Sasuke tertawa geli mendengar kehebohan di seberang sambungan.
["Mas, ini Sakura kenapa?"] Sebentar, ini bukan suara Sakura.
"...Dek Ino?"
["Iya."]
"Memangnya dia kenapa?"
["Yah! Si Mas malah balik nanya! Itu lagi ngumpet di kolong kasur lho! Kayanya malu banget! Sampe bilang mau mati segala!"]
Sasuke mendengus geli ketika mendengar teriakan protes Sakura.
["... Kalau gak mau aku laporin, yaudah ini ngomong langsung sama Mas Sasuke! Kamu ini..."] Ino mengomel di seberang. Bukan pada Sasuke, tentu saja.
"Kalau Sakura tidak mau berbicara dengan ana, tolong sampaikan ana tidak keberatan, kok. Dan tolong jangan marah pada Kiba. Ana senang mendengarnya. Ana ingin tahu lebih banyak soal Sakura." Tawa singkat lain tak dapat Sasuke tahan. "Waktu kecil dia lucu sekali."
Sasuke mengernyit saat mendengar helaan nafas. ["Hmph yang lagi kasmaran. Tolong hargai yang jomblo, Mas."]
Sasuke menutup mulutnya dengan tangan. Tiba-tiba saja dia merasa gugup.
["...Sakura! Tuh Mas Sasuke mau ngomong! Aku gak sanggup menyampaikan pesan penuh cinta begitu."] Sasuke tersedak ludahnya. Kalau di depan ada cermin, Sasuke yakin ia bisa melihat wajahnya merona hebat.
["...Cih. Menyebalkan! Bikin iri banget. Aku mau murajaah di luar aja! Hinata, ayo ikut!"] Suara Ino terdengar mengecil. Lalu, Sasuke mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras.
Hening sejenak. Sebelum akhirnya, Sasuke mendengar kembali suara yang selalu ia rindukan.
["H-halo."]
"H-hei."
...Kenapa Sasuke jadi semakin gugup begini, ya?
["K-kok mas kedengeran gugup gitu sih?"] Sakura mengikik.
Sasuke mengernyit, "E-entah?"
["H-haha..."]
Awkward.
["Ini sudah malam. Mas seminggu ke depan full sibuk, kan? Istirahatlah. Assalamualaikum."]
Sambungan sudah terputus sebelum Sasuke sempat membalas salam.
Sasuke kembali ke ruang keluarga di mana Kiba dkk berada. Mereka semua diam saat Sasuke menghempaskan diri di sofa tepat di sebelah Kiba.
"Sudah, Kak? Cepat sekali?"
Sasuke menatap langit-langit dan menghela napas panjang.
"Ana masih ingin mengobrol, sebenarnya." Sasuke menghela napas lagi. "Kangen."
Sisa pemuda yang ada di sana tertawa terpingkal-pingkal. Sasuke hanya mendengus dongkol melihatnya.
"Kakak kaya anak SMA baru kenal cinta, tahu enggak?"
Yowes, maaf, ini emang pertama kalinya buat Sasuke, tahu.
"Eh? Jangan bilang ini emang yang pertama?"
Sasuke hanya mendengus.
"Habis dari sini Kak Sasuke langsung balik ke Ibnu Sina, kan? Ya kalau kangen, sampe sana peluk aja."
Sasuke menggerutu pelan dan membenamkan wajahnya di bantal sofa.
Sialan bocah-bocah ini. Bagaimana Sasuke bisa bertemu Sakura kalau sudah begini?
.
.
.
Chic White Proudly Present
(A sequel from Thariqul Jannah)
.
.
.
Hurul 'Ain
[Chapter 5]
Pengumuman, saudara-saudara. Untuk ke-sekian kalinya, aku merasakan gegana. Setelah gencatan senjata dengan santriwati Ibnu Sina, hal yang sama kali ini terjadi dengan Husbando 3D tercinta. Apalagi aku sudah ambil cuti seminggu untuk liburan tahun baru ke kampung halaman. Nyeseknya tak usah ditanya.
"Mas, aku ada salah, ya?" tanyaku nelangsa. Bukan, bukan pada Mas Sasuke. Akan tetapi kakaknya.
"Mungkin?" Mas Itachi tertawa. Fokusnya tak lepas dari badan jalan.
"Mas." Mbak Konan, istrinya, menegur. "Memangnya ada apa, Sakura? Kalian bertengkar?"
Pasangan ini akan pergi ke Jakarta untuk menemui orangtua Mbak Konan. Mas Itachi yang bersikeras agar aku ikut dengan mereka sampai Bandung. Itulah mengapa aku menumpang di mobil Mas Itachi sekarang.
