Maaf Crossovernya nanti aja dulu, sekarang fokus ke inti cerita aja dulu. sekali lagi mohon maaf

-Break-

Dingin...

Gelap...

Darah...

Mayat...

Mimpi ini seharusnya kulupakan

Tapi kenapa?

"Misaka menemukan anak yang hilang"

Last Order

"Ini bukan salahmu Accelerator, kembalilah kejalan yang benar demi Last order dan kehidupanmu"

Yomikawa

"Accelerator-sensei terima kasih karena telah menolong kami"

Kau gadis sihir itu

"Kenapa kau tidak menganggapku Monster?"

Kau...

"Hanya kau saja yang mengganggapku sebagai manusia"

Aku...

"Fufufu Otou-sama jangan lupakan kami saat kau melawan Demon itu"

Demon?

"Berjanjilah pada Misaka jika Accelerator akan kembali, Misaka berkata Misaka bersedih"

Kenapa?

Kenapa aku melupakan mereka, kami bertarung untuk takdir Dunia.

Hanya saja...

Kenapa aku saja yang selamat

"Bangunlah Anak Muda"

"BANGUN"

Accelerator terbangun dari tidurnya, ia membuka matanya. Dia merasakan kesejukan dari angin yang kencang, dia tersadar ia terbangun ditempat yang aneh lagi dan ia mencoba duduk, dia melihat ke kanan ke kiri.

"Dimana ini?"

Tempat itu bukanlah tempat dia biasa bangun seperti didimensi kegelapan itu. Tempat itu memiliki pemandangan Taman yang luas, rumput-rumput hijau melambai karena tiupan angin, setiap angin meniup dedaunan pohon dan tanaman yang hidup disekitar taman itu, suara burung diatas langit. Acceleratorpun berdiri untuk mengecek tempat itu, saat dia berdiri dia kagum apa yang ia lihat. Diujung taman yang luas ini terdapat Lautan biru yang luas, ia tidak bisa melihat itu karena ia hanya duduk dan terhalangi oleh bukit yang ia duduki tetapi saat berdiri ia dapat melihat lautan itu.

"Indah bukan?" Suara yang lembut dan indah terdengar di telinga Accelerator.

"Siapa kau?" Accelerator melihat kekiri dan kekanan dengan menyalakan chokernya, tapi alat dilehernya tidak menyala hijau saat ingin dihidupkan ke Mode Esper melainkan alat itu telah mati. Accelerator terkejut melihat chokernya atau alat dilehernya telah mati dan tidak berguna. Tapi bagaimana dia bisa bergerak bebas tanpa alat bantu dilehernya.

"Hmm.. Kau bingung kenapa alat dilehermu tidak bekerja ya?" Suara itu sangat lembut dan indah, sangat terdengar didekat Accelerator.

Accelerator memutar tubuhnya untuk melihat kebelakang dirinya. Dihadapan ia sekarang terdapat wanita yang cantik dan anggun seperti Dewi, wanita itu memakai baju kimono berwarna merah dan bercorak bunga sakura putih. Rambut hitam yang sangat panjang dan mata merahnya seperti permata ruby yang indah. Wanita itu duduk bersimpuh pada tanah yang penuh bunga dan rerumputan. Lalu wanita itu menepuk bagian yang kosong disebelah kanannya untuk mengisyaratkan pada Accelerator untuk duduk disamping kanannya.

"Tch" Acceleratorpun mengikuti isyarat wanita didepannya.

Mereka berdua duduk dipadang rumput yang luas, accelerator duduk dengan gaya biasanya sedangkan Wanita Dewi disampingnya hanya merangkai sesuatu dari bunga. Accelerator hanya diam dan menatap langit, dia sudah tak tahu dimana ia berada.

"Hei anak muda" Suara wanita yang lembut itu menjadi riang sekarang karena sesuatu.

"Ahh..ap-"

Srek*

Sebuah mahkota bunga dipasangkan dikepala Accelerator. Accelerator kesal dan ingin membuang mahkota itu, tapi dia mengurungkan niatnya disebabkan wanita disampingnya tersenyum bahagia karena hal kecil. Wanita itu mengingatkan Accelerator kepada Gadis kecil nakal atau Last Order yang selalu bersama dia. Tapi sekarang gadis kecil nakal itu sudah tiada, dunia dia telah hancur.

"Bagaimana anak muda, indah bukan" Wanita itu terus tersenyum riang.

