Malam itu, aku bermimpi.
Aku diajak berlibur ke pantai oleh satu husbando yang paling kucintai, yaitu Kagami Taiga. Bersamanya, kuhabiskan waktu berlarian di atas permukaan pasir putih dan membiarkan ombak sesekali menyentuh kakiku. Hati riang, jiwa senang, aku kenyang.
Roti sobek memang yang terbaik. Ntab jiwa!
Kisaran pukul tiga pagi, aku terbangun. Kupeluk erat dakimakura bergambar husbando tercinta yang setia menemani malam sunyiku selama di Bandung tiga tahun terakhir, serta tak lupa memberinya ciuman mesra.
"Terima kasih kencan mimpinya, Abang Taiga. Selamat pagi~!" sapaku pada dakimakura.
Lalu, suara kekehan mengintrupsi kemesraanku dengan Abang Taiga. Bersumber dari sosok makhluk lain yang baru kusadari keberadaannya di kamarku. Duduk bersila tak jauh dari kasur tempatku berada, sajadah tergelar sebagai alas. Rambutnya tertutupi kopiah hitam dengan hiasan palet batik khas.
"Cuma Abang Taiga saja? Abang Sasuke tidak akan disapa juga?" katanya sambil mengerling usil.
Oh, makhluk itu Mas Sasuke, ternyata.
Eh.
Sebentar.
Mas Sasuke?
"MAS SASUKE NGAPAIN DI SINI?! INI KAMARKU!"
Hening sejenak. Kemudian, Mas Sasuke tertawa lepas.
"Masih mengigau ya, habibah? Tidak ingat ya, dua hari lalu Ino dan Hinata yang meneriakkan 'SAH!' paling kencang?"
Wut.
Aku berkedip tak paham (dan gemas) saat Mas Sasuke memanyunkan bibirnya—merajuk? "Jahat nih. Masa suami sendiri dilupakan?"
Rasanya seperti disambar gledek mendengar kalimat yang barusan.
Wajahku memanas. Seiring dengan kesadaranku yang semakin pulih (aku yakin bukan cuma aku seorang yang baru bangun tidur suka konslet), aku ingat semuanya. Aku malu sekali. Rasanya ingin menghilang dari muka bumi.
"M-maaf Mas. Masih belum menyangka kalau aku sudah jadi istri orang," aku-ku.
Mas Sasuke tersenyum. Ia berdiri dan berjalan mendekat. Setelah mengecup keningku, aku didekap olehnya dengan erat.
"Ana beneran cemburu sama bantal itu, lho. Apa harus Mas hilangkan agar sapaan pagi dan kecupan hangat itu untuk Mas seorang?"
Aku tertawa geli mendengar penuturannya.
Barulah aku tersadar dia tidak sedang bercanda ketika tak lama setelah itu, aku benar-benar tidak bisa menemukan Abang Taiga. Di manapun.
.
.
.
Chic White Proudly Present
(A sequel from Thariqul Jannah)
.
.
.
Hurul 'Ain
[Chapter 7]
Apa aku sudah bilang betapa menyebalkannya Ino?
Kalau belum, biar kuberi tahu.
INO INI KAMPRETNYA GAK USAH DITANYA!
.
Kemarin sore, rombongan dari Ibnu Sina (Keluarga Mas Sasuke ditambah Ino, Hinata, dan beberapa perwakilan santri) pulang. Aku menitip pesan pada Ino agar menghubungiku jika sudah sampai di sana. Ummu Mikoto juga mempersilakan Ino menggunakan ponselnya.
Dan, coba tebak, apa yang kudapat darinya?
.
Gimana? Mas Sasuke beneran "sangar"? Pake pengaman gak? Atau dibiarin jebol aja biar Ummu Mikoto seneng?
.
ANJIR LAH TU BULE LOKAL! UDAH TAK BEJEK-BEJEK JADI PERKEDEL KALAU ADA DI DEPAN MATA!
Aku minta dikirim pesan agar tahu keadaanmu, bukan buat diusilin begini, dasar ngeselin! Sahabat macam apa kamu!?
.
Tebakanku sih kalian belum ngapa-ngapain lol. Mungkin kamunya yang harus agresif, say. :*
.
Agres—NANI DAPUK?!
.
Hinata juga titip pesen nih. Inget kata bundanya waktu terakhir kali kita liburan di sana? Sah-sah aja kok, buat menggoda suami. ;)
.
Sakarepmu, No. Sakarepmu.
"Temanmu tidak salah, tuh. Menurutku juga mungkin kau yang harus menyerang duluan."
Gusti, cobaan macam apa lagi ini?
Aku menatap tajam sosok bule tulen yang sudah menemaniku dua jam sekaligus akan menjadi pengantar sampai bandara nanti. Sahabatnya Mas Sasuke, yang rupanya daritadi mengintip percakapanku dengan Ino via SMS.
