.
Saat pentas hari kelulusan kelas 6 SD aku kabur memanjat pohon jengkol dan mengamuk sambil menangis di sana hanya karena tidak mau dipakaikan make-up. Dan dia masih bangga menyebarkan itu sambil tertawa terbahak-bahak pada teman arisannya.
Ah... Manis sekali kan, ibuku ini?
Itu sarkasme, aku berani bersumpah.
["Sebelumnya, ana minta maaf...,"] Aku dag-dig-dug tak karuan. ["...anti cewek tulen, kan? Tidak punya batang?"]
Tidak punya ba—NANI DEFAK?! PERTANYAAN MACAM APA ITU YAWLA MAS?!
"Iya, lah! Mas meragukanku?!"
["Bukan begitu. Mas cuma bingung."] Kedongkolanku agak reda mendengar intonasi suaranya. ["Kiba bilang anti ini bukan cewek."]
Kiba? Hah? Kiba yang man—
Aku melotot horror.
"AKHI, APAPUN YANG TERJADI, JANGAN DENGARKAN DIA! JAUHI SEJAUH-JAUHNYA!"
["Lho? Memangnya kenap—"] Aku tersedak ketika mendengar suara tawa khas yang sudah menghantuiku dari zaman bocah. ["—heya. Aku pinjem dulu Kak Sasuke ke rumahku, ya. Semua sohib kita juga sudah kumpul nih. Kum-plit."]
Lalu, sambungan terputus.
Kiba itu...narasumber paling akurat jika kau ingin tahu catatan aib maupun hal memalukan selama aku hidup. Kalau Ibuku diibaratkan sebagai ember bocor, maka partner in crime-ku ini adalah ember tak beralas.
Aku dalam bahaya.
.
Ketika malam tiba, ponselku kembali dihubungi oleh kontak berlabel Husbando 3D.
Hal pertama yang kudengar adalah tawa ramai. Dengan tawa Sasuke yang paling terdengar jelas. Biasanya, tawa Si Mas Ganteng Kalem bisa membuatku terbang ke awang-awang. Kali ini, aku berharap Doraemon itu nyata agar aku bisa pinjam pintu ke mana saja sehingga menenggelamkan diriku di tengah-tengah Segitiga Bermuda bukan hanya imajinasi belaka.
["—Ppft—maaf, maaf. Ada banyak yang ingin ana tanyakan sekarang. Tapi, pertama-tama... Seriusan, anti pernah maling celana dalam?"]
"Ino, Hinata, kalian lihat sisa detergen punyaku, tidak?"
"Lho, bukannya Mbak sudah mencuci tadi pagi?"
"Bukan buat cuci. Mau kutelan sampai habis."
"Sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini, hiks!"
"SAK, SING SADAR! ISTIGFAR WOI! INGET MAS SASUKE!"
"AKU MAU MATI AJA HUWAAA!"
"HINATA, PANGGIL KIAI! BILANGIN SAKURA KERASUKAN!"
.
.
.
Bersambung
Aciaaa yang aibnya terbongkar :v
Ada yang pernah merasakan apa yang Sakura rasakan? Kalau ada, selamat ya :v
Balesan ripiu~
CherryFreeze : Tenang saja, saya yakin pembaca yang lain juga sama. HAHAHA *digampar
Sekian terimagaji.
Salam Petok,
Chic White
(Your Possible!Chic-ken*roosting*)