"Nggak kok, Mbak."
Aku sedang mengadu pada Mas Itachi atas ulah adiknya yang mengabaikanku dua minggu penuh selama dia kembali dari Bandung dan minggu selanjutnya sampai hari ini. Padahal dia sering ke pondok belakangan ini.
"Sudah coba dihubungi?"
"Tidak dijawab, Mbak."
"Langsung temui?"
Yaa... sms dan teleponku saja diabaikan, apalagi bertemu langsung?
"Mas Sasuke menghindariku."
"Wah, iya?" Mas Itachi tertawa lagi.
...Kok tambah nyesek ya, Gusti.
"Hush! Kok malah ditertawakan?!" Mbak Konan memukul pelan lengan Mas Itachi.
"Itu sakit, lho."
"Jangan manja." Meski berkata seperti ini, Mbak Konan tetap mengelus lengan yang ia pukul sebelumnya.
"Lihat, ibu dan ayahmu mesra sekali," gerutuku pada anak 3 tahun yang tertidur di pangkuanku. Yahiko namanya.
"Mau dengar cerita?" Mbak Konan berujar.
Aku meleleh. Suaranya begitu hangat. Keibuan sekali! Benar-benar istri idaman.
Sedangkan aku? Nah.
...Jangan-jangan Mas Sasuke menjauhiku karena...apa yang ia dengar dari Kiba?
"Pertama kali Mbak dan Mas Itachi bertemu itu saat hari akad."
EH?
"Perjodohan?!" tanyaku terkejut.
"Bukan. Mas yang milih, kok. Abi pernah bercerita soal istriku ini. Mas minta Ummi yang mendatangi. Katanya cocok. Ya langsung dijadikan saja." Ini Mas Itachi yang berbicara. "Awalnya canggung sekali. Kami sama-sama menerima karena sudah tidak tahan dengar omelan orangtua. Iya kan, Konan?"
Mbak Konan tertawa kecil. "Iya."
"Saling belajar tentang satu sama lain. Tapi lama-lama karena sudah terbiasa, akhirnya cinta juga." Mbak Konan menoleh ke belakang—menatapku. "Kalian sudah suka sama suka, kenapa masih ditunda?"
"Aku... belum siap," jawabku.
"Belum siap apa?" Aku memutus kontak mata dengan Mbak Konan.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Berkali-kali kutanya pada diriku, jawabannya aku belum siap. Siap apa, aku pun tidak tahu.
Aku bahkan tidak mengerti mengapa aku meminta waktu 2 tahun. Memangnya aku akan siap jika 2 tahun sudah berlalu?
Selama ini aku menolak lamaran yang kudapat, kukira karena aku belum siap menikah. Belakangan kupikirkan, itu bukan alasan yang tepat. Aku menolak karena mereka bukan orang yang namanya kusisipkan dalam doa selama ini.
Mungkin jawaban yang tepat bukan aku belum siap. Tapi aku takut...
Aku tidak pantas untuk Mas Sasuke. Dia berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.
.
.
.
"Cuti pulang cuma buat ngurung diri kamar? Berfaedah sekali liburanmu, Kur."
Aku terperanjat. Sejak kapan Kiba ada di kamarku?! Dan... itu ngapain ponselku ada padanya?
"Bunda khawatir banget, tahu. Katanya gak nafsu makan juga. Kenapa kamu? Ditinggal mati husbando? Ditinggal kawin husbando?"
Aku mendengus kecil, kembali memeluk erat dakimakura kesayanganku.
"...Oh, aku tahu. Ada masalah sama Kak Sasuke, ya?"
Aku semakin mempererat pelukanku.
"Weheeee? Skakmat? Kenapa emang?"
"Dia mengabaikanku."
"Baguslah kalau dia sadar masih banyak cewek yang lebih jelas daripada elu."
Nyes. shek. to the max.
"Terakhir kali ngobrol itu waktu dia bareng kamu, Kib," curhatku. "Ini pasti gara-gara kamu ceritain!"
Ngeselin, Kiba tertawa terpingkal-pingkal. "Terakhir kali? Wanjir kuat banget... Elu sih pake bikin orang alim naksir segala!"
Kiba turun dari meja belajarku lalu melompat ke kasur. Aku mendengus protes saat tangannya mencubit keras pipiku.
"Gak usah galau. Dia enjoy dengerin cerita ke'tidak-cewek-an' lu dari gua dengan yang lain kok." Kiba nyengir lebar. "Tapi mungkin emang malam itu sih yang bikin Kak Sasuke menjauh."
Aku mengerucutkan bibirku. Aku tidak mengerti apa yang Kiba bicarakan.