Oh ya, kami sedang menunggu Mas Sasuke menyelesaikan beberapa dokumen di cabang Jakarta ini sebelum berangkat. Tadinya aku sempat menunggu di dalam ruangannya, tapi tak lama aku diusir. Tidak bisa fokus, katanya.
Naruto ikut ia usir juga dengan alasan pria ini harus menghirup udara bebas sejenak, setelah beberapa bulan yang lalu direpotkan karena Sasuke tidak dapat bekerja maksimal.
Menurut yang bersangkutan, itu cuma dalih untuk menutupi keposesifan terhadapku. Biar tidak ada yang berani modus mendekati, katanya. Makanya Naruto diusir agar bisa menemani.
Entah apa yang Naruto bilang itu benar atau tidak, nyatanya tetap membuatku salah tingkah.
"Sakura." Pundakku ditepuk, aku menoleh ke arah Naruto. Aku disambut oleh senyuman hangat—bukan cengiran khasnya yang sangat ampuh membuat siapapun gemas atau dongkol maksimal melihatnya. "Buatlah Sasuke bahagia."
Tiba-tiba saja hatiku diliputi rasa haru.
"Aku akan berusaha," jawabku dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih, Sakura." Satu tangan Naruto yang lain menepuk puncak kepalaku. Dia nyengir lebar, sekarang.
Cengirannya menghilang beberapa detik kemudian.
"Sedang apa kau, Naruto?" Rupanya Mas Sasuke-lah penyebabnya.
Naruto mengangkat kedua tangannya seperti penjahat yang ditodong senapan. Pria itu tertawa ganjil. "Santai, bro, santai! Aku tak ada maksud apapun, kok!"
"Keep your hands away from my wife." Aku ditarik berdiri ke sampingnya. "I dont care if you're my best friend. If you do that again..."
"What the—" Naruto menganga. "APA KAU BARU SAJA MENGANCAMKU?!"
Aku menatap Mas Sasuke.
...Seketika aku membayangkan di hadapanku ini seekor singa yang sedang mengintimidasi chihuahua.
"S-Sasuke?! The heck?! Yang benar saja, bro! Aku menganggap Sakura seperti adik! Tidak lebih! Tidak perlu defensif seperti itu padaku!" Naruto menunjuk Sasuke. Wajahnya terlihat kesal.
Terbukti sudah teori Naruto kalau Mas Sasuke itu posesif.
"Aku juga dulu menganggapnya adik." Mas Sasuke melipat tangannya.
Hah? Apa?!
"Maaf, ya, Chief, kalaupun aku tertarik pada Sakura, aku tidak akan menikung istri orang! Serendah apa aku di matamu, hah?!"
"Pertama bertemu kau jelas-jelas flirting padanya!"
"Ya wajar, kan? Cewek imut gini siapa yang gak mau pedekate?!"
Aww. Makasih, lho, aku dibilang imut.
"See? You have a crush toward my wife!"
"Had, duh! Begitu tahu dia punyamu, aku tepis jauh-jauh niat pedekatenya!"
Karyawan yang berlalu-lalang di sekitar kami terkikik melihat perdebatan mereka. Ini kedua kalinya aku melihat mereka bertengkar seperti anak kecil begitu, saling memelototi. Mungkin di masa depan aku akan tertawa melihatnya. Namun, saat ini, aku hanya tersenyum.
Kalau saja Mas Sasuke tidak cerita mereka bertemu di Amerika sana, mungkin aku akan mengira mereka ini teman dari kecil. Dan...
"Kalau tidak cinta, jadi fujo dan menyerahkan Mas Sasuke pun aku rela."
Dua orang yang bertengkar terdiam, menatapku bingung dan menanggapi kompak, "Huh? Apa?"
Ups. Kelepasan.
Aku mengibaskan tanganku dan tertawa garing. "Sebaiknya kita berangkat sekarang. Nanti ketinggalan pesawat, mau bagaimana?"
Setelah beberapa saat mereka menatapku curiga, dengan durasi tatapan lebih lama dari Naruto, akhirnya kami berangkat ke bandara.
"Tidak akan memeluk ana dan menangis seperti orang di sebelah sana?" Mas Sasuke menggoda Naruto. Seringai usil tercetak jelas di wajahnya.
"Tidak perlu. Mungkin pada Sakura saja?" Naruto balas menyeringai. Aku hanya menepuk jidat saat mereka berbalas pelototan lagi. "Oh, ya, Sakura! Jangan lupa, serang duluan."
Gusti. Hamba pengen gampar makhluk ini pake koper, boleh tidak?
"Serang?" Mas Sasuke menatapku.