"tch, mengganggu sekali" Ucap Accelerator kesal, walaupun kesal dia juga merasakan kenangan yang indah terulang lagi hingga kekesalan itu menghilang. Wanita itu tertawa bahagia.

"Hufhuf..anak muda... siapa namamu.?" Wanita itu bertanya untuk menyembunyikan tawanya tapi tetap saja terdengar.

"Ayolah anak muda" Wanita itu mendekat dengan mata anjingnya

"baiklah, panggil aku Accelerator" accelerator menjawab kesal dan mendorong wanita disampingnya ketempat semula dia duduk.

"hmm..."

Accelerator memandang wanita itu dengan tatapan aneh. Lalu wanita itu berkata lagi.

"Anak muda kau ingin tahu kenapa kau bisa kesini dan kenapa benda dilehermu tak bekerja" Wanita itu memasang ekspresi serius dan accelerator menanggapinya seperti biasa.

"Kenapa?"

"Panggil aku Dewi" Ucap wanita itu menyuruh accelerator memanggilnya Dewi

"Hah..?!" Accelerator bingung, ia tak tahu harus berkata apa

"Maksudku panggil aku Dewi nantinya, anak muda kau mengertikan. Baiklah aku akan menjelaskannya dari awal" Wanita yang menganggap dirinya Dewi mengubah posisi arah duduknya, sekarang ia berhadapan dengan accelerator

"Pertama aku adalah Dewi, anak muda kamu tahukan apa itu Dewi?" Sang Dewi bertanya pada accelerator

"Iya aku tahu"

"Kalau anak muda sudah tahu, kita ke tahap selanjutnya. Kamu mengenal makhluk bernama Aiwass dan Coronzon kan" Tanya sang Dewi lagi kepada Accelerator

Sedangkan itu accelerator membeku dan terdiam. Ia memang mengenal dua Makhluk mengerikan itu, Coronzon sang God Demon yang telah menghancurkan dunia. Dan Aiwass sang Guardian Angel. Tapi apa masalahnya dengan dia sekarang, ia tak tahu mengapa dua makhluk itu disebut.

"jika anak muda tidak menjawab berarti kamu kenal mereka. Sebenarnya dibalik hilangnya semua Manusia dan Planet-planet diduniamu itu bukan salah Coronzon dan Aiwass"

..hah...?

Bukan salah mereka lalu siapa yang menghilangkan manusia dan seluruh planet, memang benar Aiwass tidak menghancurkan dunia karena dia juga selamat dari kehancuran yang terjadi dan bertemu denganku. Tapi siapa sebenarnya yang menghancurkan dunia

"Kamu ingat saat terhisap oleh lingkaran hitam itu, akulah yang menarik kamu untuk masuk kedimensi itu. Setelah kamu masuk... Aku melihat sesuatu yang besar dari langit turun kebumi, aku tidak tahu makhluk apa itu"

Makhluk besar?

Apakah itu yang dilihat oleh Qliphah ?

"Makhluk itu mempunyai aura yang sangat aneh, dia layaknya manusia tapi tubuhnya tertutupi oleh aura aneh. Aku melihat dia mengangkat tangan kanannya, aku tidak tahu dia mengucapkan apa tapi itu seperti sebuah mantra"

"Lalu apa yang terjadi!"

"setelah dia mengangkat tangannya. Rantai besi keluar dari langit, rantai itu mengikat seluruh makhluk hidup"

"Bukankah ada Magic Gods, Pemimpin Academy city sialan itu, dan para Esper lainnya untuk menghentikan itu?" Accelerator mencoba mencerna apa yang terjadi dan bertanya pada Sang Dewi. Dan sang Dewi hanya menggelengkan kepalanya

"Itu tidak berguna, rantai itu seperti membantai semua kekuatan yang telah ada dunia. Dan seluruh Naga yang dimiliki Kamijou Touma juga menghilang, Aiwass telah pergi dan Coronzon menghilang entah kemana"

...tidak mungkin..bukankah Aiwass bertarung denganku dan menghilangkan Qliphah lalu kenapa wanita ini berkata Aiwass telah pergi dan juga kenapa dia tahu pahlawan sialan itu

"Kenapa kau mengenal pahlawan sialan itu?" Accelerator bertanya sekali lagi

"pahlawan sialan?...maksudmu kamijou touma. Dia memiliki kekuatan yang bisa membasmi para iblis dan kekuatan Tuhan oleh karena itu kami para Dewa dan Dewi dan juga para malaikat memperhatikan kekuatan anak itu" Ucap sang Dewi.