"Kalau mau dia berhenti gitu, udah buruan kawin aja sana!"
Aku menjitak kepalanya sekuat tenaga. Enak aja kalau ngomong!
"Mungkin...," Aku menghela napas. "seharusnya aku tolak saja."
Aku terlonjak saat Kiba tiba-tiba mencengkram bahuku dan melotot...kaget?
"KENAPA?"
"M-Mas Sasuke itu terlalu—d-dia—" Aku mengerang frustasi. "Aku gak pantes buat dia Kib!"
Kiba menatapku intens. Yang tidak kuterka, setelah itu dia berkata, "Idiot."
...Hah?
ANJIR. NANI DAFUK. ENAK AJA NGATAIN IDI—
"Lu gak berhak ngomong gitu, bego."
Udah ngatain idiot, sekarang dikatai bego pula. Eh, sialan—
"Lu tahu, Kagami itu bego."
Kenapa tiba-tiba membicarakan—WHATDE—
"LU BOLEH NGEHINA GUA, TAPI JANGAN NGATAIN HUSBANDO GUA!"
"Coba buka mata lu lebih lebar. Karakter lain kan banyak yang lebih ganteng, Kise misal? Ni beruk kuning juga agak bego, tapi gak se-bego Kagami. Lebih ganteng juga. Ngapain lu husbandoin Kagami? Karena dia bisa masak?"
"Enggak gitu! Yha kalau udah kepincut si Kagami ya mau gimana? Disodorin Kise dengan roti sobek lebih nikmat juga gak guna! Paling cuma lirik doang! Hati tetep buat Abang Taiga!"
"Elu emang gak ada cewek-ceweknya. Kebetulan aja sekarang kelihatan manis pake gamis dan jilbab syar'i mulu. Tapi isinya tetep Sakura yang kukenal. Otaku kampret mantan troublemaker kawakan yang kukira bakal kawin sama dakimakura husbando." Aku ingin mencakar mulutnya yang nyengir kelewat lebar itu, Gusti.
"Nah. Mas Sasuke udah kepincut elu yang cumi gini-gini aja, dikasih bidadari surga juga bakal nolak."
Aku terpaku.
Saat Kiba membawaku keluar kamar, aku membiarkannya.
Entah bagaimana, aku merasa ringan. Beban tak terlihat yang tak kusadari keberadaannya, hilang setelah mendengar kata-kata Kiba.
"Btw, daripada galau, nih udah kuinstallin Otogame. Lumayan buat daily fangirlingan." Kiba mengedipkan sebelah matanya dan melempar asal ponselku.
Nyaris saja! Untung aku berhasil menangkapnya!
Aku menatap layar ponselku bingung.
...Mystic Messenger?
.
.
.
Gumam. Helaan nafas. Gumam. Helaan nafas. Gumam—
"CUKUP!" Naruto menggebrak meja kerjanya, menatap tajam sesosok zombie yang daritadi menggumamkan satu nama bunga dan menghela nafas tiada henti. "Untuk proyek sebulan ke depan, aku yang urus."
"Mana bisa—"
"—Tidak ada proyek baru yang benar-benar mewajibkanmu langsung turun tangan. Aku akan menghubungimu kalau ada sesuatu."
"Naru—"
"—Stop it. I don't need my brooding Chief. Come back with your usual war power."
Naruto mendengus. Dia memang tidak mengerti apa yang terjadi di antara bosnya dan Sakura, tapi kalau begini terus tidak baik juga. Pekerjaan mereka memang tidak ada yang terhambat, tapi Sasuke tampak lebih letih dari biasanya.
Sumpah, ia sudah jengah melihat Zombie Sasuke.
"Selesaikan masalahmu dengan Sakura."
"Kami tidak—"
"—Whatever. I expect you back here with big cocky smile of yours."
"Naruto..."
"Kau berhutang padaku, btw."
"Kau mau apa sebagai bayarannya?"
"Undangan." Naruto menyeringai. "Dan beberapa bocah yang memanggilku paman."
"Anta—!"
"Secepatnya."
.
.
.
Bersambung
Any comment? :3 Kritik dan saran ditunggu.
Balesan ripiu~
yourself : Walah sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Hihi. YAWLA yang saya tulis itu alayisasi(?) dari "Ya elah" atau yang sesuai dengan EBI sih "Ya ampun". Saya tidak berani mengalaykan nama Tuhan. Takut dosa. Dosa saya sudah bertumpuk. Ya masa mau ditambah dosa memainkan nama Tuhan juga :'v
CherryFreeze : Semoga masih bisa menghibur ya :)
Sekian terimagaji.
Salam Petok,
Chic White
(Your Possible!Chic-ken *roosting*)