Aku terkekeh gugup. "Itu, tadi, kami membicarakan strategi game!" dustaku.
Tak seperti dugaanku, Mas Sasuke tampak tertarik. "Game-nya seru?"
Jawaban datang dari sosok yang kini sudah menyeringai setan. "Seru sekali. Kau pasti akan menyukainya, Sas! Kau kan 'jago' banget!"
Mas Sasuke tampak ingin bertanya—mungkin soal identitas game yang dimaksud, namun pengumuman lepas landas membatalkan niatnya. Kami berpisah dengan Naruto saat itu juga.
Setelah duduk di kursi pesawat, Mas Sasuke tak berhenti menatapku. "Kenapa wajahmu merah begitu, habibah?"
Aku hanya nyengir dan mengipasi wajahku. "Panas, Mas."
"Oo... Panas, ya."
Iya, Mas. Panas hati.
KEPENGEN CEKEK SAHABATMU, TAUK!
.
Godaan selanjutnya datang saat kami sampai di hotel yang akan kami tempati untuk tiga hari pertama.
Aku hanya bisa terpaku dengan wajah memanas melihat keadaan kamar kami yang berantakan. Berantakan oleh kelopak mawar merah.
Dan aroma apa ini? NGAPAIN PASANG LILIN PINK UNYU DI SETIAP SUDUT BEGITU? MEMANG LAMPUNYA TIDAK BERFUNGSI, APA?!
Kulirik sosok di sampingku, kondisinya kurang lebih sama. Wajahnya merah padam.
"...Naruto..." Satu nama digumamkan penuh emosi, aku paham situasi.
"Hotelnya dipesankan Naruto," simpulku.
Mas Sasuke mengangguk, dia menatapku. "Kau tidak suka?"
Aku mengangguk tegas.
Tawa lega darinya menghangatkan hatiku. "Syukurlah. Ana juga tidak suka. Rasanya terlalu berlebihan."
Tanpa banyak bicara, kami menyingkirkan kelopak bunga yang ada di atas kasur. Lalu, mematikan lilin dan menyalakan penerangan utama.
Letih yang dirasakan sehabis melakukan perjalanan jauh menggodaku untuk segera menerjang kasur dan pergi ke negeri mimpi. Jadi itu yang hendak kulakukan setelah membongkar isi koper dan menatanya di lemari. Belum sempat tanganku menyentuh seprai, kerahku sudah ditahan oleh Mas Sasuke dan aku pun ditarik ke kamar mandi.
"Aku bukan kucing, tahu!" protesku padanya.
Mas Sasuke hanya tertawa dan menyerahkan kantong kecil berisi alat mandi kami. "Gosok gigi, cuci muka, dan cuci kaki. Lalu ganti baju. Setelah itu boleh ti—"
"Iya, Bunda."
"—dur. Hah? Manggil apa, tadi, hmm?"
Oho? Sepertinya ada yang kesal.
"Bunda. Kenapa, Bunda? Ada yang salah?"
Saat pipiku dicubit sepenuh hati, sungguh, aku menyesal telah mengusili.
"AMPUN! IYA-IYA MAAF, SUAMIKU SAYANG, BUKAN BUNDA!"
Mas Sasuke menyeringai penuh kemenangan. Cubitan dilepaskan, tapi kedua tangannya masih menyentuh pipiku.
"Good girl."
Otakku mendadak konslet saat aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku.
Hanya sekilas. Dan setelah itu, tersangka langsung ngacir keluar dan mencumbu kasur duluan.
"MAS SASUKE!" Ini yang kuteriakkan setelah selesai konslet.
Dari luar, Mas Sasuke menjawab tak kalah keras diiringi tawa, "I love you too, istriku sayang!"
Diberi serangan mendadak begitu, siapa yang tahan?
Aku hanya bisa mengumpat sebal dalam posisi berjongkok—berusaha memusatkan perhatianku pada rasa perih di pipi yang kian berkurang daripada menyadari detak jantungku yang kian tak beraturan.
.
Siapa yang butuh taburan kelopak mawar dan lilin kalau kau punya coret—suami—coret—husbando3D seperti ini?
.
.
.
Bersambung
Fiks saya nangis sambil ngedit ini. Baper? BUKAN! MABOK SOAL! NYAWA MELAYANG! #dilemparkalkulator
RIP hari pertama UAS.
bales ripiu~
kuli : SAHHHHH!
Azalea Em : Bertahanlah kokoro-chan~ AAMIIN MAKASIH. DOAIN JUGA BIAR GAK JADI MAHASISWA ABADI YAK
Any comment? :3 Kritik dan saran ditunggu.
Sekian terimagaji.
Salam Petok,
Chic White
(Your Possible!Chic-ken*roosting*)