Jika memang Pahlawan sialan itu diperhatikan, kenapa aku yang diselamatkan ha..

"tch kenapa kalian para suruhan Tuhan tidak menyelamatkan pahlawan sialan itu. Nyawa orang itu lebih berharga daripadaku" Accelerator mendelik kesal, ia sudah tidak tahu. Ia sudah tidak peduli, dia hanya ingin melihat Last Order dan Qliphah. Tapi apa sekarang, ia tak ada sangkut pautnya dengan kejadian ini sekarang ia telah terjebak disini.

"a..a.ku telah membantah mereka" Gumam sang Dewi pelan, kepalanya ditundukkan kebawah karena malu untuk melihat laki-laki didepannya

"Membantah?" Accelerator bertanya setelah mendengar gumaman kecil Dewi didepannya, walaupun ia tak dapat melihat muka sang Dewi karena kepalanya menunduk kebawah. Tapi accelerator masih bisa mendengar gumaman itu dari luasnya wilayah yang sepi.

"I..iya aku menolak untuk menyelamatkan orang bernama Kamijou Touma. Jadi aku menyelamatkanmu saja Anak muda, lalu aku dibuang ke Dunia ini" Sang Dewi berkata, ada semburat merah dipipinya. Accelerator menatap Dewi dengan bingung.

"Jadi..kau menolak permintaan suruhan Tuhan itu lalu kau menyelamatkanku dan akibat kau menyelamatkanku kau dibuang ke tempat ini?" Accelerator bertanya dan terus menatap mata sang Dewi.

"I..i..iy.a" Dewi itu menutup mukanya dengan kimononya yang indah. Dia mengangguk malu

Kenapa dengan Dewi ini?

Haahh...

Accelerator mengambil nafas yang panjang, lalu dia mengacak-acak pelan rambutnya dan tak membiarkan mahkota bunga dikepalanya jatuh. Ia sudah mengerti kejadian semua ini, kenapa dia masuk tempat ini, kenapa hanya dia yang selamat. Tapi kenapa perempuan didepannya sangat ingin menyelamatkannya, padahal ia belum pernah bertemu wanita ini. Dan ada satu pertanyaan yang masih terdiam diotak Accelerator

"Hm..jika begitu aku ada pertanyaan bagimu sang Dewi. Kenapa kau sebagai Dewi tidak mengetahui nama orang yang ingin kau selamatkan?"Accelerator bertanya lagi.

"begi..ni anak muda. Hanya..saja tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata normal" Sang Dewi tetap menutup mukanya. Kimononya yang indah terus bergoyang terkena angin.

Accelerator hanya diam dan tidak ingin membalas jawaban perempuan didepannya. Ia menghadap langit yang biru dan melihat sekelompok burung yang sedang terbang. Ia tidak mengerti kenapa dia diselamatkan oleh perempuan didepannya, walaupun pertanyaannya dijawab tapi tetap saja jawaban itu tidak mendukung pertanyaannya. Sebenarnya masih banyak pertanyaan seperti kenapa alat dilehernya tidak bekerja, tapi ia merasa sudah tidak peduli lagi. Jika Choker dilehernya tidak bekerja, maka itu keuntungan accelerator untuk menggunakan kekuatannya semau dia.

Accelerator merasakan tarikan kecil dari sebelah tangan kiri jaket putihnya.

"Tch, ada apa?" Accelerator mengalihkan pandangannya dari langit ke arah tarikan jaketnya yang ditarik Sang Dewi.

"Anak muda bolehkah...aku panggil kamu..nama...panggilanmu?" Sang Dewi tetap menutup mukanya walaupun mukanya kelihatan setengah merah karena tangan kanannya tetap memegang jaket Accelerator.

"Tch, terserah" Accelerator langsung menarik pelan tangan kirinya. Sang Dewipun melepaskan tangannya dengan cepat, lalu tangan yang tersisa untuk menutup mukanya telah dibuka. Walaupun sang Dewi sudah memberanikan diri untuk memperlihatkan mukanya, tapi tetap saja semburat merah dimukanya tetap ada.

Mereka berdua tetap diam tanpa suara dan kata, hanya bunyi gemerisik angin dan burung-burung berkicau.

-Setelah beberapa menit-

*Duarr*Duarr*Duar*

Suara ledakan besar terdengar dimana-mana. Ledakan itu lama-kelamaan semakin mendekat dengan Accelerator dan sang Dewi.

