Ada satu alasan pasti mengapa Kiba dan teman-temanku yang lain mengataiku bukan cewek. Kenakalanku memang sudah tersohor di komplek kami(alasan yang sama mengapa aku bisa jadi sasaran para arjuna setelah aku lulus dari Ibnu Sina), tapi aku tidak setomboy itu. Aku masih senang bermain dengan boneka dan suka hal-hal 'cewek' lainnya. Hanya saja, aku punya kebencian yang hakiki pada benda bernama rok. Kenapa? Alasannya simpel. Kalau pakai rok, lari dan manjat pohon itu jadi ribet. Seperti sekarang ini.

Aku kesusahan mengangkat sedikit pinggiran rok yang kupakai agar aku bisa berlari dengan benar. Sudah macam Cinderella saja aku ini.

Perbedaannya, Cinderella lari karena sudah lewat pukul 12 malam dan sihir dari ibu peri akan hilang. Sedangkan aku, ini sudah lewat pukul 12 siang dan sudah dekat waktu mengajar yang artinya aku tidak punya waktu banyak untuk bertemu Mas Sasuke.

Kalau aku jatuh atau terlambat kembali ke pondok, dengan senang dan sepenuh hati aku akan menyalahkan Mas Sasuke. Setelah mengabaikanku nyaris tiga bulan lamanya, tiba-tiba saja ia mengirim seorang santri untuk bilang padaku kalau dia menungguku di gerbang tempat pemakaman umum di belakang pondok.

Kampret. Sudah bikin kaget karena tiba-tiba dapat kabar dia pulang ke pondok sekitar sejam yang lalu, diberi tahu untuk ke pemakaman pula.

Mau ngapain coba, ke pemakaman? Bantuin gali kubur?

.

.

.

Chic White Proudly Present

(A sequel from Thariqul Jannah)

.

.

.


Hurul 'Ain

[Chapter 6]


Begitu sampai di hadapan Mas Sasuke, semua umpatan kekesalan yang kupendam dan seluruh pertanyaan yang terkumpul selama dia mengabaikanku bertumpuk di kepala dan berebut diciptakan pita suaraku. Tapi, tidak kulakukan. Aku terlalu sibuk mengatur nafasku.

Lari dari asrama putri sampai sini itu melelahkan, tahu!

Kedongkolanku naik tingkat saat aku mendengar kekehan pelan dari biang keladi. Kuputuskan untuk menahan dulu unek-unek yang kupunya saat dia menyodorkan botol air minum yang masih penuh.

"Sudah ana duga, anti langsung lari ke sini." Mas Sasuke kali ini bukan hanya mengekeh, namun tertawa. "Seperti dulu."

Dulu...?

Oh, aku ingat sekarang. Ramadhan pertamaku di Ibnu Sina sekaligus awal mula keakraban kami.

Waktu itu Mas Sasuke pulang ke Pondok dari sekolahnya di Turki karena ayahnya meninggal dunia. Malam-malam dia menghilang dari kamarnya. Satu pondok panik. Aku yang saat itu menemani Ummu Mikoto menggunakan ponsel beliau untuk menghubunginya. Ia menjawab ia ada di pemakaman. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menyusulnya saat itu.

...Tunggu. Mungkinkah Mas Sasuke...?

"Mas mau ketemu—"

"—Abi? Iya. Yuk?"

Mas Sasuke berbalik dan berjalan masuk ke pemakaman, mendahuluiku. Aku mengikutinya.

Dia ingin menengok makam ayahnya bersamaku...? Kenapa?

Kenapa setelah mengabaikanku dia—

—Eh, iya. Benar juga. Pertanyaan pertama itu, kenapa dia mengabaikanku begitu?

...Ah, sial. Terlalu banyak pertanyaan yang berputar di kepalaku saat ini. Bikin pening.

Aku mengernyit bingung saat langkah Mas Sasuke terhenti.

"Assalamualaikum, Abi."

Oh, kami sudah sampai, rupanya.

Aku berjongkok dan mengelus nisan. Meskipun hanya dibimbing sebentar, tapi beliau meninggalkan kesan mendalam untukku. Abu Fugaku, beliau cenderung kaku. Aku belum pernah melihatnya tersenyum sekali pun. Akan tetapi, ia merangkul santri dan caranya mengajar benar-benar...hangat.

Eh, sebentar. Ada yang aneh.

"Nisannya basah."

"Ana daritadi yasinan di sini. Itu yang kau minum sisa air keran yang belum ana siramkan."

"EH?!"

"Bercanda. Bukan, kok. Yang itu memang air minum."

Lucu Mas, lucu. Ketawa sampai mati, sana!

"Abi waktu itu pernah bilang kalau ana maupun Mas Itachi menemukan gadis yang ingin dikhitbah, harus dibawa segera ke hadapan abi, kan? Sasuke sudah membawanya sekarang."

Kutegadahkan kepalaku. Aku terhenyak. Di sana, aku melihat senyum Mas Sasuke. Rasanya hangat dan menenangkan.

"Abi bilang habis khitbah maksimal 3 bulan harus akad, kan? Maaf Sasuke melanggarnya." Mas Sasuke menatapku, lalu mengedipkan sebelah matanya sebelum kembali menatap ke nisan dengan hangat dan penuh kerinduan—seolah ayahnyalah yang tengah ia hadapi. "Dia belum siap, sih. Boleh kan kalau ana menunggu lebih lama?"

Jantungku berdetak lebih cepat. Tatapan yang tadi— tatapan itu membuatku sesak. Aku bukan seorang pembaca pikiran, bukan pula pembaca perasaan. Apa yang kubaca dari mata seseorang mungkin akan keliru.

Tapi, kali ini aku yakin.

Tatapan yang tadi—tatapan hangat yang selama ini selalu kudapatkan darinya. Tatapan lembut penuh kasih sayang.

Bukan hanya itu. Aku juga... aku bisa merasakan ketulusan di sana.

Dari sekian banyak manusia yang ada... mengapa tatapan itu dia berikan padaku?

Tanpa bisa kucegah, air mata turun begitu saja. Satu tetes, dua tetes, lalu terjun tanpa henti hingga aku mulai terisak pelan.

Bolehkah? Bolehkah aku jadi egois dan menginginkan tatapan itu untukku, hanya untukku?

Bolehkah? Bolehkah aku seperti ini? Ingin berada di sampingnya? Ingin selalu mendukungnya? Sebagai kekuatannya?

Bolehkah? Bolehkah aku menatapnya kembali dengan tatapan yang sama?

Bolehkah? Bolehkah punggung tegap itu menjadi sandaranku?

Bolehkah aku menginginkan tempat itu?

Bolehkah?

"Sakura? Ada apa?" Hatiku semakin bergetar mendengar suaranya menyebutkan namaku. "Habibah?"

Sebutan itu lagi. Ya Allah...

Kiba benar. Aku sudah tidak adil padanya.

"A-akhi tak usah menunggu lagi..." Aku berusaha menghentikan isakanku. "aku siap menjadi hurul ainmu."

Mas Sasuke terdiam, matanya melebar. "M-maksudnya—"

Aku mengangguk.

Senyum menyilaukan, aku sudah menduganya.

Mas Sasuke yang jatuh terduduk lalu menarik hoodienya untuk membantu menyembunyikan wajahnya yang merona saat kupandangi? Lalu batuk-batuk gugup begitu? Unexpected.

Kokoroku doki-doki. Husbando 3D jadi moe lagi.

"Sebaiknya anti kembali duluan."

He? Apaan ini? Dia mengusirku setelah—

"...kalau tidak, ana bisa kelepasan memeluk anti sekarang."

Huh?

"Ini gara-gara Kiba. Malam itu ana masih kangen ngobrol, tapi anti putus telepon begitu saja. Kiba bilang kalau kangen peluk aja. A-ana jadi m-memikirkannya saat melihat anti."

Oh. Jadi karena itu Kiba bilang salahku sudah membuat orang alim jatuh hati. Ini maksudnya?

Kurasakan wajahku memanas.

"A-apalagi sekarang. Rindunya tak tertahan. Berapa lama kita tidak bertegur sapa?"

Duh, Mas. Yang itu salahmu sendiri, lho ya.

"Dibicarakan kok malah makin kepengen meluk, ya...?" Aku mendengar ringisan Mas Sasuke. "Habibah... lari, gih... Mas terlalu senang."

Critical hit. Aku ikut terduduk. Kusembunyikan wajahku di balik lipatan kakiku.

"G-gak bisa. Kakiku gak mau gerak." Rasanya gugup sekali.

"Ya sudah, temani dulu di sini. Kalau Mas macam-macam, tolong pukul atau apalah."

Hening sejenak.

"...Pengen peluk."

Ah, sial. Bibirku pegal. Aku senyum terlalu lebar.

Peluk saja sesukamu—adalah hal yang ingin kukatakan padanya. Tapi, mana bisa begitu.

"Gak boleh."

"Iya, tahu."

Sial...

Aku juga ingin memeluknya.

Setelah beberapa menit duduk diam di dekat petak makam Abu Fugaku, akhirnya lututku mampu untuk kembali menopang berat badanku.