"Suara apa itu?" Sang dewipun akhirnya berkata.

"Tch, kita harus pergi dari sini" Accelerator beranjak berdiri dari tempat duduknya, tongkat modernnya disebelah kanannya tetap dipakai untuk berjaga-jaga. Setelah berdiri ia melihat sang Dewi dengan tajamnya karena dia masih duduk bersimpuh pada bunga. Sang Dewipun memiringkan kepalanya bingung.

"Kau tidak pergi dari tempat itu?" Accelerator bertanya pada sang dewi

"Aku tidak bisa pergi dari wilayah bunga ini Accelerator" jawab sang Dewi lemah.

"Kenapa?"

"um... Aku tak bisa keluar dari sini, jika aku keluar dari wilayah bunga ini aku akan mati. Dan jika seseorang ingin mengeluarkanku dari tempat ini, orang itu akan diincar oleh para Malaikat dan Iblis. Jadi tinggalkan aku disini sendiri" Sang Dewi menjawab dengan senyuman biasanya tapi terdapat nada sedih dalam perkataan itu.

Haahhh, Accelerator mengambil nafas dan melihat sang Dewi.

"tch.. persetan dengan aturan yang dibuat oleh suruhan Tuhan, ini adalah kamu, kamu yang berhak mengatur dirimu sendiri jika kau tetap takut berjanjilah padaku bahwa kamu akan tetap bersamaku" Accelerator memberi jawaban yang tegas karena sang Dewi ragu dan takut jika dia melanggar aturan Tuhan.

Sang Dewi hanya menatap sedih pada accelerator.

"Tidak bisa, jika accelerator mengeluarkanku dari sini maka accelerator akan mati. Jadi tinggalkan saja aku" Sang Dewi mengangguk tersenyum sedih.

Dengan perkataan itu, Accelerator mendekat dan mengangkat sang Dewi dengan gaya pengantin. Sang Dewipun memberontak, tapi kekuatan accelerator lebih kuat dari sang Dewi karena vektornya. Sang Dewi melemah karena telah lelah memberontak dari pelukan accelerator.

"Kenapa..?"sang dewi bertanya, menatap mata accelerator. Sang Dewi menitikkan air matanya. Tetesan air matanya membasahi kimono yang dia pakai

"Tch..anggap saja ini balas budi karena kamu menyelamatkanku"jawab accelerator, accelerator tidak menatap mata sang Dewi.

"Kamu gila... Jika kamu menyelamatkanku, maka Tuhan akan mengincarmu" Sang Dewi menarik jaket putih accelerator supaya accelerator melihat dia.

Acceleratorpun melihat kebawah untuk melihat wanita yang ia angkat.

Wajah wanita itu terlihat sedih, kimono wanitu itu telah basah untuk mengusap air matanya.

"heh..Tuhankah.. Baiklah aku tak peduli lagi dengan Tuhan. Bahkan aku tak peduli jika aku masuk Neraka nanti" ucap accelerator

*Duar*

Suara ledakan sudah terlihat dimatanya, setiap pohon, hewan-hewan dan bunga terkena ledakan itu . Dan suara rantai besi terdengar dilangit

*Cringg*

Rantai besar keluar dari langit, setiap rantai itu mengincar accelerator dan Sang Dewi

"Aku sudah tidak peduli lagi jika aku mati, asalkan aku bertemu mereka"

Setelah mengucapkan itu, accelerator mengendalikan vektor disekitarnya.

*Dumm*

Ledakan diwilayah accelerator dan sang Dewi meledak, hanya kepulan asap dan api membakar setiap bunga. Mahkota yang dibuat sang Dewipun lenyap oleh lalapan sang api. Wilayah yang tadinya indah terdapat pohon, rumput, taman dan bunga yang luas sekarang sudah tidak terbentuk lagi. Tempat itu sudah hancur, rantai yang besar telah menghilang seperti angin.

-Break-

Maaf baru Up, karena hp sedang error. Maaf jika banyak typo dan kata" yang terlalu aneh karena hp sering mati jadi lupa setiap kata" sebelumnya :v. Dan maaf jika banyak kata" terulang dan belum benar.

Jika kalian bertanya siapa sang Dewi itu hanya OC nanti dia bersama accelerator. Kemana Qliphah ?, nanti dia akan keluar chapter berikutnya. Minta dukungannya ya, dpt viewers aja dah seneng atuh _

Btw tenang aja accel gak mati :v