Aku berdiri bersamaan dengan Mas Sasuke. Kami reflek saling pandang. Lalu, entah mengapa, kami tertawa bersama.

"Yuk?" ajak Mas Sasuke.

"Yuk!" tanggapku.

Kali ini, kami jalan beriringan. Meskipun tak ada kata yang terucap, tapi rasanya begitu nyaman.

Di Pondok Utama, kami berpapasan dengan Ummu Mikoto. Mas Sasuke memberi tahu beliau kalau aku sudah siap.

Aku hanya bisa tertawa hambar ketika wanita paruh baya itu mencengkram pundakku dan mengekeh menyeramkan.

"Lupakan soal persiapan. Kalian akad sekarang saja. Jangan lupa cepet kasih Ummu cucu tambahan."

Ummu, plis deh.

.

.

.

"Mbak Sakura! Ngehehehe..."

"Hehe... Hai Mbak!"

"Mbak Saku! Gimana kabarnya? Hihihihi!"

Aku merinding, Gusti. Ini kenapa penghuni pondok pada nyengir semua? Kerasukan massal, kah? Serem.

Masuk kamar, aku bertemu dengan satu cengiran yang lebih menyeramkan. Ino.

"Apa?!" sungutku padanya.

"Dua bulan, eh?"

Aku mengerang dan menghempaskan badanku ke kasur. Baru seminggu. Baru seminggu aku menerima Mas Sasuke dan kami membicarakan seputar pernikahan termasuk waktunya. Baru seminggu dan Ummu Mikoto sudah bocor.

Gusti, punya calon mertua kok ya ember amat. Aku bersyukur Ummu dan Ibuku dipisahkan oleh jarak. Kalau mereka dekat dan bekerja sama, bahaya.

Pantas saja satu pondok nyengir tidak jelas. Rupanya Ummu sudah membocorkan kalau aku dan Mas Sasuke akan menikah dalam dua bulan, eh?

Aku tidak suka ini. Beliau ke mana-mana dengan background bunga menyilaukan. Sebegitu bahagianya?

Gusti, sabarkan hamba.

"Honeymoon ke mana, Sak?"

Aku tersedak. Kulemparkan gulingku ke arah Ino yang sedang menyeringai jelek.

"Apa sih?!"

"Yaelah, jawab aja kali, Sak."

"...Jepang." Aku memalingkan wajahku.

"Kau yang minta?"

Aku menggeleng pelan. Malu rasanya.

"Eh? Mas Sasuke yang—oahh! Pasti pengen banget Mbak seneng nih!" Hinata terkikik.

Aku ingin melempar bantalku padanya. Tapi gak tega. Curang. Kenapa anak ini harus sebegitu imutnya?

"Walah. Kalau ke sana bukannya bawa cucu buat Ummu malah tabungan kosong dan koper-koper penuh merchandise, tuh."

...sial. Ino terlalu mengenalku.

Kuputuskan untuk mengabaikan mereka dengan memainkan ponselku. Ino mendekatiku.

"Eleh? Apa tuh? Otogame baru? Udah punya Mas Sasuke masih aja hunting husbando?"

"Husbando 3D sama 2D itu beda. Lagian Mas Sasuke yang bilang dia tidak keberatan kuratuskan dengan husbando." Aku mengerucutkan bibirku.

"Ayo bertaruh!" Ino menepuk-nepuk puncak kepalaku dan tertawa aneh. "Berapa lama Mas Sasuke akan bertahan untuk tidak membasmi husbandomu."

"Taruhan itu gak boleh, Ino. Ya, kan, Hinata?"

"M-menurutku 3 bulan."

"Hinata!"

"Wohohoho? Dilihat dari kesabarannya, setengah tahun deh!"

"Ino!"

"Hati-hati, Sak. Kau tahu, yang kalem serius diem gitu...Dalemnya 'sangar'. Rawr!"

Ino, plis.

.

.

.


Bersambung


Masih teringat waktu itu chapter ini diketik dengan keadaan sebelah tangan diinfus :")

Dan sekarang bukannya inget besok UAS si saya malah tegang karena banyak utang ff yang belum terbayarkan :'v

Mahasiswa macam apa kamu yam T.T

Balesan ripiu~

Guest : Update itu apa? Ini di mana? Saya siapa? Kok saya keren? #dibantai

guest : terjawab di chap ini ya :v Apa belum?

CherryFreeze : OwO sankyuuu

Azalea Em : Waalaikumsalam. Haha syukurlah. Syukran jiddan! :D

Guest : Iya ini dah dilanjut

Any comment? :3 Kritik dan saran ditunggu.

Sekian terimagaji.

Salam Petok,

Chic White

(Your Possible!Chic-ken *roosting*)